• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Panggung Depan

Dalam panggung depan akan dibahas mengenai hal-hal yang dilakukan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN Salatiga di dalam lingkungan kampus. Dalam penelitian ditemukan beberapa hal yang unik dan menarik untuk dibahas sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh kampus IAIN Salatiga sesuai dengan etika yang harus dipatuhi sebagai mahasiswa IAIN Salatiga. Beberapa hal tersebut akan dibahas dibawah ini. Berikut adalah pemaparan beberapa hal yang ditemukan dalam penilitan skripsi ini :

1. Tatto

Dalam panggung depan yang diartikan sebagai kehidupan mahasiswa di lingkungan kampus tidak pernah dilihat mahasiswa yang bertato. Para mahasiswa yang memiliki tato biasanya menutupi tato tersebut menggunakan pakaian yang dikenakannya. Mereka yang mempunyai tato di lengan secara otomatis tertutup dengan pakaian, kemudian yang yang mempunyai tato di tangan selalu menutupinya dengan pakaian lengan panjang. Sehingga mereka terlihat rapi sesuai dengan aturan yang dibuat oleh kampus IAIN Salatiga. Dalam hal ini para mahasiswa yang bertato tetap mentaati aturan yang telah dibuat kampus dengan pakaian yang rapi sebagai mahasiswa IAIN Salatiga Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI. Tetapi ini baru

57

hanya dilihat dari panggung depan saja, untuk lebih jelasnya tatto akan dibahas pada panggung belakang.

2. Gaya Berpakaian

Menurut Islam masalah berpakaian mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurat demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurat merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan muhrimnya, terutama kepada lawan jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta tidak menimbulkan fitnah. Aurat laki-laki yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan bagi perempuan yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Disamping aurat, pakaian yang dikenakan juga tidak boleh ketat, transparan atau tipis sehingga tembus pandang dan memperlihatkan lekuk tubuh.

Di IAIN Salatiga sendiri masalah berpakaian atau berpenampilan sebenarnya sudah ada aturannya sesuai surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor Dj.i/255/2007, Bab IV pasal 5 Ayat (1) yaitu setiap Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dilarang memakai kaos oblong, celana atau baju sobek, sarung dan sandal, topi, berambut panjang dan bercat, beranting, kalung, gelang dan bertato. Sedangkan untuk Mahasiswi dilarang memakai baju/celana ketat,tembus pandang, dan tanpa jilbab dalam mengikuti kegiatan akademik (Edaran Ketua STAIN 2010).

58

Pada kenyataan di lapangan para mahasiswa maupun mahasiswi IAIN khususnya Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI secara berpenampilan sudah mencerminkan penampilan muslim. Hanya saja beberapa mahasiswa yang aktif di UKM kampus satu IAIN Salatiga, secara penampilan ada yang bertato, memakai celana sobek atau pendek, sendal jepit dan kaos oblong. Hal ini secara nyata dapat dijumpai kebanyakan adalah aktifis mahasiswa yang aktif di UKM kampus IAIN Salatiga. Hal ini didapatkan dari data wawancara dan pengamatan penulis kepada beberapa mahasiswa kampus IAIN Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI sebagai target analisis skripsi ini. Analisa ini juga mengacu pada aturan yang ada di IAIN Salatiga sebagai batasan baik secara perilaku dan gaya berbusana yang mencerminkan mahasiswa muslim pada umumnya.

Dengan acuan peraturan yang telah dibuat oleh IAIN Salatiga dan harus dipatuhi oleh mahasiswa IAIN Salatiga khususnya Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI, secara berpakaian mahasiswi PAI sebagian besar terlihat menggunakan pakaian yang serba longgar dan tertutup, sesuai peraturan yang ada. Tetapi ada juga beberapa mahasiswa terlihat menggunakan pakaian ketat dengan mengenakan celana pensil, rok ketat ataupun pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuh, dalam hal ini pakaian tersebut tidak sesuai peraturan yang harus dipatuhi oleh mahasiswa IAIN Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI.

Di dalam kampus IAIN Salatiga banyak dilihat mahasiswa ataupun mahasiswi yang menggunakan pakaian rapi sesuai dengan peraturan yang

59

telah dibuat oleh kampus IAIN Salatiga. Secara umum tidak ada mahasiswi yang tidak menggunakan jilbab di kamus IAIN Salatiga. Tetapi itu hanya salah satu peraturan yang telah dipatuhi oleh mahasiswi IAIN Salatiga. Disamping jilbab ada juga peraturan yang mengharuskan mahasiswi IAIN Salatiga untuk menggunakan pakaian yang longgar atau tidak memperlihatkan lekuk tubuh. Melihat gaya berpakaian ketat ini, masih banyak juga dijumpai mahasiswi yang menggunakan pakaian ketat. Dalam wawancara terhadap beberapa mahasiswi yang menggunakan pakaian ketat, penulis mendapatkan beberapa informasi bahwa para mahasiswi tersebut tetap mentaati peraturan yang dibuat oleh kampus IAIN Salatiga selama proses perkuliahan. Tetapi terdapat satu hal menarik juga yaitu karena ada aturan yang harus dipatuhi tersebut dan bila tidak mematuhi peraturan itu sanksi yang dikenakan adalah tidak boleh mengikuti perkuliahan maka terkadang mereka membawa pakaian ganti sesuai aturan yang ada dan disimpankan didalam tas mereka. Sehingga setelah selesai proses perkuliahan mereka ganti pakaian kembali dengan gaya pakaian yang sedang trend sekarang yaitu menggunakan baju yang ketat. Para mahasiswi ini pada umumnya tetap mengikiti style yang sedang trend saat ini yaitu menggunakan pakaian yang ketat. Sehingga disini dapat ditarik kesimpulan bahwa para mahasiswi masih ada beberapa yang hanya mematuhi peraturan pada saat proses perkuliahan saja, setelah proses perkuliahan itu selesai mereka tidak lagi mematuhi peraturan yang telah dibuat oleh kampus IAIN Salatiga walaupun mereka masih melakukan kegiatan di dalam kampus IAIN Salatiga.

60

Berbeda lagi untuk para mahasiswa, rata-rata di dalam proses perkuliahan atau kegiatan yang dilakukan di dalam kampus mereka mematuhi aturan yang ditetapkan oleh kampus IAIN Salatiga. Hanya beberapa orang saja yang setelah proses perkuliahan mereka melepas kemeja dan berganti pakaian kaos. Itupun kemeja dirangkapkan, hal ini dilakukan untuk memenuhi aturan sebagai mahasiswa kampus IAIN Salatiga supaya tidak dikenakan sanksi.

Hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada sebagian mahasiswa IAIN Salatiga Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI yang melaksanakan aturan yang telah ditetapkan guna memenuhi syarat proses perkuliahan. Ini dilakukan agar bisa mengikuti proses perkuliahan dan tidak dikenakan sanksi, tetapi setelah proses perkuliahan tersebut selesai mereka akan mengikuti style jaman sekarang walaupun sebenarnya mereka tahu itu melanggar aturan yang telah ditetapkan kampus IAIN Salatiga untuk berpakaian rapi selama berada di lingkungan kampus IAIN Salatiga. Baik mahasiswa ataupun mahasiswi sama saja akan melanggar aturan berpakaian setelah selesai proses perkuliahan walaupun mereka masih melakukan kegiatan di dalam kampus, hanya saja secara prosentase lebih banyak mahasiswi yang melanggar daripada mahasiswanya.

3. Perilaku

Kelakuan mahasiswa dikampus secara perilaku sebenarnya sebagian besar sudah mencerminkan mahasiswa muslim. Hanya saja dari beberapa wawancara terhadap masyarakat kampus(bukan mahasiswa) terdapat

61

bebeberapa masalah, seperti yang diutarakan oleh pemilik kantin yang mengeluh karena terdapat beberapa mahasiswa yang suka berhutang untuk makan dan minum, tetapi hal ini lambat laun menjadi pemakluman oleh pemilik kantin karena mahasiswa kos masih mengandalkan orang tua untuk membiayai hidupnya selama masa kuliah, dan terkadang uang yang diberikan oleh orang tuanya tidak cukup untuk membiayai hidupnya selama masa kuliah. Selain itu menurut informasi yang didapatkan juga sering didapati mahasiswa yang meminum minuman keras. Pada kenyataannya di dalam penelitian dilapangan memang ditemukan hal-hal seperti itu. Hal seperti ini sering dijumpai ketika ada kegiatan kemahasiswaan. Masih ada juga perilaku yang tidak baik dilakukan oleh mahasiswa yaitu pencurian barang kampus maupun barang mahasiswa itu sendiri. Setiap tahun pasti terdapat berita tentang kehilangan, hal ini terbukti dengan tertangkapnya pencuri, dan barang yang dicuri biasanya adalah fasilitas kampus seperti : proyektor, komputer. Selain itu juga barang dari mahasiswa seperti helm, handpone, laptop dan lain-lain. Pelaku pencurian tersebut tidak lain adalah kalangan mahasiswa IAIN Salatiga sendiri. Tetapi dalam beberapa kasus juga terdapat orang dari luar kampus yang menjadi pelakunya. Dari beberapa kasus pencurian ini yang pasti diserahkan kepada aparat yang berwajib atau bila mahasiswa sendiri biasanya dikeluarakan dari kampus IAIN Salatiga.

Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa masih terdapat mahasiswa yang melakukan penyimpangan perilaku sehingga mengakibatkan mereka berhubungan dengan pihak yang berwajib hingga dikeluarkan dari kampus.

62

Tetapi prosentase mahasiswa yang melakukan penyimpangan ini lebih sedikit dibandingkan yang menunjukkan perilaku mahasiswa muslim. Secara prosentase juga sangatlah jauh.

4. Interaksi Sosial

Dari data wawancara yang dilakukan penulis, interaksi mahasiswa PAI di kampus masih sangat kurang. Hal ini bisa dilihat dari penuturan dosen PAI sendiri. Beliau mengatakan “komunikasi mahasiswa dengan dosen masih sangat minim, kalaupun terjadi terjadi, itu hanya ketika perkuliahan saja atau bila mahasiswa tersebut meminta nilai saja. Ini terkesan mahasiswa IAIN acuh atau malah malu. Berbeda dengan mahasiswa yang aktif di organisasi, dari kaca mata saya, beberapa responden terlihat lebih aktif dalam beriteraksi, jadi ada perbedaan yang menonjol ketika dikampus antara mahasiswa umum dengan mahasiswa organisasi.”

Dari hal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada dua jenis mahasiswa mahasiswa yang berpengaruh terhadap interaksinya terhadap lingkungan kampus. Yang pertama adalah mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi mempunyai interaksi yang kurang terhadap masyarakat sekitarnya di dalam kampus. Sedangkan yang kedua adalah mahasiswa yang aktif dalam organisasi mempunyai interaksi yang aktif terhadap masyarakat sekitarnya di lingkungan kampus. Padahal secara prosentase akan lebih banyak mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi dibandingkan mahasiswa yang aktif dalam organisasi.

63 5. Religiusitas

Data religiuitas mahasiswa PAI IAIN Salatiga dari beberapa responden dan dari kaca mata saya seperti shalat rata-rata tertib, penuturan dari takmir masjid Darul Amal yang berada persis di area IAIN menuturkan rata-rata jamaah yang shalat disini seperti ketika salat dzuhur atau shalat jum’at adalah warga IAIN Salatiga, jadi bisa dipastikan mahasiswa PAI sebagian besar shalat dimasjid itu.

B. Panggung Belakang

Panggung belakang merupakan hal-hal yang dilakukan mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN Salatiga di luar lingkungan kampus baik itu di tempat tinggal mereka ataupun lingkungan pergaulannya. Seperti pada yang telah dipaparkan dalam panggung depan. Ada beberapa hal menarik yang sama seperti panggung depan yang perlu dikaji, hanya saja kita akan melihat mereka di luar lingkungan kampus. Berikut ini pemaparan beberapa hal yang yang ditemukan di luar kampus :

1. Tatto

Tato merupakan satu hal yang dilarang di kampus IAIN Salatiga karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam dan menyalahi aturan yang telah dibuat di kampus IAIN Salatiga. Tetapi pada kenyataannya didapati mahasiswa IAIN Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI yang bertato. Hal ini menjadi satu hal yang menarik untuk dibahas dalam skripsi ini. Dari hasil wawancara penulis kepada narasumber didapatkan alasan mahasiswa tersebut bertato. Hal ini dilakukan karena kesenangan/hobi, simbol, dan kesetiaan.

64

Menurut narasumber tato merupakan kecintaan dia terhadap gambar sehingga tidak ada salahnya dituangkan ke segala media termasuk tubuh(kulit). Kemudian tato bagi narasumber merupakan simbol dari pandangan hidupnya yang perlu diabadikan secara permanent dan akhirnya tubuh sebagai salah satu media yang dipilih karena menurutnya simbol itu harus melekat pada tubuhnya. Hal ini juga dianggap sebagai jiwanya yang tidak bisa dilihat secara langsung, tetapi dengan gambar/tato semua orang dapat melihat simbol yang dianggap sebagai gambaran jiwanya. Tetapi dibalik semua itu narasumber sadar bahwa yang dilakukannya itu telah menyalahi aturan sebagai umat muslim apalagi narasumber terdaftar sebagai mahasiswa IAIN Salatiga yang mempunyai aturan tertulis yang harus dipatuhinya.

Gambar 12 Mahasiswa PAI bertato

Sumber : Faisal abdilah, tanggal 2 Mei 2015

Dari data foto yang didapatkan tato yang dipakai narasumber adalah lambang A yang diletakkan dalam sebuah lingkaran. Narasumber menyebut simbol itu adalah lambang anarki. Secara makna, kata anarki berarti tidak adanya pemerintahan, undang-undang, peraturan atau ketertiban.

65

Bisa juga diartikan sebagai kekacauan di suatu negara (KBBI). Tetatp hal menarik di balik makna anarki adalah sifat solidaritas atau sosial dari suatu kelompok dengan pandangan anarki tersebut. Biasanya mereka mempunyai sifat sosial dan solidaritas yang tinggi terhadap sesamanya.

Bila kita lihat kembali sisi negatif narasumber yang berpedoman dari aturan kampus sebagai mahasiswa IAIN Salatiga telah melanggar aturan yang ada di kampus. Tetapi bila kita lihat dari sisi yang lain, tato adalah sebagai simbol untuk menunjukkan identitas atau jati diri mereka lewat sebuah simbol yang dilekatkan pada tubuh mereka agar semua yang melihat mengetahui pandangan hidup mereka.

Dalam panggung belakang yang diartikan sebagai kehidupan mahasiswa di luar lingkungan kampus, mahasiswa yang mempunyai tato mengenakan pakaian sewajarnya di masyarakat. Seperti mengenakan kaos tak berlengan, secara otomatis tato tersebut akan tampak terlihat oleh orang- orang disekitarnya. Dalam hal ini diluar lingkungan kampus, para mahasiswa yang mempunyai tato akan berpenampilan layaknya lingkungan sekitarnya dan tidak menggunakan aturan yang telah ditetapkan kampus IAIN Salatiga khususnya cara berpakaian mahasiswa IAIN Salatiga Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI. Walaupun terkadang cara pandang yang terbentuk di masyarakat pada umumnya sama dengan aturan kampus IAIN Salatiga bahwa sebagai mahasiswa IAIN Salatiga itu sewajarnya berpakaian yang mencerminkan muslim.

66

Dilihat dari dua sisi yaitu panggung depan dan panggung belakang dapat ditarik kesimpulan bahwa masih ada mahasiswa IAIN Salatiga Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI yang mempunyai tato, tetapi mereka tetap mematuhi aturan yang telah ditetapkan oleh kampus IAIN Salatiga. Di dalam proses perkuliahan para mahasiswa tersebut tetap mengikuti aturan yang ada walaupun di luar kampus mereka tetap menjadi masyarakat biasa dengan penampilan sesuai lingkungannya walaupun masyarakat mempunyai pandangan sesuai peraturan kampus IAIN Salatiga terhadap mahasiswa IAIN Salatiga.

2. Gaya Berpakaian

Dalam masalah berpakaian di luar kampus ternyata ada beberapa pemilik kos yang membuat aturan agar para pengguna terlihat sopan dan mencerminkan mahasiswa muslim pada umumnya, yaitu: yang perempuan harus memakai jilbab dalam kesehariannya, yang laki-laki sama seperti remaja muslim pada umumnya. Tetapi tidak semua kos menerapkan aturan ini, sebagian besar adalah kos yang berpenghuni mahasiswa IAIN Salatiga. Namun pada kenyataannya, yang penulis jumpai dilapangan berbeda dengan aturan yang telah dibuat khususnya kos yang menetapkan agar penghuni kos berpakaian muslimah. Khususnya kos mahasiswi putri, beberapa mahasiswi di dalam lingkungan kos beberapa terlihat menggunakan pakaian yang tidak pantas. Studi kasus di daerah pengilon rata-rata yang menerima penghuni kos campur (putra dan putri) dan kos yang bebas(tanpa aturan) terlihat mahasiswi yang berpakaian ketat dan ada juga yang menggunakan pakaian minim.

67

Dalam aturan islam cara berpakaian ini tidak mencerminkan mahasiswi muslimah. Untuk mahasiswa rata-rata sama, mereka akan menggunakan pakaian pada umumnya di masyarakat seperti menggunakan kaos dan celana pendek.

Dari beberapa hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa di panggung belakang baik mahasiswa ataupun mahasiswi, secara gaya berpakaian melanggar aturan sebagai mahasiswa muslim. Tetapi masih ada beberapa mahasiswa saja yang tetap melaksanakan aturan sebagai mahasiswa muslim, hanya saja prosentasenya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang melanggar aturan.

Adapun dalam wawancara terhadap salah seorang mahasiswi IAIN Salatiga Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI mengenai gaya berpakaian ketat mengatakan “seperti ibu-ibu saja”. Dari situ dapat kita tarik kesimpulan bahwa dengan menggunakan pakaian muslim yang serba longgar sehingga terlihat muslimah mereka merasa kurang percaya diri (percaya diri).

Gambar 13

Gaya Berpakaian Mahasiswa PAI Sumber : Faisal abdilah, tanggal 28 Mei 2015

68 3. Perilaku

Sebagaimana remaja pada umumnya, mahasiswa IAIN juga mengalami masa yang labil dimana pada usia tersebut seseorang sangat mudah mengikuti pergaulan yang tidak mencerminkan muslim. Hal yang paling sulit dilakukan khususnya oleh mahasiswa IAIN adalah mampu bergaul di lingkungan manapun tetapi masih mencerminkan sebagai mahasiswa muslim. Hal ini sulit dilakukan karena sebagai mahasiswa muslim harus menjaga aturan atau norma Islam di dalam pergaulan yang sebagian besar sudah melanggar norma tersebut. Bagaimana seorang mahasiswa muslim dapat menjaga hubungan sosial terhadap masyarakat yang secara norma melanggar aturan hukum Islam.

Gambar 14

Berpelukan Mahasiswa PAI Sumber : Face Book, tanggal 6 Mei 2015

Jangkungan adalah salah satu tempat yang terdapat banyak tempat kos dan sebagian besar dari mahasiswa yang kos adalah para mahasiswi. Di tempat ini mereka lebih bisa menjaga pergaulan dengan teman-tenmanya maupun dengan teman lawan jenis. Dalam wawancara terhadap salah satu

69

pemilik kos, salah seorang pemilik kos menuturkan : “menurut saya kelakuan penghuni kos cukup mencerminkan mahasiswa Muslim”. Dari penggalan wawancara diatas sudah cukup jelas bahwa pergaulan mahasiswa maupun mahasiswi di tempat kos tersebut telah mencerminan pribadi yang muslim, baik ketika berada di kost maupun lingkungan mereka tinggal. Ketika mereka bergaul dengan mahasiswa dan masyarkat juga di pandang baik oleh pemilik kos. Pergaulan para penghuni kos tersebut di mata pemilik kos di anggap cukup baik dan masih menjaga norma susila dan agama.

Pemilik kos juga menuturkan para penghuni kos tidak pernah berbuat yang macam-macam atau mengganggu warga sehingga pemilik kos tidak pernah mendapat teguran dari warga sekitar mengenai pergaulan mahasiswa yang kost ditempat mereka. Pergaulan mahasiswa dengan teman- teman sesamanya juga baik walaupun terkadang masih ada yang kurang patuh dengan peraturan ibu kos.

Tetapi masih ada beberapa penghuni kos yang terkadang masih melanggar aturan kos. Tetapi hal ini masih dalam keadaan wajar seperti pulang malam sehingga mereka kadang menjadi bahan pembicaraan oleh warga sekitar. Hal tersebut yang membuat pemilik kos dan ketua RT membuat peraturan yang bersifat tulisan dan tegas seperti menerima tamu harus lapor kepada pemilik kos, pulang malam paling lambat jam 9 malam, harus minta izin pemilik kos ketika ada teman yang menginap, dan lain-lain.

Itulah gambaran tentang mahasiswa kos dimata pemilik kos. Sebagian besar menganggap mahasiswa kos telah mencerminkan mahasiswa

70

muslim. Kalaupun ada pelanggaran, itu masih dalam kondisi yang wajar. Seperti pulang malam itu karena tugas yang harus dikerjakan bersama atau ada kegiatan di kampus.

Namun pada kenyataan yang dilihat dari pengamatan penulis di lapangan berbeda. Penuturan dari beberapa narasumber, seperti mahasiswa sendiri maupun warga sekitar dari beberapa kasus yang dilakukan mahasiswa PAI IAIN Salatiga pernah melihat mahasiswa yang sedang pacaran di dalam kamar. Dari pengakuan beberapa dari mereka sendiri juga pernah melakukan ciuman. Beberapa penuturan saksi juga mengatakan bahwa mahasiswi PAI ada yang melakukan hubungan diluar nikah, bahkan ada yang sampai hamil dan sampai melakukan praktik aborsi. Salah seorang mahasiswa itu sebut saja “Bunga“. Bunga adalah warga Salatiga yang memilih kos, tetapi kos ini digunakan bukan sebagai tempat kos pada umumnya, kos ini hanya sebagai tempat persinggahan sementara bagi Bunga. Persinggahan sementara yang dimaksudkan disini adalah tempat pelarian karena mahasiswa ini berasal dari keluarga bermasalah (broken home) karena kedua orang tuanya bercerai, sehingga kurangnya kasih sayang dan perhatian menjadi alasan ketidak nyamanan untuk tinggal di rumah. Menurut bunga kos adalah tempat yang nyaman bagi dirinya, jauh dari kebisingan dan sejenak melupakan masalah yang ada dirumah. Rasa kecewa terhadap keluarganya sangat besar hingga dia mendapatkan seseorang yang membuatnya nyaman, yaitu pacarnya. Akhirnya segalanya bunga berikan untuk kekasihnya, hingga melakukan satu hal yang seharusnya belum saatnya dilakukan. Kebetulan pacar bunga sering

71

mengajaknya melakukan hubungan badan (sex) dan bunga mau karena bunga rela memberikan apa saja termasuk tubuhnya. Dari hubungan intim tersebut mengakibatkan Bunga hamil dan karena belum siap untuk mendapatkan keturunan baik secara mental maupun hukum agama akhirnya Bunga memutuskan untuk melakukan aborsi.

Gambar 15

Foto Mahasiswa PAI Ketika di Kos Sumber : Face Book, tanggal 6 Mei 2015

Hal lain yang sering penulis jumpai adalah mahasiswa yang mengkonsumsi minuman keras, penyalah gunaan obat dan berjudi. Dalam kasus minumas keras dan penyalah gunaan obat ini merupakan salah satu penuturan mahasiswa IAIN Salatiga Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI. Sebut saja mahasiswa tersebut adalah Mr.X. Mr.X berasal dari kota XX ini sering sekali mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan. Menurut penuturannya pertama kali dia mengkonsumsi ketika duduk dibangku SMP. Secara hubungan sosial Mr.X sangat dekat dengan anak jalanan yang membuat Mr.X menjadi akrab dengan minuman keras dan obat-obatan tersebut. Ayahnya meninggal dunia ketika Mr.X duduk dibangku semester V kuliah, tetapi hal ini tidak membuat Mr.X berubah karena menurutnya itulah

72

jiwanya. Tetapi secara medis penyalah gunaan obat itu dapat membuat seseorang kecanduan. Di samping itu karena uang kiriman dari ibunya

Dokumen terkait