• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

KUNJUNGAN KERJA PANITIA KERJA (PANJA)

EVALUASI DAN PENGUKURAN ULANG HGU, HGB DAN HPL KOMISI II DPR RI KE KOTA PEKANBARU-PROVINSI RIAU

TANGGAL 13 SEPTEMBER 2021 I. PENGANTAR

Dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan egislative berdasarkan Pasal 69 ayat (1) huruf c UU No. 17 Tahun 2014 jo UU No. 13 Tahun 2019 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Komisi II DPR RI pada tanggal 29 Maret 2021 dalam agenda pembahasan Rapat Intern menyepakati pembentukan dan penetapan pimpinan 3 (tiga) Panitia Kerja (Panja) di bidang Pertanahan. Adapun Panja Evaluasi dan Pengukuran ulang Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB) dan Hak Pengelolaan (HPL) dipimpin langsung oleh Bapak Ahmad Doli Kurnia Tandjung, Panja Pemberantasan Mafia Pertanahan dipimpin oleh Bapak Junimart Girsang, dan Panja Tata Ruang dipimpin Bapak Saan Mustopa. Pada rapat intern tersebut membahas mekanisme tiga panja pertanahan dalam rangka evaluasi dan penyelesaian terhadap seluruh permasalahan HGU, HGB, HPL, permasalahan pemberantasan mafia pertanahan dan permasalahan tata ruang.

Dalam Kunjungan Kerja Panja Evaluasi dan Pengukuran Ulang HGU, HGB dan HPL Komisi II DPR RI di Provinsi Riau tersebut, Panja melasanakan Kunjungan ke Kantor Pemerintahan Provinsi Riau dengan mengadakan Rapat pertemuan dan dialog dengan Gubernur Provinsi Riau, Kapolda Riau, Danrem 031/Wira Bima, BPN Kanwil Riau, PTPN V Riau, PT. Pertamina Hulu Riau, PT. Sinarmas, PT Arara Abadi dan SKK Migas perwakilan Riau serta turut hadir dari Dirjen Kementrian ATR/BPN yang merupakan mitra kerja Komisi II DPR RI.

II. TIM KUNJUNGAN

Tim Kunjungan Kerja Panja Evaluasi dan Pengukuran Ulang HGU, HGB dan HPL Komisi II DPR RI ke Provinsi Riau berjumlah 14 Orang Anggota, yang dipimpin oleh Ketua Komisi II DPR RI, H. Ahmad Doli Kurnia Tanjung (F-Partai Golkar). Nama-nama anggota Tim Kunjungan Kerja Panja Evaluasi dan Pengukuran Ulang HGU, HGB dan HPL Komisi II DPR RI ke Provinsi Lampung selengkapnya adalah sebagai berikut:

(2)

NO. NO.

ANGGOT A

NAMA KETERANGAN

1. A-270 DR. H. Ahmad Doli Kurnia Tanjung Ketua Tim Ketua Komisi II/F-PG 2. A-142 DR. Junimart Girsang, SH, MBA, MH Wakil Ketua Komisi II/F-

PDIP

3. A-367 Saan Mustafa, M.SI Wakil Ketua Komisi II/F- Nasdem

4. A-022 Luqman Hakim, S.Ag Wakil Ketua Komisi II/F- PKB

5. A-462 DR.H.Syamsurizal, SE, MM Wakil Ketua Komisi II/F- PPP

6. A-152 Ir Endro Suswantoro Yahman, M.Sc Anggota/F-PDIP 7. A-240 Drs. Cornelis , MH Anggota/F-PDIP 8. A-246 H.M.Rifqinizami Karsayuda, SH, MH Anggota/F-PDIP 9. A-273 Ir. H.Arsyadjuliandi Rachman, MBA Anggota/F-Golkar 10. A-80 Dr.Ir Sodik Mudjahid, M.Sc Anggota/F-Gerindra

11. A-75 H Ahmad Muzani Anggota/F-Gerindra

12. A-386 Y. Jacki Uly Anggota F-Nasdem

13. A-21 Drs. Mohammad Toha, S.Sos, M.SI Anggota/F-PKB

14. A-570 Anwar Hafid Anggota/F-PD

15. A-417 Drs. H. Chairul Anwar, Apt Anggota/F-PKS 16. A-484 Drs. H, Guspardi Gaus, M.SI Anggota/F-PAN 17. --- Dahliya Bahnan, SH, MH Kasubag TU Set. Kom II 18. --- Muhdar Yusa, S.Sos Sekretariat Komisi II 19. --- Liman Setiawan, S.AP Sekretariat Komisi II 20. --- Hanung Priasmoro Sekretariat Komisi II 21. --- Setya Alvino Tenaga Ahli Komisi II 22. --- Abrar Amir, M.AP Tenaga Ahli Komisi II 23. --- Dominggus Titiheru TVR Parlemen

24. --- Sofyan Efendi Media Sosial

Tim kunjungan kerja didampingi oleh 2 (dua) Tenaga Ahli dan 4 (empat) staf dari Sekretariat Komisi II DPR RI, serta 2 (dua) reporter dari TV parlemen DPR RI.

III. WAKTU KUNJUNGAN

Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Evaluasi dan Pengukuran Ulang HGU, HGB dan HPL ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 13 September 2021, bertempat di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Provinsi Riau.

(3)

IV. HASIL KUNJUNGAN KERJA

A. Sambutan Bapak Ahmad Doli Kurnia Tanjung, Ketua Rombongan Kunjungan Kerja Panja Evaluasi dan Pengukuran Ulang HGU, HGB dan HPL Komisi II DPR RI

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas perkenan-Nya kita dapat menghadiri pertemuan hari ini. Terima kasih atas kesediaan waktu saudara-saudara dapat menerima Komisi II DPR RI dalam rangka Kunjungan Kerja Panitia Kerja (Panja) Evaluasi dan Pengukuran Ulang HPL, HGU dan HGB ke Pemprov Riau dan Kanwil BPN Provinsi Riau pada hari in.

Pemerintah merumuskan Visi Indonesia Maju 2045 sebagai langkah strategis menjadikan Indonesia 5 (lima) besar kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2045.

Dalam rangka mewujudkan visi tersebut, pemerintah mengharapkan adanya

“gelombang investasi” untuk mempercepat proses pembangunan melalui UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (UU Cipta Kerja) yang bertujuan untuk menciptakan iklim berusaha dan investasi yang berkualitas bagi para pelaku bisnis termasuk UMKM dan investor asing. Keberadaan UU Ciptakerja sangat berkaitan erat dengan pengaturan pertanahan di Indonesia, khususnya ketersediaan tanah, ganti rugi tanah masyarakat yang diperuntukan bagi pembangunan, penyelesaian kasus tanah, perizinan di sektor pertanahan, dan lain – lain. Dalam hal ini, diperlukan peran serta Kementerian ATR/BPN beserta jajarannya sebagai leading sektor untuk memastikan pertumbuhan investasi berjalan lancar dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat dengan tidak merugikan hak – hak rakyat atas tanah.

Reforma agraria merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan untuk menciptakan sumber kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat berbasis agraria. Reforma agraria terdiri dari 2 komponen yaitu: asset reform (legalisasi asset) dan access reform (redistribusi tanah). Tanah memiliki fungsi yang sangat strategis, baik sebagai sumber daya alam maupun sebagai ruang untuk pembangunan. Karena kesediaan tanah relatif tetap sementara kebutuhan akan tanah terus meningkat, maka diperlukan pengaturan yang baik, tegas, dan cermat mengenai penguasaan, pemilikan, maupun pemanfaatan tanah, oleh karenanya bukti kepemilikan tanah berupa Sertipikat Hak Atas Tanah (SHAT) menjadi sangat penting bagi masyarakat karena dapat memberikan kepastian hukum (asset reform) dan memberikan akses masyarakat kepada lembaga keuangan formal sehingga terjadi peningkatan financial inclusion (access reform). Panja HPL, HGU, dan HGB berupaya mengawasi, memeriksa dan mengurai permasalahan HPL, HGU, dan HGB terkait sejumlah isu penting. Isu tersebut antara lain berapa luas lahan HPL, HGU, dan HGB yang dikuasai negara dan sektor swasta. Berapa jumlah perizinan HPL, HGU, dan HGB yang telah berakhir jangka waktunya. Berapa luas lahan yang telah diberikan

(4)

perizinan HPL, HGU, dan HGB dan berakhir jangka waktunya sehingga menjadi lahan terlantar yang kemudian menjadi obyek redistribusi lahan atau obyek reforma agraria, serta berapa luas lahan yang berhasil diredistribusikan oleh Pemerintah untuk kepentingan umum.

Kami di Komisi II telah mengumpulkan masalah pertanahan, setidaknya ada 3 (tiga) permasalahan mengenai HGU, HGB dan HPL ini, yakni Pertama, ada HGU, HGB dan HPL yang diberikan izinnnya tapi tidak digarap dengan baik, sehingga berpengaruh pada benefit atau pada penerimaan negara. Kedua, ada modus diterbitkan izin HGU, HGB dan HPL dengan luas sekian X hektar tetapi yang digarap X kuadrat hektar melebihi dari izin yang diberikan, Jumlah hak yang diberikan negara berbeda penggunaannya pada kondisi ini, biasanya akan bermasalah dan konflik dengan masyarakat sekitar dimana lahan itu berada, dan Ketiga, Hak-hak pertanahan yang beririsan dgn hutan lindung. Paska di sahkannya UU Cipta Kerja, ada hampir 3 juta hektar tanah yang beririsan dengan Kawasan hutan yang diputihkan melalui BPN tanpa dilihat track record, apakah lahan terebut sudah membayar pajak. Atas nama kepentingan negara, 3 permasalahan tersebut mesti diselesaikan, kami berharap semua pihak dapat bekerja sama melalui Panja ini.

Secara khusus Kunjungan Kerja Panja Evaluasi dan Pengukuran Ulang HGU, HGB dan HPL Komisi II DPR RI ke Provinsi Riau ini adalah ingin mendapatkan masukan maupun informasi yang sejelas-jelasnya berkaitan dengan permasalahan- permasalahan yang ada di Provinsi Riau sesuai dengan lingkup tugas Komisi II DPR RI, antara lain:

1. Jumlah perizinan HPL, HGU dan HGB yang dikuasai oleh Negara (BUMN/BUMD) dan Swasta.

2. Jumlah perizinan HPL, HGU dan HGB yang telah berakhir jangka waktunya dan jumlah perizinan HPL, HGU dan HGB yang telah diperpanjang.

3. Luas Tanah terlantar yang sudah menjadi obyek Redistribusi lahan atau Obyek Reforma Agraria.

4. Kasus dan konflik tanah terlantar yang bersengketa di PTUN/Pengadilan.

5. Luas lahan yang berhasil diredistribusikan oleh Pemerintah untuk kepentingan umum.

6. Ketidaksesuaiain Izin HPL, HGU dan HGB dengan kenyataan riil yang ada di lapangan

7. Tanah masyarakat di Provinsi Kalimantan Timur yang sudah disertifikat oleh Kementrian ATR/BPN RI kemudian diklaim Oleh Kementrian Kehutanan masuk sebagai tanah Kawasan hutan.

8. Sengketa antara Masyarakat Hukum Adat (MHA) dengan izin HPL, HGU dan HGB yang dikuasai oleh Perusahaan swasta maupun BUMN/BUMD di Provinsi Kalimantan Timur.

(5)

9. Perizinan HPL, HGU dan HGB yang dinyatakan tumpang tindih dengan kawasan hutan yang semula bukan Kawasan hutan dan berapa luas semuanya.

10. Perizinan HPL, HGU dan HGB yang dinyatakan tumpang tindih dengan izin/konsensi pertambangan Swasta maupun BUMN/BUMD.

B. Paparan Gubernur Provinsi Riau

Adapun beberapa hal yang disampaikan oleh Gubernur Provinsi Riau sebagai berikut:

1. Tentang BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasta yang memiliki perizinan HPL, HGU dan HGB di Provinsi Riau berdasarkan data dari Kanwil BPN Provinsi Riau terkait HPL, HGU dan HGB sebagai berikut:

a. Jumlah HPL yang masih aktif di Provinsi Riau 25 Bidang dengan luas ± 4.760,89 Ha. Dengan rincian sebagai berikut:

• PEMDA sebanyak 22 Bidang dengan luas ± 81,24 Ha.

• BUMN/BUMD sebanyak 2 Bidang dengan luas ± 1,94 Ha.

• Transmigrasi sebanyak 1 Bidang dengan luas ± 4.677,71 Ha.

b. Jumlah HGU BUMN/BUMD dan Swasta yang masih aktif di Provinsi Riau 495 Bidang dengan luas ± 1.001.809 Ha.

• BUMN sebanyak 66 Bidang dengan luas ±192.002 Ha.

• BUMD sebanyak 3 Bidang dengan luas ±1.594 Ha.

• Swasta sebanyak 416 Bidang dengan luas ±806.416 Ha.

• Perorangan sebanyak 10 Bidang dengan luas ± 1.797 Ha.

c. Jumlah HGB BUMN/BUMD dan Swasta yang masih aktif di Provinsi Riau 16.738 Bidang dengan luas ± 15.765,07 Ha. Dengan rincian sebagai berikut:

• BUMN/BUMD sebanyak 9.820 Bidang dengan luas ± 11.496 Ha.

• Swasta sebanyak 6.918 Bidang dengan luas ± 4.269,41 Ha.

2. Menyangkut Perizinan HPL, HGU dan HGB yang diterbitkan atas nama Pemerintah Provinsi Riau yang dikerjasamakan dengan pihak lain terdapat 2 (dua) Sertifikat HPL yang diterbitkan atas nama Pemerintah Provinsi Riau, yang dikerjasamakan dengan:

a. PT. LIPPO KARAWACI (Hotel Aryaduta)

Sertifikat HPL Nomor 0001 tanggal 18 Juli 1994 Luas: 21.370 m2

b. PT. BANGUN MEGAH MANDIRI PROPERTINDO (Kawasan Bisnis Bandar Serai Riau Town Square)

Sertifikat HPL Nomor 0014 tanggal 5 Juni 2014 Luas: 55.000 m2

3. Menyangkut durasi waktu perizinan HPL, HGU dan HGB yang diterbitkan atas nama Pemerintah Provinsi Riau Kepada pihak lain belum ada yang berakhir jangka waktunya. Adapun rincian nya sebagai berikut :

a. PT. LIPPO KARAWACI (Hotel Aryaduta)

Jangka waktu : 25 Tahun (1 Januari 2001 – 1 Januari 2026)

b. PT. BANGUN MEGAH MANDIRI PROPERTINDO (Kawasan Bisnis Bandar Serai Riau Town Square)

(6)

Jangka waktu : 30 Tahun (19 Desember 2011 – 19 Desember 2041)

4. Menyangkut Peraturan Daerah (PERDA) dan Peraturan Kepala Daerah di Provinsi Riau Mengatur Khusus tentang perizinan penguasaan HPL, HGU dan HGB.

Pemerintah Provinsi Riau tidak menerbitkan Peraturan Daerah (PERDA) atau Peraturan Kepala Daerah mengenai Perizinan Penguasaan HPL, HGU dan HGB.

Terkait Persyaratan untuk memperoleh HGU dan HGB diatur berdasarkan ketentuan sebagai berikut:

a. Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 1 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Dan Pengaturan Pertanahan;

b. Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 4 Tahun 2017 tentang Standar Pelayanan Kementerian Agraria Dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional;

c. Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2018 tentang Izin Lokasi.

5. Pelaksanaan amanat dan perintah dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 86 tahun 2019 tentang Reforma Agraria di Provinsi Riau. Reforma agraria pada hakikatnya merupakan penataan kembali struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang lebih berkeadilan melalui penataan aset dan disertai dengan penataan akses untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Kegiatan penataan aset dan penataan akses seyogyanya dilaksanakan secara berkesinambungan agar tercapai kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Saat ini pemanfaatan tanah pemegang aset belum optimal, karena pada hakikatnya kegiatan penataan akses melibatkan banyak pihak, baik dari OPD, Kementerian lain maupun dari perbankan dan pihak swasta. Sehingga dalam pelaksanaan kegiatan penataan akses perlu adanya koordinasi dan sinkronisasi program antar lembaga, melalui GTRA (Gugus Tugas Reforma Agararia) yang diketuai oleh Gubernur Provinsi Riau masalah koordinasi dan sinkronisasi program antar lembaga sudah bisa teratasi karena ikut melibatkan OPD dan Kementerian lain dalam menyusun program penataan akses.

▪ Pemerintah Provinsi Riau telah menerbitkan Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor : Kpts.80/1/2021 Tentang Gugus Tugas Reformasi Agraria Provinsi Riau, dan ditindaklanjuti dengan dilaksanakannya Rakor Gugus Tugas Reformasi Agraria (GTRA)

▪ Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor Kpts.183/II/2018 tentang Pembentukan Tim Inventarisasi dan Verifikasi Penguasaan Tanah Dalam Kawasan Hutan Provinsi Riau, dengan tugas-tugas sebagai berikut:

a. Menerima pendaftaran permohonan inventarisasi dan verifikasi secara kolektif yang diajukan melalui Bupati/Walikota;

b Melaksanakan pendataan lapangan;

c. Melakukan analisis meliputi:

1) Data fisik dan data yuridis bidang-bidang tanah yang berada dalam kawasan hutan; dan/atau

(7)

2) Lingkungan Hidup.

d. Merumuskan rekomendasi berdasarkan hasil analisis dan menyampaiakannya kepada Gubernur. Dalam implementasinya, tugas-tugas tersebut dominan dilaksanakan oleh Organisasi Perangkat Daerah yang menjalankan urusan kehutanan dan lingkungan hidup. Sedangkan dari sisi urusan Pertanahan sifatnya membantu dalam tugas-tugas Koordinasi Kelompok Kerja (Pokja).

6. Menyangkut penataan aset dan penataan akses reforma Agraria di Provinsi Riau.

Kanwil BPN Provinsi Riau telah melaksanakan Penataan Aset dengan baik melalui Program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) dan Pelaksanaan Program Redistribusi Tanah, selanjutnya untuk kegiatan penataan akses yaitu dengan memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada pemegang aset melalui pendidikan dan pelatihan, penyediaan infrastruktur, akses permodalan dan pasar maupun bantuan lain juga sudah dilaksanakan melalui program pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan yang berbasis pada pemanfaatan tanah pemegang aset.

7. Menyangkut pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2018 tentang penundaan dan evaluasi perizinan perkebunan kelapa sawit serta peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau. Dalam menjalankan Inpres Nomor 8 Tahun 2018 untuk penerbitan izin perkebunan yang baru, tidak ada Izin Usaha Perkebunan (IUP) yang diterbitkan. Yang dilaksanakan dalam rangka evaluasi perizinan perkebunan sampai dengan bulan September 2021 bahwa jumlah perusahaan perkebunan tercatat 264 unit perusahaan, yang mempunyai Izin Usaha Perkebunan (IUP) sebanyak 229 perusahaan dengan luas IUP ± 1.849.719,3770 Ha, yang telah mendapat pelepasan kawasan hutan ± 1.404.460,8900 Ha. Dari 229 Perusahan yang memiliki IUP tersebut, yang telah memiliki HGU baru sebanyak 150 perusahaan dengan luas ± 1.079.562,5109 Ha atau baru sebesar 65,5% dari yang seharusnya memiliki HGU, sehingga jumlah perusahaan yang belum memilki HGU ada sebanyak 79 perusahaan. Salah satu penyebab perusahaan belum memiliki HGU karena perusahaan belum menindaklanjuti sesuai pertauran perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Riau sedang melakukan proses identifikasi perusahaan-perusahaan yang belum memilki HGU dengan menyurati kepada Bupati/Walikota agar memberi peringatan kepada perusahaan yang belum memiliki agar mengurus HGU, jika tidak maka izin perusahaan perkebunannya atau IUP nya akan dicabut.

8. Menyangkut luas lahan HPL, HGU, dan HGB yang telah diterbitkan izin nya dan kemudian dan ditetapkan sebagai lahan terlantar di Provinsi Riau. Tanah terlantar yang sudah ditetapkan sebagai objek redistribusi tanah yaitu seluas 219,18 Ha yang merupakan tanah eks HGU PT. Alfa Glory Indah yang terletak di Desa Petai Kecamatan Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi. Penetapan tanah terlantar

(8)

eks HGU PT. Alfa Glory Indah menjadi tanah objek redistribusi berdasarkan Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau Nomor 157/SK- 14.NP.02.03/VII/2020 tanggal 20 Juli 2020 dan Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau Nomor 176/SK-14.NP.02.03/VIII/2020 tanggal 31 Agustus 2020.

▪ PT. Alfa Glory Indah seluas 726,252 Ha ditetapkan menjadi tanah terlantar berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 10/PTT-HGU/BPN RI/2012 tanggal 18 Januari 2012 tentang Penetapan Tanah Terlantar Atas Hak Guna Usaha Nomor 03 Atas Nama PT.

Alfa Glory Indah terletak di Desa Petai Kecamatan Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau dan telah ditetapkan menjadi Tanah Cadangan Umum Negara (TCUN) berdasarkan Keputusan Menteri Agraria dan Tata Ruang /Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6/Pnp-HGU/KEM- ATR/BPN/VIII/2019 tanggal 22 Agustus 2019 tentang Penetapan Peruntukan Tanah Cadangan Umum Negara terletak di Desa Petai Kecamatan Singingi Hilir Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.

▪ Berdasarkan Berita Acara Panitia Pertimbangan Lendreform Kabupaten Singingi Nomor 171/BA-14.09.NT.02.03/VIII/2021 tanggal 20 Agustus 2021 tanah terlantar eks HGU PT. Alfa Glory Indah yang terletak di Desa Kebun Lado Kecamatan Singingi Kabupaten Kuantan Singingi seluas 185,78 Ha akan diusulkan untuk ditetapkan menjadi tanah objek redistribusi.

▪ Sedangkan rekapitulasi Pelaksanaan Redistribusi Tanah di Provinsi Riau dapat kami jelaskan pada table dibawah ini :

Rekapitulasi Pelaksanaan Redistribusi Tanah di Provinsi Riau No Kabupaten/Kota Jumlah

(Bidang) Luas (M2) Keterangan Tahun 2018

1 Siak 4.000 32.628.555 Pelepasan HGU

2 Indragiri Hilir 5.500 35.862.257 Pelepasan Kawasan Hutan, Tanah Negara

Total 9.500 68.490.812 Tahun 2019

1 Kampar 4.002 48.245.721 Pelepasan HGU, Tanah Negara

2 Rokan Hulu 4.629 40.016.757 Tanah Transmigrasi, Tanah Negara

(9)

No Kabupaten/Kota Jumlah

(Bidang) Luas (M2) Keterangan 3 Siak 1.454 22.779.755 Pelepasan HGU, Tanah

Negara

4 Kuantan Singingi 3.100 29.802.765 SK TOL lama, Tanah Negara 5 Pelalawan 2.804 23.811.913 Tanah Negara

Total 15.989 164.656.911 Tahun 2020

1 Bengkalis 750 10.660.949

Penyelesaian sengketa pertanahan dan kewajiban 20% pemegang HGU 2 Indragiri Hulu 1.508 15.081.484 Tanah Negara

3 Kampar 3.472 16.069.308 Tanah Negara

4 Dumai 750 4.857.354 Tanah Transmigrasi

5 Rokan Hulu 3.600 29.438.133 Tanah Transmigrasi, pelepasan HGU

6 Rokan Hilir 700 6.682.948 Pelepasan Kawasan Hutan, Tanah Negara

7 Siak 750 10.547.995 Tanah Negara

8 Kuantan Singingi 1.100 8.508.811

Tanah Negara,

Pendayagunaan Tanah Terlantar, SK TOL lama Total 12.630 101.846.982

Tahun 2021 Masih dalam Proses

1 Rokan Hulu 2.289 17.103.241 Tanah Transmigrasi, kewajiban 20% pemegang HGU

2 Rokan Hilir 1.551 17.072.980 Kewajiban 20% pemegang HGU

3 Siak 458 3.512.533 Tanah Negara, Pelepasan

Areal Perkebunan

(10)

No Kabupaten/Kota Jumlah

(Bidang) Luas (M2) Keterangan Total 4.298 37.688.754

Grand Total 42.417 372.683.459

9. Permasalahan tanah terlantar yang bersengketa di Provinsi Riau. Berdasarkan rekap data konflik pertanahan yang telah masuk ke Pemerintah Provinsi Riau sejak tahun 2020 hingga 2021 terdapat lebih kurang 60 kasus pertanahan yang diajukan dan sebagaian telah ditindaklanjuti serta difasilitasi, namun dari jumlah kasus yang masuk tersebut belum dapat kami tetapkan dalam kategori tanah terlantar atau tidak. Adapaun peran pemerintah Provinsi Riau dalam penanganan sengketa tersebut berupa fasilitasi dengan mengundang para pihak.

10. Permasalahan konflik dan sengketa berkepanjangan karena kasus tumpang tindih antara Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Provinsi Riau dengan pengelola izin HPL, HGU dan HGB.Peran Pemerintah Provinsi Riau dalam permasalahan konflik dan sengketa lahan adalah mem-fasilitasi para pihak dan instansi terkait untuk mencari win-win solution. Sebagai contoh;Klaim Masyarakat Suku Sakai terhadap HGU PT. ADEI Plantation ± 411 Ha.

11. Perizinan HPL, HGU dan HGB di Provinsi Riau yang dinyatakan tumpang tindih dengan kawasan hutan. Saat ini Pemerintah Provinsi Riau sedang melakukan proses pembahasan Revisi Perda No.10 tahun 2018 tentang RTRWProvinsi Riau (terdapat areal seluas: ±1,3 juta Ha yang pada Perda 10 tahun 1994 bukan merupakan kawasan hutan menjadi kawasan hutan pada Perda 10 tahun 2018.

Hal ini disebabkan oleh penetapan SK Menteri Kehutanan Nomor SK.903/Menlhk/Setjen/ Pla.2/12/2016 ). Pemprov Riau mengadaptasi kebijakan UU No. 11 tahun 2020 Tentang Cipta Kerja terkait Keterlanjuran di Kawasan Hutan dan Berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka identifikasi dan verifikasi kebun/lahan dalam kawasan hutan. Saat ini telah dilaksanakan koordinasi dengan Kabupaten Pelalawan dan Kuantan Singingi.

(11)

SEBARAN HAK DIDALAM KAWASAN HUTAN SETELAH DITETAPKANNYA SK 903/2016 DAN SEBELUMNYA DITETAPKAN BERDASARKAN TGHK

DI PROVINSI RIAU

No Kabupaten

HM HGB HGU

Jumlah

Bidang Luas (Ha) Jumlah

Bidang Luas (Ha) Jumlah

Bidang Luas (Ha)

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

1 Bengkalis 1014 1758,47 44 452,79 10 401,39

2 Indragiri Hulu 6601 12.534,25 55 91,31 18 26.770 3 Indragiri Hilir 1.022 737,42 18 30,03 52 567,56 4 Kampar 20.253 72.245,58 1.107 276,95 24 6.784,41 5 Kepulauan

Meranti 412 395,06 50 2,04 0 0

6 Kuantan

Singingi 9.071 72.245,58 71 145,1 12 8.966,23

7 Pelalawan 1.932 6.581,18 4 1,42 15 5.404,98

8 Rokan Hilir 693 1.773 52 79,34 9 4.007,48

9 Rokan Hulu 5.790 5.724,99 10 64,54 25 3.761,23

10 Siak 550 465 4 17,92 25 1.375,71

11 Dumai 3.202 1.273,56 502 27,83 0 0

12 Pekanbaru 173 118,91 2 0,09 3 1,77

Jumlah 50.713 175.853,21 1.919 1.189,36 193 58.040,76

12. Peran Bank tanah di Provinis Riau dalam menampung aset aset tanah terlantar dari HGU, HGB dan HPL yang telah melewati jangka waktu dan untuk dimanfaatkan dan digunakan untuk kepentingan umum. Sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 64 Tahun 2021 Tentang Bank Tanah sampai saat ini

(12)

belum ada Petunjuk Teknis/Aturan sebagai dasar pelaksanaan Bank Tanah belum ada.

13. Permasalahan izin dan pengelolaan HGU, HGB dan HPL dengan UU No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Kendala yg dihadapi oleh Kanwil BPN Prov. Riau terhadap permasalahan HGU, HGB dan HPL adalah ditemukannya beberapa permohonan HAT yang pemanfaatan ruangnya sudah tidak sesuainya dengan Perda RTRW yang berlaku,sementara pada tanah tersebut sebelumnya telah lahir Hak ataupun Izin yang dikeluarkan oleh Instansi yang berwenang, karna memang pada saat hak/izin diberikan secara tata ruang pemanfaatannya memang telah sesuai dengan perda rtrw yang berlaku saat itu, namun dengan disahkannya UUCK diharapkan permasalahan permohonan HAT yg sebelumnya telah memiliki Hak ataupun Izin dari Instansi yang berwenang namun sudah tidak sesuai dengan RTRW yang berlaku saat ini dapat diselesaikan, untuk itu Kanwil BPN Prov. Riau berharap peraturan pelaksana dari PP 43 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Ketidaksesuaian Tata Ruang, Kawasan Hutan, Izin, dan/atau Hak Atas Tanah terutama tentang Keterlanjuran yang dimaksud pada pasal 12 ayat (1) huruf b dapat segera dikeluarkan oleh Instansi terkait.

Kendala lain diantaranya;

▪ Konflik batas antar daerah dalam perizinan yang tidak sesuai batas administrasinya

▪ Konflik agraria yang terjadi antara masyarakat dan badan usaha karna tidak sesuai izin atau hak maupun penguasaan.

▪ Pemanfaatan tidak sesuai dengan tata ruang, lokasipembangunan tdk sesuai dengan peruntungkan dalam RTRW dan tata ruang

▪ Kerusakan ekologi, penerbitan perizinain yang tidak sesuai.

Kemudian kendala perizinan maupun pengelolaan terkait penerbitan HGU, HGB, dan HPL adalan irisan dengan pemanfaatan ruang yang telah direncanakan dalam rencana tata ruang.Setiap kegiatan pada rencana pola ruang telah diatur lebih lanjut dalam Indikasi Arahan Peraturan Zonasi Sistem Provinsi (IAPZSP) maupun Ketentuan Umum Peraturan Zonasi (KUPZ) pada rencana tata ruang.Meskipun demikian, terdapat beberapa kendala diantaranya tumpang tindih perizinan dengan rencana tata ruang dan kawasan hutan kendati telah diakomodir dalam IAPZSP dan KUPZ. Penyelesaian kendala tersebut dapat ditindaklanjuti lebih lanjut pada saat penyusunan revisi rencana tata ruang ataupun berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Ketidaksesuaian Tata Ruang, Kawasan Hutan, Izin dan/atau Hak Atas Tanah melalui penilaian Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDTLH).

Penilaian DDDTLH dilakukan untuk mengukur aktifitas/kegiatan empiris belum melampaui DDDTLH.Meski Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Ketidaksesuaian Tata Ruang, Kawasan Hutan, Izin dan/atau Hak Atas Tanah telah mengamanatkan untuk penyelesaian keterlanjuran melalui

(13)

penilaian Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (DDDTLH), namun belum memberikan penegasan terhadap institusi yang akan melakukan penilaian.

14. Pemprov Riau dalam menyikapi permasalahan kasus penguasaan tanah oleh PT.

Chevron Pacific Indonesia (PT. CPI) yang membentang sepanjang jalan dari jalan poros rumbai menuju Dumai sepanjang 180 KM dengan lebar tanah 100 Meter dikanan dan kiri jalan yang diklaim sebagai lahan konsesi diperuntukan kepentingan PT. CPI dalam membangun jalan dan membuat jalur pipanisasi minyak milik PT. CPI. Permasalahan tumpang tindih tanah milik masyarakat dengan Barang Milik Negara (BMN) Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang digunakan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) PT Chevron Pasifik Indonesia (PT CPI) dalam rangka kegiatan Hulu Migas sebagaimana surat dari Kementerian Keuangan Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Tanggal 7 November 2017 Nomor: S-884/KN.4/2017 perihal Keterangan Barang Milik Negara juga menjadi hambatan dalam Pelaksanaan Pengadaan Tanah Jalan Tol Pekanbaru-Kandis-Dumai di Provinsi Riau. Adapun langkah-langkah penyelesaian yang diambil sebagai berikut:

1) Pemberian ganti kerugian hanya untuk tanam-tumbuh dan/atau bangunannya saja, sedangkan tanah masyarakat yang ada alas haknya (Sertipikat dan surat- surat tanah yang diterbitkan oleh Kepala Desa/Lurah) nilai tanahnya dikonsinyasikan ke Pengadilan Negeri setempat;

2) Menerbitkan Berita Acara Penitipan Ganti Kerugian karena obyek Pengadaan Tanah masih dipersengketakan kepemilikannya ke Pengadilan Negeri setempat. Pengambilan uang ganti kerugian di Pengadilan dapat dilakukan setelah adanya putusan yang berkekuatan hukum tetap;

3) Menerbitkan Pemutusan Hubungan Hukum setelah menerima penetapan konsinyasi dari Pengadilan Negeri sehingga pembangunan jalan tol tetap dapat dilaksanakan;

4) Pemprov Riau telah mengajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia cq.

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) untuk membahas permasalahan ini Bersama dengan BPN dan Kementerian PUPR, namun belum mendapatkan solusi yang tepat dari DJKN;

5) Permasalahan tersebut sudah pernah dilakukan Dengar Pendapat Umum (hearing) sebanyak 2 (dua) kali pada tahun 2018 dan tahun 2019 di Kantor DPRD Kabupaten Siak, antara masyarakat Kecamatan Kandis Kabupaten Siak (atas nama Medan Br Ribka Surbakti, dkk) dengan turut memanggil perwakilan dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), SKK Migas dan PT Chevron Pasifik Indonesia (PT CPI);

6) Permasalahan tersebut juga telah dibahas (mediasi) bersama Komisi Nasional Hak Azasi Manusia Republik Indonesia cq. Subkomisi Penegakan Hak Azasi Manusia sebagaimana surat Komnas HAM Nomor: 376/K/Mediasi/VI/2019 Tanggal 18 Juni 2019 dan telah diklarifikasi oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Siak melalui surat Nomor 35/P2T-S/VII/2019 Tanggal 29 Juli 2019 Perihal Klarifikasi Permasalahan Pengadaan Tanah Jalan Tol Pekanbaru- Kandis, Bersama dengan pemilik tanah di Kecamatan Kandis Kabupaten Siak (atas nama Medan Br Ribka Surbakti, dkk);

(14)

7) Masyarakat (pemilik tanah) yang terkena pembangunan jalan tol di desa Balai Raja kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis (atas nama Kartua Simbolon dkk) menggugat Kementerian Keuangan cq. SKK Migas, Kementerian PUPR dan Kanwil BPN Prov. Riau dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Bengkalis. Selanjutnya Pengadilan Negeri Bengkalis mengeluarkan Putusan Nomor: 36/Pdt.Bth/2020/PN-Bls Tanggal 9 Agustus 2021 menyatakan:

a. Dalam Eksepsi: Menolak eksepsi tergugat, turut tergugat I dan turut tergugat III untuk seluruhnya.

b. Dalam Pokok Perkara: Menolak gugatan para penggugat seluruhnya, Menghukum para penggugat untuk membayar biaya perkara.

c. Dalam hal ini para penggugat melakukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi Pekanbaru.

8) Masyarakat Dumai (pemilik tanah) yang terkena pembangunan jalan (atas nama Suwandi dkk) menggugat Kementerian Keuangan cq. SKK Migas, Kementerian PUPR dan Kanwil BPN Prov. Riau dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Dumai. Selanjutnya Pengadilan Negeri Dumai mengeluarkan Putusan Nomor: 41/Pdt.G/2020/PN-Dum Tanggal 3 Juni 2021 menyatakan:

a. Dalam Eksepsi: Menerima eksepsi tergugat II (Kementerian Keuangan).

b. Dalam Pokok Perkara: Menyatakan gugatan para penggugat tidak dapat diterima (NO), Menghukum para penggugat untuk membayar biaya perkara.

c. Dalam hal ini para penggugat tidak melakukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi Pekanbaru.

C. Paparan Kepala Kantor Wilayah BPN Riau

Adapun beberapa hal yang disampaikan oleh Kepala Wilayah BPN Provinsi Riau sebagai berikut:

1. Jumlah perizinan HPL, HGU dan HGB yang dikuasai oleh Negara (BUMN/BUMD) dan Swasta di Provinsi Riau

a. Jumlah HPL yang masih aktif di Provinsi Riau 25 Bidang dengan luas ± 4.760,89 Ha. Dengan rincian sebagai berikut:

▪ PEMDA sebanyak 22 Bidang dengan luas ±81,24 Ha.

▪ BUMN/BUMD sebanyak 2 Bidang dengan luas ±1,94 Ha.

▪ Transmigrasi sebanyak 1 Bidang dengan luas ± 4.677,71 Ha.

b. Jumlah HGU BUMN/BUMD dan Swasta yang masih aktif di Provinsi Riau 495 Bidang dengan luas ± 1.001.809 Ha.

▪ BUMN sebanyak 66 Bidang dengan luas ±192.002 Ha.

▪ BUMD sebanyak 3 Bidang dengan luas ±1.594 Ha.

▪ Swasta sebanyak 416 Bidang dengan luas ±806.416 Ha.

▪ Perorangan sebanyak 10 Bidang dengan luas ± 1.797 Ha.

c. Jumlah HGB BUMN/BUMD dan Swasta yang masih aktif di Provinsi Riau 16.738 Bidang dengan luas ± 15.765,07 Ha. Dengan rincian sebagai berikut:

▪ BUMN/BUMD sebanyak 9.820 Bidang dengan luas ± 11.496 Ha.

(15)

▪ Swasta sebanyak 6.918 Bidang dengan luas ± 4.269,41 Ha.

2. Jumlah perizinan HPL, HGU dan HGB yang telah berakhir jangka waktunya Provinsi Riau

NO KANTOR PERTANAHAN

YANG TELAH BERAKHIR HAK YANG TELAH DI PERPANJANG

HGU HGB BADAN HUKUM

HPL BUMN/

BUMD HGU

HGB BADAN HUKUM

HPL BUMN/

BUMD

1 2 3 4 5 6 7 8

1 Kota Pekanbaru 5 626 - 4 626 -

2 Kabupaten

Bengkalis 20 - - 20 - -

3 Kabupaten

Indragiri Hulu 5 - - 5 - -

4 Kabupaten

Indragiri Hilir 2 9 - 2 - -

5 Kabupaten

Kampar - - - - - -

6 Kota Dumai - 19 - - - -

7 Kabupaten Rokan

Hilir 1 2 - - - -

8 Kabupaten Rokan

Hulu 4 11 - 4 - -

9 Kabupaten Siak - - - - - -

10 Kabupaten

Kuantan Singingi 2 11 - 2 - -

11 Kabupaten

Pelalawan 12 441 - 12 441 -

12 Kabupaten

Kepulauan Meranti - 5 - - 4 -

TOTAL 51 1.124 - 49 1071 -

Sumber data: Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota Se Provinsi Riau

Catatan:

Berdasarkan PP 18 Tahun 2021 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah berbunyi:

Pasal 12 ayat:

(1) “Hak Pengelolaan tidak dapat dijadikan jaminan utang”;

(2) “Hak Pengelolaan tidak dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain”;

(3) “Hak Pengelolaan hanya dapat dilepaskan dalam hal diberikan hak milik, dilepaskan untuk kepentingan umum, atau ketentuan lain yang diatur dalam peraturan Perundang – undangan.

Pasal 14 ayat:

(1) “Hak pengelolaan hapus karena:

a. dibatalkan haknya oleh Menteri karena:

1. Cacat Administrasi; atau

2. Putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

(16)

b. dilepaskan secara sukarela oleh pemegang haknya;

c. dilepaskan untuk kepentingan umum;

d. dicabut berdasarkan Undang – Undang;

e. diberikan hak milik;

f. ditetapkan sebagai Tanah terlantar; atau g. ditetapkan sebagai tanah musnah.

(2) Dalam hal Hak Pengelolaan dibatalkan karena cacat administrasi sebagaimana huruf a angka 1, Hak Atas Tanah diatas HPL dapat dinyatakan batal apabila dinyatakan dalam surat keputusan pembatalan hak;

(3) Dalam hal Hak Pengelolaan dibatalkan karena pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a angka 2, Hak Atas Tanah diatas HPL dapat dinyatakan batal sepanjang amar putusan pengadilan mencantumkan batalnya Hak Atas Tanah diatas HPL.

3. Luas lahan HPL, HGU dan HGB ditetapkan sebagai lahan terlantar a. luas Tanah HPL, HGU, HGB yang terindikasi tanah terlantar yaitu:

▪ Luas HGU seluas 48.798,97 Ha.

▪ Luas HGB seluas 129,19 Ha.

▪ Luas HPL tidak ada.

b. HGU yang sudah ditetapkan sebagai tanah terlantar dan sudah ditetapkan yaitu

PT. Alfa Glory Seluas 726.250 Ha. di Kabupaten Kuantan Singingi berdasarkan SK Menteri Agraria dan Tata Ruang No. 10/PTT-HGU/BPNRI/2012 tanggal 18 Januari 2012.

Terhadap tanah terlantar yang belum terdata, dapat diketahui setelah dilakukan Identifikasi terhadap tanah yang terindikasi tanah terlantar, yang pelaksanaan kegiatannya dilakukan sesuai DIPA.

c. Luas tanah terlantar yang sudah ditetapkan sebagai tanah negara

Luas Tanah HGU yang tanah terlantar dan sudah ditetapkan yaitu PT. Alfa Glory Seluas 726.250 Ha. di Kabupaten Kuantan Singingi berdasarkan SK Menteri Agraria dan Tata Ruang No. 10/PTT-HGU/BPNRI/2012 tanggal 18 Januari 2012.

d. Luas Tanah terlantar yang sudah menjadi obyek redistribusi lahan atau obyek Reforma Agraria.

Bahwa luas tanah yang sudah ditetapkan seluas 726,250 Ha berdasarkan SK Menteri Agraria dan Tata Ruang No. 10/PTT-HGU/BPNRI/2012 tanggal 18 Januari 2012, kemudian yang sudah ditetapkan sebagai objek Redistribusi Tanah untuk tahap pertama seluas 219,18 Ha berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau No. 157/SK-14.MP.02.03/VII/2020 tanggal 20 Juli 2020 dan selanjutnya untuk tahap kedua ditetapkan seluas

(17)

185,78 Ha berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Riau No. 176/SK-14.MP.02.03/VIII /2020 tanggal 31 Agustus 2020.

Terhadap sisa luas 321,292 ha masih terdapat masalah batas desa yang perlu diselesaikan: Bahwa pemilik tanah berada diluar letak tanah (absente) dan banyaknya penguasaan masyarakat terhadap tanah pertanian yang melebihi batas maksimum (lebih dari 5 Ha).

e. Luas Tanah terlantar yang sudah didayagunakan oleh BPN

Luas Tanah terlantar yang sudah didayagunakan melalui Reforma Agraria;

Tahap pertama tahun 2020 seluas 219,18 Ha sebanyak 175 Bidang.

Tahap kedua tahun 2021 seluas 185,78 Ha sebanyak 120 Bidang.

f. Luas tanah terlantar yang belum di inventarisir oleh BPN

Terhadap tanah terlantar yang belum terdata, dapat diketahui setelah dilakukan Identifikasi terhadap tanah yang terindikasi tanah terlantar, yang pelaksanaan kegiatannya dilakukan sesuai DIPA.

g. Luas lahan yang berhasil diredistribusikan oleh Pemerintah untuk kepentingan umum,

Yang dapat kami laporkan adalah redistribusi tanah untuk kepentingan masyarakat, yaitu sesuai tabel dibawah ini:

No Kabupaten/Kota Jumlah

(Bidang) Luas (M2) Keterangan Tahun 2018

1 Siak 4.000 32.628.555 Pelepasan HGU dari PT MEG 2 Indragiri Hilir 5.500 35.862.257 Tanah Negara dari Pelepasan

Kawasan Hutan Total 9.500 68.490.812

Tahun 2019

1 Kampar 4.002 48.245.721

Tanah Negara dari Pelepasan Kawasan Hutan, Penyelesaian Konflik

2 Rokan Hulu 4.629 40.016.757 Tanah Transmigrasi, 20%

Pelepasan HGU PT SAI

3 Siak 1.454 22.779.755 Pelepasan HGU PT MEG, Tanah Garapan

4 Kuantan Singingi 3.100 29.802.765 SK TOL lama, Tanah Garapan 5 Pelalawan 2.804 23.811.913 Tanah Garapan

Total 15.989 164.656.911

(18)

No Kabupaten/Kota Jumlah

(Bidang) Luas (M2) Keterangan Tahun 2020

1 Bengkalis 750 10.660.949

Penyelesaian sengketa

pertanahan dan kewajiban 20%

pemegang HGU PT. ADEI Plantation

2 Indragiri Hulu 1.508 15.081.484 Tanah Garapan 3 Kampar 3.472 16.069.308 Tanah Garapan 4 Dumai 750 4.857.354 Tanah Transmigrasi

5 Rokan Hulu 3.600 29.438.133

Penyelesaian masalah SKP Tanah Transmigrasi, 20%

Kewajiban Plasma HGU PT GPH 6 Rokan Hilir 700 6.682.948 Tanah Hasil Perubahan Batas

Kawasan Hutan, Tanah Garapan

7 Siak 750 10.547.995 Tanah Garapan

8 Kuantan Singingi 1.100 8.508.811

Tanah Garapan, Pendayagunaan Tanah Terlantar PT Alpha Glory, SK TOL lama

Total 12.630 101.846.982

Tahun 2021 Masih dalam Proses

1 Rokan Hulu 2.289 17.103.241 Tanah Transmigrasi

2 Rokan Hilir 1.551 17.072.980 Kewajiban 20% pemegang HGU PT. Jatim Jaya Perkasa

3 Siak 458 3.512.533 Tanah Garapan, Pelepasan Areal Perkebunan PT.RGM Total 4.298 37.688.754

Grand Total 42.417 372.683.459

Sumber data: Bidang Penataan Pertanahan Kanwil BPN Provinsi Riau

(19)

4. Menyangkut HPL, HGU dan HGB yang melebihi ketentuan batas izin pengelolaan

Berdasarkan Peraturan Menteri ATR. No. 17 Tahun 2019 tentang Izin Lokasi dan Surat Edaran Menteri ATR/Kepala BPN Nomor: 6/SE-HM.01/IX/2019 tanggal 30 September 2019 tentang Pengendalian Pemilik Manfaat dan Perusahaan Terafiliasi dalam Proses Penetapan dan Peralihan Hak Atas Tanah, bahwa berdasarkan data Komputerisasi Kantor Pertanahan tidak ditemukan penerbitan HGU, HGB dan HPL yang diperoleh oleh Badan Hukum Negara/Daerah maupun Swasta yang melebihi izin lokasi.

5. Permasalahan ketidaksesuaian Izin HPL, HGU dan HGB dengan kenyataan riil yang ada di lapangan

Ketidaksesuaian Peruntukan terdapat 10 Bidang:

a. Di Kabupaten Pelalawan terdapat 2 bidang HGU No. 146 dan 147 atas nama PT. Trisetia Usaha Mandiri;

b. Di Kabupaten Kuantan Singingi terdapat 2 bidang HGB 01, HGB 02 atas nama PT. Citra Riau Sarana;

c. Di Kabupaten Rokan Hulu terdapat 2 bidang HGB No 1 PT. Fortius Agro Asia, HGB No 03 PT. Sontang Sawit Permai;

d. Di Kabupaten Bengkalis terdapat 3 bidang HGB No. 10, 38, 42 atas nama PT.

Pertamina Persero;

e. Di Kabupaten Rokan Hilir terdapat 1 Bidang HGB No. 01 atas nama PT. Sinar Dana Caraka.

6. Izin HPL, HGU dan HGB yang belum digunakan sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian haknya karena keterbatasan modal dan karena alasan lainnya

a. Untuk HGU terdapat 2 (dua) bidang yang belum dimanfaatkan sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian haknya yaitu HGU No. 146 dan 147 atas nama PT. Trisetia Usaha Mandiri.

b. HGB yang belum digunakan sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian haknya karena keterbatasan modal

NO KAB/ KOTA LUAS (M2)

HASIL PEMANTAUAN SESUAI (M2)

BELUM

DIMANFAATKAN KARENA KURANG MODAL (M2)

1 2 3 4 5

1 Kabupaten Bengkalis 58.871 8.545 50.326

2 Kabupaten Indragiri

Hilir 32.291 - 32.291

(20)

3 Kabupaten Kampar 28.234 - 28.234

4 Kabupaten Rokan Hilir 5.395 - 5.395

5 Kabupaten Rokan

Hulu 18.960 - 18.960

6 Kabupaten Kuantan

Singingi 69.484 - 69.484

JUMLAH 213.235 8.545 204.690

Sumber data: Kantor Pertanahan Kab/Kota Se Provinsi Riau

7. Izin HPL, HGU dan HGB yang masuk dalam perubahan Rencana Tata Ruang dan Wilayah

NO Kabupaten/Kota RTRW Kabupaten/Kota HGU/HGB/HPL dalam perubahan RTRW

RTRW RTRW Revisi Jumlah (Bidang) Luas (Ha)

1 2 3 4 5 6

1 Kota Pekanbaru Perda RTRW Nomor 04/1993

Perda RTRW

Nomor 7/2020 0 0

2 Kabupaten Bengkalis Perda RTRW Nomor 19/2004

Masih dalam Proses

HGU; 11 HGB: 42

HGU: 679,75 Ha

HGB: 313,68 Ha

3 Kabupaten Indragiri

Hulu - Masih dalam

Proses

HGU: 24 HGB: 60

HGU:

29558,71 Ha HGB: 114,95 Ha

4 Kabupaten Indragiri Hilir

Perda RTRW Nomor 02/1994

Masih dalam Proses

HGU: 11 HGB: 24

HGU: 2518,41 Ha

HGB: 79,37 Ha

5 Kabupaten Kampar Perda RTRW Nomor 11/1999

Perda RTRW Nomor 11/2019

HGU: 18 HGB: 1142

HGU:

8.153,04 Ha HGB: 273,93 Ha

6 Kota Dumai Perda RTRW Nomor 11/2002

Perda RTRW Nomor 15/2019

HGU: 0 HGB: 350

HGU: 0 HGB: 35,05 Ha

7 Kabupaten Rokan Hilir Perda RTRW Nomor 27/2002

Masih dalam Proses

HGU: 5 HGB: 51

HGU: 2.321 Ha

HGB: 88,52 Ha

8 Kabupaten Rokan Hulu

Perda RTRW Nomor 19/2003

Perda RTRW Nomor 1/2020

HGU: 31 HGB: 1.906

HGU:

72.038,28 Ha HGB: 45,45 Ha

9 Kabupaten Siak Perda RTRW Nomor 01/2002

Perda RTRW

Nomor 1/2020 0 0

(21)

10 Kabupaten Kuantan Singingi

Perda RTRW Nomor 01/2004

Masih dalam Proses

HGU: 12 HGB: 70

HGU: 3670,29 Ha

HGB: 82,92 Ha

11 Kabupaten Pelalawan Perda RTRW Nomor 23/2001

Perda RTRW Nomor 7/2019

HGU: 53 HGB: 4

HGU:

4.884,16 Ha HGB: 1,41 Ha 12 Kabupaten Kepulauan

Meranti - Perda RTRW

Nomor 8/2020

HGU: 0 HGB: 9

HGU: 0 HGB: 1,23 Ha

JUMLAH HGU: 165

HGB: 3.658

HGU :

123.823,6 Ha

HGB :

1.036,51 Ha Sumber data: Bidang Penataan dan Pemberdaan Kanwil BPN Provinsi Riau

8. Izin HGU yang baru maupun yang akan diperpanjang dalam mewajibkan 20%

luas lahan diberikan dari total luas lahan HGU kepada Perkebunan Plasma

No KANTOR PERTANA

HAN

JUMLAH HGU KESELU

RUHAN

HGU YANG TERBIT SETELAH TAHUN 2014 (KEWAJIBAN PLASMA 20%)

PEMBERIAN HGU

PERPANJAN GAN/

PEMBARUAN HGU

JUMLAH HGU

LUAS HGU (Ha)

LUAS KEWAJIBA N PLASMA

(Ha)

1 2 3 4 5 6 7 8

1 Kota

Pekanbaru 5 - - - - -

2 Kabupaten

Bengkalis 38 - 1 1 11.571,17 2.416,82

3 Kabupaten Indragiri Hulu

89 39 7 46 10.173,53 1.429,41

4 Kabupaten Indragiri Hilir

36 - - - - -

5 Kabupaten

Kampar 81 5 - 5 4.099,86 778,6

6 Kota Dumai 2 - 1 1 18,71 -

7 Kabupaten

Rokan Hilir 58 - - - - -

8 Kabupaten

Rokan Hulu 41 10 4 14 33.837,38 9.303,08

9 Kabupaten

siak 34 8 - 8 868,38 298,10

10 Kabupaten Kuantan Singingi

26 - 6 6 7.717,771

3 4.874

11 Kabupaten

Pelalawan 85 16 - 16 8.155,32 2.796,13

12 Kabupaten

Kepulauan 0 - - - - -

(22)

Meranti

TOTAL 495 78 19 97 78.982,47 22.413,93

Sumber data: Komputerisasi Kantor Pertanahan Kabupaten Kota Se. Provinsi Riau.

Catatan: Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pengaturan dan Tata Cara Penetapan Hak Guna Usaha untuk HGU di bawah 250 Ha tidak dikenakan kewajiban memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat sekitar.

9. Tanah masyarakat diklaim Oleh Kementrian Kehutanan masuk sebagai tanah Kawasan hutan

NO Kabupaten/Kota

Sertipikat dalam Kawasan hutan Jumlah

(Bidang) Luas (Ha)

1 2 3 4

1 Kota Pekanbaru 117 168,10

2 Kabupaten Bengkalis 3.105 3.171,42

3 Kabupaten Indragiri Hulu 8.131 41.155,53 4 Kabupaten Indragiri Hilir 4.454 7.635,97

5 Kabupaten Kampar 10.910 10.000,10

6 Kota Dumai 3.933 1.423,89

7 Kabupaten Rokan Hilir 2.902 5.460,10

8 Kabupaten Rokan Hulu 9.558 13.495,49

9 Kabupaten Siak 2.461 2.823,19

10 Kabupaten Kuantan

Singingi 5.477

9.214,86

11 Kabupaten Pelalawan 7.256 11.578,19

12 Kabupaten Kepulauan

Meranti 1.219

732,59

JUMLAH 23.495 67.423, Ha

Sumber data: Kantor Pertanahan Kab/Kota Se Provinsi Riau dan Bidang Penataan dan Pemberdayaan Kanwil BPN Provinsi Riau

(23)

10. Sengketa yang masuk dalam ranah hukum Pengadilan terkait dengan izin HPL, HGU dan HGB

Terdapat 11 sengketa yang masuk dalam ranah hukum pengadilan yaitu 3 HGU dan 8 HGB, yang terdiri dari:

a. HGU No. 02/Kelasa dan HGU No. 3/Payarambai An. PT. Kencana Amal Tani atas tanah yang terletak di Desa Belimbing, Kelesa, Ringan, dan Kelurahan Pangkalan Kasai Kabupaten Indragiri Hulu dengan Register Perkara No. 11/Pdt.G/2020/PN.Rgt antara Masyarakat an. Paijan, Dk., dengan PT. Kencana Amal Tani, perkara pada saat ini dalam proses kasasi;

yang inti amar putusan Pengadilan Tinggi Pekanbaru : Dalam Provisi: Menolak Tuntutan Provisi dari Penggugat.

Dalam Eksepsi: Menolak seluruh eksepsi dari para Tergugat.

Dalam Pokok Perkara: Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya Upaya Penyelesaian dari Kantor Pertanahan Kabupaten Indragiri Hulu sebelumnya tidak ada karena para pihak langsung mengajukan gugatan melalui jalur litigasi

b. HGU No. 03/Sekijang PT. Cipta Daya Sejati Luhur atas tanah yang terletak di Kelurahan Sekijang Kecamatan Bandar Sekijang Kabupaten Pelalawan dengan Register Perkara No. 3/G/2017/PTUN.PBR antara Syafri dengan PT.

Cipta Daya Sejati Luhur, perkara pada saat ini sudah selesai (incrach).

Upaya Penyelesaian/penanganan dari Kantor Pertanahan Kabupaten Pelalawan sebelumnya tidak ada karena para pihak langsung mengajukan gugatan melalui jalur litigasi/pengadilan

c. HGU No. 11/2005/Pedamaran An. PT. Jatim Jaya Perkasa atas tanah yang terletak di Desa Pedamaran Teluk Bano, Kecamatan Pekaitan Kab. Rokan Hilir Dengan Register Perkara No. 75/Pdt.G/2016/PN. RHL Jo.

141/PDT/2017/PT. PBR antara Ali Marwin, Dkk dengan PT. Jatim Jaya Perkasa dan Kantor Pertanahan Kab. Rokan Hilir, perkara pada saat ini sudah selesai (Incrach).

Inti amar putusan Pengadilan Tinggi: Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri No. 75/Pdt.G/2016/PN. RHL permohonan banding yang diajukan oleh Kuasa Hukum Pembanding I, II, III dan IV, semula Penggugat I, II, III dan IV tersebut ;

Inti amar putusan Pengadilan Negeri: Pengadilan Negeri Rokan Hilir tidak berwenang untuk memeriksa mengadili Perkara.

Upaya Penyelesaian/penanganan dari Kantor Pertanahan Kabupaten Rokan Hilir, para pihak mengajukan gugatan melalui jalur litigasi/pengadilan.

d. HGB No. 4 PT Panca Surya Garden atas tanah yang terletak di Desa Teratak Buluh, Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar dengan Register Perkara No. 2/G/2021/PTUN.Pbr antara Sahnan Siregar dengan Kantah Kab. Kampar, perkara tersebut telah terbit putusan di Pengadilan Tata Usaha Pekanbaru (PTUN) dan telah berkekuatan hukum tetap;

Upaya Penyelesaian/penanganan dari Kantor Pertanahan Kabupaten Kampar sebelumnya tidak ada karena para pihak langsung mengajukan gugatan melalui jalur litigasi/pengadilan

(24)

e. Sertipikat HGB No. 6450/Desa Baru An. PT. Torganda atas tanah yang terletak di Desa Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar dengan Register Perkara No. 21/Pdt.G/2020/PN.Bkn antara. Jaja Suprijadi dengan PT. Torganda, dkk, perkara tersebut saat ini telah terbit putusan pengadilan Tinggi (Banding) dan telah berkekuatan hukum tetap.;

Upaya penyelesaian/penanganan dari BPN (Kantah Kampar) pernah dilakukan untuk memediasi para pihak serta melakukan peninjauan lapangan namun tidak terdapat kesepakatan diantara para pihak sehingga para pihak memilih jalur hukum pengadilan

f. HGB No. 152 PT. Perkebunan Nusantara V atas tanah yang terletak di Desa Pantai Raja, Penghentian Raja Kabupaten Kampar dengan Register Perkara No. 90/Pdt.G/2020/PN.BKN antara Gasdianto dengan PT. Perkebunan Nusantara V, perkara pada saat ini dalam proses banding.

Bahwa pihak Penggugat langsung mengajukan gugatan

g. HGB No. 1/1990 PT. Pelindo Kabupaten Siak dengan Register perkara No. 32/Pdt.G/2021/PN.Sak antara Katimah dengan PT. Pelindo, perkara

pada saat ini pada tahap mediasi di Pengadilan Negeri Siak;

Upaya penyelesaian/penanganan sengketa difasilitasi Pemerintah Daerah Siak dengan mengundang Kantor Pertanahan Kabupaten Siak. Karena tidak tercapai kesepakatan, ditempuh jalur hukum pengadilan.

h. Hak Guna Bangunan No. 524/Delima atas nama RA Maslena Dewi atas tanah yang terletak di Kelurahan Delima Kecamatan Tampan dengan

Register Perkara No. 184/Pdt.G/2020/PN Pbr antara Mimin Mintarsih dengan RA Maslena Dewi, perkara tpada saat ini sudah selesai;

Upaya Penyelesaian/penanganan dari Kantor Pertanahan (Kantah Kota Pekanbaru) sebelumnya tidak ada karena para pihak langsung mengajukan gugatan melalui jalur litigasi/pengadilan

i. HGB No 29 tahun 1997 an. PT Surya Dumai Land Perkasa, HGB No 30 tahun 1998 an. PT Surya Dumai Land Perkasa,HGB No 32 tahun 1988 an.

PT Surya Dumai Land Perkasa, HGB No 33 tahun 1998 an. PT Surya Dumai Land Perkasa, HGB No 34 tahun 1998 an. PT Surya Dumai Land Perkasa, HGB No 35 tahun 1998 an. PT Surya Dumai Land Perkasa, atas tanah yang terletak Kelurahan Simpang Empat, Kecamatan Pekanbaru dengan Register Perkara No 17/Pdt.G/2020/PN Pbr antara Busrial dengan PT. Surya Dumai Land Perkasa, dan Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru, perkara pada saat ini Proses Kasasi;

Upaya Penyelesaian/penanganan dari Kantor Pertanahan (Kantah Kota Pekanbaru) sebelumnya tidak ada karena para pihak langsung mengajukan gugatan melalui jalur litigasi/pengadilan.

j. HGB nomor 344/Padang Terubuk dan Sertifikat Hak Guna Bangunan nomor 438/Padang Terubuk atas tanah yang terletak Kelurahan Padang Terbuk, Kecamatan Senapelan, dengan Register Perkara No. 183/Pdt.G/2021/PN Pbr antara Paulina Simatupang,dkk dengan Hajjah Mariani,dkk, dan Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru, perkara pada saat ini sedang berjalan di Pengadilan Negeri Pekanbaru;

(25)

Upaya Penyelesaian/penanganan dari Kantor Pertanahan (Kantah Kota Pekanbaru) sebelumnya tidak ada karena para pihak langsung mengajukan gugatan melalui jalur litigasi/pengadilan

k. HGB No. 534/Sidomulyo Timur atas tanah yang terletak Kelurahan Sidomuilyo Timur, Kecamatan Marpoyan Damai dengan Register Perkara No. 170/Pdt.G/2021/PN Pbr antara ABD. Kadir dengan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna,dkk dan Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru, perkara pada saat ini sedang berjalan di Pengadilan Negeri Pekanbaru;

Upaya Penyelesaian/penanganan dari Kantor Pertanahan (Kantah Kota Pekanbaru) sebelumnya tidak ada karena para pihak langsung mengajukan gugatan melalui jalur hukum litigasi/pengadilan.

11. Sengketa antara masyarakat hukum adat dengan izin HPL, HGU dan HGB a. Klaim Masyarakat Suku Pantai Raja terhadap HGU PTPN V di Kabupaten

Kampar seluas ± 150 Ha.

b. Klaim Suku Penghulu Setio dirajo terhadap HGU PT. Sarikat Putra ± 6.767,65 Ha.

12. Perizinan HPL, HGU dan HGB tumpang tindih dengan kawasan hutan

No Kabupaten

HPL HGB HGU

Jumlah

Bidang Luas (Ha) Jumlah

Bidang Luas (Ha) Jumlah

Bidang Luas (Ha)

1 2 3 4 5 6 7 8

1 Bengkalis - - 44 452,79 10 401,39

2 Indragiri Hulu - - 55 91,31 18 26.770

3 Indragiri Hilir - - 18 30,03 52 567,56

4 Kampar - - 1.107 276,95 24 6.784,41

5 Kepulauan

Meranti - - 50 2,04 - -

6 Kuantan

Singingi - - 71 145,1 12 8.966,23

7 Pelalawan - - 4 1,42 15 5.404,98

8 Rokan Hilir - - 52 79,34 9 4.007,48

9 Rokan Hulu - - 10 64,54 25 3.761,23

10 Siak - - 4 17,92 25 1.375,71

11 Dumai - - 502 27,83 - -

(26)

12 Pekanbaru - - 2 0,09 3 1,77

Jumlah - - 1.919 1.189,36 193 58.040,76

Sumber data: Penataan Pertanahaan dan Pemberdayaan Kanwil BPN Provinsi Riau

Terhadap konflik penyelesaian HGU, HGB dan HPL yang semula APL kemudian menjadi kawasan hutan (HPK), pihak Pemegang Hak Mengajukan permohonan pelepasan Kawasan Hutan Kepada Menteri KLHK cq. Dirjen Planalogi KLHK.

13. Perizinan HPL, HGU dan HGB tumpang tindih dengan izin/konsensi pertambangan

Tidak ada tumpang tindih dengan izin/konsensi pertambangan Swasta maupun BUMN/BUMD, namun dalam Permen ATR/BPN No.7/2017 sudah diberikan ruang koordinasi lintas sektor, dimana dalam pendaftaran, perpanjangan dan pembaharuan HGU melibatkan Panitia B yg anggotanya terdiri atas lintas sektor tersebut. Untuk sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi diwakili Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Riau yg melakukan klarifikasi dan fasilitasi PPLB (Perjanjian Pemanfaatan Lahan Bersama).

Saat ini dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memproses dan menerbitkan PPRB kepada 11 Pemegang HGU yaitu:

DAFTAR PEMEGANG HGU YANG MEMILIKI PERJANJIAN PEMANFAATAN LAHAN BERSAMA:

1) PT. Sinar Sawit Sejahtera;

2) PT. Air Jernih;

3) PT. Sumber Alam Makmur;

4) PTPN V;

5) PT. Graha Permata Hijau;

6) PT. Riau Anugrah Sentosa;

7) PT. Riau Agung Karya Abadi;

8) PT. INECDA;

9) PT. Sari Lembah Subur;

10) PT. Kimia Tirta Utama;

11) PT. Sawit Asahan.

14. Perusahaan Swasta yang tidak memilki Izin Lokasi dan Izin Usaha Perkebunan (IUP)

Berdasarkan :

a. PP Nomor 18 Tahun 2021 Tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah;

b. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 17 tahun 2019 tentang izin lokasi;

c. Surat Edaran Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nomor: 6/SE-HM.01/IX/2019 tanggal 30 September 2019 tentang

Pengendalian Pemilik Manfaat dan Perusahaan Terafiliasi dalam Proses Penetapan dan Peralihan Hak Atas Tanah.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak boleh melakukan tindakan yang menyangkut risiko pribadi atau tanpa pelatihan yang sesuai.. Evakuasi

Mulai mengomunikasikan kepada pimpinan atau rekan-rekan kerja tentang masa cuti yang akan diambil dan rencana menyusui saat bekerja sehingga ibu membutuhkan waktu dan

Strategi produk yang telah diterapkan Perusahaan Rendang KOKOCI yaitu : kualitas produk rendang telur KOKOCI dapat dilihat dari kualitas bahan baku yang digunakan, label

Dari kedua ragum tersebut dikembangkan konsep ragum 3 yang dapat berputar pada sumbu koordinat yang akan membantu dalam pengerjaan di mesin fris dan juga kerja

Dengan melihat grafik pada gambar 4.2 untuk produk 1TR diperoleh bahwa penyumbang nilai kompleksitas terbesar yaitu proses setting yang sangat dipengaruhi oleh

Namun demikian, kendati diskusi kelompok sudah dilakukan siswa merasa jenuh karena tidak ada variasi dalam kegiatan diskusi kelompok. Hasil wawancara pra penelitian

Pada proses keputusan pembelian, konsumen memiliki motivas iaman bagi kesehatan dan dengan mengkonsumsi sawi pakcoy hidroponik dapat mewujudkan gaya hidup sehat namun

Dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa terdapat perbedaan keberhasilan terapi fibrinolitik yang signifikan antara penderita STEMI dengan diabetes dan tidak