• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI SEBAGAI LEMBAGA

C. Sistem Kerja Lembaga KPK, Lembaga Kepolisian, dan Kejaksaan

3. Sistem Kerja Kejaksaan

Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (Pasal 1 butir 6 huruf a KUHAP)

Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk melakukan penuntutan dalam melaksanakan penetapan hakim (Pasal 1 butir 6 huruf b KUHAP).

Selain Lembaga lain yang merupakan penegak hukum dalam tindak pidana korupsi adalah kejaksaan. Kejaksaan yang merupakan lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan begitupun dalam tindak pidana korupsi kejaksaan di berikan wewenang untuk melakukan penuntutan, selanjutnya, kejaksaan diberikan kewenangan untuk melakukan penyidikan sebagai wujud dari Undang-Undang Komisi Pemberantas Korupsi. Dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia Pasal 2 Kejaksaan Republik Indonesia adalah lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan serta kewenangan lain berdasarkan Undang-Undang. Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara (Dominus Litis), mempunyai kedudukan sentral dalam penegakan hukum karena hanya institusi kejaksaan yang dapat menentukan apakah perkara pidana ini dapat diajukan ke pengadilan atau tidak.

Wewenang dan tugas dari kejaksaan diatur dalam Pasal 30 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, yaitu:

29Abdul Muis Jauhari, “Fungsi dan Kewenangan Kepolisian Negara Republik Indonesia Dalam Tindak Pidana Korupsi Guna Mengembalikan Kerugian Keuang an Negara di Indonesia”, (Doktor S3: disertasi Universitas Pasundan Bandung, 2016), h. 2-6.

a. Melakukan penuntutan

b. Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap

c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat

d. Melakukan penyelidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang

e. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik.

Dalam ketentuan Undang-Undang tersebut maka kejaksaan diberikan kewenangan lain yaitu melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu.

Kewenangan kejaksaan melakukan penyidikan terhadap tindak pidana korupsi sama dengan kewenangan yang dimiliki oleh penyidik polri dan KPK, dengan ketentuan yang telah diatur dalam Pasal 11 UndangUndang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.

BAB IV

ANALISIS KEWENANGAN KPK DALAM TINDAK PIDANA KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI

A. Komisi Pemberantasan Korupsi Menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019

Salah satu produk hukum yaitu Undang-Undang dibentuk oleh dua lembaga, yaitu dewan perwakilan rakyat (DPR) dengan persetujuan presiden, berdasarkan Pasal 5 ayat 1 dan pasal 20 Undang-Undang dasar 1945.30 Apabila dilihat berdasarkan tingkatan hierarki peraturan perundang-undangan, letak Undang-Undang berada dibawah UUD 1945 dan Tap-MPR. Sehingga dapat dikatakan bahwa Undang-Undang memilikiperan penting dalam peraturan perundang-undang karena muatannya merupakan pengaturan lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang ada di atas.

Pada tahun 2019 yang lalu, indonesia digemparkan dengan berita atau informasi mengenai revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Setelah kegemparan tersebut terjadi karena muncul tepat setelah selesainya proses pemilihan calon pimpinan KPK yang baru periode 2019-2023. Dimana dalam proses pemilihan calon pimpinan KPK yang baru terjadi penolakan mengenai perserta calom pimpinan serta proses pada proses fit and proper test oleh publik. Akan tetapi publik juga merasa jika perubahan Undang-Undang tersebut terkesan terburu-buru, baik dari segi formil maupun segi materiil.

Banyak fakta yang menunjukan jika DPR dan Pemerintah terkesan terburu-buru dalam mengesahkan revisi rancangan Undang KPK untuk menjadi

30Maria Farida Indrati S, Ilmu Perundang-undangan: Jenis, Fungsi, dan Materi Muatan, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2014), h.183

Undang. Dari segi formil saja diketahui bahwa proses pembahasan rancangan Undang-Undang tersebut hanya membutuhkan waktu 13 hari dengan 5 kali sidang.

Sedangkan berdasrkan pasal 49 ayat 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang pembentukan peraturan perundang-undangan, pihak pemerintah memiliki jangka waktu selama 60 hari untuk membahas rancangan Undang-Undang dan memutuskan untuk menyetujui atau tidak menyetujui rancangan Undang-Undang tersebut.31

Sedangkan dari segi materiil atau subtansi dari rancangan Undang-Undang KPK tersebut, terdapat beberapa pasal yang direvisi dan dinilai dapat melemahkan KPK dalam menjalankan tugasnya. Setidaknya terdapat 4 materi yang disoroti, yaitu mengenai kedudukan lembaga KPK, penghentian penyidikan dan penuntutan, aturan penyadapan, dewan pengawas, dam status aparat sipil negara (ASN) kepada pegawai KPK. Materi-materi yang telah direvisi tersebut disetujui oleh pemerintah. Padahal dimasyrakat sendiri terjadi penolakan yang masif terhadap materi yang direvisi tersebut.

Selanjutnya materi kedudukan lembaga KPK, yang menjadikan KPK masuk dalam rupum kekuasaan legislatif. Sebagaimana yang dijelaskan pada pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Komisi, yaitu “Komisi Pemberantasan Korupsi adalah lembaga negara dalam rumpun kekuasaan eksekutif yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun.”32

31“Surpres Revisi UU KPK: Antara Kejanggalan dan Konspirasi,”

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190912134311-12-429901/surpres-revisi-uu-kpk-antara-kejanggalan-dan-konspirasi, Senin, 2 Agustus 2021.

32Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Untuk itu, selain bergabungnya KPK pada rumpun kekuasaan eksekutif status kepegawain KPK berubah menjadi ASN (Aparat Sipil Negara). Padahal sebelumnya, peraturan mengenai kepegawaian KPK duatur dalam keputusan Komisi Pemberantasan Korupsi. Tentunya hal ini, menimbulkan keresahan mengenai sifat independensi yang selama ini menjadi ciri dari pegawai KPK itu sendiri.

Begitu pula dengan materi kewenangan penghentian penyidikan dan penuntutan yang sebelumnya KPK tidak berwenang dalam hal ini. Kewenangan disini ada di pasal 40 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa “Komisi Pemberantasan Korupsi dapat menghentikan penyidikan dan penuntutan terhadap perkara Tindak Pidana Korupsi yang penyidikan dan penuntutanya tidak selesai dalam jangka waktu paling lama 2 tahun”.

Revisi selanjutnya adalah materi tentang aturan penyadapan dalam KPK. Dalam revisi rancangan Undang-Undang KPK di antaranya yang mengatur dewan pengawas. Dewan pengawas adalah bagian dari KPK yang bertugas untuk mengawasi pelaksanaan dari tugas dan wewenang KPK.33 Pada pasal 37B ayat 1 dijelaskan tugas dari dewan pengawas yang salah satunya adalah memberi izin penyadapan, penggeledahan, serta penyitaan. Apabila dicermati, kewenangan tersebut merupakan kewenangan yang biasanya dimiliki oleh aparat penegak hukum, yaitu Polisi, Jaksa, dan Hakim.

Namun di dalam Undang-Undang KPK yang terbaru tidak dijelaskan mengenai kedudukan dewan pengawas dalam KPK dengan aparat penegak hukum. Disisi lain hal, proses perizinan untuk melakukan penyadapan dinilai mempersempit ruang gerak penyidik KPK dalam mengumpulkan bukti-bukti pada perkara tindak pidana korupsi. Mengingat adanya aturan jangka waktu penyadapan selama 6 bulan dan bisa diperpanjang 1 kali saja. Padahal di Undang-Undang KPK sebelumnya tidak ada

33Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

peraturan baik mengenai perizinan ke dewan pengawas ataupun batas waktu penyadapan. Di sisi lain perubahan terhadap Undang-Undang KPK ini di perlukan untuk menghindari pelabelan lembaga superbody pada KPK dengan dimiliki hak-hak yang terkesan eksklusif, sehingga diperlukan sebuah organ dalam KPK yang bertugas untuk mengawasi dan mengontrol KPK dalam menjalankan hak dan kewajibanya. Oleh karena itu, dibentuklah dewan pengawas di KPK.

Selain itu, norma hukum dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dinyatakan inkonstitusional karena tidak sesuai dengan Pasal 24 ayat 1 Undang dasar 1945 serta Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang kekuasaan kehakiman. Ketidaksesuaian yang dimaksud disini adalah mengenai pembentukan pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) yang seharunya masuk dalam wilayah kekuasaan yudikatif, namun diatur di dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang masuk dalam kekuasaan eksekutif. Maka sangat jelas bahwa pengaturan tersebut bertentangan dengan Pasal 24 ayat 1 UUD 1945. Serta tidak dimasukannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang kekuasaan kehakiman dalam konsideran Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang komisi pemberantasan tindak pidana korupsi, diartikan bahwa penyelidik, penyidik, dan penuntut umum KPK dalam melaksanakan wewenangnya tidak terikat dengan asas-asas hukum penyelenggaraan peradilan dan tidak menjadikan sebagai acuan yuridis dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi.

B. Fungsi KPK

Terkait dengan sistem hukum penanggulangan tindak pidana kejahatan korupsi, keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi telah menjadi ikon nasional dan internasional di Indonesia. Bilamana pada masa lalu, ketentuan normatif mengenai pemberantasan tindak pidana korupsi telah dipandang kurang lengkap peraturan hukumnya. Oleh karena ketiadaan lembaga penegak hukum khusus (Special Task

Force for Combating Corrution) menjadi penyebab utama penegakan hukum tindak pidana korupsi menjadi tidak fektif. Karena itu, urgensi dibentuknya KPK, melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diharapkan dapat mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dengan memberikan amanah dan tanggungjawab kepada KPK untuk melakukan peningkatan pemberantasan tindak pidana korupsi, lebih profesional, dan intensif karena tindak pidana korupsi telah merugikan keuangan negara, dan juga menghambat pembangunan nasional.

Dari ketentuan Undang-Undang ini kemudian timbul kesan bahwa KPK dalam kaitannya dengan kompetensi tugas dan fungsi di lapangan dipandang sebagai lembaga negara terkuat (Super Body). Status dan sifat KPK yang terkesan Super Body tersebut antara lain dikarenakan tiga ciri dominan. Pertama, KPK sebagai lembaga negara (Special State Agency) yang secara khusus melakukan tugas dalam tindakan pidana korupsi. Kedua, keberadaan KPK melebihi peran dan fungsi yang berada pada lembaga penegak hukum lain, antara lain Polisi, Kejaksaan, dan bahkan lembaga-lembaga negara lainnya. KPK memiliki kewenangan untuk tidak saja melakukan koordinasi dan supervisi dengan institusi penegak hukum dan lembaga negara lainnya dalam tindak pidana korupsi. Ketiga, KPK dapat menyatukan tugas dan fungsi yang berada dalam kewenangan Kepolisian untuk penyelidikan dan penyidikan, Kejaksaan dalam hal penyidikan dan penuntutan KPK menurut pasal 11, membatasi segala tugas dan kewenanganya terhadap kasus kerugian negara dengan mominal RP 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah). Namun, tiadanya sanksi hukuman yang lebih berat, yaitu adanya hukuman mati seperti yang diberlakukan di negara China, adalah merupakan alat pengerem kejahatan korupsi juga termurah yang melemahkan keberadaan UU KPK. Persoalan-persoalan terkait dengan kineja KPK adalah sebagai berikut:

a) Masalah Pengambilalihan Kasus Korupsi. Berdasarkan catatan dari Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Koalisi Pemantau Peradilan dalam Roadmap KPK 2007-2011, menuju pemberantasan korupsi yang efektif, kelemahan KPK

periode I dalam melakukan koordinasi dan supervisi (pengawasan) adalah sedikitnya kasus korupsi yang diambilalih. Selain itu, tidak ada catatan yang dapat dikonfirmasi, bagaimana kelanjutan dari kasus korupsi yang telah disupervisi dan dikoordinasikan oleh KPK, baik yang ditangani langsung oleh kejaksaan dan kepolisian. Hal ini dipengaruhi oleh dua hal, yaitu tiadanya mekanisme supervisi dan koordinasi yang memadai sebagai alat kontrol penanganan perkara korupsi oleh aparat penegak hukum lain, serta tidak adanya tim khusus supervisi dan koordinasi sehingga selama ini terkesan fungsi koordinasi dan supervisi adalah pekerjaan yang tidak menjadi prioritas KPK.

b) Persoalan Tebang Pilih Dalam Pemberantasan Korupsi. KPK memiliki tantangan yang berat karena kepercayaan masyarakat dengan kesan tebang pilih dilakukan KPK belum pupus. Apalagi hasil KPK untuk mengembalikan uang negara dan dapat dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat memang masih merupakan impian belaka. Dalam beberapa media, menyebutkan bahwa jumlah pengeluaran dan biaya operasional dari KPK melebih 1 (satu) Triliun rupiah, sementara hasil yang diperoleh baru sekitar ratusan milyar. Misalnya, dalam tahun ke II KPK telah menemukan 70 kasus dugaan korupsi di Departemen Sosial dengan nilai Rp 287.89 Milyar. Dari jumlah tersebut sekitar 63 kasus dengan nilai 189.28 miliar telah ditindak lanjuti Atas dasar itu, jelaslah bahwa kedudukan KPK dengan fungsi yang memiliki kewenangan luas juga menjadi tidak mampu meyakinkan peran profesionalnya oleh karena tantangan dari masyarakat dan juga mengabaikan sifat kerjasama kolegial dengan pihak kepolisian dalam konteks penyelidikan dan penyidikan tidak dilakukan secara optimal.

c) Masalah Penindakan terhadap Pelaku Mafia Peradilan. Jika kehadiran KPK diharapkan dapat mendorong trigger mechanism bagi Kejaksaan dan Kepolisian, seharusnya salah satu fokus penindakan KPK adalah membersihkan institusi penegak hukum. Namun, nyatanya kasus korupsi yang melibatkan aparat

kepolisian, kejaksaan, advokat dan pengadilan sangat sedikit yang diungkap oleh KPK.34

C. Tugas Komisi Pemberantasan Korupsi

KPK mempunyai tugas yang sangat penting sebagaimana telah diatur didalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang komisi pemberantasan korupsi, tugas ini kemudian diatur dalam pasal 6. Yang pertama melakukan tindakan pencegahan sehingga tidak terjadi tindak pidana korupsi. Setelah itu KPK mempunyai kewenangan untuk melakukan pencegahan tindak pidana korupsi, tindakan pencegahan ini tentunya sangat bermanfaat untuk melakukan pencegahan korupsi. Selanjutnya KPK untuk melakukan pencegahan ini dapat melakukan berbagai hal sepanjang hal tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang korupsi memang masih menjadi problem yang sangat besar dan terus saja menggerogoti bangsa ini selama korupsi masih terjadi maka potensi untuk mencapai kemakmuran akan sulit terwujud.

Tindakan pencegahan dalam memberantas korupsi memang harus sejalan dengan penindakan karena penindakan dalam hal ini penegakan hukum tentunya masih belum mampu menyentuh penyebab utama suatu permasalahan korupsi, seperti misalnya biaya penegak yang membutuhkan cukup banyak. Pertama, Upaya pencegahan korupsi akan mampu memberikan dampak besar dalam proses membangun integritas bangsa kedepan, oleh karena itu pencegahan sangat penting sekali dalam memerangi perilaku korupsi saat ini. Kedua, KPK memiliki tugas untuk melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang melaksanakan pemberantasan korupsi dan instansi lain yang bertugas melakasanakan pelayanan publik. Ketiga, tugas KPK berikutnya adalah melakukan monitoring terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara, karena melakukan monitoring terhadap

34Totok Sugiarto, “Peranan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia”, Jurnal Cakrawala Hukum, XVIII, 1, Juni, 2013, h. 191-192.

proses penyelenggaraan pemerintah tentunya sangat penting dilakukan demi menciptakan pemerintahan yang baik (good goverment) dan pemerintahan yang bersih (clean goverment) keempat, tugas KPK berikutnya adalah melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan korupsi , dalam menjalankan tugas supervisi ini KPK akan mengawasi setiap proses penanganan kasus korupsi dilembaga penegak hukim lainya seperti kepolisian dan kejaksaan. Kelima,tugas berikutnya yang dimiliki KPK adalah melakukan proses penegakan hukum yang dimulai dari penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, proses penegakan hukum ini adalah tugas lainya yang dimiliki KPK jadi suatu perkara korupsi bisa ditangani sendiri oleh KPK melalui proses penyelidikan, penyidikan dan penuntutan. Keenam tugas KPK adalah melakukan tindakan untuk melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh berkekuatan hukum tetap. Kewenangan ini adalah kewenangan eksekusi yang dimiliki KPK untuk melaksanakan penetapan hakim atau putusan pengadilan yang inkracht van gewisdje (memiliki kekuatan hukum tetap).35 D. Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi

1. Koordinasi

Kewenangan yang dimiliki KPK berikutnya adalah melakukan koordinasi hal ini tersebut tertuang dalam pasal 8 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang komisi pemberantasan korupsi. Berikut adalah beberapa kewenangan KPK antara lain:

Pertama, KPK berwenang mengoordinasikan, penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan dalam memberantas tindak pidana korupsi. Kewenangan ini menjadi kewenangan dasar KPK untuk bekerja sama dengan lintas instansi penegak

35Edi Abdullah, KPK dalam Sistem Peradilan Pidana Pasca Revisi, (PT. Depublish: Yogyakarta, cet pertama, Januari, 2021). h. 113-117.

hukum lainya. Serta mengontrol proses penanganan korupsi yang ditangani pihak lain.

Kedua, KPK berwenang menetapkan sistem laporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi, kewenangan ini akan membuat KPK bisa menetapkan suatu sistem dalam bentuk aplikasi dan lainya, dan mewajibkan lembaga lain untuk melaporkan proses penaganan kasus korupsi yang ditanganinya baik dalam proses penyelidikan, penyidikan, maupun penuntutan.

Ketiga, KPK berwenang meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi terkait, kewenangan meminta informasi ini akan menjadi dasar KPK untuk terus melihat proses penanganan kasus pada instansi kepolisian dan kejaksaan, dan permintaan informasi ini akan membuat KPK bisa melakukan penilaian terhadap suatu kasus tindak pidana korupsi.

Keempat, KPK berwenang melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi berwenang dalam melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi, dengan pendapat ini tentunya sangat penting untuk melihat bagaimana perkembangan kasus yang ditangani penegak hukum lain jika mengalami sebuah hambatan. Maka dengan adanya dengar pendapat akan mampu membuat penyelesaian suatu kasus bisa dilakukan secara besama-sama.

Kelima, KPK berwenang meminta laporan kepada instansi berwenang mengenai upaya pencegahan sehingga tidak terjadi tindak pidana korupsi, selain memantau perkembangan penindakan yang dilakukan oleh lembaga lain seperti kepolisian dan kejaksaan, maka KPK berwenang untuk meminta laporan kepada lembaga penegak hukum lain terkait dengan upaya pencegahan tindak pidana korupsi yang dilakukan.

2. Monitoring

Kewenangan monitoring sebagaimana yang dijelaskan dalam pasal 9 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-Undang

Nomor 30 Tahun 2002 tentang komisi pemberantasan korupsi. Berikut beberapa kewenangan KPK terkait tugas monitoring sebagai berikut:

Pertama, KPK berwenang melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan administrasi di semua lembaga negara dan lembaga pemerintahan.

Kedua, KPK berwenang memberi saran kepada lembaga negara dan lembaga pemerintahan untuk melakukan perubahan jika berdasarkan hasil kajian sistem pengelolaan administrasi tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya tindak pidana korupsi.

Ketiga, KPK berwenang melaporkan kepada presiden republik indonesia, dewan perwakilan rakyat, dan badan pemeriksa keuangan, jika saran KPK mengenai usulan perubahan tidak di laksanakan.

3. Supervisi

Dalam peraturan presiden republik indonesia Nomor 102 Tahun 2020 tentang pelaksanaan supervisi Pemberantasan tindak pidana korupsi, dalam pasal 2 dijelaskan bahwa KPK berwenang melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melaksanakan pemberantasan korupsi yakni kepolisiaan dan kejaksaan (pasal 1 ayat 2).

Bentuk supervisi yang dilakukan KPK dan pelaksaan supervisi terhadap perkara pidana korupsi yang dilakukan dalam tiga bentuk kegiatan yakni:

a. Pengawasan b. Penelitian c. Penelaahan

Supervisi dalam bentuk pengawasan adalah berupa kegiatan untuk mengawasi proses penanganan perkara korupsi yang sedang dilaksanakan oleh instansi yang berwenang kepolisian dan kejaksaan.

Untuk itu, dalam melakukan pengawasan tersebut maka KPK berwenang:

1) Meminta kronologis penanganan perkara tindak pidana korupsi

2) Meminta laporan perkembangan penanganan tindak pidana korupsi baik secara periode tertentu maupun sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan 3) Melakukan gelar perkara bersama terkait dengan perkembangan tindak

pidana korupsi ditempat instansi yang menangani perkara tersebut atau ditempat lain yang disepakati (pasal 6 ayat 2).

Supervisi dalam bentuk penelitian yakni berupa kegiatan pengumpulan data, pengolahan, analisis dan penyajian data atau informasi yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk mengetahui hambatan atau kendala yang dihadapi oleh instansi yang berwenang kejaksaan dan kepolisian untuk melaksanakan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Dalam melakukan penelitian terkait dengan hambatan dan kendala yang dihadapi instansi yang berwenang kejaksaan dan kepolisian dalam melaksanakan pemberantasan korupsi, berikut adalah kewenangan KPK sebagai berikut:

1) Meneliti pelaksanaan hasil pengawasan mengenai rekomendasi sebelum yang pernah diberikan KPK kepada instansi lain.

2) Memberikan arahan dalam melaksanakan hasil pengawasan.

3) Melakukan rapat mengenai perkembangan penanganan perkara bersama perwakilan dari kepolisian negara republik indoneisa atau perwakilan

kejaksaan republik indonesia dengan hasil berupa kesimpulan dan rekomendasi.

Supervisi dalam bentuk penelaahan merupakan kegiatan untuk menelaah hasil pengawasan dan penelitian untuk menentukan saran dan rekomendasi serta pengambilan keputusan yang harus dilaksanakan dalam rangka percepatan penuntasan penanganan perkara tindak pidana korupsi (pasal 8 ayat 1).

Dalam melakukan penelaahan maka KPK berweanang sebagai berikut:

1) Menelaah pelaksanaan hasil penelitian dan rekomendasi.

2) Melakukan gelar perkara terhadap hasil pengawasan dan laporan hasil penelitian di lembaga yang berwenang melaksanakan pemberantasan tindak pidana korupsi yang sedang di supervisi.36

E. Pandangan Siyasah Dusturiyah terhadap lembaga KPK a. Konstitusi

Undang-Undang Dasar 1945 setelah proklamasi kemerdekaan, indonesia lahir sebagai negara yang berdaulat. Oleh karena itu, indonesia sebagai negara harus memiliki konstitusi untuk mengatur kehidupan ketatanegaraanya, sehingga UUD 1945 disahkan menjadi konstitusi, untuk itu bentuk negara dalam UUD 1945 adalah kesatuan republik indonesia. Di dalam fiqih siyasah konstitusi disebut juga dengan dusturi, kata ini berasal dari bahasa persia artinya adalah seseorang memiliki otoritas, baik dalam bidang politik maupun agama.

Menurut „Abdul wahhab khallaf, prinsip-prinsip yang diletakan islam dalam perumusan Undang-Undang dasar ini adalah jaminan atas hak asasi manusia setiap anggota masyarakat dan persamaan kedudukan semua orang di mata hukum, tanpa membeda-bedakan stratifikasi sosial, kekayaan, pendidikan, dan agama.

36Edi Abdullah, KPK dalam Sistem Peradilan Pidana Pasca Revisi, (PT. Depublish: Yogyakarta, cet pertama, Januari, 2021). h. 123-133.

Pembahasan yang berkaitan dengan sumber dan kaidah perundang-undangan disuatu negara, baik sumber materil, sumber sejarah, sumber perundangan maupun sumber penafsiran. Inti persoalan dalam sumber konstitusi ini adalah peraturan tentang hubungan antara pemerintah dan rakyat dari latarbelakang sejarah negara yang bersangkutan. Untuk itu, materi dalam konstitusi sejalan dengan aspirasi dan jiwa masyarakat dalam negara tersebut.

Pembahasan yang berkaitan dengan sumber dan kaidah perundang-undangan disuatu negara, baik sumber materil, sumber sejarah, sumber perundangan maupun sumber penafsiran. Inti persoalan dalam sumber konstitusi ini adalah peraturan tentang hubungan antara pemerintah dan rakyat dari latarbelakang sejarah negara yang bersangkutan. Untuk itu, materi dalam konstitusi sejalan dengan aspirasi dan jiwa masyarakat dalam negara tersebut.