PENURUNAN CEMARAN SALMONELLA P38 DI LINGKUNGAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Uji In-vivo
2.3.1 Paparan Alergi dan Respon Tubuh 1 Alergen
Istilah alergi adalah keadaan respon immun yang menyimpang atau respon immun berlebihan terhadap suatu substansi atau antigen (Despopoulos dan Silbernagl 2003). Alergi dikenal juga dengan istilah reaksi hipersensitivitas. Secara definitif, alergi diartikan sebagai reaksi immunologi terhadap antigen (benda asing) secara tak wajar pada seseorang yang sebelumnya terpapar oleh antigen yang bersangkutan. Sedangkan Roitt's (2001) mendefinisikan alergi sebagai respon hipersensitivitas yang diakibatkan bahan asing yang dapat menimbulkan gangguan immun pada tubuh. Respon alergi adalah reaksi perlawanan yang dapat berulang terhadap suatu bahan yang diperantarai oleh respon immunologis (Gambar 8).
Gambar 8 Mekanisme paparan alergen pada tubuh (Ningrum 2009)
Zat atau senyawa yang dapat menimbulkan reaksi alergi disebut alergen. Reaksi alergi dapat disebabkan oleh makanan seperti kasein, protein dari telur,
19
susu sapi, kacang-kacangan, gandum, ikan, kerang-kerangan dan jenis makanan seperti coklat, jeruk, daging, kentang, apel dan tomat, antigen, vaksin, obat dan parasit (Corwin 2008). Senyawa ideal yang dapat bersifat alergen mempunyai berat molekul 10.000 sampai 70.000 Dalton. Berat molekul yang kurang dari 10.000 Dalton dapat bersifat alergen apabila berikatan dengan protein pembawa alergen.
2.3.1.2 Klasifikasi Reaksi Alergi
Reaksi alergi terdiri dari dua jenis yaitu reaksi tertunda (delayed) dan langsung (immediate). Reaksi alergi tertunda biasanya bersifat lokal sedangkan reaksi alergi langsung bersifat lebih serius dan tidak hanya melibatkan kulit, tetapi juga permukaan mukosa (Roitt's 2008). Waktu untuk memunculkan reaksi alergi sejak terpapar alergen pada reaksi alergi tertunda sekitar 6 jam sampai 2 hari, sedangkan pada reaksi langsung antara beberapa menit hingga 1 jam. Jalur immunologis dan perantara yang terlibat pada kedua jenis reaksi alergi berbeda.
Reaksi alergi tersebut oleh Gell dan Coombs dibagi dalam 4 tipe reaksi menurut kecepatannya dan mekanisme immun yang terjadi (Kuby 2007; Roitt's 2008). Reaksi tipe I disebut juga reaksi cepat, reaksi anafilaksis atau reaksi alergi yang segera timbul sesudah alergen masuk ke dalam tubuh. Alergen yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan respon immun dengan disintesisnya IgE yang disebut proses sensitisasi. Kemudian IgE diikat oleh reseptor Fc pada permukaan sel mast dan basofil.
Apabila tubuh sudah tersensitisasi tersebut terpapar oleh alergen yang sama, alergen tersebut akan membentuk ikatan dengan IgE pada permukaan sel mast dan sel basofil. Setiap alergen terikat oleh dua atau lebih molekul IgE (cross linking) (Despopoulos dan Silbernagl 2003). Kuatnya ikatan tersebut menyebabkan terjadinya reaksi-reaki biokimia dalam sel.
Roitt's (2008) menjelaskan bahwa contoh reaksi tipe I adalah alergi terhadap makanan. Alergi makanan biasanya ditimbulkan oleh reaksi yang diperantarai oleh IgE. Sintesis IgE pada individu yang alergi terjadi sebagai akibat dari adanya respon immunologi terhadap alergen yang masuk ke dalam tubuh (Gambar 9). Sedangkan untuk individu yang non alergi, respon immunologi
terhadap protein makanan yang masuk ke dalam tubuh adalah sintesis IgD, IgA, IgM atau IgG (Kuby 2007).
Reaksi alergi tipe II merupakan reaksi alergi sitotoksik yang terjadi karena dibentuknya antibodi jenis IgG dan IgM terhadap antigen. Antibodi tersebut dapat mengaktifkan komplemen dan sel fagosit sehingga menimbulkan lisis (Despopoulos dan Silbernagl 2003). Sebagian kerusakan jaringan pada penyakit autoimmun juga ditimbulkan melalui mekanisme reaksi tipe II.
Gambar 9 Reaksi alergi dan tanggap tubuh terhadap alergen (Nature 2006) Reaksi alergi tipe III disebut juga reaksi kompleks immun terjadi akibat penimbunan kompleks antigen-antibodi dalam jaringan atau pembuluh darah. Biasanya antibodi yang terlibat adalah jenis IgG. Kompleks antigen-antibodi tersebut mengaktifkan komplemen yang kemudian melepas Macrophage Chemotactic Factors (Roitt's 2008).
Reaksi hipersensitifitas lambat atau tipe IV timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpapar antigen. Reaksi terjadi karena respon sel T yang sudah
21
disensitisasi terhadap antigen tertentu. Dalam keadaan ini tidak ada peranan antibodi (Corwin 2009).
2.3.1.3 Antibodi
Antibodi atau immunoglobulin (Ig) adalah golongan protein yang dibentuk oleh sel plasma akibat kontak dengan antigen. Antibodi jenis IgE, pertama kali ditemukan oleh Ishizaka. IgE atau antibodi reagenik mempunyai berat molekul 200.000 dalton. Kadar IgE ditemukan dalam serum paling sedikit, akan tetapi efeknya sangat nyata. Kadar IgE normal dalam serum orang Swedia (0,1-178 IU/ml) dan untuk orang Indonesia (0-<120 IU/ml). Antibodi jenis IgE ini banyak dihasilkan terutama pada traktus respiratorius, gastrointestinal dan merupakan bagian dari antibodi sistem sekterotis eksternal, seperti halnya IgA (Despopoulos dan Silbernagl 2003).
Individu yang menderita alergi dapat dicirikan dengan tingginya kadar IgE akibat stimulasi oleh antigen seperti debu, tepung sari, jamur atau makanan. Antibodi jenis IgE akan berikatan dengan kuat (high affinity) pada reseptor Fce (FceRl) pada sel mast dan sel basofil, sedangkan low affinity terjadi pada reseptor FceR (FceR2) pada sel limfosit, mast, eosinofil dan platelet (Kuby 2007).
2.3.1.4 Sel Mast dan Basofil
Jumlah sel basofil yang ditemukan dalam sirkulasi darah sangat sedikit, yaitu kurang dari 0.5% dari seluruh darah putih. Sel basofil diduga berfungsi sebagai sel fagosit, tetapi yang jelas sel tersebut berfungsi sebagai sel mediator. Sel Mast adalah sel yang dalam struktur, fungsi dan proliferasinya sama dengan basofil (Kuby 2007).
Berbeda dengan basofil, sel mast hanya dapat ditemukan di jaringan khususnya paling banyak ditemukan pada permukaan jaringan seperti kulit. Kandungan sel mast pada kulit yaitu 104 sel /mm3, kemudian pada alveoli paru- paru 106 sel/gram jaringan, gastrointestinal, mukosa dan membran mukosa nasal. Seperti halnya sel mast, sel basofil juga mempunyai reseptor dengan afinitas yang tinggi untuk IgE, kira-kira 270.000 reseptor FceRl terdapat dalam permukaan sel. Pada kulit, baik sel basofil maupun sel mast dapat melepaskan bahan-bahan (mediator) yang mempunyai aktivitas biologik, antara lain: meningkatkan
permeabilitas vaskuler, respon inflamasi, mengerutkan otot polos bronkus dan Iain-lain (Kuby 2007).
Sel mast dan basofil akan melepaskan mediatornya apabila diaktifkan oleh alergen spesifik dengan mekanisme IgE. Selain itu, dapat juga diaktifkan dengan:
1. Sel yang dapat merangsang pelepasan histamin: sel neutrofil, eosinofil, limfosit, makrofag, trombosit,sel endotel.
2. Rangsangan obat: opionid, antibiotik, kontras pelemas otot. 3. Hipoksia
4. Komponen Ca-Ionophor (A-23187)
5. Anafilatoksin (polipeptida basa) : C3a, C4a dan C5a
6. Rangsangan fisis : panas, sinar matahari, dingin dan tekanan 7. Sitokin : Interleukin-1 (IL-1), Interleukin-3 (IL-3) dan GM-SF
(Granidocyte-Macrophage-Colony-Stimulating Factor)
Mediator yang dilepaskan oleh sel mast dan basofil terdiri dari 2 jenis yaitu mediator primer dan sekunder. Mediator primer sudah tersimpan dalam granula sel dan mediator sekunder disintesis setelah aktivasi sel sasaran atau dilepaskan pada saat kerusakan fospolipid membran dalam proses degranulasi (Kuby 2007).