• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN (Studi Kasus di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan Tahun 2015) - Test Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN (Studi Kasus di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan Tahun 2015) - Test Repository"

Copied!
202
0
0

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Titik Isniatus Sholikhah

NIM: 11111100

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

َضْعَ ب ْمُهَقيِذُيِل ِساَّنلا يِدْيَأ ْتَبَسَك اَمِب ِرْحَبْلاَو ِّرَ بْلا يِف ُداَسَفْلا َرَهَظ

َو ُعِ ْرَ ي ْمُهَّ َعَل ا ُ ِمَ يِذَّلا

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena

perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka

sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke

(7)

vii skripsi ini penulis persembahkan untuk :

1. Ayah dan ibundaku tersayang, Muh. Sahid dan Siti Fatimah yang selalu membimbingku, memberikan doa, nasihat, kasih sayang, dan motivasi dalam kehidupanku.

2. Ketujuh saudaraku kakak Hadi Muhdlorun, kakak Alimah, kakak Sri Puji Wahyuni, kakak Ismun, kakak Zaenal Arifin, kakak Khoirul Ahzani, dan kakak Nurul Yaqin atas motivasi yang tak ada hentinya kepadaku sehingga proses penempuhan gelar sarjana ini bisa tercapai. 3. Dosen Pembimbing Akademik sekaligus pembimbing skripsiku, ibu Dr.

Lilik Sriyanti, M.Si.

4. Bapak M. Yusuf Khummaini, M. HI. yang telah memberikanku inspirasi.

5. Ketua Jurusan PAI, ibu Siti Rukhayati, M.Ag.

6. Sahabat-sahabatku yang selalu memberikan motivasi kepadaku dan membantu menyelesaikan skripsi ini.

7. Para kyai, ustadz-ustadzah, santri, dan keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah, Pulutan, Sidorejo, Salatiga.

(8)

viii

10.Keluarga besar dan sahabat-sahabati di organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kota Salatiga, terimakasih atas doa dan motivasinya sehingga penulisan skripsi ini bisa terselesaikan.

(9)

ix

Puji syukur alhamdulillahi robbil‟alamin, penulis panjatkan kepada Allah Swt yang selalu memberikan nikmat, kaunia, taufik, serta hidayah-Nya kepada penulis sehinggap penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan (Studi Kasus di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan Tahun 2015).

Tidak lupa shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi agung Muhammad Saw, kepada keluarga, sahabat, serta para pengikutnya yang selalu setia dan menjadikannya suri tauladan yang mana beliaulah satu-satunya umat manusia yang dapat mereformasi umat manusia dari zaman kegelapan menuju zaman terang benerang yakni dengan ajarannya agama Islam.

Penulisan skripsi ini pun tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak yang telah berkenan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Rektor IAIN Salatiga, Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd.

2. Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Suwardi, M.Pd. 3. Ketua jurusan PAI IAIN Salatiga, Siti Rukhayati, M.Ag.

(10)

x

5. Bapak M. Yusuf Khummaini, M.HI. yang telah memberikan ide dan inspirasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

6. Bapak dan Ibu dosen yang telah membekali berbagai ilmu pengetahuan, serta karyawan IAIN Salatiga sehingga penulis dapat menyelesaikan jenjang pendidikan S1.

7. Kepala Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan yang telah memberikan izin penelitian.

Penulis sepenuhnya sadar bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, serta para pembaca pada umumnya. Amin.

Salatiga, 12 Desember 2015

(11)

xi

Thailand Selatan Tahun 2015). Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Lilik Sriyanti, M.Si.

Kata kunci: Pendidikan Karakter, Peduli Lingkungan.

Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi adalah tak lain karena ulah tangan manusia itu sendiri yaitu kurangnya rasa peduli lingkungan yang dimiliki. Oleh karenanya, nilai-nilai budaya peduli lingkungan ini akan lebih baik jika ditanamkan sejak dini pada peserta didik. Sehingga sikap peduli lingkungan tersebut akan mengkarakter dalam jiwanya untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada kondisi apapun dan di manapun ia berada.

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendidikan karakter peduli lingkungan secara islami, bagaimana pendidikan karakter peduli lingkungan serta faktor-faktor yang menjadi penunjang dan penghambat dalam penanaman karakter peduli lingkungan melalui pendidikan kepada siswa di Sekolah Menengah Assalihiyah Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan.

Jenis penelitian ini adalah termasuk jenis penelitian lapangan (field research) dan bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini meliputi sumber primer yakni hasil wawancara kepala sekolah, guru, siswa, dan petugas kebersihan, dan sumber sekunder yang dapat berupa foto-foto kegiatan terkait pendidikan lingkungan, buku kurikulum, profil sekolah, dan sertifikat penghargaan bagi sekolah. Pengumpulan data ini dilakukan dengan mengadakan wawancara, observasi, dan dokumentasi.

(12)

xii

HALAMAN BERLOGO ... ii

HALAMAN NOTA PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

HALAMAN DEKLARASI ... v

HALAMAN MOTTO ... vi

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Kegunaan Penelitian ... 7

E. Penegasan Istilah ... 9

F. Tinjauan Pustaka... . 11

G. Metode Penelitian... 15

(13)

xiii

B. Landasan Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan... 40

1. Ayat Al Quran dan Hadits... 40

2. Program Adiwiyata... 43

3. Program Green Environment... 44

C. Model Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan... 45

1. Tunjukkan Teladan………. 47

2. Arahkan (berikan bimbingan)………. 55

3. Dorongan………. 57

4. Zakiyah (murni-suci-bersih)………... 59

5. Kontinuitas (pembiasaan)………... 61

6. Ingatkan……… 65

7. Repetition(pengulangan)……… 66

8. Organisasikan……….. 67

9. Heart(hati)……….. 68

D. Strategi Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan……….. 73

1. Strategi cheerleading……….. 73

2. Strategi pujian dan hadiah………... 74

3. Strategi define-and-drill……….. 74

4. Strategi forced formality………. 74

(14)

xiv

2. Pengaruh nurture……….. 75

F. Faktor Penghambat/Kendala Penanaman Karakter Peduli Lingkungan Melalui Pendidikan………... 77

BAB III HASIL PENELITIAN A. GambaranUmum Lokasi Penelitian... 79

1. Kondisi Geografis... 79

2. Profil Sekolah Menengah Assalihiyah... 79

3. Visi... 81

4. Misi... 81

5. Tujuan... 81

6. Struktur Organisasi Sekolah Menengah Assalihiyah... 82

7. Sistem Pembelajaran... 84

8. Kurikulum... 85

9. Jumlah Guru, Siswa, dan Ketenagakerjaan... 86

10.Sarana dan Prasarana... 89

B. Paparan Temuan Penelitian ... 90

(15)

xv

Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand

Selatan... ... 112 BAB IV ANALISIS DATA

A. Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand

Selatan... ... 118 B. Faktor-faktor Penunjang dan Penghambat Pendidikan Karakter

Peduli Lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah,

Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan ... 143 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 147 B. Saran ... 149 C. Penutup... 150 DAFTAR PUSTAKA

(16)

xvi

2. Tabel 3.2 nama guru bidang agama………... 86

3. Tabel 3.3 nama guru bidang akademik... 88

4. Tabel 3.4 jumlah siswa tiap kelas... 89

(17)

xvii 2. Riwayat Hidup Penulis

3. Nota Pembimbing Skripsi

4. Surat Keterangan Melakukan Penelitian 5. Lembar Konsultasi

(18)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lingkungan hidup adalah tempat di mana manusia tinggal dan melakukan segala aktivitasnya. Lingkungan hidup yang baik, indah, rapi, sejuk dan sehat akan menimbulkan ketenangan hati dan rasa nyaman bagi orang-orang yang berada di sekelilingnya. Salah satu ciri lingkungan baik dan sehat adalah lingkungan hidup yang bebas dari sampah yang berceceran, penuh dengan tanaman pepohonan yang hijau dan rindang. Menjaga lingkungan adalah kewajiban setiap manusia. Bukan hanya petugas kebersihan di setiap lingkungan tertentu saja seperti petugas kebersihan sekolah (tukang kebun), petugas kebersihan kota, atau yang lainnya.

(19)

pembiasaan yang sesuai dengan perkembangan jiwanya (Zainuddin, 1991: 107) agar masalah-masalah kerusakan alam bisa ditanggulangi. Mulai dari hal kecil misalnya, tentang pembuangan sampah. Membuang sampah pada tempatnya sangat perlu dibudayakan. Di samping itu, manusia kini telah diberi kemampuan yang luar biasa oleh Tuhan untuk memanfaatkan akalnya. Manusia hendaknya bisa menggunakan daya pikirnya untuk mengubah barang yang sudah tak terpakai menjadi barang yang dapat dimanfaatkan kembali. Oleh karena itu, pengolahan sampah sangat diperlukan.

Kerusakan alam yang terjadi dan membuat rasa menjadi tidak nyaman untuk ditinggali adalah tak lain ulah manusia itu sendiri yang melakukan pengrusakan tanpa adanya pelestarian. Oleh karenanya, agama Islam sangat menganjurkan untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan hidup (alam). Firman Allah dalam Al Quran QS Ar Rum: 41 sebagai berikut (al Quran dan Terjemahannya, 2013: 408):

اوُلِمَع يِذَّلا َضْعَ ب ْمُهَقيِذُيِل ِساَّنلا يِدْيَأ ْتَبَسَك اَِبِ ِرْحَبْلاَو ِّرَ بْلا ِفِ ُداَسَفْلا َرَهَظ

َووُعِ ْرَ ي ْمُهَّلَعَل

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena

perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke

jalan yang benar).”

(20)

bermakna barang siapa menanam pasti dia akan menuai hasilnya. Artinya, jika seseorang menanamkan benih kebaikan, maka kebaikan pula yang akan ia terima. Sebaliknya, jika seseorang menanamkan benih keburukan, maka keburukan pula yang akan kembali kepadanya. Misalnya, ketika manusia mampu menjaga lingkungannya agar tetap bersih, perasaan hati dan pikiran akan terasa tenang, nyaman, dan damai. Selain itu, lingkungan yang bersih dan rapi akan sedap dipandang.

Pada dasarnya manusia adalah mahluk yang cinta damai dan keindahan. Secara fitrah, tak ada satupun manusia yang bisa membenarkan perilaku manusia (baik pribadi maupun kelompok) yang merugikan manusia atau makhluk lain termasuk lingkungan hidup (alam). Manusia akan selalu berusaha untuk berbuat kebaikan dan menjaga lingkungan hidupnya. Membiasakan hidup bersih dan sehat jasmani-rohani itu juga termasuk tujuan kurikuler studi agama Islam (Tafsir, 2008: 19). Selain itu, menurut Mahmud Yunus, mementingkan kebersihan adalah salah satu dari tiga aspek kepribadian manusia yang harus dibina dalam pendidikan agama Islam (Tafsir, 2008: 56). Oleh karenanya, hal tersebut perlu pembiasaan yang baik pula karena terkadang manusia lalai akan perbuatannya. Contoh kecil, makan dan membuang bungkus snack

sembarangan di jalan.

(21)

menginternalisasi dan menanamkan nilai-nilai budaya peduli lingkungan hidup kepada seluruh warga masyarakat yang kini tengah gencar menuntut ilmu di dunia pendidikan khususnya pendidikan formal sekolah seperti yang diungkapkan Al Ghazali tentang kemuliaan menuntut ilmu sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran surat at Taubah: 122 (Zainuddin, 1991: 25):

ِفِ اوُهَّقَفَ تَيِل ٌةَفِئاَط ْمُهْ نِم ٍةَقْرِف ِّلُك ْنِم َرَفَ ن لاْوَلَ ف ًةَّفاَك اوُرِفْنَ يِل َووُنِمْؤُمْلا َواَك اَمَو

ِنيِّدلا

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang

agama”.

Nilai-nilai budaya peduli lingkungan ini akan lebih baik jika ditanamkan sejak dini pada peserta didik. Karena, dengan demikian pembiasaan tersebut terbangun lebih dini yang akan membawanya kepada kebiasaan baik (peduli lingkungan hidup) sampai masa tuanya.

Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat juga perlu terus digali dan dikembangkan secara kontekstual untuk selanjutnya disemaikan ke dalam dunia pendidikan melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pola dan gaya penyajiannya pun tidak bercorak teoretis dan dogmatis seperti orang khutbah, melainkan harus lebih interaktif dengan mengajak peserta didik untuk berdiskusi dan bertukar pikiran melalui topik-topik lingkungan hidup yang menarik.

(22)

mudah dilakukan karena seorang guru atau pendidik harus memiliki cara tersendiri untuk menanamkan karakter tersebut. Pendidik akan memilah mana model pendidikan yang dianggap paling efektif. Pendidik harus mengetahui tabiat pembawaan, adat istiadat, dan pemikiran murid agar tidak salah arah dalam mendidik anak-anak (Rosyadi, 2004: 189). Suatu institusi pendidikan juga pasti memiliki tradisi masing-masing yang

dikatakan sebagai “kearifan lokal”.

Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan adalah salah satu sekolah yang berbasis agama Islam di wilayah Thailand Selatan. Meskipun mayoritas masyarakat Thailand Selatan beragama Islam, namun mereka tetap harus menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan masyarakat Thailand dengan agama Budha yang dominan. Untuk mampu bersaing dengan seluruh sekolah di Thailand, Sekolah Menengah Assalihiyah harus mampu mencetak peserta didik yang berilmu, beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia serta mencetak generasi yang menghayati nilai Islam demi terwujudnya masyarakat yang maju, inovatif, progresif, dan berteknologi. Sekolah Menengah Assalihiyah telah mendapatkan penghargaan 4 kali atas prestasi menjaga kebersihan lingkungan sekolah dari kerajaan. Hal tersebut perlu dukungan dari seluruh warga sekolah agar dapat mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih.

(23)

contoh, membiasakan, dan mengajar (Tafsir, 2008: 78) termasuk untuk mengajarkan pendidikan karakter peduli lingkungan kepada peserta didiknya. Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan kepala Sekolah Menengah Assalihiyah, bahwa di sekolah ini ditanamkan pula karakter peduli lingkungan melalui pendidikan dan utamanya tentang kebersihan. Sebagai lembaga sekolah yang berbasis Islam, pendidik mampu memilih model-model pendidikan yang berlandaskan ajaran Islam. Namun, pendidikan karakter peduli lingkungan ini belum mencapai hasil yang maksimal. Penulis juga mengamati masih ada beberapa sudut sekolah yang kurang terjaga kebersihan lingkungannya. Penulis ingin meneliti lebih jauh berkenaan dengan upaya penanaman karakter peduli lingkungan yang dilaksanakan di Sekolah Menengah Assalihiyah ini.

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas maka penulis tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan judul: PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN (Studi Kasus di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan Tahun 2015).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah peneliti sampaikan di atas, maka peneliti dapat merumuskan beberapa rumusan masalah:

(24)

2. Bagaimana pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan?

3. Faktor-faktor apa saja yang menjadi penunjang dan penghambat dalam penanaman karakter peduli lingkungan melalui pendidikan pada siswa di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan?

C. Tujuan Penelitian

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa setiap kegiatan atau aktivitas yang dilakukan seseorang pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan karakter peduli lingkungan secara islami.

2. Untuk mengetahui bagaimana pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan.

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi penunjang dan penghambat dalam penanaman karakter peduli lingkungan melalui pendidikan kepada siswa di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan.

D. Kegunaan Penelitian

(25)

1. Secara teoretis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa sumbangsih bagi pendidik, peserta didik, dan civitas academic

khususnya di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan dan bagi seluruh umat manusia termasuk warga negara Indonesia agar lebih meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan.

b. Memberikan informasi bagi masyarakat luas (pembaca) bahwa ada model pendidikan tersendiri yang digunakan dalam menanamkan pengamalan rasa kepedulian terhadap lingkungan hidup. Model pendidikan tersebut disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang dihadapi.

2. Secara praktis

Adapun manfaat praktis yang diharapkan di antaranya:

a. Bagi Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan:

1) Untuk mengetahui manfaat atas pendidikan karakter peduli lingkungan yang selama ini telah diterapkan,

(26)

b. Bagi lembaga pendidikan di Indonesia, dapat mengambil contoh model pendidikan karakter peduli lingkungan yang dinilai efektif untuk kemudian diterapkan oleh pendidik kepada peserta didik sehingga memunculkan generasi Indonesia yang peduli akan lingkungan hidupnya.

c. Hasil penelitian ini diharapkan bisa dijadikan acuan bagi peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji lebih dalam dengan fokus dan setting berbeda untuk memperoleh perbandingan. Sehingga memperkaya temuan-temuan penelitian tentang model pendidikan karakter peduli lingkungan.

d. Bagi masyarakat luas, di antaranya dapat mengetahui dan memanfaatkan model pendidikan karakter peduli lingkungan yang efektif untuk ditanamkan kepada setiap orang agar tercipta karakter pribadi yang baik, sesuai dengan harapan masyarakat, bangsa, dan agama.

E. Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian dalam memahami topik penelitian ini, maka peneliti perlu memberikan penegasan istilah untuk beberapa kata yang kelihatannya masih abstrak, sehingga mempermudah pembahasan selanjutnya.

(27)

1. Pendidikan Karakter

Kata pendidikan dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, pendidikan merupakan upaya yang dilakukan dengan sadar untuk mendatangkan perubahan sikap dan perilaku seseorang melalui pengajaran dan latihan (Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 12,1990: hlm. 365). Kata karakter sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good) (Majid dan Dian Andayani, 2013: 11).

Dengan demikian, pendidikan karakter dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan dengan sadar untuk mendatangkan perubahan sikap dan perilaku seseorang melalui pengajaran dan latihan sehingga seseorang dapat mengetahui, mencintai dan melakukan kebaikan. Pendidikan karakter adalah bentuk pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif saja, melainkan lebih berorientasi pada proses pengembangan potensi anak melalui pembiasaan sifat-sifat dan nilai-nilai karakter yang baik.

2. Peduli lingkungan

(28)

lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar (Suyadi, 2013: 9). Lingkungan yang dimaksud dalam penelitian ini difokuskan di lingkungan Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan.

F. Tinjauan Pustaka

Dasar atau acuan berupa teori-teori atau temuan-temuan dari berbagai hasil penelitian sebelumnya merupakan hal yang kiranya perlu untuk dijadikan sebagai data acuan atau pendukung bagi penelitian ini. Hasil penelitian terdahulu yang hampir memiliki kesamaan topik dengan penelitian yang dilakukan peneliti di antaranya yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan Umam (2014) yang berjudul Model

Pendidikan Karakter Islami pada Siswa di SMK Al Ma‟arif Demak

Tahun Pelajaran 2103/2014. Hasil penelitian ini menunjukkan model

pendidikan karakter islami pada siswa di SMK Al Ma’arif Demak

(29)

Sedangkan penerapannya bagi pembentukan perilaku islami pada siswa yaitu dengan terciptanya siswa yang berakhlakul karimah melalui kebiasaan-kebiasaan berkarakter akhlakul karimah yang sudah melekat pada diri siswa baik kebiasaan di rumah maupun di sekolah.

Penelitian Ahmad Khotibul Umam mempunyai kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yakni tentang pendidikan karakter, namun terdapat perbedaan yang terletak pada pemfokusan masalahnya yakni model pendidikan karakter islami ini lebih bersifat umum karena fokus pendidikan karakter islami yang menyeluruh berkaitan dengan perilaku-perilaku islami siswa sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti lebih dikhususkan lagi pada pendidikan karakter tentang peduli lingkungan yang mana peduli lingkungan termasuk salah satu perilaku islami tersebut. Posisi peneliti pada penelitian di atas adalah komparatif yaitu mendeskripsikan dan membandingkan pendidikan karakter islami di SMK Demak dan pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan.

(30)

dan berkelanjutan. Nilai karakter yang terbentuk di MIN Kebonagung adalah peduli terhadap lingkungan sekitar, tanggung jawab, hidup sehat, hidup hemat, kreatif, rasa ingin tahu, mencintai keindahan, nilai religius, disiplin, semangat kebangsaan dan cinta tanah air, sikap tertib, empati, peduli sosial, rasa hormat, dan sopan santun. Faktor pendukung pengembangan implikasi nilai karakter pendidikan lingkungan hidup di MIN Kebonagung adalah lokasi madrasah yang mendukung, dukungan dari warga sekolah dan masyarakat, dan fasilitas pendukung dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan. Sedangkan faktor penghambatnya adalah adanya pengaruh neagtif dari luar, latar belakang keluarga dan pengetahuan yang heterogen, dan kurangnya pemahaman siswa dalam menerapkan cinta terhadap lingkungan.

Penelitian Linda Tisa Purwani memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yakni tentang pendidikan karakter peduli lingkungan. Akan tetapi terdapat perbedaan dalam pemfokusan masalahnya yaitu implikasi nilai karakter peduli lingkungan pada siswa sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti lebih umum mengenai landasan, model dan strategi dalam penanaman karakter peduli lingkungan melalui pendidikan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan. Posisi peneliti dalam penelitian ini adalah komparasi.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawati (2013) yang berjudul

(31)

ini menunjukkan konsep pendidikan karakter di Indonesia adalah pendidikan nilai. Pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia dalam rangka pembinaan kepribadian generasi muda yang mencakup tiga aspek yaitu pengetahuan moral, sikap moral, dan perilaku moral. Ketiga aspek tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yaitu aspek jasmani, rohani, dan akal. Nilai-nilai pendidikan karakter yang bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional Indonesia yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab. Konsep pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam yang menyangkut pembinaan aspek jasmani, akal, dan hati anak didik.

(32)

nilai-nilai luhur yang 18. Posisi peneliti dalam penelitian di atas adalah mengerucutkan fokus penelitian pada satu aspek yakni tentang peduli lingkungan.

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan (field research) karena informasi dan data-data digali dan diperoleh melalui pengamatan di lapangan. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif di mana penelitian ini bertujuan untuk membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu (Suryabrata, 1983: 75).

Sedangkan pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan naturalistik untuk mencari dan menemukan pemahaman tentang suatu fenomena dalam konteks tertentu dengan cara mendeskripsikannya dengan kata-kata dan bahasa dalam konteks khusus yang alamiah (Moleong, 2008: 5-6).

(33)

digunakan di sini adalah pendekatan naturalistik untuk mencari dan menemukan pemahaman tentang penanaman karakter peduli lingkungan melalui pendidikan di Sekolah Menengah Assalihiyah, dengan cara mendeskripsikannya dengan kata-kata dan bahasa dalam konteks khusus yang alamiah.

2. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai pengumpul data mengenai pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan. Peneliti harus berusaha untuk mengamati, mendampingi, dan terlibat dalam aktivitas-aktivitas terlaksananya penerapan nilai-nilai karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan selama kurang lebih satu bulan.

3. Lokasi penelitian

Penelitian ini akan difokuskan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan.

4. Sumber data

Adapun sumber data yang dikumpulkan oleh peneliti antara lain: a. Sumber primer

(34)

penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik “purposive

sampling” artinya sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian,

tidak menekankan pada jumlah atau keterwakilan. Akan tetapi, lebih kepada kualitas informasi, kredibilitas dan kekayaan informasi yang dimiliki (Raco, 2010: 115). Artinya narasumber yang diambil adalah orang-orang yang mengetahui, memahami, dan terlibat dalam pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah. Para narasumber tersebut yaitu kepala madrasah berkenaan dengan bagaimana pendidikan karakter peduli lingkungan di sekolah, landasan penerapan pendidikan karakter peduli lingkungan, pendidik atau guru berkenaan dengan penanaman karakter peduli lingkungan melalui pendidikan maupun pengajaran, peserta didik berkenaan dengan pembelajaran karakter peduli lingkungan, dan petugas kebersihan (OB) Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan berkenaan dengan peraturan kerja menjaga lingkungan sekolah.

b. Sumber sekunder

(35)

5. Prosedur Pengumpulan Data

a. Metode Interview atau Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui dialog dan tatap muka langsung dengan orang yang dapat memberikan informasi kepada peneliti (Moleong, 1993: 153). Wawancara adalah salah satu alat yang paling banyak digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif. Wawancara memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data yang beragam dari para responden dalam berbagai situasi dan konteks (Sarosa, 2012: 45). Dalam penelitian ini, peneliti memilih tipe wawancara semi terstruktur yakni tipe wawancara yang merupakan gabungan dari tipe wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Wawancara semi terstruktur menyediakan beberapa pertanyaan panduan sebagai bahan wawancara dan memungkinkan peneliti untuk menggali informasi atau data lebih mendalam seiring berjalannya proses wawancara. Karena, pertanyaan yang telah disiapkan hanyalah sebagai panduan saja dan selebihnya, pertanyaan dapat mengalir seiring dengan jawaban yang diberikan oleh responden.

(36)

menyimpang terlalu jauh seperti pada wawancara tidak terstruktur (Sarosa, 2012: 47).

Wawancara ditujukan kepada kepala madrasah, pendidik, peserta didik, dan petugas kebersihan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan. b. Metode Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu teknik atau cara menampilkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung (J.R. Raco, 2010: 115). Pengamatan dilakukan oleh peneliti pada objek penelitian ini untuk mendapatkan data yang dirasa kurang diperoleh dari pengumpulan data melalui teknik wawancara. Observasi dilakukan untuk mendapatkan data terkait gambaran umum dan keadaan lingkungan dan pengamalan karakter peduli lingkungan di lingkungan Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan, serta data-data lain yang diperlukan dalam penelitian ini.

c. Metode Dokumentasi

Menurut Esterberg, dokumen adalah segala sesuatu materi dalam bentuk tertulis yang dibuat oleh manusia. Dokumen yang dimaksud adalah semua catatan dalam bentuk hardcopy maupun

(37)

tentang peraturan sekolah, rekaman, foto, dan lain sebagainya (Sukandarrumidi, 2004: 101).

Dokumentasi yang didapatkan dalam penelitian Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyiah ini berupa profil sekolah, sejarah sekolah, kurikulum pembelajaran sekolah, data guru dan siswa, data ketenagakerajaan lainnya, sarana prasarana sekolah, foto kegiatan siswa terkait pelaksanaan sikap peduli lingkungan, foto sertifikat penghargaan dari negara atas kebersihan lingkungan sekolah, dan foto keadaan gedung Sekolah Menengah Assalihiyah.

6. Analisis Data

Menurut Bodgan dan Biklen, analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, serta memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2008: 248).

Langkah-langkah analisis data yaitu: a. Reduksi Data

(38)

dalam memahami pokok bahasan. Oleh karena itu, laporan-laporan tersebut perlu direduksi, dirangkum, dipilih yang pokok, dan disusun secara sistematis, sehingga lebih mudah dikendalikan. Data yang direduksi memberi gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencari kembali data yang diperoleh bila diperlukan (Nasution, 1992: 129). Reduksi data dapat dibantu dengan peralatan elektronik seperti komputer mini, dengan memberikan kode pada aspek-aspek tertentu (Sugiyono, 2013: 247).

b. Data Display (Penyajian Data)

Setelah melakukan reduksi data, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan (menyajikan) data. Data dapat disajikan dalam berbagai bentuk. Selain penyajian data yang berupa teks naratif, juga dapat berupa matriks, grafik, networks,

(39)

c. Conclusion Drawing and verification (menarik kesimpulan dan verifikasi)

Pada dasarnya, peneliti berusaha untuk mencari makna dari data yang dikumpulkannnya. Melalui reduksi data, display

data, dan kemudian menyimpulkan, kesimpulan yang didapat senantiasa harus diverifikasi selama penelitian berlangsung (Nasution, 1992: 130).

Dalam hal ini, penulis mencoba menganalisis seluruh data yang terkumpul dalam pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data diterapkan dalam rangka membuktikan kebenaran temuan hasil penelitian dengan kenyataan di lapangan. Menurut Lincoln dan Guba, untuk memeriksa keabsahan data pada penelitian kualitatif antara lain dengan menggunakan taraf kepercayaan data (credibility) (Moleong 2011: 324). Teknik yang digunakan untuk melacak credibility dalam penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi (trianggulation).

(40)

kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi ketika mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan (Moleong, 2011: 332).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan trianggulasi dengan sumber yakni membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan cara (Moleong, 2011: 330-331):

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara;

b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi;

c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu;

d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, dan orang pemerintahan;

e. Membandingkan hasil wawancara dengan dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

(41)

Membandingkan data-data yang diperoleh dari berbagai sumber baik dari kepala sekolah, guru, siswa, maupun petugas kebersihan dengan hasil pengamatan yang peneliti lakukan.

8. Tahapan Penelitian

Adapun tahapan penelitian bertajuk Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan sebagai berikut:

a. Kegiatan adiministrasi yang meliputi izin observasi dari IAIN Salatiga kepada Lembaga Pendidikan Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan. b. Kegiatan lapangan yang meliputi:

1) Survei awal untuk mengetahui lapangan, dengan wawancara sejumlah responden maupun informan sebagai langkah pengumpulan data,

2) Memasukkan sejumlah orang yang terkait sebagai informan yang dilakukan dengan responden penelitian,

3) Melakukan observasi lapangan dengan mewawancarai sejumlah responden maupun informan sebagai langkah pengumpulan data,

(42)

5) Melakukan verifikasi untuk membuat kesimpulan-kesimpulan sebagai deskripsi temuan penelitian, dan

6) Menyusun laporan akhir. H. Sistematika Pembahasan

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menyeluruh serta mempermudah pemahaman terhadap penulisan skripsi ini, penulisan skripsi ini dikelompokkan menjadi 5 bab. Di mana antara bab satu dengan bab yang lainnya saling berhubungan.

Bab I, bagian ini merupakan pendahuluan, yang dikemukakan dalam bab ini merupakan pengantar dari keseluruhan isi pembahasan. Pada bagian pertama ini akan dibahas beberapa sub bahasan, yaitu: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

(43)

Bab III, penulis menyajikan hasil penelitian tentang lokasi penelitian, model, landasan, dan faktor-faktor pendukung dan penghambat pendidikan karakter peduli lingkungan di Sekolah Menengah Assalihiyah, Thungphla, Khokpho, Pattani, Thailand Selatan.

Bab IV, berisikan analisis data hasil penelitian.

(44)

27 BAB II

PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN

A. Pengertian Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan

Untuk mendapatkan pengertian tentang pendidikan karakter secara keseluruhan, maka penulis paparkan beberapa pengertian pendidikan karakter menurut para ahli sebagai berikut:

Definisi pendidikan menurut UU No. 20 tahun 2003 (2004: 3) pasal 1 ayat 1 yaitu:

Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak (berkarakter) mulia.

Berdasarkan pengertian pendidikan di atas tersirat tujuan pendidikan untuk mengembangkan manusia yang berkarakter mulia. Dalam hal ini sesuai dengan yang penulis maksud, yakni tentang pendidikan karakter. Karakter mulia di sini yaitu karakter peduli lingkungan.

(45)

Pendidikan adalah transformasi ilmu pengetahuan dan nilai kepada peserta didik secara berangsur-angsur, yang diharapkan bisa diaktualisasikan melalui perilakunya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kedudukan dan kondisinya dalam kehidupan, sehubungan dengan diri, keluarga, kelompok, komunitas dan masyarakatnya, serta kepada disiplin pribadinya (Ahid, 2010: 12). Selain itu, definisi pendidikan menurut Rupert C. Lodge dalam Tafsir (2008: 5) adalah menyangkut seluruh pengalaman. Anak mendidik orang tuanya, murid mendidik gurunya, anjing mendidik tuannya. Semua yang disebut atau dilakukan dapat dikatakan mendidik. Baik itu dilakukan sendiri maupun orang lain.

(46)

Definisi pendidikan menurut Syaikh Mustafa al-Ghulayani yang dikutip oleh Ahmad Khotibul Umam (2014: 28), bahwa pendidikan adalah menanamkan akhlak yang mulia dalam jiwa murid serta manyiraminya dengan petunjuk dan nasihat, sehingga menjadi kecenderungan jiwa yang membuahkan keutamaan, kebaikan, serta cinta bekerja yang berguna bagi tanah air. Dari penjelasan Al-Ghulayani tersebut, jelas bahwa pendidikan selain mangajarkan tentang ilmu pengetahuan juga harus memberikan pembelajaran yang baik, membentuk pribadi yang baik, memiliki akhlak yang mulia salah satunya adalah peduli terhadap lingkungan yang melalui petunjuk dan nasihat. Nasihat diberikan ketika seorang siswa melanggar tata tertib agar dia kembali mengikuti peraturan yang ada. Hal tersebut dilakukan dengan pembinaan dan pembiasaan. Karena sesungguhnya manusia sejak awal memiliki potensi (fitrah) kebaikan.

Sedangkan kata karakter didefinisikan oleh para ahli sebagai berikut:

Menurut Ryan dan Bohlin, secara etimologis, kata karakter (Inggris: caracter) berasal dari bahasa Yunani, charrasein yang berarti “to engrave” yang kemudian diterjemahkan oleh Echols dan Shadily dengan

(47)

dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika. Karakter juga merupakan sikap maupun tindakan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.

Scerenko dalam Samani dan Hariyanto (2013: 42) mendefinisikan karakter sebagai atribut atau ciri-ciri yang membentuk dan membedakan ciri pribadi, ciri etis, dan kompleksitas mental dari seseorang, kelompok atau bangsa. Menurut Lickona, karakter mulia (good caracter) meliputi pengetahuan tentang kebaikan, kemudian menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan. Dengan kata lain, karakter mengacu pada serangkaian pemikiran, perasaan, perilaku yang sudah menjadi kebiasaan (Zuchdi, 2013: 16).

(48)

Lickona memaknai pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter siswa. Sementara Alfie Kohn menyatakan bahwa pada hakikatnya pendidikan karakter dapat didefinisikan secara luas atau secara sempit. Dalam makna yang luas pendidikan karakter mencakup hampir seluruh usaha sekolah di luar bidang akademis terutama yang bertujuan untuk membantu siswa tumbuh menjadi seseorang yang memiliki karakter yang baik. Dalam makna sempit, pendidikan karakter dimaknai sebagai sejenis pelatihan moral yang merefleksikan nilai tertentu (Samani dan Hariyanto, 2013: 44-45).

(49)

Pendidikan karakter tidaklah bersifat teoritis (meyakini telah ada konsep yang akan dijadikan rujukan karakter), tetapi melibatkan penciptaan situasi yang mengkondisikan peserta didik mencapai pemenuhan karakter utamanya. Penciptaan konteks (komunitas belajar) yang baik, dan pemahaman akan konteks peserta didik (latar belakang dan perkembangan psikologi) menjadi bagian dari pendidikan karater (Q-Anees dan Adang Hambali, 2008:104).

Karakter itu tidak diwariskan, tetapi sesuatu yang dibangun secara berkesinambungan melalui pikiran dan perbuatan (Samani dan Hariyanto, 2013: 41). Karakter siswa dapat diubah atau dibentuk dengan pembiasaan karena lingkungan sosial baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat ikut membentuk karakter seseorang. Sesuai dengan teori pendidikan aliran konvergensi yang dipelopori oleh William Stern yang menyatakan bahwa pendidikan sangat penting meskipun bakat bawaan anak didik juga mempengaruhi keberhasilan pendidikan (Arief, 2002: 6). Oleh karenanya, karakter pun dapat dibentuk melalui pendidikan. Karakter sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari (Samani dan Hariyanto: 2013: 43).

(50)

membentuk manusia (siswa) yang berkarakter baik. Usaha tersebut dilakukan melalui pengajaran dan pelatihan. Di samping itu, dilakukan pembiasaan untuk mengubah perilaku siswa menjadi berperilaku mulia. Pendidikan tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi lebih pada menanamkan perilaku baik yang mengkarakter dalam diri siswa. Pendidik memberikan pengetahuan tentang kebaikan, sehingga menimbulkan keinginan dan niat untuk melakukan kebaikan dan benar-benar melaksanakan hal kebaikan tersebut.

Definisi pendidikan lingkungan hidup menurut Proyek Pembinaan Pendidik Kependudukan (P3K) Ditjendikdasmen Departemen P&K adalah proses mengorganisasi nilai dan memperjelas konsep-konsep untuk membina keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memahami dan menghargai hubungan antar manusia, kebudayaan dan lingkungan fisiknya. Sedangkan menurut Djajasurya yang dikutip oleh tim penulis dalam bukunya Maftuchah Yusuf, pendidikan lingkungan hidup merupakan suatu program pendidikan yang disusun untuk mengembangkan fungsi kognitif, afektif, dan keterampilan psikomotor pada individu dengan mengarahkan kemampuan untuk mengoptimalkan sumbangan kreativitas yang dimiliki menuju peningkatan kualitas hidup (Tim Penulis, 2011: 150).

(51)

keterampilan siswa dalam memahami dan menghargai hubungan antar manusia dan lingkungan fisiknya, mengembangkan aspek psikomotor siswa (mengembangkan perilaku dalam kehidupan sehari-hari) untuk senantiasa melestarikan lingkungan dan meminimalisir kerusakan lingkungan menuju peningkatan kualitas hidup dengan menggunakan cara yang islami sesuai dengan ajaran Islam. Program tersebut berisikan pengetahuan tentang peduli lingkungan, sehingga menimbulkan niat dan benar-benar merealisasikan sikap peduli lingkungan. Tugas guru untuk mendidik siswanya supaya berkarakter peduli lingkungan menjadi hal yang sangat penting dan termasuk melaksanakan perintah Allah Swt untuk selalu mengajarkan yang termaktub dalam QS. Ali Imran: 79 (al Quran dan Terjemahannya, 2013: 60):

َووُ ُ ْدَ ْمُتْنُك اَِبَِو َااَتِ ْلا َووُمِّلَعُ ْمُتْنُك اَِبِ َ ِّيِناَّبَ اوُنوُك

Artinya: “hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”

Peduli lingkungan termasuk salah satu dari 18 nilai karakter versi Kemendiknas yang dikutip Suyadi (2013: 7-8):

1. Religius, yakni ketaatan dan kepatuhan dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama yang dianut,

(52)

3. Toleransi, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan agama, adat, pendapat maupun hal lain yang berbeda dengan dirinya secara sadar dan terbuka,

4. Disiplin, yakni kebiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala bentuk peraturan yang berlaku,

5. Kerja keras, yakni perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh-sungguh dalam menyelesaikan berbagai tugas dan permasalahan, 6. Kreatif, yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam

berbagai segi dalam memecahkan masalah sehingga menemukan cara-cara dan hasil yang baru,

7. Mandiri, yakni sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain,

8. Demokratis, yakni sikap dan cara berpikir yang mencerminkan persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara pribadi dengan orang lain,

9. Rasa ingin tahu, yakni cara berpikir, sikap, dan perilaku yang mencerminkan penasaran dan keingintahuan terhadap segala hal secara lebih mendalam,

10. Semangat kebangsaan, yakni sikap dan tindakan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi maupun golongan,

(53)

budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya sehingga tidak mudah menerima tawaran bangsa lain yang dapat merugikan bangsa sendiri, 12. Menghargai prestasi, yakni sikap terbuka terhadap prestasi orang lain

dan mengakui kekurangan diri sendiri tanpa mengurangi semangat berprestasi yang lebih tinggi,

13. Komunikatif, senang bersahabat atau proaktif,

14. Cinta damai, sikap dan perilaku yang mencerminkan suasana damai, aman, dan nyaman atas kehadiran dirinya dalam komunitas tertentu, 15. Gemar membaca, yakni kebiasaan dengan tanpa paksaan untuk

menyediakan waktu secara khusus guna membaca berbagai informasi dari berbagai sumber,

16. Peduli lingkungan, yakni sikap dan tindakan yang selalu berupaya menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar,

17. Peduli sosial, yakni sikap dan perbuatan yang mencerminkan kepedulian terhadap orang lain, dan

18. Tanggung jawab, yakni sikap dan perilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

(54)

dan mengingatkan, memberikan teladan untuk mengamalkan sikap peduli lingkungan dalam kehidupan sehari-hari di mana pun ia berada.

Terdapat 4 dimensi kemanusiaan yang diemban yaitu dimensi diri, Allah, sesama manusia, dan lingkungan. Dimensi lingkungan yang diambil dari kata bertanggung jawab kepada lingkungan alam dan sosial. Dimensi ini memiliki landasan berpikir kepada upaya perlindungan sumber daya alam dan pendampingan sosial masyarakat menuju keseimbangan atau kelestarian dan tenggang rasa sosial dalam nuansa harmonis-humanis (Tim Penulis, 2011: 139). Allah berfirman dalam Q.S Ar Rum: 41 sebagai berikut (al Quran dan Terjemahannya, 2013: 408):

اوُلِمَع يِذَّلا َضْعَ ب ْمُهَقيِذُيِل ِساَّنلا يِدْيَأ ْتَبَسَك اَِبِ ِرْحَبْلاَو ِّرَ بْلا ِفِ ُداَسَفْلا َرَهَظ

َووُعِ ْرَ ي ْمُهَّلَعَل

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke

jalan yang benar).”

(55)

pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup (Tim Penulis, 2011: 144). Kepedulian pada lingkungan hidup seharusnya membawa manusia untuk sadar pada kemampuan tanggung jawab dan posisinya sebagai individu, serta pada kedudukannya secara sosial dan profesional untuk menjaga kondisi tetap harmonis sebagai upaya penyelamatan lingkungan hidup (Tim Penulis, 2011: 148).

Selain untuk beribadah kepada Allah, manusia juga diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas untuk memanfaatkan, mengelola dan memelihara alam semesta. Allah telah menciptakan alam semesta untuk kepentingan dan kesejahteraan semua makhluk-Nya, khususnya manusia.

Sebagaimana firman Allah Swt. QS. Yunus: 14 (al Quran dan Terjemahannya, 2013: 209) sebagai berikut:

َووُلَمْعَ َ ْيَك َرُ ْنَ نِل ْمِ ِدْعَ ب ْنِم ِ ْ اا ِفِ َ ِئ َ ْمُكاَنْلَعَ َُّ

Artinya: “kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di

muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat.”

(56)

kebersihan lingkungan yang termasuk salah satu hal yang menanamkan karakter peduli lingkungan.

Pendidikan termasuk hal terpenting sebagai salah satu jalur penyadaran dan pengertian untuk meminimalisir terhadap kerusakan lingkungan alam sosial yang mengglobal (Tim Penulis, 2011: 143). Pendidikan yang berwawasan lingkungan diharapkan dapat memberikan pengaruh positif baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memberikan kontribusi dalam menjaga keseimbangan atau kelestarian lingkungan hidup (Tim Penulis, 2011: 149). Pendidikan karakter peduli lingkungan untuk menanamkan keyakinan yang mendalam bahwa manusia adalah bagian dari alam.

(57)

Pengetahuan tentang lingkungan hidup yang memadai sangat diperlukan oleh semua lapisan masyarakat agar bersama-sama mengupayakan penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup. Hal ini menjadi sangat krusial untuk segera dilakukan secara kolektif melalui jalur pendidikan (Maslikhah, 2013: 113).

Menurut Rian Sugiarto kebiasaan-kebiasaan memperlakukan lingkungan yang mengikis karakter yang dikutip Majid dan Dian Andayani (2013: 55) di antaranya:

1. Merokok di sembarang tempat,

2. Membuang sampah di sembarang tempat, 3. Corat-coret/vandalism,

4. Asap kendaraan yang mencemari udara, 5. Jalan bertabur iklan,

6. Konsumsi plastik yang berlebihan,

7. Tidak terbiasa memperhatikan aturan pakai, 8. Abai dengan pohon, dan

9. Menganggap remeh daur ulang.

B. Landasan Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan 1. Ayat Al Quran dan Hadits

(58)

Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw. telah memberikan contoh bagaimana sikap seorang muslim terhadap lingkungan (Maslikhah, 2013: 17). pernah mengutus tentara ke Syam, lalu beliau keluar sambil berjalan kaki bersama Yazid bin Abu Sufyan, sedang Yazid ketika itu adalah kepala seperempat dari (pasukan-pasukan) yang dibagi empat itu,

Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya aku berwasiat kepadamu dengan

sepuluh hal, jangan membunuh perempuan, jangan membunuh anak-anak, jangan membunuh orang tua yang sudah tak berdaya, jangan menebang pohon yang sedang berbuah, jangan merobohkan bangunan, jangan menyembelih kambing dan unta kecuali sekedar untuk dimakan, jangan merusak pohon kurma, jangan membakar

pohon kurma, jangan berkhianat, jangan menjadi pengecut.”(HR.

Malik dalam Mawaththa’, di dalam Nailul Authar)

Dari hadits tersebut dapat diambil hikmah bahwa Allah Swt. memerintahkan kepada manusia melalui perantara Rasulullah Saw. agar manusia memelihara binatang dan senantiasa menjaga lingkungan alam, karena itu semua untuk memenuhi kebutuhan manusia juga.

(59)

a.

َنيِدِسْفُم ِ ْ اا ِفِ اْوَ ثْعَ لاَو ْمُ َااَيْشَأ َساَّنلا اوُسَخْبَ لاَو

“dan janganlah kamumerugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat

kerusakan.” (QS. Asy Syuara: 183)

b.

َنيِدِسْفُم ِ ْ اا ِفِ اْوَ ثْعَ لاَو ِ َّللا َالا اوُرُكْااَف

“maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu

merajalela di muka bumi membuat kerusakan.”(QS. Al A’raf: 74)

c.

َ ِنِمْؤُم ْمُتْنُك ْوِ ْمُ َل ٌرْ يَ ْمُ ِلَا اَهِلا ْ ِ َدْعَ ب ِ ْ اا ِفِ اوُدِسْفُ لاَو

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al A’raf: 85)

d. Nabi Muhammad Saw. bersabda:

َااَق َااَق ٍرِباَ ْنَع ٍااَطَع ْنَع ِكِلَمْلا ُدْبَع اَنَ ثَّدَلا ِبَِأ اَنَ ثَّدَلا ٍْيَُْنُ ُنْبا اَنَ ثَّدَلا

َلِكُأ اَم َواَك َّلاِ اً ْرَغ ُسِرْ َ ي ٍمِلْسُم ْنِم اَم َمَّلَ َو ِ ْيَلَع ُ َّللا ىَّلَ ِ َّللا ُاوُ َ

اَمَو ٌةَقَدَ ُ َل َوُهَ ف ُ ْنِم ُعُبَّسلا َلَكَأ اَمَو ٌةَقَدَ ُ َل ُ ْنِم َقِرُ اَمَو ًةَقَدَ ُ َل ُ ْنِم

ٌةَقَدَ ُ َل َواَك َّلاِ ٌدَلاَأ ُ ُ َ ْرَ ي َلاَو ٌةَقَدَ ُ َل َوُهَ ف ُرْ يَّطلا ْتَلَكَأ

“Dari Ibn Numair dari bapaknya dari Abdul Malik dari „Atho‟ dari Jabir berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam, kecuali setiap tanamannya yang dimakan bernilai sedekah baginya, apa yang dicuri orang darinya menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan binatang liar menjadi sedekah baginya, apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya, dan tidaklah seseorang mengambil darinya, melainkan ia menjadi sedekah baginya.”(HR. Muslim)

e. Nabi Muhammad Saw. bersabda (Musthofa, 1992: 324):

(60)

“Dari Abu Malik Al Harits bin 'Ashim Al Asy'ari ra., dia berkata: Bersabda Rasulullah Saw.: "Kesucian adalah sebagian dari iman, Al Hamdulillah memberatkan timbangan, Subhanallah dan Al Hamdulillah akan memenuhi antara langit dan bumi, shalat adalah cahaya, sedekah adalah burhan (bukti), sabar adalah pelita, Al Quran adalah hujjah bagimu dan atasmu, setiap manusia berusaha untuk menjual dirinya maka dia menjadi merdeka (dari azab) atau menjadi binasa.”(HR. Muslim)

Kesucian adalah setengah dari iman dan kesucian itu bermula dari kebersihan. Di mana menjaga kebersihan lingkungan merupakan salah satu sikap peduli lingkungan. Dengan lingkungan yang bersih, manusia akan hidup dengan nyaman, dan tumbuhan pun juga akan tumbuh dengan baik. Oleh karenanya, menjaga kebersihan dan kesucian termasuk bagian dari wujud sikap peduli terhadap lingkungan.

Dari dalil-dalil di atas, baik dalil al quran maupun al hadits tersirat pesan agar manusia selalu menjaga lingkungan hidupnya dan dilarang merusaknya. Larangan membuat kerusakan telah dikemukakan oleh Allah dalam beberapa ayat. Artinya, Allah benar-benar menyuruh hambanya untuk memelihara lingkungan hidupnya demi kemaslahatan hidup mereka sendiri dan sebagai salah satu bukti implikasi dari kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

2. Program Adiwiyata

(61)

diperbaharui pada tahun 2005 dan 2010. Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tahun 2005, pada tahun 2006 Kementrian Lingkungan Hidup mengembangkan program pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar dan menengah melalui program adiwiyata. Tujuan program adiwiyata adalah mewujudkan warga sekolah yang bertanggungjawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (Purwani, 2014: 24-25). 3. Program Green Environment

Program Green Environment merupakan salah satu program yang berperan dalam penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan di sekolah. Program ini bertujuan untuk menciptakan karakter peduli lingkungan pada anak. Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan program Green Environment ini antara lain adalah pengolahan sampah dan penghijauan. Program ini tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja tapi juga dilakukan di luar sekolah (Setiyani, 2013: 25).

(62)

untuk menunjang kesehatan fisik mental dan kecerdasan otak anak. Selain mengurangi global warming, masih banyak efek baik dari lingkungan sekolah yang hijau terlebih bagi siswa. Jika mereka belajar di tempat-tempat area hijau pastilah dapat mempengaruhi perkembangan otak dalam belajar. Program Green Environment pada dasarnya adalah pengenalan terhadap lingkungan kepada para pelajar tersebut yang diaplikasikan dalam berbagai kegiatan antara lain gerakan“save our forest“, hutan sekolah, dan back to nature (Setiyani, 2013: 25-27).

C. Model Pendidikan Karakter Peduli Lingkungan

Demi tercapainya pendidikan karakter peduli lingkungan diperlukan sebuah rancangan pendidikan atau model. Model diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan (Majid dan Dian Andayani, 2013: 115). Selain itu juga bisa diartikan sebagai deskripsi dari suatu sistem yang disederhanakan agar dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya (Umam, 2014: 26). Dalam bukunya Abdul Majid (2013: 116), Dewey mendefinisikan model pembelajaran sebagai:

“a plan or pattern that we can use to design face to face teaching in

(63)

Dalam hal ini, menurut hemat penulis, model pendidikan karakter yang dimaksud adalah kerangka konseptual dan prosedur yang sistemik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk menanamkan karakter pribadi peduli terhadap lingkungan pada peserta didik dan sebagai pedoman yang dapat digunakan oleh pendidik untuk melakukan aktivitas pendidikan. Seorang pendidik memiliki rancangan yang sistemik untuk membina karakter peserta didiknya agar senantiasa berupaya untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Model pendidikan karakter peduli lingkungan adalah rancangan yang disusun oleh pendidik untuk membina tumbuhnya kesadaran dalam diri peserta didik untuk selalu berusaha menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Sehingga peserta didik tidak hanya sekadar mengetahui konsep peduli lingkungan, akan tetapi juga mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari di manapun ia berada.

Di antara model pendidikan karakter yang dapat digunakan oleh pendidik yaitu sebagaimana Abdul Majid (2013: 116) mengemukakan

bahwa model “tadzkirah” dipandang sebagai model untuk mengantarkan peserta didiknya agar senantiasa menumbuhkan, memupuk, dan memelihara rasa keimanan yang telah diilhamkan oleh Allah dengan wujud konkritnya amal saleh yang dibingkai dengan keikhlasan beribadah. Makna tadzkirah dilihat dari dua segi yaitu secara etimologi, tadzkirah

(64)

berarti peringatan. Dalam al Quran banyak ditemukan lafadz tadzkirah di antaranya:

ىَشَْيَ ْنَمِل ًةَرِكْذَ لاِ ،ىَقْشَتِل َو ْرُقْلا َكْيَلَع اَنْلَزْ نَأ اَم

Artinya: “Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Q.S. Thahaa: 2-3)

َ ِنِمْؤُمْلا ُعَفْ نَ َرْكِّذلا َّوِ َف ْرِّكَاَو

Artinya: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Adz

Dzariyat: 55)

ُ َرَكَا َااَش ْنَمَف ،ٌةَرِكْذَ ُ َّنِ َك

Artinya: “Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah peringatan. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Qur'an).” (Q.S. Al Muddatsir:

54-55)

Model TADZKIRAH yang dimaksud adalah turunan dari sebuah teori pendidikan Islam (Majid, 2013: 117):

1. T: Tunjukkan teladan,

2. A: Arahkan (berikan bimbingan),

3. D: Dorongan (berikan motivasi atau reinforcement), 4. Z: Zakiyah (murni/bersih-tanamkan niat yang tulus),

5. K: Kontinuitas (sebuah proses pembiasaan untuk belajar, bersikap dan berbuat),

6. I: Ingatkan,

7. R: Repetisi (pengulangan), 8. A (O): Organisasikan, dan

9. H: Heart (hati – sentuhlah hatinya). 1. Tunjukkan Teladan

(65)

banyak memberikan keteladanan dalam mendidik para sahabatnya (Arief, 2002: 116).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “keteladanan” berasal

dari kata dasar “teladan” yaitu (perbuatan atau barang dan sebagainya)

yang patut ditiru atau dicontoh. Dalam bahasa arab, keteladanan

dikenal dengan kata “uswah” dan “qudwah”.

Dalam al Quran lafadz uswah terulang tiga kali dalam dua surat, yaitu (Al Quran dan Terjemahnya, 2013: 549-550):

ُ َعَم َنيِذَّلاَو َميِ اَرْ بِ ِفِ ٌةَنَسَلا ٌةَوْ ُأ ْمُ َل ْتَناَك ْدَق

Artinya: “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.”

(QS. Al Mumtahanah (60): 4)

َّاَوَ تَ ي ْنَمَو َرِ لآا َمْوَ يْلاَو َ َّللا وُ ْرَ ي َواَك ْنَمِل ٌةَنَسَلا ٌةَوْ ُأ ْمِهيِف ْمُ َل َواَك ْدَقَل

ُديِمَْاا ُِّ َ ْلا َوُ َ َّللا َّوِ َف

Artinya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan barang siapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Kaya lagi terpuji.” (QS. Al Mumtahanah (60): 6)

َرِ لآا َمْوَ يْلاَو َ َّللا وُ ْرَ ي َواَك ْنَمِل ٌةَنَسَلا ٌةَوْ ُأ ِ َّللا ِاوُ َ ِفِ ْمُ َل َواَك ْدَقَل

َ َّللا َرَكَاَو

اًيِْثَك

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab (33): 21) (al Qur’an dan

(66)

Al Asfahani dalam bukunya Arief (2002: 117) memberikan pengertian al uswah sebagaimana kata al qudwah yang berarti suatu keadaan ketika seorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, kejahatan, atau kemurtadan. Ibn Zakaria juga mendefinisikan kata uswah berarti qudwah yang artinya ikutan, mengikuti yang diikut. Dengan demikian, keteladanan adalah segala sesuatu yang dapat ditirukan maupun dicontoh oleh seseorang dari orang lain. Akan tetapi, keteladanan yang dimaksud di sini adalah keteladanan dalam hal kebaikan dan khususnya berkaitan dengan karakter kepribadian peduli lingkungan.

Nabi Muhammad Saw. sebagai sosok teladan yang baik bagi umatnya selalu terlebih dahulu mempraktikkan semua ajaran yang disampaikan Allah sebelum menyampaikannya kepada umat. Sehingga beliau tidak dapat dituduh sebagai orang yang hanya pandai bicara dan

tidak pandai mengamalkan. Praktik “uswah” ini dapat menjadi pemikat

bagi umatnya untuk menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dilarang dan mengamalkan semua tuntunan yang diperintahkan Rasulullah Saw. (Arief, 2002: 119)

(67)

setiap waktu. Maka hal itu dapat menjadi contoh bagi muridya, seperti untuk menjaga kebersihan ruang kelas.

Keteladanan adalah sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan dan dalam proses pendidikan. Karena, untuk merealisasikan tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan yang tertuang dalam konsep dan teori harus diterjemahkan dengan media salah satunya adalah keteladanan (Rosyadi, 2004: 230). Karena, secara psikologi anak didik banyak meniru dan mencontoh perilaku sosok figurnya termasuk para pendidiknya (Arief, 2002: 124).

Allah telah mengutus Nabi Muhammad Saw. agar menjadi suri tauladan bagi seluruh umat manusia dalam merealisasikan sistem pendidikan tersebut sebagaimana Rasulullah mendidik sahabat-sahabatnya dengan teladan. Dengan kepribadian dan tingkah laku dalam pergaulan bersama manusia, Rasulullah benar-benar merupakan interpretasi praksis yang manusiawi dalam kehidupan hakikat, ajaran,

adab, dan tasyri’ al Quran, yang melandasi perbuatan pendidikan islam

(68)

ibarat sebuah naskah asli yang hendak dikopi oleh peserta didiknya. Sebagaimana perkataan Ahmad Syauqi yang dikutip Abdul Majid dan

Dian Andayani (2013: 120) bahwa “jika guru berbuat salah sedikit

saja, akan lahirlah siswa yang lebih buruk baginya.” Guru memiliki

murid-murid yang kemudian mereka menuai buah dari benih ilmu yang telah guru berikan. Oleh karena itu, guru hendaklah jadi teladan yang baik bagi murid-muridnya (Majid dan Dian Andayani, 2013: 119)

Metode keteladanan sebagai suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan tujuan pendidikan dengan memberi contoh keteladanan yang baik kepada siswa agar mereka dapat berkembang baik secara fisik maupun mentalnya dan memiliki akhlak yang baik dan benar (Arief, 2002: 119-120). Dalam konteks ini, diharapkan dalam diri siswa tertanam karakter peduli lingkungan yang akan menjadikannya selalu memelihara lingkungan di sekitarnya sebagai wujud dari pengamalan perintah Allah untuk menjaga alam sekitar dan hadits Nabi tentang kebersihan sebagian dari iman.

Gambar

Tabel 3.1
Tabel 3.2
Tabel 3.3
Tabel 3.5

Referensi

Dokumen terkait

Anxiety and Depression – A Suicidal Risk In Patients Chronic Renal Failure On Maintenance Hemodyalisis.. International Journal Of Scientific and Research

Populasi merupakan sekelompok orang,kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu. Populasi dari penelitian ini adalah para Auditor yang bekerja di

Diskusikan dengan teman-teman dalam kelompokmu tentang materi unsur- unsur (sifat-sifat) pada kubus. Perhatikan

Sukarelawan remaja juga perlu melakukan pengaturan waktu untuk melakukan aktivitas dalam organisasi kerelawanan agar jumlah waktu yang digunakan efektif mencapai kualitas

Dengan menggunakan teknik aplikasi Sistem Pakar, dihasilkan suatu program.. sistem perawatan instrumentasi alat ukur yang dapat melakukan pemantauan,

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk (1) menejelaskan mengenai tokoh- tokoh dalam cerita novel Belenggu yang ingin mengikuti tradisi modern, (2)

a) Diwajibkan bagi orang yang berutang mengembalikan atau membayar kepada piutang pada waktu yang telah ditentukan dengan barang yang serupa atau dengan seharganya. b)

Tabel 19 : Jumlah Kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten /Kota Kutai Barat Tahun