• Tidak ada hasil yang ditemukan

H. Analisis Data Deskriptif

I. Analisis Regresi Berganda

Analisis regresi berganda adalah analisis yang digunakan terhadap banyak data pengamatan yang terjadi akbibat lebih dari dua variabel. 24 Analisis ini digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen, apakah masing-masing variabel independen berhubungan

21Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan, (Jakarta, Premada Media Group, 2014) Halaman 309

22 Anwar Hidayat, “Uji F dan Uji T”, (https://www.statistikian.com/2013/01/uji-f-dan-uji-t.html) diakses tanggal 1 November 2019 jam 13.00

23Loc.cit, Halaman 322

24 Sudjana, Metoda Statistika , (Bandung ; Tarsito, 2005) Halaman 247

positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.25

Mode regresi linier berganda dinyatakan dalam persamaan matematika sebagai berikut :

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3+ e Dimana :

Y = Pendapatan Asli daerah X1 = Pajak Hotel

X2 = Pajak Restoran X3 = Pajak Hiburan a = Konstanta B1-B4 = koefisien regresi E = Error

25 Sugiyono, Ibid, hal 275

38 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian

1. Deskripsi Tempat Penelitian

Kabupaten Banyumas merupakan bagian dari wilayah budaya Banyumas, yang berkembang di bagian barat Jawa Tengah. Bahasa yang dituturkan adalah bahasa Banyumasan, yakni salah satu dialek bahasa Jawa yang cukup berbeda dengan dialek standar bahasa Jawa ("dialek Mataraman"). Masyarakat dari bahasa dan daerah lain kerap menjuluki

"Bahasa Ngapak" karena ciri khas bunyi /k/ yang dibaca penuh pada akhir kata (berbeda dengan dialek Mataraman yang dibaca sebagai glottal stop).

Luas wilayah Kabupaten Banyumas sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan 132.759,56 ha, dengan keadaan wilayah antara daratan dan pegunungan dengan struktur pegunungan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian, sebagian dataran tinggi untuk pemukiman dan pekarangan, dan sebagian pegunungan untuk perkebunan dan hutan tropis terletak di lereng Gunung Slamet sebelah selatan.

Berdasarkan ketinggian dari permukaan laut, dataran di Kabupaten Banyumas terdiri dari 54,86 % berada di ketinggian 0 - 100 m dan 45,14 % berada di ketinggian 101 m - 500 m. Bumi dan kekayaan Kabupaten Banyumas masih tergolong potensial karena terdapat Gunung Slamet dengan ketinggian puncak dari permukaan air laut sekitar 3.400 M dan masih aktif. Keadaan cuaca dan iklim di Kabupaten Banyumas memiliki iklim tropis basah. Karena terletak di antara lereng pegunungan jauh dari pesisir pantai maka kontribusi angin laut tidak begitu tampak.

Namun dengan adanya dataran rendah yang seimbang dengan pantai selatan angin hampir tampak bersimpangan antara pegunungan dengan lembah dengan tekanan rata-rata antara 1.001 mbs, dengan suhu udara berkisar antara 21,4 °C - 30,9 °C.Secara astronomis, Kabupaten Banyumas terletak antara 7°15'05" - 7°37'10" Lintang Selatan dan antara 108°39'17"

- 109°27'15" Bujur Timur.Kabupaten Banyumas terdiri dari 27 kecamatan, 30 kelurahan, dan 301 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya

mencapai 1.741.077 jiwa dengan luas wilayah 1.335,30 km² dan sebaran penduduk 1.304 jiwa/km, Banyumas memiliki beberapa tempat wisata andalan, kebanyakan berupa keindahan alam seperti gua, air terjun dan wana wisata.1

2. Deskripsi PAD, Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan a. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pendapatan Asli Daerah tahun 2007-2017 dapat dilihat pada tabel 4.5 dan diagram 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4. 1

Persentase PAD Kabupaten Banyumas Tahun 2007-2017 Tahun

Anggaran PAD Persentase (%)

2007 96.619.572.548,00 3%

2008 107.425.765.063,00 3%

2009 120.250.361.680,84 4%

2010 164.892.425.633,60 5%

2011 191.899.680.819,00 6%

2012 242.106.509.318,00 7%

2013 308.349.434.319,00 9%

2014 435.297.688.642,40 13%

2015 502.281.349.460,00 15%

2016 541.418.386.912,00 16%

2017 619.701.627.380,00 19%

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Gambar 4. 1

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Banyumas Tahun 2007-2017

1 (https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Banyumas) diakses tanggal 02 Agustus 2020 Jam 15.16

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Dari tabel 4.4 dan gambar 4.4 diatas dapat dilihat bahwa tingkat pendapatan asli daerah Kabupaten Banyumas pada tahun 2007-20017 cenderung naik yaitu antara 3%-19%. Pada tahun 2007 hingga 2008 PAD Kabupaten Banyumas sebesar 3% dan merupakan penerimaan terendah selama kurun waktu 2007-2017, sedangkan pada tahun 2009 mengalami kenaikan menjadi 4%, kemudian 2010 mengalami kenaikan kembali menjadi 5%, pada tahun 2011 mengalami kenaikan menjadi 6%, pada tahun 2012 mengalami kenaikan menjadi 7%, pada tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi 9%, pada tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi 13%, pada tahun 2015 mengalami kenaikan 15%, pada tahun 2016 mengalami kenaikan 16% dan untuk tahun 2017 juga mengalami kenaikan sekaligus menjadi penerimaan tertinggi yakni 19%. Dengan melihat kenaikan setiap tahunnya, hal yang menunjukan bahwa PAD Kabupaten Banyumas sangat baik.

b. Penerimaan Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak Hiburan Terhadap Pendapatan Asli Daerah

Penerimaan pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan terhadap PAD Kabupaten Banyumas, berikut ini merupakan tabel dan diagram realisasi penerimaan pajak hotel, pajak restora, pajak hiburan dan PAD :

Tabel 4. 2

Penerimaan Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak Hiburan Terhadap PAD Tahun 2007-2017

sumber: Data Primer yang diolah 2020

14% 842,868,064.00 15% 206,204,350.

00

6% 1,932,561,611.00 5% 96,619,572,5 48.00

2008 990,766, 652.00

12% 958,180,032.00 14% 214,064,100.

00

4% 2,163,010,784.00 12% 107,425,765, 063.00

2009 1,338,14 8,544.00

35% 1,107,300,817.00 16% 253,177,950.

00

18% 2,698,627,311.00 25% 120,250,361, 680.84

2010 2,236,77 5,860.00

67% 1,308,309,200.00 18% 510,596,042.

00

102% 4,055,681,102.00 50% 164,892,425, 633.60

2011 2,366,98 7,292.00

6% 1,360,435,776.00 4% 762,438,877.

00

49% 4,489,861,945.00 11% 191,899,680, 819.00

2012 2,421,21 9,638.00

2% 1,476,463,381.00 9% 932,632,277.

00

22% 4,830,315,296.00 8% 242,106,509, 318.00

2013 3,814,32 5,446.00

58% 1,881,900,698.00 27% 1,380,340,40 3.00

48% 7,076,566,547.00 47% 308,349,434, 319.00

2014 4,772,10 0,218.00

25% 2,251,463,454.00 20% 1,542,861,12 0.00

12% 8,566,424,792.00 21% 435,297,688, 642.40

2015 6,025,20 1,413.00

26% 3,558,799,541.00 58% 1,637,881,56 7.00

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Dari tabel 4.5, diatas dapat dilihat bahwa pajak hotel menyumbang pendapatan asli daerah Kabupaten Banyumas tertinggi pada tahun 2010 persentase sebesar 67% dan terendah pada tahun 2012 dengan persentase sebesar 2%, pajak restoran menyumbang pendapatan asli daerah Kabupaten Banyumas tertinggi pada tahun 2016 dengan persentase sebesar 109% dan terendah pada tahun 2011 dengan persentase sebesar 4%, pajak hiburan menyumbang pendapatan asli daerah Kabupaten Banyumas tertinggi pada tahun 2010 dengan persentase sebesar 102% dan terendah pada tahun 2008 dengan persentase sebesar 4%, sedangkan pendapatan pariwisata tertinggi pada

tahun 2017 dengan persentase sebesar 53% dan terendah pada tahun 2007 dengan persentase sebesar 5% hal ini menjunjukan ada naik turunnya pendapatan asli daerah.

Gambar 4. 2

Penerimaan Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak Hiburan Terhadap PAD Tahun 2007-2017

sumber: Data Primer yang diolah 2020

c. Pajak Hotel

Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel. Hotel menurut Kurniawan adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/istirahat, memperoleh pelayanan, dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu, dikelola, dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran. Jasa penunjang sebagaimana dimaksud sebelumnya adalah fasilitas telepon, faksimile, teleks, internet, fotokopi, pelayanan cuci, seterika, transportasi, dan fasilitas sejenis lainnya yang disediakan atau dikelola hotel. Penerimaan pajak hotel tahun 2007-2017 dapat dilihat pada tabel 4.2 dan Diagram 4.1 sebagai berikut:

Tabel 4. 3

Persentase Pajak Hotel Kabupaten Banyumas Tahun 2007-2017 Tahun

Anggaran Pajak Hotel Persentase (%)

2007 883.489.197,00 2%

2008 990.766.652,00 3%

2009 1.338.148.544,00 3%

2010 2.236.775.860,00 6%

2011 2.366.987.292,00 6%

2012 2.421.219.638,00 6%

2013 3.814.325.446,00 10%

2014 4.772.100.218,00 12%

2015 6.025.201.413,00 15%

2016 6.864.568.010,00 17%

2017 7.708.131.245,00 20%

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Gambar 4. 3

Pajak Hotel Kabupaten Banyumas Tahun 2007-2017

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Dari tabel 4.1 dan Gambar 4.1 diatas dapat dilihat bahwa tingkat penerimaan pajak hotel Kabupaten Banyumas pada tahun 2007-20017 cenderung naik yaitu antara 2%-20%. Pada tahun 2007 penerimaan pajak hotel Kabupaten Banyumas sebesar 2% dan merupakan penerimaan terendah selama kurun waktu 2007-2017, sedangkan pada tahun 2008 hingga 2009 mengalami kenaikan menjadi 3%, kemudian 2010 hingga 2012 mengalami kenaikan kembali menjadi 6%, pada tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi 10%, pada tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi 12%, pada tahun 2015 mengalami kenaikan menjadi 15%, pada tahun 2016 mengalami kenaikan menjadi 17%, dan untuk tahun 2017 juga mengalami kenaikan sekaligus menjadi penerimaan tertinggi yakni 20%. Dengan melihat kenaikan

setiap tahunnya, hal yang menunjukan bahwa kinerja dalam pemungutan pajak hotel Kabupaten Banyumas sangat baik.

d. Pajak Restoran

Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh restoran. Sebagai mana yang dimaksud dalam peraturan daerah tersebut, yang dimaksud restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa boga/catering. Penerimaan pajak restoran tahun 2007-2017 dapat dilihat pada tabel 4.3 dan diagram 4.3 sebagai berikut:

Tabel 4. 4

Persentase Pajak Restoran Kabupaten Banyumas Tahun 2007-2017 Tahun

Anggaran Pajak Restoran Persentase (%)

2007 842.868.064,00 2%

2008 958.180.032,00 3%

2009 1.107.300.817,00 3%

2010 1.308.309.200,00 4%

2011 1.360.435.776,00 4%

2012 1.476.463.381,00 4%

2013 1.881.900.698,00 5%

2014 2.251.463.454,00 6%

2015 3.558.799.541,00 10%

2016 7.430.280.178,00 21%

2017 13.247.370.568,00 37%

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Gambar 4. 4

Restoran Kabupaten Banyumas Tahun 2007-2017

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Dari tabel 4.2 dan gambar 4.2 diatas dapat dilihat bahwa tingkat penerimaan pajak restoran Kabupaten Banyumas pada tahun 2007-20017 cenderung naik yaitu antara 2%-37%. Pada tahun 2007 penerimaan pajak hotel Kabupaten Banyumas sebesar 2% dan merupakan penerimaan terendah selama kurun waktu 2007-2017, sedangkan pada tahun 2008 hingga 2009 mengalami kenaikan menjadi 3%, kemudian 2010 hingga 2012 mengalami kenaikan kembali menjadi 4%, pada tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi 5%, pada tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi 6%, pada tahun 2015 mengalami kenaikan menjadi 10%, pada tahun 2016 mengalami kenaikan menjadi 21%, dan untuk tahun 2017 juga mengalami kenaikan sekaligus menjadi penerimaan tertinggi yakni 37%. Dengan melihat kenaikan setiap tahunnya, hal yang menunjukan bahwa kinerja dalam pemungutan pajak restoran Kabupaten Banyumas sangat baik.

e. Pajak Hiburan

Pajak Hiburan dipungut atas penyelenggaraan hiburan. Hiburan yang dimaksud adalah tontonan film; pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana; kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya; pameran;

karaoke, klab malam, dan sejenisnya; sirkus, akrobat, dan sulap;

permainan bilyar, golf, dan boling; pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan; panti pijat, refleksi, mandi uap, spa, dan pusat kebugaran (fitsness center); pertandingan olahraga. Penerimaan pajak hiburan tahun 2007-2017 dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut:

Tabel 4. 5

Persentase Pajak Hiburan Kabupaten Banyumas Tahun 2007-2017 Tahun

Anggaran Pajak Hiburan Persentase (%)

2007 206.204.350,00 2%

2008 214.064.100,00 2%

2009 253.177.950,00 2%

2010 510.596.042,00 4%

2011 762.438.877,00 6%

2012 932.632.277,00 7%

2013 1.380.340.403,00 10%

2014 1.542.861.120,00 12%

2015 1.637.881.567,00 12%

2016 1.933.326.583,00 15%

2017 3.834.450.766,00 29%

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Gambar 4. 5

Persentase Pajak Hiburan Kabupaten Banyumas Tahun 2007-2017

sumber: Data Primer yang diolah 2020

Dari tabel 4.3 dan gambar 4.3 diatas dapat dilihat bahwa tingkat penerimaan pajak hiburan Kabupaten Banyumas pada tahun 2007-20017 cenderung naik yaitu antara 2%-29%. Pada tahun 2007 hingga 2009 penerimaan pajak hotel Kabupaten Banyumas sebesar 2% dan merupakan penerimaan terendah selama kurun waktu 2007-2017, sedangkan pada tahun 2010 mengalami kenaikan menjadi 4%, kemudian 2011 mengalami kenaikan kembali menjadi 6%, pada tahun 2012 mengalami kenaikan menjadi 7%, pada tahun 2013 mengalami kenaikan menjadi 10%, pada tahun 2015 hingga tahun 2016 mengalami kenaikan menjadi 15%, dan untuk tahun 2017 juga mengalami kenaikan sekaligus menjadi penerimaan tertinggi yakni 29%. Dengan melihat kenaikan setiap tahunnya, hal yang menunjukan bahwa kinerja dalam pemungutan pajak hiburan Kabupaten Banyumas sangat baik.

Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis 1. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas

Uji normalitas data merupakan uji prasyarat analisis yang dilakukan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak normal. Dalam penelitian ini untuk menguji normalitas data menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov dengan melihat jika nilai signifikansi >0,05 maka nilai residual berdistribusi normal dan jika nilai signifikansi <0,05 maka nilai residual tidak berdistribusi normal.

Bedasarkan hasil uji normalitas data menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4. 6

Hasil Uji Normalitas Data One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 11

Normal Parametersa,b Mean ,0000583

Std. Deviation 18511273443,0 4244000 Most Extreme Differences Absolute ,204

Positive ,126

Negative -,204

Test Statistic ,204

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Sumber: Data Primer yang diolah, 2020

Dari tablel 4.6 di atas, hasil uji normalitas data menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat signifikansi lebih besar dari 0,05 yaitu dengan nilai 0,200>0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal.

Selain itu, untuk melihat data berdistribusi normal atau tidak dapat juga menggunakan metode Normal Probability, yaitu dengan melihat kurva normal P-Plots. Data dikatakan normal jika titik-titik mengikuti atau mendekati garis diagonal, sedangkan jika titik-titik menyebar dan menjauhi garis diagonal maka data tersebut tidak normal.

Berikut ini hasil normalitas data menggunakan metode Normal Probability.

Gambar 4. 6

Hasil Uji Normalitas Data

Pada gambar 4.6 di atas terlihat bahawa grafik Normal Probabiliyy Plot menunjukan pola grafik yang normal. Hal ini dapat dilihat dari titik yang penyebarannya mengikuti atau mendekati garis diagonal. Oleh Karena itu, dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal dan model regresi dapat digunakan.

b. Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Uji multikolinearitas dapat dilihat dari dasar pengambilan keputusan dimana nilai tolerance dan Varian Inflation Factor (VIF). Jika nilai tolerance value >0,10 maka nilai tidak terjadi multikolinearitas, sedangkan VIF <10 maka tidak terjadi multikolinearitas. Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada tabel 4.7 sebagai berikut:

Tabel 4. 7

Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

PAJAK HOTEL ,145 6,874

PAJAK RESTORAN ,122 8,220

PAJAK HIBURAN ,063 15,899

Sumber: Data Primer yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel 4.7 hasil pengujian tersebut diatas diketahui bahwa nilai Tolerance >0,10 dan nilai Tolerance Pajak Hotel 0,145, Pajak Restoran 0,122, Pajak Hiburan 0,523. Sedangkan untuk nilai VIF masing-masing variabel independen <10 Pajak Hotel 6,874, Pajak Restoran 8,220, dan Pajak Hiburan 15,899 lebih besar dari nilai 10.

Artinya antara variabel pajak hotel dan pajak retoran tidak terjadi multikolinearitas atau tidak terjadi kemiripan yang mengakibatkan korelasi yang sangat kuat antara keduanya, dan untuk pajak hiburan terjadi multikolinearitas Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi yang sempurna antara variabel bebas (independen).

Sehingga model regresi ini ada dan tidak adanya gejala multikolinearitas.

c. Uji Heterokedastisitas

Uji Heteroskedasitistas untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Hasil uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini menggunakan uji Park. Dalam uji Park dapat diperoleh jika nilai signifikansi variabel independen >0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Sebaliknya, jika nilai signifikansi variable independen <0,05 maka terjadi heteroskedastisitas. Berikut adalah hasil dari uji heteroskisidasitas menggunakan uji Park dapat dilihat pada tabel 4.8 sebagai berikut

1 (Constant) 17166610830,280 5107739878,398 3,361 ,012

PAJAK HOTEL -3,097 2,882 -,672 -1,075 ,318

PAJAK RESTORAN -5,657 1,998 -1,935 -2,831 ,025

PAJAK HIBURAN 21,830 9,955 2,085 2,193 ,064 a. Dependent Variable: PAD

Sumber: Data Primer yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel 4.8 hasil dari pengujian heteroskesidasitas diketahui jika variabel bebas Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan menunjukkan nilai nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa semua variabel Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan bebas dari masalah heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1. Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dilakukan dengan uji Durbin- Watson (DW). Berikut adalah hasil dari pengujian uji Durbin Watson, dapat dilihat pada tabel 4.8 sebagai berikut:

a. Predictors: (Constant), PAJAK HIBURAN, PAJAK HOTEL, PAJAK RESTORAN b. Dependent Variable: PAD

Sumber: Data Primer yang diolah, 2020

Hasil uji autokolerasi dengan uji Durbin - Watson menunjukkan nilai sebesar 2.500 dan nilai du distribusi nilai tabel Durbin – Watso berdasarkan k(3) dan N (11) dengan signifikansi 0,05 yang menunjukkan du<dw< 4-du yaitu 1,9280 < 2,500>2.072. Dengan demikian menunjukkan bahwa model regresi dengan uji Durbin – Watson terdapat masalah autokolerasi.

2. Uji Hipotesis

a. Koefisien Determinasi (R2 ) dan Uji

Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel bebas dalam menerangkan variabel terkait.

Nilai determinasi ditentukan oleh nilai Adjusted R Square, nilai koefisien ini adalah antara 0 dan 1. Jika hasil lebih mendekati angka 0 berarti, kemampuan variabel-variabel independen amat terbatas, namun jika hasil mendekati angka 1 berarti variabel-variabel independen memberikan hamper semua informasi yang di butuhkan untuk memprediksi veriabel independen. Hasil koefisien determinasi disajikan dalam tabel di 4.10 bawah ini:

Tabel 4. 10

Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R

Square Std. Error of the Estimate

1 ,995a ,991 ,987 22125203614,33617

a. Predictors: (Constant), PAJAK HIBURAN, PAJAK HOTEL, PAJAK RESTORAN

b. Dependent Variable: PAD

Sumber: Data Primer yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa koefisien determinasi yang ditunjukkan dari Adjusted R-Square sebesar 0,987 hal ini berarti 98,7%. Hal ini menunjukan bahwa persentase sumbangan kontribusi variabel independen yang digunakan dalam model menjelaskan sebesar 98,7% variasi variabel dependen. Sedangkan sisanya sebesar 1,3% dikontribusii oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

b. Uji F

Menurut Ghozali, menyatakan bahwa nilai F merupakan pengujian bersama-sama variabel independen yang dilakukan untuk melihat variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Dasar pengambilan keputusannya adalah dengan menggunakan angka probalitas melihat signifikansi yaitu:

1) Apabila F hitung < F tabel atau probabilitas < 0,05, maka β tersebut tidak layak berada di model.

2) Apabila F hitung > F tabel atau probabilitas > 0,05, maka β tersebut layak berada di model.

Tabel 4. 11

b. Predictors: (Constant), PAJAK HIBURAN, PAJAK HOTEL, PAJAK RESTORAN

Sumber: Data Primer yang diolah, 2020

Pada tabel 4.11 hasil output diatas menunjukkan nilai F hitung sebesar 245,357 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti H0

ditolak dan H1 diterima. dan dapat dilihat pula dari F tabel dimana pengambil keputusannnya Fhitung>Ftabel dan rumus untuk mencari Ftabel

adalah Ftabel = (k;n-k) = 3;11-3= 3;8 = 4,07, maka artinya 4,07>0,5 yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Dari variabel pajak hotel, pejak restoran, dan pajak hiburan secara bersama dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiga variabel tersebut secara simultan berkontribusi terhadap PAD.

c. Uji Parsial (Uji-T)

Uji t-test dilakukan untuk melihat seberapa besar masing-masing variabel independen berkontribusi terhadap variabel dependen dengan tingkat signifikansi >0,05 Variabel yang signifikan ditunjukkan dengan nilai p-value yang kurang dari tingkat signifikansi. Dapat dilihat dari tabel 4.12 berikut ini:

1 (Constant) 19137241938,059 13397099001,581 1,428 ,196

PAJAK HOTEL 75,275 7,558 ,958 9,959 ,000

PAJAK RESTORAN -7,693 5,241 -,154 -1,468 ,186

PAJAK HIBURAN 32,162 26,112 ,180 1,232 ,258

a. Dependent Variable: PAD

Sumber: Data Primer yang diolah, 2020

Berdasarkan tabel 4.12 terlihat bahwa kontribusi pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan secara parsial (sendiri-sendiri) terhadap PAD yaitu diperoleh thitung untuk pajak hotel sebesar 9,959 dengan signifikansinya 0,000 lebih kecil dari 0,05, dan dapat dilihat dari ttabel dengan rumus df=1-11 dan ttabel pajak hotel sebesar 1,81246 hal ini menunjukan thitung > ttabel. Maka dapat diambil kesimpulan Ho ditolak dan H1 di terima artinya pajak hotel berkontribusi signifikan terhadap PAD.

Diperoleh thitung untuk pajak restoran sebesar -1,468 dengan signifikansinya 0,186 lebih besar dari 0,05, dan dapat dilihat dari ttabel

dengan rumus df=1-11 dan ttabel pajak restoran sebesar 1,81246 hal ini menunjukan thitung < ttabel. Maka dapat diambil kesimpulan Ho di terima dan H1 di tolak artinya pajak restoran tidak berkontribusi secara signifikan terhadap PAD.

Diperoleh thitung untuk pajak hiburan sebesar 1,232 dengan signifikansinya 0,258 lebih besar dari 0,05, dan dapat dilihat dari ttabel

dengan rumus df=1-11 dan ttabel pajak hiburan sebesar 1,81246 hal ini menunjukan thitung < ttabel. Maka dapat diambil kesimpulan Ho di terima dan H1 di tolak artinya pajak hiburan tidak berkontribusi secara signifikan terhadap PAD.

3. Analisis Regresi Berganda

Berdasarkan hasil uji pada tabel 4.12 dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e

Y=19137241938,059 + 75,275X1+-7,693X2+32,162X3+e Penjelasan persamaan diatas sebagai berikut:

a. Nilai kostanta (a) sebesar 19.137.241.938,059; artinya jika pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan nilainya 0, maka pendapatan asli daerah nilainya sebesar 19.137.241.938,059.

b. Koefisien regresi pajak hotel (b1) sebesar 75,275; artinya jika pajak hotel mengalami kenaikan satu satuan, maka pendapatan asli daerah akan mengalami peningkatan sebesar 75,275 satuan asumsi variabel lainnya bernilai tetap.

c. Koefisien regresi pajak restoran (b2) sebesar -7,693; artinya jika pajak restoran mengalami penurunan satu satuan, maka pendapatan asli daerah akan mengalami kenaikan sebesar 7,693 satuan asumsi variabel lainnya bernilai tetap.

d. Koefisien regresi pajak hiburan (b3) sebesar 32,162; artinya jika pajak restoran mengalami penurunan satu satuan, maka pendapatan asli daerah akan mengalami kenaikan sebesar 32,162 satuan asumsi variabel lainnya bernilai tetap.

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukan bahwa data tentang penerimaan pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, dan pendapatan asli daerah Kabupaten Banyumas pada tahun 2007-20017 cenderung naik, dimana pajak hotel antara 2%-20%, pajak restoran antara 2%-37%, pajak hiburan antara 2%-29%, dan pendapatan asli daerah antara 3%-19%.

Berdasarkan hasil uji prasyarat diperoleh informasi uji normalitas data menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov signifikansi lebih besar dari 0,05 dan metode Normal Probability mengikuti atau mendekati garis diagonal maka data berdistribusi normal. Uji Multikolinearitas menunjukan nilai Tolerance Pajak Hotel 0,145, Pajak Restoran 0,122, Pajak Hiburan 0,523. dan nilai VIF Pajak Hotel 6,874, Pajak Restoran 8,220, dan Pajak Hiburan 15,899 maka tidak ada korelasi yang sempurna antara variabel bebas (independen). Hasil dari pengujian heteroskesidasitas Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan bebas dari masalah heteroskedastisitas. Dalam uji autokolerasi menunjukkan bahwa model regresi dengan uji Durbin – Watson terdapat masalah autokolerasi.

Dari Regresi Linier Berganda diperoleh jika pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan nilainya 0, maka pendapatan asli daerah nilainya sebesar

19.137.241.938,059. Jika pajak hotel mengalami kenaikan satu satuan, maka pendapatan asli daerah akan mengalami peningkatan sebesar 75,275 satuan asumsi variabel lainnya bernilai tetap. Jika pajak restoran mengalami penurunan satu satuan, maka pendapatan asli daerah akan mengalami kenaikan sebesar 7,693 satuan asumsi variabel lainnya bernilai tetap. Jika pajak restoran mengalami penurunan satu satuan, maka pendapatan asli daerah akan mengalami kenaikan sebesar 32,162 satuan asumsi variabel lainnya bernilai tetap.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil Uji Hipotesis X1 menyatakan bahwa pajak hotel berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah pemerintah Kabupaten Banyumas. Hal ini ditunjukkan berdasarkan Hasil uji t untuk variabel pajak hotel (X1) sebesar 9,959 dan nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari signifikansi 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima artinya pajak hotel berkontribusi secara signifikansi terhadap PAD. Maka semakin baik pajak hotel akan semakin tinggi pendapatan asli daerah, sebaliknya jika semakin rendah pajak hotel maka rendah pula terhadap pendapatan asli daerah.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Rista Anggraini (2017) yang menyatakan bahwa pajak hotel berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pajak Hotel sebagai salah satu sumber potensial dalam penerimaan daerah haruslah dikelola secara maksimal. Hal tersebut dikarenakan semakin tinggi penerimaan Pajak Hotel maka semakin tinggi pula pencapaian Pajak Daerah, di mana meningkatnya Pajak Daerah juga akan berdampak pada meningkatnya Pendapatan Asli Daerah karena salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah adalah Pajak Daerah. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pajak hotel dapat mempengaruhi peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Semakin tinggi pajak hotel yang diterima maka semakin tinggi pula Pendapatan Asli Daerah.

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Rista Anggraini (2017) yang menyatakan bahwa pajak hotel berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pajak Hotel sebagai salah satu sumber potensial dalam penerimaan daerah haruslah dikelola secara maksimal. Hal tersebut dikarenakan semakin tinggi penerimaan Pajak Hotel maka semakin tinggi pula pencapaian Pajak Daerah, di mana meningkatnya Pajak Daerah juga akan berdampak pada meningkatnya Pendapatan Asli Daerah karena salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah adalah Pajak Daerah. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa pajak hotel dapat mempengaruhi peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Semakin tinggi pajak hotel yang diterima maka semakin tinggi pula Pendapatan Asli Daerah.

Dokumen terkait