• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panen Dan Pasca panen 1. Kriteria matang panen

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Perusahaan

4.2. Panen Dan Pasca panen 1. Kriteria matang panen

Kriteria panen yang diterapkan di PT. Subur Arum Makmur I yaitu dengan cara memperhatikan jumlah brondolan yang jatuh secara alami di piringan sebanyak 2 butir brondoran per kilogram, kemudian dengan memperhatikan warna kulit buah dimana telah terjadi perubahan warna dari hitam menjadi merah mengkilat.

Adapun kualitas buah yang di harapkan oleh perusahaan adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Kualitas buah berdasarkan standarisasi PT. SAM I

Jenis Buah Persentase Brondolan

Mentah 0% Kurang Matang < 5 % Matang > 89 % Lewat Matang <5 % Tankos < 1 % Brondolan 8 - 12 % 4.2.2. Alat Panen

Peralatan panen yang digunakan untuk membantu dalam kegiatan pemanenan buah kelapa sawit ialah sebagai berikut:

- Egrek berfungsi untuk memotong tangkai buah dari pokok tanaman.

- Angkong Berfungsi untuk mengangkut buah dari dalam ancak/areal panen ke TPH.

- Karung goni Sebagai tempat brondolan yang sudah di kutip.

- Ember Sebagai tempat pengumpulan brondolan yang di kutip sebelum di masukkan ke dalam karung goni.

- Batu asah Berfungsi untuk menajamkan kembali mata egrek dan kampak. - Gancu Berfungsi untuk mengangkat dan memindahkan buah.

4.2.3. Rotasi dan Sistem Panen

Rotasi panen yang ditetapkan di PT. Subur Arum Makmur I yaitu 6/7 dimana dalam seminggu panen dilakukan sebanyak 6 kali berdasarkan seksi panen. Tujuan dari penetapan rotasi panen ialah untuk menghindari buah dan brondolan tidak terpanen (buah tinggal) serta untuk menormalkan produksi per luasannya.

Ancak panen adalah luasan suatu areal panen yang diberikan kepada tenaga pemanen berupa tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ancak panen yang diterapkan di PT. Subur Arum Makmur I ialah ancak giring.

Ancak giring ialah apabila suatu ancak telah dipanen maka pindah keancak berikutnya yang telah ditunjuk oleh mandor, sistem ini memudahkan dalam pengawasan pekerjaan dan hasil panen lebih cepat sampai ke TPH dan pabrik namun pemanen cendrung memanen buah yang mudah dipanen sehingga ada tandan buah dan berondolan yang tertinggal di lapangan.

Adapun kelebihan dan kekurangan dari sistem ancak giring ini adalah sebagai berikut :

Kelebihan :

1. Pengangkutan lebih mudah

2. Pengecekan / pemeriksaan buah lebih cepat dan mudah Kekurangan :

2. Pengawasan lebih sulit

4.2.4. Angka Kerapatan Panen (AKP)

Kerapatan panen merupakan persentase jumlah pohon yang dapat dipanen pada areal kebun dalam luasan tertentu. Tujuan penentuan kerapatan panen ini adalah untuk mengetahui kebutuhan tenaga kerja dan untuk menentukan estimasi produksi yang akan di panen pada areal tersebut.

Adapun cara kerja penentuan Angka Kerapatan Panen (AKP) ini adalah : 1. Menentukan blok yang akan di AKP (Angka Kerapatan Panen). Jumlah

penentuan blok AKP yaitu sebesar 10% dari luas areal yang akan dipanen yang disebut pasar sampel.

2. Mandor panen Masuk ke dalam pasar sampel yang telah ditentukan untuk menentukan jumlah tandan buah yang dapat dipanen dengan melakukan pengamatan pada tanaman secara selang seling ( dimulai dari pokok pertama dari pinggir dan dilanjutkan pada pokok pertama pada baris disampingnya). Yaitu dengan menghitung buah yang sudah memenuhi tingkat kematangan optimum (2 butir brondolan per kilogram) dan hasilnya dicatat pada kertas yang sudah disiapkan.

3. Setelah selesai kemudian dilakukan perhitungan-perhitungan sebagai berikut: a. Menghitung Angka Kerapatan Panen dengan rumus:

AKP = JUMLAH TANDAN YANG DIPERIKSA x 100 % JUMLAH POKOK PERIKSA

b. Menghitung janjang panen dengan rumus:

c. Menentukan BJR dengan rumus:

BJR Jumlah kg panen (kg) Jumlah tandan panen (tdn) d. Menentukan taksasi dengan rumus:

Taksasi = Jumlah janjang panen x BJR

e. Menentukan kebutuhan tenaga kerja panen esok harinya dengan rumus:

Tenaga Kerja Hasil taksasi (kg) Output pemanen (kg)

f. Menentukan kebutuhan mobil yang diperlukan untuk pengangkutan esok harinya dengan rumus:

Output mobil Hasil taksasi (kg) Output mobil (kg)

g. Menentukan kebutuhan pemuat dengan rumus: Output pemuat Hasil taksasi (kg)

Output pemuat (kg)

4. Kegiatan AKP dilakukan sehari sebelum kegiatan pemanenan buah kelapa sawit.

4.2.5. Tahapan Panen

Adapun prosedur kerja kegiatan pemanenan buah kelapa sawit yang diterapkan di di PT. Subur Arum Makmur I adalah :

a. Pemanen menyiapakan alat panen dan pemanen menuju ke ancak masing-masing.

b. Pemanen mendatangi tiap pokok kelapa sawit satu demi satu, dan mengamati ada tidaknya tandan buah matang dengan melihat berondolan dipiringan dengan kriteria matang panen ( 2 brondolan/tandan).

=

=

=

c. Apabila yang diamati telah matang panen maka pelepah yang menyangga tandan buah tersebut dipotong lebih dulu dengan egrek.

d. Potong tandan buah mepet kebatang dengan menggunakan egrek, pelepah yang dipotong diletakkan digawangan mati atau antar pokok.

e. Tangkai tandan buah dipotong pendek berbentuk huruf “ V “ dengan kampak atau panjang tangkai maksimal 2 cm. Kutip semua brondolan yang terdapat pada ketiak pelepah dan piringan dengan bersih.

f. Tandan Buah Segar (TBS) dan berondolan yang telah dikumpulkan diangkat dan dilangsir ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) dengan menggunakan gancu dan gerobak sorong.

g. Di TPH, TBS disusun berjejer 5 tandan buah perbaris dengan tangkai posisi keatas dan menghadap kejalan, kemudian masukkan brondolan kedalam karung dan letakkan disamping susunan TBS.

h. Beri nomor pemanen pada tangkai buah bekas potongan dengan menggunakan arang atau brondolan.

4.2.6. Efisiensi Panen ( cek lossis brondolan )

Efisiensi panen merupakan suatu kegiatan manajemen pengawasan dan pengelolaan produksi untuk memastikan ancak panen bersih dari buah tinggal dan brondolan yang tidak terkutip pada saat pemanenan. Adapun tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk memeriksa apakah ada buah tinggal dan brondolan yang tidak terkutip pada saat pemanenan. Kegiatan ini dilakukan oleh mandor panen dan asisten afdeling, tetapi biasa juga dilakukan bersama pimpinan kebun (General Manager) apabila persentase lossis brondolan dan buah tinggal tinggi yang diperoleh dari laporan harian asisten afdeling.

Pelaksanaan kegiatan efisiensi panen ini dilakukan setelah kegiatan panen selesai. adapun item pekerjaan yang di amati melalui kegiatan efisiensi panen adalah :

a. Lossis brondolan b. Efisiensi panen

c. Jumlah brondolan per hektar.

Adapun prosedur kerja pelaksanaan kegiatan Efisiensi panen ini adalah sebagai berikut :

a. Efisiensi panen dilakukan oleh asisten kebun dan mandor panen.

b. Setelah selesai kegiatan pemanenan asisten dan mandor masuk kedalam ancak yang sudah dipanen untuk memeriksa apakah ada buah tinggal dan brondolan yang tidak terkutip di piringan.

c. Efisiensi panen dalam satu blok di tetapkan standar oleh perusahaan bahwa luas areal yang harus di periksa yaitu 2 pasar / blok.

d. Kriteria yang di periksa yaitu buah yang tidak di panen / buah tinggal dan brondolan tidak terkutip.

e. Setelah selesai pemeriksaan maka di tentukan beberapa hal, diantaranya : 1. Losis brondolan

2. Efisiensi panen

3. Jumlah brondolan / hektar

4.2.7. Grading TBS (Tandan Buah Segar) di TPH

Grading buah merupakan suatu kegiatan pemeriksaan dan perhitungan jumlah buah yang ada di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) yang dilakukan oleh kerani produksi. Adapun kriteria pemeriksaan yang dilakukan dimana telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu :

a. Buah kurang matang b. Buah mentah

c. Tangkai panjang d. Buah busuk e. Tandan kosong

Adapun prosedur kerja dari pelaksanaan Grading TBS di TPH yang di lakukan di PT. Subur Arum Makmur I adalah sebagai berikut :

a. Kerani produksi pergi ke lapangan bersama dengan mobil pengangkut TBS (Dump truck) untuk melakukan greading TBS di TPH dengan tujuan untuk menghitung dan memeriksa buah yang sudah dipanen.

b. Kerani produksi mengecek buah yang dianggap tidak memenuhi kriteria matang panen seperti buah kurang matang (KM), Buah busuk, tandan kosong, dan buah mentah

c. Selain dari memeriksa buah kerani juga harus mencatat nomor panen dan nomor TPH yang digreading.

d. Buah yang sudah di grading langsung dimuat ke Dump truck untuk diangkut ke PKS.

e. Pada saat memuat buah dan brondolan kedalam truck buah tidak boleh ada yang tertinggal di TPH.

f. Kemudian setelah buah selesai di muat kerani produksi akan memastikan kembali buah dan brondolan telah terangkut semua.

4.2.8. Pengangkutan TBS (Tandan Buah Segar) ke PKS

Pengangkutan buah yang di terapkan di PT. Subur Arum Makmur I ialah dengan menggunakan mobil Dump Truck (Colt Diesel 125 ps) yang di lengkapi

dengan sistem Hidrolik pada bak mobil penggunaan alat angkutan ini di tujukan untuk memudahkan proses penuangan buah pada stasiun penerimaan buah.

Adapun prosedur kerja pelaksanaan kegiatan pengangkutan TBS (Tandan Buah Segar) dari TPH ke PKS adalah sebagai berikut :

a. Buah yang sudah berada di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) dinaikkan oleh tukang muat ke dalam dump truck dengan menggunakan alat tojok. b. Kemudian brondolan yang masih berserakan di TPH di korek dan di angkat

dengan karung goni kedalam dump truck.

c. Setelah buah terisi penuh pada bak truck kemudian salah satu dari tukang muat naik ke atas dump truck untuk menyusun buah dengan rapi agar tidak berat sebelah dan untuk memudahkan pengangkutan.

d. Standart muatan dump truck telah di tetapkan oleh perusahaan yaitu 7.500 kg (7,5 ton), dengan tampilan petak dua di atas bak.

e. Sebelum buah diangkut, kerani produksi menyiapkan SPB (Surat Pengiriman Buah) untuk di bawa oleh supir menuju PKS yang di lengkapi dengan :

a. Jumlah tandan yang diangkut b. Jumlah kilogram brondolan c. Nama supir pengangkut d. Nomor seri kenderaan

e. Tanggal penen buah yang diangkut. f. Dan nama tukang muat

g. Setelah sampai di loket penimbangan sopir truck harus turun dari mobil, karena akan berpengaruh terhadap berat bruto (berat kotor) dari muatan, Sekaligus SPB di berikan pada stasiun penimbangan.

h. Kemudian setelah di timbang dump truck menuju loading rump untuk mengantar buah ke stasiun penampungan buah.

i. Setelah selesai meletakkan buah di stasiun penampungan buah, dump truck kembali di timbang di stasiun penimbangan dan sopir harus turun dari mobil

j. Kemudian setelah ada bel dari loket penimbangan sopir mengambil SPB yang sudah di berikan sebelumnya, hasil penimbangannya disebut dengan tarra (berat kosong). Pada slip tersebut terdapat juga netto (berat bersih angkutan).

k. Slip tersebut pada esok harinya di serahkan kepada kerani produksi untuk di rekap pada buku produksi afdeling.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini ada hal yang harus benar-benar di perhatikan, yaitu persentase brondolan di TPH. Persentase brondolan di TPH pada saat pengangkutan buah harus 0 %, sehingga pada saat pelaksanaan kegiatan ini kerani produksi harus betul-betul mengawasinya.

4.3. Pembahasan

4.3.1. Kriteria Matang Panen

Penetapan kriteria matang panen yang di tetapkan di PT. SAM I yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat dua butir brondolan dan secara visual telah mengalami perubahan warna menjadi merah mengkilat. Hal ini sesuai dengan pendapat Fauzi,et al., 2012 yang menyatakan bahwa kriteria

matang panen buah kelapa sawit secara visual telah terjadi perubahan warna kulit buah menjadi merah dan secara praktis kriteria umum yang digunakan yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat dua brodolan yang jatuh.

Kualitas buah yang diharapkan oleh perusahaan tidak adanya buah mentah yang terpanen, dan tidak adanya brondolan yang tertinggal. Tetapi dalam pengamatan dilapangan masih banyak buah yang belum masuk kriteria panen yang di panen dan buah yang siap panen tidak terpanen (buah tinggal).

4.3.2. Rotasi Panen dan Sistem Panen

Rotasi panen yang diterapkan di PT. Subur Arum Makmur I yaitu 6/7 sedangkan menurut Fauzi, 2012 bahwa pemanenan kelapa sawit umumnya menggunakan rotasi 7 hari.

Penerapan rotasi panen 6/7 PT. Subur Arum Makmur I disebabkan adanya ketetapan yang telah di cantumkan dalam Standarisasi Operasional Perusahaan (SOP) dan kebijakan dari pimpinan suatu afdeling dalam menentukan rotasi panen tersebut. Meskipun demikian dengan menggunakan rotasi panen 6/7 keadaan buah masih tergolong normal baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas.

Sistem panen yang di terapkan di PT. Subur Arum Makmur I yaitu sistem panen ancak giring. Penetapan sistem panen ini ditetapkan atas kebijaksanaan pimpinan afdeling setempat yang dasarkan atas kondisi produksi dan keadaan cuaca yang tidak stabil.

Pada sistem ini apabila suatu ancak telah selesai dipanen maka pemanen pindah keancak berikutnya yang telah ditunjukkan oleh mandor. Setiap hari

mandor harus membagi ancak panen dan luas areal yang harus di panen oleh pemanen.

Menurut Sunarko,2009 ancak giring adalah sistem panen yang seluruh hasil panennya di tempatkan di satu lokasi panen tertentu, sehingga masing-masing pemanen apabila suatu ancak telah selesai dipanen maka pemanen pindah keancak berikutnya yang telah ditunjukkan oleh mandor.

4.3.3. Angka Kerapatan Panen (AKP)

Angka Kerapatan Panen yang diterapkan di PT. Subur Arum Makmur I, yaitu dengan menetapkan pohon sampel sebanyak 10 % dari seluruh pohon yang akan di AKP sehingga ditetapkan perhitungan produksi yang waktunya dilakukan sehari sebelum panen . Hal ini sesuai dengan pendapat dari Fauzi,et al., 2012 yang menyatakan bahwa pada saat pelaksanaan kegiatan AKP beberapa hal yang harus benar-benar di perhatikan diantaranya penetapan jumlah pohon sebagai pohon sampel pengamatan, waktu dan cara pengamatan, serta perhitungan produksi hasil pengamatan. Agar lebih akurat di dalam menentukan angka kerapatan panen, dapat di tentukan selama 1 hari sebelum panen buah. Perhitungan di lakukan khususnya pada areal yang keesokan harinya akan di panen.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dalam pelaksanaan AKP masih dijumpai adanya mandor panen yang tidak melakukan pengamatan dengan sungguh-sungguh sehingga penetapan hasil dilakukan dengan cara diperkirakan saja.

4.3.4. Pelaksanaan Panen

Pada pelaksanaan panen di PT Subur Arum Makmur 1, bunga jantan yang telah kering tidak langsung dibersihkan pada saat panen. Sedangkan menurut

Sunarko (2009), bahwa kegiatan pembersihan bunga jantan yang sudah mati dilakukan pada saat pemanenan berlangsung. Tidak dilakukan pembersihan bunga jantan pada saat panen di PT. Subur Arum Makmur 1 yaitu untuk mempertimbangkan efesiensi waktu pemanenan. Sedangkan kegiatan pembersihan bunga jantan yang sudah kering dilakukan pada saat kegiatan penunasan.

Pemotongan tandan buah pada saat panen di PT. Subur Arum Makmur 1 tidak dilakukan sampai mepet ke batang dan pada saat memberikan kode pada tangkai buah pemanen hanya memberi nomor pemanen saja. Menurut Sunarko,2009 pada saat pemotongan tangkai buah dipotong mepet ke pangkalnya maksimal 2 cm dan kegiatan pemberian label buah harus dicantumkan identitas buah seperti tanggal panen, no pemanen, jumlah tandan dan nomor blok.

4.3.5. Efisiensi Panen

Efisiensi panen adalah suatu kegiatan penilaian oleh tim khusus perusahaan yang disebut dengan Team Quality Control. Kegiatan ini bertujuan menjaga kualitas kegiatan panen pada suatu afdeling dengan memberikan penilain terhadap beberapa kriteria seperti jumlah losis brondolan, buah tinggal, pelepah sengkleh dan buah gantung. Tetapi pada saat kegiatan efisiensi panen di lapangan masih banyaknya brondolan yang tidak terkutip oleh pemanen.

Adanya Penilaian efisiensi panen pada suatu afdeling dapat mengggambarkan efektifitas kegiatan panen pada afdeling tersebut dengan dilakukan kegiatan efisiensi panen dapat meningkatkan kualitas kerja baik dari asisten afdeling, mandor panen, hingga pemanen. Berdasarkan pengamatan

dilapangan kegiatan efisiensi panen sudah berjalan dengan baik walaupun masih dijumpai pemanen yang kurang bersih dalam pengutipan brondolan.

4.3.6. Grading Buah

Grading buah merupakan suatu kegiatan pemeriksaan dan perhitungan jumlah buah yang ada di TPH (Tempat Pengumpulan Hasil) yang dilakukan oleh asisten afdeling, mandor panen, kerani produksi.

Dalam pengamatan dilapangan kegiatan Grading buah sudah berjalan dengan sangat baik dengan adanya kegiatan grading buah dapat menjaga kualitas buah yang akan dikirim ke PKS sehingga dapat memaksimalkan produksi CPO yang dihasilkan pada kegiatan pasca panen pengolahan buah di PKS.

4.3.7. Pengangkutan TBS (Tandan Buah Segar) ke PKS

Pengangkutan buah dari TPH ke PKS yang diterapkan di PT. Subur Arum Makmur I yaitu dengan menggunakan mobil Dump Truck (Colt diesel 125 ps). Tetapi saat memuat buah kedalam truck buah banyak juga buah yang kebanting sehingga banyak buah yang terluka.

Menurut Fauzi,et al., 2012 Pada prinsipnya, pengangkutan yang benar ialah pengangkutan TBS yang dilakukan secara cermat dan tepat waktu sebaiknya tumpukan TBS di dalam bak truk atau bak terbuka lainnya hendaknya tidak terlalu tinggi karena dikhawatirkan akan merusak buah sawit. Ketika memuat TBS ke dalam truk, usahakan jangan di banting karena bisa merusak buah.

V.KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait