• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Gambaran Umum Iklan Victoria Perfume Body Scent versi “We Are The

4.4.1 Pakaian

Gambar 4.1 Pakaian Satu

Tanda dalam gambar 4.1 ini berupa pakaian yang terdiri dari atasan dan bawahan. Dari kiri ke kanan : Pakaian atasan berupa rompi pendek yang menutupi pundak berbahan satin warna hitam dan kemben satin yang melekat ketat pada dada dan perut dengan ujung berpotongan segitiga dibagian pinggang. Pakaian bawahan merupakan berupa celana pendek ketat dibagian paha berbahan satin warna hitam, dengan hiasan sabuk besar berwarna kuning terang yang juga berbahan mengkilat satin.

Pakaian atasan yang kedua berupa bolero pendek tanpa lengan sepanjang tulang rusuk yakni dibawah dada dan berwarna hitam dengan garis kuning

dikedua sisi dada serta berkrah tinggi menutupi leher. Pada bagian perut terdapat kain transparan hingga memperlihatkan lekukan tubuh dan pusar. Terdapat resleting berwarna kuning terang yang di kancingkan sebatas setengah dada. Pada bagian bahu terdapat aksesoris berupa pangkat berwarna kuning dengan dihiasi rantai pendek melingkari pangkat, ditengahnya terdapat hiasan bros berwarna silver dan hitam berbentuk bulat. Pakaian bawah berupa celana panjang berbahan satin warna hitam yang melekat ketat di bagian kaki, dengan potongan celana turun pinggul/hipster. Pada bagian depan celana terdapat resleting dan sabuk ukuran mini berwarna kuning.

Pakaian atasan ketiga berupa terusan rok mini ketat sepanjang paha atas dan berbahan satin warna hitam, pakaian ini tidak berkrah, melainkan berpotongan miring horizontal dari bahu kiri ke kanan. Pada lengan kiri terdapat potongan lengan sepanjang pergelangan siku yang berkerut di sepanjang bagian depan lengan atas. Terdapat aksesoris rantai berwarna biru yang menggantung dari bahu kiri hingga daerah kanan pinggang.

Pakaian atasan keempat berupa terusan rok mini ketat sepanjang paha bagian atas dan berbahan satin warna hitam. Pakaian ini berkerah U-Neck tanpa lengan. Pada bagian bawah dada terdapat korset yang digunakan pada bagian luar lapisan pakaian pertama berwarna satin ungu. Korset ini menyangga bagian dada, di bagian sisi dada terdapat cantolan/tali untuk mengait bagian depan dan belakang korset.

Pakaian atasan kelima berupa pakaian berbahan satin warna hitam potongan pendek dibawah dada yang ketat. Pakaian ini tanpa berkerah dan satu lengan.

Pada bagian bahu kanan potongan atasan miring horizontal tidak memperlihatkan kulit dada sedangkan dibagian bahu dan dada kiri terbuka hingga diatas payudara. Terdapat aksesoris kain berwarna biru berbentuk oval dikelilingi oleh rantai biru pendek. Pakaian bawahannya berupa celana pendek mini melekat ketat pada sepanjang paha bagian atas dan berpotongan dibawah pinggul/hipster. Terdapat resleting dibagian depan celana, dengan resleting dibuka setengah dan memperlihatkan sebagian celana dalam berwarna biru mengkilat berbahan satin. Pada bagian kaki terdapat stoking transparan warna hitam.

Pakaian keenam berupa atasan double, yakni terusan ketat rok mini sepaha dengan berbahan satin berwarna hitam dan rompi pendek ketat berlengan pendek hingga siku. Pada terusan rok mini berbentuk U-Neck diatas dada. Pada bagian kaki terdapat stoking transparan warna hitam.

Tabel 4.1 Tanda Pakaian 1 sebagai makna simbol representasi sensualitas dengan analisis Roland Barthes

Tatanan Pertama Penanda dan Petanda Tatanan Kedua

Denotasi Konotasi

Denotasi

Pakaian

informal berupa terusan rok, celana celana panjang , rok mini maupun panjang tanpa / singlet, dan kain transparan Signifier (Penanda) Pakaian informal berupa terusan rok, celana celana panjang , rok mini maupun panjang tanpa / singlet, dan kain transparan Signifier (Penanda) Pakaian informal berupa terusan rok, celana celana panjang , rok mini maupun panjang tanpa / singlet, dan kain transparan

Konotasi

Pakaian mini dan berbahan satin ketat dapat digunakan perempuan sebagai penarik perhatian serta nafsu pria

Signified (Petanda) Pakaian untuk hang-out Signified (Petanda) Pakaian untuk hang-out Mitos Simbol pengeksposan sensualitas tubuh

Pada tanda (sign) pakaian 1, penanda (signifier) gambar di atas berupa Pakaian informal berupa reusan rok, celana celana panjang , rok mini maupun panjang tanpa / singlet, dan kain transparan. Petanda dari pakaian dengan potongan mini baik rok maupun celana dan atasan berbahan satin adalah pakaian untuk hang-out. Makna denotatif pada pakaian 1 adalah Pakaian informal berupa terusan rok, celana celana panjang , rok mini maupun panjang tanpa / singlet, dan kain transparan digunakan untuk hang-out. Makna konotatifnya dapat diartikan pakaian mini dan berbahan satin ketat dapat digunakan perempuan sebagai penarik perhatian serta nafsu pria.

Pakaian yang menjadi salah satu prioritas dalam kehidupan sehari-hari telah menjadi sebuah kultur dari kehidupan manusia yang tak dapat dipisahkan. Pada budaya Jawa Sunda, pemilihan warna hitam biasanya dipilih untuk menjadi warna pakaian pengantin yang berarti keanggunan dan klasik. Namun dengan seiringnya imperialisme budaya Barat maka pemaknaan warna budayapun menjadi tergeser. Warna-warna yang dominan gelap khususnya hitam dipilih untuk memperkuat tampilan sensualitas seseorang. Warna hitam dapat berarti kekuatan, misteri, klasik dan elegan, formalitas, seksualitas, kecanggihan, keanggunan, kekayaan, ketakutan, kesedihan, sesuatu yang abadi, dan secara universal dianggap sebagai warna yang melangsingkan.

Budaya barat dapat memberi dampak pengaruh yang kuat pada pergeseran budaya asli negara asal dan kultur ini pun memasuki ranah fashion. Dengan membuat budaya barat khususnya fashion lebih nampak, kapitalisme membuatnya possible atau memungkinkan bagi pribumi asli untuk pantas mencoba sedikit

kultur alternatif ini dan menciptakan kultur baru. Kultur yang diubah menjadi sesuatu yang baru itulah yang kemudian menjadi sesuatu tren baru yang lebih fleksibel dan lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat dengan penggabungan antara dua unsur yang serupa tapi tak sama hingga tercipta kultur baru, meskipun efek sampingnya dapat sedikit mengaburkan kejelasan kultur aslinya.

Pakaian atasan gambar 4.1 didominasi oleh atasan dan bawahan yang berpotongan rendah dan ketat dengan mengekspose tubuh bagian dada, perut, dan betis hingga paha bagian dalam, Desain pakaian dibuat seerotis dan sesensual mungkin dengan bentuk pakaian yang dapat memperlihatkan banyak bagian tubuh, ukuran pakaian yang cenderung ketat di badan ditujukan untuk menampilkan siluet bentuk lekuk tubuh.

Pengunaan korset pada bagian luar untuk membentuk pinggang ramping perut rata badan tegak, berfungsi agar dapat memperlihatkan bentuk pinggang yang kecil. Sensualitas terlihat dari daya pesona korset itu, kepercayaan dan pemujaan pada pinggang ramping, semakin ramping semakin indah tubuhnya, mengakibatkan banyak wanita menjadi korban kesehatan dari penggunaan korset ini seperti sesak susah bernapas dan tidak leluasa. Kemudian pada rancangan pakaian dalam ketat berbahan satin hitam tanpa lengan itu juga tidak lagi sekedar menutupi bagian vital perempuan yakni payudar serta perut tapi menjadi alat kamuflase bentuk tubuh untuk mencapai bentuk yang ideal

Kain pelapis hitam transparan tidak memperlihatkan seksualitas tubuh secara langsung karena tubuh mayoritas tertutup pakaian, namun pengeksposan tubuh yang dapat mensensualkan tubuh perempuan terlihat secara langsung pada

bagian perut dengan dukungan warna hitam yang melambangkan misteri, kekuatan, klasik dan elegan, formalitas, seksualitas dan keanggunan.

Pakaian dengan potongan rendah yang memperlihatkan tubuh bagian dada, perut serta paha bagian dalam menampilkan sisi erotis tubuh ditunjang dengan dance koreo yang meliuk-liuk. Pada pakaian yang bagian dadanya tertutup, namun dengan ukuran pakaian yang ketat dan tidak terlalu panjang (tidak sampai menutupi paha) membuat pakaian yang dikenakan ketika menari sedikit terangkat dan menggelitik rasa penasaran bagaimana jika bajunya tersingkap hingga paha dalam terlihat, bagaimanapun juga hal ini tetap dapat menampilkan sisi sensual si model, meskipun bagian tubuhnya tidak terlihat secara langsung. Secara keseluruhan, gaya sensual nan seksi lah yang mereka tampilkan melalui pakaian-pakaian dengan desain yang unik dan sensual.

Gaya berpakaian Indonesia yang dulunya menjunjung tinggi norma kesopanan telah berubah mengikuti perkembangan jaman. Ada kecenderungan bagi perempuan di kota-kota besar memakai pakaian minim dan ketat yang memamerkan bagian tubuh tertentu. Pakaian mini dan ketat telah menjadi trend dilingkungan anak muda. Dulu, pakaian yang memperlihatkan bagian-bagian tubuh tertentu seperti, perut, paha, dada dianggap tabu dalam masyarakat Indonesia khususnya Jawa. Pakaian mini dan ketat cenderung pada stereotype masyarakat jawa sebagai pakaian yang senonoh, tidak sopan dan hanya dipakai oleh penjaja seksual yang dianggap mempunyai level status rendah dari rakyat biasa. Walaupun dulu terdapat penggunaan pakaian ketat, pakaian ketatpun sarat dengan fungsi awal pakaian. Contohnya penggunaan kemben pada pakaian

tradisional Jawa yang berfungsi sebagai penutup aurat serta belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin, serta memakai stagen sekuat

mungkin agar tidak mudah lepas

(http://njowo.wikia.com/wiki/Busana_Tradisional_Jawa-Solo). Namun dengan adanya imperialisme budaya Barat penggunaan kemben beralih menjadi pengumbar zona erotis perempuan.

Gambar 4.2 Pakaian Dua

Tanda dalam gambar 4.2 ini berupa pakaian yang terdiri dari atasan dan bawahan. Dari kiri ke kanan: pakaian atasan pertama adalah pakaian terusan mini

atasan kedua,berupa jas panjang hingga sepinggul. Mempunyai lengan panjang dan berkerah V (V-Neck) rendah hingga terlihat belahan payudara, berwarna putih dan berbahan satin ketat. Pada bagian depan baju terdapat kancing berderet miring horizontal dari kiri ke kanan. Pada bawahan, merupakan celana berukuran mini/pendek, hanya menutupi pantat dan paha bagian dalam.

Pakaian atasan ketiga berupa tank-top ketat dengan memperlihatkan belahan payudara, berbahan satin dan berwarna putih. Panjang atasan sebatas setengah perut bagian atas hingga terlihat bagian pusar, tak berkerah dan tak berlengan. Pada bawahan, berupa rok mini ketat dengan panjang menutupi pantat dan paha bagian dalam serta berbahan satin.

Pakaian atasan keempat, terdapat dua lapis atasan yakni berupa jas dan rompi warna putih dari kain satin. Rompi berlengan hingga siku, dengan kerah notched, tak berkancing dan ditata terbuka untuk memperlihatkan atasan kedua. Lapisan atasan kedua erupa rompi berkerah V (V-Neck) hingga memperlihatkan belahan payudara. Bagian depan rompi terdapat kancing deretan horizontal. Rompi berukuran mini yang menutupi hanya bagian payudara dan memperlihatkan bagian perut serta pusar. Pakaian bawahan berupa celana pendek yang menutupi bagian pantat dan paha bagian dalam saja. Berwarna putih dan berbahan satin mengkilap. Bagian depan celana terdapat resleting dan kancing.

Pakaian atasan kelima berupa kemeja pendek, berlengan kecil yang hanya menutupi ketiak, berkerah U (U-Neck), panjang atasan hingga bagian payudara bawah sehingga memperlihatkan perut dan pusar model. Pada bagian depan terdapat kancing berderet horizontal. Pakaian bawahan berupa celana pendek mini

ketat berpotongan dibawah pinggul, terdapat resleting dibagian depan. Pakaian dan bawahan berwarna putih dan berbahan satin.

Pakaian keeenam terdiri dari dua lapis atasan. Lapisan pertama berupa tank-top panjang hingga pinggang namun ketat, lapisan pertama berupa jas dengan kerah berbentuk peaked, berkancing dibagian depan, serta berlengan hingga siku. Pakaian bawahan berupa celana mini ketat yang menutupi pantat dan paha bagian dalam, mempunyai resleting didepan. Pakaian atasan dan bawahan berwarna putih dan berbahan satin ketat.

Tabel 4.2 Tanda Pakaian 1 sebagai makna simbol representasi sensualitas dengan analisis Roland Barthes

Tatanan Pertama Penanda dan Petanda Tatanan Kedua

Denotasi Konotasi

Denotasi

Pakaian dengan potongan mini baik rok maupun celana

dan atasan berbahan satin digunakan untuk hang-out Signifier (Penanda) Pakaian dengan potongan mini baik rok maupun celana dan atasan berbahan satin Signifier (Penanda) Pakaian dengan potongan mini baik rok maupun celana dan atasan berbahan satin Konotasi

Pakaian mini dan berbahan satin ketat dapat digunakan perempuan sebagai penarik perhatian serta nafsu pria

Signified (Petanda) Pakaian untuk hang-out Signified (Petanda) Pakaian untuk hang-out Mitos Simbol pengeksposan sensualitas tubuh

Pada tanda (sign) pakaian 1, penanda (signifier) gambar di atas berupa pakaian dengan potongan mini baik rok maupun celana dan atasan berbahan satin. Petanda dari pakaian dengan potongan mini baik rok maupun celana dan atasan berbahan satin adalah pakaian untuk hang-out. Makna denotatif pada pakaian 1 adalah pakaian dengan potongan mini baik rok maupun celana dan atasan

berbahan satin yang biasanya digunakan untuk hang-out. Makna konotatifnya dapat diartikan pakaian mini dan berbahan satin ketat dapat digunakan perempuan sebagai penarik perhatian serta nafsu pria.

Warna putih menunjukkan kedamaian, spiritualitas, kedewaan, keperawanan atau kesucian, kesederhanaan, kebersihan, tak bersalah atau innocent, kesempurnaan, keamanan, cahaya, persatuan, terang dan murni. Warna putih menekankan pada kesederhanaan dan kebersihan meskipun warna putih juga dapat melambangkan perkawinan dan kematian. Pada adat jawa Yogyakarta, warna putih melambangkan adanya kedukaan dan kematian. Warna putih juga

dipercaya dapat memberikan ilusi kulit terlihat lebih putih. (http://selebonline.com/8-trik-riasan-sensual-model-victorias-secret/)

Pada abad pertengahan, warna baju dan jenis bahannya digunakan sebagai penanda status sosial seseorang. Hanya kaum kerajaan dan bangsawan saja yang bisa menggunakan bahan sutera, satin, beludru dan renda, serta menggunakan warna-warna yang “grandeur” dan indah seperti emas, ungu dan biru. Kenapa? Karena pada masa itu, teknik penganyaman benang, teknik ekstraksi zat pewarna kain dan proses pewarnaan kain dilakukan dengan mengandalkan ketrampilan manual. Plus, bahan-bahan yang digunakan pun tergolong sulit diperoleh sehingga kain-kain indah tersebut tidak dapat diproduksi secara massal. Sedangkan untuk kalangan rakyat biasa, biasanya hanya menggunakan pakaian berwarna putih.

Untuk budaya barat, warna putih dan satin baru menjadi tren pada saat Ratu Victoria mengenakan gaun pengantin putih saat menikah dengan Pangeran Albert of Saxe-Coburg tahun 1840. Putih menjadi warna privilege para pengantin wanita

untuk tampil-beda dan anggun di hari pernikahannya. Namun sekarang banyak juga pengantin yang memilih warna selain putih untuk baju pengantinnya. Sebab bukan hanya gaun pengantin modern ala barat saja yang memakai Putih sebagai “warna resmi”; di beberapa negara, baju pernikahan bernuansa adat seperti kebaya, baju kurung, kimono dan cheongsam turut mengadopsi warna putih, oleh karena makna kesucian yang dibawanya.

Satin adalah jenis kain yang ditenun dengan ciri khas memiliki permukaan yang halus dan mengkilat. Satin banyak digemari karena kelembutan dan kilauannya yang terkesan glamour dan seksi. Banyak wanita memakai pakaian dari satin, baik sebagai bahan untuk gaun maupun blus/kemeja untuk menonjolkan sisi glamour dan sensualitasnya. Satin juga banyak digunakan sebagai bahan untuk pakaian tidur (piyama atau kimono/robe) karena lembut.

Bagi sebagian orang, pakaian satin dianggap kurang cocok dikenakan karena sifat kain yang kurang mampu menyerap hawa panas dan keringat, terutama bagi mereka yang secara genetik lebih banyak berkeringat. Namun bagi penggila satin (satin fetish), satin cocok dikenakan pada kondisi apa saja, terutama untuk menarik perhatian dan gairah lawan jenis. Kilau satin dipercaya mampu membawa mereka ke "alam fantasi" dibanding bahan dari kain biasa. Satin yang mengkilat memang enak dilihat dan diraba.

Pakaian biasanya berhubungan dengan status sosial, contohnya dalam dunia pekerja malam atau wanita penghibur, pakaian yang mereka kenakan biasanya lebih terlihat seksi dan menunjukkan keseksian. Mereka menggunakan pakaian dengan cara yang cenderung berbeda dengan pakaian yang biasanya dikenakan

oleh pekerja kantoran. Pakaian mereka lebih tighter fitting atau ketat di badan, desainnya dibentuk seerotis dan sesensual mungkin. Seperti yang terlihat pada gambar 4.2, pakaian yang digunakan ketat dari atas hingga bawah dengan atasan bagian depan terbuka dan memperlihatkan banyak bagian tubuh.

Atasan tank-top atau tanpa lengan, menutup tubuh bagian payudara namun lebih mengekspose pada bagian lengan, bahu dan perut. Bahu wanita yang sempit dan mulus melambangkan kelembut dan kesensualitas-an wanita. Bagian perut terlihat dari siluet lekuk tubuh dari ukuran pakaian yang ketat di badan. Pakaian tank-top dan terusan tanpa lengan berwarna putih melambangkan kedamaian, kesucian, kebersihan dan kesempurnaan.

Pakaian dengan model, bahan dan warna seperti ini memiliki kesan santai dan fleksibel, meskipun mempunyai arti yang berbeda dalam hal warna, namun memiliki tujuan yang sama dengan bentuk pakaian yang menseksualkan, mengerotiskan, mengekspose dan memuja tubuh perempuan, terlihat dengan beberapa bagian tubuh yang tidak tertutup oleh pakaian dan bentuk tubuh yang terlihat meskipun secara tidak langsung melalui ukuran pakaian yang ketat di badan.

Dokumen terkait