Berikut adalah paparan pendapat guru dan siswa, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti setelah pembelajaran gaya dengan menggunakan model Guided Discovery Learning.
1. Deskripsi Pendapat Siswa
Setelah selesai melaksanakan tindakan selama tiga siklus, peneliti melakukan wawancara kepada sembilan orang siswa, tiga orang siswa yang
0 20 40 60 80 100
Data Awal
Siklus I Siklus II Siklus III
12%
60%
84% 96%
Siklus III Siklus II Siklus I Data Awal
126
memiliki hasil belajar yang sangat baik, tiga orang siswa yang memiliki hasil belajar cukup baik, dan tiga orang siswa yang memiliki hasil belajar kurang.
Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana pembelajaran gaya dengan menggunakan model Guided Discovery dapat diterima oleh siswa.
Hal-hal yang ditanyakan dalam kegiatan wawancara tersebut, mencakup hal-hal sebagai berikut.
a. Ditanyakan mengenai minat siswa terhadap mata pelajaran IPA, beserta alasannya.
b. Ditanyakan mengenai pengalaman siswa dalam belajar IPA.
c. Ditanyakan mengenai pendapat siswa terhadap pembelajaran gaya dengan model Guided Discovery.
d. Ditanyakan mengenai kemudahan dalam memahami materi gaya sebelum dan setelah diterapkannya pembelajaran gaya dengan model Guided Discovery.
e. Ditanyakan mengenai manfaat yang bisa siswa dapatkan setelah pembelajaran gaya dengan model Guided Discovery.
f. Ditanyakan mengenai kesulitan yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran gaya dengan menggunaka model Guided Discovery.
Berdasarkan hal-hal tersebut, berikut adalah rangkuman keseluruhan jawaban siswa.
a. Siswa merasa mempunyai minat yang tinggi dalam pelajaran IPA, karena sebagian besar materi IPA mudah dipahami.
b. Siswa belum pernah melakukan kegiatan percobaan dalam pembelajaran IPA di sekolah.
c. Siswa merasa pembelajaran IPA dengan menggunakan model Guided Discovery lebih menyenangkan, karena ada kegiatan percobaannya.
d. Siswa merasa lebih mudah memahami materi gaya dengan menggunakan model pembelajaran Guided Discovery.
e. Siswa dapat mengambil manfaat positif dengan diterapkannya model pembelajaran Guided Discovery pada materi gaya.
f. Siswa merasa dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan model Guided Discovery, mendapat kesulitan dalam membuat rumusan masalah dan hipotesis.
127
2. Deskripsi Pendapat Guru
Pada akhir pelaksanaan tindakan selama tiga siklus, wawancara tidak hanya dilakukan terhadap siswa, tetapi dilakukan juga wawancara terhadap guru atau observer. Kegiatan wawancara ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan guru terhadap penerapan model Guided Discovery Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gaya di kelas IV. Adapun hal-hal yang ditanyakan dalam kegiatan wawancara tersebut yaitu sebagai berikut ini.
a. Ditanyakan mengenai model pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran IPA.
b. Ditanyakan mengenai pendapat guru temtamg pengertian model Guided Discovery Learning.
c. Ditanyakan mengenai pernah atau tidaknya guru menggunakan model Guided Discovery Learning, diterapkan dalam pembelajaran.
d. Ditanyakan mengenai kesulitan yang diahadapi guru terhadap penerapan model Guided Discovery Learning dalam materi gaya.
e. Ditanyakan mengenai kemudahan yang diahadapi pendapat guru terhadap penerapan model Guided Discovery Learning dalam materi gaya.
f. Ditanyakan mengenai kesan terhadap penerapan model Guided Discovery Learning.
g. Ditanyakan mengenai pendapat guru terhadap hasil tes yang diperoleh siswa.
Berdasarkan hal-hal tersebut, berikut adalah rangkuman keseluruhan jawaban guru.
a. Guru merasa jarang menggunakan model pembelajaran dalam pembelajaran IPA di sekolah.
b. Guru berpendapat bahwa model Guided Discovery merupakan model pembelajaran yang menuntut aktivitas siswa dalam menemukan materi secara mandiri.
c. Guru belum pernah menerapkan model pembelajaran Guided Discovery, dalam kegiatan pembelajaran, karena guru merasa belum memahami betul setiap tahapan dari model pembelajaran tersebut.
128
d. Guru merasa berdasarkan hasil pengamatan tahapan yang paling sulit yaitu tahap merumuskan masalah dan hipotesis, karena guru harus benar-benar bekerja keras dalam membimbing siswa.
e. Guru merasa siswa menjadi lebih mudah mengerti mengenai materi gaya, karena melalui tahap pembuktian.
f. Guru merasa pembelajaran dengan menggunakan model Guided Discovery cukup menarik, terutama apabila diterapkan dalam pembelajaran IPA. terlihat dari siswa cukup antusias mengikuti pelajaran.
g. Guru merasa pada setiap siklusnya, hasil belajar siswa terus mengalami peningkatan.
D. Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada pembelajaran gaya di kelas IV SDN Licin, diperoleh temuan bahwa pembelajaran IPA khususnya pada materi gaya masih kurang menyenangkan, terlihat bahwa siswa tidak antusias dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu keterlibatan siswa dalam pembelajaran juga masih sangat kurang sehingga guru lebih mendominasi dalam kegiatan pembelajaran. Variasi dalam kegiatan pembelajarannya juga masih kurang, hanya ada kegiatan tanya jawab dan ceramah saja. Hal tersebut mengakibatkan kurang tergalinya kemampuan siswa dalam memahami konsep IPA tentang materi gaya.
Berdasarkan tes awal diketahui hanya 3 siswa (12%) dari 25 siswa, yang mencapai nilai dalam kriteria tuntas yaitu 73. Hal tersebut membuktikan bahwa hasil belajar siswa pada materi gaya di kelas IV SDN Licin masih rendah dan perlu adanya perbaikan.
Berdasarkan permasalahan diatas, peneliti melakukan perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran Guided Discovery. Hal tersebut dikarenakan tujuan model pembelajaran Guided Discovery yang diterapkan dalam pembelajaran dapat membantu siswa untuk memahami konsep-konsep dalam materi IPA khususnya konsep gaya dengan serangakaian tahap pembuktian yang menuntut aktivitas siswa secara penuh. Adapun tujuan dari model pembelajaran Guided Discovery menurut Moedjiono dan Dimyati (1992, hlm. 87) yaitu:
a. Meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif dalam memperoleh dan memproses perolehan belajar
129
b. Mengarahkan para siswa sebagai pelajar seumur hidup
c. Mengurangi ketergantungan kepada guru sebagai satu-satunya sumber informasi yang diperlukan oleh para siswa
d. Melatih para siswa mengeksplorasi atau memanfaatkan lingkungannya sebagai sumber informasi yang tidak akan pernah tuntas digali.
Penerapan Pembelajaran Guided Discovery pada penelitian ini, secara keseluruhan dijelaskan sebagai berikut.
1. Perencanaan
Sebelum melaksanakan pembelajaran Guided Discovery, terlebih dahulu peneliti mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran disesuaikan dengan peranan guru dalam melaksanakan pembelajaran guided discovery menurut Widodo (2007, hlm. 29), yaitu:
1. Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu berpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki oleh para siswa.
2. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah.
3. Untuk menjamin keberhasilan belajar, guru hendaknya jangan menggunakan cara penyajian yang tidak sesuai dengan kognitif siswa.
4. Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai pembimbing atau tutor.
5. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan.
Dalam pembelajaran dengan menggunakan model penemuan ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa dalam menemukan pengetahuan baru. Guru hanya mengatur pembelajaran yang sedemikian rupa sehingga siswa dapat diarahkan dan dibimbing untuk menemukan pengetahuan baru. Kegiatan siswa dalam menemukan suatu konsep yaitu dengan mengarahkan siswa untuk melakukan pengamatan, penggolongan, pembuatan dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan. Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan pada setiap siklus, hasil penilaian pada perencanaan pembelajaran dalam setiap siklusnya mengalami peningkatan.
2. Kinerja Guru
Pada pelaksanaan pembelajaran, guru melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan 8 tahapan model pembelajaran Guided Discovery menurut Djuanda, dkk. (2009, hlm. 114-115) yaitu sebagai berikut:
a. Tahap 1 (Observasi untuk menemukan masalah)
130
b. Tahap 2 (Merumuskan Masalah) c. Tahap 3 (Mengajukan hipotesis)
d. Tahap 4 (Merencanakan pemecahan masalah melalui percobaan atau cara lain)
e. Tahap 5 (Melaksanakan percobaan)
f. Tahap 6 (Melaksanakan pengamatan dan pengumpulan data) g. Tahap 7 (Analisis data)
h. Tahap 8 (Menarik kesimpulan atas percobaan yang telah dilakukan atau penemuan)
Pada tahapan pertama, yaitu observasi untuk menemukan masalah, guru menyajikan permasalahan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang pernah siswa alami dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap pertama ini, masalah yang disajikan pada setiap siklusnya berbeda-beda, hal ini dilakukan agar siswa tidak merasa jenuh dan menjadikan pembelajaran ini lebih bermakna. Hal tersebut sesuai dengan teori belajar kontruktivisme Bruner yang menyatakan “gagasan belajar sebagai proses aktif dimana pembelajaran tersebut mampu membentuk ide-ide baru berdasarkan apa pengetahuan mereka saat ini adalah serta pengetahuan masa lalu mereka” (Sujana, 2013, hlm. 47).
Pada tahap kedua, yaitu merumuskan masalah, guru membimbing siswa untuk merumuskan sejumlah pertanyaan berdasarkan permasalahan yang disajikan pada tahap pertama. Pada siklus I rumusan masalah dibuat oleh masing-masing siswa, namun cara tersebut tidak efektif karena pada akhirnya rumusan masalah dibuat oleh guru. Namun, pada siklus II dan III guru mengubah cara perumusan masalah dengan menginstruksikan siswa untuk membuat perumusan masalah secara berkelompok. Siswa secara berkelompok membuat pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan gaya, berdasarkan permasalahan yang dihadapi pada tahap pertama. Pada siklus II guru mulai dihadapkan dengan permasalahan yaitu rumusan masalah yang dibuat siswa terkadang kurang sesuai dengan pokok bahasan pengaruh gaya terhadap gerak dan bentuk benda, sehingga pada Siklus III guru memberikan petunjuk agar rumusan masalah yang diajukan siswa sesuai dengan pokok bahasan. Hasilnya rumusan masalah yang diajukan siswa sesuai dengan pokok bahasan.
Pada tahap ketiga, yaitu membuat hipotesis, guru membimbing siswa untuk mencari jawaban sementara berdasarkan pertanyaan yang telah dibuat pada tahap kedua. Pada tahap ketiga ini guru menghadapi kesulitan yaitu siswa merasa
131
kesulitan untuk membuat hipotesis, sehingga guru memberikan contoh terlebih dahulu dalam membuat hipotesis, kemudian membimbing setiap kelompok dalam membuat hipotesis. Kemudian tahap keempat, yaitu merencanakan pemecahan masalah melalui kegiatan percobaan, guru membimbing siswa mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan praktikum. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Samatowa (2006, hlm. 12) yang menyatakan bahwa model belajar yang cocok untuk anak di Indonesia adalah “belajar melalui pengalaman langsung (learning by doing).” Dengan kegiatan praktikum dapat memudahkan siswa untuk mengingat pelajaran khsusnya pelajaran yang berkaitan dengan materi IPA, karena siswa mengalami secara langsung bagaimana membuktikan pengaruh gaya terhadap gerak dan bentuk benda. Hal tersebut juga diperkuat dengan pendapat dari Piaget (dalam Samatowa, 2006, hlm. 12) yang mengemukakan bahwa „pengalaman langsung yang memegang peranan penting sebagai pendorong lajunya perkembangan kognitif anak.‟
Pada tahap keempat ini guru juga menjelaskan langkah kerja dalam praktikum dan cara pengisian LKS. Kegiatan praktikum yang dilakukan siswa ini terdiri dari dua kegiatan praktikum, praktikum yang pertama berkaitan dengan pengaruh gaya terhadap gerak benda, sedangkan pada praktikum yang kedua berkaitan dengan pengaruh gaya terhadap bentuk benda Tahap kelima, yaitu melaksanakan percobaan, pada tahap ini siswa melaksanakan kegiatan praktikum sesuai dengan bimbingan dari guru. Tahap keenam, yaitu pengamatan dan pengumpulan data, guru membimbing setiap kelompok untuk mengumpulkan data berdasarkan hasil praktikum. Pada tahap ketujuh, yaitu analisis data, siswa melakukan diskusi untuk menjawab pertanyaan di LKS, berdasarkan data yang diperoleh pada saat praktikum. Pada tahap terakhir, yaitu kesimpulan, guru bersama siswa menyimpulkan hasil dari kegiatan praktikum. Pada tahap kesimpulan ini awalnya guru berkesulitan untuk membuat siswa aktif dalam merumuskan kesimpulan hasil percobaan, namun seiring dengan motivasi dan bimbingan yang terus diberikan kepada siswa, pada siklus II dan III siswa sudah mau turut serta dalam merumuskan kesimpulan hasil praktikum.
132
3. Aktivitas Siswa
Dalam pembelajaran model Guided Discovery ini, peneliti tidak hanya menilai hasil belajar tetapi juga penilaian aktivitas siswa, baik pada saat pembelajaran maupun pada saat kegiatan praktikum. Karena untuk mencapai hasil belajar yang diharapkan tentu saja harus ditunjang dengan proses pembelajaran yang bisa mengembangkan aktivitas siswa dalam proses belajarnya. Hal tersebut sesuai dengan teori belajar Gagne yang dikenal dengan lima jenis belajar. Lima jenis belajar tersebut yaitu “informasi verbal, kemahiran intelektual, pengaturan kegiatan kognitif, keterampilan motorik, dan sikap” (Slameto, 2003, hlm. 14).
Dalam hal ini belajar tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual, tetapi juga kemampuan motorik dan ditunjang dengan sikap yang baik.
Penilaian aktivitas siswa dalam penelitian ini, terdiri dari penilaian aktivitas siswa pada saat pembelajaran, dan penlilaian aktivitas siswa pada saat kegiatan praktikum. Aspek yang dinilai dari aktivitas siswa pada saat pembelajaran yaitu perhatian, keaktifan, ketekunan dan kerjasama. Aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran secara keseluruhan mengalami peningkatan pada setiap siklusnya.
Hal ini tidak terlepas dari motivasi dan bimbingan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Motivasi tersebut berdasarkan pada enam prinsip IPA di sekolah dasar, menurut bahan ajar PLPG (dalam Sujana, 2013, hlm. 33) yaitu
‟prinsip motivasi, prinsip latar, prinsip menemukan, prinsip belajar sambil melakukan, prinsip belajar sambil bermain, serta prinsip sosial.‟ Dalam pembelajaran IPA motivasi merupakan hal yang diperlukan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajarnya. Namun, dalam penilaian aktivitas siswa ini terdapat pula kesulitan dalam meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran, terutama pada saat siswa diminta untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru ataupun sebaliknya, siswa diminta untuk bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dipahami, hanya beberapa orang siswa saja yang aktif menjawab pertanyaan dari guru. Ternyata hal ini dikarenakan siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran yang berpusat pada guru. Sehingga untuk meningkatkannya pun diperlukan waktu yang lama.
Penilaian aktivitas siswa pada saat kegiatan praktikum yaitu meliputi aspek keantusiasan, partisipasi dalam praktikum, dan ketepatan. Sama halnya dengan
133
hasil penilaian aktivitas siswa pada saat pembelajaran, hasil aktivitas siswa pada saat kegiatan praktikum juga mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Hal ini dikarenakan guru tidak henti-hentinya membimbing dan pengawasan pada setiap kelompok dalam melakukan serangkaian kegiatan praktikum. Pada kegiatan praktikum ini peneliti memperoleh temuan bahwa siwa terlihat sangat antusias dan bekerjasama dalam melakukan serangkaian kegiatan praktikum. Hal tersebut membuktikan bahwa kegiatan praktikum dapat melatih siswa mengembangkan sikap ilmiahnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat Bundu (2006, hlm. 13) “sikap sains adalah sikap yang dimiliki para ilmuan dalam mencari dan mengembangkan pengeahuan baru, misalnya objektif terhadap fakta, hati-hati, bertanggung jawab, berhati terbuka, selalu ingin meneliti, dan sebagainya.”
4. Hasil Belajar Siswa
Setelah melakukan serangkaian tahapan dalam pembelajaran Guided Discovery secara keseluruhan, ternyata hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa pada materi gaya menjadi lebih meningkat. Peningkatan pemahaman siswa juga membuktikan kelebihan dari model pembelajaran penemuan terbimbing menurut Bruner (dalam Sujana, 2013, hlm. 50) yaitu:
a. Pengetahuan itu dapat bertahan lebih lama atau dapat diingat lebih lama atau lebih mudah diingat apabila dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh dengan cara lain
b. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik dibandingkan hasil belajar lainnya
c. Belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa serta kemampuan untuk berfikir secara bebas.
Dalam menerapkan model Guided Discovery dalam pembelajaran, terdapat temuan-temuan diantaranya bahwa dalam pembelajaran IPA, kegiatan percobaan dapat meningkatkan pemahaman dan menarik minat siswa dalam memahami konsep-konsep IPA, khususnya konsep gaya. Selain itu, untuk melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran tidak hanya diperlukan metode, model, ataupun strategi yang bervariasi, tetapi motivasi juga berperan sangat penting.
Berdasarkan pada cakupan hasil belajar sains menurut Bundu (2006, hlm.
18), yaitu: 1) Penguasaan produk ilmiah atau produk sains, 2) Penguasaan proses ilmiah atau proses sains, 3) Penguasaan sikap ilmiah atau sikap sains. Dalam
134
penguasaan produk ilmiah atau produk sains, pada penelitian ini siswa sudah mengalami perubahan dalam pemhamanan dan pengetahuannya terhadap materi gaya, khususnya pengaruh gaya terhadap gerak dan bentuk benda. Hal tersebut terlihat dari semakin meningkatnya nilai hasil belajar siswa dari data awal hingga siklus III, pada data awal sebanyak 12% atau 3 siswa saja yang mencapai nilai tuntas, siklus I meningkat menjadi 60% atau 20 siswa yang mencapai nilai tuntas, siklus II meningkat kembali 84% atau 21 siswa yang mencapai nilai tuntas, dan pada siklus III meningkat jadi 96% atau 24 siswa yang mencapai nilai tuntas.
Pada penguasaan proses ilmiah atau proses sains dalam penelitian ini siswa sudah mengalami perubahan terhadap kemampuan dalam proses aktivitas kelompok, yang terdiri dari aspek keantusisasan, partisipasi, dan ketepatan. Hal tersebut terlihat dari peningkatan rata-rata nilai dari masing-masing aspek tersebut pada setiap siklusnya. Pada siklus I nilai rata-rata aspek keantusiasan siswa mencapai 74,6%, kemudian pada siklus II mencapai 86,6%, dan pada siklus III mencapai 94,6%. Pada siklus I nilai rata-rata aspek partisipasi siswa mencapai 80%, kemudian pada siklus II mencapai 86,6%, dan pada siklus III mencapai 96%. Pada siklus I nilai rata-rata aspek ketepatan siswa siswa mencapai 73,3%, kemudian pada siklus II mencapai 93,3%, dan pada siklus III mencapai 100%.
Kemudian penguasaan sikap ilmiah atau sikap sains, pada penelitian ini terjadi pada perubahan sikap siswa dalam proses pembelajaran. Hal tersebut terlihat dalam peningkatan nilai rata-rata setiap aspek aktivitas siswa pada kegiatan pembelajaran. Pada aspek perhatian, siklus I mencapai 70,6%, kemudian pada siklus II mencapai 89,3%, dan pada siklus III mencapai 98,6%. Pada aspek keaktifan, siklus I mencapai 70,6%, kemudian pada siklus II mencapai 80%, dan pada siklus III mencapai 90,6%. Pada aspek ketekunan, siklus I mencapai 78,6%, siklus II mencapai 85,3%, dan pada siklus III 93,3%. Kemudian pada aspek kerjasama, siklus I mencapai 74,6%, siklus II mencapai 84%, dan siklus III mencapai 97,3%.
Penelitian ini tidak hanya meneliti sejauh mana penerapan model Guided Discovery Learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gaya, namun secara umum dapat diakatakan bahwa pembelajaran gaya di SDN Licin dengan menggunakan model Guided Discovery Learning telah berhasil, baik
135
dalam perencanaan pembelajaran, proses pembelajaran, dan perolehan nilai siswa pada akhir pembelajaran.
Berdasarkan temuan-temuan penelitian, terlihat bahwa model Guided Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi gaya, serta dapat memotivasi siswa untuk belajar secara mandiri dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hipotesis yang dibuat telah teruji dengan baik.