• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pangsa Produk CCO Indonesia di Pasar Negara7Negara Tujuan Ekspor

IV. GAMBARAN UMUM

4.2. Perkembangan Perdagangan Produk $ (CCO)

4.2.1. Pangsa Produk CCO Indonesia di Pasar Negara7Negara Tujuan Ekspor

Pangsa produk CCO yang berasal dari Indonesia perlu diketahui di masing

masing negara tujuan ekspor. Berikut digambarkan besar pangsa produk CCO

Indonesia periode 2001 2009 berdasarkan nilai ekspor, yang diawali dengan pasar

China dan Spanyol. Di pasar China, produk tersebut menguasai pangsa pasar

sebesar 69 persen sedangkan Filipina sebesar 23 persen (Gambar 4.7.). Hal ini

menunjukkan ekspor produk CCO yang berasal dari Indonesia berpotensi tinggi

sedangkan di pasar Spanyol, produk memiliki pangsa pasar terbesar kedua setelah

Filipina sebesar 35 persen. Pasar tersebut memiliki eksportir selain Indonesia dan

Filipina sebesar 23 persen sehingga tidak memiliki ketergantungan impor yang

terlalu tinggi terhadap produk CCO yang berasal dari Indonesia.

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Gambar 4.7. Pangsa Produk CCO Indonesia di Pasar China dan Spanyol Periode 2001 2009

Selanjutnya di pasar India, pangsa produk CCO Indonesia mendominasi

sebesar 66 persen sedangkan Filipina hanya sebesar 15 persen (Gambar 4.8.).

Negara eksportir lainnya menguasai pasar sebesar 19 persen. Sama halnya di

sedangkan Filipina sebesar 26 persen. Di kedua pasar tersebut dapat terlihat

bahwa kontribusi produk sangat besar artinya, India dan Malaysia memiliki

ketergantungan impor yang tinggi terhadap produk CCO yang berasal dari

Indonesia.

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Gambar 4.8. Pangsa Produk CCO Indonesia di Pasar India dan Malaysia Periode 2001 2009

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Gambar 4.9. Pangsa Produk CCO Indonesia di Pasar Belanda dan Singapura Periode 2001 2009

Belanda dengan pangsa ekspor produk CCO Indonesia yang paling besar

namun pangsa produknya di pasar tersebut masih kalah dengan negara pesaing

dari Filipina menguasai pasar tersebut sebesar 69 persen. Bahkan di Negara

Singapura, pangsa produk CCO Indonesia hanya berada di posisi ketiga setelah

Malaysia dan Filipina sebesar 27 persen.

Di Tunisia, produk CCO Indonesia memiliki pangsa pasar terbesar sebesar

85 persen sedangkan Malaysia sebesar 15 persen (Gambar 4.10.). Karena

kebutuhan impor produk CCO Tunisia hampir seluruhnya dipenuhi Indonesia

selama 2001 2009, maka Indonesia dapat menguasai pasar tersebut dan hal itu

perlu dipertahankan. Berbeda di Amerika Serikat (AS), produk CCO Indonesia

hanya memiliki pangsa pasar 20 persen hal ini disebabkan penguasaan pasar oleh

produk CCO yang berasal dari Filipina sebesar 78 persen. Ketergantungan impor

AS akan produk CCO didominasi oleh Filipina sehingga Indonesia perlu

meningkatkan pangsa pasarnya di negara tersebut.

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Gambar 4.10. Gambar Pangsa Produk CCO Indonesia di Pasar Tunisia dan Amerika Serikat (AS) Periode 2001 2009

V. ANALISIS DAYASAING DAN ALIRAN EKSPOR

PRODUK

%

$ $&%# $"

(CCO) INDONESIA

5.1. Analisis Dayasaing Produk CCO Indonesia di Pasar Internasional dan

Negara7Negara Tujuan Ekspor 5.1.1. Metode RCA

Analisis RCA digunakan dalam penelitian ini untuk melihat keunggulan

komparatif produk CCO Indonesia. Nilai RCA memberikan gambaran dari kinerja

ekspor dengan nilai RCA yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa produk

tersebut memiliki kinerja ekspor yang baik. Hasil Estimasi RCA pada produk

CCO Indonesia di pasar internasional selama periode 2005 2009 menunjukkan

bahwa produk ini memiliki keunggulan komparatif, hal ini terlihat dari nilai RCA

yang selalu lebih dari satu dengan rentang nilai 33,19 51,02 pada periode 2005

2009 (Tabel 5.1).

Tabel 5.1. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di Dunia

Tahun

Nilai RCA

Pertumbuhan RCA

(%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO Ke Dunia (%) 2005 44,00 345.960.092 2006 33,19 24,57 196.888.586 43,09 2007 51,02 53,71 466.538.406 136,956 2008 44,20 13,36 565.426.362 21,2 2009 35,24 20,26 267.906.506 52,62

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Nilai RCA produk CCO pada tahun 2005 adalah 44 dengan nilai ekspor

keunggulan komparatif yang sangat baik. Nilai ekspor produk CCO Indonesia

selama periode 2005 2009 berfluktuatif dengan nilai ekspor terendah terjadi pada

tahun 2006 sebesar US$ 196,88 juta dan pada tahun 2008 merupakan nilai ekspor

tertinggi sebesar US$ 565,43 juta.

Pada tahun 2006, nilai RCA produk CCO mengalami penurunan sebesar

24,57 persen menjadi 33,19. Hal ini disebabkan oleh faktor eksternal yaitu,

kenaikan harga minyak dunia yang memicu penurunan nilai ekspor produk itu

sendiri ke dunia dengan penurunan pertumbuhan nilai ekspor sebesar 43,09

persen. Selanjutnya, nilai RCA produk CCO pada tahun 2007 meningkat menjadi

51,02 dengan pertumbuhan nilai RCA sebesar 53,71 persen. Peningkatan yang

signifikan ini terjadi karena nilai ekspor CCO Indonesia ke dunia meningkat

menjadi US$ 466,54 juta dengan pertumbuhan sebesar 136,956 persen. Pada

tahun ini nilai RCA produk CCO merupakan nilai RCA tertinggi selama lima

tahun terakhir.

Nilai ekspor tertinggi selama periode 2005 2009 terjadi pada tahun 2008

sebesar US$ 565,43 juta. Hasil estimasi RCA menunjukkan nilai 44,2 namun

pertumbuhan RCA mengalami penurunan sebesar 13,36 persen. Hal ini terjadi

disebabkan oleh peningkatan nilai ekspor pesaing utama yaitu Filipina sebesar

30,88 persen dari nilai ekspor pada tahun 2007 sebesar US$ 508,16 juta menjadi

US$ 665,06 juta pada tahun 2008 sedangkan Indonesia hanya meningkat sebesar

21,2 persen. Pada tahun 2009, nilai ekspor produk CCO Indonesia mengalami

penurunan pertumbuhan tertinggi selama periode penelitian sebesar 52,62 persen

produk CCO Indonesia menjadi 35,24 dengan penurunan pertumbuhan nilai

sebesar 20,26 persen. Krisis finansial Amerika merupakan faktor penyebab utama

terjadinya penurunan nilai ekspor produk CCO Indonesia ke dunia. Krisis tersebut

membuat daya beli negara negara tujuan ekspor utama menurun dan Amerika

Serikat merupakan salah satu negara tujuan ekspor terbesar keempat produk ini.

Krisis tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan dalam peningkatan ekspor namun,

kenyataannya penurunan daya beli masyarakat dampaknya masih jauh lebih besar

daripada pergerakan harga produk. Namun secara keseluruhan produk CCO

Indonesia memiliki keunggulan komparatif selama periode penelitian yang

ditunjukkan pada rata rata hasil estimasi RCA sebesar 41,53 dengan rata rata

pertumbuhan 3,08 persen.

Di sisi lain, Filipina sebagai negara pesaing utama baik dalam produksi

kelapa dan khususnya ekspor produk CCO memiliki nilai RCA yang sangat tinggi

sebab pangsa pasarnya di dunia sebesar 50 persen sedangkan Indonesia 38 persen.

Berdasarkan nilai RCA, Filipina memiliki rata rata nilai selama periode 2005

2009 sebesar 140, 99 yang artinya produk CCO dari Filipina memiliki keunggulan

komparatif di pasar internasional.

Tabel 5.2. Hasil Estimasi RCA Indonesia dan Negara7Negara Pesaing Negara 2005 2006 2007 2008 2009 Indonesia 44,00 33,19 51,02 44,20 35,24 Filipina 127,49 144,11 125,64 145,15 162,61 Malaysia 2,42 3,5 2,2 2,72 1,79

Belanda 0,74 1,21 0,59 1,87 1,15

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Selain itu, Belanda yang menempati posisi ketiga sebagai negara

dibandingkan Malaysia yaitu 2,53 yang hanya memiliki pangsa pasar di posisi

keempat. Hal ini membuktikan bahwa secara keunggulan komparatif, produk

CCO Malaysia lebih unggul dibandingkan Belanda.

Kejadian yang sama juga dialami Filipina yaitu terjadi penurunan ekspor

pada tahun 2006 dan 2009 masing masing sebesar 16 serta 38 persen. Peningkatan

nilai RCA justru terjadi pada tahun 2006 pada Belanda dan Malaysia karena nilai

ekspor dari kedua negara tersebut meningkat. Namun, di tahun 2009 kedua negara

tersebut terkena dampak yang jauh lebih buruk dibandingkan Filipina karena nilai

ekspornya turun sebesar 60 persen yang berakibat pada penurunan nilai RCA.

Selanjutnya pembahasan mengenai posisi dayasaing produk CCO

Indonesia di masing masing negara tujuan ekspor. Hal ini dilakukan agar dapat

menganalisis seberapa besar keunggulan komparatif di pasar China, Spanyol,

India, Malaysia, Belanda, Singapura, Tunisia, dan Amerika Serikat yang secara

kontinu selama periode 2001 2009 melakukan impor produk tersebut.

China dengan pangsa pasar ekspor produk CCO Indonesia sebesar 16

persen memiliki nilai RCA selalu lebih besar dari satu selama periode 2005 2009.

Hal ini membuktikan bahwa produk CCO Indonesia berada pada keunggulan

komparatif dengan kisaran nilai RCA 54,51 70, meskipun rata rata pertumbuhan

nilai RCA bernilai negatif sebesar 4,81. Tabel 5.3. menunjukkan hasil estimasi

nilai RCA produk CCO Indonesia di China.

Nilai ekspor produk CCO tertinggi terjadi pada tahun 2007 sebesar US$

77,46 juta yang pulih setelah penurunan ekspor akibat kenaikan harga minyak

yaitu 44,2 persen. Nilai RCA pada tahun tersebut sebesar 69,82 dengan

pertumbuhan nilai RCA 8,16 persen. Lalu nilai RCA terendah terjadi di akhir

tahun penelitian yaitu 2009 menjadi 54,51 namun pertumbuhan nilainya positif

10,70 persen padahal nilai ekspornya turun menjadi US$49,03 juta. Sebab

pertumbuhan ekonomi China masih positif meskipun terjadi krisis finansial global

sehingga total ekspor produk Indonesia ke China dan total ekspor dunia ke China

tidak mengalami penurunan yang signifikan.

Tabel 5.3. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di China

Tahun Nilai RCA

Pertumbuhan RCA

(%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia ke China (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO Ke China (%) 2005 70,66 58.649.261 2006 64,55 8,64 53.731.823 8.38448 2007 69,82 8,16 77.485.057 44.20701 2008 49,24 29,47 73.691.334 4.89607 2009 54,51 10,70 49.036.462 33.4569

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Selanjutnya di Spanyol dengan pangsa pasar ekspor produk CCO

Indonesia di pasar tersebut sebesar 35 persen, nilai RCA juga memiliki nilai lebih

dari satu yang artinya memiliki keunggulan kompatarif di negara tersebut.

Meskipun rata rata pertumbuhan nilai RCA 41,06 tapi rata rata pertumbuhan

nilai ekspornya masih positif sebesar 15,72. Nilai RCA tertinggi terjadi pada

tahun 2005 yaitu 147,42 dengan nilai ekspor sebesar US$ 7,24 juta. Tahun tahun

berikutnya sampai tahun 2009 nilai RCA produk tersebut di pasar Spanyol terus

menurun sampai 1,77 dengan perolehan nilai ekspor hanya US$ 248 ribu. Hal ini

namun hal tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan karena Indonesia hanya

memiliki pangsa ekspor di Spanyol sebesar 2 persen.

Tabel 5.4. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di Spanyol

Tahun

Nilai RCA

Pertumbuhan RCA

(%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia ke Spanyol (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO ke Spanyol (%) 2005 147,42 7.244.000 2006 44,60 69.75 2.581.250 64.3671 2007 56,62 26,96 8.018.288 210.6359 2008 42,09 25,67 9.132.422 13.89491 2009 1,77 95,80 248.000 97.2844

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

India sebagai negara 5 besar dalam produksi kelapanya pun mengimpor

produk CCO Indonesia meskipun pangsa ekspornya hanya 2 persen dari total

ekspor. Hasil estimasi RCA di India pun cukup stabil dengan rata rata

pertumbuhan nilainya sebesar 6,72 persen dan nilai RCA pun memiliki nilai lebih

dari satu yang berarti produk CCO Indonesia berada pada kinerja ekspor yang

baik. Nilai RCA yang paling tinggi terjadi pada tahun 2006 yaitu 39,85 padahal di

negara tujuan ekspor yang lain pertumbuhan nilai RCA bernilai negatif. Selain itu

terjadi peningkatan nilai ekspor sebesar 46,35 persen. Hal ini disebabkan oleh

pemenuhan kebutuhan produk CCO India hampir 75 persen dipenuhi oleh

Indonesia juga terjadi peningkatan total ekspor Indonesia kepada India. Tahun

2008 produk tersebut memiliki nilai RCA yang paling rendah selama periode

2005 2009 sebesar 13. Namun jika dilihat nilai ekspornya justru mengalami

peningkatan yang signifikan menjadi US$ 11,10 juta akibat lonjakan harga yang

CCO Indonesia sebesar 66 persen, ekspor produk tersebut dapat memanfaatkan

keadaan krisis finansial global untuk mendapatkan posisi harga yang lebih mahal.

Di tahun 2009, akhirnya ekspor produk tersebut mengalami penurunan lebih dari

50 persen menjadi US$ 4,63 juta tetapi nilai RCA memiliki pertumbuhan yang

positif 86,88 persen menjadi 24,3.

Tabel 5.5. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di India

Tahun Nilai RCA

Pertumbuha n RCA

(%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia ke India (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO ke India (%) 2005 33,03 2.994.566 2006 39,85 20,65 4.382.617 46,35 2007 30,66 23,06 2.124.888 51,52 2008 13,00 57,57 11.101.552 422,45 2009 24,31 86,88 4.633.210 58,27

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Di Malaysia, produk CCO Indonesia memiliki pangsa pasar sebesar 73

persen dan hasil estimasi RCA menunjukkan bahwa produk tersebut memiliki

keunggulan komparatif yang terbukti dari nilai RCA berada pada kisaran 16,56

26,5. Peningkatan nilai ekspor yang paling tinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar

US$ 152,33 juta dengan nilai RCA 20,9. Nilai RCA yang paling rendah terjadi

pada tahun 2009 yaitu 16,56 dengan perolehan nilai ekspor pun mengalami

penurunan sebesar 60,2 persen menjadi US$ 60,63 juta. Hal ini disebabkan masih

adanya dampak lanjutan krisis finansial global sehingga permintaan menurun

Tabel 5.6. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di Malaysia Tahun Nilai RCA Pertumbuhan RCA (%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia ke Malaysia (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO ke Malaysia (%) 2005 22,48 54.079.919 2006 26,4 17,45 44.759.438 17,23 2007 26,5 0,34 111.679.012 149,51 2008 20,9 21,08 152.335.237 36,40 2009 16,56 20,79 60.630.679 60,2

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Di Belanda, ekspor produk CCO Indonesia juga memiliki nilai RCA yang

lebih dari satu. Selain itu, nilainya lebih stabil dibandingkan negara tujuan ekspor

lainnya karena Belanda merupakan negara dengan pangsa ekspor tertinggi sebesar

35 persen namun produk tersebut di pasar Belanda masih kalah pangsa pasarnya

dari Filipina sebesar 30 persen. Tapi, rata rata pertumbuhan nilai RCA dan nilai

ekspornya bernilai positif masing masing sebesar 13,65 dan 40, 81 persen (Tabel

5.7.).

Tabel 5.7. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di Belanda

Tahun Nilai RCA

Pertumbuhan RCA

(%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia ke Belanda (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO ke Belanda (%) 2005 51,5 133.688.459 2006 34,23 33,53 52.303.450 60,88 2007 76,48 123,44 192.136.732 267,35 2008 56,93 25,56 203.223.803 5,77 2009 51,39 9,73 103.638.079 49

Pada tahun 2006 dan 2009 pun ekspor ke Belanda mengalami penurunan

yang drastis. Namun, penyebab naikya harga minyak dunia merupakan tahun

dimana penurunan ekspor yang paling signifikan menjadi US$ 52,30 juta dengan

penurunan nilai RCA menjadi 34,23. Nilai ekspor tertinggi tarjadi pada tahun

2008 dengan perolehan nilai ekspor sebesar US$ 203,22 juta namun mengalami

penurunan nilai RCA sebesar 25,56 persen dari tahun sebelumnya menjadi 56,93.

Singapura yang merupakan negara terdekat dari Indonesia tidak

memberikan perolehan nilai ekspor yang tinggi akan produk CCO karena produk

tersebut di pasar Singapura memiliki pangsa pasar yang paling kecil dibandingkan

dengan Filipina dan Malaysia sebesar 27 persen. Namun, RCA di pasar tersebut

tetap memiliki keunggulan komparatif yang nilainya cenderung konstan dengan

kisaran 2,12 9,32. Berbeda dengan negara mitra dagang lainnya, nilai ekspor

terbesar justru terjadi pada tahun 2007 yaitu US$ 8,4 juta dengan nilai RCA yang

juga tertinggi sebesar 9,32. Akibat krisis finansial global, perolehan ekspor

terendah pun terjadi tahun berikutnya menjadi US$ 1,67 juta dengan penurunan

pertumbuhan nilai RCA sebesar 77 persen.

Tabel 5.8. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di Singapura

Tahun Nilai RCA

Pertumbuhan RCA

(%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia ke Singapura (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO ke Singapura (%) 2005 7,91 3.335.509 2006 4,44 43,93 5.072.145 52,1 2007 9,32 110,2 8.402.193 65,65 2008 2,12 77,24 1.674.932 80,1 2009 8,28 290,26 4.078.016 143,47

Kasus berbeda pun terjadi di tahun 2009, di negara tujuan ekspor lainnya

nilai produk CCO mengalami penurunan namun, di Singapura terjadi peningkatan

nilai ekspor menjadi US$ 4,07 juta dengan nilai RCA sebesar 8,28. Hal ini

disebabkan oleh turunnya kebutuhan dalam negeri Singapura akan produk tersebut

sedangkan Indonesia dapat memenuhinya hampir 50 persen. Secara umum, rata

rata nilai RCA di Singapura sebesar 6,41 yang artinya kinerja ekspor produk CCO

Indonesia baik.

Produk CCO Indonesia dari tahun 2005 2007 memenuhi semua kebutuhan

impor Tunisia sehingga nilai RCA sangat tinggi yang artinya produk ini pun

memiliki keunggulan komparatif dimana pangsa pasar produk di negara tersebut

memang dikuasai oleh Indonesia sebesar 85 persen . Sama halnya dengan negara

mitra dagang lain, pada tahun 2006 nilai ekspor mengalami penurunan hampir 50

persen namun, terjadi peningkatan nilai RCA sebesar dua kali lipat.

Tabel 5.9. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di Tunisia

Tahun Nilai RCA

Pertumbuhan RCA

(%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia ke Tunisia (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO ke Tunisia (%) 2005 682,9 1.024.435 2006 1032 51,12 463.575 54,75 2007 419,49 59,35 1.259.526 171,7 2008 190,93 54,48 974.750 22,61 2009 265,97 39,3 744.875 23,58

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Hal ini terjadi karena adanya peningkatan total ekspor dunia terhadap

persen. Penurunan nilai ekspor kembali terjadi di tahun 2008 menjadi US$ 974,75

ribu dan berdampak pada penurunan nilai RCA. Tahun 2009, terjadi pertumbuhan

peningkatan nilai RCA sebesar 39,3 persen meskipun terjadi penurunan nilai

ekspor menjadi US$ 744,87 ribu.

Amerika Serikat (AS) merupakan negara yang memiliki pertumbuhan nilai

RCA dan nilai ekspor yang koefisienya sama setiap tahun selama periode 2005

2009. Di pasar tersebut, pangsa pasar produk CCO Indonesia hanya 20 persen

karena dikuasai oleh Filipina. Namun, hasil estimasi RCA menunjukkan bahwa

produk Indonesia memiliki keunggulan komparatif dengan kisaran nilai 14,18

51,33. Pertumbuhan nilai RCA dan nilai ekspor terbesar terjadi pada tahun 2007

menjadi 33,48.

Tabel 5.10. Hasil Estimasi RCA Produk CCO Indonesia di Amerika Serikat (AS) Tahun Nilai RCA Pertumbuhan RCA (%)

Nilai Ekspor CCO Indonesia ke AS (US$) Pertumbuhan Nilai Ekspor CCO ke AS (%) 2005 49,24 55.788.144 2006 14,18 71,2 12.431.926 77,72 2007 33,48 136,08 47.140.604 279,2 2008 51,33 53,33 94.225.446 99,88 2009 23,63 53,97 30.535.281 67,59

Sumber: UNComtrade, 2011 (diolah).

Penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada tahun 2006 dimana

peningkatan harga minyak dunia merupakan penyebab utamanya. Saat krisis

finansial global, justru terjadi peningkatan nilai ekspor menjadi US$ 94,22 juta

CCO Indonesia kembali mengalami penurunan menjadi 23,63 dengan penurunan

nilai ekspor yang cukup signifikan sebesar 67,69 persen. Rata rata nilai RCA di

AS sebesar 34,71 dengan pangsa pasar ekspor sebesar 12 persen maka produk

CCO Indonesia di pasar tersebut berkinerja baik.

Dokumen terkait