4.4. Analisis Deskriptif
4.4.3. Perbandingan Analisis Deskriptif Rata-Rata Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi
over sebesar 1.066 dengan standar deviasi 0.323. Nilai standar deviasi
yang lebih kecil dari rata-rata menunjukan adanya variasi yang cukup rendah pada data atau adanya perbedaan yang cukup rendah antara nilai maksimum dengan minimum. Nilai rata-rata total asset turn over sebesar 1.066 berarti bahwa kemampuan aktiva untuk menghasilkan penjualan sebesar 1.066 kali atau setiap satu rupiah aktiva, perusahaan menghasilkan 1.066 rupiah penjualan.
4.4.3. Perbandingan Analisis Deskriptif Rata-Rata Sebelum dan Sesudah Merger dan Akuisisi
Setelah dilakukan perbandingan pada rata-rata variabel antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi, maka dapat terlihat perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa peningkatan atau penurunan pada nilai rata-rata setiap variabel, nilai maximum, nilai minimum, serta standar deviasi dari variabel sebelum dan sesudah merger dan akuisisi. Perubahan tersebut ditunjukan pada Tabel 9.
Sesudah Merger dan Akuisisi
Variabel Sebelum Sesudah Naik/Turun
CR Mean 1.301 1.845 Naik Minimum 0.462 0.150 Turun Maksimum 1.995 4.148 Naik Std. Deviation 0.777 2.067 Naik DER Mean 3.204 1.064 Turun Minimum 2.678 0.339 Turun Maksimum 4.081 2.326 Turun Std. Deviation 0.765 1.097 Naik NPM Mean -0.057 0.006 Naik Minimum -0.275 -0.134 Naik Maksimum 0.064 0.106 Naik Std. Deviation 0.189 0.125 Turun TATO Mean 0.889 1.011 Naik Minimum 0.441 0.651 Naik Maksimum 1.121 1.383 Naik Std. Deviation 0.388 0.366 Turun
Sumber: Data Diolah
Dari ke empat variabel yang diuji, tiga variabel diantaranya yaitu
current ratio, net profit margin dan total asset turn over mengalami
peningkatan rata-rata sesudah merger dan akuisisi. Sedangkan untuk variabel debt to equity ratio mengalami penurunan nilai rata-rata sesudah merger dan akuisisi. Perubahan ini menunjukan adanya perbaikan pada kinerja keuangan perusahaan yang diproyeksikan kedalam empat rasio tersebut.
4.4.3.1. Analisis Rasio Likuiditas
Berdasarkan statistik deskriptif yang diringkas pada Tabel 9 terlihat bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata current ratio antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi dari 1.301 menjadi 1.845. Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan nilai maksimum dari 1.995
meningkat menjadi 4.148 dan nilai standar deviasi meningkat dari 0.777 menjadi 2.067. Sedangkan nilai minimum mengalami penurunan dari 0.462 menjadi 0.150. Perubahan pada komponen variabel current ratio antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi diringkas dalam boxplot berikut.
Gambar 27. Perubahan komponen current ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
Aktivitas merger dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan mengakibatkan peningkatan nilai rata-rata current ratio. Peningkatan pada rata-rata current ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi mengindikasikan membaiknya kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan aktiva lancar yang dimilikinya.
Kinerja current ratio sangat bergantung pada komposisi aktiva. Semakin banyak aktiva lancar yang dimiliki perusahaan maka semakin baik kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Selain itu, perusahaan yang sebagian besar aktiva lancarnya
dibanding perusahaan yang sebagian besar aktiva lancarnya terdiri dari piutang dan persediaan.
4.4.3.2. Analisis Rasio Solvabilitas
Berdasarkan statistik deskriptif yang diringkas pada Tabel 9 terlihat bahwa terdapat penurunan nilai rata-rata debt to equity ratio antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi dari 3.204 menjadi 1.064. Penurunan ini sejalan dengan penurunan nilai minimum dari 2.678 menjadi 0.339, nilai maksimum menurun dari 4.081 menjadi 2.326. Namun standar deviasi meningkat dari 0.765 menjadi 1.097. Perubahan pada komponen variabel debt to equity ratio antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi diringkas dalam boxplot berikut.
Gambar 28. Perubahan komponen debt to equity ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
Aktivitas merger dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan mengakibatkan penurunan nilai rata-rata debt to equity ratio. Penurunan
pada rata-rata debt to equity ratio sebelum dan sesudah merger dan akuisisi ini mengindikasikan posisi pemegang saham semakin besar dalam menjamin investasi kreditor atau sebagian besar investasi yang dilakukan perusahaan lebih banyak didanai dari ekuitas pemegang saham dari pada oleh hutang.
Kinerja debt to equity ratio memiliki perspektif yang berbeda jika dilihat dari segi kreditor dan pemegang saham. Kreditor lebih menyukai
debt to equity ratio yang relatif rendah karena semakin rendah rasio ini
semakin besar aktiva yang disediakan perusahaan untuk kreditor dan semakin besar perlindungan terhadap kerugian kreditor dalam peristiwa likuidasi. Disisi lain, pemegang saham mengharapkan debt to equity ratio yang relatif tinggi karena melalui leverage, pemegang saham biasa dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dari aktiva. Dilihat dari perspektif ini, debt to equity ratio setelah merger dan akuisisi lebih menguntungkan pihak kreditor.
4.4.3.3. Analisis Rasio Profitabilitas
Berdasarkan statistik deskriptif yang diringkas pada Tabel 9 terlihat bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata net profit margin antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi dari -0.057 menjadi 0.006. Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan nilai minimum dari -0.275 menjadi -0.134, nilai maksimum meningkat dari 0.064 menjadi 0.106. Namun standar deviasi menurun dari 0.189 menjadi 0.125. Perubahan pada komponen variabel net profit margin antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi diringkas dalam boxplot berikut.
Gambar 29. Perubahan komponen net profit margin sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
Aktivitas merger dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan mengakibatkan peningkatan nilai rata-rata net profit margin.Peningkatan pada rata-rata net profit margin antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi ini mengindikasikan semakin baiknya kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih dari aktivitas penjualan yang dilakukannya. Sebelum merger dan akuisisi untuk setiap seribu rupiah penjualan perusahaan menutup kerugian bersih sebesar 57 rupiah sedangkan setelah merger dan akuisis untuk setiap seribu rupiah penjualan perusahaan mendapatkan keuntungan bersih sebesar enam rupiah.
4.4.3.4. Analisis Rasio Aktivitas
Berdasarkan statistik deskriptif yang diringkas pada Tabel 9 terlihat bahwa terdapat peningkatan nilai rata-rata total asset turn over antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi dari 0.889 menjadi 1.011. Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan nilai minimum dari 0.441
menjadi 0.651, nilai maksimum meningkat dari 1.121 menjadi 1.383. Namun standar deviasi menurun dari 0.388 menjadi 0.366. Perubahan pada komponen variabel total asset turn over antara sebelum dan sesudah merger dan akuisisi diringkas dalam boxplot berikut.
Gambar 30. Perubahan komponen total asset turn over sebelum dan sesudah merger dan akuisisi
Aktivitas merger dan akuisisi yang dilakukan oleh perusahaan mengakibatkan peningkatan nilai rata-rata total asset turn over. Peningkatan pada rata-rata total asset turn over sebelum dan sesudah merger dan akuisisi ini mengindikasikan semakin membaiknya kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya untuk menghasilkan penjualan atau perusahaan lebih efektif dalam menggunakan aktiva dalam menghasilkan penjualan setelah dilakukannya aktivitas merger dan akuisisi. Selain itu peningkatan ini juga mengindikasikan bahwa semakin banyak volume bisnis yang dilakukan perusahaan setelah aktivitas merger dan akuisisi akibat keputusannya menggabungkan atau melepaskan beberapa aktivanya. Semakin tinggi
tersebut menggunakan aktivanya dalam menghasilkan penjualan.