• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

42. Identitas SLB Cendono Kudus

4.5. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, serta dokumentasi di SLB Cendono. Adapun pembahasan dalam penelitian ini untuk mengetahui karakteristik kemampuan emosional anak autis dalam konsentrasi pembelajaran daring dan perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi pembelajaran daring.

1. Karakteristik kemampuan emosional anak autis dalam konsentrasi pembelajaran daring

Berdasarkan hasil wawancara dan Observasi, hal tersebut dapat dicermati menurut data yang telah diperoleh mengenai karakteristik anak autis dilihat dari sudut emosional yang dimunculkan dari penerimaan saat pelaksanaan pembelajaran daring di SLB Cendono. Dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti ternyata anak berinisial D, A dan I. Menurut klasifikasi SLB Cendono tempat anak berinisial D, A dan I bersekolah, anak berinisial D, A dan I termasuk dalam kebutuhan khusus autis ringan. Hal ini dibuktikan dengan fisik anak berinisial “D, A dan I” yang normal seperti anak normal pada umumnya namun anak tersebut mempunyai kelainan terhadap gangguan komunikasi seperti suka bicara sendiri. Saat berbicara, dia menggunakan bahasa yang stereotip atau berulang-ulang atau bahasa yang aneh. Pada saat pembelajaran daring melalui guru pendamping sistem belajar juga disesuaikan dengan kemampuan emosioanal anak. Jika anak berinisial D ia mau mengerjakan tugas daring dari gurunya dengan baik. Dia juga sudah mau menulis dan sudah bisa mandiri walaupun dibantu

orangtuanya. Anak berinisial D sudah bisa konsentrasi walaupun terkadang bicaranya masih diulang-ulang. Adanya peran orang tuanya yang rajin mengajak ia terapi bicara dan diet makanan sehingga masih bertahap. Banyak orang yang tidak memahami wacana anak-anak yang secara medis introvert ketika disapa. Anak-anak yang secara medis introvert suka berbicara tanpa tujuan yang dilakukan lebih dari sekali dalam bahasa yang tidak dipahami oleh orang lain. Anak muda yang berbicara tidak terbiasa menyampaikan, dan mereka suka bercermin atau beo (Agus Suryana, 2004 dalam Dewi R, Inayatillah, Yullyana R, 2018). Akibatnya, mengelola anak-anak yang tertutup secara medis harus benar-benar gigih.

Anak-anak autis dapat dikenali dari banyak penanda, mengingat kesulitan untuk menyampaikan meskipun komunikasi adalah tindakan manusia yang mendasar. Orang dapat mengidentifikasi satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari yang teratur (Mansyur, 2016). Meskipun demikian, korespondensi dan bahasa anak-anak dengan ketidakseimbangan mental sama sekali berbeda dari kebanyakan anak-anak seusia mereka. Anak-anak dengan autis berpikir bahwa sulit untuk bereaksi karena mereka mengalami masalah dalam mendapatkan ide.

Anak-anak dengan autis juga mengalami masalah dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Sesekali mereka menyampaikan memanfaatkan komunikasi melalui gerak tubuh. Komunikasi melalui penandatanganan digunakan sebagai pengganti atau pelengkap wacana untuk bertindak sebagai ilustrasi menarik tangan atau menunjukkan objek dengan asumsi dia perlu meminta sesuatu, menggerakkan kepalanya sebagai indikasi pengaturan.

Akan tetapi terdapat beberapa kendala pada saat pembelajaran daring secara kemapuan emosional anak autis dalam konsentrasi pembelajaran daring anak berinisial A rajin mengerjakan tugas tetapi terkadang keluar malasnya. Semisal mengerjakan 5 soal, baru 3 soal yang dikerjakan sudah jenuh ingin nonton TV.

Anak berinisial A juga lebih suka soal daring yang diberikan lewat voice note.

Perilaku anak autis berbeda dengan anak normal biasa, karena anak autis merupakan gangguan dimana anak sulit dalam berinteraksi dengan orang lain seperti cenderung melukai diri sendiri seperti memukul dada, sedih, marah, tertawa, melakukan gerakan secara berulang-ulang seperti mengayun tangan.

Sedangkan pola bermain yaitu pada anak berinisial A didapati bahwa sulit

Jika sedang bermain, dia tidak mudah bergabung dengan temannya. Tetapi dia cenderung memilih untuk bermain sendiri. Anak berinisial A hanya mau bermain dengan mainan yang itu-itu saja yaitu seperti bermain puzzle, menggambar atau mewarnai, dan bermain lego. Bermain lego akan mengajarkan anak untuk berkreasi untuk membangun suatu bentuk dan bangunan. Tidak hanya itu, lego juga membantu melatih koordinasi antara mata dan tangan serta meningkatkan daya konsentrasi anak. Pada saat pembelajaran daring kemampuan emosioanal anak autis dalam konsentrasi pembelajaran daring anak berinisial A cenderung rajin mengerjakan soal tetapi terkadang bosan dengan soal yang hanya di foto. Dia lebih suka soal yang diberikan oleh guru lewat voice note. Konsentrasi pada anak-anak dengan ketidakseimbangan mental sangat mempengaruhi sistem pembelajaran. Jika anak mengalami masalah fokus, latihan yang dilakukan tidak sepenuhnya ideal seperti latihan belajar anak. Rokhimah dan Darmawati (2013) mengungkapkan bahwa anak-anak dapat belajar dengan baik jika mereka memiliki kemampuan fokus yang baik, oleh karena itu konsentrasi harus menjadi kecenderungan bagi anak-anak yang secara medis introvert. Hal ini dapat dilihat ketika seorang anak melakukan suatu tugas dengan pertimbangan anak biasanya akan singkat dan langsung sibuk, anak tersebut dapat menyelesaikan gerakan yang telah dimulai namun harus selalu dibantu dengan mengembalikan perhatiannya.

Keuntungan anak-anak dalam memusatkan perhatian atau fiksasi, sehingga kemampuan fokus anak-anak lebih berkembang dan anak-anak dapat menyelesaikan latihan dengan lebih akurat dan dengan hasil yang paling ekstrem.

Di antara latihan yang dapat diterapkan untuk mengembangkan fiksasi anak lebih lanjut adalah latihan bermain. Bermain merupakan suatu tindakan yang menarik dan diselesaikan dengan cara yang menyenangkan, adaptif, dan dinamis sehingga anak-anak dapat tersenyum dan tertawa terbahak-bahak untuk mengikuti latihan bermain mereka (Musfiroh, 2014).

Sedangkan anak berinisial "I" memiliki masalah tingkah laku yang tidak bisa diam dan lebih sering menyendiri. Anak dengan dasar I hiperaktif dan pada umumnya akan memutuskan untuk bermain sendiri. Perilaku ini terlihat ketika dia bermain tidak bisa tenang. Saat bergabung dengan teman-temannya, anak dengan dasar aku akan menangis dan melarikan diri. Karena ketika dia membutuhkan barang temannya namun tidak diberikan, maka pada saat itu dia akan marah dan

menjauhkan diri dari keinginan untuk bermain lagi. Pada jam pembelajaran internet, kemampuan antusias anak-anak autis dalam pengelompokan pembelajaran berbasis web, anak-anak dengan dasar saya hanya melakukan tugas online pada hari Minggu dengan bantuan ibunya. Perasaannya bisa dibatasi oleh ibunya. Sesuai dengan Mansyur (2016) bahwa anak-anak muda yang tidak seimbang secara mental memiliki minat yang terbatas, mereka pada umumnya akan menyukai kondisi rutin dan menentang perubahan alam, kecenderungan mereka dibatasi. Ini berarti bahwa jika mereka menyukai suatu kegiatan, mereka akan terus mengulangi kegiatan tersebut. Jadi cenderung disimpulkan bahwa anak-anak yang tidak seimbang mentalnya menyukai rutinitas yang tidak masuk akal.

2. Langkah- langkah mengetahui kemampuan emosional anak autis dalam konsentrasi pembelajaran daring di SLB Cendono Kudus

Berikut merupakan langkah- langkah dalam pemaparan dari proses pembelajaran daring untuk melihat konsentrasi anak saat pembelajaran daring, melalui :

a. Perencanaan Pembelajaran Daring Selama Pandemi di SLB Cendono Kudus

Membiasakan persiapan yang dilakukan oleh instruktur dapat mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan. Oleh karena itu, pendidik dapat mengembangkan rencana pembelajaran sesuai dengan kemampuan dasar. Jenis pengaturan penjemputan berbasis web selama pandemi di SLB Cendono Kudus, khususnya kelas medis introvert, adalah pengaturan rencana latihan. Syaifurahman dan Ujati (2013:66) yang mengungkapkan bahwa tahap penyusunan adalah memilih teknik pendidikan, menyusun latihan-latihan pembelajaran, dan mengumpulkan materi pembelajaran yang akan disampaikan selama pembelajaran. Sistem persiapan belajar berbasis web dilengkapi dengan semua segmen pembelajaran sehingga tidak hanya menyampaikan materi tetapi pembelajaran memiliki arti penting bagi kehidupan siswa.

Kesiapan rencana pembelajaran berbasis web menjadi kewajiban instruktur ruang belajar. Sedangkan sekolah hanyalah individu yang mengontrol dan memberikan pengaturan program pendidikan yang digunakan dalam

menjadi 3 sudut, yaitu KI 1 dan KI 2 adalah bagian dari sikap, KI 3 adalah bagian dari informasi, dan KI 4 adalah bagian dari kemampuan..

b. Pelaksanaan Pembelajaran Daring Selama Pandemi di SLB Cendono Kudus

Pelaksanaan penjemputan berbasis web selama pandemi mengacu pada rencana yang telah disusun sebelumnya. Pembelajaran berbasis daring diterapkan oleh sekolah dalam latihan pembelajaran selama pandemi dengan membingkai anak mandiri dengan kebutuhan khusus sehingga pembelajaran tidak hanya menulis dan memperhatikan penjelasan dari pendidik tetapi siswa juga memainkan peran yang berfungsi di dalamnya meskipun itu terjadi. di web.

Interaksi pembelajaran berbasis daring akan efektif jika pendidik terus-menerus perlu mengajar dengan sungguh-sungguh dan terus-terus-menerus. Dengan tujuan bahwa ketika seorang pengajar mendidik dengan sungguh-sungguh dan tenang maka pendidik akan memberikan yang terbaik bagi tercapainya sistem pembelajaran. Dalam penelitian di SLB Cendono terdapat anak-anak dengan gangguan mental ringan, gangguan kimia sedang, dan gangguan mental ringan yang masing-masing memiliki kualitas yang berbeda-beda sehingga pemberian instruktur menyesuaikan dengan atribut kebutuhan anak-anak yang autis, meskipun hal itu dilakukan melalui pembelajaran berbasis daring. Instruktur dapat menemukan karakteristik anak-anak dari kemajuan siswa sambil mengambil minat untuk belajar. Strategi yang digunakan dalam pembelajaran adalah sebagai percakapan, inkuiri dan jawaban online. Media yang digunakan adalah gambar, video call, voice note dan aplikasi WAG (WhatsApp Group) sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi yang akan disampaikan oleh pengajar.

c. Evaluasi Pembelajaran Daring Selama Pandemi di SLB Cendono Kudus Setiap kegiatan pembelajaran berakhir guru memberikan evaluasi atas penilaian terhadap hasil belajar yang telah berlangsung.

Penilaian belajar berarti menentukan tingkat keberhasilan pengajar dalam mendidik, menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam menoleransi latihan pembelajaran, dan memutuskan sejauh mana petunjuk dan tujuan pembelajaran

yang tersusun, ulangan harian, dan tugas harian. Instruktur memberikan tiga bagian penilaian dalam penilaian pemahaman, yaitu sudut pandang dunia lain, intelektual, penuh perasaan, dan psikomotorik sesuai dengan center skills yang tertuang dalam RPP 2013. Sudut psikologis adalah efek samping dari tes hari demi hari, tes yang disusun, dan tugas, sedangkan sudut pandang psikomotor adalah konsekuensi dari kemajuan anak-anak selama sistem pembelajaran.

Penilaian pembelajaran berbasis daring di hampir semua kelas adalah sesuatu yang serupa. Penilaian ini mencakup tugas hari demi hari, tes setiap hari, dan tes yang disusun seperti PTS dan PAS. Dalam penilaian tugas sehari-hari, pendidik memberikan 3 pertanyaan berupa bagian pendek yang disertai dengan gambar melalui pesan WhatsApp atau melalui voice note sehingga anak-anak dapat bekerja sama secara langsung dengan instruktur. Sesuai penilaian Arifin (2012:2) yang merekomendasikan bahwa penilaian merupakan salah satu segmen dan tahapan penting yang harus ditempuh oleh pendidik untuk menentukan keinginan hasil belajar siswa.

Wawasan antusias menyinggung kapasitas untuk memahami perasaan sendiri dan sensasi orang lain, kapasitas untuk memacu diri sendiri, dan untuk menangani perasaan yang muncul dalam diri sendiri dan terlibat dengan orang lain. Wawasan antusias memiliki lima petunjuk sebagai berikut:

1. Kesadaran diri (Self awareness): mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memadu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemapuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Kesadaran diri meliputi kemampuan (a) kesadaran emosi yaitu mengenali emosi diri sendiri dan efeknya, (b) penilaian diri secara teliti yaitu mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri, (c) percaya diri yaitu keyakinan tentang harga diri dan kemapuan sendiri.

2. Pengaturan diri (Self Regulation): menangani emosi kita sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikaatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mapu segera pulih kemba;I dari tekanan emosi. Pengaturan diri meliputi kemampuan (a) mengendalikan diri yaitu mengelola emosi dan desakan hati yang merusak, (b) sifat dapat dipercaya yaitu memelihara norma kejujuran dan integritas (c) kehati-hatian

menghadapi perubahan, (e) inovasi yaitu mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi-informasi baru.

3. Motivasi (Motivation): menggunakan hasrat kita yang paling dala untuk menggerakan dan menuntun menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi. Kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan pencapaian sasaran meliputi (a) dorongan prestasi yaitu dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan, (b) komitmen yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga, (c) inisiatif yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan, (d) optimisme yaitu kegigihan dala memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan.

4. Empati (Empathy): merasakan yang dirasakan orang lain, mapu memahai perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan orang lain. Empati merupakan kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain. Kemampuan ini meliputi kemampuan (a) memahami orang lain yaitu mengindera perasaan dan perspektif orang dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka, (b) mengembangkan orang lain yaitu merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemapuan mereka, (c) orientasi pelayanan yaitu kemampuan mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, (d) kesadaran politis yaitu kemampuan membaca arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.

5. Keterampilan sosial (Social skills): menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial. Dala berinteraksi dengan orang lain keterampilan ini dapat dipergunakan untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah, dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerjasama dan bekerja dalam tim. Kepintaran dala menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain me;iputi (a) pengaruh, (b) komunikasi, (c) manajemen konflik, (d) kepemimpinan, (e) katalisator perubahan, (f) membangun hubungan, (g) kolaborasi dan kooperasi.

Hasil dari observasi pada penelitian ini kemampuan emosional anak autis yaitu Anak berinisial M pada saat pembelajaran daring dia sangat hiperaktif.

Sehingga dia sulit untuk mengikuti pembelajaran dengan baik.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial D

mengatakan: Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya. Sehingga dia mau mengerjakan tugas daring dari gurunya.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial N mengungkapkan: Pada saat pembelajaran daring konsentrasinya kurang. Dia suka berbicara sendiri dan terkadang suka nyanyi sendiri.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial A mengatakan: Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial A mengungkapkan: Pada saat pembelajaran daring dia lebih suka bermain dibandingkan mengerjakan soal daring dari gurunya.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial F mengatakan: Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial S mengungkapkan: Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya, sehingga dia mau mengerjakan soal daring dari guru.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial I mengatakan: Pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya, sehingga dia mau mengerjakan soal daring dari guru.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru anak berinisial F mengungkapkan: Emosinya sudah baik, namun terkadang muncul suka menyakiti sendiri.

Dari beberapa karakteristik dan kemapuan emosional anak autis diatas yang terdapat di SLB Cendono cara mengatasi emosi anak dalam konsentrasi pembelajaran daring yaitu jalan salah satunya dengan cara melakukan video call terhadap anak. Emosi anak muncul pada waktu pembelajaran daring, dikiranya soal yang diberikan itu dari orang tua bukan dari guru. Maka, anak mungkin tidak percaya sehingga emosinya tidak terkontrol karena terbiasa tatap muka. Setelah video call berlangsung, anak akan jadi lebih tenang dan punya rasa semangat

anak, untuk bisa nyaman dalam mengikuti pembelajaran daring tersebut.

Demikian pula, guru juga mencari data tentang berapa lama anak hiperaktif muncul dengan memastikan rentang waktu munculnya perilaku hiperaktif. Cara paling umum untuk memberikan hadiah ini dilakukan ketika anak dapat berdiri tanpa terlihat hiperaktif, dan ketika hiperaktif muncul, anak akan diberikan disiplin. Selain itu, pendidik memberikan keterampilan kepada anak-anak agar anak-anak memiliki latihan yang lebih bermanfaat dan tidak bertindak hiperaktif.

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian kualitatif dan pembahasan terhadap penelitian ini dapat disimpulkan bahwa

1. Karakteristik anak autis di lihat dari emosional dalam pembelajaran daring di SLB Cendono Kudus yaitu perilaku anak autis memiliki karakteristik yang berbeda antara anak satu dengan anak lainnya. Salah satunya ada siswa yang suka berteriak-teriak, berbicara sendiri, ada yang rajin mengerjakan tugas dari gurunya, ada yang bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas dan ada yang cepat jenuh atau bosan.

2. Kemampuan emosional anak yang autis dalam fokus pembelajaran daring di SLB Cendono Kudus berdasarkan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran daring didapati hasil bahwa (1) pada saat pembelajaran daring anak sangat hiperaktif, sehingga sulit untuk mengikuti pembelajaran dengan baik. (2) pada saat pembelajaran daring konsentrasinya kurang, suka berbicara sendiri dan terkadang suka menyakiti diri sendiri. (3) pada saat pembelajaran daring lebih suka bermain dibandingkan mengerjakan soal daring dari gurunya.

(4) pada saat pembelajaran daring emosinya sudah bisa dikendalikan oleh orang tuanya, sehingga mau mengerjakan soal daring dari guru. Pengetahuan yang penuh gairah menyinggung kapasitas untuk memahami perasaan sendiri dan sensasi orang lain, kapasitas untuk menginspirasi diri sendiri, dan untuk menangani perasaan yang muncul dalam diri sendiri dan terlibat dengan orang lain. Pengetahuan yang penuh gairah memiliki lima penanda, khususnya perhatian, pedoman diri, inspirasi, kasih sayang, dan kemampuan sosial.

Dalam pembelajaran internet, anak-anak yang secara intelektual tidak setara sangat membutuhkan dukungan dan bantuan dari orang-orang di sekitar mereka.

Untuk itu diperlukan perhatian dan kehangatan dari berbagai instruktur, penjaga, dan anak-anak agar mereka tidak terus menerus terpikat oleh dunianya sendiri.

Persiapan menghadapi pandemi di SLB Cendono Kudus meliputi penyusunan rencana kegiatan sesuai dengan jenis ketidakmampuan. Pelaksanaan praktik

penyampaiannya diubah oleh jenis ketidakmampuan. Penilaian keberanian yang membanjiri kerangka waktu pandemi di SLB Cendono Kudus terdiri dari penilaian ilmiah, achievability, dan psikomotor..

5.2.Saran

Dari hasil penelitian serta penarikan kesimpulan yang telah peneliti buat, maka peneliti membuat catatan beberapa saran yang mungkin dapat dijadikan sebagai pertimbangan, yaitu sebagai berikut:

1. Bagi Guru

Sebaiknya guru kelas membuat semua perencanaan terkait semua mata pelajaran, sehingga guru harus menguasai materi dan bahan ajar. Selain itu, guru harus menyiapkan media pembelajaran yang variatif sehingga siswa tidak merasa bosan dengan pembelajaran daring.

2. Bagi Peneliti

Untuk peneliti selanjutnya dalam meneruskan penelitian ini diharapkan dapat melakukan pengkajian lebih dalam lagi terhadap emosional anak autis dalam konsentrasi pembelajaran daring sehingga penelitian yang dihasilkan lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin Z, Fatonah I, Septiyana L. 2019. Pola Pengembangan Potensi Kecerdasan Emosional Dan Spiritual Anak Penyandang Autisme. AWLADY J Pendidik Anak. 5(2):95. doi:10.24235/awlady.v5i2.4179

Aprilia, D., Suranata, K., & Dharsana, I. K. 2014. Penerapan Konseling Kognitif Dengan Teknik Pembuatan Kontrak (Contingency Contracting) Untuk Meningkatkan Konsentrasi Belajar Siswa Kelas X TKR1 SMK Negeri 3 Singaraja. Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha, 2(1).

Arifin, Zainal. 2012. Evaluasi pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Astuti, A. Y. (2016). Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi Anak Autis di

Sekolah Dasar Luar Biasa Talenta Kids Salatiga Tahun Pelajaran 2015/2016 (Doctoral dissertation, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan).

Banoet, J., Kiling-Bunga, B. N., & Kiling, I. Y. (2016). Karakteristik Prososial Anak Autis Usia Dini di Kupang. Jurnal PG-PAUD Trunojoyo: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini, 3(1), 1-8.

Belia Early Child Educ Pap. 2014;. Perilaku Anak Berkebutuhan Khusus Gangguan Autisme Di SLB Negeri Semarang Tahun 2014. 3(2):72–78.

Bimo, Walgito. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah, YPFP.UGM, Yogyakarta,

Cahyani, A. G., Ismaya, E. A., & Fajrie, N. 2021. Family Parenting in Motivating Children during Online Learning. Jurnal PAJAR (Pendidikan dan Pengajaran), 5(2), 349-362

Cecilia, 2017. Effectiveness of Motor Skills through Traditional Children ’ s Toys in Autistic Children. International Journal of Innovation, Creativity and Change.

www.ijicc.net Volume 14, Issue 3, 2020

Christensen, L., Hutman, T., Rozga, A., Young, G. S., Ozonoff S., Rogers, S. J., Literature Review. Review Journal of Autism and Developmental Disorders, 6(2), 159–171. https://doi.org/10.1007/s40489-019-00161-2

Anak Autis di Kota Banda Aceh. Psikoislamedia J Psikol.;3(2):288–301.

Dewi, R. Inayatillah, and R. Yullyana. 2018. Pengalaman Orangtua dalam Mengasuh Anak Autis di Kota Banda Aceh. Psikoislamedia J. Psikol, 3(2), 288-301 Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif.

Jakarta: PT Rineka Cipta.

Drs. H. Mustaqim, 2012. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar

Dyah Puspito Rini dan Ari Wahyudi. 2018. 1–7. Meningkatkan kemampuan konsentrasi belajarmelalui bermain musik patrol pada anak autis kelas klasikal di sekolah autis harapan bunda surabaya.

Efendi, Mohammad. 2009. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta:

PT. BumiAksara.

Fajrie N, Masfuah S. 2018. Model Media Pembelajaran Sains untuk Anak Berkebutuhan Khusus. J Bagimu Negeri.;2(1):9–19.

doi:10.26638/jbn.537.8651

Fajrie, N. 2020. Effectiveness of Motor Skills through Traditional Children ’ s Toys in Autistic Children. 14(3), 764–782.

Ginanjar, M. H., Assurur, M., Wahidin, U., & Priyatna, M. 2018. Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Pengaruhnya Terhadap Peningkatan Pedagogik Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 3 Karawang Jawa Barat. Islamic Management: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(02), 207-232.

Goleman, D. 2004. Emotional Intelligence. Kecerdasan Emosi. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama

Goleman, Daniel. 2009. Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif. Teori dan PraktikJakarta: PT Bumi

Gunawan, Imam. Metode Penelitian Kualitatif. Teori dan PraktikJakarta: PT Bumi

Dokumen terkait