GAMBARAN DATA DAN PEMBAHASAN A.Dasar – Dasar Perpajakan
B. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 1.Pengertian PPh Pasal 21
Pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 merupakan Pajak penghasilan yang dikenakan atas Pajak penghasilan berupa gaji, upah, honorariun, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama apapun sehubungan denganpekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri (Waluyo, 2006 : 149).
Pajak penghasilan Pasal 21 dipotong, disetor dan dilaporkan Pemotong pajak yaitu pemberi kerja, bendaharawan pemerintah, danapensiun, badan, perusahaan dan penyelenggara kegiatan.
Pajak penghasilan Pasal 21 yang telah dipotong dan disetorkan secara benar oleh pemberi kerja atas penghasilan yang diterima atau diperoleh sehubungan dengan pekerjaan dari satu pemberi kerja merupakan pelunasan pajak yang terutang untuk tahun pajak yang bersangkutan.
Bagi pegawai atau orang pribadi yang memperoleh penghasilan lain selain penghasilan yang pajaknya telah dibayar atau dipotong bersifat final, pada akhir tahun diwajibkan untuk menyampaikan SPT Tahunan PPh dan atas penghasilan Pasal 21 yang telah
dipotong oleh pemberi kerja dapat dijadikan sebagai kredit pajak atas Pajak Penghasilan yang terutang pada akhir tahun.
2. Subjek Pajak PPh Pasal 21
Penerima penghasilan yang Dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 adalah :
a. Pegawai, yaitu setiap orang pribadi yang melakukan pekerjaan berdasarkan suatu perjanjian atau kesepakatan kerja baik tertulis maupun tidak tertulis, termasuk yang melakukan pekerjaan dalam jabatan negeri atau badan usaha milik negara dan badan uasaha milik daerah.
b. Penerima Pensiun, yaitu orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di masa lalu, termasuk orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima uang pensiun, tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua.
c. Penerima Honorarium, yaitu orang pribadi yang menerima atau memperoleh imbalan sehubungan dengan jasa, jabatan atau kegiatan yang dilakukannya.
d. Penerima Upah, yaitu orang pribadi yang menerima upah harian, upah mingguan, upah borongan, atau upah satuan.
e. Orang pribadi lainnya yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan dari pemotong pajak.
Yang tidak termasuk penerima penghasilan yang dipotong pajak Penghasilan Pasal 21 :
a. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat alain dari negara asing, dan orang – orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada adan bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat bukan Warga Negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara yang bersangkutan memeberikan timabal balik.
b. Pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan No.574/KMK 04/2000 tentang Organisasi Internasional, dan Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional yang tidak termasuk Subjek Pajak penghasilan yang telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 601/KMK 03/2005 dengan syarat bukan Warga Negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia.
3. Objek Pajak PPh Pasal 21
Penghasilan yang dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 adalah :
a. Penghasilan yang diterima atau diperoleh secara teratur berupa gaji, uang pensiun bulanan, upah, honorarium(termasuk honorarium anggota dewan komisaris atau anggota dewan pengawas),premi bulanan, uang lembur, uang sokongan, uang tunggu, uang ganti rugi, tunjangan isteri, tunjangan anak, tunjangan kemahalan, tunjangan jabatan, tunjangan khusus, tunjangan transport, tunjangan pajak, tunjangan iuran pensiun, tunjangan pendidikan anak, bea siswa, hadiah, premi asuransi yang di bayar oleh pemberi kerja, dan penghasilan teratur lainnya dengan nama apapun.
b. Penghasilan yang di terima atau diperoleh secara tidak teratur berupa jasa produksi, tantiem, gratifikasi, tunjangan cuti, tunjangan hari raya, tunjangan tahun baru, bonus, premi tahunan, dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak tetap dan biasanya di bayarkan sekali dalam setahun.
c. Upaya harian, upaya mingguan, upaya satuan dan upaya borongan.
d. Uang tebusan pensiun, uang Tabungan Hari Tua(THT), uang pesangon, dan pembayaran lain jenis.
e. Honorarium, uang saku, hadiah atau penghargaan dengan nama dan dalam bentuk apapun, komisi, bea siswa, dan pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan,jasa, dan kegiatan yang di lakukan Wajib Pajak dalam negeri, terdiri dari:
1) Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari: pengacara, akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai dan aktuaris.
2) Pemain musik, pembawa acara,penyanyi, pelawak, bintang film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya.
3) Olahragawan.
4) Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh dan moderator. 5) Pengarang, peneliti, dan penerjemah.
6) Pemberi jasa dalam bidang teknik, komputer dan sistem
aplikasinya,telekomunikasi, elektronika, foto grafi, dan pemasaran. 7) Agen iklan.
8) Pengawas, pengelolah proyek, anggota, dan pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan, peserta sidang atau rapat, dan tenaga lepas lainnya dalam segala bidang kegiatan.
9) Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan. 10) Peserta perlombaan.
11) Petugas penjaja barang dagangan. 12) Petugas dinas luar asuransi.
13) Peserta pendidikan, pelatihan dan pemagangan.
14) Distributor perusahaan multilevel marketing atau direct selling dan kegiatan sejenisnya.
f. Gaji,gaji kehormatan, tunjangan-tunjangan lain yang terkait dengan gaji yang diterima oleh pejabat negara dan PNS.
g. Uang pensiun dan tunjangan tunjangan lain yang terkait dengan uang pensiun yang diterima oleh pensiunan termasuk janda atau duda dan atau anak-anaknya.
h. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan lainnya dengan nama apapun yang diberikan oleh bukan wajib pajak.
a. Pembayaran asuransi dari perusahaan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa.
b. Penerimaan dalam bentuk natura dan kenikmatan kecuali yang diberikan oleh Wajib Pajak atau Pemerintah.
c. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan dan Iuran Jaminan Hati Tua kepada badan penyelenggara Jamsostek yang dibayar oleh pemberi kerja.
d. Zakat yang diterima oleh Orang Pribadi yang berhak dari badan atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan pemerintah.
4. Pemotong Pajak PPh Pasal 21
Berikut ini termasuk pemotong pajak PPh Pasal 21 adalah :
a. Pemberi kerja terdiri dari orang pribadi dan badan, termasuk bentuk usaha tetap, baik merupakan induk maupun cabang, perwakilan atau unit, yang membayar gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apapun, sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang dilakukan oleh pegawai atau bukan pegawai.
b. Bendaharawan pemerintah yanag membayarkan gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama apaun, sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan.
c. Dana Pensiun, PT Taspen, PT Jamsostek, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja lainnya, serta badan – badan lain yang membayar uang pensiun, Tabungan Hari Tua atau Tunjangan Hari Tua (THT).
d. Perusahaan, badan, danbentuk usaha tetap, yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagainya imbalan sehubungan dengan kegiatan dan jasa, termasuk
jasa tenaga ahli dengan status Wajib Pajak dalam negeri yang melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk melakukan pekerjaan bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan atas nama persekutuannya.
e. Perusahaan, badan, dan bentuk usaha tetap yang membayar honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalansehubungan dengan kegiatan dan jasa yang di lakukan oleh orang pribadi dengan status Wajib Pajak Luar Negeri.
f. Yayasan (termasuk yayasan yang bergerak di bidang kesejahteraan, rumah sakit, pendidikan, kesenian, olahraga, kebudayaan), lembaga, kepanitiaan, asosiasi, perkumpulaan, dan organisasi dam bentuk apapun dalam segala kegiatan sebagai pembayaran gaji, upah, honorarium, atau imbalan dengan nama apapun sehubugan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi,
g. Perusahaan, badan, dan bentuk usaha tetap, yang membayarkan honorarium atau imbalan lain kepada peserta pendidikan, pelatihan, dan pemgangan.
h. Penyelenggarakegitan termasuk kegiatan(termasuk badan pemerintah, organisasi termasuk organisasi internasional, perkumplan, orang pribadi serta lembaga lainnya yang menyelenggarakan kegiatan) yang membayar honorarium, hadiah atau penghargaan dalam bentuk apapun kepada Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.
5. Hak dan Kewajiban Pemotong PPh Pasal 21 Hak – hak Pemotong PPh Pasal 21 :
a. Pemotong pajak berhak untuk mengajukan permohonan memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT tahunan Pasal 21.
b. Pemotongan pajak berhak untuk memperhitungkan kelebihan setoran PPh Pasal 21 dalam satu bulan takwim dengan PPh Pasal 21 yang terutang pada bulan berikutnya dalam tahun takwim yang bersangkutan.
c. Pemotong pajak berhak untuk memperhitungkan kelebihan setoran pada SPT tahunan dengan PPh Pasal 21 yang terutang pada untuk bulan pada waktu dilakukan
penghitungan tahunan, dan jika masih ada sisa kelebihan, maka di perhitungkan tahunan, dan jika masih ada sisa kelebihan, maka diperhitungkan untuk bulan-bulan lainnya dalam tahun berikutnya.
d. Pemotongan pajak berhak untuk membetulkan sendiri SPT atas kemauan sendiri dengan menyampaikan pernyataan tertulis dalam jangka waktu dua tahun sesudah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak, dengan syarat Direktorat Jenderal Pajak belum melakukan tindakan pemeriksaan.
e. Pemotongan pajak berhak untuk mengajukan surat keberatan kepada Direktorat Jenderal Pajak atas suatu Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Objek Lebih Bayar, Surat Ketetapan Pajak Nihil Kurang Bayar.
f. Pemotongan pajak berhak mengajukan permohonan banding secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas kepada badan peradilan pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Direkorat Jenderal Pajak. Kewajiban Pemotong PPh Pasal 21 :
a. Pemotongan Pajak wajib mendaftarkan diri Kekantor Pelayanan Pajak atau Kantor Penyuluhan Pajak Setempat.
b. Pemotong Pajak wajib mengambil sendiri formulir-formulir yang diperlukan dalam rangka pemenuhan kewajiban perpajakannya pada Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Penyuluhan Pajak setempat.
c. Pemotong Pajak wajib menghitung, memotong, dan menyetor PPh Pasal 21 yang terutang untuk setiap bulan takwim.
d. Pemotong Pajak wajib melaporkan penyetoran PPh Pasal 21 sekaliun nihil dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa ke Kantor Pelayanan Pajak atau Kantor Penyulahan Pajak Setempat, selambat-lambatnya pada tanggal 20 bulan ta3kwim berikutnya.
e. Pemotong Pajak wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 baik diminta maupun tidak pada saat dilakukannya pemotonan pajak kepada orang pribadi bukan sebagai pegawai tetap, penerima uang tebusan pensiun, penerima THT, penerima pesangon, dan penerima dana pensiun iuran.
f. Pemotong Pajak wajib memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 tahunan kepada pegawai tetap, termasuk penerima pensiun bulana, dengan menggunakan formulir yang ditentukan oleh Direktor Jenderal Pajak dalam waktu 2 bulan setelah tahun takwim berakhir.
g. Dalam waktu 2 bulan setelah tahun takwim berakhir, Pemotong Pajak Wajib menghitung kembali jumlah PPh Pasal 21 yang terutang oleh pegawai tetap dan penerima pensiun bulanan sesuai tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 undang-undang nomor 17 tahun 2000.
h. Pemotng Pajak wajib mengisi, menandatangani, dan menyampai-kan SPT Tahunan PPh Pasal 21 ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Pemotong Pajak terdaftar atau kantor Penyuluhan Pajak Setempat.
i. Pemotong Pajak wajib melampiri SPT Tahunan PPh Pasal 21 dengan lampiran-lampiran yang ditentukan dalam Petunjuk Pengisian SPT Tahunan PPh Pasal 21 untuk pajak yang bersangkutan.
j. Pemotong Pajak wajib menyetor kekurangan PPh Pasal 21 yang terutang apabila jumlah PPh Pasal 21 yang terutang dalam suatu tahun takwim lebih besar dari pada PPh Pasal 21 yang telah disetor.
6. Tata Cara Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21
Cara menghitung Pajak Penghasilan Pasal 21 pada prinsipnya sama dengan cara penghitungan pajak penghasilan umumnya. Namun, dalam menghitung Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi penerima – penerima penghasilan dari pekerja, jasa, atau kegiatan yang dilakukan Wajib Pajak Orang Pribadi yaitu Wajib Pajak dalam negeri selain pengurangan berupa PTKP, juga diberikan pengurangan – pengurangan penghasilan berupa biaya jabatan, biaya pensiun dan iuran pensiun. Selain itu, tarif yang diterapkan juga bervariasi yaitu tarif
sesuai dengan Pasal 17 Undang – Undang Pajak Penghasilan atau tarif yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah atau aturan pelaksanaan lainnya. Aturan dan Cara Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Menghitung Penghasilan bruto sebulan. Penghasilan bruto dapat berupa tunjangan – tunjangan yang merupakan penghasilan yang dikenakan pajak, termasuk jaminan kecelakaan kerja,dan premi jaminan kematian yang dibayarkan/ditanggung oleh pemberi kerja untuk pegawai yang bersangkutan.
b. Menghitung besarnya penghasilan neto sebulan yaitu penghasilan bruto dikurangi dengan pengurangan yang diperkenankan yang terdiri atas :
1) Biaya jabatan, yaitu biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan, besarnya adalah 5% (Lima Persen) dari penghasilan bruto setinggi-tingginya atau maksimal sebesar Rp 6.000.000 setahun atau Rp 500.000 sebulan.
Biaya jabatan merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai tetap tanpa memandang jabatan atau tidak.
2) Iuran yang terkait dengan gaji kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan dan iuran Tabungan Hari Tua atau Jaminan Hari Tua kepada Badan Penyelengara Tabungan Hari Tua atau jaminan Hari Tua yang dipersamakan dengan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. c. Menghitung besarnya penghasilan neto setahun yaitu, penghasilan neto sebulan dikalikan
dengan 12.
d. Menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP), yaitu Penghasilan neto dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).
PTKP untuk tahun 2009 :
1. Untuk Wajib Pajak Rp 15.840.000/tahun (1.320.000/bulan). 2. Untuk Wajib Pajak Kawin Rp 1.320.000/tahun (110.000/bulan). 3. Untuk Satu orang tanggungan Rp 1.320.000/tahum (110.000/bulan).
e. Menghitung besarnya PPh Pasal 21 setahun, yaitu tarif pasal 17 dikalikan PKP. Tarif Pajak pengahasilan yang berlaku mulai 01 januari 2009 adalah :
No. Lapisan Penghasilan Tarif
1. S.d. Rp 50.000.000,- 5%
2. Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 250.000.000 15% 3. Di atas Rp250.000.000,- s.d.Rp 500.000.000,- 25%
4. Di atas Rp500.000.000,- 30%
f. Menghitung Pemotongan PPh Pasal 21, yaitu PPh Pasal 21 setahun dibagi 12 (Jumlah bulan dalam 1 Tahun).