• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Paparan Hasil Implementasi Produk pada Sampel Terbatas

Implementasi perangkat pembelajaran dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan mulai pada tanggal 16-19 April 2012 di kelas IVB SDK Kalasan. Subyeknya adalah siswa dan guru kelas IVB. Siswa kelas IVB SDK Kalasan berjumlah 36 siswa yang terdiri dari 21 siswa dan 25 siswi.

Materi mencakup dua KD dari SK memahami sifat bangun ruang sederhana dan hubungan antar bangun datar. KD yang diteliti yaitu menentukan sifat-sifat bangun ruang sederhana dan menentukan jaring-jaring balok dan kubus. Pertemuan pertama membahas mengenai KD satu yaitu menentukan sifat-sifat bangun ruang (RPP 1 dan 2). Pertemuan kedua dan ketiga membahas mengenai KD dua yaitu menentukan jaring-jaring balok dan kubus (RPP 4 dan 5). Pertemuan keempat dilakukan evaluasi untuk mengetahui hasil belajar siswa.

Peneliti mengamati seluruh proses pembelajaran, selain itu peneliti juga merekam hasil pembelajaran. Hasil rekaman tersebut digunakan sebagai bahan pembahasan dan bukti implementasi. Pembelajaran yang dilakukan menggunakan pendekatan PMRI, sehingga peneliti mengamati karakteristik PMRI yang muncul. Karakteristik yang diamati yaitu penggunaan konteks, penggunaan model, penggunaan kontribusi siswa, penggunaan interaktivitas, dan pemanfaatan keterkaitan (intertwining) dalam pembelajaran. Peneliti lebih memfokuskan pada

42 penggunaan kontribusi siswa dalam pembelajaran. Peneliti juga menggunakan lembar observasi penggunaan kontribusi siswa untuk membantu penelitian.

2. Hasil Implementasi dan Pembahasan

Sub bab ini akan membahas mengenai hasil implementasi pada setiap karakteristik pendekatan PMRI pada materi bangun ruang di kelas IVB SDK Kalasan. Pembahasan akan lebih ditekankan pada penggunaan kontribusi siswa dalam pembelajaran. Berikut juga dibahas mengenai hasil implementasi perangkat pembelajaran. Beberapa tranksrip menunjukkan kegiatan di dalam kelas dengan keterangan :

G = Guru Sn = Siswa ke-n SS = Semua Siswa BS = Beberapa Siswa SL = Siswa Lain

a. Gambaran Umum Karakteristik PMRI

Sesuai dengan kajian teori, karakteristik PMRI terdiri dari penggunaan konteks, penggunaan model dalam pembelajaran, penggunaan kontribusi siswa, interaktivitas, dan intertwining dalam pembelajaran. Seluruh karakteristik tersebut tercakup dalam seluruh pertemuan yang disusun dalam desain RPP.

Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai awal pembelajaran matematika. Masalah kontekstual yang digunakan di kelas IVB SDK Kalasan yaitu menggunakan cerita. Cerita yang digunakan adalah

43 cerita Paijo dan Kotak Ajaib di mana dalam cerita tersebut menggunakan berbagai bangun ruang yang dekat dengan siswa seperti kotak sabun, kotak pasta gigi, parfum, dll. Benda-benda tersebut berfungsi sebagai media pembelajaran.

Cerita yang disampaikan oleh guru bertujuan untuk membantu siswa memahami materi yang akan dipelajari. Kisah Paijo dan Kotak Ajaib menceritakan mengenai kotak yang terdiri dari beberapa benda yang ada di sekitar siswa. Benda-benda dalam cerita tersebut membantu siswa membayangkan bangun ruang balok dan kubus yang akan dipelajari. Benda-benda tersebut juga membantu siswa dalam memahami bentuk balok dan kubus.

Gambar 4.1 Media pembelajaran

Sebelum memulai pembelajaran, guru menggali terlebih dahulu pengetahuan yang dimiliki oleh siswa. Hal tersebut dimaksudkan agar siswa lebih mudah memahami materi yang akan disampaikan oleh guru. Mengaitkan masalah sehari-hari dengan materi matematika juga merupakan penggunaan kontekstual. Penggunaan kontekstual terlihat seperti pada transkrip I berikut ini,

44 20.G : Coba perhatikan di sekitar kita.

21.G : Sekarang sebutkan barang-barang yang ada di ruangan ini Surya! 22.S20 : Almari.

23.G : Ya, lemari. Kalo almari itu bahasa jawa. Yovan apa lagi Yovan? 24.S25 diam saja.

25.G : Ada yang bisa membantu Yovan? 26.S33 : Papan tulis.

27.G : Ada Lagi? Bulan. 28.S26 : Rak buku.

Transkrip di atas menunjukkan bahwa guru menggunakan konteks dalam menyampaikan materi pembelajaran. Konteks yang digunakan oleh guru merupakan benda-benda yang ada di lingkungan siswa. Benda-benda tersebut membantu siswa memahami balok dan kubus secara langsung.

Penggunaan konteks berhubungan dengan penggunaan model dalam pembelajaran. Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan dari pengetahuan matematika tingkat nyata menuju tingkat formal. Penggunaan model dalam pembelajaran matematika dimaksudkan agar siswa mampu memahami konsepnya secara mendalam. Siswa tidak langsung berhadapan dengan kalimat matematika, namun siswa memahami konsep dengan model nyata yang ada di sekitarnya.

45 Masalah kontekstual dan media dapat membantu siswa dalam menemukan konsepnya. Siswa menggambar jaring-jaring balok sesuai dengan pemecahan masalahnya sendiri. Hal tersebut selain membantu siswa dalam mengembangkan perannya dalam belajar, juga membantu siswa menemukan konsepnya. Strategi yang dikemukakan oleh siswa merupakan strategi informal yang dapat dimiliki oleh setiap siswa sesuai dengan kreativitasnya.

Gambar 4.3 Siswa tidak terpaku pada pemecahan masalah dari guru

Gambar di atas menunjukkan strategi siswa dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Beberapa siswa sudah mulai menunjukkan strateginya dalam memecahkan masalah yang diberikan oleh guru. Siswa tidak lagi berpatokan dengan strategi yang diberikan oleh guru.

Menggambarkan bangun ruang tiga dimensi menjadi dua dimensi juga merupakan pemodelan dalam memecahkan masalah. Guru membantu siswa dengan menggunakan gambar. Berdasarkan catatan lapangan, guru membantu siswa dalam menggunakan media yang ada. Guru memperlihatkan rangka kubus ketika akan menggambarkan kubus tiga

46 dimensi menjadi dua dimensi. Namun, guru hanya mengajarkan pada siswa yang duduk di barisan depan. Hal tersebut dikarenakan lokasi yang kurang mendukung guru untuk berjalan-jalan ke kelas bagian belakang. Oleh karena itu, beberapa siswa yang duduk di bagian belakang sulit menggambar dengan benar.

Penggunaan model juga dapat terlihat ketika guru menggunakan analogi dalam pembelajaran. Tetapi, peneliti belum melihat penggunaan analogi tersebut. Guru hanya menyampaikan materi secara langsung atau dengan masalah kontekstual. Kemungkinan hal tersebut dikarenakan siswa yang belum terbiasa menggunakan analogi dalam pembelajaran, sehingga ditakutkan siswa tidak memahami apa yang disampaikan oleh guru.

Dalam pembelajaran, siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah. Kebebasan yang dimiliki oleh siswa merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perannya dalam pembelajaran. Peran atau kontribusi siswa dapat meningkatkan pengembangan konsep yang dimilikinya. Kontribusi siswa dapat terlihat dari antusiasmenya dalam mengikuti pembelajaran. Siswa antusias ketika akan mempelajari materi baru mengenai bangun ruang. Karena menurut beberapa siswa bangun ruang merupakan materi yang menyenangkan dan mudah dipahami.

Pemberian kesempatan oleh guru merupakan salah satu cara bagi siswa dalam mengembangkan kemampuannya. ‘Apakah ada pertanyaan?’, ‘apakah ada yang masih bingung dan belum mengerti?’ merupakan salah satu

47 kesempatan yang diberikan oleh guru pada siswa. Namun, sangat sedikit siswa yang memberikan umpan balik pada guru berupa pertanyaan. Siswa hanya diam dan mengangguk. Hal tersebut dikarenakan siswa malu untuk bertanya, selain itu siswa juga jarang membiasakan untuk bertanya pada guru jika ada yang belum dipahami.

Pengajuan pertanyaan oleh siswa juga mendukung siswa membangun sendiri konsepnya mengenai materi yang sedang dipelajari. Kebebasan bertanya jarang sekali dimanfaatkan dengan baik oleh siswa. Hal tersebut berdampak ketika evaluasi dilakukan, beberapa siswa mendapat nilai yang kurang memuaskan karena kurangnya keberanian untuk bertanya pada guru.

Pemberian komentar terhadap hasil pekerjaan temannya juga merupakan salah satu contoh peran siswa dalam pembelajaran. Pemberian komentar terlihat ketika siswa melakukan diskusi dalam memecahkan masalah. Siswa saling bertanya dan bertukar pikiran dalam kelompok. Siswa terlihat lebih santai ketika berdiskusi dalam kelompok, karena siswa tidak takut merasa salah jika dirinya mengalami kekeliruan.

Proses belajar seorang siswa tidak hanya merupakan suatu proses mandiri tetapi juga merupakan proses sosial yang berjalan secara bersama-sama. Interaktivitas merupakan kegiatan proses sosial yang terjadi diantara siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Secara umum interaktivitas ini dibagi menjadi dua, yaitu interaktivitas guru dengan siswa, dan interaktivitas siswa dengan siswa.

48 Interaktivitas guru dengan siswa terlihat pada pembentukan norma yang disepakati bersama antara guru dan siswa. Pembentukan norma tersebut membantu dalam kelancaran siswa dalam belajar. Kegiatan pembentukan norma tersebut terdapat pada pertemuan pertama, di mana guru menyampaikan peraturan yang harus dipatuhi siswa selama pembelajaran. Pertemuan selanjutnya siswa tidak lagi diingatkan mengenai peraturan karena siswa sudah mulai membiasakannya.

Kegiatan tanya jawab selama pembelajaran berlangsung dapat membangun komunikasi yang baik antara guru dan siswa maupun siswa dan siswa. Kegiatan tanya jawab ini terjadi baik ketika guru memberikan pengantar maupun ketika siswa melakukan diskusi kelompok. Berikut transkrip I ketika guru melakukan demonstrasi dengan menggunakan media pembelajaran.

39.G : Ini juga kotak [G menunjukkan kardus handphone] kemudian ini juga kotak [G menunjukkan rubik mainan]. Tetapi kotak di tangan kiri saya dan kotak di tangan kanan saya berdeda. Dalam bangun ruang bentuk kotak ini disebut [G menunjukkan benda di tangan kanan]?

40.S8 : Balok.

41.G : Sebelah kiri saya bentuknya? [menunjukkan benda di tangan kiri] 42.S28 : Kubus.

43.G : Jadi dalam bangun ruang dalam matematika kotak itu ada dua yang berbentuk kubus dan berbentuk balok.

Berdasarkan transkrip di atas, guru mendemonstrasikan bangun ruang menggunakan benda nyata. Demonstrasi guru tersebut membantu siswa dalam memahami bentuk bangun ruang dan macam-macam bangun ruang yang berbentuk kotak. Guru juga membantu siswa dalam memahami sifat-sifat balok dan kubus dengan bantuan media pembelajaran yang dibawanya.

49 Interaktivitas siswa dengan siswa dapat terlihat dari kerja sama yang dilakukan selama proses diskusi. Tanya jawab mengenai masalah, cara pemecahan masalah yang harus dipilih oleh siswa didiskusikan bersama-sama dalam kelompok. Pertanyaan juga seringkali muncul dalam diskusi yang dilakukan oleh siswa. Hasil diskusi tersebut yang kemudian disimpan oleh siswa sebagai konsepnya.

Gambar 4.4 Interaktivitas siswa dalam kelompok

Karakteristik lain yang muncul dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu intertwining (keterkaitan). Keterkaitan tersebut terdiri dari kaitannya dengan materi lain dalam pembelajaran matematika dan materi dari mata pelajaran selain matematika. Keterkaitan dengan materi dalam pembelajaran matematika terlihat ketika siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai bentuk sisi bangun ruang. Berikut transkrip I kegiatan intertwining dalam pembelajaran.

33.G : Ada almari, ada kotak besar di meja saya itu kotak emas, kemudian ada rak buku. Nah barang-barang yang saya tunjuk barusan itu bentuknya apa?

34.S15 : Persegi panjang.

50 36.S9 : Bangun ruang.

37.S20 : Lingkaran.

38.G : Ya, semua jawaban itu tidak salah. Benda-benda yang saya tunjuk tadi ada almari, rak buku, papan tulis. Kalo anak kecil biasanya mengatakan itu bentuknya kotak, tapi bentuk kotak, kalian sudah kelas IV bisa dibedakan beberapa bentuk.

Berdasarkan transkrip tersebut menunjukkan secara tidak langsung siswa mengaitkan materi bangun ruang dengan bangun datar. Siswa menyebutkan macam-macam bangun datar sebagai pengantarnya pada balok dan kubus. Pengaitan tersebut dapat membantu siswa mengingat kembali bentuk bangun datar sebagai jembatan dalam mengetahui bentuk sisi bangun ruang.

Pengaitan materi pada mata pelajaran dapat terlihat ketika siswa menggambar balok dan kubus pada LKS. Secara tidak langsung siswa mengaitkan dengan mata pelajaran menggambar pada Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Selain menggambar siswa juga menggunakan balok dan kubus yang telah disusunnya untuk membuat miniatur bangunan yaitu jembatan dan menara.

51 Berdasarkan hasil implementasi, kelima karakteristik dalam pendekatan PMRI sudah muncul dalam perangkat yang disusun meskipun belum maksimal. Pendekatan PMRI merupakan hal yang baru bagi siswa kelas IVB SDK Kalasan, sehingga siswa masih belum terbiasa dengan pembelajaran seperti itu. Implementasi perangkat yang disusun oleh peneliti sudah dapat dipahami oleh guru yang bersangkutan. Berdasarkan hasil implementasi yang telah dilakukan, perangkat yang telah disusun oleh peneliti perlu direvisi pada beberapa bagian sebelum diproduksi dan disebarkan secara masal.

b. Penggunaan Kontribusi Siswa dalam Pembelajaran

Karakteristik yang diteliti oleh peneliti adalah penggunaan kontribusi siswa dalam pembelajaran, yaitu bagaimana siswa berperan dalam proses belajar yang dilakukannya. Penggunaan kontribusi ini terlihat dalam setiap pertemuan pembelajaran. Kontribusi siswa menjadi penting karena pemeran utama dalam proses belajar adalah siswa. Siswa yang akan menyimpan dan menggunakan hasil pembelajaran yang telah dilakukannya.

Kontribusi siswa dalam pembelajaran dapat terlihat dari beberapa aspek. Aspek kontribusi siswa yang mendukung dalam pembelajaran yaitu : 1) Pengungkapan berbagai strategi yang digunakan dalam pemecahan

masalah

Pendekatan PMRI merupakan pendekatan yang membantu siswa membangun sendiri konsepnya dengan bantuan media dan masalah yang masih terkait dengan dunianya. Pendekatan ini mengharapkan siswa

52 menemukan sendiri konsepnya berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.

Kebebasan berpikir siswa terlihat pada kemampuan dalam memecahkan masalah. Munculnya berbagai strategi pemecahan masalah merupakan hasil eksplorasi dari siswa itu sendiri. Dibuktikan ketika siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai bentuk sebuah benda, seperti pada transkrip I berikut ini:

33. G : Ada almari, ada kotak besar di meja saya itu kotak emas, kemudian ada rak buku. Nah barang-barang yang saya tunjuk barusan itu bentuknya apa?

34. S15 : Persegi panjang.

35. G : Bentuknya persegi panjang Ya. Ada pendapat lain? 36. S9 : Bangun ruang.

37. S20 : Lingkaran.

Strategi yang diungkapkan oleh siswa tersebut merupakan hasil eksplorasinya terhadap pengetahuan awalnya. Berbagai strategi tersebut dapat membantu siswa membangun konsep pengetahuan selanjutnya mengenai materi bangun ruang.

Munculnya berbagai strategi dalam memecahkan masalah juga terlihat ketika siswa berdiskusi mengenai sifat-sifat balok dan kubus. Berdasarkan catatan lapangan, siswa berdiskusi dalam kelompoknya mengenai sifat balok. Siswa juga mendiskusikan perbedaan antara balok dan kubus. Ada siswa yang mengatakan bahwa perbedaan kubus dan balok adalah bentuk sisinya. Berdasarkan diskusi tersebut dapat diketahui bahwa siswa mulai memahami balok dan kubus. Bantuan dari teman kelompok juga membantu siswa membangun konsepnya.

53 Berbagai strategi juga muncul ketika siswa mempelajari jaring-jaring kubus (transkrip II no 19-22). Beberapa kelompok menggunakan jaring-jaring yang diperoleh dari guru untuk digambar ulang, namun ada juga kelompok yang menggambar sendiri sesuai keinginannya (transkrip II no 23 dan transkrip III no 15).

Pengungkapan strategi tidak muncul dari seluruh siswa. Hal tersebut terlihat ketika dalam diskusi kelompok, ada beberapa siswa yang hanya diam dan tidak mengemukakan pendapatnya. Ada pula siswa yang mengobrol dan bercanda ketika teman lain melakukan identifikasi dan diskusi.

Diskusi kelompok merupakan kegiatan yang disukai oleh siswa. Siswa dapat bertukarpikiran dengan teman dalam kelompoknya. Berikut transkrip II mengenai diskusi siswa dalam pembelajaran.

19. [G mengajak SS melihat LKS dan memahaminya. G membimbing S mengerjakan LKS yang bersama-sama. G memperbolehkan S untuk saling berdiskusi.]

20. S2 : Jaring-jaring itu apa? [Diskusi yang dilakukan oleh S dalam kelompok]

21. S3 : Jaring-jaring itu tadi gabungan dari … apa ya? 22. S4 : Gabungan dari beberapa bangun.

23. S3 : Ya, gabungan dari beberapa bangun datar.

Diskusi dalam penelitian ini membuat siswa bekerja sama dan memikirkan penyelesaian masalahnya secara bersama-sama. Siswa saling bertanya dan mengemukakan pendapatnya dalam kelompok. Siswa juga dapat menyanggah pendapat dari teman sekelompoknya. Hal ini bertujuan untuk memaksimalkan kontribusi siswa dalam pembelajaran.

54 Pengembangan perangkat yang dilakukan oleh peneliti menggunakan metode diskusi dalam kegiatannya. Siswa membutuhkan waktu yang lama dalam memecahkan masalah ketika berdiskusi. Oleh karena itu, waktu yang disediakan dalam pembelajaran mencukupi bagi siswa. Waktu yang disediakan dalam memecahkan masalah lebih dari 30 menit, sehingga siswa dapat dengan bebas mengemukakan strateginya (transkrip I no 103, transkrip II no 15, dan transkrip III no 15).

Kontribusi siswa dalam mengungkapkan strateginya ketika memecahkan masalah sudah terlihat, meskipun belum seluruh siswa memaksimalkan kontribusinya dalam pembelajaran. Beberapa siswa masih malu dan belum terbiasa untuk mengemukakan pendapat dan idenya. Sehingga diperlukan tindak lanjut dari guru untuk tetap memotivasi siswa dalam mengembangkan kontribusinya dalam pembelajaran.

2) Pemberian tanggapan terhadap strategi yang digunakan

Dalam kelompok, siswa dapat bekerja sama menggunakan media yang tersedia. Siswa juga dapat bertanya dan mengemukakan pendapatnya. Komentar dan saran dari siswa lain bisa membantu siswa dalam menemukan konsepnya. Siswa biasanya melakukan tanya jawab jika mengalami kesulitan dalam membangun konsepnya.

Sanggahan dari teman kelompoknya juga membantu siswa mengkontruksi konsepnya. Beberapa siswa tetap pada pendapatnya sampai guru menyampaikan konsep yang tepat. Kegiatan tersebut

55 membantu siswa mengembangkan aspek kognitif dan afektifnya. Siswa dapat belajar mendengarkan dan menghargai pendapat temannya.

Berikut transkrip I mengenai pemberian komentar oleh teman sekelompoknya.

67. S21 : Sebuah bangun ruang yang dibatasi oleh enam buah persegi panjang yang saling sejajar atau berhadapan dan berukuran sama. 68. G : Apa itu? 69. S21 : Balok. 70. G : Apa? 71. S25 : Kubus. Ngawur. 72. S21 : Kubus. 73. G : Ya, kubus.

Selain dalam diskusi kelompok, pemberian komentar dan saran dapat pula dilakukan oleh siswa dari kelompok lainnya. Masing-masing kelompok dapat menyampaikan strateginya pada kelompok lain. Hal tersebut terlihat ketika siswa mempresentasikan hasil diskusinya. Berikut transkrip II mengenai pemberian komentar terhadap kelompok lain.

24. G : Ini adalah salah satu jaring-jaring kubus dari kelompoknya Raka. [G menunjukkan jaring-jaring kelompok Raka] Kelompoknya siapa yang jaring-jaringnya sama seperti kelompok Raka?

25. S6 : Beda Bu.

26. G : Coba punyanya Rachel. Bawa ke depan tunjukkan pada teman-temanmu.

27. G : Coba angkat ke atas.

28. S7 : Beda Bu. [Menunjukkan jaring-jaring yang telah dibuatnya] 29. G : Coba kelompoknya Dimas.

30. S8 : Ini Bu. [Menunjukkan jaring-jaring yang telah dibuatnya] 31. S9 : Sama Bu dengan ini. [Menunjukkan jaring-jaring yang telah

dibuatnya]

Pemberian komentar tersebut membantu siswa belajar menghargai pendapat dari kelompok lain. Selain itu pemberian komentar juga membantu siswa dalam menguatkan konsep yang telah dimilikinya.

56 Penyampaian komentar terhadap kelompok lain juga dapat dilihat pada transkrip I no 119-122 dan transkrip II no 21-27.

Kesimpulan dalam pembelajaran dapat membantu siswa meyakinkan konsep pembelajaran yang dimilikinya. Sebaiknya kesimpulan dilakukan bersama-sama oleh siswa dan guru. Guru membantu siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada kesimpulan yang kemudian diungkapkan oleh siswa, seperti pada transkrip I berikut ini :

67. G : Jadi bangun ruang adalah? Siapa yang bisa membantu saya menyimpulkan?

68. S23 : Benda yang mempunyai ruang didalamnya.

69. G : Benda yang mempunyai ruang di dalamnya. Masih ada kelanjutannya. Khusus untuk kubus dan balok. Bangun ruang kubus dan balok? Siapa bisa melanjutkan?

70. S21 : Sebuah bangun ruang yang dibatasi oleh enam buah persegi panjang yang saling sejajar atau berhadapan dan berukuran sama. Penarikan kesimpulan seringkali dilakukan oleh guru pada proses dan akhir pembelajaran. Hal tersebut dimaksudkan agar siswa lebih memahami konsep pembelajaran. Penarikan kesimpulan oleh siswa dengan bantuan guru juga dapat dilihat pada transkrip II no 42-48 dan transkrip III no 31-39.

Pemberian tanggapan terhadap strategi yang dikemukakan oleh siswa masih sedikit dilakukan. Banyak siswa yang masih malu dalam menyampaikan pendapatnya. Biasanya siswa lebih mudah menyampaikan pendapatnya pada diskusi kelompok kecil daripada kelompok besar. Oleh karena itu guru sebaiknya lebih sering membiasakan siswa dalam berpendapat dan menyampaikan pendapatnya terhadap hasil pekerjaan

57 teman lain. Hal tersebut membantu siswa mengembangkan kemampuan kognitif dan psikomotoriknya dalam menghargai pendapat teman lain. 3) Pemberian motivasi oleh guru pada siswa

Pemberian motivasi oleh guru dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir lebih dalam. Pertanyaan yang diberikan oleh guru mengharapkan agar siswa kemudian berpikir dan mengajukan pertanyaan dalam membangun konsepnya. Namun, sangat sedikit siswa yang memanfaatkan motivasi yang diberikan oleh guru.

Siswa cenderung menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Siswa tidak mengembangkan pertanyaan yang diberikan oleh guru untuk membangun konsepnya. Hal tersebut dikarenakan kebiasaan siswa yang jarang bertanya, sehingga siswa kurang memahami motivasi yang diberikan oleh guru. Hal itu membuat guru juga hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada konsep. Seperti pada transkrip I berikut ini :

38. G : Ya, semua jawaban itu tidak salah. Benda-benda yang saya tunjuk tadi ada almari, rak buku, papan tulis. Kalo anak kecil biasanya mengatakan itu bentuknya kotak, tapi bentuk kotak, kalian sudah kelas IVBisa dibedakan beberapa bentuk.

39. G : Ini juga kotak [G menunjukkan kardus handphone] kemudian ini juga kotak [G menunjukkan rubik mainan]. Tetapi kotak di tangan kiri saya dan kotak di tangan kanan saya berdeda. Dalam bangun ruang bentuk kotak ini disebut [G menunjukkan benda di tangan kanan]?

Pemberian motivasi oleh guru juga terlihat pada hampir seluruh kegiatan pembelajaran. Motivasi yang kurang digunakan dengan baik oleh siswa membuat siswa hanya tahu dan hafal terhadap materi

58 pembelajaran. Mengakibatkan kurang baiknya nilai yang diperoleh siswa ketika evaluasi dilakukan.

Motivasi yang diberikan sudah baik, namun siswa masih kurang mengetahui dan memanfaatkannya dengan baik. Kebiasaan bertanya masih kurang dikembangkan di kelas IVB, sehingga sebaiknya siswa dan guru lebih mengembangkan kebiasaan bertanya. Hal tersebut dimaksudkan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan dan pengetahuannya dengan maksimal.

4) Pemberian kesempatan oleh guru pada siswa

Proses pembelajaran tidak hanya dilakukan oleh siswa, namun guru juga ikut serta dalam proses pembelajaran. Guru bertugas memfasilitasi siswa ketika membangun konsepnya. Fasilitas yang diberikan oleh guru berupa bimbingan dalam membangun konsep, penyediaan media yang dibutuhkan, atau berupa kesempatan mengembangkan kemampuan siswa.

Pemberian kesempatan ini bisa berupa pertanyaan seperti ‘apakah ada pertanyaan’, ‘apakah masih ada yang bingung, atau pertanyaan sejenis yang membantu siswa mengembangkan perannya dalam pembelajaran. Seperti nampak pada transkrip I berikut ini :

95. G : Sebelum kita mengerjakan LKS, ada yang mau bertanya?

Dokumen terkait