BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.9 Padi Sawah
Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun yang berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Penanaman padi sendiri sudah dimulai sejak Tahun 3.000 sebelum masehi di Zhejiang, Tiongkok (Purwono dan Purnamawati 2007 : 10). Sebagian besar penduduk di dunia terutama dari negeara berkembang termasuk Indonesia menjadikan padi sebagai makanan pokok yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan pangannya setiap
hari (Rahmawati, 2006 : 1). Menurut Grist dalam Suger (2001: 10), padi dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan kedalam:
Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Sub divisio : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Poales
Famili : Graminae Genus : Oryza Linn Species : Oryza sativaL.
Ciri khusus budidaya padi sawah adalah adanya penggenangan selama pertumbuhan tanaman. Budidaya padi sawah dilakukan pada tanah yang berstruktur lumpur. Oleh sebab itu, tanah yang ideal untuk sawah harus memiliki kandungan liat minimal 20 persen (Purwono dan Purnamawati 2007 : 17).
Tanaman padi memiliki kemampuan beradaptasi hampir pada semua lingkungan dari dataran rendah hingga dataran tinggi (2000 m dpl). Tanaman padi termasuk jenis rumput yang mempunyai rumpun yang kuat, dan dari ruasnya keluar banyak anakan yang berakar (Utama, 2015 : 2). Untuk meningkatkan produktivitas usahatani padi sawah diperlukan tahapan – tahapan dalam budidaya padi sawah yaitu:
1. Penyiapan Lahan
Waktu pengolahan tanah yang baik tidak kurang dari 4 minggu sebelum penanaman. Pengolahan tanah terdiri dari pembajakan, garu, dan perataan.
19 Sebelum diolah, lahan digenangi air terlebih dahulu sekitar 7 hari. Pada tanah ringan, pengokahan tanah cukup dengan satu kali bajak dan dua kali garu, lali dilakukan perataan. Pada tanh berat, pengolahan tanah terdiri dari dua kali bajak, 2 kali garu, kemudian diratakan. Kedalaman lapisan olah berkisar 15 – 20 cm. tujuannya untuk memberikan media pertumbuhan padi yang optimal dan gulma dapat dibenamkan dengan sempurna (Purwono dan Purnamawati 2007 : 17).
2. Penyiapan Bibit
Bibit yangdigunakan disarankan bersertifikat/berlabel biru. Kebutuhan Bibit berkisar 20 – 25 kg/ha. Bibit direndam kedalam air garam (200 gram/liter air), Bibit yang mengembang dibuang. Bibit yang bagus di tiriskan, disuse, lalu direndam didalam air bersih selama 24 jam. Air rendaman diganti setiap 12 jam. Bibit kemudian di peram menggunakan karung basah selama 24 jam. Bakam lembaga akan muncul berupa titik putih pada bagian ujungnya yang menunjukan Bibit siap untuk di semai. Selanjutnya penebaran Bibit dilakukan merata diatas bedengan (Herawati 2012 : 65).
3. Penyemaian
Lahan penyemaian dibuat dengan bersamaan penyiapan lahan untuk penanaman. Untuk luas tanam satu hektar, dibutuhkan lahan penyemaian seluas 500 m2. Pada lahan persemaian tersebut dibuat bedengan dengan lebar 1 – 1,25 m dan panjangnya mengikuti panjang petakan untuk memudahkan penebaran Bibit. Setelah bedengan diratakan, Bibit di tebarkan merata diatas bedengan. Selanjutnya disebarkan sedikit sekam sisa
penggilingan padi atau jerami diatas Bibit. Tujuannya untuk melindungi Bibit dari hujan dan burung. Air dipertahankan tergenang di sekitar bedengan hingga bibit siap di pindahtanamkan. Bibit siap dipindahtanam (transplanting) saat bibit berumur 3 – 4 minggu atau bibit memiliki minimal 4 daun. (Purwono dan Purnamawati 2007 : 19)
4. Cara Tanam
Saat penanaman kondisi lahan dalam keadaan tidak tergenang atau macak – macak. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 25 cm x 25 cm atau 30 cm x 15 cm atau jarak tanam jejer legowo 40 cm x 20 cm x 20 cm. bibit yang ditanam berkisar 3 batang perlubang. Setelah 3 hari penanaman, air dimasukan kedalam lahan. Adapun penyulaman dapat dilakukan 7 hari setelah tanaman (HST) jika ada bibit yang mati. (Purwono dan Purnamawati 2007 : 19)
5. Pemupukan
Menurut Herawati (2012 : 69) pupuk yang digunakan sebaiknya kombinasi antara pupuk organik dan pupuk buatan atau kimia. Pupuk organik yang digunakan dapat berupa pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 2 sampai 5 ton/ha yang diberikan saat pengolahan sifat fisik dan kimia tanah, dan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai setengahnya.
Dosis pupuk anjuran adalah 200 kg/ura/ha, 75 – 100 kg SP-36/ha dan 75 – 100 kg KCL/ha. Untuk pupuk urea diberikan 2 – 3 kali, yaitu pada umur 14 HST (hari setelah tanam), 30 HST, dan saat primordial
21 bunga. Sedangkan pupuk SP 36 dan KCL diberikan saat tanam atau pada umur 14 hari. Apabila digunakan pupuk NPK adalah setengah dosis pada umur 14 HST, dan sisanya pada umur 50 HST. Dosis pupuk tersebut diatas adalah anjuran umum, bila sudah ada rekomendasi dosis spesifik lokasi maka dianjurkan untuk mengikutinya (Herawati 2012 : 69).
6. Penyiangan
Penyiangan rumput – rumput liar seperti jajagoan, sunduk gengsir, teki, dan enceng gondok umumnya dilakukan 3 kali, biasanya pada umur 14 HST, 35 HST, dan 55 HST. Penyiangan bisa secara manual dengan mencabut rerumputan yang ada pada pertanaman atau dengan menggunakan herbisida (Herawati 2012 : 70).
7. Pengairan
Apabila kondisi air betul-betul diatur (berPerawatan Pompa Air penuh) maka metode pemberian air pada padi sawah dapat disesuaikan dengan umur/fase tanaman. Untuk tanaman dengan umur 3 HST hanya dengan kondisi tanah mancak – mancak. Untuk umur 4 HST – 10 HST digenangi setinggi 25 cm. umur 11 HST – menjelang berbunga, air dibedengan dibiarkan mengering sendiri (5 – 6 hari), setelah mongering bedengan diairi setinggi 5 cm dan kemudian dibiarkan lagi mengering sendiri. Pada fase berbungan 10 HSP (hari sebelum panen), bedengan diairi terus menerus setinggi 5 cm. 10 HSP – Panen, bedengan dikeringkan. Penggenangan yang terlalu tinggi akan mengurangi pembentukan anakan.selain perairan, perlu
juga dilakukan pemeliharaan tanah dengan pengeringan pada waktu tertentu, tujuannya adalah untuk memperbaiki aerasi tanah (Herawati 2012 : 71).
8. Panen dan Pascapanen
Menurut Herawati (2012 : 73) penanganan panen dan pascapanen merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan produksi padi, karena tingkat kehilangan hasil selama panen dan penanganan pascapanen masih cukup tinggi (15 – 20%). penanganan panen dan pascapanen primer meliputi :
a. Waktu dan cara panen
Padi siap panen sekitar 30 – 40 hari setelah berbunga merat, jika terlambat dipanen akan mengakibatkan banyak biji yang tercecer atau busuk sehingga mengurangi hasil. Panen dilakukan bila mencapai minimal 80% butir gabah sudah menguning dan tangkai bunga sudah merunduk dengan kadar air gabah sekitar 23 – 25 %. Panen dilakukan dengan memotong batang menggunakan sabit, lalu padi ditumpuk di suatu tempat yang kering untuk mencegah kerusakan akibat terendam.
b. Perontokan
Perontokan dilakukan dengan cara dibanting (gebot) atau dengan mesin perontok (thresher). Jika perontokan dengan cara dibanting, padi dipanen dengan cara potong bawah. Akan tetapi, jika menggunakan mesin perontok sebaiknya padi dipanen dengan potong tengah atau atas. Untuk mengurangi tercecer saat perontokan, tempat perontokan diberi plastic atau tirai (bantingan bertirai).
23 c. Pembersihan
Pembersihan dilakukan dengan cara membuang benda-benda yang tercampur dengan gabah/hasil panen, kotoran/campuran dari gabah harus dibuang karena menyulitkan penyimpanan dan mengurangi mutu.
Pembersihan gabah dilakukan dengan cara ditampi atau dengan bantuan blower.
d. Pengeringan
Gabah segera dikeringkan setelah dirontokkan hingga kadar air 14% agar aman untuk disimpan. Biasanya biji dipanen pada saat kadar air masih lebih dari 20%, jika penurunan kadar air mendadak secara cepat dapat menyebabkan biji retak. Oleh karena itu, pengeringan sebaiknya dilakukan secara perlahan. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara dijemur atau dengan mesin pengeringan (dryer). Ketebalan hamparan gabah 5 – 7 cm. penjemuran dilakukan diatas lantai jemur atau lasa tikar.
Saat penjemuran dilakukan pembalikan gabah setiap 2 jam sekali untuk mengurangi keretakan gabah.
e. Penyimpanan
Penyimpanan dilakukan pada tempat yang memenuhi persyaratan tertentu, seperti kering dan bersih, tidak lembab, dan bebas dari serangan hama dan penyakit gudang. Gabah yang aman simpan selama 6 bulan adalah yang berkadar air maksimum 14% dan kadar kotoran maksimum 3%.