Uji paired sample t test digunakan untuk melihat apakah terdapat perbedaan kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi yang diproyeksikan kedalam empat rasio keuangan yang mewakili rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio provitabilitas, dan rasio aktivitas. Untuk membuktikan hipotesis data duiji dengan paired sample t test yang hasilnya disajikan pada Tabel 10.
Tabel 10. Hasil Paired Sample T Test Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi
Variabel Mean Sig
Taraf
Signifikan Kesimpulan
CR -0.54333 0.569 0.05 Tidak Berbeda
DER 2.139667 0.161 0.05 Tidak Berbeda
NPM -0.06233 0.266 0.05 Tidak Berbeda
TATO -0.12167 0.402 0.05 Tidak Berbeda
Sumber: Data diolah
Dari hasil analisis pada variabel-variabel diatas dengan membandingkan kinerja keuangan lima tahun sebelum dan lima tahun sesudah dilakukannya aktivitas merger dan akuisis diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan current ratio, debt to equity ratio,
net profit margin, dan total asset turn over antara sebelum dan sesudah
merger dan akuisisi pada taraf signifikan 95%.
4.5.1. Analisis Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. Kewajiban jangka pendek itu sendiri adalah kewajiban perusahaan terhadap pihak kreditor yang dibayarkan dalam jangka waktu satu tahun, meliputi hutang dagang, hutang gaji, hutang pajak, dan hutang bank yang
memiliki masa jatuh tempo satu tahun. Pada penelitian ini, digunakan
current ratio untuk mengukur likuiditas perusahaan.
Untuk membuktikan ada atau tidaknya perbedaan rata-rata current
ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi, dilakukan pengujian
dengan menggunakan uji paired sample t test dengan taraf signifikan 95% (α=0,05). Hipotesis yang digunakan sebagai berikut:
H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata current
ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
H1 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata current ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
Hasil paired sample t test pada variabel current ratio diperoleh nilai sig sebesar 0.569. Karena nilai sig lebih besar dari α=0.05 (0.569>0.05) maka H0 diterima. H0 diterima sehingga dari pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata current ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi.
4.5.2. Analisis Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya jika perusahaan tersebut dilikuidasi. Adapun yang dimaksud dengan kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang dibayarkan lebih dari satu tahun atau satu periode akuntansi, meliputi hutang bank, obligasi, wesel dan surat berharga. Rasio yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur kemampuan tersebut adalah debt to equity.
Untuk membuktikan ada atau tidaknya perbedaan rata-rata debt to
equity ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi, dilakukan pengujian
dengan menggunakan uji paired sample t test dengan taraf signifikan 95% (α=0,05). Hipotesis yang digunakan sebagai berikut:
H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata debt to
equity ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
Hasil paired sample t test pada variabel debt to equity ratio diperoleh nilai sig sebesar 0.2. Karena nilai sig lebih besar dari α=0.05 (0.2>0.05) maka H0 diterima. H0 diterima sehingga dari pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata debt to equity ratio sebelum dan setelah merger dan akuisisi.
4.5.3. Analisis Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya. Pada penelitian ini, digunakan net profit
margin untuk mengukur profitabilitas perusahaan.
Untuk membuktikan ada atau tidaknya perbedaan rata-rata net
profit margin sebelum dan sesudah merger dan akuisisi, dilakukan
pengujian dengan menggunakan uji paired sample t test dengan taraf signifikan 95% (α=0,05). Hipotesis yang digunakan sebagai berikut: H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata net profit
margin sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
H1 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata net profit
margin sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
Hasil paired sample t test pada variabel net profit margin diperoleh nilai sig sebesar 0.266. Karena nilai sig lebih besar dari α=0.05 (0.266>0.05) maka H0 diterima. H0 diterima sehingga dari pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata net profit margin sebelum dan setelah merger dan akuisisi.
4.5.4. Analisis Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian, maupun kegiatan lainnya. Jenis rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah total asset turn over.
Untuk membuktikan ada atau tidaknya perbedaan rata-rata total
asset turn over sebelum dan sesudah merger dan akuisisi, dilakukan
pengujian dengan menggunakan uji paired sample t test dengan taraf signifikan 95% (α=0,05). Hipotesis yang digunakan sebagai berikut: H0 = Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata total
asset turn over sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
H1 = Terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata total asset turn
over sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
Hasil paired sample t test pada variabel total asset turn over diperoleh nilai sig sebesar 0.402. Karena nilai sig lebih dari α=0.05 (0.402>0.05) maka H0 diterima. H0 diterima sehingga dari pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata total asset turn over sebelum dan setelah merger dan akuisisi.
Berdasarkan hasil uji hipotesis paired sample t test terhadap kinerja keuangan perusahaan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara kinerja keuangan sebelum dan sesudah merger dan akuisisi pada semua rasio likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan aktivitas yang masing masing diwakili oleh
current ratio, debt to equity ratio, net profit margin, dan total asset total asset turn over.
Tidak adanya perbedaan yang signifikan ini mengindikasikan kegagalan perusahaan mencapai tujuan merger dan akuisisi untuk mencapai sinergi, yaitu menghemat operasi yang dihasilkan dari skala ekonomis manajemen, pemasaran, produksi, atau distribusi yang lebih efektif dan efisien; menghasilkan beban finansial yg lebih rendah; menghasilkan perbedaan efisiensi yang berarti bahwa manajemen salah satu perusahaan lebih efisien dan aktiva perusahaan yang lemah akan lebih produktif setelah merger dan akuisisi; dan meningkatkan penguasaan pasar dan mengurangi persaingan.
Selain itu, dari segi ekonomi tujuan yang diinginkan perusahaan untuk memperbaiki profitabilitas perusahaan pasca merger dan akuisisi
perusahaan mampu meningkatkan penjualan dan laba bersih setelah merger dan akuisisi tetapi kenaikannya masih belum sebanding dengan peningkatan biaya.