BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
42. Identitas SLB Cendono Kudus
4.4. Paparan Hasil Penelitian
Perilaku anak autis yang muncul pada anak berbeda-beda satu sama lain.
Perilaku ini yang nantinya akan dihilangkan perlahan-lahan agar mereka bisa hidup dengan normal. Kebanyakan anak autis tidak bisa diam atau sering disebut anak yang hiperaktif. Namun ada juga anak autis yang nampak tenang dan selalu gembira, itu tergantung mereka. Jumlah siswa SLB Cendono Kudus terdapat 12 anak autis, diantaranya ada empat anak yang tergolong dalam kategori autis ringan, dan tiga anak yang tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran selama pembelajaran daring. Perilaku ketidakseimbangan mental ini berubah, ada anak yang sering memukul kepala, berteriak, menjauh dari orang lain, berbicara sendiri tanpa arti, menutup telinga, menangis karena alasan yang tidak diketahui, terpental ke mana-mana, dll. masalah dalam kemajuan bahasa. Sebagian besar dari mereka mengalami masalah dalam menyampaikan dan beberapa tidak dapat berbicara.
Dalam perbaikan bahasa, echolalia umumnya muncul, mengulangi kata-kata orang lain atau suara tertentu (Ginanjar, 2008: 24). Karakter adalah pribadi, karakter, etika, atau karakter individu yang terbentuk dari efek samping penyamaran berbagai strategi yang diterima dan mendasari sudut pandang, pemikiran, mentalitas, dan cara bertindak individu tersebut. Etika tersebut terdiri dari berbagai kualitas, etika, dan standar seperti dapat dipercaya, berani bertindak, dapat diandalkan, menghargai orang lain (Kemendiknas 2010 dalam Kurniawan MI, 2015).
Depdiknas 2006:43 dalam Marienzi R, 2012) mengemukakan ketidakseimbangan mental merupakan masalah formatif yang kompleks meliputi korespondensi, kerjasama sosial. Selanjutnya, anak yang tidak seimbang mentalnya adalah anak-anak yang memiliki masalah atau masalah di bidang korespondensi, komunikasi sosial, masalah taktil, contoh bermain, perilaku, dan perasaan.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dalam pelaksanaan penelitian terhadap karakteristik anak autis saat pembelajaran daring. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial M mengatakan bahwa:
1) “M” karakteristik emosional dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu
“anaknya masih dalam masa terapi, soalnya anaknya sangat hiperaktif dan masih belum bisa mengikuti pembelajaran dengan baik. Dulu sebelum daring dia masih suka bermain. Pada saat masih tatap muka sebelum pembelajaran dimulai, dia suka guling-guling di lantai. Guru kelas harus ekstra sabar mengendalikan emosi anak berinisial M, supaya dia mau diajak belajar. Apalagi sekarang pembelajaran daring dia sangat hiperaktif. Makan, nonton TV, dan main hp tidak bisa dikurangi. Saat pembelajaran daring, dia sulit untuk mengikuti pembelajaran karena dia itu suka berteriak-teriak dan suka bicara sendiri”.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial D mengungkapkan:
2) “D” karakteristik emosional dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu
“dia harus unggul dalam tugas online pendidiknya. Anak dengan D dasar juga perlu tenang dan bebas meskipun orang tuanya membantunya. Anak dengan D dasar dapat fokus meskipun kadang-kadang wacananya masih diulang-ulang. Orang tuanya dengan rajin menyambutnya untuk berbicara tentang perawatan dan diet sehingga masih progresif”.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial N mengatakan:
3.) “N” karakteristik emosional dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu
“dalam hal melakukan tugas tersebut masih dibantu oleh ibunya. Pemuda berinisial N suka berbicara sendiri, butuh fokus, dan terkadang lebih suka bernyanyi sendiri. Namun, setiap kali diminta untuk bernyanyi bersama dia tidak mau. Pada saat pembelajaran internet di rumah tidak ada kemajuan.
Kemajuan anak dengan dasar N dapat diterima selama pembelajaran vis-à-vis, ia harus mengikuti dengan baik. Di rumah, dia mendapat kesempatan untuk bermain di ponselnya dan berbicara dengan dirinya sendiri”.
Berdasarkan hasil pengamatan maupun wawancara dengan guru anak berinisial A mengungkapkan:
4.) anak berinisial “A” karakteristik emosional dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu “cenderung rajin mengerjakan soal, tetapi terkadang dia bosan dengan soal yang hanya di foto. Anak berinisial A lebih suka soal yang diberikan oleh guru lewat voice note”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial A mengatakan:
5.) anak berinisial “A” karakteristik emosional dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu “anak berinisial A rajin mengerjakan soal, tetapi terkadang keluar malasnya. Semisal mengerjakan 5 soal, baru 3 soal yang dia kerjakan sudah jenuh ingin nonton TV. Anak berinisial A juga lebih suka soal daring yang diberikan lewat voice note”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial F mengungkapkan:
6.) anak berinisial “F” karakteristik emosional dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu “anak berinisial F perkembangannya menurun mulai daring dari semester akhir kemarin. Jadi, dia lebih suka bermain di banding mengerjakan soal yang diberikan oleh guru”
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial S mengatakan:
7.) anak berinisial “S” karakteristik emosional dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu “anak berinisial S rajin mengerjakan tugas daring setiap ada tugas. Tugas selalu dikerjakan dengan baik dengan bantuan orang tua, kebetulan orang tua anak berinisial S guru. Jadi, emosi anak bisa dikendalikan oleh orang tuanya, sehingga dia mau mengerjakan soal”.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial I mengungkapkan:
mengerjakan tugas daring. Tetapi, dia mengerjakan tugas daring pada hari minggu saja dengan bantuan ibunya. Emosi anak berinisial I sudah bisa dikendalikan oleh ibunya”.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial F mengatakan:
9.) anak berinisial “F” karakteristik emosional dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu “anak berinisial F selalu mengerjakan tugas tepat waktu dengan bantuan ibunya. Ibunya dengan sabar membantu mengerjakan tugas daring yang di kerjakan oleh anak berinisial F, dengan cara membacakan cerita dan membantu dalam belajar. Emosinya sudah baik, namun terkadang muncul suka menyakiti diri sendiri seperti memukul dada, pukul-pukul kepala jika timbul rasa kesal atau bosan, namun bisa dikendalikan oleh ibunya”.
Berkaitan dengan penjelasan dari informan bahwa anak autis memiliki karakteristik yang berbeda antara anak satu dengan anak lainnya. Salah satunya ada siswa yang suka berteriak-teriak, berbicara sendiri, dan ada yang rajin mengerjakan tugas dari gurunya.
Kecerdasan emosi menunjuk kepada suatu kemampuan untuk memahami perasaan diri masing-masing dan perasaan orang lain, kemmapuan untuk memotivasi dirinya sendiri, dan menata dengan baik emosi-emosi yang muncul dala dirinya dan dala berhubungan dengan orang lain. Drs. H. Mustaqim, Kecerdasan emosi mempunyai lima indikator yaitu kesadaran diri (self awareness), pengaturan diri (self regulation), motivasi (motivation), empati (empathy) dan keterampilan sosial (social skill).
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dalam pelaksanaan penelitian terhadap kemampuan emosional anak autis pada saat pembelajaran daring.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial M mengungkapkan bahwa:
1.) Anak berinisial M pada saat pembelajaran daring dia sangat hiperaktif. Sehingga dia sulit untuk mengikuti pembelajaran dengan baik.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial D mengatakan:
2.) Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya. Sehingga dia mau mengerjakan tugas daring dari gurunya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial N mengungkapkan:
3.) Pada saat pembelajaran daring konsentrasinya kurang. Dia suka berbicara sendiri dan terkadang suka nyanyi sendiri.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial A mengatakan:
4.) Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial A mengungkapkan:
5.) Pada saat pembelajaran daring dia lebih suka bermain dibandingkan mengerjakan soal daring dari gurunya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial F mengatakan:
6.) Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial S mengungkapkan:
7.) Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya, sehingga dia mau mengerjakan soal daring dari guru
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial I mengatakan:
8.) Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya, sehingga dia mau mengerjakan soal daring dari guru
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial F mengungkapkan:
Dari beberapa karakteristik dan kemampuan emosional anak autis yang terdapat di SLB Cendono cara mengatasi emosi anak dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu jalan salah satunya dengan cara melakukan video call terhadap anak. Emosi anak muncul pada waktu pembelajaran daring, dikiranya soal yang diberikan itu dari orang tua bukan dari guru. Maka, anak mungkin tidak percaya sehingga emosinya tidak terkontrol karena terbiasa tatap muka. Setelah video call berlangsung, anak akan jadi lebih tenang dan punya rasa semangat untuk mengikuti pembelajaran daring karena sudah bicara langsung antara guru dan orang tua. Guru dan orang tua harus aktif komunikasi apa yang diinginkan anak, untuk bisa nyaman dalam mengikuti pembelajaran daring tersebut.
1. Perencanaan Pembelajaran Daring Selama Pandemi di SLB Cendono Kudus a. Jenis Perencanaan Pembelajaran Daring
Hasil wawancara dengan kepala sekolah bapak Sri Hartono, S.Pd. terkait jenis perencanaan pembelajaran daring selama pandemi di SLB Cendono menyatakan bahwa:
“Kegiatan pembelajaran daring selama pandemi di SLB Cendono diperlukan dengan penyusunan RPP yang di dalamnya membuat unsur- unsur pembelajaran, sehingga sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa yang diampunya”.
Hasil wawancara dengan Bu Arofah Suryani, S.Pd selaku guru kelas 1, 2, 5, dan 6 menyatakan bahwa:
“Jenis perencanaan yang dibuat oleh guru tidak berbeda dengan pembelajaran tatap muka yang sudah-sudah, guru tetap membuat dokumen pembelajaran seperti RPP untuk dapat merencanakan pembelajaran secara lebih terprogram dan terstruktur”.
Hasil wawancara dengan Bu Ayu Primadani, S.Pd selaku guru kelas 3 dan 4 menyatakan bahwa:
“Jenis perencanaan yang dibuat oleh guru tidak berbeda dengan pembelajaran tatap muka yang sudah-sudah, guru tetap membuat dokumen pembelajaran seperti RPP. Pada saat pembelajaran daring guru dan orang tua ada kesinambungan. Untuk pembelajaran, guru memberikan tugas dipagi hari dan anak menyesuaikan orang tua karena anak belajar harus didampingi orang tua. Waktu pengerjaan pembelajaran saja ada yang malam hari karena guru juga harus memperhatikan latar belakang pekerjaan orang tua”.
2. Pelaksanaan Pembelajaran Daring Selama Pandemi di SLB Cendono Kudus Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di SLB Cendono Kudus data mengenai pelaksanaan pembelajaran daring selama pandemi terdiri dari
kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.
Hasil wawancara dengan bapak Sri Hartono, S.Pd selaku kepala sekolah SLB Cendono Kudus menyatakan bahwa:
“Selama ini tidak banyak keluhan, di SLB Cendono untuk pemberian materi disesuaiakan dengan kemampuan masing-masing siswa. Pada umumnya siswa autis di SLB Cendono memiliki perbedaan antara siswa satu dengan siswa yang lain. Kadang-kadang sama-sama kelas dua tetapi tingkat pemikirannya yang berbeda. Siswa satu tidak bisa berhitung, siswa satunya lagi bisa”.
Hasil wawancara dengan Bu Arofah Suryani, S.Pd selaku guru autis kelas 1, 2, 5, dan 6 menyatakan bahwa:
“Kegiatan pembelajaran diawali dengan kegiatan doa, mengecek kehadiran, mengulang materi yang dibahas pada pertememuan sebelumnya, serta menyampaikan tujuan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran melalui pesan WAG (WhatsApp Group) / video call terhadap anak. Guru memberikan tugas berupa foto, kemudian anak mengerjakan tugas sesuai dengan perintah. Setelah anak tersebut selesai mengerjakan tugas, hasil penugasan tersebut di foto. Waktu mengerjakan tugas orang tua diminta untuk memfoto anak saat mengerjakan tugas”.
Hasil wawancara dengan Bu Ayu Primadani, S.Pd selaku guru autis kelas 3, dan 4 menyatakan bahwa:
“Pelaksanaan pembelajaran di SLB Cendono selama pandemi dilakukan secara daring. Meskipun daring, akan tetapi dalam pelaksanaannya tetap membuat pendahuluan, inti, dan penutup seperti pembelajaran biasa hanya saja melalui pesan WAG (WhatsApp Group) / video call. Kegiatan pendahuluan berupa doa lalu absen, kegiatan inti berupa menyampaian materi bisa berupa teks atau gambar, dan penutup dengan cara guru memberikan penugasan untuk mengetahui materi yang didapat apakah sudah paham atau belum”.
3. Evaluasi Pembelajaran Daring Selama Pandemi di SLB Cendono Kudus Berdasarkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi ditemukan data mengenai evaluasi pembelajaran daring selama pandemi di SLB Cendono.
Hasil wawancara dengan bapak Sri Hartono, S.Pd selaku kepala sekolah SLB Cendono Kudus mengatakan bahwa:
“Penilaian pembelajaran daring untuk anak SLB bervariasi artinya evaluasi dilakukan oleh masing-masing guru sesuai dengan kondisi siswa.
Seperti akhir semester, masing-masing dari guru mempunyai teknis sendiri-sendiri”.
Hasil wawancara dengan bu Arofah Suryani, S.Pd selaku guru autis kelas 1 dan 2 menyatakan bahwa:
supaya dapat mengetahui siswa dan untuk mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan yang dicapai anak tersebut”
Hasil wawancara dengan bu Ayu Primadani, S.Pd selaku guru autis kelas 3 dan 4 menyatakan bahwa:
“Evaluasinya per minggunya satu kali setelah menerima tugas, tugasnya berupa memberikan 3 butir soal, berupa isian singkat disertai gambar lewat pesan WhatsApp atau lewat voice note agar anak bisa berinteraksi langsung dengan guru”.
Hasil wawancara dengan bu Arofah Suryani, S.Pd selaku guru autis kelas 5 dan 6 menyatakan bahwa:
“Evaluasinya meliputi tugas harian dengan memberikan 3 soal isian.
Tugas bisa dengan menulis di buku tugas, lalu pekerjaannya di foto setelah itu dikirmkan ke guru lewat pesan chat WhatsApp”.