VII. SIMPULAN DAN SARAN
1. Pajak Lahan (Hektar)
Biaya Variabel Tunai
2 Bahan baku akar wangi Kg 360 000 1 000.00 360 000 000.00 57.89
3 Listrik Minggu 32 100 000.00 3 200 000.00 0.51
4 Bahan bakar Drum 240 750 000.00 180 000 000.00 28.95
5 Transportasi Bulan 8 400 000.00 3 200 000.00 0.51
6 Tenaga Kerja Luar Keluarga
a Pengangkut Borongan 360 100 000.00 36 000 000.00 5.79
b Penyuling Borongan 240 160 000.00 38 400 000.00 6.18
7 Biaya pemeliharaan 2 500 000.00 1 000 000.00 0.16
Total Biaya Tunai 621 850 000.00 100.00
Sumber: Data primer diolah (2014)
Setelah diperoleh perhitungan pada arus penerimaan dan pengeluaran, dilakukan perhitungan net benefit yang merupakan pengurangan penerimaan dan pengeluaran. Dengan discount factor (DF) sebesar 11.75%, diperoleh present value dari perkalian net benefit dan discount factor. Setelah itu, dapat diketahui lima indikator dari kriteria investasi. Kelima indikator tersebut adalah Net Present Value, Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Hasil penilaian berdasarkan kriteria investasi dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19 Hasil analisis kelayakan usaha penyulingan pada pelaku usaha penyuling akar wangi di Kecamatan Samarang
Kriteria Investasi Nilai
Net Present Value (Rp) 32 810 728.26
Internal Rate of Return (%) 15
Net Benefit/Cost 1.14
Payback Period (tahun) 7.92
Sumber: Data primer diolah (2014)
Berdasarkan hasil perhitungan kriteria investasi di atas, didapatkan nilai NPV>0. Nilai tersebut merupakan selisih dari manfaat bersih yang telah didiskonto dengan biaya yang telah didiskonto selama umur usaha. Usaha penyulingan ini layak untuk dijalankan karena menghasilkan nilai NPV yang
positif atau lebih dari nol. Nilai NPV yang didapat merupakan pendapatan bersih yang diperoleh penyuling selama 10 tahun. Sehingga untuk mengetahui pendapatan penyuling selama 1 tahun, nilai NPV dibagi dengan umur ekonomis usaha menjadi Rp 3 281 072.83 per tahun. Investasi pada usaha penyulingan akar wangi layak berdasarkan Internal Rate of Return (IRR) yang diperoleh lebih besar dari tingkat suku bunga yang dijadikan acuan tingkat discount factor (11.75%) yaitu sebesar 15% yang berarti bahwa keuntungan yang diperoleh dari kegiatan investasi tersebut 15% per tahun. Nilai Net B/C yang diperoleh lebih besar dari 1 yang berarti bahwa penggunaan investasi layak. Nilai Net B/C sebesar 1.14 artinya penggunaan setiap Rp 1 untuk membiayai usaha tersebut akan menghasilkan Rp 1.14 selama umur usaha. Nilai yang dihasilkan Payback Period adalah 7.92 tahun yang artinya bahwa jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan sejumlah nilai investasi yang telah dikeluarkan adalah selama 7 tahun 11 bulan. Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi tersebut lebih pendek daripada jangka waktu umur usaha sehingga layak untuk dijalankan. 6.2.3 Struktur Biaya, Peneriman dan Pendapatan Petani-Penyuling Akar
Wangi
Selain sebagai petani dan penyuling, ada pula pelaku usahatani yang menjalankan keduanya sekaligus atau disebut dengan petani-penyuling. Pada petani dan petani-penyuling terdapat kesamaan yaitu keduanya memiliki lahan akar wangi sendiri, tetapi perbedaannya yaitu pada petani akar wangi output yang diperoleh dari hasil panen dijual kepada penyuling atau pengumpul, sedangkan pada petani-penyuling output yang diperoleh dari hasil panen tidak dijual kepada penyuling atau pengumpul, melainkan diproses sendiri menjadi minyak akar wangi. Begitu juga pada penyuling dan petani-penyuling juga terdapat perbedaan, yaitu pada penyuling bahan baku akar wangi sepenuhnya diperoleh dari petani akar wangi lain, sedangkan pada petani-penyuling, bahan baku akar wangi yang digunakan dalam penyulingan sebagian diperoleh dari hasil panen sendiri dan sebagian lain diperoleh dari petani akar wangi lain.
Pada penelitian ini, perhitungan pendapatan petani-penyuling akar wangi dihitung dalam dua tahap. Yaitu, pertama menghitung total biaya dan hasil panen yang diperoleh dari usahatani akar wangi. Pada tahap ini, komponen biaya
usahatani pada pelaku petani-penyuling akar wangi sama dengan komponen biaya usahatani pada pelaku petani akar wangi. Penghitungan besarnya biaya usahatani dihitung selama periode satu tahun per hektar.
Tabel 20 Struktur biaya usahatani akar wangi pada pelaku petani-penyuling di Kecamatan Samarang
Komponen Biaya Satuan Jumlah Harga Satuan
(Rp) Total (Rp) Persentase (%) A. Biaya Tunai Biaya Tetap 1 Pajak Rp/Ha 1.00 50 000 50 000 0.24
Sub Total Biaya Tunai Tetap 50 000 0.24
Biaya Variabel
2 Pupuk Kg 560.00 2 000 1 120 000 5.46
3 Tenaga Kerja Luar Keluarga HOK 77.38 48 000 3 714 000 18.09
4 Upah Panen dan Pengangkutan Borongan 120.00 50 000 6 000 000 29.23
Sub Total Biaya Tunai Variabel 10 834 000 52.78
Total Biaya Tunai 10 884 000.00 53.02
B. Biaya Diperhitungkan
Biaya Tetap
1 Sewa Lahan Rp/Ha 1.00 2 800 000 2 800 000 13.64
2 Penyusutan alat 225 000 1.09
Sub Total Biaya Diperhitungkan Tetap 3 025 000 14.63
Biaya Variabel
3 Bibit Akar Wangi Kg 2 800.00 2 000 5 600 000 27.28
4 Tenaga Kerja Dalam Keluarga HOK 21.25 48 000 1 020 000 4.97
5 Upah Panen dan Pengangkutan Borongan - - - -
Sub Total Biaya Diperhitungkan Variabel 6 620 000 32.35
Total Biaya Diperhitungkan 9 420 000 46.98
Total Biaya Usahatani 20 529 000 100.00
Sumber: Data primer diolah (2014)
Pada tabel 20 dapat dilihat rata-rata total biaya tunai sebesar Rp 10 884 000 per hektar per musim panen yaitu satu tahun. Biaya tunai terdiri dari biaya pajak lahan, penyusutan alat, pupuk, upah tenaga kerja luar keluarga, dan upah panen dengan sistem borongan. Sedangkan rata-rata total biaya diperhitungkan sebesar Rp 9 420 000 per hektar per tahun. Biaya diperhitungkan terdiri dari biaya sewa lahan, bibit akar wangi, upah tenaga kerja dalam keluarga, dan upah panen dengan sistem borongan.
Setelah menghitung besarnya biaya rata-rata yang dikeluarkan selama melakukan usahatani akar wangi, selanjutnya dilakukan perhitungan terhadap pendapatan yang diperoleh pada proses penyulingan. Perbedaan struktur biaya pada pelaku penyuling akar wangi dan pelaku usaha petani-penyuling akar wangi, yaitu terletak pada penggunaan bahan baku. Penggunaan bahan baku pada pelaku usaha petani-penyuling lebih sedikit dikarenakan sebagian bahan baku yang digunakan untuk menyuling menggunaakan akar wangi dari hasil panen lahan sendiri, sehingga mengurangi pengeluaran biaya untuk pembelian bahan baku akar wangi. Pada penelitian ini, perhitungan terhadap pendapatan yang diperoleh
penyuling dihitung selama periode satu tahun penyulingan. Pendapatan penyuling dihitung menggunakan cash flow sesuai dengan umur ekonomis peralatan penyulingan yaitu selama 10 tahun. Komponen biaya penyulingan akar wangi menggunakan cash flow terdiri dari inflow dan outflow. Komponen inflow terdiri dari penerimaan hasil penjualan minyak akar wangi dengan mutu standar sebesar Rp 672 000 000.00 per tahun dan nilai sisa sebesar Rp 3 333 333.33 yang dimasukkan pada akhir tahun periode usaha. Sehingga pada tahun ke-10 usaha penerimaan lebih besar daripada tahun sebelumnya menjadi Rp 675 333 333.33.
Komponen outflow merupakan aliran keluar yang terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Komponen yang termasuk dalam biaya investasi yaitu biaya peralatan penyulingan dan bangunan yang terdiri dari ketel penyulingan, cooler, compressor, bangunan dan bak pendingin. Komponen biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel tunai. Biaya tetap tunai terdiri dari pajak lahan yang dikenakan sebesar Rp 50 000 per tahun. Biaya variabel tunai terdiri dari biaya bahan baku akar wangi, biaya listrik, biaya bahan bakar, biaya pengepakan, biaya transportasi dan upah tenaga kerja luar keluarga. Biaya rata- rata yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku akar wangi merupakan biaya terbesar yang dikeluarkan penyuling untuk satu tahun penyulingan. Dalam penyulingan, TKLK terdiri atas tenaga kerja penyulingan dan pengangkut bahan baku yang keduanya dilakukan secara borongan. Berikut ini tabel biaya operasional usaha penyulingan akar wangi.
Tabel 21 Biaya operasional usaha penyulingan akar wangi pada pelaku usaha petani-penyuling akar wangi di Kecamatan Samarang
Biaya Operasional Satuan Jumlah Harga Satuan (Rp) Biaya (Rp) Persentase (%) Biaya Tetap Tunai
1 Pajak lahan Rp/Ha 1.00 50 000 50 000 0.01
Biaya Variabel Tunai
2 Biaya usahatani Rp/Ha 10 884 000 1.76
3 Bahan baku akar wangi Kg 348 000 1000 348 000 000 56.14
4 Listrik Minggu 32.00 100 000 3 200 000 0.52
5 Bahan bakar Drum 240.00 750 000 180 000 000 29.04
6 Transportasi Bulan 8.00 300 000 2 400 000 0.39
7 Tenaga Kerja Luar Keluarga
a Pengangkut Borongan 360 .00 100 000 36 000 000 5.81
b Penyuling Borongan 240.00 160 000 38 400 000 6.19
8 Biaya pemeliharaan Frekuensi 2 500 000 1 000 000 0.16
Total biaya tunai Tahun 619 934 000 100.00
Setelah diperoleh perhitungan pada arus penerimaan dan pengeluaran, selanjutnya dilakukan analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria investasi yaitu Net Present Value, Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Analisis kelayakan finansial dihitung berdasarkan nilai manfaat bersih atau net benefit yang didiskonto dengan tingkat discount factor (DF) sebesar 11.75%. Kemudian dilakukan perhitungan present value dari perkalian net benefit dan discount factor. Hasil penilaian berdasarkan kriteria investasi dapat dilihat pada Tabel 22.
Tabel 22 Hasil analisis kelayakan usaha penyulingan pada pelaku usaha petani- penyuling akar wangi di Kecamatan Samarang
Kriteria Investasi Nilai
Net Present Value (Rp) 39 422 117.22
Internal Rate of Return (%) 16
Net Benefit/Cost 1.17
Payback Period (tahun) 7.75
Sumber: Data primer diolah (2014)
Berdasarkan hasil perhitungan usaha penyulingan ini layak untuk dijalankan karena menghasilkan nilai NPV yang positif atau lebih dari nol. Nilai NPV yang didapat merupakan pendapatan bersih yang diperoleh penyuling selama 10 tahun. Sehingga untuk mengetahui pendapatan penyuling selama 1 tahun, nilai NPV dibagi dengan umur ekonomis usaha menjadi Rp 3 942 211.72 per tahun. Berdasarkan Internal Rate of Return (IRR), usaha penyulingan akar wangi pada pelaku ini juga layak untuk dijalankan karena hasil yang diperoleh lebih besar dari tingkat suku bunga yang dijadikan acuan tingkat discount factor (11.75%) yaitu sebesar 16% yang berarti bahwa keuntungan yang diperoleh dari kegiatan investasi tersebut 16% per tahun. Nilai Net B/C yang diperoleh lebih besar dari 1 yang berarti bahwa penggunaan investasi layak. Nilai Net B/C sebesar 1.17 artinya penggunaan setiap Rp 1 untuk membiayai usaha tersebut akan menghasilkan Rp 1.17 selama umur usaha. Nilai yang dihasilkan Payback Period adalah 7.75 tahun yang artinya bahwa jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan sejumlah nilai investasi yang telah dikeluarkan adalah selama 7 tahun 9 bulan. Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi tersebut lebih pendek daripada jangka waktu umur usaha sehingga layak untuk dijalankan.
6.2.4 Struktur Biaya, Peneriman dan Pendapatan Petani-Penyuling- Pengumpul Minyak Akar Wangi
Pada petani-penyuling-pengumpul, selain melakukan sendiri proses akar wangi menjadi minyak akar wangi, juga membeli minyak akar wangi dari penyuling lain untuk dijual kembali atau disebut pengumpul. Di Kecamatan Samarang, hanya terdapat satu orang yang berperan sebagai pelaku usaha petani- penyuling-pengumpul. Pelaku usaha ini memiliki lahan akar wangi sebesar 30 ha yang tersebar di Kabupaten Garut. Tingginya permintaan minyak akar wangi yang tidak dapat dipenuhi dengan sendiri, menyebabkan penyuling untuk membeli minyak akar wangi dari penyuling lain yang nantinya akan dijual kembali. Kondisi seperti itu disebut sebagai pengumpul. Pada penelitian ini, perhitungan pendapatan petani-penyuling-pengumpul akar wangi juga dihitung dalam dua tahap, yaitu pertama menghitung biaya usahatani akar wangi dimana perhitungannya sama dengan perhitungan usahatani pada pelaku sebelumnya. Penghitungan besarnya biaya usahatani dihitung selama periode satu tahun per hektar. Tabel 23 berikut ini memaparkan struktur biaya usahatani akar wangi pada pelaku usaha petani-penyuling-pengumpul di Kecamatan Samarang.
Tabel 23 Struktur biaya usahatani akar wangi pada pelaku usaha petani- penyuling-pengumpul di Kecamatan Samarang
Komponen Biaya Satuan Jumlah Harga
(Rp) Total (Rp) Persentase (%) A. Biaya Tunai Biaya Tetap 1 Pajak Hektar 30.00 50 000 1 500 000 0.30
Sub Total Biaya Tunai Tetap 1 500 000 0.30
Biaya Variabel
2 Pupuk Kg 15 000.00 2 000 31 000 000 5.98
3 Tenaga Kerja Luar Keluarga HOK 2887.50 48 000 138 600 000 27.63
4 Upah Panen dan Pengangkutan Borongan 3 150.00 50 000 157 500 000 31.40
Sub Total Biaya Tunai Variabel 317 100 000 65.01
Total Biaya Tunai 318 600 000 65.30
B. Biaya Diperhitungkan
Biaya Tetap
1 Sewa Lahan Hektar 30.00 2 800 000 84 000 000 16.75
Sub Total Biaya Diperhitungkan Tetap 84 000 000 16.75
Biaya Variabel
2 Bibit Akar Wangi Kg 60 000.00 1 500 90 000 000 17.94
3 Tenaga Kerja Dalam Keluarga HOK - - - -
4 Upah Panen dan Pengangkutan Borongan - - - -
Sub Total Biaya Diperhitungkan Variabel 90 000 000 17.95
Total Biaya Diperhitungkan 174 000 000 34.70
Total Biaya Usahatani 401 600 000 100.00
Sumber: Data primer diolah (2014)
Tabel di atas menunjukkan total biaya tunai dan biaya diperhitungkan usahatani pada pelaku petani-peyuling-pengumpul per musim panen yaitu satu tahun dengan luas lahan sebesar 30 ha. Biaya tunai terdiri dari biaya pajak lahan,
penyusutan alat, pupuk, upah tenaga kerja luar keluarga, dan upah panen dengan sistem borongan. Sedangkan biaya diperhitungkan terdiri dari biaya sewa lahan, bibit akar wangi, upah tenaga kerja dalam keluarga, dan upah panen dengan sistem borongan.
Setelah menghitung besarnya biaya rata-rata yang dikeluarkan selama melakukan usahatani akar wangi, tahap selanjutnya dilakukan perhitungan terhadap pendapatan yang diperoleh pada proses penyulingan. Selain biaya penggunaan bahan baku yang lebih rendah, perbedaan struktur biaya pada pelaku usaha petani-penyuling-pengumpul akar wangi dengan pelaku usaha sebelumnya, yaitu terletak pada biaya untuk mengumpul minyak akar wangi yang dibeli dari penyuling lain. Selama satu bulan, penyuling dapat mengumpul minyak akar wangi dari penyuling lain sebesar 50 kg, sehingga selama satu tahun periode penyulingan, penyuling dapat mengumpul minyak akar wangi sebanyak 400 kg. Sama seperti perhitungan pada pelaku usaha sebelumnya, pendapatan penyuling pada pelaku usaha ini dihitung menggunakan cash flow sesuai dengan umur ekonomis peralatan penyulingan yaitu selama 10 tahun. Komponen biaya penyulingan akar wangi menggunakan cash flow terdiri dari inflow dan outflow. Komponen inflow terdiri dari penerimaan hasil penjualan minyak akar wangi dengan mutu standar sebesar Rp 768 000 000 per tahun, hasil penjualan minyak akar wangi yang dikumpul sebesar Rp 320 000 000 per tahun dan nilai sisa sebesar Rp 3 333 333.33 yang dimasukkan pada akhir tahun periode usaha. Sehingga pada tahun ke-10 usaha penerimaan lebih besar daripada tahun sebelumnya menjadi Rp 1 091 333 333.33.
Komponen outflow terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Komponen yang termasuk dalam biaya investasi yaitu biaya peralatan penyulingan dan bangunan yang terdiri dari ketel penyulingan, cooler, compressor, bangunan dan bak pendingin. Komponen biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel tunai seperti pada Tabel 24 berikut.
Tabel 24 Biaya operasional usaha penyulingan akar wangi pada pelaku usaha petani-penyuling-pengumpul akar wangi
Biaya Operasional Satuan Jumlah Harga Satuan
(Rp)
Total (Rp)
Persentase (%) Biaya Tetap Tunai
1 Pajak lahan Hektar 1.00 50 000 50 000 0.01
Biaya Variabel Tunai
2 Biaya usahatani Hektar 30.00 10 920 000 327 600 000 32.12
3 Beli minyak akar wangi Kg 400.00 775 000 310 000 000 30.39
4 Bahan baku akar wangi Kg 45 000 1000 45 000 000 4.41
5 Listrik Minggu 240 20 000 480 000 0.47
6 Bahan bakar Drum 240 850 000 204 000 000 20.00
7 Pengepakan Jerigen 32 30 000 960 000 0.09
8 Transportasi Bulan 8 4 000 000 32 000 000 3.14
9 Tenaga Kerja Luar Keluarga
a Pengangkut Borongan 360 100 000 36 000 000 3.53
b Penyuling Borongan 240 240 000 57 600 000 5.65
10 Biaya pemeliharaan Frekuensi 4 500 000 2 000 000 0.20
Total biaya tunai Tahun 1 019 960 000 100.00
Sumber: Data primer diolah (2014)
Biaya tetap tunai terdiri dari pajak lahan yang dikenakan sebesar Rp 50 000 per tahun. Biaya variabel tunai terdiri dari biaya usahatani, biaya untuk membeli minyak akar wangi dari penyuling lain, biaya bahan baku akar wangi, biaya listrik, biaya bahan bakar, biaya pengepakan, biaya transportasi, biaya pemeliharaan mesin dan upah tenaga kerja luar keluarga. Biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku akar wangi merupakan biaya terbesar yang dikeluarkan penyuling untuk satu tahun penyulingan. Dalam penyulingan, TKLK terdiri atas tenaga kerja penyulingan dan pengangkut bahan baku yang keduanya dilakukan secara borongan. Berikut ini tabel biaya operasional usaha penyulingan akar wangi.
Setelah diperoleh perhitungan pada arus penerimaan dan pengeluaran, selanjutnya dilakukan analisis kelayakan finansial berdasarkan kriteria investasi yaitu Net Present Value, Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Analisis kelayakan finansial dihitung berdasarkan nilai manfaat bersih atau net benefit yang didiskonto dengan tingkat discount factor (DF) sebesar 11.75%. Kemudian dilakukan perhitungan present value dari perkalian net benefit dan discount factor. Hasil penilaian berdasarkan kriteria investasi dapat dilihat pada Tabel 25.
Tabel 25 Hasil analisis kelayakan usaha penyulingan pada pelaku usaha petani- penyuling-pengumpul akar wangi
Kriteria Investasi Nilai
Net Present Value (Rp) 134 650 684.86
Internal Rate of Return (%) 25
Net Benefit/Cost 1.59
Payback Period (tahun) 4.75
Sumber: Data primer diolah (2014)
Berdasarkan hasil perhitungan kriteria investasi di atas, usaha penyulingan ini layak untuk dijalankan karena menghasilkan nilai NPV yang positif atau lebih dari nol. Nilai NPV yang didapat merupakan pendapatan bersih yang diperoleh penyuling selama 10 tahun. Sehingga untuk mengetahui pendapatan penyuling selama 1 tahun, nilai NPV dibagi dengan umur ekonomis usaha menjadi Rp 13 465 068.49 per tahun. Berdasarkan Internal Rate of Return (IRR), usaha penyulingan akar wangi juga layak untuk dijalankan karena hasil yang diperoleh lebih besar dari tingkat suku bunga yang dijadikan acuan tingkat discount factor (11,75%) yang berarti bahwa keuntungan yang diperoleh dari kegiatan investasi tersebut 25% per tahun. Nilai Net B/C yang diperoleh lebih besar dari 1 yang berarti bahwa penggunaan investasi layak. Nilai Net B/C sebesar 1.59 artinya penggunaan setiap Rp 1 untuk membiayai usaha tersebut akan menghasilkan Rp 1.59 selama umur usaha. Nilai yang dihasilkan Payback Period adalah 4.75 tahun yang artinya bahwa jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan sejumlah nilai investasi yang telah dikeluarkan adalah selama 4 tahun 9 bulan. Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan nilai investasi tersebut lebih pendek daripada jangka waktu umur usaha sehingga layak untuk dijalankan. 6.2.5 Struktur Biaya, Peneriman dan Pendapatan Petani-Penyuling-
Pengumpul-Pengekspor Akar Wangi
Pelaku usaha akar wangi selanjutnya yaitu petani-penyuling-pengumpul pengekspor. Pada pelaku ini aktivitas yang dilakukan yaitu mulai dari usahatani akar wangi, memproses hasil panen sendiri menjadi akar wangi, mengumpul minyak akar wangi dari penyuling lain untuk dijual kembali, dan melakukan ekspor minyak akar wangi ke beberapa Negara yaitu Prancis, Swiss, Jerman, India, Australia dan Kanada. Pelaku usaha ini termasuk pelaku usaha skala Internasional dan hanya ada satu orang pelaku di Kecamatan Samarang. Sebesar 80% hasil penyulingan diekspor ke Negara luar dengan kisaran harga US$ 120
untuk kualitas minyak premium, sedangkan hanya 20% dari hasilnya untuk memenuhi permintaan di Garut dan Jakarta dengan kualitas regular atau standar.
Perhitungan biaya dan penerimaan pada pelaku usaha ini hampir sama dengan perhitungan biaya dan penerimaan pada pelaku usaha lain. Hanya saja yang membedakan yaitu biaya ekspor yang dikeluarkan selama setahun. Berikut ini tabel yang memaparkan struktur biaya usahatani akar wangi pada pelaku usaha petani-penyuling-pengumpul-pengekspor di kecamatan Samarang.
Tabel 26 Struktur biaya usahatani akar wangi pada pelaku usaha petani- penyuling-pengumpul-pengekspor di Kecamatan Samarang
Komponen Biaya Satuan Jumlah Harga
(Rp) Total (Rp) Persentase (%) A. Biaya Tunai Biaya Tetap 1 Pajak Hektar 20 50 000 1 000 000 0.15
Sub Total Biaya Tunai Tetap 1 000 000 0.15
Biaya Variabel
2 Pupuk Kg 20 000 1 500 30 000 000 4.42
3 Tenaga Kerja Luar Keluarga HOK 6075 48 000 291 600 000 42.97
4 Upah Panen Borongan 2 400 50 000 120 000 000 17.68
Sub Total Biaya Tunai Variabel 441 600 000 65.07
Total Biaya Tunai 442 600 000 65.22
B. Biaya Diperhitungkan
Biaya Tetap
1 Sewa Lahan Hektar 20 2 800 000 56 000 000 8.25
Sub Total Biaya Diperhitungkan Tetap 56 000 000 8.25
Biaya Variabel
2 Bibit Akar Wangi Kg 30 000 6 000 180 000 000 26.53
3 Tenaga Kerja Dalam Keluarga HOK - - - -
4 Upah Panen Borongan - - - -
Sub Total Biaya Diperhitungkan Variabel 180 000 000 26.53
Total Biaya Diperhitungkan 236 000 000 34.78
Total Biaya Usahatani 678 600 000 100.00
Sumber: Data primer diolah (2014)
Pada Tabel 26 menunjukkan total biaya tunai dan biaya diperhitungkan usahatani pada pelaku petani-peyuling-pengumpul-pengekspor masing-masing sebesar Rp 442 600 000 dan Rp 236 000 000 per satu tahun usahatani. Biaya tunai terdiri dari pajak lahan, biaya penyusutan peralatan, pupuk dan tenaga kerja luar keluarga. Sedangkan biaya diperhitungkan terdiri dari bibit dan tenaga kerja dalam keluarga. Bahan baku akar wangi yang dimasukkan ke dalam biaya diperhitungkan merupakan akar wangi hasil dari panen sendiri.
Setelah menghitung besarnya biaya rata-rata yang dikeluarkan selama melakukan usahatani akar wangi, selanjutnya dilakukan perhitungan terhadap pendapatan yang diperoleh pelaku usaha dalam proses penyulingan. Pendapatan penyuling dihitung menggunakan cash flow selama 10 tahun sesuai dengan umur ekonomis peralatan penyulingan. Komponen biaya penyulingan akar wangi menggunakan cashflow terdiri dari inflow dan outflow. Dalam perhitungan pada
pelaku usaha ini, komponen inflow terdiri dari penerimaan penjualan minyak akar wangi ekspor yaitu sebesar Rp 3 575 275 200 per tahun, penerimaan penjualan minyak akar wangi dalam negeri sebesar Rp 912 000 000 per tahun, penerimaan dari penjualan minyak akar wangi yang dikumpul sebesar Rp 640 000 000 dan nilai sisa sebesar Rp 3 333 333.33.
Sedangkan komponen outflow merupakan aliran keluar yang terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Komponen yang termasuk dalam biaya investasi yaitu biaya peralatan penyulingan dan bangunan yang terdiri dari ketel penyulingan, cooler, compressor, bangunan dan bak pendingin. Berikut tabel nilai investasi yang dimiliki oleh pelaku usaha petani-penyuling-pengumpul- pengekspor.
Tabel 27 Nilai investasi pada usaha penyulingan pelaku usaha petani-penyuling- pengumpul-pengekspor akar wangi
Jenis Investasi Umur Ekonomis (tahun) Jumlah (tahun) Nilai Investasi (Rp) Ketel penyulingan 10 2 300 000 000 Cooler 3 2 20 000 000 Compressor 5 2 40 000 000
Bangunan dan bak pendingin
10 2 100 000 000 Sumber: Data primer diolah (2014)
Komponen biaya operasional terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel
tunai. Biaya tetap tunai terdiri dari pajak lahan yang dikenakan sebesar Rp 100 000 per tahun. Biaya variabel tunai pada pelaku usaha ini sedikit berbeda
dengan pelaku usaha sebelumnya. Terdapat beberapa biaya tambahan yang dikeluarkan untuk melakukan kegiatan ekspor yaitu biaya fumigasi, biaya palet, biaya packing, biaya sertifikat, pajak dan biaya ekspor itu sendiri. Biaya fumigasi merupakan biaya untuk sterilisasi botol yang dikenakan tarif per pengiriman. Biaya palet merupakan biaya untuk cover packing yang biasanya terbuat dari kayu atau plastik yang dikenakan tarif per pengiriman. Biaya packing merupakan biaya yang dikeluarkan untuk wadah untuk menampung minyak akar wangi. Wadah untuk minyak akar wangi yang diekspor berbeda dengan minyak akar wangi yang hanya dikirim ke Jakarta atau Garut. Biasanya untuk minyak yang diekspor penyuling menggunakan drum yang bahannya lebih kuat sehingga tidak hancur dan menyebabkan mutu minyak berubah. Biaya sertifikat merupakan biaya yang dikeluarkan untuk membuat sertifikat yang menyatakan tingkat mutu minyak yang
sudah sesuai dengan standar ekspor. Sertifikat ini merupakan syarat minyak akar