ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH (ORYZA SATIVA L.)
(Studi Kasus: Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat)
Isma Mutiara Anisa 11160920000138
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021 M/ 1443 H
ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH (ORYZA SATIVA L.)
(Studi Kasus: Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat)
Oleh :
Isma Mutiara Anisa 11160920000138
Skripsi
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Program Studi Agribisnis
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2021 M / 1443 H
RIWAYAT HIDUP DATA PRIBADI
Nama Lengkap : Isma Mutiara Anisa Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 16 November 1997
Jenis Kelamin : Perempuan
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Status : Belum Kawin
Alamat : Jl. Sukasari II RT/RW: 03/003 No:02C.
Serua Indah, Ciputat - Tangerang Selatan.
No. Hp : 088220359075
Email : [email protected]
RIWAYAT PENDIDIKAN
2003-2006 : SD Islam Kafah Unggul
2006-2009 : SDN Meruya Selatan 04 Pagi
2009-2012 : SMPN 31 Jakarta
2012-2015 : SMAN 87 Jakarta
2016-2021 : S-1 Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
PENGALAMAN ORGANISASI
2010-2011 : Anggota OSIS SMPN 31 Jakarta 2016-2019 : Anggota LSO Sagribisnis UIN Jakarta 2016-2019 : Anggota OPK Dapur Seni FST UIN Jakarta
PENGALAMAN KERJA
2019 : PKL di Kelompok Tani Mandiri Cianjur
RINGKASAN
Isma Mutiara Anisa, Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah (Oryza Sative L.) Studi Kasus: Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat Di bawah bimbingan Siti Rochaeni dan Titik Inayah.
Padi merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang menghasilkan beras. Sebagian besar penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai bahan pokok makanan sehari-hari. Adanya penurunan subsidi pupuk saat ini dirasakan menjadi beban berat oleh petani padi sawah khususnya Gapoktan Resmi Lestari.
Penyaluran subsidi pupuk pada tahun 2016 – 2020 mengalami penurunan sebesar 700.000 ton. Penurunan penyaluran pupuk subsidi disebabkan karena kelangkaan pupuk subsidi. Selain itu, dapat dilihat dari sisi anggaran, alokasi anggaran subsidi pupuk mengalami penurunan selama tahun 2016 – 2020 sebesar Rp2.000.800.000.
Pada tahun 2016 anggaran subsidi pupuk yang diberikan oleh pemerintah sebesar Rp30.063.200.000 dan ditahun 2020 menjadi 28.062.400.000. Alasan pemerintah mengurangi anggaran subsidi pupuk adalah terjadinya pandemi Covid - 19 yang berdampak pada perlemahan perekonomian dan pengalihan sebagian anggaran untuk penanganan Covid – 19.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung biaya usahatani yang dikeluarkan oleh petani padi sawah Gapoktan Resmi Lestari, menganalisis pendapatan usahatani petani padi sawah Gapoktan Resmi Lestari, menganalisis kelayakan usahatani petani padi sawah Gapoktan Resmi Lestari dengan menggunakan, B/C ratio, Break Event Point (BEP), Payback Period (PP).
Penelitian ini dilakukan kepada petani gapoktan Resmi Lestari yang melakukan usahatani padi sawah dengan jumlah populasi sebanyak 30 orang responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer dan data sekunder. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif yang diolah menggunakan Microsoft excel. Analisis data kualitatif menggunakan analisis deskripsi dilakukan untuk mendeskripsikan kegiatan usahatani padi sawah Gapoktan Resmi Lestari. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan analisis pendapatan untuk menghitung biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh pada usahatani padi sawah Gapoktan Resmi Lestari.
Hasil penelitian menunjukan bahwa biaya usahatani yang dikeluarkan oleh petani padi sawah Gapoktan Resmi Lestari pada satu musim tanam periode November 2020 – Desember 2021 sebesar Rp157.572.040 yang terdiri dari biaya tetap sebesar Rp39.125.000 dan biaya variabel sebesar Rp118.447.040.
Pendapatan sebesar Rp403.145.960, penerimaan sebesar Rp560.718.000, Nilai B/C ratio sebesar 2,55, BEP volume produksi sebesar 13.131 kg dan BEP harga sebesar Rp3.372/kg , Payback Period (PP) sebesar 0,1.
Kata Kunci : Usahatani, Pendapatan, B/C Ratio, Break Even Point, Payback
Period
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala kenikmatan luar biasa besar tidak terkira. Shalawat serta salam penulis ucapkan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabat beliau. Semoga kita semua memperoleh syafa’at dari beliau dan berhasil sukses dunia maupun akhirat.
Atas dasar rasa syukur ini penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah (Oryza Sativa L) Studi Kasus:
Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat”. Pada penyusunan skripsi ini penulis memperoleh banyak bantuan dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan Terimakasih kepada :
1. Ibu Dr. Ir. Siti Rochaeni, M.Si dan Ibu Titik Inayah, SP. M.Si, selaku Dosen Pembimbing, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan saran, arahan dan bimbingannya kepada penulis.
2. Ibu Dr. Lilis Imamah Ichdayati, M.Si dan Bapak Ir. Junaidi, M.Si selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran dan masukan sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
3. Bapak Akhmad Mahbubi, SP, MM., Ph.D selaku Ketua Program Studi dan
Ibu Rizki Adi Puspita Sari, SP, MM, selaku Sekretaris Program Studi
Agribisnis yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan
skripsi.
iii 4. Bapak Nashrul Hakiem, S.Si., M.T., Ph.D. Selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.
5. Seluruh Dosen Program Studi Agribisnis yang telah memberikan ilmunya, sehinggapenulis dapat menambah pengetahuan dan pengalaman selama perkuliahan.
6. Seluruh Petani responden yang telah bersedia meluangkan waktunya, sehingga data penelitian ini dapat terkumpul dengan lengkap.
7. Kedua orang tua tercinta, Bapak Drs. R. Hasto Nugroho dan Ibu Adhe Irnah Suryani serta Adik penulis yaitu Muhammad Raihan Nugroho yang senantiasa memberikan dukungan motivasi, doa, materi dan kasih sayang yang tiada henti kepada penulis.
8. Audia, Riza, Arini, Salshabia, Izma, Dania, Jovanda, Amelia, Vania, Linda, Zulia, Bang El, Bang iki, Bang Aji, Aset Negara, Teman-teman kelas C dan D Agribisnis 2016, dan Anggota Dapur Seni yang telah memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, masih terdapat kekurangan baik implementasi maupun dalam penulisan. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bisa bermanfaat bagi semua pihak.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jakarta, 23 September 2021
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Usahatani ... 9
2.2 Biaya Usahatani ... 12
2.3 Pendapatan Usahatani ... 13
2.4 Investasi dan Penyusutan ... 14
2.5 Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya (B/C Ratio) ... 15
2.6 Titik Pulang Pokok (Break Even Point) ... 15
2.7 Analisis Periode Pengembalian (Payback Period) ... 16
2.8 Gapoktan... 16
2.9 Padi Sawah ... 17
2.10 Penelitian Terdahulu ... 24
2.11 Kerangka Pemikiran ... 27
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 30
3.2 Jenis dan Sumber Data ... 30
3.3 Populasi dan Sampel... 31
v
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 31
3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 31
3.5.1 Analisis Pendapatan ... 32
3.5.2 Penyusutan ... 34
3.5.3 Analisis Rasio Keuntungan atas Biaya (B/C Ratio) ... 34
3.5.4 Analisis BEP (Break Even Point) ... 35
3.5.5 Analisis PP (Payback Period) ... 36
3.6 Definisi Operasional ... 37
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 39
4.1 Kondisi Geografis dan Batas Administrasi ... 39
4.2 Kondisi Sosial Ekonomi ... 40
4.3 Sarana dan Prasarana ... 42
4.4 Gambaran Umum Usahatani Padi Gapoktan Resmi Lestari dan Karakteristik Responden ... 42
4.5 Kegiatan Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari .. 47
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ... 49
5.1 Biaya Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari ... 49
5.1.1 Biaya Investasi ... 49
5.1.2 Biaya Penyusutan ... 50
5.1.3 Biaya Tetap ... 52
5.1.4 Biaya Variabel... 53
5.1.5 Biaya Total ... 56
5.2 Penerimaan Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari ... 57
5.3 Pendapatan Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari ... 58
5.4 Kelayakan Usahatani Padi Sawah pada Gapoktan Resmi Lestari ... 59
5.4.1 Rasio Keuntungan Atas Biaya ( B/C Ratio) ... 59
5.4.2 Break Even Point (BEP) ... 60
5.4.3 Payback Period (PP) ... 62
BAB VI PENUTUP ... 63
6.1 Kesimpulan ... 63
6.2 Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 65
LAMPIRAN ... 68
DAFTAR TABEL
No Halaman
1. Produksi Tanaman Pangan di Indonesia pada tahun 2014 – 2018 ... 2 2. Produksi Padi Sawah menurut Provinsi Tahun 2014 – 2018 (Ton) ... 3 3. Luas Panen, Produksi Padi Sawah menurut Kabupaten Kota Tahun
2014 – 2018. ... 3 4. Perkembangan Penyaluran Subsidi Pupuk pada tahun 2016 – 2018
di Indonesia ... 4 5. Perkembangan Anggaran Subsidi Pupuk pada tahun 2016 – 2020
di Indonesia. ... 5 6. Luas Lahan berdasarkan penggunaan di Desa Sukaresmi pada
tahun 2020 ... 39 7. Penduduk Desa Sukaresmi Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis
Kelamin pada tahun 2020 ... 40 8. Penduduk Desa Sukaresmi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada
Tahun 2020 ... 41 9. Penduduk Desa Sukaresmi Berdasarkan Mata Pencaharian Pada
Tahun 2020 ... 41 10. Responden penelitian berdasarkan umur petani padi sawah Gapoktan
Resmi Lestari Tahun 2020 ... 43 11. Responden penelitian berdasarkan jumlah tanggungan keluarga petani
padi sawah Gapoktan Resmi Lestari Tahun 2020 ... 44 12. Responden Penelitian berdasarkan pengalaman bertani petani padi
sawah Gapoktan Resmi Lestari Tahun 2020... 44 13. Responden penelitian berdasarkan tingkat pendidikan petani padi
sawah Gapoktan Resmi Lestari Tahun 2020... 45 14. Responden penelitian berdasarkan luas lahan petani padi sawah
Gapoktan Resmi Lestari Tahun 2020 ... 45 15. Responden penelitian berdasarkan status lahan petani padi sawah
Gapoktan Resmi Lestari Tahun 2020 ... 46 16. Responden penelitian berdasarkan produksi GKG petani padi
sawah Gapoktan Resmi Lestari Tahun 2020... 46 17. Total Biaya Investasi Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi
Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021
Per 14,1 ha ... 50 18. Total Biaya Penyusutan Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi
Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021 Per 14,1 ha ... 51 19. Komponen Biaya Tetap Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi
Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021 Per 14,1 ha ... 52 20. Komponen Biaya Variabel Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi
Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021 Per 14,1 ha ... 56 21. Komponen Total Biaya Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari
Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021
Per 14,1 ha ... 57 22. Penerimaan Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari Satu
Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021 Per 14,1 ha .. 57 23. Pendapatan Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari Satu
Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021 Per 14,1 ha . 58 24. Keuntungan Atas Biaya Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi
Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021 Per 14,1 ha ... 60 25. Break Even Point (BEP) Produksi Usahatani Padi Sawah Gapoktan
Resmi Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021 Per 14,1 ha ... 61 26. Break Even Point (BEP) Harga Usahatani Padi Sawah Gapoktan
Resmi Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021 Per 14,1 ha ... 61 27. Payback Periode (PP) Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi
Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021
Per 14,1 ha ... 62
DAFTAR GAMBAR
No Halaman
1. Kerangka Pemikiran ... 29
DAFTAR LAMPIRAN
No Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 68 2. Data Responden Petani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari Satu
Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021Per 14,1 ha ... 73 3. Status Lahan, Luas Lahan dan Biaya Sewa Lahan Responden Petani
Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari Satu Musim Tanam Periode
November 2020- Februari 2021Per 14,1 ha ... 74 4. Biaya TKLK dan Benih Responden Petani Padi Sawah Gapoktan
Resmi Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020-
Februari 2021Per 14,1 ha ... 75 5. Biaya Pupuk Organik dan Anorganik Responden Petani Padi
Sawah Gapoktan Resmi Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020- Februari 2021Per 14,1 ha ... 77 6. Biaya Pestisida, Bensin Traktor, Penggilingan, Transportasi, Biaya
Angkut, Perawatan Traktor Responden Petani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari Satu Musim Tanam Periode November 2020-
Februari 2021Per 14,1 ha ... 79 7. Penerimaan Padi SawahGapoktan Resmi Lestari Satu Musim Tanam
Periode November 2020- Februari 2021Per 14,1 ha... 81
8. Dokumentasi ... 82
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanaman pangan merupakan tanaman yang sangat populer di Indonesia.
Tanaman pangan memiliki peran yang cukup besar bagi pembangunan pertanian serta memiliki potensi pasar yang berkembang. Padi merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang menghasilkan beras. Sebagian besar penduduk Indonesia menjadikan beras sebagai bahan pokok makanan sehari-hari. Meskipun padi dapat diganti oleh makanan lain, namun padi memiliki nilai tersendiri bagi orang yang biasa makan nasi dan tidak dapat dengan mudah diganti oleh makanan lain (Suger, 2001 : 16). Preferensi penduduk terhadap beras demikian besarnya, bahkan penduduk yang mempunyai pola pangan pokok bukan beras beralih ke beras karena beras dianggap merupakan sumber kalori dan protein yang utama.
Disamping itu, beras juga dianggap memiliki citra pangan yang lebih baik secara sosial.
Berdasarkan Tabel 1 dibawah ini, perkembangan produksi padi sawah di
Indonesia dari tahun 2014 – 2018 memiliki jumlah produksi terbanyak dan
cenderung naik setiap tahunnya dengan rata-rata jumlah produksi sebesar
74.107.319 ton setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman padi sawah
memiliki potensi untuk dikembangkan. Padi sawah merupakan tanaman pangan
yang akan menghasilkan beras. Dimana penduduk Indonesia memiliki pola
pangan pokok mengonsumsi beras karena dianggap menjadi sumber kalori dan
protein yang utama dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya.
Tabel 1 Produksi Tanaman Pangan di Indonesia pada tahun 2014 – 2018 (ton)
Tanaman
Tahun Pertumbuhan
2018 thp 2017 (%)
2014 2015 2016 2017 2018
Padi
Sawah 67.102.361 71.766.496 75.482.556 77.366.049 78.819.137 1,88 Jagung 19.008.426 19.612.435 23.578.413 28.924.015 30.055.623 3,91 Kedelai 954.997 963.183 859.653 538.728 982.598 82,39 Kacang
Tanah 638.896 605.449 570.477 495.447 512.198 3,38 Kacang
Hijau 244.589 271.463 252.985 241.334 234.718 -2,74 Ubi
Kayu 23.436.384 21.801.415 20.260.675 19.053.748 19.341.233 1,51 Ubi Jalar 2.382.658 2.297.634 2.169.386 2.029.353 1.914.244 -5,67 Sumber : Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2018)
Berdasarkan Tabel 2 dibawah ini, Provinsi Jawa Timur merupakan Provinsi dengan produksi tertinggi dalam 5 tahun, namun pertumbuhannya menurun sebesar -0,53%. Selanjutnya Jawa Barat merupakan Provinsi dengan produksi tertinggi kedua setelah Jawa Timur. Pertumbuhannya naik sebesar 2,04%. Kemudian Jawa Tengah merupakan Provinsi dengan produksi tertinggi ketiga, namun pertumbuhannya menurun sebesar -0,13%. Selanjutnya Banten merupakan Provinsi yang memproduksi padi sawah urutan 4 setelah Jawa Tengah namun berbeda dengan Jawa Tengah pertumbuhannya pun naik sebesar 1,66%.
Kemudian yang terakhir DI. Yogyakarta dan DKI Jakarta dengan penurunan
pertumbuhan sebesar -19,0% dan -1,30%. Dapat disimpulkan bahwa Provinsi
Jawa Barat merupakan Provinsi dengan produksi padi sawah terbesar kedua
setelah Jawa Timur, namun dengan pertumbuhan yang naik tertinggi sebesar
2,04%.
3 Tabel 2 Produksi Padi Sawah menurut Provinsi Tahun 2014 – 2018 (Ton)
Provinsi
Tahun Pertumbuhan
2018 thp 2017 (%)
2014 2015 2016 2017 2018
Jawa
Timur 11.785.464 12.565.824 12.903.595 12.432.793 12.367.414 -0,53 Jawa
Barat 11.085.544 10.856.438 12.031.508 11.849.636 12.090.951 2,04 Jawa
Tengah 9.294.475 11.006.570 11.176.039 11.067.247 11.052.782 -0,13 Banten 1.963.461 2.127.671 2.300.595 2.369.731 2.408.964 1,66
DI.
Yogyakarta 719.194 746.810 712.285 678.530 665.621 -19,0 DKI
Jakarta 7.541 6.361 5.342 4.238 4.183 -1,30
Sumber : Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2018)
Kabupaten Bogor merupakan salah satu daerah produktif dalam menghasilkan padi sawah yang ada di Provinsi Jawa Barat. Tabel 3 menunjukan, pada 2018 jumlah produksi padi sawah di Kabupaten Bogor sebesar 483.807 ton dengan luas panen sebesar 85.952 hektar. Produksi padi sawah yang dihasilkan oleh Kabupaten Bogor terbilang rendah dibandingkan dengan daerah lainnya.
Tabel 3. Luas Panen, Produksi Padi Sawah menurut Kabupaten Kota Tahun 2014 – 2018.
No. Kabupaten/Kota Luas Panen
(hektar)
Produksi (ton)
1. Kabupaten Indramayu 211.020 1.270.163
2. Kabupaten Subang 184.814 1.060.077
3. Kabupaten Karawang 186.494 1.059.632
4. Kabupaten Cianjur 147.150 833.287
5. Kabupaten Tasikmalaya 130.568 751.482
6. Kabupaten Sukabumi 138.450 734.346
7. Kabupaten Garut 128.518 724.732
8. Kabupaten Majalengka 111.969 680.829
9. Kabupaten Bandung 102.345 588.386
10. Kabupaten Bogor 85.952 483.807
Sumber : Open Data Jabar, 2020
Adanya penurunan penyaluran pupuk bersubsidi saat ini tengah dirasakan oleh petani. Penerima subsidi pupuk disusun berdasarkan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani (RDKK) yang ditetapkan melalui sistem e-RDKK.
Penyaluran pupuk bersubsidi dilaksanakan secara tertutup melalui produsen kepada distributor yang selanjutnya disalurkan kepada pengecer berdasarkan data cetak e-RDKK dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian (Dahiri dkk, 2021 : 1).
Tabel 4. Perkembangan Penyaluran Subsidi Pupuk pada tahun 2016 – 2018 di Indonesia
No Tahun Alokasi
( Ton)
Realisasi (Ton)
Realisasi (%)
1. 2016 9.600.000 9.200.000 96,3
2. 2017 9.600.000 9.300.000 97,1
3. 2018 9.600.000 9.300.000 97,3
4. 2019 8.900.000 8.500.000 95,6
5. 2020 8.900.000 8.700.000 98
Sumber : Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2021)
Pada Tabel 4, diketahui bahwa subsidi pupuk pada tahun 2016 – 2020 mengalami penurunan sebesar 700.000 ton. Pada tahun 2016 subsidi pupuk yang diberikan oleh pemerintah sebesar 9.600.000 ton dan pada tahun 2020 menjadi 8.900.000 ton. Adapun jenis pupuk yang disubsidi oleh pemerintah yaitu pupuk urea, SP-36, ZA, dan NPK.
Penurunan penyaluran pupuk bersubsidi disebabkan karena kelangkaan
pupuk bersubsidi. Subsidi pupuk diberikan melalui mekanisme pengusulan oleh
masing-masing Pemda dan kemudian ditetapkan oleh pemerintah pusat. Usulan
ini disusun dari hasil rekapitulasi berjenjang mulai dari petani, kelompok tani,
Pemda hingga ke pusat. Adanya ketidaksesuaian antara usulan dan rancangan
5 alokasi pupuk bersubsidi akan menyebabkan kelangkaan pupuk di lapangan seperti yang terjadi hampir setiap musim tanam karena penyediaan pupuk bersubsidi jauh lebih rendah dari kebutuhannya. Perbedaan volume pupuk bersubsidi terjadi bukan hanya antara usulan daerah dan alokasi penyediaan dari pemerintah, namun juga terjadi antara alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah dengan realisasi penyerapannya (Dahiri dkk, 2021 : 2).
Selain itu, dapat dilihat dari sisi anggaran pada Tabel 5 dibawah ini.
Alokasi anggaran subsidi pupuk mengalami penurunan selama tahun 2016 – 2020 sebesar Rp2.000.800.000. Pada tahun 2016 anggaran subsidi pupuk yang diberikan oleh pemerintah sebesar Rp30.063.200.000 dan ditahun 2020 menjadi 28.062.400.000. Alasan pemerintah mengurangi anggaran subsidi pupuk adalah terjadinya pandemi Covid - 19 yang berdampak pada perlemahan perekonomian dan pengalihan sebagian anggaran untuk penanganan Covid – 19 (Sucihartiningsih, 2021).
Tabel 5. Perkembangan Anggaran Subsidi Pupuk pada tahun 2016 – 2020 di Indonesia.
No Anggaran Tahun
Alokasi ( Rp)
Realisasi (Rp)
Realisasi (%) 1. 2016 30.063.200.000 26.853.300.000 89.3 2. 2017 31.153.400.000 26.840.700.000 86.2 3. 2018 28.504.000.000 25.662.300.000 90.0 4. 2019 29.503.2200.000 24.635.100.000 83.2 5. 2020 28.062.400.000 26.821.800.000 95.6
Sumber : Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2021)
Gapoktan Resmi Lestari merupakan gabungan kelompok tani yang terdapat di Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor.
Gapoktan Resmi Lestari memiliki 5 anggota kelompok tani yang melakukan
kegiatan usahatani padi untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok desa.
Berkurangnya bantuan pupuk bersubsidi dari pemerintah ikut dirasakan oleh petani padi sawah Gapotan Resmi Lestari yang menjadi salah satu kendala produksi padi.
Hingga saat ini produksi padi sawah dari Gapoktan Resmi Lestari belum mampu memenuhi kebutuhan desa. Selain itu, Gapoktan Resmi Lestari belum secara rinci melakukan analisis usahataninya. Mengingat pentingnya pencapaian tujuan peningkatan pendapatan dalam mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien, maka perlu untuk mengetahui besarnya penerimaan dan pendapatan usahatani Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, apakah menguntungkan atau sebaliknya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian di kecamatan tersebut dengan judul “Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Studi Kasus : Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat"
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Berapa biaya usahatani padi sawah yang dikeluarkan oleh Gapoktan
Resmi Lestari di Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung,
Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat?
7 2. Berapa penerimaan dan pendapatan usahatani padi sawah yang didapatkan oleh Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat?
3. Berapa B/C Ratio, Break Even Point (BEP), Payback Period (PP)?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan penelitian ini ialah:
1. Mengetahui biaya usahatani padi sawah yang dikeluarkan oleh Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.
2. Mengetahui penerimaan dan pendapatan usahatani padi sawah yang dilakukan oleh Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat.
3. Mengetahui B/C Ratio, Break Even Point (BEP), Payback Period (PP)
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:
1. Bagi penulis, untuk memenuhi syarat kelulusan menjadi Sarjana Pertanian.
2. Bagi pelaku usahatani, sebagai salah satu bahan referensi sehingga dapat
dipergunakan untuk mempertimbangkan rencana pengembangan usaha.
3. Bagi akademisi, sebagai bahan referensi dalam penelitian lebih selanjutnya dan sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini berfokus pada analisis pendapatan usahatani
padi sawah studi kasus Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi, Kecamatan
Megamendung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Sebagai subjek penelitian
yaitu seluruh anggota Gapoktan Resmi Lestari yang melakukan usahatani padi
sawah. Objek penelitian adalah analisis usahatani padi sawah 1 musim tanam
yang dilakukan untuk mengetahui pendapatan Gapoktan Resmi Lestari yang dapat
dilihat melalui analisis pendapatan, B/C Ratio, Break Even Point (BEP), Payback
Period (PP).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usahatani
Menurut Soekartawi (2016:5), ilmu usahatani membahas bagaimana seorang petani mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki secara efektif dan efisien dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Penggunaan input dapat dikatakan efektif ketika petani dapat mengalokasikan input yang mereka gunakan sebaik-baiknya, dikatakan efisien apabila output yang mereka hasilkan lebih besar dari input yang mereka gunakan.
Menurut Adiwilaga (1982:3), ilmu usahatani adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan orang melakukan pertanian dan permasalahan yang di tinjau secara khusus dari kedudukan pengusahanya sendiri atau illmu usahatani yaitu menyelidiki cara-cara seorang petani sebagai pengusaha dalam menyusun, mengatur dan menjalankan perusahaan itu.
Selain itu Hernanto (1991:18) mengelompokan 4 unsur pokok usahatani atau faktor-faktor produksi usahatani, yaitu:
1. Tanah
Pada umumnya di Indonesia tanah merupakan faktor produksi yang relatif
langka dibandingkan dengan faktor produksi lainnya, selain itu distribusi
penguasaannya dimasyarakat tidak merata. Tanah memiliki sifat luas relatif tetap
atau dianggap tetap, secara fisik tanah tidak dapat dipindah tempat tetapi hak
kepemilikan dapat dipindah tangankan atau diperjual belikan. Karena sifatnya
yang khusus tersebut tanah kemudian dianggap sebagai salah satu faktor produksi
usahatani, meskipun dibagian lain dapat juga berfungsi sebagai faktor atau unsur pokok modal usahatani, meskipun dibagian lain dapat juga berfungsi sebagai faktor atau unsur pokok modal usahatani. Pada dasarnya petani berdasarkan luas tanahnya digolongkan menjadi 4, yaitu:
a. Golongan petani luas (> 2 ha) b. Golongan petani sedang (0,5-2 ha) c. Golongan petani sempit (0,5 ha) d. Golongan buruh tani tidak bertanah 2. Tenaga
Hernanto (1991:19) menggolongkan jenis tenaga kerja yaitu manusia, ternak dan mekanik. Tenaga kerja manusia dibedakan atas tenaga kerja pria, wanita dan anak-anak. Tenaga kerja manusia dapat mengerjakan semua jenis pekerjaan usahatani berdasarkan tingkat kemampuannya. Kerja manusia dipengaruhi oleh: umur, pendidikan, keterampilan, pengalaman, tingkat kecukupan, tingakt kesehatan faktor alam seperti iklim dan kondisi lahan usahatani. Menurut Rukasah dalam Hernanto (1991:19) untuk mengetahui potensi tenaga kerja harus dilipatkan atau dikalikan pencurahannya dalam satu tahun.
Sementara konversi tenaga dengan membandingkan tenaga pria sebagai ukuran baku, yaitu 1 HOK = 1 hari kerja pria (HKP), 1 HOK wanita = 0,7 HKP, 1 HK ternak = 2 HKP, dan 1 HOK anak = 0,5 HKP.
3. Modal
Hernanto (1991:20) menjelaskan bahwa modal merupakan unsur pokok
usahatani yang penting. Dalam pengertian ekonomi, modal adalah barang atau
11 uang yang bersama-sama dengan faktor produksi lainnya menghasilkan barang- barang baru, yaitu produksi pertanian.
Pada usahatani yang disebut modal adalah tanah, bangunan-bangunan, alat-alat pertanian, tanaman, ternak dan ikan di kolam, bahan-bahan pertanian, piutang di bank, uang tunai. Sementara menurut sifatnya modal terbagi dua, yaitu:
a. Modal tetap, meliputi: tanah dan bangunan. Modal tetap diartikan modal yang tidak habis pada satu periode produksi. Jenis modal ini memerlukan pemeliharaan agar dapat berdaya guna dalam jangka waktu lama. Jenis modal ini pun terkena penyusutan. Artinya nilai modal menyusut berdasarkan jenis dan waktu.
b. Modal bergerak meliputi alat-alat, bahan, uang tunai, piutang di bank, tanaman, ternak, ikan. Jenis modal ini habis atau dianggap habis dalam satu periode proses produksi.
Berdasarkan sumbernya dapat dibedakan sumber modal yaitu, milik sendiri, pinjaman atau kredit, hadiah warisan, dari usaha lain, kontrak sewa.
4. Manajemen
Pengelolaan usahatani adalah kemampuan petani menentukan,
mengorganisir, dan mengkoordinasikan faktor-faktor produksi yang dikuasainya
dengan sebaik-baiknya dan mampu memberikan produksi pertanian sebagaimana
yang diharapkan. Ukuran dari keberhasilan setiap pengelolaan itu adalah
produktivitas dari setiap faktor maupun produktivitas dari usahanya. Dengan
demikian pengenalan secara utuh faktor yang dimiliki dan faktor-faktor yang
dapat dikuasai akan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan (Hernanto 1991:20).
2.2 Biaya Usahatani
Menurut Mulyadi (2007:8) bahwa biaya adalah pengorbanan yang diukur dengan satuan uang yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Hal senada juga dikemukakan oleh Purwanti dan Prawironegoro (2013:19) bahwa biaya adalah kas dan setara kas yang dikorbankan untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang diharapkan akan memperoleh manfaat atau keuntungan dimasa mendatang.
Menurut Revino (2006:66), biaya tetap adalah biaya-biaya yang harus dibayar oleh penjual, sederhananya karena mereka ada dalam usaha tersebut.
Biaya tetap adalah biaya yang nilainya tetap tidak tergantung volume usaha serta tidak mempengaruhi hasil akhir yang ingin diperoleh dari usaha ini (Mulyono, 2002:147).
Biaya tidak tetap (variabel) merupakan biaya yang berubah secara
langsung dan berbanding lurus terhadap jumlah produksi suatu produk (Revino,
2006:65). Biaya variabel adalah biaya yang secara langsung berkaitan dengan
jumlah tanaman yang diusahakan dan dengan input variabel yang dipakai, seperti
penyiangan, pupuk, tenaga kerja tidak tetap, bibit, dan sebagainya (Mahekam
dan Malcom, 1991:93). Biaya variabel merupakan besar kecilnya biaya yang
dikeluarkan tergantung pada kapasitas produksi yang bersangkutan (Rasyaf,
2000:18), sedang menurut Usry (2004:59) biaya variabel sebagai biaya yang
13 secara total meningkat terhadap peningkatan dalam aktivitas dan menurun terhadap penurunan dalam aktivitas.
Menurut Usry (2004:61) untuk merencanakan, menganalisis, mengendalikan, atau mengevaluasi biaya pada tingkat aktivitas yang berbeda, biaya tetap dan biaya variabel harus dipisahkan.
2.3 Pendapatan Usahatani
Menurut Sukirno (2009:85), pendapatan adalah perolehan yang berasal dari biaya-biaya faktor produksi atau jasa-jasa produktif. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pendapatan adalah seluruh perolehan baik yang berasal dari biaya faktor produksi maupun total output yang dihasilkan untuk seluruh produksi dalan suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu.
Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan biaya produksi.
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara volume produksi yang diperoleh
dengan harga jual. Harga jual adalah harga transaksi antara petani (penghasil) dan
pembeli untuk setiap komoditas menurut satuan tempat. Satuan yang digunakan
seperti satuan yang lazim dipakai pembeli atau penjual secara partai besar,
misalnya : kg, kwintal, ikat, dan sebagainya (Soekartawi, 2006:54).
2.4 Investasi dan Penyusutan
Menurut Haming dan Basalamah (2003:3) Investasi secara umum diartikan sebagai keputusan mengeluarkan dana pada saat sekarang untuk membeli aktiva riil (tanah, rumah, mobil, dan sebagainya) dengan tujuan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar dimasa yang akan datang. Investasi dibagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Real Investment
Investasi nyata atau Real Investment merupakan investasi yang dibuat dalam harta tetap (fixed asset) seperti tanah, bangunan, peralatan atau mesin – mesin.
2. Financial Investment
Investasi finansial atau Financial Investment merupakan investasi dalam bentuk kontrak kerja, pembelian saham atau obligasi atau surat berharga lainnya seperti sertifikat deposito.
Menurut Hery (2014:110) penyusutan adalah alokasi secara periodik dan
sistematis dari harga perolehan asset selama periode-periode berbeda yang
memperoleh manfaat dari penggunaan aset bersangkutan. Penyusutan umumnya
terjadi ketika aset tetap telah digunakan dan merupakan beban bagi periode
dimana aset dimanfaatkan. Penyusutan dilakukan karena masa manfaat dan
potensi aset yang dimiliki semakin berkurang. Pengurangan nilai aset tersebut
dibebankan secara berangsur-angsur atau proposional ke masing-masing periode
yang menerima manfaat. Akumulasi penyusutan merupakan kumpulan dari beban
15 penyusutan sama dengan besar beban penyusutan selama tahun pertama pemakaian. Kemudian, pada akhir tahun kedua, besarnya akumulasi penyusutan merupakan penjumlahan antara besarnya beban untuk tahun pertama pemakaian dengan beban penyusutan tahun kedua pemakaian, dan seterusnya.
2.5 Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya (B/C Ratio)
Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya ( B/C ratio) adalah perbandingan antara tingkat keuntungan yang diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan. Suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat apabila nilai B/C lebih besar dari nol (0), semakin besar nilai B/C maka semakin besar pula manfaat yang akan diperoleh dari usaha tersebut (Rahardi dan Hartono, 2003:69). Menurut Sofyan (2003: 177), Analisis Rasio Keuntungan dan Biaya ( B/C ratio) merupakan suatu rasio yang membandingkan antara benefit atau keuntungan dari suatu usaha dengan biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan rencana pendirian dan pengoperasian usaha tersebut.
2.6 Titik Pulang Pokok (Break Even Point)
Analisis pulang pokok adalah suatu alat analisis yang digunakan untuk
mengetahui hubungan antara beberapa variabel di dalam kegiatan perusahaan
seperti jumlah produksi yang dilaksanakan, biaya yang dikeluarkan serta
pendapatan yang diterima perusahaan dari kegiatannya (Umar, 1997:202). BEP
(break even point) modal merupakan titik impas usaha. Dari nilai BEP diketahui
pada tingkat produksi dan harga berapa suatu usaha tidak memberikan
keuntungan dan tidak pula mengalami kerugian (Wiryanta, 2002:79). Ada dua jenis perhitungan BEP, yaitu BEP volume produksi dan BEP harga produksi.
2.7 Analisis Periode Pengembalian (Payback Period)
Payback Period atau analisis waktu pengembalian investasi merupakan suatu
periode yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas (Kasmir dan Jakfar 2004:98). Menurut Sofyan (2003:181), Payback Period adalah masa pengembalian modal, artinya lama periode waktu untuk mengembalikan modal investasi. Cepat atau lambatnya sangat tergantung pada sifat aliran kas masuknya. Jika aliran kas masuknya besar atau lancar, maka proses pengembalian modal akan lebih cepat dengan asumsi modal yang digunakan tetap atau tidak ada penambahan modal selama umur proyek.
2.8 Gapoktan
Gapoktan merupakan lembaga yang menjadi penghubung petani satu desa dengan lembaga-lembaga lain di luarnya. Gapoktan diharapkan berperan untuk fungsi- fungsi pemenuhan permodalan pertanian, pemenuhan sarana produksi, pemasaran produk pertanian, dan termasuk menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan petani (Pujiharto, 2010 : 65).
Gapoktan merupakan gabungan kelompok tani yang bergabung dan bekerjasama
untuk meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi usaha. Dalam PERMENTAN
Nomor 273/Kpts/OT.160/4/2007 tentang Pedoman Pemberdayaan Kelembagaan
17 Petani, penggabungan kelompok tani menjadi gapoktan dengan tujuan untuk menggalang kepentingan bersama secara kooperatif agar kelompok tani lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam penyediaan sarana produksi pertanian, permodalan, peningkatan atau perluasan usaha tani di sektor hulu dan hilir, pemasaran serta kerjasama dalam peningkatan posisi tawar (Wahyuni S. 2003 : 93).
Kelompok tani merupakan kelembagaan di tingkat petani yang dibentuk untuk secara langsung mengorganisir para petani dalam berusahatani. Kementerian Pertanian mendefinisikan kelompok tani sebagai kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Kelompok tani dibentuk oleh dan untuk petani, guna mengatasi masalah bersama dalam usahatani serta menguatkan posisi tawar petani, baik dalam pasar sarana maupun pasar produk pertanian (Hermanto, 2011 : 371).
2.9 Padi Sawah
Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun yang berasal dari
dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Penanaman padi
sendiri sudah dimulai sejak Tahun 3.000 sebelum masehi di Zhejiang, Tiongkok
(Purwono dan Purnamawati 2007 : 10). Sebagian besar penduduk di dunia
terutama dari negeara berkembang termasuk Indonesia menjadikan padi sebagai
makanan pokok yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan pangannya setiap
hari (Rahmawati, 2006 : 1). Menurut Grist dalam Suger (2001: 10), padi dalam sistematika tumbuhan diklasifikasikan kedalam:
Kingdom : Plantae Divisio : Spermatophyta Sub divisio : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Poales
Famili : Graminae Genus : Oryza Linn Species : Oryza sativaL.
Ciri khusus budidaya padi sawah adalah adanya penggenangan selama pertumbuhan tanaman. Budidaya padi sawah dilakukan pada tanah yang berstruktur lumpur. Oleh sebab itu, tanah yang ideal untuk sawah harus memiliki kandungan liat minimal 20 persen (Purwono dan Purnamawati 2007 : 17).
Tanaman padi memiliki kemampuan beradaptasi hampir pada semua lingkungan dari dataran rendah hingga dataran tinggi (2000 m dpl). Tanaman padi termasuk jenis rumput yang mempunyai rumpun yang kuat, dan dari ruasnya keluar banyak anakan yang berakar (Utama, 2015 : 2). Untuk meningkatkan produktivitas usahatani padi sawah diperlukan tahapan – tahapan dalam budidaya padi sawah yaitu:
1. Penyiapan Lahan
Waktu pengolahan tanah yang baik tidak kurang dari 4 minggu sebelum
penanaman. Pengolahan tanah terdiri dari pembajakan, garu, dan perataan.
19 Sebelum diolah, lahan digenangi air terlebih dahulu sekitar 7 hari. Pada tanah ringan, pengokahan tanah cukup dengan satu kali bajak dan dua kali garu, lali dilakukan perataan. Pada tanh berat, pengolahan tanah terdiri dari dua kali bajak, 2 kali garu, kemudian diratakan. Kedalaman lapisan olah berkisar 15 – 20 cm. tujuannya untuk memberikan media pertumbuhan padi yang optimal dan gulma dapat dibenamkan dengan sempurna (Purwono dan Purnamawati 2007 : 17).
2. Penyiapan Bibit
Bibit yangdigunakan disarankan bersertifikat/berlabel biru. Kebutuhan Bibit berkisar 20 – 25 kg/ha. Bibit direndam kedalam air garam (200 gram/liter air), Bibit yang mengembang dibuang. Bibit yang bagus di tiriskan, disuse, lalu direndam didalam air bersih selama 24 jam. Air rendaman diganti setiap 12 jam. Bibit kemudian di peram menggunakan karung basah selama 24 jam. Bakam lembaga akan muncul berupa titik putih pada bagian ujungnya yang menunjukan Bibit siap untuk di semai. Selanjutnya penebaran Bibit dilakukan merata diatas bedengan (Herawati 2012 : 65).
3. Penyemaian
Lahan penyemaian dibuat dengan bersamaan penyiapan lahan untuk
penanaman. Untuk luas tanam satu hektar, dibutuhkan lahan penyemaian
seluas 500 m2. Pada lahan persemaian tersebut dibuat bedengan dengan
lebar 1 – 1,25 m dan panjangnya mengikuti panjang petakan untuk
memudahkan penebaran Bibit. Setelah bedengan diratakan, Bibit di
tebarkan merata diatas bedengan. Selanjutnya disebarkan sedikit sekam sisa
penggilingan padi atau jerami diatas Bibit. Tujuannya untuk melindungi Bibit dari hujan dan burung. Air dipertahankan tergenang di sekitar bedengan hingga bibit siap di pindahtanamkan. Bibit siap dipindahtanam (transplanting) saat bibit berumur 3 – 4 minggu atau bibit memiliki minimal 4 daun. (Purwono dan Purnamawati 2007 : 19)
4. Cara Tanam
Saat penanaman kondisi lahan dalam keadaan tidak tergenang atau macak – macak. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 25 cm x 25 cm atau 30 cm x 15 cm atau jarak tanam jejer legowo 40 cm x 20 cm x 20 cm. bibit yang ditanam berkisar 3 batang perlubang. Setelah 3 hari penanaman, air dimasukan kedalam lahan. Adapun penyulaman dapat dilakukan 7 hari setelah tanaman (HST) jika ada bibit yang mati. (Purwono dan Purnamawati 2007 : 19)
5. Pemupukan
Menurut Herawati (2012 : 69) pupuk yang digunakan sebaiknya kombinasi antara pupuk organik dan pupuk buatan atau kimia. Pupuk organik yang digunakan dapat berupa pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 2 sampai 5 ton/ha yang diberikan saat pengolahan sifat fisik dan kimia tanah, dan dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sampai setengahnya.
Dosis pupuk anjuran adalah 200 kg/ura/ha, 75 – 100 kg SP-36/ha
dan 75 – 100 kg KCL/ha. Untuk pupuk urea diberikan 2 – 3 kali, yaitu
pada umur 14 HST (hari setelah tanam), 30 HST, dan saat primordial
21 bunga. Sedangkan pupuk SP 36 dan KCL diberikan saat tanam atau pada umur 14 hari. Apabila digunakan pupuk NPK adalah setengah dosis pada umur 14 HST, dan sisanya pada umur 50 HST. Dosis pupuk tersebut diatas adalah anjuran umum, bila sudah ada rekomendasi dosis spesifik lokasi maka dianjurkan untuk mengikutinya (Herawati 2012 : 69).
6. Penyiangan
Penyiangan rumput – rumput liar seperti jajagoan, sunduk gengsir, teki, dan enceng gondok umumnya dilakukan 3 kali, biasanya pada umur 14 HST, 35 HST, dan 55 HST. Penyiangan bisa secara manual dengan mencabut rerumputan yang ada pada pertanaman atau dengan menggunakan herbisida (Herawati 2012 : 70).
7. Pengairan
Apabila kondisi air betul-betul diatur (berPerawatan Pompa Air penuh)
maka metode pemberian air pada padi sawah dapat disesuaikan dengan
umur/fase tanaman. Untuk tanaman dengan umur 3 HST hanya dengan
kondisi tanah mancak – mancak. Untuk umur 4 HST – 10 HST digenangi
setinggi 25 cm. umur 11 HST – menjelang berbunga, air dibedengan
dibiarkan mengering sendiri (5 – 6 hari), setelah mongering bedengan diairi
setinggi 5 cm dan kemudian dibiarkan lagi mengering sendiri. Pada fase
berbungan 10 HSP (hari sebelum panen), bedengan diairi terus menerus
setinggi 5 cm. 10 HSP – Panen, bedengan dikeringkan. Penggenangan yang
terlalu tinggi akan mengurangi pembentukan anakan.selain perairan, perlu
juga dilakukan pemeliharaan tanah dengan pengeringan pada waktu tertentu, tujuannya adalah untuk memperbaiki aerasi tanah (Herawati 2012 : 71).
8. Panen dan Pascapanen
Menurut Herawati (2012 : 73) penanganan panen dan pascapanen merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan produksi padi, karena tingkat kehilangan hasil selama panen dan penanganan pascapanen masih cukup tinggi (15 – 20%). penanganan panen dan pascapanen primer meliputi :
a. Waktu dan cara panen
Padi siap panen sekitar 30 – 40 hari setelah berbunga merat, jika terlambat dipanen akan mengakibatkan banyak biji yang tercecer atau busuk sehingga mengurangi hasil. Panen dilakukan bila mencapai minimal 80% butir gabah sudah menguning dan tangkai bunga sudah merunduk dengan kadar air gabah sekitar 23 – 25 %. Panen dilakukan dengan memotong batang menggunakan sabit, lalu padi ditumpuk di suatu tempat yang kering untuk mencegah kerusakan akibat terendam.
b. Perontokan
Perontokan dilakukan dengan cara dibanting (gebot) atau dengan mesin
perontok (thresher). Jika perontokan dengan cara dibanting, padi dipanen
dengan cara potong bawah. Akan tetapi, jika menggunakan mesin
perontok sebaiknya padi dipanen dengan potong tengah atau atas. Untuk
mengurangi tercecer saat perontokan, tempat perontokan diberi plastic
atau tirai (bantingan bertirai).
23 c. Pembersihan
Pembersihan dilakukan dengan cara membuang benda-benda yang tercampur dengan gabah/hasil panen, kotoran/campuran dari gabah harus dibuang karena menyulitkan penyimpanan dan mengurangi mutu.
Pembersihan gabah dilakukan dengan cara ditampi atau dengan bantuan blower.
d. Pengeringan
Gabah segera dikeringkan setelah dirontokkan hingga kadar air 14% agar aman untuk disimpan. Biasanya biji dipanen pada saat kadar air masih lebih dari 20%, jika penurunan kadar air mendadak secara cepat dapat menyebabkan biji retak. Oleh karena itu, pengeringan sebaiknya dilakukan secara perlahan. Pengeringan dapat dilakukan dengan cara dijemur atau dengan mesin pengeringan (dryer). Ketebalan hamparan gabah 5 – 7 cm. penjemuran dilakukan diatas lantai jemur atau lasa tikar.
Saat penjemuran dilakukan pembalikan gabah setiap 2 jam sekali untuk mengurangi keretakan gabah.
e. Penyimpanan
Penyimpanan dilakukan pada tempat yang memenuhi persyaratan
tertentu, seperti kering dan bersih, tidak lembab, dan bebas dari serangan
hama dan penyakit gudang. Gabah yang aman simpan selama 6 bulan
adalah yang berkadar air maksimum 14% dan kadar kotoran maksimum
3%.
2.10 Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang studi evaluasi usahatani Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat ini belum dilakukan sebelumnya. Deskripsi tentang studi terdahulu yang penulis peroleh tentang topik yang berkaitan dengan penelitian ini dan penulis jadikan referensi sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Yusuf (2015) dengan judul Analisis Pendapatan Usahatani Kangkung Organik Petani Binaan Agribusiness Development Center (ADC) di Kabupaten Bogor. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa: 1) biaya usahatani kangkung organik petani binaan Agribusiness Development Center (ADC) di Kabuaten Bogor sebesar Rp.
17.985.220,-/tahun dengan rata – rata luas lahan 575m2. 2) pendapatan
usahatani kangkung organik petani binaan Agribusiness Development Center
(ADC) di Kabuaten Bogor sebesar Rp. 45.801.580,-/tahun dengan nilai rata –
rata luas lahan 575m2. 3) analisis pendapatan usahatani kangkung organik
petani binaan Agribusiness Development Center (ADC) di Kabuaten Bogor
dari hasil R/C rasio sebesar 3,55 artinya kegiatan usaha tersebut
menguntungkan atau layak, B/C ratio sebesar 2,55 artinya kegiatan usaha
tersebut menguntungkan atau layak, BEP volume mendapatkan nilai sebesar
2.569Kg/tahun/m2 serta BEP harga sebesar Rp. 1.973,-/Kg/tahun/m2 dan
Payback Period (PP) sebesar 1,48. Persamaan pada penelitian ini terletak
pada metode analisis yang digunakan, sedangkan perbedaannya yaitu pada
25 jenis komoditi dan lokasi penelitian.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Pasaribu, dkk (2013) mengenai Pola Kemitraan dan Pendapatan Usahatani Kelapa Sawit : Kasus Kemitraan Usahatani Kelapa Sawit Antara PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Bekri dengan Petani Mitra di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Bangun Rejo, Kabupaten Lampung Tengah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1).
Sistem kelembagaan dalam pengelolaan usahatani kelapa sawit yang menerapkan pola kemitraan di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Bangun Rejo, Kabupaten Lampung Tengah antara PT Perkebunan Nusantara VII dan petani mitra sudah berjalan dengan efektif. Adapun pola kemitraan pada usahatani kelapa sawit antara petani dan perusahaan adalah pola kemitraan inti plasma.
2). Pada pola ini, perusahaan bertindak sebagai pemberi pinjaman modal berupa bibit kelapa sawit yang siap tanam dan disertai dengan pembinaan teknis berupa bimbingan langsung maupun penyuluhan mengenai cara penanaman, pemeliharaan hingga panen kelapa sawit yang baik. 3). Usahatani kelapa sawit petani di Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Bangun Rejo, Kabupaten Lampung Tengah yang bermitra dengan perusahaan secara finansial layak untuk dikembangkan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Gross B/C sebesar 1,6616; B/C sebesar 1,9519; NPV sebesar 188.556.020,086;
IRR sebesar 23,3516; dengan Payback period selama 9 tahun pada tingkat
suku bunga 16%. Persamaan pada penelitian ini adalah terletak pada metode
analisis yang digunakan, sedangkan perbedaannya yaitu pada jenis komoditi
dan lokasi penelitian.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Utama (2011) dengan judul Analisis Pendapatan Usaha Pengolahan Fillet Ikan (Studi Kasus: PT. Ojid Kharisma Nusantara pada Tahun 2010). Hasil penelitian ini menjunjukkan bahwa: 1) pendapatan usaha pada PT. Ojid Kharisma Nusantara pada tahun 2010 sebesar Rp. 1.182.571.556,- yang berasal dari penjualan produk fillet tuna Maguro, fillet tuna Maguro Co serta fillet Meka (Swordfish). 2) hasil perhitungan B/C ratio pengolahan fillet ikan sebesar 0,76 atau akan memberikan keuntungan sebesar Rp. 76,-. 3) hasil perhitungan Payback Period (PP) pengolahan fillet ikan yang dilakukan oleh PT. Ojid Kharisma Nusantara memperoleh nilai sebesar 0,21 artinya usaha pengolahan fillet ikan yang dilakukan oleh PT. Ojid Kharisma Nusantara akan mengalami pengembalian modal pada 2 bulan 16 hari. 4) hasil perhitungan BEP harga pengolahan fillet tuna Maguro sebesar Rp. 48. 191,-/kg, BEP volume produksi sebesar 171,5 Kg, serta BEP penerimaan sebesar Rp. 8.264.756,5,-.
Perhitungan BEP harga fillet tuna Maguro Co sebesar Rp. 35.172,-/kg, BEP volume produksi sebesar 154 Kg, serta BEP penerimaan sebesar Rp.
5.416.488,-. Sedangkan hasil perhitungan BEP harga fillet Meka (Swordfish)
sebesar Rp. 38.134,-/kg, BEP volume produksi sebesar 170 Kg, serta BEP
penerimaan sebesar Rp. 6.482.780,-. Persamaan pada penelitian ini terletak
pada metode analisis yang digunakan, sedangkan perbedaannya yaitu pada
jenis komoditi dan lokasi penelitian.
27 2.11 Kerangka Pemikiran
Penelitian ini mengkaji tentang Usahatani Padi Sawah Gapoktan Resmi Lestari di Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat. Adanya penurunan penyaluran pupuk bersubsidi kerap dirasakan oleh petani padi sawah Gapoktan Resmi Lestari selama pandemi. Selain itu, Gapoktan Resmi Lestari dalam upaya memenuhi kebutuhan beras didalam desa, belum melakukan pencatatan, dan perhitungan ekonomi secara rinci terkait dengan perhitungan usahatani padi sawah sehingga gapoktan belum dapat menilai tingkat pendapatan. Untuk melihat besarnya biaya dan pendapatan usahatani gapoktan maka diperlukannya penelitian analisis pendapatan usahatani padi sawah pada Gapoktan Resmi Lestari.
Gapoktan Resmi Lestari melakukan kegiatan usahatani dan memerlukan biaya selama proses kegiatan. Dari hasil usahatani tersebut petani menjual hasilnya dan menghasilkan penerimaan. Pendapatan diperoleh dari penerimaan dikurangi dengan biaya produksi. Penerimaan ini berasal dari total produksi dikali dengan harga jual. Biaya produksi berasal dari hasil penjumlahan biaya tetap dan biaya variabel.
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap pengumpulan data terlebih dahulu yaitu, dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner.
Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Gapoktan Resmi Lestari di
Desa Sukaresmi Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa
Barat.
Analisis pendapatan digunakan untuk menghitung besarnya tingkat
pendapatan yang diperoleh pada usahatani Gapoktan Resmi Lestari di Desa
Sukaresmi Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat
dengan Keuntungan atas biaya (B/C ratio), Break Even Point (BEP), Payback
Period (PP). Berikut merupakan singkat alur kerangka pemikiran dari penelitian
ini dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini:
29
Gambar 1 Kerangka Pemikiran