BAB V SIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP
C. Pembangunan Pasca Demokrasi Terpimpin
1. Perubahan Jakarta masa Demokrasi Terpimpin
Jakarta mengalami perkembangan dari masa ke masa yang membuatnya semakin kompleks akan sebuah permasalahan baik dari segi ekonomi, sosial, dan budaya. Peran pemerintah dalam ekonomi semakin berkembang di Jakarta, sedikit sekali pertumbuhan yang terjadi dalam industri manufaktur, yaitu bidang yang kemungiknan besar menyediakan pekerjaan modern dengan bayaran memadai bagi para imigran baru. Manufaktur skala besar masih didominasi orang-orang Cina yang hanya mendapat sedikit insentif untuk berkembang dilingkungan yang Anti Cina. Industri-indsutri yang tergantung pada barang atau suku cadang impor mengalami imbas terbesar akibat penghentian impor oleh pemerintah dan kekacauan yang disebabkan oleh sistem lisensi.
Menurut sensus 1961, angkatan Kerja di Jakarta hanya mengalami sedikit sekali perubahan dibandingkan pada masa kolonial. Mayoritas penduduk bekerja diberbagai layanan seperti transportasi, pergudangan, perdagangan dan pemerintahan. Sekitar seperempat angkatan kerja bekerja dibidang manufaktur dan konstruksi. Soal perempuan, catatan pekerjaan ini jauh dari keadaan sebenarnya.
Sensus melaporkan hanya 19 % perempuan yang bekarja dan 60% mengurus rumah tangga yang tentu saja dalam istilah sensus adalah kategori ekslusif. Begitu banyak perempuan pasti tidak tercatat karena bekerja dibidang tidak umum.
Sebagai contoh, kemungkinan besar sensus tidak akan menghitung jumlah
penduduk. Sejumlah kecil politikus, pegawai negeri, perwira militer dan pengusaha yang memiliki kedudukan tepat memperoleh kekayaan, biasanya melalui korupsi.
(Susan Blackburn, 2011 :251).
Tekanan terhadap pengaruh asing yang tidak diinginkan adalah salah satu sisi kehidupan Jakarta dibawah Demokrasi Terpimpin. Soekarno menentang keras rock and roll dan budaya impor lainnya dari Amerika yang dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan nasional Indonesia. Jakarta merupakan pusat kesusatraan dan penerbitan Indonesia, tempat sebagian besar film Indonesia di produksi serta mayoritas kritik budaya dihasilkan dan di cetak. Bidang kebudayaan kemudian terbagi menjadi kelompok yang bersebrangan: mereka yang menekankan pada nasionalisme dan tanggung jawab sosial, melawan mereka yang menyukai pendekatan yang lebih kosmopolitan dipegang oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi kebudayaan yang disponsori komunis. Pada tahun demokrasi Terpimpin mereka mendukung kampanye penuh keributan untuk memboikot film-film barat yang dianggap menyampaikan nilai-nilai imprealis. Tanpa peduli berada dipihak kelompok mana, banyak penulis dan seniman pada masa itu mempelajari kehidupan urban. Beberapa diantara mereka yang juga pendatang baru seperti mayoritas orang Jakarta, mengalami kesulitan untuk menghadapinya. (Susan Blackburn, 2011:264) Ajip Rosidi merupakan penyair yang bermigrasi ke Jakarta pernah menuliskan syairnya mengenai kota Jakarta :
Saya merasa tiba dalam suatu kurungan yang memualkan
Kehilangan akar dan tempat berpijak dalam galau kota internasional yang Membuka diri terhadap segala arus tanpa ada penepisan lagi
Kesibukan tak punya arah Duta dan tipu.
Namun ia tidak bisa menetap di desa asalnya dan harus kembali ke Jakarta, karena ia menulis :
Kucinta Jakarta
Karena kau kota kelahiran kedua.
Bagi,nya Jakarta adalah kota yang penuh kebebasan namun membingungkan.
Syair yang disampaikan oleh Ajip Rosidi merupakan sebuah pandangan Jakarta pada masa tersebut serta dampak dari adanya Demokrasi Termpin yang menjadikan representasi Jakarta, dalam syair tersebut Ajip Rosidi menjelaskan mengenai makna tentang sebuah kota Jakarta yang menjadi sempit dan mengerikan
penyaring terhadap hal tersebut, sebuah kota yang sibuk namun tak tentu arahnya, banyaknya pemimpin namun menipu, kemudian Ajip Rosidi meneruskan syair tersebut, Jakarta adalah sebuah kota yang menjadi lahirnya jati diri dan Jakarta adalah sebuah kota yang memberikan kebebasan namun membuatnya binggung dengan kondisi Jakarta. Dari syair yang disampaikan tersebut makna yang dapat dipetik ialah Jakarta mengalami perubahan dari masa ke masa. Lagu milik Ebiet G Ade yang berjudul Jakarta Satu :
Sementara, masih tersisa gema doa di mulutku Inikah Jakarta ? Hanya beginikah sikapmu Jakarta ? Atau aku yang salah bila kukatakan kau tak ramah ?
Petikan syair tersebut menjadi pembanding bahwa Jakarta merupakan sebuah kota impian masyarakat Indonesia, semua tertuju pada kota ini Jakarta yang dibanjiri oleh para pendatang dari luar daerah pada akhirnya harus menghadapi masalah pesatnya pertumbuhan penduduk, akibat migrasi yang sangat pesat ini berdampak pada persaingan kerja dan ketimpangan antara kelas sosial sehingga memunculkan permasalahan yang kompleks dan masyarakat Jakarta mengalami kehidupan seperti kota kumuh serta banyaknya pemukiman liar yang terjadi di Jakarta, budaya yang berubah pasca demokrasi terpimpin ini terlihat dengan adanya beberapa kebudayaan baik daerah maupun barat yang masuk ke Indonesia yang kurang difilter oleh masyarakat yang mengakibatkan perubahan budaya di Jakarta yang hilang atau berasimilasi, dari aspek kehidupan di Jakarta munculnya kasta antara golongan elite dan golongan bawah “miskin” yang membuat kondisi Jakarta menjadi semakin kompleks dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tingkat ekonomi masyarakat yang masih dalam proses membangun secara bertahap karena setelah mengalami masa perang, kondisi ekonomi Indonesia belum stabil, ditambah dengan Soekarno yang menginginkan untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan Rumah Asian Games IV yang membuatnya harus mencari dana untuk pembangunan dan menyambut tamu dari Asian Games IV Jakarta, setelah Asian Games IV ditutup pada 5 September 1962 terjadinya konfrontasi dengan India sebagai tokoh utamanya Tuan Sondhy yang datang ke Indonesia sebagai Pengurus Komite Olahraga Asia yang meninjau langsung sarana dan prasana menjelang
mengenai kecewa terhadap tuan rumah Indonesia yang membuat Indonesia pada saat itu tidak menerima dengan pernyataan dari Tuan Sondhy yang membuat marah warga Indonesia karena yang kemudian kelompok pemuda melakukan demontrasi
“ganyang sondhy” sebagai bentuk kekecewaan pada India, kelompok ini melakukan demontrasi di sekitaran Jakarta menyerang masyarakat India yang tidak tahu apa-apa, warga India kemudian enggan kerumah karena takut dengan demontrasi kemarahan masyarakat Indonesia di Jakarta.