BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Paparan dan Analisis Data Hasil Analisis Kebutuhan
Data awal penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi, studi dokumen, dan studi literatur. Wawancara dilakukan terhadap guru matematika kelas IV SDN Kledokan. Observasi dilakukan saat kegiatan pembelajaran matematika di kelas IV SD N Kledokan berlangsung. Studi dokumen dilakukan dengan melihat daftar nilai matematika mengenai bangun ruang kelas IV SDN Kledokan. Hasil wawancara dan studi dokumen menunjukkan kurangnya interaktivitas dalam pembelajaran bangun ruang di SDN Kledokan. Studi literatur berguna untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan interaktivitas dan pendekatan PMRI.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap guru kelas IV SDN Kledokan pada 12 Desember 2012 didapat data bahwa selama ini ia belum pernah menggunakan pendekatan PMRI dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Guru mengatakan bahwa pada kegiatan pembelajaran matematika banyak siswa yang masih kurang aktif. Banyak siswa yang masih ramai atau kurang berkonsentrasi terhadap kegiatan pembelajaran. Interaksi yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran masih sedikit. Selain itu, tidak setiap kegiatan pembelajaran menggunakan media pembelajaran yang konkret/ nyata.
37 Observasi yang dilakukan tanggal 09, 11, dan 12 Januari 2012 saat kegiatan pembelajaran matematika di kelas IV SDN Kledokan menunjukkan interaktivitas yang masih rendah. Interaktivitas yang nampak dalam kegiatan pembelajaran adalah tanya jawab antara guru dengan beberapa murid selama pembelajaran berlangsung, guru membimbing siswa dalam mengerjakan soal di depan kelas, siswa saling bertukar pendapat tentang jawaban dari soal yang mereka kerjakan, siswa memberikan tepuk tangan ketika ada temannya yang tepat dalam menjawab soal, siswa membetulkan jawaban temannya yang salah.
Kegiatan tanya jawab yang dilakukan antara guru dengan siswa terjadi hanya sesekali saja selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Tanya jawab yang terjadi berjalan dalam satu arah saja, yaitu antara guru kepada siswa (guru memberikan pertanyaan kepada siswa, kemudian siswa menjawab pertanyaan). Pertanyaan yang diberikan oleh guru cukup sederhana sehingga beberapa siswa dapat menjawabnya dengan spontan. Hal ini dapat dilakukan dengan intensitas yang sering untuk menjaga konsentrasi siswa atau untuk menarik perhatian siswa. Selama kegiatan pembelajaran, tidak ada siswa yang bertanya kepada guru. Tentunya sangat baik jika ada pertanyaan yang muncul dari siswa kepada guru.
Guru cukup sering membimbing siswa dalam kegiatan pembelajaran terutama dalam hal mengerjakan soal di depan kelas terjadi. Guru memberikan soal kepada siswa, kemudian siswa diminta mengerjakan soal di depan kelas. Ketika siswa mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal tersebut, guru melakukan bimbingan. Guru memberikan arahan kepada siswa dalam
38 mengerjakan. Ketika siswa menjawab soal, kemudian guru melemparkan jawaban itu kepada seluruh kelas. Mereka diminta menilai jawaban sudah tepat atau belum. Jawaban siswa ternyata kurang tepat, kemudian guru menunjukkan langkah yang tepat, kemudian siswa mengikuti dengan cara menghitung sesuai petunjuk dari guru.
Siswa saling bertukar pendapat tentang jawaban dari soal yang mereka kerjakan, namun hal ini hanya dilakukan oleh dua siswa saja. Hal ini dilakukan siswa ketika siswa telah selesai mengerjakan soal dari guru. Terdapat beberapa siswa saja yang melakukan hal ini, terlebih lagi hanya dengan teman sebangku saja. Siswa saling menunjukkan hasil pekerjaan mereka.
Kegiatan bertukar pendapat dalam pembelajaran masih terbatas pada kegiatan bertukar jawaban. Hal ini dirasakan kurang karena bertukar pendapat dapat berupa saling bertukar ide. Ide yang dimaksud adalah strategi pemecahan masalah di antara siswa. Hal ini akan sangat menarik dan dapat membangun interaksi di dalam kelas jika dilakukan oleh seluruh siswa.
Memberikan tepuk tangan ketika ada temannya yang tepat dalam menjawab soal merupakan sikap saling menghargai di antara siswa. Ketika ada beberapa siswa yang tepat dalam menjawab pertanyaan dari guru, seluruh siswa memberikan tepuk tangannya atas permintaan dari guru. Meskipun masih diminta oleh guru, kegiatan memberikan tepuk tangan adalah apresiasi terhadap siswa lain yang dapat terus dijaga dan dikembangkan. Hal ini berguna untuk memberikan rasa bangga kepada siswa yang tepat menjawab
39 pertanyaan. Selain itu, apresiasi dapat menjadi pendorong bagi siswa lain agar mampu menjawab pertanyaan dari guru dengan tepat.
Bentuk interaktivitas terakhir yang nampak adalah beberapa siswa membetulkan jawaban temannya yang kurang tepat. Kegiatan ini terjadi saat seorang siswa dengan tepat menjawab soal dari guru, kemudian ia melihat pekerjaan temannya yang kurang tepat. Ia kemudian membetulkan jawaban dari temannya yang kurang tepat. Interaktivitas ini hanya terjadi sesekali dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dikembangkan dengan cara guru memberikan kesempatan kepada siswa yang tepat dalam menjawab soal untuk membantu temannya yang kurang tepat dalam menjawab soal. Siswa dapat membantu memberikan langkah-langkah penyelesaian masalah yang tepat, tidak hanya jawabannya saja. Jika ini dilakukan, tentunya akan terjadi interaksi yang positif di dalam kelas.
Hasil obervasi lain yang didapat selama kegiatan pembelajaran berlangsung adalah kegitan pembelajaran lebih dominan guru menyampaikan materi kepada siswa. Guru jarang menggunakan media dalam menyampaikan suatu materi kepada siswa. Media yang digunakan juga kurang mengakomodasi seluruh siswa.
Studi dokumen dilakukan dengan melihat daftar nilai matematika mengenai bangun ruang kelas IV SDN Kledokan. Nilai rata-rata untuk KD tentang bangun ruang adalah 61, 625. Sedangkan kriteria ketuntasan minimalnya adalah 65. Hal ini menunjukkan masih rendahnya nilai rata-rata matematika siswa kelas IV SDN Kledokan.
40 Berdasarkan uraian dari data awal di atas, maka kebutuhan dalam pembelajaran bangun ruang meliputi:
1. Kegiatan pembelajaran yang bersifat kontekstual
Siswa kelas IV SD termasuk dalam tahapan perkembangan operasional konkret. Siswa belum dapat berpikir secara abstrak. Mereka membutuhkan rangsangan yang bersifat konkret agar mereka dapat mulai berpikir kearah yang abstrak. Kegiatan pembelajaran yang bersifat kontekstual salah satu rangsangan tersebut. Bersifat kontekstual yang dimaksud adalah berhubungan dengan kegiatan sehari-hari siswa, pernah dilihat, pernah dilakukan oleh siswa, menarik perhatian siswa.
Materi pembelajaran bangun ruang merupakan materi pembelajaran yang abstrak. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pembelajaran yang bersifat kontekstual. Guru dapat mengembangkan kegitan pembelajaran yang mencakup hal-hal yang bersifat kontekstual, tetapi mudah untuk dimengerti dan dilakukan oleh siswa. Adanya kegiatan pembelajaran tersebut diharapkan akan memudahkan siswa dalam memahami materi bangun ruang.
2. Penggunaan media pembelajaran
Media pembelajaran membantu guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa. Siswa kelas IV masih berpikir secara konkret, belum dapat berpikir secara abstrak. Mereka membutuhkan media pembelajaran untuk menjembatani mereka dalam berpikir secara konkret menuju berpikir secara abstrak. Siswa akan lebih mudah memahami materi pembelajaran yang abstrak jika ada media pembelajaran yang konkret.
41 Selain itu, media pembelajaran yang konkret akan menarik perhatian dan memusatkan konsentrasi siswa. Perhatian atau konsentrasi siswa yang terpusat akan memudahkan mereka dalam memahami materi pembelajaran.
Media pembelajaran yang bersifat konkret dapat ditemukan di sekitar siswa. Benda-benda itu dapat berupa benda yang pernah dilihat atau dipergunakan oleh siswa dalam aktivitas keseharian mereka. Benda-benda yang dapat dipergunakan sebagai media pembelajaran berupa: kotak susu, kotak sepatu, kardus handphone, rubik, balok kayu, dll.
3. Kegiatan pembelajaran yang mendorong terjadinya interaktivitas Interaksi merupakan cerminan dari perilaku sosial. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran yang baik harus berupa bentuk kegiatan yang mendorong terjadinya interaksi di dalam atau luar kelas. Interaksi yang terjadi berupa interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Interaksi antara guru dengan siswa dapat berupa pembangunan norma kelas, tanya jawab, memberikan bimbingan, melakukan penilaian, melakukan demonstrasi, memberikan penguatan, dan memfasilitasi negosiasi yang terjadi di antara siswa. Sedangkan, interaksi antara siswa dengan siswa dapat berupa presentasi kelompok, memberikan pendapat atau mengajukan pertanyaan, melakukan kerjasama, memberikan apresiasi, memperhatikan teman yang menyampaikan pendapat.
Contoh interaksi di atas dapat terwujud jika ada komunikasi yang positif di antara guru dan siswa. Komunikasi yang positif akan mendorong terjadinya pembelajaran yang lebih menarik, kegiatan pembelajaran tidak
42 lagi terlihat kaku. Kegiatan pembelajaran yang menarik akan memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran.
4. Kegiatan pembelajan yang mendorong kontribusi siswa untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah
Kegiatan pembelajaran yang baik mendorong siswa untuk dapat berpikir secara kreatif. Siswa tidak hanya memecahkan suatu masalah dengan cara/ strategi yang diberikan oleh gurunya, tetapi siswa juga dapat menemukan sendiri cara/ strategi pemecahan masalahanya sendiri. Hal ini dapat mendorong nampaknya cara berpikir kreatif pada siswa, sehingga nampak banyak strategi pemecahan masalah. Salah satu cara untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah pada siswa dapat dilakukan dengan cara memberikan kebebasan kepada mereka dalam belajar. Guru tidak memberikan strategi pemecahan masalah kepada siswa, tetapi memberikan kesempatan kepada mereka untuk menemukan sendiri strategi pemecahan masalah. Strategi pemecahan masalah masing-masing siswa tentunya berbeda, sehingga diharapkan dari satu masalah dapat diselesaikan dengan banyak strategi yang berbeda.
5. Kegiatan pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan materi lain
Mengaitkan materi pembelajaran dengan materi lain akan mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran dalam matematika secara utuh. Pengetahuan dalam matematika saling berhubungan. Mempelajari satu materi pembelajaran secara tidak langsung juga akan mempelajari materi pembelajaran yang lain. Sebagai contohnya,
43 mempelajari materi bangun ruang juga akan mempelajari materi bangun datar, sudut, membilang banyak benda. Selain pengaitan materi pembelajaran dalam satu mata pelajaran, materi pembelajaran dalam matematika juga dapat dikaitkan dengan materi lain di luar matematika. Sebagai contoh, materi bangun ruang dapat dikaitkan dengan materi Imu Pengetahuan Sosial (IPS) tentang kegiatan sehari-hari dan bahan makanan dan minuman. Mempelajari bangun ruang secara tidak langsung juga mempelajari IPS. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran yang mengaitkan materi pembelajaran dengan materi lain akan mempermudah siswa dalam memahami banyak materi pembelajaran dalam satu mata pelajaran ataupun materi yang berbeda mata pelajaran.
Berdasarkan analisis kebutuhan di atas, diperlukan pendekatan pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan dalam pembelajaran bangun ruang, terutama dalam hal interaktivitas dalam kegiatan pembelajaran. Peneliti memilih pendekatan pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan di atas adalah pendekatan PMRI. Pendekatan PMRI dipilih karena pendekatan pembelajaran ini memiliki karakteristik yang mampu mengakomodasi kebutuhan dalam pembelajaran bangun ruang, terutama interaktivitas dalam kegiatan pembelajaran.