• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONDISI UMUM

5.1 Media Tanam Lapangan

5.4.4 Panjang Akar (Akar Terpanjang)

Setelah dilakukan pengukuran terhadap sampel yang diambil dari tiga titik di lapangan, diketahui bahwa panjang akar dari akar terpanjang sampel rumput dari masing-masing lapangan berbeda-beda. Pada Stadion Haji Agus Salim memiliki rata-rata panjang rumput yang paling panjang yaitu 10,6 cm dan Siliwangi memiliki panjang rata-rata terpendek yaitu 4,7 cm. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15.

Panjang akar sebanding dengan berat kering akar. Semakin panjang akarnya, maka berat kering akarnya pun semakin tinggi. Panjang akar terpanjang terdapat pada Stadion Agus Salim dikarenakan media tanam yang baik dan mampu ditembus akar. Perakaran yang dangkal yang terjadi pada Stadion Siliwangi terjadi karena tanah yang terlalu padat dan sulit ditembus oleh akar. Perakaran yang dangkal ini menyebabkan rendahnya penyerapan nutrisi dan hara yang dibutuhkan oleh rumput sehingga banyak rumput yang tidak subur maupun mati.

Rata-rata akar terpanjang yang dimiliki rumput pada Stadion Haji Agus Salim adalah 10,6 cm. Menurut Christians (2004), rumput dengan ketinggian pangkas 1 inchi harus memiliki perakaran 2-3 inchi. Dengan demikian terlihat bahwa dengan ketinggian pangkas mencapai 5 cm, panjang akar rumput pada Stadion Haji Agus Salim mencapai 10,6 cm. Demikian pula pada panjang akar yang ada pada Stadion Singaperbangsa, dengan panjang 7,2 cm sesuai dengan ketinggian pangkas yang berkisar 2-3 cm. Pada Stadion Siliwangi, dengan panjang akar hanya mencapai 4,7 cm dengan ketinggian pangkas yang sama dengan Stadion Singaperbangsa dapat menjadi indikator bahwa rumput pada Stadion Siliwangi kurang subur dibandingkan Stadion Singaperbangsa. Dari teori yang dikemukakan Christians, Stadion Singaperbangsa dan Stadion Haji Agus

Salim memenuhi kriteria dan pada Stadion Siliwangi tidak memenuhi kriteria tersebut.

Untuk kualitas fungsional yang baik dari rumput, panjang akar merupakan indikator yang berpengaruh besar. Panjang akar yang panjang dan mampu menembus jauh ke dalam tanah mampu menjadikan kesuburan dan kekuatan dari rumput itu sendiri. Panjang akar yang mampu menembus ke dalam mampu mengambil unsur yang dibutuhkan lebih banyak lagi dari dalam tanah sehingga menjadikan rumput menjadi subur.

5.4.5 Elastisitas Rumput

Setelah dilakukan pengukuran dengan 3 kali pengulangan dari tiga titik di lapangan, diketahui bahwa jarak gelinding bola dari masing-masing lapangan berbeda. Stadion Siliwangi memiliki rata-rata gelinding bola yang paling tinggi yaitu 3,42 m dan Stadion Singaperbangsa memiliki rata-rata gelinding bola terendah yaitu 2,93 m. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16 Tabel Jarak Gelinding Bola Pada Ketiga Stadion

Stadion

Sampel Singaperbangsa Siliwangi Agus Salim Sampel Ulangan Panjang

(m) Ulangan Panjang (m) Ulangan Panjang (m) Gawang 1 3 1 3,65 1 3,6 2 2,98 2 3,30 2 3,4 3 2,75 3 3,38 3 3,6 Back 1 3,2 1 3,60 1 3 2 3,22 2 2,98 2 3 3 3,15 3 3,50 3 2,98 Striker 1 2,7 1 3,48 1 2,9 2 2,6 2 2,90 2 3,2 3 2,75 3 4,00 3 3,4 Rata-rata 2,68 Rata-rata 3,46 Rata-rata 3,17 Rata-rata keseluruhan 2,93 Rata-rata keseluruhan 3,42 Rata-rata keseluruhan 3,23

Kepegasan merupakan gambaran secara luas tentang media tanam rumput (Turgeon, 2002). Makin besar jarak luncuran bola maka kepegasan makin rendah. Kepegasan merupakan salah satu indikator kualitas fungsional yang penting karena mempengaruhi permainan dan resiko cedera dari pemain, apabila kepegasan rumput baik maka resiko cedera pemain dapat diminimalisir. Dari data pada Tabel 16, terlihat bahwa pada Stadion Singaperbangsa memiliki kepegasan yang paling baik diantara dua stadion lainnya karena memiliki jarak gelinding bola yang paling kecil. Hal ini disebabkan oleh kepadatan rumput yang paling baik diantara dua stadion lainnya. Disusul Stadion Haji Agus Salim yang memiliki jarak gelinding rata-rata 3,23 m. Hal ini disebabkan karena tekstur rumput pada stadion ini paling besar diantara dua stadion lainnya. Pada Stadion Siliwangi yang memiliki kepegasan terendah disebabkan karena kondisi lapangan yang botak pada beberapa bagian dan rendahnya kepadatan rumput.

Secara keseluruhan, kepegasan rumput Axonopus compressus memang

kurang baik. Rumput ini memiliki tipe pertumbuhan rebah sehingga kurang respon terhadap kejutan. Selain itu, kepegasan juga dipengaruhi oleh kepadatan dan tekstur rumput. Kepadatan rumput yang padat akan memiliki kemampuan elastisitas hamparan rumputnya baik pula. Kecepatan dan durasi perputaran bola akan berkurang apabila rumput tidak halus dan tidak seragam (Turgeon, 2002).

Dengan tekstur rumput Axonopus compressus yang lebar sehingga mengurangi

kemampuan elastisitas dari rumput tersebut.

Untuk lapangan sepakbola, contoh rumput yang memiliki kepegasan yang

baik yaitu lapangan yang menggunakan rumput Zoysia matrella. Rumput ini

merupakan rumput yang memiliki tekstur kecil sehingga memiliki kepegasan yang baik. Rumput ini merupakan rumput yang digunakan pada Stadion Gelora Bung Karno.

5.5 Kualitas Visual 5.5.1 Kepadatan Rumput

Dari pengamatan yang dilakukan di ketiga lapangan bola, maka didapat data kepadatan rumput. Berikut Tabel 17 dan Gambar 22 yang menjabarkan mengenai kepadatan rumput yang diamati pada ketiga stadion.

Tabel 17 Tabel Kepadatan Rumput dan Kualitas Warna Pada Ketiga Stadion

Sam pel

Singaperbangsa Siliwangi Agus Salim Densitas (pucuk/100cm2) Warna Densitas (pucuk/100cm2) Warna Densitas (pucuk/100cm2) Warna Area Gawang 1 18 3 18 2 16 2 2 22 3 18 2 18 2 3 34 3 5 2 18 2 4 25 3 10 2 18 2 5 12 2 8 3 22 2 24 22 2 10 1 17 2 25 18 2 14 3 16 2 26 20 3 6 2 10 2 27 24 3 19 3 8 2 28 19 2 17 2 17 2 Area Back 6 16 2 9 2 26 3 7 35 2 8 3 13 2 8 30 3 14 2 18 2 9 22 3 18 2 13 2 10 15 2 7 2 18 2 11 17 2 20 3 23 2 12 16 2 13 2 12 2 17 8 2 12 2 10 2 18 14 2 7 2 8 2 19 16 2 20 3 15 2 21 30 3 18 3 22 3 22 27 2 12 2 20 2 23 15 3 10 2 13 3

Tabel 17 (Lanjutan) Sam

pel

Singaperbangsa Siliwangi Agus Salim Densitas (pucuk/100cm2) Warna Densitas (pucuk/100cm2) Warna Densitas (pucuk/100cm2) Warna Area Striker 13 12 2 13 3 12 3 14 17 3 6 2 8 2 15 12 3 6 1 8 3 16 17 3 10 2 15 2 Rata- rata 18,7 2,50 11,4 2,18 14,46 2,21

Keterangan Warna : 1 : Kuning 3 : Hijau Muda

2 : Hijau Kuning 4 : Hijau

Kepadatan rumput adalah banyaknya tunas rumput dalam sebuah area. Densitas juga merupakan ukuran dari kemampuan rumput dalam beradaptasi dengan lingkungannya (Turgeon, 2002). Rumput dalam sebuah lapangan sepakbola akan menjadi jarang jika pertumbuhan rumputnya buruk. Intensitas pemeliharaan yang baik juga mampu mempengaruhi kepadatan rumput. Pada Gambar 22 juga terlihat bahwa Stadion Singaperbangsa memiliki kepadatan rumput yang tinggi dan kepadatan rumput yang paling rendah pada Stadion Siliwangi.

Gambar 22 Grafik Kepadatan Pucuk Pada Ketiga Stadion

Dari ketiga Stadion, Stadion Singaperbangsa memiliki kepadatan tertinggi

yaitu 18,7 pucuk/100 m2. Hal ini mampu menyebabkan kualitas visual Stadion

yang tinggi terjadi karena pemeliharaan Stadion Singaperbangsa yang lebih intensif dibandingkan stadion lainnya. Pada Stadion Siliwangi yang memiliki

kepadatan terendah yaitu 11,4 pucuk per 100 m2 dapat terjadi karena jarangnya

penyulaman yang dilakukan sehingga banyak lapangan yang botak. Intensitas penggunaan pada lapangan yang cukup tinggi juga mampu menyebabkan kepadatan rumput menjadi lebih rendah karena rumput tidak memiliki waktu untuk memulihkan diri dan juga pemadatan tanah yang berpengaruh kepada kesuburan pertumbuhan rumput. Stadion Haji Agus Salim memiliki kepadatan

yaitu 14,46 pucuk per 100 m2 memiliki nilai yang tidak terlalu berbeda jauh

dengan Stadion Singaperbangsa, hal ini terjadi karena intensitas penggunaan dan pemeliharaan yang hampir sama dengan Stadion Singaperbangsa.

5.5.2 Warna

Warna merupakan salah satu indikator kualitas visual yang penting. Dengan hanya melihat dari jarak jauh, penonton mampu menilai apakah kualitas warna lapangan baik atau tidak. Tabel 17 dan Gambar 23 menjabarkan mengenai data kualitas warna rumput yang diamati pada ketiga stadion.

Menurut Munandar dan Hardjosuwignyo (1990), warna memberikan ukuran cahaya yang direfleksikan pada rumput lanskap. Warna rumput merupakan salah satu indikator kondisi umum rumput tersebut tumbuh sehat (Turgeon, 2002). Warna kuning atau klorosis dapat mengindikasikan kekurangan gizi, atau

beberapa faktor yang tidak menguntungkan yang mempengaruhi

pertumbuhan. Warna gelap yang tidak biasa bisa menjadi bukti dari fertilisasi berlebihan, layu, atau tahap awal penyakit. Kualitas pemangkasan juga dapat mempengaruhi warna rumput. Pemangkasan rumput yang salah dengan ujung daun bergerigi mungkin menampilkan warna cokelat abu-abu di permukaan (Turgeon, 2002).

Gambar 23 Grafik Perbandingan Warna Rumput Pada Ketiga Stadion

Pada ketiga stadion, terlihat bahwa warna rumput yang paling baik dan mendekati warna pada literatur teradapat di Stadion Singaperbangsa. Disusul dengan warna pada Stadion Haji Agus Salim dan yang terakhir yaitu Stadion Siliwangi. Dengan skor warna rata-rata 2,5 menempatkan warna rumput pada Stadion Singaperbangsa menuju warna hijau muda. Pada Stadion Siliwangi dan Haji Agus Salim memiliki warna hijau kekuningan. Warna hijau kekuningan pada Stadion Siliwangi dapat terjadi karena stress pada rumput dikarenakan tidak memiliki waktu untuk pemulihan diri dengan intensitas penggunaan yang tinggi. Warna hijau kekuningan pada Stadion Haji Agus Salim dapat terjadi karena kekurangan unsur hara N yang mempengaruhi warna pada rumput. Pemangkasan berlebihan juga mampu menyebabkan warna kekuningan pada rumput karena stress.

Pada Stadion Singaperbangsa memiliki skor rata-rata warna rumput 2,5 yaitu berada diantara warna hijau kuning dan hijau muda (Gambar 24). Warna ini pula yang mampu menunjukkan kualitas visual lebih baik dari dua stadion lainnya. Dengan warna mendekati hijau muda tetapi masih dalam tahap kekurangan unsur hara N. Pemangkasan yang terlalu sering mampu menyebabkan warna rumput menjadi lebih kekuningan karena stress.

Gambar 25 Warna Rumput Pada Stadion Siliwangi

Pada Stadion Siliwangi memiliki skor rata-rata warna rumput yaitu 2,18 yaitu mendekati warna hijau kuning (Gambar 25). Warna ini pula yang mampu menunjukkan kualitas visual dari rumput yang kurang subur. Kekurangan nutrisi karena akar yang pendek merupakan salah satu sebab mengapa warna pada rumput menjadi kekuningan. Warna hijau kekuningan juga dapat terjadi karena stress pada rumput dikarenakan tidak memiliki waktu untuk pemulihan diri dengan intensitas penggunaan yang tinggi.

Stadion Haji Agus Salim memiliki skor rata-rata warna rumput yaitu 2,21 yaitu mendekati warna hijau kuning (Gambar 26). Warna ini pula menunjukkan kualitas visual dari rumput yang kekurangan unsur N. Pemangkasan dengan intensitas tinggi pada saat musim hujan yaitu 3 kali/bulan juga mampu menyebabkan warna kekuningan pada rumput karena stres.

5.5.3 Keseragaman Warna Rumput

Keseragaman warna rumput dipengaruhi dari berbagai macam faktor. Keseragaman ini dapat dipengaruhi adanya gulma, tekstur rumput yang tidak seragam, dan arah pemotongan yang berbeda. Pada Stadion Singaperbangsa memiliki keseragaman warna rumput yang seragam paling besar diantara kedua stadion lainnya. Hal ini dapat disebabkan oleh penutupan rumput yang baik dan pengendalian gulma yang baik sehingga warna rumputnya seragam. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18 Keseragaman Warna Rumput Pada Ketiga Stadion

Stadion Keseragaman warna (%) Singaperbangsa 90

Siliwangi 70 Haji Agus Salim 85

5.5.4 Tekstur Rumput

Tekstur menandakan ukuran dari daun rumput. Rumput yang memilki ukuran lebar daun yang lebih kecil dianggap lebih menarik (Turgeon, 2002). Pemangkasan yang sering dan semakin tinggi densitasnya mampu membuat ukuran daun menjadi lebih kecil. Kehalusan adalah tampilan permukaan rumput yang berpengaruh pada kualitas visual dan kualitas permainan. Kecepatan dan durasi perputaran bola akan berkurang apabila rumput tidak halus dan tidak seragam. Dari ketiga stadion, lebar daun rata-rata cenderung sama yaitu 6-8 mm. Sesuai dengan karateristik rumput paitan yang memiliki lebar daun 8-14 mm (Ariyanti,1987). Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19 Tabel Tekstur Rumput Pada Ketiga Stadion

No Nama Stadion Jenis Rumput Lebar Daun Sampel (mm)

Stiker Gawang Back Rata-rata 1 Singaperbangsa Axonopus- Compressus [Swartz.] Beauv. 6,7 6,7 7 6,8 2 Siliwangi Axonopus- Compressus [Swartz.] Beauv. 4,3 7,3 6,3 6

3 Agus Salim Axonopus- Compressus [Swartz.] Beauv.

8,7 8 8,7 8,5

Tekstur rumput yang terbesar ada pada rumput pada Stadion Haji Agus Salim. Daun yang tumbuh lebar mengindikasikan bahwa daun tumbuh dengan sehat. Namun dengan lebar tersebut, menjadikan kepegasan rumput menjadi rendah. Pada Stadion Siliwangi yang memiliki lebar daun terkecil, mengindikasikan daun tumbuh kurang optimal dan memang terbukti memiliki

akar yang pendek pada bagian striker sehingga daun mendapatkan nutrisi yang

kurang. Stadion Singaperbangsa memiliki rata-rata lebar rumput lebih kecil dari Stadion Haji Agus Salim yaitu 6,8 cm. Dari ketiga lapangan tersebut, hanya Stadion Haji Agus Salim yang memiliki rata-rata yang berkisar antara 8-14 mm dan sesuai dengan literatur.

Dokumen terkait