Bagian ini memaparkan data mengenai: (a) langkah-langkah yang dilakukan SDIT Al Aqsha dalam mengoptimalkan pendidikan holistik dan (b) hasil optimalisasi pendidikan holistik yang dilakukan oleh SDIT Al Aqsha
a) Langkah-langkah yang Dilakukan SDIT Al Aqsha dalam Mengoptimalkan Pendidikan Holistik untuk Mencapai Tujuan Institusional Sekolah
Berdasarkan teori pendidikan holistik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terdapat enam aspek kecerdasan yang dikembangkan dalam pendidikan holistik yaitu kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, sosial, fisik dan estetika. Penelitian ini dimaksudkan untuk memahami bagaimana kedua sekolah yang diteliti mengembangkan pendidikan holistik dari enam aspek tersebut. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa di
sekolah SDIT Al Aqsha mengembangkan satu aspek lagi yaitu aspek budaya bagi peserta didik, maka aspek tersebut perlu disajikan pada bab ini. Berikut langkah-langkah yang dilakukan berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi:
1) Pengembangan Aspek Intelektual
Pembelajaran holistik yang dikembangkan di SDIT Al Aqsha bertujuan untuk memperoleh lulusan sesuai yang diharapkan. Tujuan pendidikan institusional sekolah selengkapnya peneliti paparkan di lampiran.
Langkah awal yang dilakukan lembaga sekolah ini untuk mengembangkan aspek intelektual peserta didik yaitu menyediakan tenaga pendidik atau guru untuk memberikan ilmu pengetahuan bagi peserta didik. Lembaga sekolah memberikan fasilitas berupa laptop, proyektor dan media pembelajaran lainnya untuk guru, menyediakan ruang belajar atau kelas untuk setiap rombongan belajar. Hal penting lainnya adalah fasilitas lain seperti perpustakaan juga diberikan SDIT Al Aqsha untuk seluruh peserta didik.
Hasil dari observasi keberadaan fasilitas tersebut berperan penting dalam mendukung penyelenggaraan kegiatan mengajar yang efektif. Laptop dan proyektor dapat digunakan untuk guru sebagai media dalam proses pembelajaran. Ruang
kelas digunakan peserta didik untuk belajar dengan nyaman, perpustakaan yang berisi berbagai macam buku dimanfaatkan peserta didik untuk menambah wawasan pengetahuan mereka.87
Gambar 4.12 Guru Menggunakan Proyektor dalam KBM88 Berdasarkan hasil dokumentasi di atas, guru menggunakan media dalam proses mengajar. Penggunaan media mampu menarik minat peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Berikut pernyataan kepala sekolah ketika ditanya mengenai tenaga pendidik atau guru di SDIT Al Aqsha,
Guru di sekolah kami semua dari yayasan, tentunya kami juga memilih guru-guru yang profesional di bidangnya dan diupayakan yang terampil karena sekolah kami mengajarkan life skill kepada siswa. Guru di sini semua lulusan sarjana pendidikan begitupun untuk guru pendamping, untuk mata pelajaran tertentu ada guru bidang studi yang khusus mengajar mata pelajaran tertentu yaitu guru PAI, olahraga, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Ada
87 Observasi 14 April 2017
juga guru kelas lima, beliau juga guru bidang studi IPA tapi merangkap guru kelas untuk kelas lima. Jadi mata pelajaran IPA untuk kelas atas (4,5,dan 6) beliau yang mengajar, nanti ada guru lain yang mengisi kelas beliau ketika beliau mengajar di kelas lain.89
Berkaitan usaha untuk mengembangkan kecerdasan intelektual peserta didik, pendidikan di SDIT Al Aqsha di rancang untuk membuat anak menjadi riang ketika proses pembelajaran di sekolah. Selain itu peserta didik tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga belajar di luar kelas, di tempat umum dan lingkungan sekitar. Materi pelajaran yang selama ini abstrak di awang-awang dijadikan konkret dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Di sekolah ini siswa belajar kecakapan hidup (life
skill) secara utuh. Sebagaimana penjelasan kepala sekolah mengenai pendidikan di SDIT Al Aqsha,
Ada beberapa program khusus yang kami jalankan untuk mengembangkan pengetahuan siswa agar materi pelajaran menjadi konkret bagi siswa karena menurut kami jika siswa belajar secara langsung di lapangan materi akan lebih tertanam pada ingatan mereka. Misalnya, kami ajak mereka pergi ke pasar, PLTA, Puskesmas dan Balai Desa. Program lainnya adalah mabit yang dilaksanakan dua bulan sekali, dimana salah satu kegiatannya adalah penambahan materi pelajaran pada siswa, dan mengambil satu hari dalam seminggu khusus untuk life skill.90
89 Wawancara dengan Edi Supriyoko, 14 April 2017, Pukul 07.00-08.30 WIB
Berdasarkan hasil observasi, untuk mengembangkan aspek intelektual guru selalu memberi keleluasaan bagi peserta didik untuk merencanakan cara menemukan jawaban dari sebuah masalah atau pertanyaan, selanjutnya membimbing peserta didik merefleksikan temuan sementara dan mengajak mereka mengolah berbagai informasi lebih jelas. Hal ini bertujuan untuk mengasah kemampuan berfikir peserta didik.91
Lebih detailnya peneliti bertanya kepada guru kelas mengenai kegiatan belajar mengajar di kelas. Beliau menjelaskan sebagai berikut,
Kami tidak langsung memberikan atau menerangkan materi kepada siswa. Sebelumnya kami memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk memancing mereka mengenai materi yang akan dibahas untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka, kadang jika memerlukan contoh benda yang konkret kami akan menyembunyikannya lalu meminta siswa untuk menebak benda apa yang dibawa guru dengan menunjukkan ciri-cirinya. Ada lagunya seperti yang mbak lihat tadi, itu agar menarik perhatian siswa. Ketika ada anak yang maju ke depan kelas untuk menjawab pertanyaan, kami memberikan satu bintang untuk kelompoknya. Dimana nanti yang mendapatkan bintang paling banyak yang berkesempatan untuk istirahat lebih dulu atau pulang lebih dulu.92
Selanjutnya hasil observasi mengungkapkan bahwa guru menerapkan pembelajaran kooperatif di kelas, dimana
91 Observasi, 13 April 2017
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja dalam kelompok kecil. SDIT Al Aqsha menyadari kemampuan peserta didik yang berbeda-beda dalam aspek intelektual, oleh karena itu dengan bekerja kelompok peserta didik dengan kemampuan lebih tinggi berpotensi mengembangkan kemampuannya dan mengajari rekan kelompoknya yang memiliki kemampuan kurang. Peserta didik bekerja melalui penugasan sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan menyelesaikan.
Gambar 4.13 Siswa Bekerja Kelompok93
Pembelajaran kooperatif peneliti abadikan dalam dokumentasi di atas. Pada kegiatan tersebut peserta didik saling bertukar pikiran dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi yang sedang diajarkan.
Berhubungan dengan kegiatan di atas berikut pernyataan guru kelas,
93 Dokumentasi, SDIT Al Aqsha 2017
Untuk penerapan pembelajaran kooperatif, kami terapkan untuk kelas bawah. Kelas satu sampai kelas tiga kami kondisikan untuk duduk berkelompok. Sedangkan kelas atas biasanya menyesuaikan dengan materi yang akan dipelajari. Dengan bekerja kelompok siswa didorong untuk berfikir aktif dalam menyelesaikan masalah atau tugas yang guru berikan. Saling berpendapat dengan pengetahuan yang dimiliki masing-masing siswa. Dari situ siswa dapat saling bertukar pikiran dan menambah pengetahuan atau informasi dari teman kerjanya.94
Langkah lain yang dilakukan oleh SDIT Al Aqsha dalam mengembangkan aspek intelektual peserta didik adalah adanya guru pendamping bagi peserta didik kelas bawah. Guru pendamping ini membantu anak dalam banyak hal yaitu fokus pada pembelajaran, mengendalikan perilakunya dan berpartisipasi dalam kelas. Guru pendamping juga sangat bermanfaat bagi peserta didik yang membutuhkan perhatian khusus, dalam arti peserta didik yang memerlukan bimbingan dalam memahami materi dan tugas yang diberikan guru, berikut pernyataan guru pendamping,
Kami membantu guru kelas dalam mengelola kelas
mbak, selain itu kami juga membantu siswa yang kurang mengerti dalam pelajaran, jadi kami melakukan pendekatan kepada mereka kemudian menjelaskan kepada mereka lebih gamblang. Hal ini kami lakukan juga agar siswa yang memiliki kemampuan kurang dari teman-temannya tidak mengalami ketertinggalan sehingga mereka
mendapat kesempatan untuk meningkatkan aspek intelektual mereka.95
Usaha dalam mengembangkan kecerdasan intelektual pada peserta didik di SDIT Al Aqsha tidak terlepas dari berbagai hambatan atau kesulitan. Beragam tingkat kecerdasan yang dimiliki peserta didik salah satunya. Peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan yang kurang, membutuhkan perhatian lebih dalam menerima materi yang diberikan dan konsentrasi peserta didik yang sering berubah-ubah karena bosan.
Solusi untuk mengatasi kendala di atas selain memberikan guru pendamping pada kelas bawah, pada kegiatan belajar mengajar guru mengajak siswa untuk menyuarakan jargon untuk mengembalikan semangat peserta didik, sebagaimana yang disampaikan oleh guru kelas,
Kami sering mengajak siswa untuk menyuarakan jargon ketika siswa sudah mulai terlihat bosan dan tidak tertarik lagi dengan pembelajaran agar mereka semangat lagi dan kembali konsentrasi, kegiatan ini lebih sering dilakukan di kelas bawah, sedangkan untuk kelas atas kami gunakan media agar anak lebih menarik minat belajar siswa atau mengajak belajar di luar kelas. Melagukan beberapa kosa kata bahasa asing juga kami lakukan untuk mempermudah siswa dalam mengingat.96
95 Wawancara dengan Fiana, 11 April 2017, Pukul 12.00-12.30 WIB
2) Pengembangan Aspek Spiritual
SDIT Al Aqsha merupakan sekolah yang melaksanakan pembelajaran berdasarkan nilai-nilai keislaman. Lembaga sekolah ini menempatkan aspek keagamaan lebih banyak di dalam pembelajaran peserta didik namun tidak mengesampingkan pelajaran umum lainnya.
Peneliti mengamati bahwa kegiatan pembelajaran di SDIT Al Aqsha sangat kental dengan nuansa islami, mulai dari awal sampai akhir pelajaran. Peserta didik benar-benar dibimbing dalam lingkungan yang religius. Hal ini terlihat dari semua kegiatan yang berlandaskan ajaran Islam guna untuk meningkatkan aspek spiritual peserta didik sesuai dengan misi lembaga sekolah yaitu menjadi sekolah Islam percontohan. Guru juga mengajak peserta didik dengan pembiasaan beribadah melalui sholat dhuha berjamaah, sholat dhuhur berjamaah, berdoa dan zikir, baca tulis dan menghafal Al Qur’an serta infaq Jum’at.
Kegiatan dimulai pukul 07.00, dengan mengajak peserta didik untuk sholat dhuha terlebih dahulu di masjid sekolah. Guru menunjuk peserta didik laki-laki kelas atas bergantian menjadi imam dalam shalat berjamaah setiap harinya. Selanjutnya kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik adalah menghafal asmaul husna, menghafal surat-surat pendek,
menghafal nama-nama malaikat dan rosul, mengaji, serta menghafal Al Qur’an. Kegiatan ini dilakukan sampai pukul 08.30. Bagi kelas atas guru memisahkan peserta didik laki-laki dan perempuan. Berikut penjelasan kepala sekolah,
Sebelum memulai pelajaran di kelas, pagi hari kami memiliki kebiasaan yang kami terapkan kepada siswa. Hal ini guna mengembangkan aspek spiritual siswa, kegiatan diawali dengan sholat dhuha berjamaah. Lalu untuk untuk kelas satu, dua, tiga biasanya diberikan materi yang ringan seperti menghafal asmaul husna, menghafal surat pendek, menghafal nama-nama malaikat dan rosul, mengaji juga. Sedangkan untuk kelas atas membaca Al Qur’an dan menghafal Al Qur’an. Untuk kelas atas kegiatan mengaji kami mulai pisah mbak yang laki-laki dan perempuan.97
Berdasarkan observasi, kegiatan di atas ada yang dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas. Pernyataan tersebut diperkuat oleh penjelasan guru kelas,
Kegiatan ini kami sebut dengan kegiatan mengaji mbak, meskipun kegiatannya macam-macam ada yang menghafal surat-surta pendek, menghafal asmaul husna, nama-nama malaikat dan sebagainya. Untuk anak-anak kelas bawah yang paling penting kami mengenalkan mereka tentang Tuhan mereka, untuk selalu berdoa dan selalu berbuat baik karena meskipun kita tidak bisa melihat Allah tetapi Allah bisa melihat kita dimanapun dan kapanpun. Kegiatan ada yang dilakukan di dalam kelas, ada yang dilakukan di luar kelas agar siswa tidak terlalu lama di dalam kelas, karena akan menyebabkan kejenuhan, selain itu mereka pulangnya juga jam dua. Jadi ini dilakukan untuk mengurangi kejenuhan siswa.98
97 Wawancara dengan Edi Supriyoko, 14 April 2017, Pukul 07.00-08.30 WIB
Gambar 4.14 Kegiatan Mengaji99
Sesuai dengan misi lembaga sekolah ini yaitu menjadi sekolah Islam percontohan dan berkaitan dengan pengembangan aspek spiritual, SDIT Al Aqsha memiliki program menarik yang ditujukan bagi peserta didik kelas atas (4, 5 dan 6). Program tersebut adalah karantina dan mabit. Program ini mewajibkan peserta didik untuk menginap di sekolah dan mengikuti serangkaian kegiatan untuk mengembangkan aspek spiritual mereka.
Pernyataan di atas diperkuat oleh penjelasan kepala sekolah mengenai program yang dijalankan oleh SDIT Al Aqsha,
Sekolah kami ada program yang diselenggarakan di luar jam sekolah. Program tersebut adalah program anak menginap. Ada dua macam, yaitu karantina dan mabid. Karantina dilaksanakan seminggu sekali setiap hari jum’at sampai sabtu sore, kemudian untuk mabid dilaksanakan setiap dua bulan sekali. Karantina di khususkan untuk anak-anak menghafal Al Qur’an, bagi siswa kelas 4,5 dan 6 yang lancar membaca Al Qur’an
disarankan untuk mengikuti program ini. Sedangkan ketika mabid ada beberapa kegiatan yang dilakukan, selain mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah, siswa juga mendapatkan penambahan materi, penayangan film motivasi, dan bimbingan membaca Al Qur’an yang benar dan lancar.100
Gambar 4.15 Kegiatan Menghafal Al Qur’an101 Kegiatan menghafal Al Qur’an pada gambar di atas dilakukan di masjid sekolah dengan didampingi oleh guru yang khusus untuk membimbing mereka dalam menghafal Al Quran. Sesuai dengan prinsip pendidikan holistik yang memperkokoh spiritual sebagai inti hidup dan pusat pendidikan, karantina dan mabit merupakan langkah yang bagus dilakukan oleh SDI Al Aqsha dalam mencapai tujuan pendidikan sekolah sesuai dengan prinsip pendidikan holistik yang berpusat pada Tuhan.
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara kepada peserta didik untuk menanyakan sudah sejauh mana mereka
100 Wawancara dengan Edi Supriyoko, 14 April 2017, Pukul 07.00-08.30 WIB
menghafal Al Qur’an. Tingkatan tertinggi peserta didik dalam menghafal Al Qur’an ada yang sudah sampai juz 13, sebagaimana yang disampaikan peserta karantina “hafalannya sudah ada yang sampai juz 13, yang paling jauh tingkat hafalannya itu mbak. Tapi yang masih juz 2 juga ada”.102
Guru tidak memberikan target tertentu kepada peserta didik dalam menghafal Al Qur’an, namun guru selalu memotivasi mereka untuk giat berlatih. Berikut penjelasan guru pembimbing,
Berbeda dengan mabid, kegiatan karantina rutin dilaksanakan seminggu sekali agar anak-anak cepat menghafal Al Qur’an. Saya dan guru pembimbing lainnya tidak memberikan target kepada siswa harus sejauh mana mereka menghafalnya, yang penting mereka rutin berlatih dan mengikuti karantina setiap minggunya. Tidak ada metode khusus atau semacamnya tetapi kami menganjurkan siswa untuk memakai Al Qur’an yang ada terjemahannya agar mereka juga mempelajari kandungan dari surat yang mereka baca dan hafalkan, jadi tidak semata-mata hafal saja. Mengenai mabid, guru pembimbingnya sama dengan karantina tetapi guru lainnya juga membantu karena tidak hanya satu kegiatan saja yang kami lakukan.103
Selain karantina dan mabid, dalam mengembangkan aspek spiritual peserta didik guru di SDIT Al Aqsha membiasakan mereka untuk selalu berdoa sebelum menjalankan aktivitas. Seperti berdoa sebelum belajar, berdoa sebelum makan dan berdoa ketika akan berpergian. Pernyataan
102 Wawancara dengan Dea, 15 April 2017, Pukul 09.00-09.30 WIB
yang sama disampaikan oleh peserta didik bahwa, “Sebelum belajar kita berdoa bersama-sama dipimpin ketua kelas, sebelum makan juga berdoa bersama-sama, yang mimpin doa gantian”104
Kendala yang dihadapi dalam mengembangkan aspek spiritual adalah mengkondisikan peserta didik untuk mengikuti kegiatan ataupun pembiasaan beribadah sehingga guru melakukan pendekatan dengan memberi teguran halus, sebagaimana yang disampaikan oleh guru SDIT Al Aqsha bahwa, “kami memberikan teguran halus kepada anak-anak yang tidak segera melaksanakan ibadah dan tidak mematuhi tata tertib, mengingatkan dan menyuruh mereka untuk bergegas agar mereka terbiasa dan mempraktikannya di rumah.”105
3) Pengembangan Aspek Emosional
Terdapat beberapa langkah yang ditempuh oleh SDIT Al Aqsha dalam mengembangkan aspek emosional peserta didik untuk mencapai salah satu karakter dalam tujuan pendidikan sekolah yaitu membina peserta didik menjadi pribadi yang matang, tujuan pendidikan sekolah selengkapnya peneliti paparkan pada lampiran.
104 Wawancara dengan Rizky, 15 April 2017, Pukul 09.30-10.00 WIB
SDI Al Aqsha beranggapan bahwa kecerdasan emosional penting untuk ditanamkan sejak dini sebagai pondasi dasar dalam kehidupan seseorang di masa depan. Sebagaimana penjelasan kepala sekolah,
Sekolah kami tidak hanya mementingkan aspek intelektual dan spiritual saja meskipun sudah jelas itu juga menjadi tujuan pendidikan di sekolah kami membina siswa menjadi cerdas pengetahuan dan berjiwa Qurani. Tetapi untuk menciptakan pribadi yang matang dan mandiri, kami juga mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Dengan harapan hasil dari pengembangan kecerdasan emosional selama sekolah di sini menjadi landasan dalam kehidupan mereka nantinya.106
Langkah yang dilakukan SDIT Al Aqsha dalam mengembangkan aspek emosional peserta didik bertujuan untuk menjadikan mereka pribadi yang matang. Salah satu diantaranya yaitu dengan cara mengajarkan pada mereka untuk bisa menempatkan diri dimanapun mereka berada dan memahami emosi diri serta orang lain.
Hasil observasi mengungkapkan bahwa guru selalu mengingatkan peserta didik untuk berperilaku sopan dan santun kepada orang lain terutama orang yang lebih tua. Menanamkan sikap rendah hati kepada mereka agar mereka tidak menjadi pribadi yang merasa paling tahu, paling benar dan paling hebat.107
106
Wawancara dengan Edi Supriyoko, 15 April 2017, Pukul 07.00-08.30 WIB
Upaya lain yang dilakukan SDIT Al Aqsha adalah mengajarkan peserta didik untuk memikirikan segala sesuatu sebelum mereka bertindak dan berbicara. Hal ini diharapkan agar peserta didik tidak melakukan hal yang kurang baik dan berdampak bagi dirinya sendiri maupun orang lain.108
Selanjutnya peneliti melihat cara guru mendidik peserta didik dengan penuh kasih sayang. Hal yang menarik pada pada lembaga sekolah ini setiap peserta didik yang melakukan kesalahan tidak lantas diberikan hukuman. Namun guru hanya menegur dengan halus bahkan memberikan solusi dan bantuan dari masalah yang mereka hadapi, hal ini bukan berarti memanjakan peserta didik sebagaimana yang disampaikan oleh guru kelas,
Mungkin kita sering menganggap anak-anak sebatas anak-kecil yang entah bagaimana kadang kita meremehkan mereka. Tetapi meskipun mereka masih anak-anak, otak mereka akan merekam semua yang dilihat dan didengar di lingkungan sekitar mereka. Nah, karena mereka lebih lama menghabiskan waktu di lingkungan sekolah sebisa mungkin kami menciptakan lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik Insyaallah akan berpengaruh pada siswa. Kelembutan dan kasih sayang bapak ibu kepada anak-anak tidak diartikan memanjakan mereka melainkan kami percaya dengan melakukan pendekatan penuh kelembutan hati kepada siswa akan menciptakan hati yang lembut juga pada diri mereka. Selain itu mereka akan lebih merasa nyaman di sekolah.109
108 Wawancara dengan Edi Supriyoko, 15 April 2017, Pukul 07.00-08.30 WIB
Gambar 4.16 Guru Mengingatkan Siswa untuk Tertib Antri110
Hasil dokumentasi di atas guru sedang mengingatkan peserta didik untuk tidak berebutan dalam mendapatkan makan siang dengan memberikan solusi untuk tertib antri dan bersabar. Dengan mengajarkan hal tersebut kepada peserta didik diharapkan peserta didik mampu bertransformasi menjadi pribadi yang lebih sabar dan bermanfaat dalam kehidupan mereka sekarang maupun mendatang.
Langkah lain yang dilakukan SDIT Al Aqsha adalah menanamkan empati kepada peserta didik. Langkah ini ditempuh dengan cara mengajak peserta didik untuk lebih peka terhadap lingkungan dan perasaan orang lain. Guru mengajarkan kepada peserta didik untuk saling menghargai sesama, mencintai lingkungan, saling tolong menolong dan merasakan kesedihan orang lain.
110
Kegiatan yang dilakukan untuk menumbuhkan empati kepada peserta didik adalah melaksanakan kegiatan bakti sosial dan go green. Hal ini disampaikan oleh kepala sekolah bahwa “bakti sosial dan bersih lingkungan kami adakan 3 bulan sekali untuk mengajarkan siswa berbagi dan peduli terhadap lingkungan sekitar”.111 Pengembangan aspek emosional sejalan dengan pendidikan holistik yaitu memungkinkan pendidik berpartisipasi dalam masyarakat.
Kendala yang dihadapi guru dalam mengembangkan aspek emosional pada peserta didik adalah diperlukannya kesabaran ekstra tinggi. Ketika guru menemukan peserta didik bertengkar, dan suka mengganggu temannya, guru menegur, memperingatkan untuk tidak melakukannya lagi dan saling meminta maaf. Selain itu guru akan mencatat nama peserta didik yang mengganggu selama proses pelajar, langkah ini dilakukan guru sebagai bentuk peringatan agar peserta didik tidak melakukan kesalahan. Sebagaimana yang disampaikan guru kelas, “biasa mbak masih anak-anak, pasti ada saja masalah. Tapi bagaimana kita menyikapinya saja. Biasanya kami berikan teguran dan peringatan anak-anak sudah bisa dikendalikan.”112
111 Wawancara dengan Edi Supriyoko, 15 April 2017, Pukul 07.00-08.30 WIB
4) Pengembangan Aspek Sosial
Kegiatan di SDIT Al Aqsha untuk mengembangkan aspek sosial salah satunya ialah mewajibkan seluruh peserta didik untuk mengikuti ekstrakurikuler. Lembaga sekolah ini memiliki beberapa ekstrakurikuler yang dapat dimanfaatkan