HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sampel Penelitian
4.5.3. Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji t)
Uji ini digunakan untuk mengetahui secara parsial apakah setiap variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Dengan ketentuan apabila nilai signifikansi variabel independen lebih besar daripada 0,05 maka secara parsial tidak ada pengaruh signifikan variabel independen terhadap variabel dependen. Begitu juga sebaliknya. Pengambilan keputusan juga bisa dilakukan dengan membandingkan nilai thitung dengan ttabel. Apabila nilai thitung < ttabel maka secara parsial tidak ada pengaruh signifikan
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 565140421361773100
000000.000 5 1130280842723546
20000000.000 124.936 .000b Residual 461391296881178400
00000.000 51 9046888174140753 00000.000 Total 611279551049890900
000000.000 56
Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, 2021
67 antara variabel independen dengan variabel dependen begitu juga sebaliknya. Sebelum diketahui hasil uji hipotesis yang diterima atau ditolak, untuk itu ditentukan ttabel dengan signifikansi 5% (0,05) dengan uji satu arah dan derajat keabsahan df = n-k atau 57-6 = 51 diperoleh ttabel sebesar 2.00758. Hasil uji secara parsial untuk pajak hotel, pajak reklame, pajak restoran, pajak penerangan jalan dan retribusi pasar dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel 4.9 Uji Signifikansi Pengaruh Parsial (Uji )
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 60107194064.77 4
5809346750.52
5 10.347 .000
Pajak Hotel .451 2.867 .037 .157 .876
Pajak Reklame 16.624 8.221 .246 2.022 .048
Pajak Restoran -3.387 3.390 -.297 -.999 .322
Pajak Penerangan
Jalan 4.271 .804 .927 5.309 .000
Retribusi Pasar 6.572 12.791 .067 .514 .610
a. Dependent Variabel: Pendapatan Asli Daerah
Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS, 2021
Dari Tabel 4.9 diatas, maka kekesimpulan dari Uji-t adalah sebagai berikut:
1. Hasil uji signifikansi untuk uji parsial (Uji t) pada Variabel X1
atau pajak hotel menghasilkan nilai thitung sebesar 0,157 dengan nilai ttabel sebesar 2.00758, yang berarti thitung < ttabel serta didapat
68 nilai signifikansi sebesar 0,157 atau lebih besar dari 0,05 (5%) maka H0 diterima dan Ha ditolak, yang berarti pajak hotel tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
2. Hasil uji signifikansi untuk uji parsial (Uji t) pada Variabel X2
atau pajak reklame menghasilkan nilai thitung sebesar 2.022 dengan nilai ttabel sebesar 2.00758, yang berarti thitung > ttabel. Nilai thitung yang positif mengindikasikan adanya hubungan positif antara variabel X2 yaitu pajak reklame dengan variabel Y yaitu pendapatan asli daerah serta dengan nilai signifikansi sebesar 0.048 atau lebih kecil dari 0,05 (5%) maka H0 ditolak dan Ha
diterima yang berarti, pajak reklame berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
3. Hasil uji signifikansi untuk uji parsial (Uji t) pada Variabel X3
atau pajak restoran menghasilkan nilai thitung sebesar -0,999 dengan nilai ttabel sebesar 2.00758, yang berarti thitung < ttabel. Nilai thitung yang negatif mengindikasi adanya hubungan yang saling bertolak belakang antara pajak restoran dengan pendapatan asli daerah serta didapat nilai signifikansi sebesar 0.322 atau lebih besar dari 0,05 (5%) maka H0 diterima dan Ha ditolak, yang
69 berarti pajak restoran tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
4. Hasil uji signifikansi untuk uji parsial (Uji t) pada Variabel X4
atau pajak penerangan jalan menghasilkan nilai thitung sebesar 5.309 dengan nilai ttabel sebesar 2.00758, yang berarti thitung > ttabel. Nilai thitung yang positif mengindikasikan adanya hubungan positif antara variabel X4 yaitu pajak penerangan jalan dengan variabel Y yaitu pendapatan asli daerah serta dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 atau lebih kecil dari 0,05 (5%) maka H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti pajak penerangan jalan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
5. Hasil uji signifikansi untuk uji parsial (Uji t) pada Variabel X5
atau retribusi pasar menghasilkan nilai thitung sebesar 0,514 dengan nilai ttabel sebesar 2.00758, yang berarti thitung < ttabel serta didapat nilai signifikansi sebesar 0.610 atau lebih besar dari 0,05 (5%) maka H0 diterima dan Ha ditolak, yang berarti retribusi pasar tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
70 4.6. Pembahasan
4.6.1. Pengaruh Pajak Hotel terhadap Pendapatan Asli Daerah
Variabel pajak hotel memiliki koefisien positif, yaitu 0,451 dengan nilai signifikansi 0,876 lebih besar dari 0,05 (5%) dimana t
hitung < t table yaitu 0,157 < 2.00758 sehingga dapat disimpulkan pajak hotel tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Sedangkan hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rumah penginapan dan sejenis, serta rumah Kos yang lebih dari 10 (sepuluh) kamar. Masih rendahnya penerimaan pada sektor pajak hotel disebabkan karena masih banyaknya hotel yang menunggak pajaknya. Hal ini dikarenakan sempat berlakunya kebijakan larangan untuk mengadakan rapat di hotel dan ini berlaku di beberapa hotel yang ada di Kabupaten dan Kota Provinsi Sumatera Barat. Kebijakan ini bukan hanya menurunkan pendapatan hotel namun juga menyebabkan hotel tersebut failed dengan begitu hal inilah yang membuat pajak hotel tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah.
71 Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yolanda (2019) yang menyimpulkan bahwa Pajak hotel tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Agam, Pasaman dan Pesisir Selatan Periode 2012-2016.
Sedangkan hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Farhan (2019) dan juga hasil penelitian yang dilakukan oleh Farhan (2019) sesuai dengan hipotesis penelitian ini.
4.6.2. Pengaruh Pajak Reklame terhadap Pendapatan Asli Daerah Variabel pajak reklame memiliki koefisien positif yaitu 16,624 dengan nilai signifikansi 0,048 lebih kecil dari 0,05 (5%) dimana t
hitung > t table yaitu 2,022 > 2.00758 sehingga dapat disimpulkan pajak reklame berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
Pajak reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame.
Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang bentuk atau corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan, atau untuk menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang atau badan, yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan dan atau dinikmati oleh umum. Berkembangnya sektor pariwisata dan kunjungan dari wisatawan khususnya di Kabupaten dan Kota Provinsi Sumatera Barat akhirnya banyak pihak-pihak membuat reklame untuk mempromosikan barang, jasa, orang
72 maupunn badan melalui papan reklame, strategi ini dirasa cukup relevan untuk digunakan dalam memperkenalkan maupun mempromosikan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasanah (2019) yang menyimpulkan bahwa pajak reklame berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah di Kabupaten Pesawaran Perspektif Ekonomi Islam Periode 2012-2018. Sedangkan hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Aulia (2020).
4.6.3. Pengaruh Pajak Restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah Variabel pajak restoran memiliki koefisien negatif, yaitu -3,387 dengan tingkat signifikansi 0,322 yang nilainya lebih besar dari 0,05 (5%) dimana t hitung < t table yaitu -0,999 < 2.00758 sehingga dapat disimpulkan bahwa pajak reklame tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. Restoran adalah fasilitas penyedia makaan dan minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah maka, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/katering. Dalam penelitian ini terlihat hubungan negatif antara pajak restoran dengan pendapatan asli daerah karena nilai koefisien yang menunjukan negatif. Masih rendahnya penerimaan dari sektor
73 pajak restoran dikarenakan pada saat bulan puasa rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar dan jasa boga/catering di Kabupaten dan Kota Provinsi Sumatera Barat ditutup hal ini sesuai dengan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan juga masih rendahnya kesadaran wajib pajak padahal pemerintah telah memasang pengumuman pada objek Wajib Pajak (WP) yang belum memenuhi kewajibannya di tempat masing-masing mengakibatkan pajak restoran tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah dan juga disimpulkan bahwa semakin tinggi penerimaan pajak restoran tidak dapat meningkatkan pendapatan asli daerah di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lewasari (2019) yang menyimpulkan bahwa pajak restoran tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Kota Bandar Lampung. Sedangkan hasil penelitian Lubis (2017) berbeda dengan penelitian ini namun sesuai dengan hipotesis dalam penelitian ini.
4.6.4. Pengaruh Pajak Penerangan Jalan terhadap Pendapatan Asli Daerah
Variabel pajak penerangan jalan memiliki koefisien positif, yaitu 4,271 dengan nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 (5%) dimana t hitung > t tabel yaitu 5,309 > 2.00758 sehingga dapat disimpulkan bahwa pajak penerangan jalan berpengaruh positif dan
74 signifikan terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
Pajak penerangan jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupunn diperoleh dari sumber lain. Penerangan jalan adalah penggunaan tenaga listrik untuk menerangi jalan umum yang rekeningnya dibayar oleh pemerintah.
Semakin baiknya perekonomian di Kabupaten dan Kota Provinsi Sumatera Barat pada malam hari yang membutuhkan penerangan jalan akhirnya dapat meningkatkan pendapatan asli daerah melalui pajak penerangan jalan dan akhirnya banyak pelaku bisnis yang menjalankan usahanya pada malam hari tanpa perlu khawatir terjadi gangguan penerangan jalan hal inilah yang membuat pajak penerangan jalan berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mardian (2015) yang menyimpulkan bahwa pajak penerangan jalan berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Purba dan Ginting (2016) berbeda dengan hasil penelitian ini.
4.6.5. Pengaruh Retribusi Pasar terhadap Pendapatan Asli Daerah Variabel retribusi pasar memiliki koefisien positif, yaitu 6,572 dengan nilai signifikansi 0,610 lebih besar dari 0,05 (5%) dimana t
hitung < t table yaitu 0,514 < 2.00758 sehingga dapat disimpulkan
75 retribusi pasar tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
Retribusi pasar adalah fasilitas pasar tradisional/sederhana berupa peralatan, los yang dikelola pemerintahan daerah, dan khusus disediakan untuk pedagang, tidak termasuk yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan pihak swasta. Kurangnya sosialisasi yang dilakukan petugas juru tagih kepada pedagang yang ada di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat mengenai penggunaan uang retribusi pasar, menyebabkan banyak pedagang yang malas membayar retribusi sebab ketidaktahuan pedagang mengenai kegunaan uang retribusi pasar serta rendahnya tingkat kesadaran pedagang dan cenderung untuk menghindari kewajibannya dalam membayar retribusi pasar mengakibatkan minimnya retribusi pasar akibatnya retribusi pasar tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rachman, dkk (2021) yang menyimpulkan bahwa retribusi pasar tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah. Sedangkan hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rachman, dkk (2021).
76 4.6.6. Pengaruh Pajak Hotel, Pajak Reklame, Pajak Restoran, Pajak
Penerangan Jalan dan Retribusi Pasar Terhadap Pendapatan Asli Daerah
Variabel pajak hotel, pajak reklame, pajak restoran, pajak penerangan jalan dan retribusi parkir memiliki nilai signifikansi 0,000 yang nilainya lebih kecil dari 0,05 (5%) dimana Fhitung > Ftabel yaitu 124,936 > 2,40 sehingga dapat disimpulkan bahwa secara simultan pajak hotel, pajak reklame, pajak restoran, pajak penerangan jalan dan retribusi pasar berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat.
77 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN