• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN

B. Paparan Temuan Penelitian

1. Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan

Pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan diadakan dengan tujuan untuk mendidik anak agar memiliki rasa peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah ini lebih ditekankan pada pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan yang wajib ditanamkan oleh guru kepada siswa baik di dalam maupun luar kelas.

Sebagaimana yang diutarakan oleh ustadz Dr. Abdullah Yeelah selaku Kepala Sekolah Menengah Assalihiyah sebagai berikut.

Pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah lebih ditekankan pada pembiasaan menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Pada setiap kegiatan belajar mengajar berlangsung, guru wajib menanamkan sifat-sifat yang murni kepada siswa yang termasuk dalam 8 hal, yang di antaranya adalah menerapkan sifat cermat dan melestarikan lingkungan dan di samping itu ada motivasi di luar kelas (wawancara dengan ustadz Abdullah Yeelah pada tanggal 20 Agustus 2015 jam 10.00 WTS)

Siswa Sekolah Menengah Assalihiyah juga mengutarakan bahwa mereka telah merealisasikan sikap peduli lingkungan, seperti yang diungkapkan oleh Sarihan Cikbu sebagai berikut.

Sikap peduli lingkungan di sekolah yang saya lakukan seperti menjaga kebersihan sekolah, kelas, melestarikan tanaman-tanaman yang ada di sekolah (wawancara dengan Sarihan Cikbu, siswa kelas 6/1 saman atau kelas 10 agama, pada tanggal 21 Agustus 2015 jam 13.37 WTS).

Siswa yang lain juga mengutarakan bahwa dia telah menjaga

lingkungan sekolah sebagaimana ungkapan Pasnuri Mama’ sebagai

berikut.

Saya sudah menjaga lingkungan di sekolah dengan menjaga kebersihan kelas, membuang sampah snack di tempat sampah, dan melestarikan tanaman (wawancara dengan Pasnuri Mama’,

siswa kelas 6/1 saman atau 8A agama, pada tanggal 21 Agustus 2015 jam 13.52 WTS).

Para siswa melaksanakan sikap peduli lingkungan atas keinginan mereka sendiri dan mengikuti teladan dari sikap guru dalam menjaga kebersihan bukan karena takut dengan guru. Sebagaimana ungkapan Fadilah Masae sebagai berikut.

Saya biasa menjaga kebersihan dan bukan karena takut dengan guru. Saya hanya melakukan apa yang guru berikan teladan kepada saya. Misalnya saya melihat guru menyapu ruang kantor, saya ingin juga melakukannya di kelas (wawancara dengan Fadilah Masae, siswa kelas 4/1 saman atau 8B agama pada tanggal 21 Agustus 2015 jam 14.20 WTS).

Selain itu juga ada siswa yang yang menjaga kebersihan karena mereka telah terbiasa ketika di rumah, sebagaimana ungkapan Sarihan Cikbu sebagai berikut.

Saya suka menjaga kebersihan karena sudah terbiasa di rumah. Orang tua saya mengajarkan saya untuk senantiasa menjaga kebersihan dan di sekolah pun saya melaksanakannya. Bukan karena saya takut kepada guru, tetapi saya sendiri suka menjaga kebersihan (wawancara dengan Sarihan Cikbu, siswa kelas 6/1 saman atau kelas 10 agama, pada tanggal 21 Agustus 2015 jam 13.37 WTS).

Pembiasaan menjaga kebersihan dilakukan dengan kegiatan rutin harian dengan membagi siswa dalam jadwal membersihkan kelas dan lingkungan sekolah. Setiap pagi, para siswa dibariskan untuk apel pagi dan setelah selesai mereka digerakkan untuk membersihkan lingkungan sekolah dari sampah-sampah yang berceceran. Setiap siswa wajib memungut sampai 3 atau 10 keping sampah tergantung pada kondisi kebersihan lingkungan sekolah pada saat itu. Hal ini bertujuan untuk menanamkan dalam jiwa anak supaya mereka mempunyai rasa peduli terhadap lingkungan hidupnya sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadz Mahdi bin Daud Ali sebagai berikut.

Mereka dibagi kelompok dan tanggung jawab masing-masing. Hal ini bertujuan untuk menanamkan dalam jiwa anak supaya mereka mempunyai rasa kepedulian terhadap lingkungan. Kalau setiap pagi setelah berbaris (apel pagi) dan sebelum masuk

kelas, terlihat di sekeliling banyak sampah, siswa disuruh mengambil sampah sebanyak 10 keping, kalau tidak begitu kotor 3 keping (wawancara dengan ustadz Mahdi bin Daud Ali pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 08.55 WTS).

Pendidikan yang diselenggarakan, adakalanya siswa mudah mengikuti apa yang diajarkan atau diperintahkan guru dan sebaliknya. Kegiatan pungut sampah ini ada dikarenakan masih terlihat sampah yang berceceran akibat dari perilaku beberapa siswa yang malas atau kurang menjaga kebersihan dan membuang sampah sembarangan. Pribadi siswa yang malas dan berperilaku peduli lingkungan hanya ketika ada guru serta merasa takut akan dimarahi ketika dia tidak menjaga kebersihan lingkungan yang menjadikan lingkungan sekolah masih terlihat kotor. Hal ini sebagaimana ungkapan Rusani Mansalik sebagai berikut.

Saya kurang menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Kadang-kadang saya membuang sampah tidak pada tempatnya. Saya menjaga kebersihan karena saya takut dengan guru (wawancara dengan Rusani Mansalik, siswa kelas 5/1 saman atau kelas 9 agama, pada tanggal 21 Agustus 2015 jam 18.20 WTS).

Selain itu juga diadakan big cleaning day yaitu pada waktu tengah semester dan atau ketika akan ada tamu datang. Semua guru dan siswa mengadakan bersih-bersih bersama seperti yang

diungkapkan oleh acan Zainab Ma’sok sebagai berikut.

Selain itu, diadakan big cleaning day yaitu pada waktu tengah semester dan apabila akan ada tamu datang. Semua murid dan guru bersih-bersih bersama (wawancara dengan acan Zainab

Siswa dididik untuk makan di tempat-tempat yang di mana disediakan tempat sampah sehingga mereka bisa langsung membuang sampah makanan mereka di tempat sampah yang paling dekat dengan mereka. Guru senantiasa berpesan kepada siswa agar mereka selalu menjaga kebersihan, membuang sampah-sampah makanan dan minuman di tempat sampah, dan apabila menjumpai sampah di hadapannya, mereka harus mengambil dan membuangnya di tempat sampah. Dengan demikian, kebersihan lingkungan sekolah akan terjaga dengan baik. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan acan

Zainab Ma’sok sebagai berikut.

Guru senantiasa berpesan kepada murid supaya mereka menjaga kebersihan. Jika mereka makan, bungkus-bungkus sampah harus dibuang di tempat sampah. Meskipun mereka tidak sehabis makan, tetapi mereka menjumpai ada sampah di hadapannya, mereka juga harus mengambilnya dan membuangnya di tempat sampah (wawancara dengan acan Zainab Ma’sok pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 16.00 WTS).

Berkaitan dengan kebersihan sekolah, sekolah memiliki petugas kebersihan. Mereka juga ikut berperan dalam menciptakan sekolah yang bersih yang menjadikan sekolah dapat menerima penghargaan atas prestasi sekolah yang bersih dari pemerintah kerajaan Thailand. Seperti yang diungkapkan Abdul Rasyid bin Talyo selaku petugas kebersihan sebagai berikut.

Tiga tahun yang lalu, sekolah pernah mendapat penghargaan dari pemerintah mengenai kebersihan lingkungan sekolah (wawancara dengan Abdul Rasyid bin Talyo pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 14.45 WTS).

Petugas kebersihan memiliki peran yang penting juga dalam menciptakan sekolah yang bersih di samping adanya pendidikan karakter peduli lingkungan bagi siswa. Karena, petugas kebersihan membersihkan sekolah setiap hari dan membuang sampah dari tempat sampah yang berada di depan kelas, kantin, dan seluruh sudut sekolah. Ketika petugas kebersihan berhalangan hadir, maka sampah di depan kelas, ruang guru, kantin, dan sebagainya di lingkungan sekolah menumpuk. Sebagaimana ungkapan Abdul Rasyid bin Talyo selaku petugas kebersihan tentang aturan kebersihan di Sekolah Menengah Assalihiyah sebagai berikut.

Mengenai aturan kebersihan di sini, setiap pagi dan sore tukang kebun harus membersihkan seluruh lingkungan sekolah. Pada saat pagi, tukang kebun menyapu seluru sudut sekolah yang berupa sampah dan daun-daun yang berguguran. Sedangkan pada waktu sore, kita mengambil sampah-sampah dalam tempat sampah itu baik di depan kelas, kantor, maupun di kantin. Jadi setiap hari, kami harus membersihkan sekolah 2x. Pada saat liburan sekolah, kami juga harus membersihkan sekolah kecuali hari minggu. Kalau hari-hari aktif sekolah, kami libur hari sabtu (wawancara dengan Abdul Rasyid bin Talyo pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 14.45 WTS).

Guru juga mengajarkan siswa untuk bercocok tanam pohon di lingkungan sekolah dan mendidiknya untuk senantiasa menjaga dan merawatnya. Sehingga pohon tersebut membuat sekolah menjadi tempat yang nyaman sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadzah Nafisah Itae sebagai berikut.

Guru juga mengajarkan kepada murid untuk tanam pohon di lingkungan sekolah dan mendidiknya untuk senantiasa menjaga

dan merawat pohon-pohon. Sehingga pohon tersebut membuat sekolah menjadi tempat yang nyaman (wawancara dengan ustadzah Nafisah Itae pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 13.55 WTS).

Selain menanam pohon di sekolah, siswa juga diajak untuk bertanam pohon di luar sekolah bersama dengan masyarakat sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadzah Zainab Karina sebagai berikut.

Ada juga guru saman/acan (guru bidang ilmu pengetahuan umum) yang mengajak siswa keluar untuk ikut serta bercocok tanam pohon-pohon dengan masyarakat (wawancara dengan ustadzah Zainab Karina pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 16.30 WTS).

Meskipun di Sekolah Menengah Assalihiyah ini dilaksanakan pendidikan karakter peduli lingkungan, namun tidak ada peraturan atau kebijakan tertulis mengenai peduli lingkungan maupun aturan kebersihan, hanya berupa aturan tak tertulis saja sebagaimana yang dituturkan oleh ustadz Ahmad H. Sama’ sebagai berikut.

Di sekolah ini tidak ada peraturan atau kebijakan tertulis mengenai peduli lingkungan maupun aturan kebersihan, hanya berupa aturan tak tertulis saja (wawancara dengan ustadz Ahmad H. Sama’ pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 09.27 WTS).

Setiap guru Sekolah Menengah Assalihiyah diharuskan memberikan arahan, bimbingan, dan penjelasan-penjelasan kepada siswa berkaitan dengan sikap peduli lingkungan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadzah Zainab Karina sebagai berikut.

Semua guru-guru di sini diharuskan untuk mendidik dan memberikan penjelasan, bimbingan, dan arahan kepada siswa.

Seperti menjelaskan bahwa kita sebagai umat agama Islam itu harus senantiasa menjaga kebersihan, karena “an nadhafatu minal iman” kebersihan itu merupakan bagian dari iman

(wawancara dengan ustadzah Zainab Karina pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 16.30 WTS).

Falsafah Sekolah Menengah Assalihiyah adalah berpegang teguh kepada ajaran kitab dan sunnah menuju ke arah kemajuan dan pembangunan sedunia. Jadi dalam segala hal kegiatan sekolah mesti berlandaskan falsafah ini termasuk pelaksanaan pendidikan karakter peduli lingkungan yang berguna bagi kemajuan dunia. Menurut kepala sekolah ustadz Dr. Abdullah Yeelah, Islam adalah agama cara hidup yang mesti diamalkan dalam setiap segi atau bidang kehidupan dan di setiap tempat.

Pendidikan karakter peduli lingkungan yang ditanamkan kepada siswa Sekolah Menengah Assalihiyah berdasar pada tujuan supaya siswa itu mengetahui akan pentingnya masalah kebersihan dan melestarikan lingkungan. Oleh karenanya, guru Sekolah Menengah Assalihiyah menanamkan karakter peduli lingkungan ini khususnya tentang kebersihan, mereka berlandaskan pada firman Allah

innallaha yuhibbu tawwabiina wayuhibbul mutathohhiriin” yang artinya “Saya menyukai orang yang bertaubat dan orang yang bersih”.

Sebagaimana diungkapkan oleh ustadz Ahmad H. Sama’ sebagai berikut.

… ada dalil al quran, Allah berfirman “innallaha yuhibbu tawwabina wayuhibbul mutathohhirin” yang artinya “Saya menyukai orang yang bertaubat dan orang yang bersih”. Bersih

di sini meliputi bersih diri, rumah tangga, pakaian, sekolah, dan kawasan kampung (wawancara dengan ustadz Ahmad H. Sama’

pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 09.27 WTS).

Dengan demikian, guru ingin membentuk siswanya agar menjadi insan yang senantiasa menjaga kebersihan diri, pakaian, dan lingkungan hidup mereka sendiri. Selain itu, guru juga berlandaskan hadits Rasulullah Saw. dalam menanamkan karakter peduli

lingkungan ini yaitu “an nadhofatu minal iman” bahwa kebersihan itu

merupakan sebagian dari iman. Orang Islam harus senantiasa menjaga kebersihan dari segala hal, karena menjaga kebersihan termasuk salah satu wujud sikap peduli terhadap lingkungan. Sebagaimana yang diutarakan oleh ustadzah Zainab Karina sebagai berikut.

Landasan pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah yang saya jalankan adalah “An nadhofatu minal iman”. Islam ini harus senantiasa menjaga kebersihan dalam segala hal. Seperti kebersihan badan, tempat duduk, dalam hal ini adalah sekolah. Menjaga kebersihan lingkungan sebagai salah satu wujud peduli terhadap lingkungan (wawancara dengan ustadzah Zainab Karina pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 16.30 WTS).

Ustadzah Zainab Karina mengutarakan bahwa waktu anak berada di sekolah itu lebih lama daripada waktu anak tinggal di rumah. Siswa belajar di sekolah dari pagi sampai sore, sedangkan di rumah hanya waktu malam. Mereka belajar, bermain, berbincang-bincang dengan temannya selama di sekolah dan ketika di rumah mereka manfaatkan untuk istirahat dan tidur kemudian bangun pagi dan pergi ke sekolah lagi. Oleh karena itu, guru harus benar-benar

membekali siswa dengan berbagai ilmu pengetahuan dan dalam hal ini adalah pengetahuan tentang peduli lingkungan khususnya penanaman karakter dalam jiwa siswa.

Program Green Environment sangat berperan penting dalam memberikan pendidikan karakter peduli lingkungan pada siswa di mana program ini mengajarkan siswa untuk mencintai lingkungannya, dengan membuang sampah pada tempatnya, memperbanyak menanam pohon, dan lain sebagainya. Masyarakat Thailand juga digalakkan untuk tanam pohon oleh kerajaan supaya dapat menciptakan negara yang sejuk yang dalam negara Indonesia termasuk dari pelaksanaan

Green Environment. Hal ini juga menjadi landasan dalam pelaksanaan pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadzah Nafisah Itae sebagai berikut.

Masyarakat umum juga digalakkan program tanam pohon oleh kerajaan, dengan tujuan agar Negara ini tidak terasa panas (wawancara dengan ustadzah Nafisah Itae pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 13.55 WTS).

Siswa diajak untuk ikut serta dalam program tanam pohon bersama masyarakat tersebut. Dengan begitu, secara tidak langsung mereka akan terdidik untuk melakukan tanam pohon di lingkungannya.

Pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah yang ditekankan pada masalah menjaga kebersihan ini

dilaksanakan dengan model pendidikan karakter yang disebut

tadzkirah, akan tetapi tidak seluruhnya diterapkan. Di antara model pendidikan karakter tadzkirah yang diterapkan adalah sebagai berikut. a. Tunjukkan Teladan

Keteladanan adalah salah satu model pendidikan karakter yang dapat mendidik siswa secara tidak sadar dan tanpa adanya paksaan. Melalui teladan ini, siswa dapat mencontoh segala perilaku dari sosok guru maupun ketenagakerjaan lainnya yang menjadi figur bagi siswa di sekolah.

Model teladan ini kerap kali diterapkan oleh guru Sekolah Menengah Assalihiyah. Memberikan teladan adalah hal yang paling utama sebagai guru khususnya dalam bersikap peduli lingkungan ini. Guru memandang bahwa dengan teladan diharapkan siswa dapat melihat dan mencontoh perilaku peduli lingkungan dari guru itu sendiri. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadz Mahdi bin Daud Ali sebagai berikut.

Hal yang paling utama sebagai guru, kita harus memberi contoh, apabila kita makan apa saja, kalau tidak ada tempat sampah, kita mesti taruh di saku dahulu, dan kemudian dibuang di tempat sampah. Kita memberikan teladan kepada siswa supaya dapat melihat dan mencontoh perilaku peduli lingkungan dari kita (wawancara dengan ustadz Mahdi bin Daud Ali pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 08.55 WTS).

Sebagai contoh teladan yang diberikan oleh guru dalam bersikap peduli lingkungan adalah dengan ikut serta mengadakan

kebersihan kelas sebelum kegiatan belajar dimulai sebagaimana yang dituturkan oleh ustadzah Nafisah Itae sebagai berikut.

Saya juga ikut serta dengan siswa untuk mengadakan kebersihan yakni sebagai contoh kepada mereka (wawancara dengan ustadzah Nafisah Itae pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 13.55 WTS).

Siswa Sekolah Menengah Assalihiyah juga mengutarakan guru mereka memberikan teladan dan contoh dalam menjaga kebersihan sekolah seperti menyapu dan membuang sampah pada tempatnya. Seperti yang diungkapkan oleh Husna Abdullah sebagai berikut.

... guru memberi nasihat, mengingatkan, dan memberi teladan kepada kita untuk selalu menjaga kebersihan(wawancara dengan Husna Abdullah, siswa kelas 4/1 saman atau 8B agama, pada tanggal 21 Agustus 2015 jam 14.45).

b. Arahkan (berikan bimbingan)

Pemberian arahan juga menjadi hal penting yang dapat dijadikan sebagai model pendidikan karakter peduli lingkungan. Guru Sekolah Menengah Assalihiyah juga memberikan arahan kepada siswanya selama di sekolah. Sebagaimana yang

diungkapkan oleh ustadz Ahmad H. Sama’ sebagai berikut.

Di samping itu juga diberi nasihat-nasihat supaya mereka sadar, memberikan arahan, selalu mengingatkan mereka, dan menjelaskan kepada siswa apa akibat yang didapat jika menjaga kebersihan ataupun tidak menjaga kebersihan. Setiap pagi pada saat siswa berbaris, saya selalu memberikan nasihat untuk senantiasa menjaga kebersihan (wawancara dengan ustadz Ahmad H. Sama’ pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 09.27 WTS).

Pemberian arahan juga dilakukan oleh guru sebelum kegiatan belajar dimulai, seperti mengarahkan secara langsung siswanya untuk membersihkan kelas terlebih dahulu sebagaimana yang dituturkan oleh ustadzah Zainab Karina sebagai berikut.

Sebelum dimulai pelajaran, guru kelas masuk dan mengarahkan siswanya supaya membersihkan ruang kelas terlebih dahulu (wawancara dengan ustadzah Zainab Karina pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 16.30 WTS).

Selain itu, model pengarahan ini juga diaplikasikan untuk mengarahkan siswa agar menyediakan perlengkapan kebersihan untuk setiap kelas sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadzah Nafisah Itae sebagai berikut.

… mengarahkan siswa agar membeli sapu dan perlengkapan kebersihan di kelas (wawancara dengan ustadzah Nafisah Itae pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 13.55 WTS).

Siswa juga mengutarakan bahwa guru mengarahkan mereka supaya menyapu kelas setiap hari agar kebersihan dan keindahannya tetap terjaga seperti yang dituturkan oleh Warsah Samae sebagai berikut.

Guru menasehati kita untuk makan sambil duduk dan mengarahkan kita menyapu kelas setiap hari agar kita selalu menjaga lingkungan kita bersih dan indah (wawancara dengan Warsah Samae, siswa kelas 3/1 saman atau kelas 8A agama, pada tanggal 22 Agustus 2015 jam 18.30 WTS). Pemberian arahan ini tidak hanya dilakukan sekali saja, akan tetapi menurut guru Sekolah Menengah Assalihiyah harus

diberikan berulang kali agar siswa senantiasa memperhatikan pentingnya peduli lingkungan dan menjaga kebersihan lingkungan

sekolah sebagaimana yang diungkapkan oleh acan Zainab Ma’sok

sebagai berikut.

Guru mesti berulang kali memberi nasihat dan arahan kepada murid mengenai sikap peduli lingkungan (wawancara dengan acan Zainab Ma’sok pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 16.00 WTS).

Pemberian arahan sangat diperlukan bagi siswa yang malas dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadzah Zainab Karina sebagai berikut.

Bagi murid yang malas, guru harus mengarahkan dengan sungguh-sungguh. Misalnya, dengan mengarahkan mana saja yang harus dibersihkan (wawancara dengan ustadzah Zainab Karina pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 16.30 WTS).

c. Dorongan (berikan motivasi atau reinforcement)

Seorang siswa harus memiliki motivasi yang kuat dalam belajar dan menempuh pendidikan sehingga pendidikan yang dijalankan menjadi efektif. Memotivasi siswa adalah kegiatan memberikan dorongan supaya siswa bersedia menjalankan hal-hal yang sesuai dengan harapan guru tanpa adanya paksaan yang dalam hal ini adalah menjaga kebersihan dan peduli terhadap lingkungan sekolah.

Ustadz Abdullah Yeelah selaku kepala sekolah menuturkan bahwa dalam pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah

Menengah Assalihiyah dilaksanakan dengan berbagai model pendidikan yang salah satunya adalah dengan memberikan motivasi. Pemberian pujian kepada siswa maupun benda penghargaan dapat menjadi motivasi dan memberikan semangat yang bertambah untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan.

Sebagaimana diungkapkan oleh acan Zainab Ma’sok sebagai

berikut.

Siswa yang telah menerapkan sikap peduli lingkungan, saya hadiahkan kepadanya berupa pujian dan ucapan terima kasih di hadapan teman-temannya. Ada juga saya memberinya uang yang hanya sekedar saja. Benda apa yang ada di tangan biasa saya berikan. Supaya menimbulkan semangat dan bangga untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan (wawancara dengan acan Zainab Ma’sok pada tanggal 24 Agustus 2015 jam 16.00 WTS).

d. Kontinuitas (pembiasaan)

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan sikap yang dapat mengkarakter ke dalam jiwa siswa yang dalam hal ini adalah sikap peduli dan melestarikan lingkungan. Sikap peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah yang ditanamkan adalah menjaga kebersihan sekolah. Terdapat berbagai kegiatan sekolah dalam rangka membiasakan siswa untuk senatiasa menjaga kebersihan lingkungannya. Kebiasaan yang terbentuk di sekolah, diharapkan terbawa oleh siswa di manapun ia berada. Kegiatan pembiasaan tersebut di antaranya adalah pembuatan jadwal piket harian, kegiatan memungut sampah setiap seusai apel pagi, dan diadakan perlombaan kebersihan serta

menghias kelas tahunan sebagaimana yang diungkapkan oleh ustadz Mahdi bin Daud Ali sebagai berikut.

Pendidikan karakter peduli lingkungan diselenggarakan dengan model pembiasaan melalui kegiatan-kegiatan peduli lingkungan. Seperti dibentuk jadwal piket harian. Kalau setiap pagi setelah berbaris (apel pagi) dan sebelum masuk kelas, terlihat di sekeliling banyak sampah, siswa disuruh mengambil sampah sebanyak 10 keping, kalau tidak begitu kotor 3 keping. Kemudian diadakan perlombaan kebersihan dan menghias kelas pada setiap tahunnya (wawancara dengan ustadz Mahdi bin Daud Ali pada tanggal 23 Agustus 2015 jam 08.55 WTS).

Model pembiasaan lainnya adalah bersih-bersih serentak mingguan dan ketika akan ada tamu yang datang atau diadakan big cleaning day sebagaimana yang dituturkan oleh acan Zainab

Ma’sok sebagai berikut.

Selain itu, diadakan big cleaning day yaitu pada waktu tengah semester dan apabila akan ada tamu datang. Semua murid dan guru bersih-bersih bersama (wawancara dengan acan Zainab Ma’sok pada tanggal 24 Agustus 2015 jam

Dokumen terkait