• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

10. Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

d. Pajak Air Permukaan dan Air Bawah Tanah

2) Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas:

a. Pajak Hotel

b. Pajak Restoran

c. Pajak Hiburan

d. Pajak Reklame

e. Pajak Penerangan Jalan

f. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C

g. Pajak Parkir

10.Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah

a. Pengertian Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah

Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah yaitu pajak atas pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah untuk digunakan bagi orang pribadi atau badan, kecuali untuk keperluan dasar rumah tangga dan pertanian rakyat. Sedangkan yang dimaksud air bawah tanah yaitu air yang berada di perut bumi, termasuk mata air yang mucul secara alamiah di atas permukaan tanah.

b. Objek Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah

1) Pengambilan air bawah tanah.

2) Pemanfaatan air bawah tanah.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32

 

Yang dikecualikan dari objek Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah

1) Pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah oleh Pemerintah pusat

dan Pemerintah daerah.

2) Pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah oleh pemerintah untuk

kepentingan pengairan pertanian rakyat.

3) Pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah untuk keperluan dasar

rumah tangga.

4) Pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah untuk keperluan

peribadatan.

5) Pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah oleh Badan Usaha

Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang khusus didirikan untuk usaha eksploitasi dan pemeliharaan pengairan.

c. Subjek Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah

1) Subjek Pajak adalah orang pribadi atau badan yang mengambil serta

memanfaatkan air bawah tanah.

2) Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang mengambil serta

memanfaatkan air bawah tanah.

3) Yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak untuk orang pribadi

adalah orang yang bersangkutan, kuasanya, atau ahli warisnya. Untuk badan adalah pengurus atau kuasanya.

d. Dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Perhitungan Pajak Pemanfaatan Air

Bawah Tanah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

2) Nilai Perolehan Air Tanah dinyatakan dalam rupiah yang dihitung

dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor berikut :

a)Jenis sumber air

b)Lokasi sumber air

c)Tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air

d)Volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan

e)Kualitas air

f)Tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan

dan/atau pemanfaatan air

3) Penggunaan faktor-faktor diatas disesuaikan dengan kondisi di

Daerah.

4) Tarif Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah ditetapkan sebesar 20%

(dua puluh persen).

B. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi besaran tarif pajak di PDAM Kota

Surakarta.

PDAM Kota Surakarta sebagai salah satu subjek pajak pemanfaatan air bawah tanah berperan serta dalam memberikan kontribusi terhadap pemasukan kas daerah. Dalam hal ini atas pembayaran pajak pemanfaatan air bawah tanah. Pembayaran pajak ini tentunya tiap bulannya akan berbeda-beda besarannya, yang dipengaruhi oleh beberapa

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34

 

faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi besaran tarif pajak pemanfataan air bawah tanah yaitu :

a. Jumlah debit volume air yang diambil atau diproduksi oleh PDAM.

Jumlah debit volume air yang diambil yaitu berapa banyak jumlah debit air bawah tanah yang diambil atau diproduksi oleh PDAM yang bersumber dari sumur dalam serta mata air. Pengambilan air bawah tanah dilakukan melalui beberapa sumber sumur dalam dan mata air. Di PDAM Kota Surakarta sendiri terdapat 24 sumur dalam yang tersebar di wilayah Kota Surakarta dan 2 sumur dalam yang berada di Kabupaten Karanganyar, serta 1 sumber mata air Cokrotulung yang terdapat di Kabupaten Klaten. Besaran debit volume air yang diambil oleh PDAM Kota Surakarta sangat tergantung dari berapa kapasitas debit air yang ada dan mampu diambil oleh masing-masing sumur dalam. Hal ini dikarenakan di setiap sumur dalam mempunyai jam kerja produksi sendiri-sendiri dan setiap sumur dalam juga mempunyai debit volume air yang berbeda-beda pula. Sedangkan pengambilan air yang bersumber pada Mata Air Cokrotulung relatif sama besaran debit air nya yaitu 387 lt/dtk.

b. Jumlah debit volume air yang terdistribusi.

Jumlah debit volume air yang terdistribusi yaitu berapa banyak volume air yang didistribusikan kepada pelanggan. Jumlah besaran volume air yang didistribusikan ini berasal dari hasil penghitungan seluruh jumlah volume air yang diproduksi dari semua sumur dalam serta ditambah dari mata air cokrotulung.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

c. Jumlah debit volume air yang terjual ke pelanggan.

Jumlah debit volume air yang terjual ke pelanggan yaitu berapa banyak volume air yang mampu terjual kepada pelanggan. Dalam hal ini penghitungan air yang terjual berdasarkan pembacaan dari meter air pelanggan-pelanggan PDAM.

d. Harga atau tarif dasar air.

Harga atau tarif dasar air yaitu penentuan harga dasar air yang ditetapkan oleh DPPKAD. Harga dasar air yang berlaku saat ini yaitu Rp.125,00 per m³. Bila harga dasar air ini berubah, maka dapat dipastikan besaran pajaknya juga akan berubah.

Faktor-faktor diatas saling berkaitan antara satu dengan yang

lainnya. Dari keempat faktor tersebut dapat ditarik suatu rumus untuk menghitung besaran tarif pajak air bawah tanah yang wajib dibayarkan oleh PDAM Kota Surakarta. Untuk lebih jelasnya mengenai tarif serta rumus menghitung Besaran Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah, pada halaman berikut disajikan tabel Data Air Bawah Tanah pada bulan Januari 2011 di PDAM Kota Surakarta, serta cara penghitungan tarif pajaknya.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36

 

Tabel II.1 Data Air Bawah Tanah

PDAM Kota Surakarta bulan Januari 2011

Sumber Air Bawah Tanah Volume Air 

Mata Air Cokrotulung (Klaten)      1.036.540,80 m³ Sumur Dalam (Surakarta)      722.723,46 m³ Sumur Dalam (Karanganyar)      48.873,93 m³ Air yang Terdistribusi      1.808.138,19 m³ Air yang Terjual      1.183.011,00 m³

Sumber : PDAM Kota Surakarta

Penghitungan Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah :

1) Mata Air Cokrotulung = Air yang diambil

Air yang terdistribusi Air yang terjual = 1.036.540,80 m³

1.808.138,19 m³ 1.183.011,00 m³ = 678.177,79 m³

Nilai Perolehan Air = 678.178 m³ X Harga Dasar Air = 678.178 m³ X Rp.125

= Rp.84.772.250

Besaran Pajak Air Tanah yang Harus Dibayarkan = Rp.84.772.250 X 20% = Rp.16.954.450

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

2) Sumur Dalam (Surakarta) = Air yang diambil

Air yang terdistribusi Air yang terjual

= 772.723,46 m³

1.808.138,19 m³ 1.183.011,00 m³ = 472.856,45 m³

Nilai Perolehan Air = 472.856 m³ X Harga Dasar Air = 472.856 m³ X Rp.125

= Rp.59.107.000

Besaran Pajak Air Tanah yang Harus Dibayarkan = Rp.59.107.000 X 20% = Rp.11.821.400

3) Sumur Dalam (Karanganyar) = Air yang diambil

Air yang terdistribusi Air yang terjual = 48.873,93 m³

1.808.138,19 m³ 1.183.011,00 m³

= 31.976,76 m³

Nilai Perolehan Air = 31.977 m³ X Harga Dasar Air = 31.977 m³ X Rp.125

= Rp.3.997.125

Besaran Pajak Air Tanah yang Harus Dibayarkan = Rp.3.997.125 X 20% = Rp.799.425

Dari ketiga penghitungan tarif pajak pemanfaatan air bawah tanah

diatas, dapat diketahui berapa besaran pajak air bawah tanah yang harus dibayarkan oleh PDAM Kota Surakarta di masing-masing sumur dalam serta mata air pada bulan Januari 2011. Pembayaran pajak pemanfaatan air bawah tanah ini dilakukan sesuai tempat atau lokasi masing-masing sumur dalam dan mata air berada. Disini pengelolaan Pajak nya sesuai dengan otonomi daerah masing-masing, seperti pembayaran Pajak air bawah tanah

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

38

 

dari mata air cokrotulung, pengelolaannya ditangani oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Klaten. Begitu juga dengan sumur dalam diwilayah Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar, pengelolaannyapun ditangani oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kota Surakarta dan Kabupaten Karanganyar.

Besaran tarif pajak pemanfaatan air bawah tanah tentu akan selalu

berbeda-beda tiap bulannya. Tergantung dari jumlah volume air yang diambil, jumlah volume air yang terdistribusi, jumlah volume air yang terjual serta harga dasar air. Di PDAM Kota Surakarta sendiri besaran tarif pajak yang harus dibayarkan tiap bulannya mengalami naik turun. Untuk lebih jelasnya, pada halaman berikut disajikan tabel Besaran Pajak Terhutang Air Tanah di PDAM Kota Surakarta dalam bulan Januari, Februari, Maret dan April 2011.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

Tabel II.2

Besaran Pajak Terhutang Air Tanah PDAM Kota Surakarta Tahun 2011 (dalam rupiah)

Bulan Mata Air Sumur Dalam Sumur Dalam Total Pajak Cokrotulung Surakarta Karanganyar Terhutang

Januari 16.954.450 11.821.400 799.425 29.575.275 Februari 16.507.375 11.008.775 657.100 28.173.250 Maret 15.330.925 10.109.050 642.550 26.082.525 April 16.543.425 11.950.950 954.375 29.448.750

Sumber : PDAM Kota Surakarta

Berdasar tabel diatas dapat dilihat bahwa besaran tarif pajak

pemanfaatan air bawah di PDAM Kota Surakarta mengalami naik turun. Hal ini tak luput dari keempat faktor yang telah disebutkan diatas. Bila volume air yang diproduksi, terdistribusi serta yang terjual mengalami peningkatan, maka otomatis akan meningkat pula besaran pajak yang harus dibayarkan oleh PDAM. Sebaliknya bila volume air yang diproduksi, terdistribusi, serta terjual mengalami penurunan, maka akan menurun pula besaran pajaknya.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

40

 

2. Hambatan yang dihadapi oleh PDAM Kota Surakarta didalam

mengoptimalkan penjualan air bersih dalam kaitannya peningkatan pajak pemanfaatan air bawah tanah.

Air yang bersih dan layak konsumsi tentunya menjadi kebutuhan

masyarakat luas dewasa ini. Kebutuhan akan air bersih menjadi hal yang penting bagi masyarakat perkotaan, terutama di Kota Surakarta ini. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan air bersih, PDAM selalu berusaha meningkatkan pelayanan kepada masyarakat agar pendistribusian air bersih dapat menjangkau ke semua daerah. Dengan selalu berusaha memenuhi kebutuhan air bersih pada masyarakat, akan berbanding lurus dengan peningkatan penjualan air di PDAM. Maka dengan meningkatnya penjualan air bersih, akan meningkat pula besaran tarif pajak pemanfaatan air bawah tanah. Hal ini tentunya akan berdampak positif bagi pemasukan kas daerah. Namun, dalam proses produksi maupun pendistribusiannya, tidak semua air yang diproduksi tersebut dapat terjual ke pelanggan. Ada beberapa hambatan yang sering dihadapi oleh PDAM Kota Surakarta.

Adapun hambatan yang sering dihadapi dalam peningkatan penjualan air ke pelanggan PDAM :

a. Kurangnya ketersediaan bahan baku air karena menurunnya debit

volume air pada sumur dalam.

Pada sumur dalam, volume debit air akan berubah-ubah, tergantung dari faktor daerah atau geografis letak sumur dalam tersebut. Ada sumur dalam yang dalam beberapa waktu pengambilan air secara terus menerus akan mengalami penurunan volume debit air.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

Hal ini tentunya menghambat serta mengurangi proses produksi air bawah tanah. Berbeda dengan pengambilan air melalui mata air yang selalu relatif sama debit air nya. Karena pada mata air, air senantiasa muncul dan dapat dengan mudah diambil untuk produksi.

b. Kebocoran pipa pendistribusian air.

Pipa pendistribusian air merupakan alat untuk mendistribusikan air kepada pelanggan-pelanggan PDAM. Namun, selalu ditemukan kasus hilangnya volume air yang diproduksi karena adanya kebocoran pipa saluran pendistribusian air. Kebocoran ini akan berdampak buruk terhadap proses pendistribusian karena tidak semua air akan sampai ke pelanggan karena volumenya menurun. Selain disebabkan oleh kebocoran pipa pendistribusian, hilangnya air juga dipengaruhi oleh kesalahan alat pembacaan meter air.

Untuk mengetahui volume air yang bocor dapat diketahui dari penghitungan jumlah volume air yang terdistribusi seluruhnya di PDAM, baik yang bersumber dari air bawah tanah dan yang bersumber dari air permukaan, dikurangi dengan jumlah volume air yang terjual serta air yang digunakan untuk keperluan lain-lain(seperti air yang digunakan untuk proses produksi).

Air menurut angka kebocoran = Jumlah volume air yang terdistribusi(air bawah tanah + air permukaan) – (Jumlah volume air terjual + air digunakan untuk lain-lain). Berikut contoh perhitungan kebocoran air di PDAM Kota Surakarta pada bulan Januari 2011 :

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

42

 

Air terdistribusi dari air bawah tanah : 1.808.138,19 m3

Air terdistribusi dari air permukaan : 186.560,61 m3

Jumlah seluruh air terdistribusi : 1.994.698,80 m3

Air yang terjual : 1.183.011,00 m3

Air digunakan untuk lain-lain : 9.006,52 m3

Angka kebocoran air = Jumlah seluruh air terdistribusi – (air terjual + air digunakan untuk lain-lain)

= 1.994.698,80 m3 – (1.183.011,00 m3 + 9.006,52 m3)

= 1.994.698,80 m3 – 1.192.017,52 m3

= 802.681,28 m3

Dari penghitungan diatas dapat disimpulkan bahwa kebocoran air sangat berkaitan dan berbanding terbalik terhadap volume penjualan air. Semakin tinggi volume air yang terjual, maka akan semakin kecil tingkat kebocorannya. Sementara penggunaan air untuk lain-lain relatif hampir sama tiap bulannya. Untuk lebih mengetahui berapa angka kebocoran air di PDAM tiap bulannya, berikut tabel Kebocoran Air di PDAM Kota Surakarta pada bulan Januari, Februari, Maret dan April 2011.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

Tabel II.3

Angka Kebocoran Air PDAM Kota Surakarta

Sumber : PDAM Kota Surakarta

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kebocoran air di PDAM selalu berbeda-beda tiap bulannya. Hal ini menunjukkan pula bahwa volume air yang terjual tiap bulannya juga mengalami naik turun Kebocoran ini dalam bahasan penulis bisa sebagai perbandingan dalam pembayaran pajak air bawah tanah yang dibayarkan oleh PDAM selama ini. Kebocoran ini sebenarnya secara tidak langsung berpengaruh terhadap perhitungan pajak air bawah tanah karena air yang hilang tersebut dapat dihitung berapa besaran nilai pajaknya, yang nantinya bisa sebagai pengurang besaran pajak yang semestinya dibayarkan oleh PDAM. Untuk lebih jelasnya berikut penghitungan nilai pajak air yang bocor pada bulan Januari 2011 :

Penghitungan Bulan Januari = Air yang bocor

Air yang terdistribusi Air yang terjual = 802.681,28 m³

1.808.138,19 m³ 1.183.011,00 m³

Bulan Volume Air yang Hilang

Januari 2011 802.681,28 m3 Februari 2011 775.688,17 m3 Maret 2011 723.778,28 m3 April 2011 790.541,79 m3

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

44

 

Nilai Perolehan Air = 525.170 m³ X Harga Dasar Air = 525.170 m³ X Rp.125

= Rp.65.646.250

Besaran Nilai Pajak Air yang Bocor = Rp.65.646.250 X 20% = Rp.13.129.250

Hasil dari penghitungan diatas dapat dijadikan pembanding dari besaran tarif pajak air bawah tanah yang dibayarkan PDAM selama ini, dengan cara dikurangkan dengan besaran nilai pajak air yang bocor. Pajak yang semestinya dibayarkan PDAM bulan A = Total pajak terhutang air bawah tanah bulan A – Nilai pajak air yang bocor pada bulan A. Sehingga pajak yang semestinya dibayarkan pada bulan Januari yaitu = Rp.29.575.275 – Rp.13.129.250

= Rp. 16.446.025

Dari pembahasan yang dilakukan penulis diatas dapat disimpulkan bahwa air yang bocor bisa menjadi pengurang pajak karena pada dasarnya air yang bocor atau hilang tersebut merupakan kerugian yang dialami oleh PDAM, yang mana dengan kerugian tersebut seharusnya bisa menjadi pengurang dari besaran pajak terhutang yang selama ini dibayarkan oleh PDAM.

c. Pembacaan meter air mengalami kerusakan.

Meter air yang berada di rumah-rumah pelanggan sangat berguna sebagai acuan untuk mengetahui berapa volume air yang dipakai, serta berapa tarif yang harus dibayarkan pelanggan sebagai konsumen air bersih PDAM. Namun, terkadang dijumpai pula meter air yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya ataupun mengalami kerusakan. Baik

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

kerusakan yang sengaja disebabkan oleh kecurangan pelanggan, maupun kerusakan yang alamiah karena kurang berfungsinya pembacaan meter air. Ini sangat berpengaruh terhadap pemasukan yang diterima oleh PDAM.

Hambatan-hambatan yang telah disebutkan diatas, kesemuanya akan sangat berpengaruh terhadap jumlah volume air yang diambil, terdistribusi maupun volume air yang terjual, dimana nantinya akan mempengaruhi pula terhadap besaran pajak air tanahnya.

3. Solusi yang diupayakan PDAM Kota Surakarta dalam mengatasi

hambatan-hambatan pengoptimalan penjualan air bersih.

a. Membersihkan sumur yang ada supaya debit airnya kembali normal.

Pada sumur dalam yang debit airnya menurun, dilakukan pembersihan. Ini dimaksudkan agar volume debit air pada sumur dalam tersebut kembali normal. Hal ini akan mampu menambah produksi air bawah tanah.

b. Perbaikan pipa distribusi air maupun penambahan pipa baru.

Pada pipa distribusi yang mengalami kebocoran, dilakukan perbaikan agar pipa tersebut dapat kembali berfungsi sebagai saluran distribusi air PDAM. Selain perbaikan pipa, untuk menambah jangkauan distribusi air agar merata ke semua daerah, bisa dilakukan dengan penambahan pipa baru. Penambahan pipa baru ini juga dimaksudkan untuk menambah cakupan pelanggan air PDAM agar semakin banyak.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

46

 

c. Perbaikan dan pengecekan meter air secara berkala oleh petugas

PDAM.

Petugas PDAM secara berkala akan meninjau ke rumah-rumah pelanggan untuk mencatat volume air yang dipakai pelanggan serta melakukan pengecekan terhadap kondisi meter air. Bila ditemui meter air yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya atau mengalami kerusakan, akan segera diperbaiki atau bila perlu akan dilakukan dengan penggantian meter air yang baru.

d. Pemanfaatan air permukaan sebagai solusi penambahan bahan baku

air.

Agar semakin tinggi tingkat produksi air di PDAM, maka tidak cukup jika hanya mengandalkan air bawah tanah. Untuk itu, PDAM Kota Surakarta berupaya menambah bahan baku air dengan memanfaatkan dan mengolah air permukaan. Air permukaan yang dimaksud disini yaitu air yang mengalir diatas permukaan bumi, seperti air sungai. Air sungai yang dimanfaatkan oleh PDAM yaitu air sungai Bengawan Solo karena sungai ini lah yang debit airnya selalu tinggi serta merupakan sungai terbesar yang melintasi Kota Surakarta. Pemanfaatan air permukaan ini tentunya juga dikenai Pajak Pemanfaatan Air Permukaan yang nantinya juga berfungsi sebagai penambah pemasukan kas daerah.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

BAB III

Dokumen terkait