• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

1. Dasar Hukum

Menurut Sukardji (2015:53), dasar hukum pajak pertambahan nilai (PPN) adalah undang-undang nomor 8 tahun 1983 tentang pajak pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah yang lebih dikenal dengan nama undang-undang pajak pertambahan nilai tahun 1984 merupakan salah satu produk reformasi sistem perpajakan nasional (tax reform) 1983. Sebagai pengganti undang-undang nomor 19 tahun 1951, nomor 35 tahun 1953 tentang pajak penjualan, undang-undang PPN 1984 ini berlaku pada 1 april 1985. Dalam kurun waktu 15 tahun terjadi tiga kali perubahan, yaitu:

a. Perubahan pertama dilakukan dengan undang-undang nomor 11 tahun 1994, mulai berlaku pada tanggal 1 januari 1995

b. Perubahan kedua dilakukan dengan undang-undang nomor 18 tahun 2000, mulai berlaku pada tanggal 1 januari 2001

c. Perubahan yang ketiga dilakukan dengan undang-undang nomor 42 tahun 2009, mulai berlaku pada tanggal 1 April 2010.

2. Pengertian

PPN merupakan pajak yang dikenakan atas pertambahan nilai yang tercipta karena adanya suatu proses menghasilkan, menyalurkan, dan memperdagangkan barang ataupun memberikan pelayanan jasa yang membutuhkan faktor-faktor produksi pada berbagai tingkatan.

Semua biaya untuk mendapatkan dan mempertahankan laba termasuk bunga, modal, sewa, tanah, upah kerja, dan laba perusahaan adalah merupakan unsur pertambahan nilai yang menjadi dasar pengenaan

16

Pajak Pertambahan Nilai (PPN), adapun menurut Priantara (2012:408) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi barang dan jasa didalam negeri (daerah pabean) oleh orang pribadi atau badan.

3. Subjek Pajak

a. Pengusaha dan Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Pengusaha adalah pelaku orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan usaha dengan menghasilkan barang kena pajak, mengimpor, mengekspor, dan memanfaatkan barang yang tidak berwujud dari luar daerah pabean, melakukan usaha jasa termasuk mengekspor jasa, atau memanfaatkan jasa dari daerah pabean. PKP adalah

pengusaha yang menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP) yang berdasarkan Undang-Undang dikenai PPN, tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, Kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP.

b. Pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP

Tidak semua pengusaha adalah PKP karena ada pengusaha yang bukan PKP yaitu pengusaha kecil. Penyerahan BKP dan atau JKP yang dilakukan oleh pengusaha kecil dibebaskan dari PPN. Namun agar tidak menghambat kegiatan usahanya, pengusaha kecil juga diberi kebebasan memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP. Pengusaha wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak, apabila sampai dengan satu bulan dalam

satu tahun buku jumlah peredaran bruto tidak melebihi Rp. 4.800.000.000,-. Kewajiban melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya. Mardiasmo (2016:33)

c. Kewajiban PKP

Pengusaha yang menyerahkan BKP dan/atau JKP dalam daerah pabean dan atau melakukan ekspor BKP diwajibkan untuk:

1) Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP 2) Memungut pajak yang terutang

3) Menyetor PPN yang masih harus di bayar dalam hal pajak keluaran lebih besar dari pajak masukan yang dapat dikreditkan, serta menyetorkan PPnBm yang terutang

4) Melaporkan perhitungan pajak.

Pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP wajib melaksanakan ketentuan diatas.

4. Objek Pajak

Menurut undang-undang No.42 tahun 2009 pasal 1 angka (3) barang kena pajak adalah barang berwujud yang menurut sifat atau hukumannya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak dan barang tidak berwujud yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang

Menurut undang-undang No.42 tahun 2009 pada pasal 4 ayat 1 dikenakan atas:

a. Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha

18

c. Penyerahan jasa kena pajak di dalam daerah pabean yang dilakukan oleh pengusaha.

d. Pemanfaatan barang kena pajak tidak berwujud dari luar daerah pabean didalam daerah pabean.

e. Pemanfaatan JKP dari luar pabean, didalam daerah pabean f. Ekspor barang kena pajak berwujud oleh pengusaha kena pajak g. Ekspor barang kena pajak tidak berwujud oleh pengusaha kena pajak

(PKP).

h. Ekspor jasa kena pajak oleh pengusaha kena pajak 5. Barang Tidak Dikenakan Pajak

Ayat 2, ketentuan mengenai batasan kegiatan dan jenis jasa kena pajak yang atas ekspornya dikenai pajak pertambahan nilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf h diatur dengan peraturan menteri keuangan.

Menurut Sukardji (2015:75), yang termasuk barang tidak kena pajak (Non BKP):

a. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya

b. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat

c. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering.

d. Uang, emas batangan dan surat-surat berharga. 6. Saat dan Tempat Pajak Terutang

a. Saat terutangnya pajak

Terutangnya pajak terjadi pada saat: 1) Penyerahan BKP

2) Impor BKP 3) Penyerahan JKP

4) Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar daerah pabean 5) Pemanfaatan JKP dari luar daerah pabean

6) Ekspor BKP b. Tempat pajak terutang

Undang-undang PPN menyebutkan bahwa tempat terutangnya PPN adalah:

1) Atas penyerahan BKP dan/atau JKP dan/atau ekspor BKP Tempat pajak terutang adalah di tempat tinggal atau tempat kedudukan dan tempat kegiatan usaha dilakukan, atau tempat lain yang ditetapkan dengan Keputusan Direktur Jendral Pajak.

2) Atas impor

Terutangnya pajak terjadi ditempat BKP dimasukan ke dalam daerah pabean dan dipungut melalui Direktorat Jenderal Bea Cukai.

3) Atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari luar daerah pabean Terutangnya pajak terjadi di tempat orang pribadi atau badan tersebut terdaftar sebagai wajib pajak

4) Atas kegiatan membangun sendiri

Tempat terutangnya adalah ditempat bangunan tersebut didirikan 5) Satu atau lebih tempat yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak

20

dalam hal terjadi pemusatan tempat terutangnya pajak. 7. Sifat dan Prinsip Pemungutan

a. Sifat pemungutan:

1) PPN sebagai pajak objektif

Pungutan PPN mendasarkan pada objeknya tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak.

2) PPN sebagai pajak tidak langsung

Secara ekonomis beban PPN dapat dialihkan kepada pihak lain. 3) Pemungutan PPN multistage tax

Pemungutan PPN dilakukan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi dari pabrikan, pedagang besar sampai dengan pengecer.

4) PPN dipungut dengan alat bukti faktur pajak

Pengusaha kena pajak harus menerbitkan faktur pajak sebagai bukti pemungutan PPN.

5) PPN bersifat netral

6) PPN tidak menimbulkan pajak ganda. Mardiasmo (2016:7) 8. Prinsip pemungutan

a. Prinsip tempat tujuan

Pada prinsip ini PPN dipungut di tempat barang atau jasa tersebut dikonsumsi

b. Prinsip tempat asal

Pada prinsip ini diartikan bahwa PPN dipungut di tempat asal barang atau jasa yang akan dikonsumsi

Menurut Direktorat Jenderal Pajak (2013:16), Dasar Pengenaan Pajak merupakan ini harga jual, nilai impor, nilai ekspor, nilai pengganti atau nilai yang sudah ditetapkan dengan keputusan Menteri keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk perhitungan pajak yang terutang.

Selanjutnya yang dimaksud dengan harga jual, penggantian, nilai impor dan nilai ekspor, dan nilai lian yang ditetapkan Menteri Keuangan adalah:

a. Harga jual

Harga jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan BKP, tidak termasuk pajak yang dipungut menurut Undang-undang PPN dan potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak. b. Penggantian

Penggantian adalah nilai berupa uang termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyeraha JKP tidak termasuk pajak yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak.

c. Nilai ekspor

Nilai ekpsor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportif.

d. Nilai impor

Nilai impro adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar perhitungan bea masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan pabean untuk impor BKP, tidak termasuk pajak yang dipungut menurut Undang-undang PPN

22

e. Nilai lain yang ditetapkan sebagai DPP

Adalah nilai berupa uang yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagai dasar perhitungan PPN.

10. Tarif Pajak

a. Tarif PPN adalah 10%

b. Tarif PPN atas ekspor BKP adalah 0%

c. Dengan peraturan pemerintah, tarif pajak tersebut dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5% (lima persen) dan setinggi-tingginya 15% (lima belas persen) Mardiasmo (2016:16)

11. Cara Menghitung Pajak

PPN yang terutang dihitung dengan cara mengalihkan tariff dengan DPP. atau dapat di rumuskan sebagai berikut:

PPN yang terutang = tarif PPN (10%) X DPP 12. Faktur Pajak

Menurut Direktorat Jenderak Pajak (2013:17), Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh pengusaha kena pajak (PKP) yang melakukan penyerahan barang kena pajak (BKP) atau penyerahan jasa kena pajak, atau bukti pungutan pajak karena impor yang digunakan oleh Direktorat Pajak (DJP) Bea cukai

Menurut Undang-Undang No. 42 tahun 2009 menjelaskan pada pasal 13:

a. Ayat 1, Pengusaha kena pajak wajib membuat faktur pajak untuk setiap:

1) Penyerahan barang kena pajak 2) Penyerahan jasa kena pajak

3) Ekspor barang kena pajak tidak berwujud 4) Ekspor jasa kena pajak

b. Ayat 1a, faktur pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dibuat pada:

1) Saat penyerahan barang kena pajak dan/atau jasa kena pajak. 2) Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan

pembayaran terjadi sebelum penyerahan barang kena pajak (BKP) dan/atau sebelum penyerahan jasa kena pajak (JKP) 3) Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan

sebagai tahap pekerjaan, atau

4) Saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan

c. Ayat 2, dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengusaha kena pajak dapat membuat 1 (satu) faktur pajak yang meliputi seluruh penyerahan yang dilakukan kepada pembelian barang kena pajak atau penerimaan jasa kena pajak yang sama selama 1 (satu) bulan kalender.

d. Ayat 2a, faktur pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan

e. Ayat 5, dalam faktur pajak harus mencantumkan keterangan tentang penyerahan barang kena pajak dan/atau penyerahan jasa kena pajak yang paling sedikit membuat:

1) Nama, alamat, dan nomor pokok wajib pajak yang menyerahkan barang kena pajak atau jasa kena

24

kena pajak atau penerimaan jasa kena pajak

3) Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian dan potongan harga

4) Pajak pertambahan nilai yang dipungut

5) Pajak penjualan atas barang mewah yang dipungut 6) Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan faktur pajak

f. Ayat 6, Direktur jenderal pajak dapat menetapkan dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan faktur pajak g. Ayat 8, ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan faktur

pajak dan tata cara pembetulan atau penggantian faktur pajak diatur dengan dan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan. h. Ayat 9, faktur pajak harus memenuhi persyaratan formal dan

material 13. Jenis Faktur Pajak

a. Faktur pajak standar

Faktur pajak Standar adalah faktur pajak yang berbentuk dan isinya telah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan Faktur pajak standar harus mencantumkan keterangan tentang penyerahan BKP atau penyerahan JKP yang meliputi:

1) Nama, alamat, NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP 2) Nama, alamat dan NPWP pembeli BKP atau penerimaan

JKP

3) Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian dan potongan harga

5) PPnBM yang dipungut

6) Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan faktur pajak 7) Nama, jabatan, dan tanda tangan yang berhak

menandatangani faktur pajak (UU PPN, 2000:177) b. Faktur pajak sederhana

Faktur pajak sederhana adalah faktur pajak yang dibuat sebagai bukti pemungutan pajak atas penyerahana BKP atau JKP kepada konsumen akhir atau kepada pembeli/penerima jasa dengan identitas tidak lengkap.

Faktur pajak sederhana dapat berbentuk bon kontan, faktur penjualan, segi kas register, karcis, kuitansi, atau tanda bukti penyerahan atau pembayaran lain yang sejenis. Faktur pajak sederhana paling sedikit harus mencantumkan:

1) Nama, alamat, dan NPWP yang menyerahkan BKP atau JKP

2) Jenis dan kuantum

3) Jumlah harga jual atau penggantian yang sudah termasuk pajak atau besarnya dicantumkan secara terpisah

4) Tanggal pembuatan faktur pajak sederhana (UU PPN, 2000:179)

c. Faktur Pajak Gabungan

Untuk meringankan beban administrasi, kepada PKP diperkenankan untuk membuat satu faktur pajak yang meliputi semua penyerahan BKP atau penyerahan JKP yang terjadi selama satu bulan takwim kepada pembeli yang sama atau

26

penerima JKP yang sama, yang disebut Faktur Pajak Gabungan

Pada saat diberlakukannya UUD No. 42 tahun 2009 tidak ada lagi Faktur Pajak Standar dan Faktur Pajak Sederhana.

14. Mekanisme Pemungutan PPN

Seperti telah dijelaskan bahwa PPN dikenakan hanya pada pertambahan nilainya saja dan dipungut beberapa kali dalam berbagai mata rantai jalur perusahaan. Untuk menghitung besarnya pajak yang terutang atas nilai tambah, dikenal 3 metode:

a. Addition method

Pada metode ini PPN terutang dihitung dari penjumlahan seluruh unsur nilai tambah dikalikan dengan tarif PPN yang berlaku. Nilai tambahan merupakan unsur yang paling penting dalam mekanisme pemungutan PPN dengan metode ini.

Nilai tambah dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut: Nilai tambah = biaya produksi +laba.

Kemudian besarnya PPN yang terutang dapat dihitung dengan: PPN = tariff (10%) X nilai tambah

Pada metode ini disyaratkan bahwa setiap PKP harus mempunyai pembukuan yang tertib dan rinci atas semua biaya yang dikeluarkan. b. Substraction method

Pada metode ini PPN yang terutang dihitung dari tarif PPN dikalikan dengan selisih harga jual barang dan harga beli barang. Adapun perhitungan PPN yang terutang adalah sebagai berikut:

c. Credit method

Metode ini hampir sama dengan substraction method. Pada metode ini harus mencari selisih antara pajak yang dibayar saat pembelian (pajak masukan) dengan pajak yang dipungut saat penjualan (pajak keluaran)

Dapat dirumuskan sebagai berikut: Harga jual xxx

Pajak keluaran = harga jual x 10% xxx Harga beli xxx

Pajak masukan = harga beli x 10% xxx

PPN terutang xxx

15. Penyetoran dan pelaporan

Menurut Undang-Undang No. 42 tahun 2009 pada pasal 15A ayat 1, penyetoran pajak pertambahan nilai oleh pengusaha kena pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (3) harus dilakukan yaitu paling lama akhir bulan berikutnya dan setelah berakhirnya masa pajak dan sebelum surat pemberitahuan masa pajak pertambahan nilai itu disampaikan.

a. Penyetoran

1) Saat penyetoran

PPN yang terutang dalam satu masa pajak harus di bayar selambat-lambatnya tanggal 15 bulan takwim berikutnya. Apabila tanggal 15 tersebut jatuh pada hari libur, maka penyetoran dilakukan pada hari kerja berikutnya.

2) Tempat pembayaran/penyetoran a) Kantor pos dan giro

28

b) Bank pemerintah

c) Bank pembangunan daerah d) Bank devisa

e) Bank-bank lain penerima setoran pajak

f) Kantor Ditjen Bea Cukai, untuk impor tanpa LKP 3) Sarana Pembayaran

Pembayaran pajak dilakukan dengan mempergunakan E-billing di aplikasi DJP

b. Pelaporan

Menurut Direktoran Jenderal Pajak (2013:22), Surat pemberitahuan (SPT) ialah surat yang diperoleh oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan atau pembayaran pajak, objek pajak atau bukan objek pajak atau harta dan kewajiban yang sesuai dengan ketentuan menurut peraturan perundang-undangan perpajakan

1) Saat pelaporan

PPN yang dipungut harus dilaporkan oleh PKP pada KPP selambat-lambatnya akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir. Apabila tanggal jatuh tempo pelaporan bertepatan dengan hari libur, maka pelaporan harus dilaksanakan pada hari kerja sebelumnya. Pelaporan disampaikan ke KPP tempat wajib pajak terdaftar atau dikukuhkan sebagai PKP.

2) Sarana pelaporan

Direktorat Jenderal Pajak melakukan perubahan baru dengan memanfaatkan teknologi informasi maka dibuatkan sebuah aplikasi komputer untuk sistem administrasi perpajakan berupa e-SPT dan

e-Filing yang berguna memudahkan wajib pajak, maka dengan begitu bisa meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dalam melaporkan pajaknya (Fadhrlurrahmah, Jullie, Natalia:2018). Pada saat ini penyampaian SPT Masa PPN bisa dilakukan secara online menggunakan aplikasi e-SPT yang bisa diunduh pada situs Direktorat jenderal pajak (DJP). E-SPT merupakan penyampaian SPT ke KPP berbentuk elektronik atau dengan menggunakan media komputer maka tidak perlu lagi datang ke Kantor Pelayanan Pajak (PKP) Pratama untuk mengantre dalam proses pelaporan pajak.

Dalam pelaporan SPT Masa PPN melalui aplikasi E-Faktur versi 3.0 ini, ada proses validasi. Validasi tersebut diantaranya:

(a) Cek WP masih aktif, untuk PKP pada Masa Pajak yang dilaporkan

(b) Cek pemeriksaan

(c) Cek SPT sudah pernah dilaporkan belum, jika SPT pembetulan, SPT Normal harus ada

(d) Cek SPT Lebih Bayar tidak dilaporkan lebih dari 3 tahun, dan lainnya

Proses Pelaporan SPT Masa PPN atau 1111:

a) Mulai menentukan Masa Tahun Pajak dan Status Pembetulan b) Masuk ke aplikasi E-Faktur web-based DJP di

https://web-efaktur.pajak.go.id/

c) Sistem akan membuat SPT induk, lampiran A1, A2, B1, B3 dan AB

30

d) Lanjutkan membuat SPT Induk, Lampiran A1, A2, B1, B2, B3, dan AB

e) Lalu pastikan SPT Masa PPN 1111 sudah sesuai dan melengkapi SPT

f) Jika belum sesuai, lakukan pembetulan data yang sesuai g) Jika sudah sesuai, klik ya dan sistem akan menghitung Pajak

Keluaran dan Pajak Masukan

h) Jika SPT kurang Bayar, lakukan pengisian NTPN yang sesuai jumlah Kurang bayar

i) Lalu sistem akan melakukan Validasi NTPN

j) Jika belum sesuai, PKP harus mengisikan NTPN yang sesuai jumlah Kurang Bayar.

k) Jika sudah sesuai, klik ‘Ya’ untuk memberitahukan status SPT adalah Siap Lapor

l) Kemudian jika status SPT sudah Siap Lapor, PKP menyetujui dan melaporkan SPT

m) Berikutnya sistem akan melakukan Validasi pelaporan SPT n) Jika belum sesuai, sistem akan memberitahukan

ketidaksesuain pelaporan, maka PKP harus menyesuaikan SPT sesuai pemberitahuan DJP

o) Jika sudah sesuai, klik ‘Ya’ dan sistem akan menerbitkan tanda terima pelaporan SPT

p) Pelaporan SPT Masa PPN melalui E-Faktur 3.0 pun selesai. 16. Sanksi dalam PPN

Setiap keterlambatan pembayaran dikenakan bunga sebesar 2% sebulan untuk seluruh masa, dihitung sejak saat jatuh tempo

b. Sanksi terlambat lapor

Wajib pajak yang terlambat menyampaikan SPT untuk tahun 2020 dan seterusnya dikenakan denda Rp.500.000,00

Dokumen terkait