BAB V SIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA
SIMPULAN DAN SARAN
B. Pandangan Soekarno terhadap Jakarta
Pandangan Soekarno terhadap Kota Jakarta menjadi utama karena penataan wilayahnya perlu diselaraskan oleh zaman.
Soekarno percaya bahwa Jawa anehnya disalurkan melalui sebuah medium yang modern.
Walau arsitektur modernis, seperti yang ditemukan oleh le Corbuiser, terbuka pada interpretasi, sebagai bagian dari display publik, ia menjadi paradoksnya. Soekarno menggunakan arsitekturnya sebagai alat untuk mencapai tujuan Revolusi Indonesia yang dinyatakannya sebagai peristiwa terbesar dalam sejarah karena Indonesia akan memimpin dunia dalam perang melawan imprealisme. Seiring berjalannya waktu Soekarno semakin gencar untuk mengangkat Indonesia
IV 1962 membuat Jakarta merasa wajib berbenah agar dapat menampilkan wajah Indonesia kepada dunia. Demi suksesnya penyelenggaraan ajang olahraga merupakan bagian dari sebuah proyek nasionalisme yang besar.
Namun pada kenayataanya Soekarno membangun kota bukan untuk siapa-siapa di Jakarta, melainkan untuk tamu asing yang datang ke Jakarta.
Selayaknya pameran bagi orang asing. Bila dilihat dari dekat, maka akan terlihat ketidakrataan yang tersembunyi, seperti orang-orang kecil yang hidup dibawah melainkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru dan menolak keberadaan yang lama.
Heuristik pencarian arsip sezaman sebagai data penunjang dan Koran terbitan sezaman sebagai fakta pembanding dengan penelitian yang dilakukan penulis. Studi kepustakaan ini dilakukan dengan membaca dan mengkaji buku-buku yang relevan serta jurnal-jurnal yang dapat membantu penulis dalam proses memecahkan permasalahan yang kaji mengenai Pemikiran Soekarno dalam Pembangunan Ibu Kota Jakarta masa Demokrasi Terpimpin Tahun 1962-1964.
Berkaitan dengan ini, penulis melakukan kunjungan pada perpustakaan-perpustakaan yang ada di wilayah Kota Serang seperti perpustakaan Daerah Provinsi Banten, Perpustakaan Balai Cagar Pelestarian Budaya Banten, dan Pepustkaan Nasional Kota Jakarta serta mencari arsip sezaman di Arsip Negara Republik Indonesia di Jakarta Selatan (Pasar Minggu) yang dapat mendukung penulisan ini. Setelah berbagai sumber terkumpul dengan cukup dan relevan sebagai acuan dalam penulisan, maka penulis mulai mempelajari dan mengkaji serta mengidentifikasi mengenai sumber yang akan dipilih dalam penelitian.
berkaitan dengan penelitian ini, seperti Keppres dan pidato-pidato yang berkaitan dengan pembangunan Kota Jakarta tahun 1962-1964 serta master plan kota Jakarta tahun 1960 sebagai sumber yang diterbitkan pada masa tersebut, penulis melakukan kunjungan di Arsip Nasional Republik Indonesia di Kota Jakarta, hal ini dilakukan sebagai komparasi antara sumber kepustakaan dan sumber arsip sezaman, agar data-data yang ditemukan oleh penulis lebih akurat dalam proses analisis yang dilakukan oleh penulis.
Koran sezaman menjadi data pembanding yang dijadikan referensi oleh penulis, karena Koran yang terbit pada zaman memiliki kajian yang relevan, penulis menilai penulisan yang dilakukan media berdasarkan diyakini relevan jika sumber Koran dijadikan sebagai perbandingan data antara buku yang dikaji dengan penulis dan sumber Koran yang dimiliki penulis, supaya penulis memiliki sudut pandang berbeda terhadap penelitian yang dikaji oleh penulis.
pembangunan utama, benturan lahan telah lama berlangsung dalam kondisi membingungkan dan diabaikan sehingga banyak penduduk yang tidak memberikan bukti jelas atas klaim mereka terhadap tanah (Susan Blackburn, 2011 : 268) Tahun 1953 Presiden Soekarno melantik Soediro menjadi Walikota Praja Jakarta Raya menggantikan Sjamsulrizal, sebelumnya Soediro merupakan Gubernur Provinsi Sulawesi.
Bagi Soediro, Jakarta bukan sesuatu yang asing, sebab pada saat menjelang proklamasi 17 Agustus 1945, Soediro pernah menjadi wakil pimpinan Barisan Pelopor, yakni pasukan pejuang yang disegani di Jakarta masa itu. Tantangan yang dihadapi Soediro selaku Walikota amat sulit, karena pekerjaan rumah Soediro ialah menghadapi ledakan penduduk Belanda secara massif serta membongkar pemukiman dibuatlah suatu rencana untuk Jakarta. Tim penyusunnya dipimpin oleh seorang panalog berkebangsaaan Amerika bernama Kenneth Wats.
Rencana ini selesai dibuat pada 1957 dan diberi nama Outline
kota industri untuk menampung tenaga kerja yang kurang berpendidikan yang bermukim di Jakarta. Selain itu membuat jalan lingkar Jakarta dan jalan-jalan arteri untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Juga ini kemudian disetujui oleh dewan kota pada 1958. tersebut maka diadakan analisa dan perkiraan mengenai kebutuhan kesempatan kerja, perumahan, fasilitas-fasilitas sosial seperti sekolah-sekolah, rumah sakit serta transportasi, industri perkantoran. Walaupun Outline Plan dimabil sebagai
sebagai sebuah kota metropolis.
Sebagai penutup dari Rencana Pendahuluan ialah tidak ada seorang pun yang mampu memprediksikan perkembangan Jakarta dimasa mendatang, rencana adalah sebuah langkah awal, namun karena pada proses perencanaan awal masih belum mendapatkan sebuah kepastian dimasa itu, patut disadari bahwa permasalahan yang terjadi di Jakarta tidak lepas dari sebuah pergolakan yang terjadi di Indonesia, menjadi pusat utama perubahan stukutur sosial yang siginifikan terlihat di Jakarta, dengan terbentuknya Outline Plan Kota Jakarta maka sudah dipastikan bahwa Jakarta sudah memiliki rancangan kedepan nantinya dalam proses pembangunan.
B. Pembangunan Jakarta Tahun 1962-1964
Pada tahun 1958 di Tokyo tidak ada jalan lain bagi Asian Games ketiga di Tokyo harus sudah di umumkan pada penutupan, negara mana yang akan menjadi tuan rumah pada acara Asian Games IV tahun 1962. Ternyata hampir semua negara menarik diri dalam pencalonan sebagai
diterima sebagai tuan rumah.
Tetapi karena ada keraguan-raguan dari negara-negara lain
terhadap kemampuan
Indonesia, Asian Games Federation mengusahakan agar Taiwan mengajukan diri sebagai calon. Tetapi Taiwan harus menunggu persetujuan dari pemerintahnya dan pada saat pembukaan sidang pada tanggal 23 Mei 1958, Asian Games Federation belum mendapatkan kesanggupan dari Taiwan secara resmi. Kira-kira satu jam sebelum Asian Games Federation membuka sidang plenonya Pakistan diajukan sebagai calon. Pakistan yang sudah menarik diri, dipaksakan untuk bisa diambil suara agara putusan jangan sampai jatuh pada Indonesia. Akhirnya Indonesia disetujui oleh sidang pleno menjadi tuan rumah untuk Asian Games IV. (Farabi Fakih, 2005:58).
Menjelang Asian Games IV, Soekarno mambangun Hotel Indonesia berlantai 14, saat itu Jakarta belum memiliki hotel bertaraf internasional, kecuali Hotel Des Indes, peninggalan Belanda kala itu. Pembangunan Hotel Indonesia (HI) di lakukan di lahan bekas kebun sayur,
dan Sudirman, yang sebelumnya jalan kecil. Tahun 1960 menjadi saksi pembangunan masjid Istiqlal.
Masjid terbesar di indonesia.
Bung Karno juga membangun toko serba ada modern pertama, Sarinah, di jalan Thamrin.
Sarinah adalah sala satu pengasuh Bung Karno sewaktu kecil. Sedangkan Monas yang
C. Perubahan Jakarta masa