• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paparan PT Pertamina Hulu Riau (PHR) 1. Profil Perusahaan

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 34-37)

▪ PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) adalah anak perusahaan PT Pertamina (Persero) -- yang 100% sahamnya dimiliki Pemerintah Indonesia-- dan dikelola di bawah naungan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai subholding upstream PT Pertamina (Persero).

▪ PT PHR atau Regional 1 (Sumatera) dari Pertamina Sub Hodling Upstream meliputi 4 zona, yakni :

Zona 1 (Meliputi wilayah kerja Rantau, Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, NSO, Siak-Kampar, CPP, Jambi Merang, Jabung/Non Operator, dan Kakap/Non Operator).

Zona 2&3 (Meliputi WK Rokan di Provinsi Riau),

Zona 4 (Meliputi wilayah kerja Adera, Pendopo, Limau, Prabumulih, Ramba, Corridor/Non Operator, Ogan Komering-Raja Tempirai)

▪ Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari Pemerintah Indonesia, PT PHR mengelola Wilayah Kerja (WK) Rokan (Zona2&3) sejak 9 Agustus 2021, yang merupakan blok terminasi PT. Chevron Pacific Indonesia (PT CPI). WK Rokan mencakup luas sekitar 6.200 km2 yang terletak di 7 kabupaten/kota di Provinsi Riau, dengan mengelola sekitar 80 lapangan aktif dan 13.600 sumur.

▪ PHR, mengacu pada perusahaan induknya PHE, memiliki visi “Menjadi Perusahaaan Minyak dan Gas Bumi Kelas Dunia” dan Misi “Melaksanakan pengelolaan operasi dan portfolio usaha sektor hulu minyak dan gas bumi secara profesional dan berdaya laba tinggi serta memberikan nilai tambah bagi pemangku kepentingan”.

2. Dasar hukum yang melatar belakangi Perusahaan mendapatkan izin HPL atau HGU atau HGB dari Negara

▪ Beberapa peraturan perundang-undangan terkait:

- UU No.5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria;

- UU No.22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi;

- UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendarahaan Negara;

- PP 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;

- PP 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Migas, sebagaimana telah diubah beberapa kali, perubahan terakhir melalui PP 55 Tahun 2009;

- PP No.27 Tahun 2014 jo. PP 28 Tahun 2020 tentang Pengelolaan BMN/D;

- Peraturan Menteri Keuangan Nomor 140/PMK.06/2020 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara Hulu Migas.

▪ Mengacu pada peraturan perundang-undangan di atas, bidang-bidang tanah WK Rokan yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau perolehan lain yang sah dan saat ini dikelola oleh PHR WK Rokan selaku Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) merupakan Barang Milik Negara berupa Tanah Hulu Migas.

▪ Bidang-bidang tanah dimaksud disertifikatkan atas nama Pemerintah RI cq.

Kementerian Keuangan RI dengan status Hak Pakai dan jangka waktu tidak terbatas sepanjang masih digunakan sesuai peruntukan.

▪ Dengan demikian, informasi yang disampaikan oleh PHR WK Rokan pada pertanyaan ini dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya akan dijawab dalam konsep Hak Pakai (HP) a.n. Pemerintah RI cq. Kementerian Keuangan RI terhadap BMN Tanah WK Rokan.

▪ Kewenangan terkait penerbitan HGU, HGB dan HPL berada di Kementerian ATR/BPN 3. Luas tanah dan Durasi HPL atau HGU atau HGB yang digarap oleh Perusahaan

Berdasarkan informasi sementara yang diterima PHR WK Rokan, mengacu pada daftar BMN Tanah Terminasi WK Rokan yang dialihkelolakan dari operator WK Rokan sebelumnya kepada Pemerintah RI melalui SKK Migas dan Pusat Pengelolaan BMN Kementerian ESDM, estimasi luas BMN Tanah WK Rokan adalah ±50.000 ha (lima puluh ribu hektar) yang tersebar di 5 Kabupaten (Siak, Kampar, Bengkalis, Rokan Hulu, Rokan Hilir) dan 2 Kota (Pekanbaru, Dumai).

4. izin HPL atau HGU atau HGB yang telah berakhir jangka waktunya diperpanjang PHR WK Rokan sebagai KKKS Hulu Migas mitra Pemerintah RI beroperasi pada wilayah kerja yang merupakan Barang Milik Negara berupa Tanah Hulu Migas a.n. Pemerintah RI cq. Kementerian Keuangan RI, sepanjang jangka waktu Kontrak Kerja Sama WK Rokan.

5. Izin HPL atau HGU atau HGB yang telah didapatkan Perusahaan terjadi sengketa Berdasarkan informasi sementara yang diterima oleh PHR, terdapat beberapa gugatan masyarakat atas BMN Tanah WK Rokan yang diajukan kepada Pengadilan. Namun demikian, pihak berperkara dari perkara-perkara dimaksud adalah operator WK Rokan sebelumnya (PT Chevron Pacific Indonesia/CPI) dan SKK Migas.

PHR WK Rokan tidak termasuk dalam pihak yang berperkara.

6. Izin HPL atau HGU atau HGB yang dikuasai oleh Perusahaan dijadikan penguasaan sepihak dan ilegal oleh perorangan/pribadi atau kelompok

Berdasarkan informasi sementara yang diterima oleh PHR WK Rokan hingga saat ini, terdapat beberapa penguasaan sepihak dan ilegal oleh perorangan/pribadi atau kelompok di beberapa lokasi pada wilayah kerja operasional migas WK Rokan (area sumur migas, jalur pipa penyalur, dan lokasi operasional lainnya).

PHR WK Rokan akan menindaklanjuti informasi ini sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

7. Izin HPL atau HGU atau HGB oleh Perusahaan masuk dalam perubahan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kabupaten/Kota/Provinsi

Berdasarkan informasi sementara yang diterima oleh PHR WK Rokan hingga saat ini, wilayah kerja WK Rokan berada pada kawasan pertambangan sesuai Perda Provinsi Riau No.10 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau Tahun 2018-2038.

8. Kasus atau sengketa tumpang tindih antara Perusahaan dengan masyarakat

Berdasarkan informasi sementara yang diterima oleh PHR, terdapat beberapa gugatan masyarakat atas BMN Tanah WK Rokan yang diajukan kepada Pengadilan. Namun demikian, pihak berperkara dari perkara-perkara dimaksud adalah operator WK Rokan sebelumnya (PT Chevron Pacific Indonesia/CPI) dan SKK Migas. PHR WK Rokan tidak termasuk dalam pihak yang berperkara.

9. Penguasaan perizinan HPL atau HGU atau HGB oleh Perusahaan yang dinyatakan tumpang tindih dengan kawasan hutan

Berdasarkan informasi sampai saat ini yang diterima oleh PHR, terdapat sebagian BMN Tanah WK Rokan yang dimasukkan dalam Peta Kawasan Hutan Prov. Riau.

Kami mohon DPR dapat membantu penyelesaian permasalahan dimaksud agar kegiatan produksi/operasional dan pengembangan lapangan migas dapat berjalan lancar demi mendukung target produksi migas nasional.

10. Permasalahan penguasaan masyarakat diatas perizinan HPL atau HGU atau HGB yang dikuasai oleh Perusahaan

Berdasarkan informasi sementara yang diterima oleh PHR WK Rokan hingga saat ini, terdapat beberapa penguasaan masyarakat di beberapa lokasi pada wilayah kerja operasional migas WK Rokan (area sumur migas, jalur pipa penyalur, dan lokasi operasional lainnya). PHR WK Rokan akan menindaklanjuti informasi ini sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

11. Realisasi CSR kepada masyarakat setempat yang berdampak dalam aktivitas Perusahaan terutama pada dampak lingkungan

Perusahaan senantiasa menjalin kemitraan dengan para pemangku kepentingan dalam mendukung perlindungan lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasi PHR WK Rokan.

Beberapa contoh program CSR di bidang lingkungan yang sedang dijalankan oleh Perusahaan antara lain:

• Program Bank Sampah di Rumbai, Minas, Siak, dan Duri bekerja sama dengan LPPM UNILAK dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau.

• Program Konservasi Hutan dan Gajah Sumatra bekerja sama dengan Perkumpulan Gajah Indonesia, Rimba Satwa Foundation dan BBKSDA Riau.

• Inisiatif terkait Gambut untuk mengurangi kebakaran hutan dan lahan di Riau bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM).

• Program Restorasi ekosistem Mangrove di Dumai dan Bengkalis.

12. Kasus penguasaan tanah oleh PT. Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) yang membentang sepanjang jalan dari Jalan poros Rumbai menuju Dumai sepanjang 180 KM dengan lebar tanah 100 Meter di kanan dan Kiri jalan yang diklaim sebagai lahan konsensi diperuntukkan kepentingan PT. CPI

▪ Sebagai operator baru di area operasi WK Rokan, PHR WK Rokan siap mendukung langkah yang akan diambil oleh Pemerintah RI dan pemangku kepentingan terkait atas permasalahan tersebut di atas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan Kontrak PSC Gross-Split WK Rokan serta menyesuaikan dengan posisi PHR WK Rokan sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama dengan Pemerintah RI sejak tanggal 9 Agustus 2021.

▪ Untuk kesinambungan operasi hulu Migas PHR WK Rokan dalam memenuhi target produksi Migas demi mendukung ketanahan energi nasional, PHR WK Rokan tetap membutuhkan bidang tanah ROW (jalur lintas) yang membentang dari Rumbai ke Dumai yang telah terbangun fasilitas produksi berupa jalan, pipa minyak, jalur transmisi listrik dan fasilitas pendukung produksi migas lainnya.

▪ Berdasarkan informasi sementara yang diterima PHR WK Rokan, selaku operator baru, bidang tanah ROW di atas telah dibangun oleh operator sebelumnya, jauh sebelum masyarakat berkegiatan pada lokasi-lokasi tersebut.

▪ Sesuai PMK 140 Tahun 2020 bahwa Barang Milik Negara yang selanjutnya disingkat BMN adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

▪ Untuk itu, apabila ada perubahan atau pencabutan dari suatu keputusan yang sudah masuk dalam BMN memerlukan persetujuan dari Kementerian Keuangan selalu pengelola Barang.

Dalam dokumen DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA (Halaman 34-37)

Dokumen terkait