TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Teoritis
2.1.2. Pajak Hotel
a. Pengertian Pajak Hotel
UU No. 28 tahun 2009 Pasal 1 ayat 20 dan 21 pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.
Sedangkan hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk
15 pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenis, serta rumah kos yang lebih dari 10 (sepuluh) kamar.
b. Objek Pajak Hotel
Objek pajak hotel merupakan pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan pembayaran, termasuk jasa penunjang selaku kelengkapan hotel yang sifatnya memberikan kemudahan serta kenyamanan. Dalam pengenaan pajak hotel, yang menjadi objek pajak yang termasuk pelayanan sebagaimana yang termasuk di bawah ini :
1. Sarana penginapan ataupun sarana tinggal jangka pendek.
Dalam pengertian rumah penginapan termasuk rumah kos dengan jumlah kamar minimun 10 (sepuluh) ataupun lebih yang sediakan seperti rumah penginapan. Diantara yang termasuk ke dalam sarana penginapan/ sarana tinggal jangka pendek antara lain gubuk pariwisata (cottage), motel, wisma pariwisata, pesanggrahan (hostel), losmen serta rumah penginapan.
2. Pelayanan penunjang selaku kelengkapan sarana penginapan ataupun tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan serta kenyamanan. Pelayanan penunjang antara lain telepon, faksimile, teleks, fotocopy, pelayanan mencuci,
16 setrika, taksi serta pengangkutan yang lain, yang disediakan ataupun dikelola hotel.
3. Sarana berolahraga serta hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel, bukan untuk umum antara lain pusat kebugaran (fitness center), pub, diskotic, yang disediakan ataupun dikelola hotel.
4. Jasa persewaan ruangan untuk aktivitas kegiatan di hotel.
5. Penjualan makaan serta minuman ditempat yang disertai dengan sarana penyantapannya di hotel.
c. Bukan Objek Pajak Hotel
Pada Pajak Hotel tidak seluruh pelayanan yang diberikan oleh penginapan dikenakan pajak. Terdapat beberapa pengecualian yang tidak termasuk objek pajak, yaitu sebagai berikut :
1. Jasa tempat tinggal asrama yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
2. Jasa sewa apartemen, kondominium, serta sejenisnya kecuali apartemen, kondominium, serta sejenisnya yang didasarkan atas izin usahanya.
3. Jasa tempat tinggal di pusat pembelajaran maupun aktivitas keagamaan.
17 4. Jasa tempat tinggal yang ada di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo, panti asuhan, serta panti sosial yang lain yang sejenis.
5. Jasa biro ekspedisi wisata yang diselenggarakan oleh hotel serta bisa dimanfaatkan oleh umum.
d. Subjek Pajak dan Wajib Pajak Hotel
Pada Pajak Hotel yang menjadi subjek pajak adalah orang atau badan yang melakukan pembayaran atas pelayanan dan wajib pajak hotel adalah jumlah pengusaha hotel termasuk di dalamnya tempat kos, wisma, pondok wisata dan gedung pertemuan yang bertanggungjawab sepenuhnya untuk menyetor pajak yang seharusnya terutang.
e. Dasar Pengenaan dan Tarif Pajak
Dasar pengenaan pajak hotel adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel termasuk di dalamnya tempat kos, wisma, pondok wisata dan gedung. Tarif pajak hotel ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh persen) dan ditetapkan sesuai dengan peraturan daerah dan kondisi masing-masing daerah Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Cara perhitungan pajak hotel:
18 2.1.3. Pajak Reklame
a. Pengertian Pajak Reklame
pajak reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame (UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 26). Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang bentuk atau corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang atau badan, yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan dan atau dinikmati oleh umum (Siahaan, 2013:7).
b. Objek Pajak Reklame
Menurut UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang terdapat pada pasal 47 ayat 2 tentang objek pajak reklame adalah semua penyelenggaraan reklame. Hal-hal yang termasuk objek pajak reklame, antara lain papan/billboard/videotron/megatron dan sejenisnya‚ reklame kain‚ reklame melekat dan stiker. Ada juga reklame selebaran‚
reklame berjalan, termasuk pada kendaraan‚ reklame udara‚
Pajak Hotel Terutang = Jumlah kamar x Tarif rata-rata x 1 bulan x Tingka Hunian x Tarif Pajak
19 reklame apung‚ reklame suara‚ reklame film/slider‚ dan reklame peragaan.
c. Bukan Objek Pajak Reklame
Tidak semua penyelenggaraan reklame dikenakan pajak adapun beberapa hal yang tidak dikategorikan sebagai objek pajak reklame adalah sebagai berikut.
1. Penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, berita harian, berita mingguan, berita bulanan, dan sejenisnya.
2. Jika label/merek produk yang melekat pada barang yang diperdagangkan, bertujuan untuk membedakan berdasarkan produk sejenis lainnya.
3. Terdapat nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang pada bangunan tempat usaha atau profesi dalam hal ini nama tersebut sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau profesi tersebut.
4. Reklame yang diselenggarakann oleh pemerintah atau pemerintah daerah dan penyelenggaraan reklame lainnya yang ditetapkan menggunakan peraturan daerah.
5. Penyelenggaraan reklame lainnya yang ditetapkan oleh peraturan daerah, contohnya penyelenggaraan reklame yang
20 diadakan khusus untuk aktivitas sosial, pendidikan, keagamaan, dan politik tanpa sponsor.
d. Subjek Pajak dan Wajib Pajak Reklame
Merujuk pada UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang terdapat pada Pasal 48 ayat 1, subjek pajak reklame adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan reklame. Sementara itu, pihak penyelenggara reklame, baik orang pribadi atau badan ditetapkan sebagai wajib pajak reklame. Namun, apabila penyelenggaraan reklame dilakukan sendiri secara langsung maka yang menjadi wajib pajak reklame adalah orang pribadi atau badan tersebut. Jika reklame diselenggarakann melalui pihak ketiga, pihak tersebut menjadi wajib pajak reklame. Dengan demikian, wajib pajak sebagai penyelenggara reklame berperan melakukan pelaporan dan penyetoran atas pajak reklame tersebut.
e. Dasar Pengenaan, Tarif, dan Cara Perhitungan Pajak Reklame
Dasar pengenaan pajak reklame adalah nilai sewa reklame (NSR). Nilai sewa reklame ialah nilai yang ditetapkan sebagai dasar perhitungan penetapan besarnya pajak reklame. Cara perhitungan NSR ditetapkan sesuai dengan peraturan daerah dan hasil perhitungan NSR ditetapkan dengan peraturan kepala