BAB III GOLONGAN PUTIH DI DALAM PENELITIAN FIQH
B. Pandangan Hukum Islam terhadap Golongan Putih
Seputar hukum Islam terhadap golongan putih dari inti perbahasan di dalam konsep fiqh siyasah di atas, di sini hukum yang dikeluarkan oleh ulama kontemporer dengan beberapa hukum di dalam Islam yang dapat ditinjaukan seperti berikut:
Ketogeri pertama, mengatakan golongan putih itu hukumnya haram di dalam Islam, antara hubung kait yang membawa kepada hukum tersebut dengan beberapa persoalan :
1. Mengapa harus ada pemilu ?
2. Apakah umat Islam harus perlu ikut pemilu? 3. Apakah ikut pemilu itu hak atau kewajipan?
4. Apakah umat Islam perlu memiliki partai sendiri untuk ikut pemilu?
5. Apa yang dimaksudkan partai Islam?
6. Apakah umat Islam harus memilih partai Islam?
17
Djazuli, Fiqh Siyasah Implementasi Kemaslahatan Umat dalam Rambu-Rambu Syariah, (Jakarta: Prenada Media Group, 2007), cet. III, h. 257
7. Bagaimana seharusnya umat Islam menyinkapi menang atau kalah dalam pemilu? 18
Dengan penerapan Fiqh siyasah di atas, sudah terjawab, yaitu menyatakan semua ketujuh-tujuh konsep tersebut adalah perlu dan wajib di laksanakan, dan jika dilihat dari sudut pendapat dan fatwa terkini adalah seperti berikut:
Pertama, Syeikh Yusuf al-Qaradhawi yang mengatakan,”Apabila kita melihat kepada peraturan seperti peraturan pemilu atau pemberian suara maka hal tersebut di dalam pandangan Islam adalah suatu persaksian untuk memilih sesuatu yang paling layak.”
Beliau melanjutkan,”Barangsiapa yang bersaksi terhadap orang yang tidak shaleh dan menyatakan bahwa dia orang shaleh maka sesungguhnya ini adalah suatu dosa besar karena telah memberikan kesaksian palsu bahkan ditempatkan setelah syirik terhadap Allah swt dalam firman-Nya :
partai yang mengajak kepada hukum Islam dan sebagian partai lainnya menolak hukum Islam. Bagaimana hukumnya bagi seorang pemilihan umum?
Mereka menjawab,”wajib bagi kaum muslimin yang berada di negara-negara yang tidak berhukum dengan syariat Islam untuk memberikan segenap kemampuannya untuk berhukum dengan syariat Islam dan saling bekerja sama bagai sebuah tangan dalam membantu partai yang diketahuinya akan menerapkan syariat Islam. Adapun membantu partai yang tidak ingin menerapkan syariat Islam maka ini tidak diperbolehkan bahkan bisa mengajak orang itu kepada kekufuran.19
Ketiga, menyinkapi fatwa Majlis Ulama Indonesia (MUI).
Dalam konsideran Sidang Komisi Masa’il Asasiyah Wathaniyah yang merupakan salah satu komisi dalam sidang Ijtima Ulama MUI se-Indonesia III, terdapat empat pembasahan pokok. Tiga pembasahan berkenaan dengan argumentasi dasar hubungan Islam dengan negara. Pembahasan keempat langsung mengerucut pada menggunaan hak pilih dalam pemilu. Poin keempat ini berisi hal-hal sebagai berikut:
1. Pemilihan umum Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih
pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.
19
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/bagaimana-hukumnya-golongan putih.htm, diakses pada tanggal 13 April 2010, pukul 10.30WIB
2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah (kepemimpinan) dan imarah (pengaturan) dalam kehidupan bersama. 3. Imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan
ketentuan agama agar terwujudnya kemaslahatan dalam masyarakat.
4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathunah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam “hukumnya adalah wajib”.
5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana
disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali, padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram. 20
Jadinya kesimpulan yang dapat dilihat di sini adalah, sikap golongan putih secara pasif ( tenpa kempennya kepada orang lain) termasuk mengabaikan sesuatu yang wajib yang dengan sendirinya dilarang, dalam tijauan syariat Islam. Sedangkan sikap golongan putih secara aktif (dengan kempengnya kepada orang lain agar juga golongan putih) termasuk dalam sikap” menghalang-halangi manusia dari jalan Allah” (saddun an sabilillah) yang lebih jelas dilarang lagi.
Ketogeri kedua, seputar hukum harus, sunnah dan wajib terhadap golongan putih.
Di dalam pendekatan fikih politik, pada dasarnya boleh. Sebab, golongan
20
: http://www.islam-indo.org/kajian/fiqh-islam/kontemporer/138-golongan putih.html?lang
putih merupakan persoalan mu'amalah ijtihadiah bahkan hukumnya dapat menjadi wajib. Artinya, kalau warga negara itu menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislatif, justru berdosa. Namun golongan putih dapat juga haram hukumnya. Artinya, seorang yang tidak menggunakan hak pilihnya merupakan dosa besar.21
Perubahan dari hukum dasar golongan putih boleh menjadi wajib dan haram karena proses hukum(illat) yang memengaruhi hukum dasar itu dan yang menjadi pertimbangan selanjutnya.22 Antara golongan putih itu menjadi sunnah, yang di kemukakan oleh Keputusan Majlis Fatwa dan Riset Eropa, 23 tentang keikut-sertaan seorang muslim dalam perpolitikan di Eropa adalah, pada asalnya disyariatkan keikut-sertaan politik di negara Eropa berada di antara boleh, sunnah atau bahkan wajib sebagaimana ditunjukan firman Allah swt:
Untuk kesimpulan keseluruhannya hukum di atas, berdasarkan kaedah fiqih;24
44
PANDANGAN GOLONGAN ELIT POLITIK ISLAM MALAYSIA TERHADAP GOLONGAN PUTIH
Pandangan dan kritikan yang dikemukakan oleh golongan elit politik Islam terhadap golongan putih mempunyai jawaban yang berbeda, biarpun mereka berada pada lingkungan yang sama di dalam pemikiran Islam, terlebih dahulu mengenal apakah yang dimaksudkan golongan elit politik Islam di Malaysia?
Yang dimaksudkan golongan elit politik dari sudut etimologis adalah golongan yang terpengaruh tinggi di dalam kelompok masyarakat dan mempunyai kepercayaan terhadap gerakan politik, terutamanya gerakan partai-partai politik.1 Seterusnya pegertian dari sudut konsep politik barat adalah yang pertama, dikemukakan oleh David Froth dan Frank L Wilson disebut sebagai gladiators, yaitu golongan yang sangat aktif dalam dunia politik dan mempunyai nisbah 5-7% populasi dari seluruh lapisan masyarakat.2 Kedua, menurut Aristoteles (falsafah klasik) adalah golongan yang sedikit dalam pemerintahan dan berkedudukan di dalam kelompok masyarakat samada harta, militer dan sebagainya.3 Ketiga, menurut Ronald Lippit adalah golongan disebut otoriter, yaitu golongan atasan dalam pemerintahan dan di bawahnya terdapat golongan agresif dan apatis.4
1
Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer Referensi Ilmiah Ideologi, Politik, Hukum, Ekonomi, Budaya, dan Sains, (Surabaya: Gitamedia Press, 2006), cet. I, h. 39
2
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,2008) cet. I, h. 372
Hendi Suhendi, Filsafat Umum daripada Metologi sampai Teofilosofi, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), cet. I, h. 236
4
Adapun di dalam konsep politik Islam, golongan elit menurut pengertian sejarah adalah terlebih fokus kepada perlimen perang, dan mempunyai tokoh di dalam bidang peperangan seperti keberanian dan sebagainya, seperti Solahuddin al-Ayub.5 Dengan lebih jelas lagi, pegertian golongan elit politik Islam Malaysia menurut Abdul Rahman Haji Abdullah adalah golongan yang aktif di dalam bidang politik dan memperjuangkan hak-hak Islam melalui partai, dan mempunyai pemikiran yang berbeda.6