a. Membantu penyerbukan tanaman, misalnya Euploea callithoe dan Papilio iswara
KET Pagi Siang
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Pakan Kupu-Kupu
Selain pengamatan berbagai jenis kupu-kupu, pengamatan lain yang dilakukan di Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda adalah mengamati jenis-jenis tanaman yang menjadi pakan yaitu tanaman yang sering dihinggapi oleh kupu-kupu. Pada saat pengamatan, ada 6 jenis tanaman yang dijumpai sedang dihinggapi oleh berbagai jenis kupu-kupu, lebih jelasnya mengenai pakan kupu-kupu tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Tanaman Pakan Kupu-Kupu Di Arboretum
NO. NAMA PAKAN
1. Anystasia intrusa
2. Karamunting (Melastoma malabathricum) 3. Putri malu (Mimosa pudica)
4. Buah Gmelina (Gmelina arborea) yang telah membusuk di lantai hutan 5. Kirinyuh (Eupatorium inulifolium)
Deskripsi singkat mengenai pakan kupu-kupu yang dijumpai saat pengamatan di lapangan adalah sebagai berikut.
a) Asystasia intrusa
Dalam dunia tumbuhan Asystasia intrusa (Forssk.) Blume termasuk ke dalam famili Acanthaceae, genus Asystasia. Ada juga jenis yang lain yaitu Asystasia coromandeliana Nees var. micranth. Asal tumbuhan ini dari Afrika. Asystasia intrusa merupakan gulma penting di perkebunan (Junita, 2008).
Asystasia intrusa merupakan tanaman herba yang tumbuh cepat dan mudah berkembangbiak. Berbatang lunak, dapat tumbuh dalam keadaan yang kurang baik. Daun berhadapan, sering berpasangan, berbentuk bulat panjang, pangkal bulat dan bertangkai. Bunga mengelompok, banyak, sedikit berbunga tunggal, berwarna putih atau ungu, kelopak bunga menutupi ovari. Buah kapsul, 2-3 cm panjangnya, berbiji 4 atau kurang dalam buah kapsul (Anonim, 2006 dalam Junita, 2008).
Asystasia intrusa subsp. micrantha dapat ditemukan di daerah sampai 500 m di atas permukaan laut. Dapat tumbuh baik pada daerah ternaungi ataupun pada daerah terbuka. Pada daerah ternaungi seperti pada perkebunan kelapa sawit dan karet banyak menghasilkan daun dan menghasilkan lebih organ vegetatif. Merupakan rumput liar subur dan kompetitif dan membutuhkan unsur hara tinggi terutama N dan P. Menghasilkan biji dengan baik dengan viabilitas mencapai 85%, yang dapat bertahan sampai 8 bulan di dalam tanah. Pada kondisi alami biji dapat berkecambah pada 30 hari setelah pecah, dan 10 minggu setelah perkecambahan dapat tumbuh dengan cepat, kemudian menghasilkan buah
polong dan biji setelah 8 bulan atau lebih (Anonim, 2008 dalam Junita, 2008).
Bila biji-biji Asystasia intrusa sudah berkecambah dan mulai muncul maka akan terdapat populasi gulma tertentu dalam suatu lahan.dan gulma tersebut juga akan menyita hampir semua cadangan yang dapat mendukung pertumbuhan di lahan tersebut bila penyiangan tidak tepat pada saat periode kritis. Dan bila penyiangan tidak dilakukan pada saatnya, maka hasil panen akan berkurang akibat persaingan dengan gulma tersebut. Lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 25 di bawah ini.
Gambar 25. Asystasia intrusa
(2011c) jenis tanaman ini dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae Order : Lamiales Family : Acanthaceae Genus : Asystasia Species : Asystasia intrusa
b) Karamunting (Melastoma malabathricum)
Karamunting (Melastoma malabathricum) adalah tumbuhan yang tumbuh liar pada tempat yang mendapat sinar matahari yang cukup, seperti di lereng gunung, semak belukar dan lapangan yang tidak terlalu gersang. Tumbuhan ini biasanya ditemukan sampai pada ketinggian 1.650 m dpl.
Ciri-ciri termasuk dalam kelompok perdu, daun tunggal, bangun elips memanjang sampai lonjong, duduk daun berhadapan bersilang, permukaan daun berambut bila diraba terasa kasar, pangkal daun membulat, tepi daun rata, ujung daun meruncing. Bunga termasuk bunga majemuk berwarna ungu kemerah-merahan, buahnya dapat dimakan mempunyai biji berukuran kecil. Komposisi sifat kimiawi dan efek farmakologis daun karamunting sangat pahit. Kandungan kimia daun karamunting mengandung saponin, flafonoida dan tannin (Silvester, 2007). Lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 26 di bawah ini.
Gambar 26. Melastoma malabathricum
Anonim (2011t), Karamunting (Melastoma malabathricum) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Ordo : Myrtal
Famili : Melastomataceae Genus : Melastoma
c) Putri Malu (Mimosa pudica)
Anonim (2011y), Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup atau layu dengan sendirinya saat disentuh. Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula.
Tumbuhan ini memiliki banyak sekali nama lain sesuai sifatnya tersebut, seperti makahiya (Filipina, berarti malu), mori vivi (Hindia Barat), nidikumba (Sinhala, berarti tidur), mate-loi (Tonga, berarti pura-pura mati). Namanya dalam bahasa Cina berarti rumput pemalu. Kata pudica sendiri dalam bahasa Latin berarti malu atau menciut, lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 27 di bawah ini.
Gambar 27. Mimosa pudica
Tanaman putri malu (Mimosa pudica) diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Fabales Famili : Fabaceae Genus : Mimosa Spesies : Mimosa pudica
d) Gmelina (Gmelina arborea)
Anonim (2011g), Gmelina arborea adalah suatu pohon yang cepat tumbuh (fast growing) dari famili Lamiaceae. Tumbuh pada tempat yang lembab dengan curah hujan berkisar antara 750-4500 mm. Tinggi pohon ini dapat mencapai 30 m. Musim berbunga antara bulan Pebruari sampai dengan bulan April, sedangkan buah dimulai dari bulan Mei sampai dengan bulan Juni. Ukuran buah sekitar 2,5 cm, dengan warna hijau gelap dan menguning ketika matang, pohon Gmelina dapat dilihat pada Gambar 28 di bawah ini.
Gambar 28. Gmelina arborea
Pada saat pengamatan, ada 3 jenis kupu-kupu yaitu Mycalesis visala phamis, Melanitis leda lacrima dan Yphtima fasciata yang ditemukan sedang mengisap buah Gmelina yang telah membusuk di lantai hutan, lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 29 di bawah ini.
Gmelina arborea dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Angiospermae Kelas : Asterida Order : Lamiales Family : Lamiaceae Genus : Gmelina
Species : Gmelina arborea e) Kirinyuh (Eupatorium inulifolium )
Anonim (1980), Eupatorium inulifolium merupakan tanaman perdu yang bercabang banyak sehingga dapat dipergunakan untuk menutupi tanah di bawahnya. Bila dibiarkan tumbuh dengan bebas, dapat mencapai tinggi hingga 6 m. Daun tumbuh berhadapan pada dahannya, bentuk hampir mendekati bentuk segitiga dengan ujung sangat runcing. Kedua sisi daun merupakan kaki segitiga, bergerigi dengan gigi-gigi mirip gergaji. Lebih jelasnya, tanaman ini dapat dilihat pada Gambar 30 di bawah ini.
Gambar 30. Eupatorium inulifolium
Eupatorium inulifolium dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae Genus : Eupatorium
f) Jenis tanaman A (tidak teridentifikasi)
Jenis tanaman A atau tidak teridentifikasi pada saat pengamatan banyak dikunjungi kupu-kupu. Ciri-ciri tanaman ini yaitu daun bergerigi, buah berwarna hijau saat mentah dan berwarna merah kehitaman saat matang dan memiliki bunga berwarna putih. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 31 di bawah ini.
Gambar 31. Jenis tanaman A (tidak teridentifikasi) 3. Pengukuran Suhu dan Kelembapan
Data primer suhu dan kelembapan diambil setiap hari untuk mengetahui keadaan lingkungan di sekitar lokasi pengamatan dengan menggunakan Higrometer. Data harian suhu dan kelembapan dapat dilihat pada Lampiran 2.
Data sekunder suhu dan kelembapan diambil dari data BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) stasiun Temindung Samarinda. Data harian suhu dan kelembapan bulan April 2011 dan Mei 2011 dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 4. Kisaran suhu dan kelembapan data primer dan data sekunder dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.
Tabel 4. Kisaran Suhu dan Kelembapan
No. Faktor Lingkungan Data Primer Data Sekunder
Kisaran Kisaran
1. Suhu Udara (oC) 25 – 35 23,8 - 34
2. Kelembapan Udara (%) 55 – 98 51 - 97
Sumber : 1. Data primer didapat dari hasil pengukuran
B. Pembahasan
Jumlah kupu-kupu yang ditemukan di arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda sebanyak 24 jenis, jenis yang ditemukan ini jumlahnya lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah kupu-kupu yang ada di areal jurusan Manajemen Hutan yang berjumlah 43 jenis kupu-kupu (Widyasasi, dkk (2008).
Anonim (2007), menyatakan bahwa Indonesia mewakili lebih dari 2.000 jenis kupu-kupu. Jumlah yang hanya disaingi oleh beberapa negara di Amerika Selatan. Selanjutnya Alamendah (2011), menyatakan bahwa Indonesia memang negara dengan keanekaragaman kupu-kupu tertinggi kedua di dunia. Dari sekitar 20.000 jenis kupu-kupu di dunia, Indonesia memiliki sekitar 2.500 jenis, terpaut sedikit dengan Brazil yang memiliki 3.000 jenis kupu-kupu.
Kupu-kupu dapat hidup dan berkembang di Areal Arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda karena di areal tersebut terdapat tanaman yang menjadi pakan kupu dalam jumlah yang cukup. Keberadaan jenis kupu-kupu dipengaruhi oleh keberadaan tumbuhan inang yang menjadi pakan bagi ulat dan kupu-kupu. Hal ini sesuai dengan Natawigena (1990), yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan serangga salah satunya adalah faktor biotik yaitu daya reproduksi dan daya survival; kualitas dan kuantitas makanan; parasit dan predator. Kualitas makanan adalah keadaan makanan sesuai atau tidak dengan yang disukai, sedangkan kuantitas makanan adalah keadaan makanan jumlah cukup atau tidak bagi serangga. Faktor-faktor makanan yang mempengaruhi perkembangan populasi serangga antara lain: banyaknya tanaman inang yang cocok atau disukai, kerapatan tanaman inang, komposisi tegakan, umur tanaman inang dan adanya tanaman
inang lainnya sebagai makanan pengganti bila tanaman yang cocok atau disukai telah habis.
Selain faktor biotik yang mempengaruhi perkembangan kupu-kupu, ada faktor abiotik/fisik diantaranya adalah faktor suhu dan kelembapan. Di arboretum Politeknik Pertanian Negeri Samarinda pada saat pengamatan keadaan suhu berkisar 25 - 350 C dan kelembapan 55 - 98%, ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan data dari Stasiun Temindung Samarinda yaitu suhu berkisar 23,8 - 340 C dan kelembapan 51 – 97%. Keadaan ini cukup sesuai bagi kupu-kupu untuk dapat hidup dan berkembang. Hal ini sesuai dengan Natawigena (1990), menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan serangga adalah faktor fisik yaitu suhu, hujan/kelembapan, angin dan sinar. Serangga adalah binatang yang berdarah dingin artinya suhu badan sama dengan suhu di sekelilingnya, karena tergantung pada temperatur di sekeliling maka untuk hidup, tumbuh dan berkembang dari telur sampai dewasa suhu di sekitarnya harus berada pada daerah temperatur yang cocok untuk perkembangan hidup serangga. Ada zona-zona suhu untuk aktivitas kehidupan serangga, zona suhu optimum adalah 260C maksudnya pada suhu tersebut serangga melakukan kegiatan tertinggi atau optimum.
Selanjutnya Achmad (2007), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan kupu-kupu adalah faktor iklim. Kupu-kupu termasuk hewan berdarah dingin (poikilothermik) yaitu suhu tubuhnya dipengaruhi suhu lingkungan. Kupu-kupu hanya dapat terbang jika suhu tubuhnya di atas 300 C. Suhu tubuh kupu-kupu pada saat terbang 5-100 C di atas suhu lingkungan. Sayap kupu-kupu sangat berperan dalam pengaturan suhu tubuh (termoregulasi). Kupu-kupu berjemur untuk menghangatkan tubuhnya dari
cuaca dingin, hal ini mengakibatkan warna sayapnya memudar dan menjadi kurang indah. Pada daerah yang lebih panas pupa akan cepat menetas menjadi kupu-kupu. Tingginya laju kematian kupu-kupu dipengaruhi kondisi klimatik yaitu angin yang kencang, musim hujan dan kemarau. Telur kupu-kupu pada musim kering mengalami dormansi (hibernansi) dan akan menetas setelah musim hujan.