• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI UMUM

Lampiran 5. Panduan Wawancara Mendalam

1. Bagaimana bentuk penguasaan lahan para petani di Desa Ciaruteun Ilir? 2. Bagaimana peran Serikat Petani Indonesia dalam pengembangan petani di

Desa Ciaruteun Ilir?

3. Apakah Serikat Petani Indonesia memfasilitasi dan mengajak para petani dalam menentukan masalah dan perencanaan program? Jelaskan

4. Apakah Serikat Petani Indonesia membangun jaringan dengan berbagai pihak untuk memperjuangkan kepentingan petani? Jelaskan

5. Apakah Serikat Petani Indonesia mampu meningkatkan kemampuan petani dalam mengembangkan pertaniannya? Jelaskan

6. Apakah Serikat Petani Indonesia telah memberikan informasi, pendidikan dan pelatihan yang dapat meningkatkan keberdayaan petani di Desa Ciaruteun? Jelaskan

7. Apakah Serikat Petani Indonesia sudah tepat sasaran dalam memperjuangkan kepentingan petani penggarap atau memiliki lahan sempit? Jelaskan

8. Apakah petani sudah ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan bersama SPI mulai dari tahap pengambilan keputusan, pelaksanaan, evaluasi dan menikmati hasil?

9. Apakah petani sudah mandiri dalam mengembangkan pertaniannya baik ketika didampingi SPI maupun tidak?

Lampiran 6.

Struktur Sosial Desa Ciaruteun Ilir DESKRIPSI

Kebanyakan petani di Desa Ciaruteun merupakan petani golongan bawah karena tidak mempunyai lahan ataupun berlahan kurang dari 0.5 ha. Itupun rata-rata adalah tanah keluarga. Sangat jarang petani disini yang mempunyai lahan diatas 1 hektar karena sudah banyak yang dijual semasa dahulu. Oleh sebab itu, petani dapat terus bertani di lahan terbatas dengan adanya hubungan kekeluargaan yang terjalin. Petani di Desa Ciaruteun Ilir merupakan petani sayuran yang seharusnya mempunyai lahan luas agar hasil produksinya banyak sehingga keuntungan yang diperoleh lebih meningkat. Lahan yang kurang membuat petani-petani disini bertani dengan sistem sewa lahan, kontrak lahan, bahkan menjadi buruh tani. Hal itu pun dibuktikan pernyataan Ketua SPI sebagai berikut.

“Rata-rata penduduk sini mah udah nggak punya lahan mas, cuman

masih semangat buat bertani beda sama desa lain yang udah banyak jadi pengrajin atau bekerja dipabrik karena memang sumber utama kita disini ya dari bertani terutama bertani sayuran saat ini. Sekalinya ada yang punya lahan luas ya luas banget sampe-sampe yang lain yang nggak punya lahan ya udah nggak punya sama- sekali.Makanya penduduk disini paling bertani dengan sistem sewa, pintasan, ataupun ya jadi buruh saja sama orang yang mempunyai lahan tergantung kesepakatan dengan si pemilik lahan.”(Bpk J, 52th)

Sistem sewa atau kontrak lahan pun sulit didapatkan apalagi kalau untuk menyewa atau mengontrak yang luas karena lahannya terbatas saling berebut. Oleh karena itu, banyak petani yang tidak kebagian sewa lahan ataupun kontrak, Apalagi jika tidak punya modal untuk sewa atau kontrak lahan. Sistem sewa juga terjadi dengan sistem kekeluargaan sebab keluarga akan menyewakan dengan harga yang lebih murah. Jika petani tidak kedapatan lahan untuk disewa/kontrak ataupun ada lahan dengan harga yang mahal, tentunya akan menjadi buruh tani. Banyak juga petani Desa Ciaruteun Ilir yang bertani sebagai buruh tani. Hal ini pun diungkapkan responden berikut.

“Saya mah nggak punya lahan mas. Ya cuman jadi buruh aja dilahan orang. Suka bantu-bantu dan kerja kalau lagi ada lahan yang mau digarap, lahan yang digarap ya lahan milik sodara atau punya orang lain. Nanti dibayar kalau udah selesai garap per harinya. Perhari bisa dapat upah sekitar puluh ribu rupiah. Penginnya sih bisa nyewa lahan kaya yang lain mas, nanti bayarnya perpintasan setiap panen sama yang punya lahan. Cuman masalahnya lagi nggak kebagian lahan yang bisa disewa mas. Kalau orang yang saya kenal punya lahan mah udah pada duluan disea yang lain soalnya semua orang pada berebut sewa lahan supaya bisa bertani. Makanya orang yang kaya saya gini kan nggak ngerti,

ya ujung-ujungnya nggak kebagian dan jadi buruh”(Bpk O, 37 tahun)

Harga sewa perpintasan bervariasi tergantung kategori lahan yang dilihat dari jauh atau dekat ke air dan subur atau tidak subur. Rata-rata biaya sewa perpintasan itu sekitar Rp 250 000,00 sampai dengan Rp 300 000,00 per 1000 m2. Kalau lahan yang disewa kurang dari 1000 m2 hanya tinggal dibagi-bagi setiap hasil tanam sayuran sebulan sekali. Upah buruh tani di Desa Ciaruteun Ilir berkisar Rp 35 000,00 sampai Rp 50 000,00 tergantung kemanusiaan dan kekeluargaan antara yang memburuhkan dengan buruhnya. Sistem kontrak tidak menentu, tergantung kesepakatan yang biasanya pembayaran ketika akhir tahun, setelah lahan dikontrak. Itu pun dengan adanya perjanjian atau DP sebelumnya. Semuanya itu tidak menentu tergantung kesepakatan dua pihak.

Tingkat Partisipasi dan Tingkat Kemandirian Petani di Desa Ciaruteun Ilir

DESKRIPSI

SPI (Serikat Petani Indonesia) merupakan Organisasi Massa yang beranggotakan petani-petani tidak berlahan. Program-program yang ada dibangun bersama petani dan adanya pelatihan-pelatihan sebelumnya untuk membangun tingkat partisipasi dan kemandirian. Pelatihan-pelatihan dan pendidikan non formal dapat meningkatkan kemampuan petani dalam menambah wawasan dan keinginan bersatu. Sebelumnya tidak mengetahui tentang WTO, permasalahan agrarian, tanah, dll menjadi tahu dan mengerti. Rapat-rapat yang diadakan antar petani pun akan menambah pengetahuan petani karena saling berbagi informasi. Pusdiklat dilaksanakan 3 kali dalam setahun. Musyawarah dalam menentukan keputusan dilakukan ketika rapat-rapat di rumah petani, sedangkan pusdiklat (pusat pendidikan dan pelatihan) petani letaknya di Cijujung, Bogor. Pusdiklat diperuntukkan bagi petani yang ingin belajar pertanian lebih baik dan menambah pengetahuannya serta menjadikan petani bagian anggota dari Serikat Petani Indonesia.

Pelatihan yang diberikan berupa pelatihan cara tanam yang baik bagi setiap jenis tumbuhan, pembuatan bibit dan pupuk serta pendidikan kepemimpinan, organisasi. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan keberanian petani dalam mengeluarkan pendapatnya dan mempertahankan tanah yang dimilikinya untuk tidak dijual. Para petani sudah mampu mengembangkan kapasitas yang dimiliki untuk meningkatkan kemandirianya. Mandiri dari segi pengetahuan untuk mempertahankan pertaniannya, mau dan mampu menerapkan inovasi pertanian yang diberikan saat pelatihan dan saling mengajarkan ke petani lainnya. Dalam FGD yang berlangsung beberapa responden pun menyatakan pendapatnya sebagai berikut:

“Saya mah udah mampu mas kalau nerapin inovasi yang diajarin bareng sama SPI itu kan seperti membuat pupuk organik. Ya ngeliat dari manfaatnya bagus buat tanaman makanya saya nerapin, cuman kalau ngajak-ngajak petani lain ikut mah nggak mas, kecuali kalau petani itu sendiri nanya ke saya baru deh saya jelasin dan langsung praktekin nanti mereka ngeliat saya” (Bpk H, 45 tahun)

“Kalau masalah-masalah pertanian saya udah ngerti mas dan sudah paham cara mengatasi masalahnya karena masalah umum yang terjadi itu biasanya hasil pertanian kurang bagus ya disebabkan karena bibitnya atau pupuknya. Kalau misal ada masalah serius seperti hama dan lainnya itu bisa saling kerjasama dan konsultasi dengan petani lain” (Bpk S, 45 tahun)

“Saya udah sering masarin hasil pertanian sendiri mas, itu biasanya kepasar. Sebenarnya lebih banyak untungnya karena harganya lebih tinggi, cuman kadang-kadang karena saya udah tua saya cape ya jadinya biar nyuruh sodara ja yang jualin. Kalau petani kan dari pagi kerja sampe sore neng jadi badan udah pada cape kalau harus

keluar masarin, ditambah kan nggak punya mobil pengangkut sendiri. Makanya saya kadang lebih milih sama sodara aja yang juga tengkulak” (Bpk I, 80 tahun)

SPI juga membangun partisipasi petani. SPI mempunyai program kerja yang sudah ada namun program tersebut belum tentu dilaksanakan. Program yang ada dijalankan atau tidak tergantung petani-petani sendiri dan tergantung dinamika organisasi sedang bagaimana. Program SPI langsung dari pusat adalah UU hak asasi petani, lahan abadi yang dibahasnya ditingkat nasional. Evaluasi musyawarah wilayah membahas UU program sebelumnya dan rencana selanjutnya yang sebelumnya merupakan hasil evaluasi dari setiap desa. Evaluasi di desa dilakukan rutin petani dalam satu bulan. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui hasil pertanian yang didapatkan. SPI adalah Organisasi Massa yang menampung aspirasi-aspirasi petani lemah yang tidak berlahan. SPI menambah ilmu yang dimiliki petani, sehingga petani semakin percaya diri dan mau ikut berpartisipasi untuk mengeluarkan pendapat. Rapat-rapat pun diadakan sesuai jam kerja petani. Dalam FGD yang berlangsung beberapa responden pun menyatakan pendapatnya sebagai berikut:

“Saya mah mas ikut datang kalau rapat-rapat, terutama ketika membahas rencana kegiatan. Cuman saya sekedar memberikan pendapat tentang keadaan pertanian saya, kebutuhan saya, dan yang saya inginkan. Namun kalau untuk memberikan ide rencana program atau kegiatan itu saya kurang ngerti mas. Paling ngikut sama ketua SPI aja dan yang lainnya. Terpenting kan saya sudah mengeluarkan pendapat saya.” (Bpk E, 50 tahun)

“Saya mah bisa ikut rapat selama nggak ada halangan mas. Soalnya kalau rapat-rapat biasanya mah sesuai, pas udah selesai waktu kerja dan udah sempet istirahat dirumah, abis maghrib sekitar jam setengah 7 atau jam 7an mas bisa sampe jam 10 atau lebih selesainya. Tergantung hal yang dibahas itu sedang banyak dan penting atau tidak. Kalau memang lagi mau buat rencana kegiatan itu biasanya itu paling lama bisa sampe jam 11 di rumah Pak Jaya, Ketua SPI.” (Bpk T, 37 tahun)

“Evaluasi mah itu pasti dilakukan neng setiap sebulan sekali karena biasanya kan panen itu sebulan sekali. Ya saya dan semuanya anggota ikut diundang bareng rapat buat evaluasi misalnya gimana hasil pertaniannya, terus bibitnya bagus gak dan diberi kesempatan buat menyatakan pendapat ataupun saran selanjutnya tentang kegiatan. Hitung-hitung belajar ngomong biar berani mas” (Bpk T, 37 tahun)

Sebelum adanya SPI, banyak petani kecil yang tidak berani untuk berbicara mengeluarkan pendapatnya, hanya mengikuti saja. Saat ini, bahkan sudah banyak petani yang sampai ikut demo ke istana untuk menyampaikan aspirasinya dalam memperjuangkan nasib-nasib petani yang lemah. Petani-petani sudah mau dan

mampu ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan bersama atas inisiatif yang dibangun bersama seperti masalah pengairan irigasi, gorol lahan, dll. Dalam FGD yang berlangsung beberapa responden pun menyatakan pendapatnya sebagai berikut:

“Yah kalau saya mah neng mau-mau aja pas udah ada kegiatannya saya pasti ikut soalnya kan buat kepentingan bersama juga. Misalnya kaya irigasi ini kan buat sama-sama kita bangun untuk pengairan ke sawah pertanian kita maupun pas lagi gorol tanah ya saya selalu ikut selama nggak barengan pas saya lagi ngegarap dilahan saya apalagi pas mau panen. Namun kalau gorol tanah gitu biasanya pasti saya ikut karena kan udah direncanain sebelumnya dan untungnya juga buat bareng ”(Bpk A, 27 tahun)

“Kalau buat sumbangan setiap kegiatan seperti memperbaiki irigasi itu gak ada sumbangan. Begitu juga uang yang dikeluarkan untuk bibit-bibit tidak ada karena kita udah mulai mandiri dengan adanya kelompok mitra usaha tani. Modal kegiatan itu udah memakai dari uang yang ada dari gorol tanah bersama itu kan disimpan dulu untuk kepentingan banyak dan kalau sudah digunakan untuk

kepentingan bersama sisanya baru dibagi-bagi” (Bpk R, 35 tahun)

Hasil yang didapat dari program yang dijalankan, harus dapat dirasakan semua petani, seperti kegiatan gorol yang hasilnya akan dibagi rata semua anggota. Sebelum pelaksanan kegiatan dilakukan dahulu diskusi bersama dan mengidentifikasi masalah-masalah yang dirasakan bagi semua petani. Kebanyakan masalah yang dihadapi petani disini pun sama. Oleh karena itu, kegiatan yang dilaksanakan harus menghasilkan manfaatnya yang dirasakan semuanya. Dalam FGD yang berlangsung beberapa responden pun menyatakan pendapatnya sebagai berikut:

“Sekarang mah mas udah lebih enak pas ada bareng-bareng nih kegiatan sama SPI kita jadi bisa produksi benih sendiri. Kan produksi benih biasanya di tanah-tanah PT/pemilik lahan yang kita cari bersama untuk menggarap soalnya kan kita kekurangan lahan buat menggarap. Nanti hasil benihnya dibagikan ke petani-petani lainnya ataupun dijual yang untungnya disimpen dulu diketua nanti dipake kalau ada kumpul-kumpul beli rokok, kopi dan kegiatan pertanian yang membutuhkan dana. Namun, kalau hasil gorolnya lagi banyak uangnya juga suka dibagiin rata ke sesama petani yang ikut gorol tanah.”(Bpk E, 55 tahun)

“Pelatihan awal dari SPI itu bagus mas, saya jadi banyak dapet pelajaran mulai dari belajar membuat pupuk, membuat benih, mencangkul yang baik, dan pengetahuan lainnya tentang sikap sebagai petani yang harus bisa menjaga lahan yang dimiliki. Makanya kan jadi semakin banyak ilmu yang didapat buat pertanian saya juga mas, jadi semakin bagus hasilnya yang di dapat.” (Bpk R,

37 tahun)

Para petani saling bersama dalam segala kegiatan pertanian dikarenakan lahan pertanian yang ada sedikit. Petani saling membantu petani lainnyaa untuk dapat terus bertani. Oleh karena itu, program kegiatan yang ada harus mementingkan semua pihak dan dapat dirasakan hasilnya bersama-sama. Jika ada petani yang tidak menikmati hasilnya, berarti kegiatan yang dilaksanakan telah gagal. Setelah pelaksanaan kegiatan, harus ada evaluasi untuk mengetahui perkembangan kegiatan yang dilaksanakan.

Peran dan Keberhasilan LSM (Serikat Petani Indonesia)

DESKRIPSI

Serikat Petani Indonesia (SPI) merupakan Organisasi Massa yang beranggotakan petani. SPI memberikan pendidikan dan pelatihan bagi petani sebelum menjadi anggota SPI. Petani yang sudah mengikuti pendidikan dan pelatihan diharapkan mampu menentukan kebutuhannya sendiri dengan lebih berpartisipasi dalam berbagai kegiatan dan mampu membuka pemikirannya. Namun kendala SPI terletak dari tidak adanya bantuan modal dalam berbagai kegiatan, sehingga petani saling mengumpulkan uang dari kegiatan pertanian yang bisa menghasilkan uang. Sebagian uangnya dibagi rata setiap anggota sedangkan sebagian lagi dikumpulkan untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. Seharusnya tugas pemerintahlah yang memberikan modal untuk petani. SPI ingin para petani belajar memberdayakan dirinya sendiri dan membawa petani lainnya memberdayakan diri mereka. SPI mengharapkan anggotanya mampu mengelola tanah yang terbatas dengan hasil yang baik dan mempunyai pemikiran untuk mempertahankan lahan yang mereka miliki. SPI mempunyai tingkatan di wilayah, DPP, dan pusat. Walaupun begitu, kelemahan SPI adalah menyeluruh semua petani kalangan bawah yang menjadi anggota SPI. Terkadang adanya kader yang tidak perduli untuk mengajarkan ilmu yang dimilikinya ke petani lainnya, hanya sekedar mengerti.

SPI mempunyai program-program pendidikan dalam pertanian, kepemimpinan dan politik. Para petani yang menjadi anggota akan mempraktekan dan saling mengajak serta memberi informasi ke petani lainnya. Saling bekerjasama mengajak petani disekitarnya, LSM, dan pemerintah desa sampai institusi pendidikan untuk memberdayakan dan membela hak-hak petani. SPI punya program kerja visi dan misi. SPI menyalurkan aspirasi masyarakatnya seperti saling bekerjasama mengatasi permasalahan utama di desa yaitu masalah air dan tanah. Program SPI mempunyai sasaran langsung petani anggota lapisan bawah, hal ini berbeda dengan program yang diberikan dari pemerintah yang kurang tepat sasaran. Program atau bantuan yang diberikan pemerintah biasanya diberikan kepada petani lapisan menengah dan atas yang sudah berdaya, biasanya bantuan ini diberikan kepada ketua gapoktan. Hal ini dirasa kurang bermanfaat bagi petani lapisan bawah karena mereka tidak merasakan bantuan yang berasal dari pemerintah karena hanya dinikmati oleh sebagian atau individu petani. Hal ini didukung oleh pernyataan responden berikut ini.

“Mungkin ada bantuan dari pemerintah tapi tidak turunnya ke petani lapisan bawah kaya kita-kita ini. Mungkin ke ketua gapoktan yang udah punya banyak lahan ataupun dinas-dinas lebih dahulunya. Uang atau dana modal yang ada dari pemerintah itu jadi suka tidak transparan sampe ke petani juga belum tentu, sehingga ya kita petani-petani nggak punya lahan tetap aja begini serba kekurangan dan masih banyak masalah. Paling ini sejak ada SPI udah jadi berani mengeluarkan pendapat-pendapat dan banyak pengetahuan yang didapat dari pelatihan juga kan jadi

banyak mengerti dan saling berkelompok nih kita dapat terus bertani dari nyari modal gimana pun. (Bpk F, 32 tahun) ”

SPI memulai dari rapat-rapat intern di desa, sampe gerakan petani internasional, La Via Campisena. Banyak kebijakan bersama yang mendukung permasalahan petani internasional yaitu masalah import pertanian. Semua petani berkumpul, bekerjasama dengan mahasiswa HMI karena mahasiswa adalah garda depan pembangunan. Selain itu, bekerjasama dengan lembaga penelitian, KPA tentang pembaruan agrarian dan organisasi selain petani. Semuanya saling membentuk jaringan. Kerjasama mulai dari organisasi terkecil di Desa sampai internasional.

Bapak Putro, staff pendidikan dan pelatihan di Cijujung Bogor yang mempunyai lahan lebih dari 1 hektar, memastikan kalau SPI memang memfokuskan untuk petani lapisan bawah. Hal ini didukung oleh pernyataannya berikut

“Serikat petani disini memang memfokuskan utama pada petani lapisan bawah yang tidak bertanah. Hal itulah yang membuat para petani disini berkumpul dalam perkumpulan para petani ini karena merasa sama dan ingin mencari solusi untuk dapat terus bertani, baik dari awal kegiatan yang datang dari SPI pusat sampai dengan kegiatan yang dibangun sendiri bersama. Kalau petani-petani lapisan atas sangat jarang yang mau ikut bergabung dalam serikat petani Indonesia ini karena merasa tidak butuh juga, sebab kegiatannya berfokus kepada perjuangan hak-hak petani tidak berlahan” (Bpk P, 38 tahun)

Tanah tidak ada yang sembarang jual-jual lagi karena sudah mengerti pentingnya lahan untuk pertanian. Semenjak kenal SPI banyak perubahan positif yang dimiliki petani disini. Walaupun kenyataannya, petani tetap belum sejahtera karena banyak faktor dari kurangnya dana, cuaca, belum adanya sarana mobil angkut petani-petani kecil dan hal utama adalah kurangnya lahan. Kebijakan pemerintah pun cenderung memberi ke desa dengan cara yang kurang transparan. Dana atau bantuan turun ke ketua tani seperti beli mobil angkut hasil pertanian namun petani kecil lain tidak merasakan. Walaupun begitu, SPI telah membuat petani mau berpartisipasi untuk lebih berani menyatakan pendapatnya, lebih mempunyai pengetahuan tentang lahan, dan lebih mandiri untuk terus bertani. Jika kebijakan pemerintah ada yang tidak sesuai dalam mendukung hak petani, akan langsung berkumpul bahkann demo sampai ke istana. Petani saling bersama mencari lahan yang dapat digunakan untuk bertani dengan sistem sewa, kontrak, buruh maupun kegiatan gorol tanah bersama.

Dokumen terkait