• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS KEWENANGAN KPK DALAM TINDAK PIDANA

E. Pandangan Siyasah Dusturiyah terhadap lembaga KPK

Undang-Undang Dasar 1945 setelah proklamasi kemerdekaan, indonesia lahir sebagai negara yang berdaulat. Oleh karena itu, indonesia sebagai negara harus memiliki konstitusi untuk mengatur kehidupan ketatanegaraanya, sehingga UUD 1945 disahkan menjadi konstitusi, untuk itu bentuk negara dalam UUD 1945 adalah kesatuan republik indonesia. Di dalam fiqih siyasah konstitusi disebut juga dengan dusturi, kata ini berasal dari bahasa persia artinya adalah seseorang memiliki otoritas, baik dalam bidang politik maupun agama.

Menurut „Abdul wahhab khallaf, prinsip-prinsip yang diletakan islam dalam perumusan Undang-Undang dasar ini adalah jaminan atas hak asasi manusia setiap anggota masyarakat dan persamaan kedudukan semua orang di mata hukum, tanpa membeda-bedakan stratifikasi sosial, kekayaan, pendidikan, dan agama.

36Edi Abdullah, KPK dalam Sistem Peradilan Pidana Pasca Revisi, (PT. Depublish: Yogyakarta, cet pertama, Januari, 2021). h. 123-133.

Pembahasan yang berkaitan dengan sumber dan kaidah perundang-undangan disuatu negara, baik sumber materil, sumber sejarah, sumber perundangan maupun sumber penafsiran. Inti persoalan dalam sumber konstitusi ini adalah peraturan tentang hubungan antara pemerintah dan rakyat dari latarbelakang sejarah negara yang bersangkutan. Untuk itu, materi dalam konstitusi sejalan dengan aspirasi dan jiwa masyarakat dalam negara tersebut.

Sebagai contoh yaitu perumusan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 sebagai tanda semangat masyarakat indonesia yang majemuk, sehingga dapat menampung aspirasi semua pihak dan menjamin kehidupan persatuan dan keutuhan bangsa.

Dasar dalam islam Al-Qur‟an dan Sunnah, karena hal ini memang bukan buku Undang-Undang. Pada waktu itu Al-Quar‟an tidak merinci lebih jauh tentang hubungan pemimpin dan rakyatnya serta hak dan kewajiban masing-masing. Al-Qur‟an hanya memuat dasar prinsip umum pemerintahan islam secara global. Al-Quar‟an dan sunnah menyerahkan sepenuhnya kepada umat islam untuk membentuk dan mengatur pemerintahan serta menyusun konstitusi yang sesuai dengan zaman dan kontek sosial masyarakat. Dalam uraian ini, dasar-dasar hukum islam lainya seperti ijma‟, qiyas, istihsan, maslahah mursalah, dan „urf memegang peranan sangat penting dalam perumusan konstitusi. Untuk itu, penerapan dasar-dasar ini tidak boleh bertentangan dengan prinsip pokok yang telah di cantumkan dalam Al-Qur‟an dan sunnah. Menurut Munawir Sjadzali, meletakan sebuah landasan bagi kehidupan bernegara dalam masyarakat di madinah. Dalam piagam madinah ditegaskan bahwa umat islam, walaupun berasal dari berbagai etnis atau kelompok, adalah suatu komunitas.

Sistem piagam ini juga mengatur pola hubungan antara sesama komunitas muslim dan antara komunitas muslim dengan komunitas non-muslim lainnya.

Hubungan ini dilandasi atas prinsip bertetangga yang baik, saling membantu dalam menghadapi musuh bersama, membela orang teraniaya, saling menasehati

dan menghormati kebebasan menjalankan agama. Isi penting dalam prinsip piagam madinah ini adalah membentuk suatu masyarakat yang harmonis, mengatur sebuah umat dan menegakkan pemerintahan atas dasar persamaan hak.

Piagam Madinah merupakan suatu konstistusi yang telah meletakkan dasar sosial politik bagi masyarakat Madinah dalam suatu pemerintahan di bawah kepemimpinan nabi muhammad SAW, selain itu piagam madinah dianggap oleh pakar politik sebagai Undang-Undangdasar pertama dalam negara islam yang didirikan oleh Nabi muhammad SAW.

Pada waktu itu, setelah nabi wafat tidak ada konstitusi tertulis yang mengatur negara islam. Umat islam dari zaman ke zaman, dalam menjalankan roda pemerintahan, dan berpedoman kepada prinsip-prinsip Al-Qur‟an dan teladan nabi SAW dalam sunnahnya. Pada masa ini, pola peralihan kepemimpinan umat didasarkan pada kecakapan dan kemampuan, dan tidak berdasarkan keturunan. Pasca al-Khulafa‟ al-Rasyidun, pola pemerintah sudah berubah dalam bentuk kerajaan yang menentukan suksesi berdasrkan garis keturunan.

Negara indonesia, konstitusinnya diundangkan pada 18 agustus 1945, konstitusi tersebut adalah UUD 1945, merupakan kompromi dari tarik ulur antara kekuatan islam, nasionalis sekuler, dan kristen. UUD tersebut dituangkan bahwa indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik, dan kedaulatan terletak ditangan rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh majelis permusyawaratan Rakyat. Presiden dipilih oleh MPR untuk masa jabatan lima tahun sekali. UUD ini juga disebutkan bahwa negara indonesia berdasarkan ketuhanan yang maha esa dan presiden adalah orang indonesia atau pribumi asli.

Disamping itu, konstitusi ini menjamin kebebasan pemeluk agama tuntuk menjalankan dan melaksanakan agamanya. Oleh karena itu, negara memberi fasilitas dan melindungi keberagaman umat masing-masing. Disini pemerintah

membentuk sebuah departemen khusus yang sekarang di ubah menjadi kementerian agama, untuk melayani kepentingan umat beragama.

b. Legislasi

Legislasi atau kekuasaan legislatif disebut juga dengan sulthah al-tasyri‟iyah, yaitu kekuasaan pemerintahan islam dalam membuat dan menetapkan hukum. Akan tetapi istilah al-sulthah al-tasyri‟iyah digunakan untuk menunjukkan salah satu kewenangan atau kekuasaan pemerintah islam dalam mengatur masalah kenegaraan, di samping kekuasaan eksekutif (al-sulthah al-tanfidziyah), dan kekuasaan yudikatif (al-(al-sulthah al-qadha‟iyah).

Dalam hal ini, kekuasaan legislatif (al al-sulthah al-tasyri‟iyah) berarti kekuasaan atau kewenangan pemerintah islam untuk menetapkan hukum yang akan diberlakukan dan dilaksanakan oleh masyarakatnya berdasarkan ketentuan yang telah diturunkan oleh allah SWT dalam syariat islam.

Selanjutnya, trias politica merupakan konsep pemerintahan yang kini banyak dianut diberbagai negara di belahan dunia. Trias politica adalah anggapan bahwa kekuasaan negara terdiri atas tiga macam kekuasaan. Pertama, kekuasaan legislatif atau kekuasaan membuat Undang-Undang (rule making function). kedua, kekuasaan eksekutif atau kekuasaan melaksanakan undang-undang (rule application function). ketiga kekuasaan yudikatif atau kekuasaan mengadili atas pelanggaran Undang-Undang (rule adjudication function). Trias politica adalah suatu prinsip normatif bahwa kekuasaan-kekuasaan (function) ini sebaiknya tidak diserahkan kepada orang yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Dengan demikian hak-hak asasi warga negara lebih terjamin.

Dengan adanya konsep trias politica, Montesquieu menulis dalam bukunya yang berjudul The Sprit of Law (1748) “dalam tiap pemerintahan ada tiga

macam kekuasaan, yaitu kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, mengenai hal-hal yang berkenaan dengan hukum antarbangsa, dan kekuasaan yudikatif mengenai hal-hal yang bergantung pada hukum sipil”. Menurutnya ketiga jenis kekuasaan ini haruslah terpisah satu sama lain, baik mengenai tugas (fungsi) maupun mengenai alat perlengkapan (organ) yang menyelenggarakannya.

Terutama adanya kebebasan badan yudikatif yang ditekankan oleh Montesquieu yang mempunyai latar belakang sebagai hakim, karena disinilah letaknya kemerdekaan individu dan hak asasi manusia perlu dijamin dan dipertaruhkan.

Kekuasaan legislatif menurutnya adalah kekuasaan untuk membuat Undang-Undang, kekuasaan eksekutif meliputi penyelenggaraan Undang-Undang (diutamakan tindakan politik luar negeri), sedangkan kekuasaan yudikatif adalah kekuasaan mengadili atas pelanggaran Undang-Undang tersebut.

Pada dasarnya, sistem ketatanegaraan Republik Indonesia tidak terlepas dari ajaran Trias Politica, karena ajaran tersebut adalah ajaran pemisah kekuasaan negara menjadi tiga eksekutif, legislatid dan yudikatif. Dan pada akhirnya masing-masing kekuasaan tersebut dalam menjalankan tidak dapat saling mempengaruhi dan tidak saling meminta pertanggungjawaban. Sedangkan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, pemisahan kekuasaan itu disertai dengan prinsip hubungan saling mengawasi dan mengimbangi (check and balance) antara lembaga negara. Pada akhirnya, Sistem Check and Balance tersebut dimaksud agar ketiga badan (Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif) itu tidak menjalankan kekuasaannya melebihi atau kurang dari masing-masing kekuasaan yang ditentukan oleh konstitusi.37

Untuk itu, dengan adanya keterkaitan dengan teori trias politica ini, hukum Islam pun mengatur tentang hal tersebut. Dalam konsep hukum Islam, hal-hal

37Wery Gusmansyah, Trias Politica dalam Perspektif Fikih Siyasah, Al-Imarah: Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam, II, 2, 2017. h. 124-125.

yang berkaitan dengan pembagian kekuasaan di bahas dalam kajian siyasah dusturiyah. dalam bentuk dan peranan pemerintahan yang berkaitan dengan persoalan-persoalan agama dan dunia, dan dalam hubungannya dengan perubahan sosial didunia Islam. Dasar dasar politik Islam terurai dalam firman Allah SWT (QS. Al-Nisa:58-59) sebagai berikut:

ا َُُْ٘نْحَر َُْا ِضبَّْىا ٍََِْث ٌُْزََْنَح اَذِا َٗ ۙبَِٖيَْٕا ىٰٰٓىِا ِذْٰ ٍَٰ ْلْا اُّٗد َؤُر َُْا ٌُْمُسٍُْأٌَ َ هاللّٰ َُِّا َهاللّٰ َُِّا ۗ ِهْدَعْىبِث

َم َ هاللّٰ َُِّا ۗ ِٖٔث ٌُْنُظِعٌَ بََِّعِّ

ًْ ِصَث ۢبًعٍْ ََِظ َُب ا ٰٓ ٍَُْْٰ٘ا ٌَِِْرَّىا بٌََُّٖبٌٰٰٓ ًً

ىَىِا ُٓ ُّْٗدُسَف ٍءًَْش ًِْف ٌُْزْع َشبََْر ُِْبَف ٌُْْۚنْْ ٍِ ِسٍَْ ْلْا ىِىُٗا َٗ َه ُْ٘ظ َّسىا اُ٘عٍْ ِطَا َٗ َ هاللّٰ اُ٘عٍْ ِطَا ُْْم ُِْا ِه ُْ٘ظ َّسىا َٗ ِ هاللّٰ

ًلًٌِْْٗأَر َُِعْحَا َّٗ ٌسٍَْخ َلِىٰذ ِۗس ِخٰ ْلْا ًِ ٍَْْ٘ىا َٗ ِ هللّٰبِث َُ ُْْ٘ ٍِ ْؤُر ٌُْز

“ Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulnya, dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benarbenar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”

Jadi kesimpulanya dalam al-sulthah al-tasyri‟iyah pemerintah menjalankan tugas siyasah syar‟iyahnya untuk membentuk suatu hukum yang akan diberlakukan didalam masyarakat demi kemaslahatan umat islam. Dengan beberapa perbedaan telah terdapat dalam pemerintahan islam jauh sebelum pemikir-pemikir barat merumuskan teori trias politica.

c. Syura dan Demokrasi

Kata syura (syura) berasal dari sya-wa-ra yang secara etimologis berarti mengeluarkan madu dari sarang lebah. Sedangkan dari pengertian ini kata syura masuk kedalam bahasa indonesia menjadi musyawarah mengandung makna segala sesuatu yang dapat diambil atau dikeluarkan dari yang lain (termasuk pendapat) untuk memperoleh kebaikan.38 Adapun ayat al-qur‟an surat Ali Imran, ayat 3:159 Allah memerintahkan kepada Nabi SAW untuk melakukan musyawarah dengan para sahabat.

َُِّإ ْۚ ِ َّاللّٰ ىَيَع ْوَّم ََ٘زَف َذٍْ َصَع اَذِئَف ۖ ِسٍَْ ْلأا ًِف ٌُْٕ ْزِٗبَش َٗ ٌَُْٖى ْسِفْغَزْظا َٗ ٌَُْْْٖع ُفْعبَف ٍَِِيِّم ََ٘زَُْىا ُّت ِحٌُ َ َّاللّٰ

Artinya : “Maka maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun keoada allah untuk mereka serta bermusyawarahlah dalam memutuskan suatu urusan. Apabila kamu telah bertekad bulat dengan keputusan tersebut maka bertawakallah kepada allah. Sesungguhnya allah mencintai orang-orang yang bertawakal”.

Arti demokrasi secara bahasa atau secara etimologis yaitu “demokrasi”

terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Yunani “demos” yang berarti rakyat atau penduduk suatu tempat dan “cratein” atau “cratos” yang berarti kekuasaan atau kedaulatan. Jadi secara bahasa demokrasi adalah keadaan negara dimana dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada ditangan rakyat, kekuasaan tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, rakyat berkuasa, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh rakyat.

Demokrasi dalam artian secara umum merupakan suatu sistem yang pemegang tampuk kekuasaan tertinggi berada pada rakyat, tetapi bukan berarti pemimpin tidak mempunyai wewenang terhadap rakyat, seorang pemimpin

38Muhammad Iqbal, Fiqih Siyasah Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, (PT. Prenadamedia Group, Jakarta, cet. Pertama, Oktober, 2014). h. 177-230.

berhak mengatur dan memerintah rakyat selama hal tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ketika seorang pemimpin memerintah dengan semenah-menah, di sinilah peran penting masyarakat menggunakan hak sebagai pemegang kekuasaan tertinggi untuk mengeluarkan pendapat dan aspirasinya untuk kepentingan sosial dan kemasalahatan suatu negara.

Untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi rakyat, cara yang paling tepat ialah dengan bermusyawarah. Disini peran penting orang-orang yang ahli dan mempunyai pengaruh yang besar untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi rakyat tersebut yang dikenal dengan Dewan Permusyawaratan atau dalam Islam disebut dengan Ahlul Ikhtiyar.

Selanjutnya, untuk mengetahui mengenai demokrasi dan syura mungkin sudah banyak para pemikir Islam yang mengulas tentang permasalahan-permasalahan tersebut, permasalahan-permasalahan yang menjadi perdebatan para pemikir Islam antara lain tentang perbedaan dan persamaan syura dan demokrasi dalam Islam, pendapat para cendikiawan muslim yang banyak mengutip tentang keduanya banyak bercerita penolakan bahwa syura bukanlah demokrasi ataupun pendapat yang sepakat mengenai istilah syura sama dengan demokrasi. Syura dan demokrasi merupakan sebuah istilah yang hampir mempunyai kesamaan didalamnya baik dalam prosesnya maupun dari prinsip teknisnya. Intinya demokrasi dan syura adalah sebuah proses diskursus dalam memecahkan suatu permasalahan dengan cara bermusyawarah sebagai upaya bersama dalam mencapai kesepakatan. Namun banyak terdapat perbedaan dan persamaan antar keduanya.39

Dari uraian ini bahwa demokrasi dan syura bukanlah dua hal yang identik, tapi bukan yang harus dipertetangkan. Demokrasi dapat menjadi bagian dari

39http://majelispenulis.blogspot.com/2012/05/antara-syura-dan-demokrasi-dalam-islam.html, 2 Agustus 2021.

sistem politik umat islam apabila orientasi dan sistem nilainya diberi muatan nilai-nilai agama dan moralitas.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

1. Lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi tugasnya yaitu melacak, menangkap, dan mencegah perbuatan tindak pidana korupsi. Keterlibatan KPK dalam pencegahan dan memberantas korupsi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku hanya pada kondisi atau situasi tertentu. Olek karena itu lembaga KPK mempunyai sistem kerja antara kepolisian dan kejaksaan. Selain itu,. Adapun kewenangan yang bekerja sama dengan pemerintah dalam menyelaraskan pembagian porsi tugas dan kewenangan dari masing-masing lembaga penegak hukum, dan kewenangan tersebut mempunyai kesepakatan bersama baik dari pemerintah ataupun lembaga penegak hukum. Kelembagaan Komisi Pemberantasan Korupsi bisa dikatakan berdiri sebagai lembaga yang berbeda dari trias politika, Negara terbagi menjadi tiga ranah kekuasaan yaitu legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Hadirnya KPK bisa dikatakan lembaga super body yang memiliki kewenangan besar dalam melakukan pemberantasan korupsi. Siapapun yang melanggar dan melakukan korupsi baik kepala daerah, menteri, anggota DPR, Dengan adanya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 dalam pasal 1 butir 3 bahwa KPK adalah lembaga Negara dalam rumpun kekuasaan eksekutif dengan tugas pencegehan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku saat ini. Fungsi sistem kerja KPK, kepolisian dan kejaksaan, dan kewenangan KPK seperti koordinasi, monitoring, supervisi akan terus berjalan dengan fungsi pencegahan dan penidakan. selain itu, lembaga KPK sudah beralih menjadi eksekutif meskipun tentunya independen namun tetap berada pada ranah membantu presiden dalam menjalankan pemberantasan korupsi.

B. Rekomendasi

1. Kepada lembaga-lembaga dan instansi

KPK berwenang melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan penyelenggara negara. KPK harus melakukan pencegahan dan membuat kebijakan terkait dengan pendaftaran dan pemeriksaan laporan harta kekayaan. KPK berwenang menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi, laporan gratifikasi ini wajib bagi penyelenggara negara terkecuali ASN. KP K berwenang menyelenggarakan program pendidikan anti korupsi pada setiap jenjang pendidikan. KPK juga berwenang merencanakan program sosialisasi pemberantasan korupsi, sosialisasi disini untuk mengingatkan kepada masyarakat berbagai hal dampak korupsi. Selanjutnya KPK berwenang melakukan kampanye anti korupsi kepada masyarakat manfaat dari kampanye disini masyarakat harus memahami pentingnya melawan korupsi. Dan terakhir KPK berwenang melakukan kerja sama bilateral dan multilateral dalam pemberantasan korupsi.

2. Kepada Pemerintah

Perlu adanya keterangan tertulis seperti undang-undang yang tegas, agar menjadi sumber kejelasan hukum, terkait kewenangan setiap lembaga-lembaga yang berperan, agar kapasitas dan penyelesaiannya tidak terhambat kala menindaklanjuti kasus tindak pidana korupsi. Masih ada beberapa poin penting yang harus diperbaiki dan diharmonisasikan dari tugas dan wewenang masing-masing lembagannya. Lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan harus saling bekerjasama dengan pemerintah dalam menyelaraskan pembagian porsi tugas dan kewenangan dari masing-masing lembaga penegak hukum. Dan harus ada kesadaran dimana, kewenangan yang terkesan menggantung ini diselesaikan melalui ketetapan hukum yang dimusyawarahkan bersama, baik dari pihak pemerintah ataupun dari pihak aparat penegak hukum.

DAFTAR PUSTAKA Buku-Buku

Abdullah, Edi, KPK dalam sistem peradilan pidana pasca revisi, (Yogyakarta: PT.

Deepublish, Cet. Pertama, 2021).

Ahmadi, Fahmi Muhammad, Jaenal Arifin, Metode Penelitian Hukum (Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatuallah Jakarta, 2010).

Asshiddiqie, Jimly, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. (Jakarta: Sinar Grafika, 2011).

Friedman, Meir Lawrence, The Legal System: A Social Science Perspecktive (New York: Russel Sage Foundation, 1975).

Gaffar, Affan, Transisi Menuju Demokrasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Iqbal, Muhammad, Fiqih Siyasah Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, (PT.

Prenadamedia Group, Jakarta, cet. Pertama, Oktober, 2014). h. 177-230.

Indrati, Farida Maria. “Ilmu Perundang-Undangan 2 (Proses dan Teknik Pembuatanya)”, (Jakarta: Kanisius, Jakarta, 2013).

Marzuki, Mahmud Peter, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada media Group, 2008).

Purwaka, Tommy Hendra, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: PUAJ, 2007).

Soekanto, Soerjono dan Mamudji Sri, Penelitian Hukum Normatif (Suatu Tinjauan Singkat) (Jakarta: Rajawali Pers, 2001).

Siahaan, Pataniari, Politik Hukum Pembentukan Undang-Undang Pasca Amandemen UUD 1945, Jakarta: Konstitusi Press, 2012.

Zoelva, Hamdan, Pemakzulan Presiden di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2011.

Peraturan-Peraturan (Sesuai Pedoman)

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 5.

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi Tindak Pidana Korupsi.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 9.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

Jurnal, Artikel, Karya Ilmiah

Agustine Viana Oly, Sinaga Erlina Maria Cristin, dan Yulistyaputri Rizkisyabana.

“Politik Hukum Penguatan Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Sistem Ketatanegaraan”, Konstitusi, XVI, 2 (Juni, 2019).

Alexander. “Peran Komisi Pemberantasan Korupsi Ditinjau Dari Fiqh Siyasah”

(Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2018).

Atho‟, Mudzhar Mohammad. “Tangtangan Studi Hukum di Indonesia Dewasa Ini”, Indo-Islamika, II, 1 (2012/1433).

Bustomi, Imam. “Analisis Fiqh Siyasah Terhadap Tugas Dan Kewenangan Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Sampang Menurut UU No. 10 Tahun 2016 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati Dan Walikota.” (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2019).

Dahoklory, Viktoris Msdaskolay dan Muh Isra Bil Ali. Menyoal Urgensi dan Prosedur Pembentukan Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, Jurnal Perspektif, II, 2, Mei, 2020.

Gusmansyah, Wery. Trias Politica dalam Perspektif Fikih Siyasah, Al-Imarah: Jurnal Pemerintahan dan Politik Islam, II, 2, 2017.

Jauhari, Muis Abdul. “Fungsi dan Kewenangan Kepolisian Negara Republik Indonesia Dalam Tindak Pidana Korupsi Guna Mengembalikan Kerugian Keuangan Negara di Indonesia”, (Doktor S3: disertasi Universitas Pasundan Bandung, 2016).

Kusumastuti Dewi Cynthia, Ismunarno. “Perbandingan Tugas Dan Wewenang Independent Commission Againts Corupption (Hongkong) Dan Komisi

Pemberantasan Korupsi (Indonesia) Dalam Pemberantasan Korupsi”, Recidive, IV, 3 (September-Desember, 2015).

Sosiawan, Mangun Ulang. “Peran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (The Role of Corruption Eradication Commission (KPK) in Corruption Prevention and Eradication)”, Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, XIX, 19 (Desember, 2019).

Sumakul, Anastasia. “Hubungan Dan Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dan Kejaksaan Dalam Menangani Tindak Pidana Korupsi”, Lex Crimen V, 4 (Oktober-Desember, 2012).

Sugiarto, Totok. “Peranan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia”, Jurnal Cakrawala Hukum, XVIII, 1, Juni, 2013.

Website

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5ca466cb7f8ed/keberada an-kpk-dalam-upaya-pemberantasan-korupsi/

https://www.jurnalponsel.om/pengertian-tugas-sejarah-fungsikpk/#Pengertian_Komisi_Pemberantasan_Korupsi_

http://m.akurat.co/952409/pakar-hukum-nilai-dewasa-kpk-sebaiknya-tidak-diberikan-kewenangan-terakit-izin-penyadapan

https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5e3bf06593b05/prosedur -pengangkatan-dewan-pengawas-kpk/#_ftn1

http://www.mkri.id/index.php?page=web.Berita&id=7834# :~:text=Checks%2 0and%20balances%20adalah%saling,30$2F11)%20siang%20di%20Mahkamah

https://info-hukum.com/2019/04/20/teori-keadilan/

https://voi.id/berita/33739/sejarah-tugas-dan-fungsi-yang-harus-dijalankan-kpk

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190912134311-12-429901/surpres-revisi-uu-kpk-antara-kejanggalan-dan-konspirasi

http://majelispenulis.blogspot.com/2012/05/antara-syura-dan-demokrasi-dalam-islam.html