• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Deskripsi Hasil Penelitian

4.3.2 Pandangan Integrasi Sosial

Pandangan ini beranggapan media bukan hanya dalam bentuk informasi, interaksi, atau penyebarannya, tetapi dalam bentuk ritual, atau bagaimana manusia menggunakan media sebagai cara menciptakan masyarakat. Media bukan hanya sebuah instrumen informasi atau cara untuk mencapai ketertarikan diri, tetapi menyatukan kita dalam beberapa bentuk masyarakat dan memberi kita rasa saling memiliki.

Saat diwawancara mengapa duobudjang memilih podcast sebagai media mereka memberikan informasi, duobudjang menjawab:

“Pada saat itu gua ngajak Eda. Eda waktu itu lagi siaran malem, waktu itu gua dating kesini (prambors), presentasi, gua ngebawa data. Gua lupa dapet datanya dari mana, jadi menyatakan

datanya kalo konsumsi audio di tahun 2016 itu naik sampai 50% dan rata-rata di Amerika itu pake podcast. Podcast tuh sesuatu yang menarik karena zaman itu udah mulai banyak banget

content creator pake Youtube ya. Cuma gua gatau kenapa di

gua sendiri masih belom menemukan alasan kenapa gua harus nge-Youtube. Kalo waktu itu Eda pernah bilang dia udah nyobain Youtube, Eda cover-cover lagu dan vlog. Sedangkan gua, gua engga menemukan diri gua “apa alasan gua harus memulai Youtube”, tapi ketika gua tau podcast, karena waktu itu gua lagi jenuh banget sama siaran, kalo siaran itu dibatasi ngomong 2-3 menit sedangkan gua pengen banyak ngomong. Podcast kayaknya media yang pas gitu buat gua, kayak ibaratnya ngevlog, cerita, tapi ga ada visualnya. Terus asalan gua memilih

podcast satu ga ribet, kedua natural, ketiga ya karena gua suka

sama dunia siaran cocok aja gitu, ini produk audio dan gua sukanya sama audio itu dia ga judgemental. Kalo Youtube, yang pertama grading-nya, itu sudah menentukan kualitas video lu seperti apa, baju yang lu pake, muka yang lu tampilkan, make up yang lu pake. Ya kalo audio ga sama sekali judgemental, itu yang gua suka sih.”

Dari jawaban tersebut, duobudjang merasa apa yang mereka katakan di podcast tidak bisa dikatakan di radio. Selain karena waktu siaran radio per segmennya hanya 2-3 menit, ada beberapa bahasan yang mereka bahas di podcast tidak bisa dibahas di radio. Duobudjang sendiri memilih podcast dibanding media lain seperti Youtube, karena produksi sebuah podcast terbilang cukup simple dan natural. Duobudjang merasa bila menggunakan Youtube harus memiliki usaha yang lebih besar, seperti mengatur kualitas video, mulai dari color grading sampai editing, selain itu juga harus penampilan yang menunjang. Hal itu yang dirasa duobudjang memberatkan mereka. Duobudjang memilih duobudjang karena merasa produk audio tidak sama sekali judgmental.

Sementara saat Ilham diwawancara mengapa memilih podcast sebagai salah satu media dalam mendapatkan informasi, Ilham menjawab:

“Podcast tuh pertama karena orang sekarang kan tidak bisa

lepas dari internet, dan internet butuh biaya. Nah disaat internet butuh biaya, podcast tuh termasuk yang biaya internetnya murah karena sumber digitalnya cuman suara. Misalkan orang di Youtube ngomongin masalah A, di podcast juga ada nih ngomongin masalah A, sementara di Youtube gua kehabisan kuota nih, pada akhirnya podcast tuh salah satu cara dimana kita dapat informasi tanpa memperbesar biaya, jadi terfasilitasi. Kita ngeluarin cost yang rendah, tapi kita mendapatkan apa yang kita mau.”

Dari jawaban tersebut, Ilham memilih podcast sebagai medianya dalam mendapatkan informasi karena biaya untuk mendengarkan podcast terbilang murah dibandingkan media-media lain yang berbasis internet. Walaupun mengeluarkan uang yang sedikit, Ilham tetap mendapatkan informasi yang ia mau tanpa perlu takut kehabisan uang.

Topik pembicaraan podcast itu sendiri bermacam-macam dan dengan cara yang bermacam-macam. Musik adalah salah satu topik yang biasa podcaster bicarakan dan salah satunya adalah duobudjang. Saat duobudjang ditanya tentang apakah podcast cukup efektif dalam menyampaikan informasi khususnya tentang musik, duobudjang menjawab:

“Efektif banget, bahkan waktu itu gua sempet baca artikel di Billboard atau di Tirto. Kurang lebih kayak gini ya, antara semakin marak-maraknya podcast, sama sekarang musik Indonesia lagi bagus-bagusnya, tapi sayangnya masih jarang orang yang ngebahas soal musik Indonesia secara dalam. Dan

podcast kenapa menjadi salah satu media yang menurut gua

keren banget, karena dia pertama personal dan kedua dalam,

in-depth. Itu yang engga bisa dimilikin sama media-media lain. Satu

jam di Youtube itu mah udah gokil banget cuy menurut gua, Ngobamnya Gofar tuh menurut gua udah keren banget satu jam. Buktinya podcast musik belum banyak adalah misalnya media-media musik disini masih jarang yang main podcast. Prambors baru main podcast dan engga selalu tentang musik, Billboard Indonesia juga baru main podcast. Kalo di luar mah udah banyak. Jadi efektif banget ngebahas musik di podcast menurut gua tuh.”

Dari jawaban tersebut, duobudjang merasa bahwa menyampaikan informasi tentang musik terbilang efektif karena memang podcast sedang marak di Indonesia dan musik Indonesia sedang bagus-bagusnya. Namun, memang masih banyak podcaster yang membicara musik Indonesia secara lebih mendalam. Dengan masih sedikitnya media-media tentang musik di Indonesia yang menggunakan podcast, ini bisa menjadi peluang podcaster-podcaster lain untuk menyampaikan informasi dan bisa didengar.

Podcast masih menjadi media baru di Indonesia, walaupun di Amerika sendiri industri podcast sudah lebih dahulu melejit. Tidak semua masyarakat Indonesia familiar atau terbiasa dengan podcast. Saat duobudjang ditanya tentang bagaimana pandangan masyarakat Indonesia tentang podcast, duobudjang menjawab:

“Menurut gua di 2019 ini tuh awareness orang terhadap podcast tuh udah bagus banget, jauh lah dari awal kita mulai 2017, orang ditanya podcast “apaan podcast?”. Kalo sekarang orang minimal udah tau podcast itu adalah produk berbentuk audio. Kenapa masih belum banyak orang yang tau karena ini termasuk new media. Meskipun di Amerika udah 10 tahun yang lalu. Menurut gua bedanya podcast sama new media lain, podcast itu konten hiburannya engga sekuat Youtube, Instagram, dan lain-lain. Orang dengerin podcast itu untuk informasi dan orang Indonesia menurut gua masih belum selapar itu akan sebuah informasi. Kalo orang-orang Amerika mereka benar-benar keinginan pengen tau nya tuh tinggi, nah menurut gua Indonesia memilih new media lain yang sifatnya entertaining yaitu Youtube. Gua kemarin baru ditelfon sama mantan produser MTV dulu, menurut gua justru yang penasaran sama dunia podcast tuh sekarang adalah Gen X dan sebelumnya. Mereka pengen tau, anak-anak sekarang tuh main podcast, itu apaan sih. Gua kemaren ditelfon gimana cara main podcast, terus cara nge-link-nya gimana di

platform Anchor, Soundcloud, atau Spotify, susah ga sih.

Soalnya si produser MTV itu punya teman yang sekarang kerja di Spotify Singapura. Orang-orang yang senior itu yang sekarang udah ada di tingkat posisi atas dalam suatu platform digital justru pengen tau, pengen teredukasi podcast itu apa. Dan kedepannya gede menurut gua, podcast tuh bakal jadi salah satu new media yang… radio menurut gua seharusnya hati-hati. Eda aja sekarang sebagai penyiar radio dia dalam memberikan informasi, dia nge-quote informasi yang dia dapetin dari podcast. Berarti radio balik lagi jadi alternatif. Source of information Eda dapetin dari podcast. Podcast jadi sumber yang utama. Itu sih yang menurut gua bakal gokil.”

Dari jawaban tersebut, duobudjang merasa di 2019 ini kesadaran masyarakat Indonesia tentang podcast meningkat. Hal yang membuat masih jarang orang yang tau podcast karena podcast merupakan media yang masih baru. Duobudjang juga merasa mengapa masih banyak orang yang belum mendengar podcast karena konten hiburannya tidak sebanyak media-media lain, khususnya yang berbasis internet seperti Youtube dan Instagram.

Saat ditanya kepada Iqbal Hariadi tentang hal yang sama yaitu tentang bagaimana pandangan masyarakat Indonesia tentang podcast, Iqbal menjawab:

“Secara umum kayaknya kalau sekarang ya, mungkin secara angka mungkin masih banyak yang merasa podcast tuh, karena belum banyak nih dibandingkan dengan seluruh populasi Indonesia atau dibandingkan dengan penonton YouTube. Gua rasa masih banyak yang berpikir, satu, belum tahu podcast, banyak yang belum tau podcast itu yang pertama, dan nggak ngerti juga kayak ngedengerinnya gimana sih, gua harus

download aplikasi apa sih, banyak yang belum tau. Bahkan

pengguna iPhone yang kaya doang tapi nggak tahu apa namanya hp-nya bisa dipakai buat apa tuh banyak pengguna

iPhone yang nggak tahu bahwa di hp-nya tuh ada aplikasi

namanya podcast, itu satu sih, mungkin orang Indonesia banyak yang belum tahu ada podcast, itu satu. Kedua, mungkin layer duanya banyak yang merasa podcast itu adalah sesuatu yang cuma mainan anak gaul lah gitu ya, jadi kaya Instagram di awal-awal, kan Instagram awal-awal cuma ada di iPhone jadi otomatis orang-orang yang main Instagram tuh kayak high class. Terus orang-orang yang umumnya, yang mayoritas, yang middle-nya kan mayoritas justru kan, ngelihat yang kayak “apaan sih nih orang kaya, sok asik, mainannya Instagram”, Instagram mainannya orang kaya, menurut gua podcast masih di level itu, banyak yang merasa kayak mungkin mereka tahu podcast tapi kayak “ih podcast mah mainannya anak-anak sok asik gitu”, ini asumsi gua doang ya, itu yang kedua. Yang ketiga, ya baru mungkin yang sedikit ini, yang di top pyramid adalah orang-orang yang udah mulai ke sangat kesemsem dengan podcast lah. Ya sebenarnya pendengar-pendengar podcast yang sekarang lah gitu kan udah ada yang memang ke pincut nya sama host-nya, ada yang memang “oh podcast seru banget”, akhirnya dia podcast hoping gitu, dengerin banyak podcast, itu sih mungkin secara umum.”

Dari jawaban tersebut, Iqbal merasa masih banyak orang Indonesia yang tidak tau tentang podcast. Iqbal juga merasa kebanyakan orang Indonesia berpikir bahwa orang yang main atau

menggunakan podcast adalah hanya mainan anak gaul, podcast terasa masih cukup eksklusif di mata masyarakat Indonesia. Iqbal juga berpendapat bahwa memang ada beberapa orang yang sangat menyukai podcast, baik itu karena podcaster-nya ataupun kontennya, namun tidak banyak.

Walaupun podcast masih menjadi media yang baru di Indonesia, namun perkembangannya cukup meningkat. Saat peneliti menanyakan Iqbal Hariadi tentang bagaimana perkembangan

podcast di Indonesia dan bagaimana kedepannya, Iqbal menjawab:

“Perkembangan sih sekarang rame banget ya, dulu gua mulai 2015-2016 tuh dikit banget kayak bisa dihitung jari lah yang cukup dikenal orang lah gitu, ya sebenarnya dikenal orang pun dikenal di kalangan podcast listener lah, masih terhitung sedikit. Sebenarnya ledakannya kemarin 2018, salah satunya karena sudah ada anchor.fm, jadi hosting yang sangat gampang, gratis pula, otomatis ke Spotify pula, jadi semua orang yang bego-bego bisa bikin podcast gitu, gampangnya. Sebelumnya kan orang-orang yang pintar saja, karena effort-nya dan harus tau segala macam, intinya orang yang rajin ngulik lah baru dia bisa bikin

podcast. Nah sekarang karena ada anchor.fm, tahun 2018

lumayan booming, akhirnya booming lah podcast dan sekarang sih gua bilang 2019 sebenarnya udah awal-awal masuk fase industri. Jadi maksudnya adalah sekarang podcast sudah mulai dilirik oleh brand, podcaster-podcaster sudah mulai sudah bisa mulai mendapatkan uang dari yang tadinya dipandang sebelah mata mungkin sekarang udah mulai dianggap “kayaknya bisa ngeiklan disini”. Nama-nama besar pun mulai masukan Raditya Dika, Pandji dan lain-lain jadi ini udah mulai rame gitu dan tadi sih 2019 adalah menurut gue tahun dimulainya podcast sebagai industri. Kalau ke depannya ya mungkin sebenarnya kalau dari sisi popularitas pasti akan terus meningkat itu pertama, pendengar makin akan banyak dan semakin banyak orang yang merasa podcast ternyata menarik untuk jadi medium karena emang kalau kita melihat trend-nya sih sebenarnya kita pasti ngikutin trend US. Di US juga podcast udah jadi industri yang

mature dan popularitasnya terus meningkat karena orang makin

kesini makin multitasking. Jadi sambil kerja sambil dengerin, sambil nyetir sambil dengerin, dan media-media lain tuh nggak bisa dilakukan sambil multitasking, lo mau scrolling timeline

Twitter ya harus harus ngelihat, nonton YouTube harus ngelihat,

sementara kalau podcast satu-satunya yang bisa lu tinggal gitu, bahkan kalau YouTube pun banyak orang nonton YouTube gak ditonton, cuman denger doang jadi sebenarnya there basiclly

listening to podcast juga. Itu satu popularitas meningkat. Kedua

tadi mungkin industri sudah mulai udah mulai bermekaran gitu jadi brand-brand sudah mulai melihat, udah mulai masuk nih orang-orang yang mau bayar untuk beriklan di podcast, itu yang kedua. Yang ketiga, trend-nya sih menurut gua akan secara apa yang secara podcast-podcast baru akan bermunculan dan akan keluar dua kelompok besar menurut gua, yang pertama adalah individu-individu yang sok asik aja, yang kayak orang-orang yang mau bikin blogspot, WordPress kalau zamannya blog dulu kayak “oh yaudah gue bikin WordPress, gua bikin deh blog” itu karena iseng aja atau pengen kelihatan asik gitu, ini mulai muncul nih individu-individu yang kayak gini, yang berarti sebenarnya secara industri pertanda bahwa industrinya lagi berkembang. Tapi kedua gue juga ngelihat sebenarnya trend-nya akan bergerak ke akan muncul podcast-podcast dengan topik-topik spesifik. Dan memang industri ini akan berkembang kalau kalo podcast-nya mulai bermunculan podcast-podcast yang bahasannya spesifik, jadi bukan cuma podcast yang bahas semua current issue, sekarang kan banyak yang kayak gitu, tapi

trend-nya menurut gua 2019 akhir ini ke 2020 akan banyak podcast-podcast tema spesifik kayak misalnya udah mulai

bermunculan podcast spesifik tentang legal, podcast spesifik tentang bola itu udah banyak, podcast tentang bulu tangkis,

podcast tentang startup juga udah mulai bermunculan, gitu sih

dimulai akan banyak podcast-podcast yang dengan tema spesifik, itu sih trend-nya.”

Dari jawaban tersebut, Iqbal berpendapat bahwa perkembangan podcast sangat ramai. Ledakannya terjadi pada 2018 lalu dimana ada platform hosting yang menyediakan secara gratis dan otomatis bisa langsung ke Spotify, sehingga siapapun bisa membuat podcast. Untuk kedepannya Iqbal berpendapat bahwa podcast sudah

memasuki fase dimana podcast menjadi sebuah industri. Jadi brand-brand sudah berani beriklan di podcast-podcast dan para podcaster bisa mendapatkan uang berkat podcast. Iqbal juga berpendapat bahwa kedepannya semakin banyak podcast-podcast yang topik pembicaraan lebih spesifik, bukan hanya current issues saja, misalnya tentang startup, legal, bulu tangkis, dan lain-lain.

Dokumen terkait