• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Implied Author tentang Perilaku Sufistik

SIKAP IMPLIED AUTHOR TERHADAP PRILAKU SUFISTIK

3.4 Pandangan Implied Author tentang Perilaku Sufistik

Sikap rela menerima ketentuan yang datang dari Tuhan merupakan sikap yang tidak dapat ditawar dalam kehidupan. Sikap ini diperlukan baik dalam upaya memperoleh kepuasan hidup di dunia ini, maupun dalam upaya mencapai keridaan Allah.

Implied author menyadari adanya ketimpangan-ketimpangan di dalam kehidupan ini yang menimbulkan ketidakadilan. Oleh sebab itu, ia mengagumi sikap rela itu dan sekaligis berpandangan bahwa sikap itu harus dibiasakan. Dengan sinis implied author

menertawakan orang-orang yang berusaha menolak ketentuan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Sikap bersyukur kepada Allah merupakan sikap yang penting sekali bagi manusia. Sikap ini harus diperlihatkan bukan saja ketika mendapat nikmat Allah, tetapi juga ketika merasakan hal yang tidak menyenangkan. Implied author menyadari bahwa hal yang tidak disukai itu sering sekali dijumpai dalam kehidupan sehingga melupakan manusia untuk bersyukur. Oleh sebab itu, ia bersimpati kepada orang yang tetap bersyukur walaupun tidak mendapat nikmat Allah.

Prilaku kezuhudan dipandang sikap yang amat diperlukan dalam kehidupan. Sikap ini tdak saja diperlukan untuk menghindari hal-hal yang haram, tetapi juga menghindari hal-hal yang halal tetapi digunakan secara berlebihan-lebihan. Bahkan, kezuhudan dipandang sebagai cara yang efektiif untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

Implied author menyadari bahwa pemerolehan harta secara haram sering dijumpai

dalam kehidupan. Begitu juga halnya dengan penggunaan harta yang halal secara berlebihan dengan sikap hidup yang hedonistik melanda kehidupan masyarakat menengah ke atas. Semua ini dipandang sebagai penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh sebab itu, ia bersimpati dan mendukung orang yang melakukan kezuhudan itu, baik kezuhudan yang terintegerasi dalam kehidupan maupun kezuhudan yang eksklusif terhadap kehidupan. Implied author juga bersimpati juga mendukung isar

dan futuwwah yang merupakan akhlak zuhud. Kedua perilaku ini dapat menjadikan harta

bukan saja sebagai aset ekonomi tetapi juga sebagai aset sosial dan aset keilahian. Kedua perilaku itu dipandang sebagai cara yang efektif untuk memerangi keburukan. Dengan sinis implied author menertawakan ketololan orang-orang yang bersikap hidup hedonistik dan orang-orang yang memperoleh harta dengan cara yang tidak halal. Ia juga berpandangan bahwa kezuhudan dan perjuangan memerangi keburukan itu perlu dilanjutkan. Walaupun demikian, ada juga sikap yang menentang perilaku kezuhudan ini, akan tetapi penentangan ini tidak berasal dari tokoh utama.

Sikap tawakal, baik tawakal yang disertai dengan usaha maupun tawakal secara total kepada Allah merupakan hal yang tidak dapat ditawar dalam kehidupan di dunia ini. Ketawakalan ini dipandang sebagai puncak tauhid, karena Allah adalah satu-satunya pelaku. Dengan ketawakalan, manusia dapat keluar dari masalah yang dihadapinya dan dapat mewujudkan keingannanya.

Implied author menyadari bahwa di dalam kehidupan sekarang ini, manusia lebih

mengandalkan kekuatan dirinya dan kekuatan lain sealain dari kekuatan Allah. Oleh sebab itu, ia bersikap simpati dan bangga terhadap manusia yang melakukan segala usahanya yang disertai oleh sikap tawakal. Sebaliknya, ia menertawakan orang yang memaksakan diri melawan kehendak Allah. Selain itu, ada juga sikap yang menentang ketawakalan ini, akan tetapi sikap menentang ini tidak bersal dari tokoh utama. Selain itu, terdapat juga pandangan bahwa ketawakalan ini perlu terus dibiasakan di dalam kehidupan.

Cinta, baik cinta kepad Allah, kepada sesama manusia, maupun kepada makhluk lain, amat diperlukan dalam kehidupan ini. Kecintaan ini dipandang sebagai dasar untuk menciptakn kehidupan yang harmonis dan menciptakan cinta itu sendiri. Selain itu, cinta merupakan sarana untuk meleburkan diri dengan Tuhan, sehingga ia mampu menyerap sifat-sifat dan asma tuhan ke dalam dirinya. Implied author menyadari bahwa kehidupan ini dipenuhi ketimpangan, yang antara lain berupa pengabaian terhadap cinta itu. Hal ini menimbulakan ketidakadialan, penyalahgunaan kekuasan, dan perbuatan buruk lainnya. Oleh sebab itu, ia bersimpati terhadap orang yang melandasi segala perbuatannya dengan rasa cinta, baik perilaku cinta yang terintegerasi dalam kehidupan maupun yang tereksklusif dari kehidupan. Sebaliknya, implied author bersikap sinis terhadap orang yang mempermainkan cinta, bahkan tidak memiliki rasa cinta. Ia juga berpandangan bahwa perilaku dan rasa cinta ini perlu terus ditebarkan, baik cinta terhadap Tuhan, maupun terhadap sesama makhluk. Akan tetapi, ada juga sikap yang menentang perilaku cinta ini, walaupun tidak berasal dari tokoh utama.

Fana dipandang sebagai situasi yang sangat didambakan oleh setiap sufi. Akan tetapi, untuk mencapai situasi ini diperlukan kesalehan yang kuat disertai latihan yang panjang. Seorang sufi yang berhasi mencapai fana ini, dapat merasakan kebahagiaan

yang luar biasa karena ia merasa dekat sekali dengan Tuhan. Keadaan ini selalu diikuti oleh baka sehingga kebersamaan dengan Tuhan itu berlangsung lebih lama.

Implied author menyadari bahwa di dalam kehidupan di alam modern ini, orang-

orang yang menggeluti dunia tasawuf tergolong langka, sementara kesadaran untuk mematuhi norma-norma agama menipis. Oleh sebab itu, ia bersimpati dan bangga terhadap orang yang menggeluti dunia tasawuf, apalagi berhasil sampai ke makam fana

dan baka ini.

Hal dipandang sebagai anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Di dalam kehidupan sehari-hari hal ini jarang sekali dijumpai. Berdasarkan pandangan itu, implied author beranggapan bahwa orang yang mengalami

hal, tentulah orang yang dikendaki Allah. Oleh sebab itu, ia bersikap simpati kepada orang yang menerima hal itu.

Insan Kamil merupakan manusai yang peripurna, tipe manusai ideal yang sangat

didambakan. Insan kamil dapat menyerap sfat-sifat dan asma Allah ke dalam dirinya, sehingga tingkah lakunya selalu mencerminkan akhlak Allah. Tipe manusia seperti ini amat diperlukan dalam mengemban amanah Allah melestariakan bumi ini. Implied

author menyadari bahwa manusia ideal, manusia yang paripurna seperti ini sulit sekali

dijumpai. Oleh sebab itu, ia bersimpati dan mengagumi manusia yang tergolong paripurna ini. Ia juga berpandangan bahwa perilaku manusia paripurna ini seharusnya dikikuti.

Dari uraian mengenal sikap implied author terhadap perilaku sufistik ini dapat disimpulkan bahawa terdapat sikap ambivalen terhadap perilaku sufistik ini. Di satu sisi ia bersimpati dan bangga terhadap orang yang melakukan perilaku sufistik. Di sisi lain ia menentang perilaku sufistik itu. Akan tetapi, keberpihakannya tertuju kepada orang yang melakukan perilaku sufistik, sehingga orang yang melakukan perilaku sufistik itu selalu dimenangkan.

BAB IV

Dokumen terkait