BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengertian Manajemen
Manajemen Aset Milik Daerah diperlukan untuk pengelolaan
barang-barang milik daerah. Manajemen aset merupakan pengetahuan tersendiri dalam
mengelola aset Milik Daerah guna menjamin pengembangan kapasitas yang
berkelanjutan. Pengelolaan aset daerah merupakan kegiatan atau tindakan
pengendalian dan penertiban dalam upaya pengurusan barang milik daerah secara
fisik, administratif, dan tindakan hukum.
Dari segi bahasa management berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct”, dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan,
mengelola”, Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan Manage sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization”.Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Manajemen diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai
sasaran”. Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan
pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda. Berikut ini
dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman
(1) Manajemen itu adalah pengendalian dan pemanfaatan daripada semua
faktor dan sumberdaya, yang menurut suatu perencanaan (planning) , diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta atau tujuan
kerja yang tertentu, Prajudi Atmosudirdjo (1982 : 124)
(2) Management is the use of people and other resources to accomplish objective, Louis E. Boone, David L Kurtz (1984 : 4).
(3) Management - the function of getting things done through people, Harold Koontz.,Cyril O’Donnel (1986 : 3)
(4) Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari
tindsakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakan, dan
pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai
sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia
serta sumber-sumber lain, George R. Terry (1986 : 4)
(5) Manajemen dapat didefinisikan sebagai ‘kemampuan atau ketrampilan
untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui
kegiatan-kegiatan orang lain’. Dengan demikian dapat pula dikatakan
bahwa manajemen merupakan alat pelaksana utama administrasi, Sondang
P. Siagian (1997 : 5)
(6) The most comporehensive definition views management as an integrating process by which authorized individual create, maintain, and operate an organization in the selekjtion an accomplishment of it’s aims, Lester Robert Bittel (Ed) (1978 : 640).
Dengan memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa
perbedaan formulasi hanya dikarenakan titik tekan yang berbeda namun prinsip
dasarnya sama, yakni bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam
ada, sementara itu definisi nomor empat yang dikemukakan oleh G.R Terry
menambahkan dengan proses kegiatannya, sedangkan definisi nomor lima dari
Sondang P Siagian menambah penegasan tentang posisi manajemen hubungannya
dengan administrasi.
Terlepas dari perbedaan tersebut, terdapat beberapa prinsip yang
nampaknya menjadi benang merah tentang pengertian manajemen yakni: (1)
Manajemen merupakan suatu kegiatan, (2) Manajemen menggunakan atau
memanfaatkan pihak-pihak lain, dan (3) Kegiatan manajemen diarahkan untuk
mencapai suatu tujuan tertentu
Setelah melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa setiap
organisasi termasuk organisasi pendidikan seperti Sekolah akan sangat
memerlukan manajemen karena sesuai dengan pengertiannya, organisasi
merupakan kumpulan orang-orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan
bersama, hal tersebut sejalan dengan pengertian organisasi yang dikemukakan
oleh James D. Mooney dalam bukunya The Principles of Organization bahwa “Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose”, Sutarto (1980 : 22). Kerjasama akan berjalan dengan baik apabila ditata dan dikelola dengan tepat, untuk itu pengelolaannya mesti berjalan
secara sistematis melalui tahapan-tahapan dengan diawali oleh suatu rencana
sampai tahapan berikutnya dengan menunjukan suatu keterpaduan dalam
prosesnya, dengan mengingat hal itu, maka makna pentingnya manajemen
membantu proses tersebut.Adapun fungsi-fungsi manajemen sebagaimana
dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut. H. Siagian (1977 : 79)
(1) Menurut G.R Terry
a. Planning (Perencanaan) b. Organizing (Pengorganisasian) c. Actuating (Pelaksanaan) d. Controlling (Pengawasan) (2) Menurut Henri Fayol
a. Planning (Perencanaan) b. Organizing (Penorganisasian) c. Commanding (Pengaturan) d. Coordinating (Pengkoordinasian) e. Controlling (Pengawasan)
(3) Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel a. Planning (Perencanaan)
b. Organizing (pengoganisasian) c. Staffing (Penentuan Staf) d. Directing (Pengarahan) e. Controlling (pengawasan) (4) Menurut L Gullick
a. Planning (Perencanaan) b. Organizing (pengorganisasian) c. Staffing (penentuan Staf) d. Directing (Pengarahan)
e. Coordinating (Pengkoordinasian) f. Reporting (Pelaporan)
g. Budgeting (Penganggaran)
Dengan melihat fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan oleh
empat orang ahli tersebut meskipun secara keseluruhan tidak sama persis namun
terdapat beberapa fungsi yang sama. Dalam hal ini Planning dan Organizing terdapat dalam setiap pendapat tersebut. Staffing dan Directing terdapat dalam pendapat Harold Koontz dan L. Gulick.
termasuk ke dalam fungsi manajemen menurut pendapat G.R. Terry, Henry Fayol
dan Harold Koontz, sedangkan Reporting dan Budgeting hanya terdapat pada fungsi manajemen menurut L. Gulick, namun demkian secara umum terdapat
kecenderungan pemikiran dan arah yang sama dalam melihat fungsi-fungsi
manajemen. Sementara itu Sondang P. Siagian setelah membagi fungsi-fungsi
manajemen ke dalam fungsi organik dan fungsi tambahan, dan membandingkan
berbagai pendapat para akhli akhirnya menyimpulkan bahwa fungsi manajemen
adalah terdiri dari: Sondang P. Siagian (1997 : 107)
(1) Perencanaan (Planning) (2) Pengorganiasian (Organizing) (3) Pemberian motivasi (motivating) (4) Pengawasan (Controlling) (5) Penilaian (Evaluating)
Sementara itu C. Turney (et.al) menyebutkan bahwa terdapat lima fungsi
manajemen (manager role) “……. planning, communicating, organizing, notivating, and controlling”, C. Turney et al, (1992 : 99). Lebih lanjut dikatakan bahwa kelima fungsi (peran) tersebut tidak bersifat terpisah-pisah, dalam
prtakteknya bersifat saling terkait bahkan terkadang tumpang tindih pada saat
manajer menjalankan pekerjaannya.
Pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam kenyataan akan merupakan
suatu proses yang mencakup tahapan-tahapan tertentu, sehingga pelaksanaan
fungsi-fungsi tersebut belum menjamin suatu keberhasilan bila tahapan-tahapan
tidak dijalankan dengan baik, untuk itu berikut ini akan dikemukakan
mengacu pada fungsi-fungsi manajemen dari G.R Terry yang terdiri Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling.
(1) Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan fungsi manajemen yang pertama, arti dari
perencanaan menurut Louis E Boone dan David L. Kurtz “Planning may be defined as the proicess by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective” Louis E. Boone, David L Kurtz. (1984 : 101). Dari pengertian ini nampak bahwa dalam
proses perencanaan tercakup penentuan tujuan yang layak serta bagaimana
tujuan itu dicapai, secara lebih rinci proses perencanaan terdiri dari tiga tahapan
yaitu: (1) setting organizational objective, (2) Developing planning premises, (3) Developing methods to control the operation of the plan”. Penentuan tujuan merupakan syarat mutlak dalam sebuah rencana, dan karena tujuan itu
merupakan sesuatu yang harus dicapai maka diperlukan penentuan cara
mencapainya sesudah memahami tentang kondisi lingkungan dimana organisasi
itu berada. Menurut C Turney dan D. Smith dalam tulisannya yang berjudul
“Planning Role” menyatakan bahwa dalam melaksanakan perencanaan, harus melaksanakan hal-hal sebagai berikut yakni: (1) Visioining and formulating mission, (2) Making policy and setting goal, (3) Designing porogrammes, (4) Determining and allocating of resources, (5) Modifying policy and plan, C. Turney et al, (1992 : 131).
Dengan melihat tugas langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan
artinya langkah atau tugas kedua baru dilaksanakan bila yang pertama sudah
dilakukan demikian juga seterusnya. Penetapan Visi dan misi harus dilakukan
sebelum menentukan kebijakan dan penentuan tujuan kemudian diikuti dengan
pembuatan program sesudah itu baru menentukan pengalokasian sumber daya,
akhirnya dilakukan evaluasi yang kemudian dilakukan modifikasi kebijakan dan
rencana jika dianggap perlu.
(2) Pengorganisasian (Organizing).
Perencanaan yang sudah dibuat pada dasarnya untuk dilaksanakan, dan
untuk itu diperlukan pengaturan hubungan-hubungan diantara berbagai
sumberdaya yang ada, dalam konteks ini langkah pengorganisasian mutlak
diperlukan. Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan
hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, hingga mereka dapat
bekerja sama secara efiusien dan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam
hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna
mencapai tujuan atau sasaran tertentu”, George R. Terry, (1986 : 233)
Sementara itu Louis E. Boone menefinisikan Pengorganisasian “……as the act of planning and implementing organization structure. It is the process of arranging people and physical resources to carry out plans and accopmplish organizational objective”, George R. Terry, (1986 : 233)
Dari pengertian pengorganisasian seperti di atas jelas bahwa
pengorganisasian merupakan penentuan siapa pihak-pihak yang akan diberi
tugas untuk melaksanakan rencana yang sudah disusun serta bagaimana
pengorganisasian adalah: (1) developing and modifying organizational structure, (2) orienting participant and establishing high expectations, (3) Assigning Task and, where approriate in delegating authority, (4) coordinating and sustaining contribution, C. Turney et al, (1992 : 200).
Langkah pertama menyangkut pembentukan departemen-departemen,
penentuan saluran komunikasi serta kebijakan yang dapat meningkatkan
efektifitas pelaksanaan kegiatan organisasi, langkah kedua menyangkut upaya
mengajak seluruh komponen dalam organisasi untuk menyadari tentang misi
organisasi, sesudah itu memberikan tugas pada orang yang mampu dan akhirnya
melakukan koordinasi.
(3) Pelaksanaaan (Actuating).
Menurut G.R Terry, Actuating merupakan usaha menggerakan anggota-anggota kelompok demikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha
untuk mencapai sasaran perusahaan yang bersangkutan dan sasaran-sasaran
anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu ingin
mencapai sasaran-sasaran tersebut, George R. Terry, (1986 : 313)
Definisi di atas menunjukan bahwa penggerakan atau pelaksanaan
merupakan fungsi manajemen yang sangat penting sebab dengan fungsi ini
maka rencana dapat terlaksana dalam kenyataan, namun demikian diperlukan
pembinaan dan pemberian motivasi agar seluruh komponen dalam organisasi
dapat menjadikan proses pencapaian tujuan organisasi sebagai suatu bagian
dapat berjalan lancar tanpa ada konflik orientasi dalam pencapaian tujuan
tersebut.
(4) Pengawasan (Controlling).
Pengawasan merupakan fungsi manajemen terakhir yang tidak kalah
pentingnya dalam suatu organisasi. Menurut C. Turney pengawasan atau
Controlling adalah “…….the activities used by manager to ensure that activities of an organization are consistent with plan and organizational objectives are achieved”, C. Turney et al, (1992 : 240).
Sementara itu Louis E Boone mendefinisikan pengawasan sebagai “...the process by which manager determine whether organizational objectives are achieved and whether actual operation are consistent with plans”, Louis E. Boone, David L Kurtz (1984 : 412).
Dari pengertian tersebut pengawasan merupakan langkah pengendalian
agar pelaksanaan dapat sesuai dengan apa yang direncanakan serta untuk
memastikan apakah tujuan organisasi tercapai, karena rencana merupakan
patokan atau kriteria penting agar pengawasan dapat terlaksana dengan efektif,
adapun langkah-langkah dalam pengawasan adalah: (1) Establishing standard of performance, (2) Influencing the performance of Staff, (3) Monitoring and evaluating progress, (4) initiating correrctive action where performance below standard, C. Turney et al, (1992 : 248)
Untuk membandingkan antara hasil aktual dengan rencana diperlukan
suatu standar tertentu hal itu agar pengawasan dapat dilakukan secara obyektif,
disamping itu pengawasan juga perlu dibarengi oleh tindakan koreksi jika
dipandang perlu dan apabila terjadi penyimpangan yang akan berdampak pada
terganggunya proses pencapaian tujuan organisasi.
2. Pengertian Aset
Pengertian aset secara umum adalah barang (thing) atau sesuatu barang (anything) yang mempunyai:
(1) Nilai Ekonomi ( Economic value) (2) Nilai Komersial ( Commercial value )
(3) Nilai Tukar ( Exchange value ) yang dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha ataupun individu (perorangan ).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 70:2005), Aset merupakan:
sesuatu yang mempunyai nilai tukar, modal kekayaan. Asset (Aset) adalah barang, yang dalam pengertian hukum disebut benda, yang terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak, baik yang berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible), yang tercakup dalam aktifa/kekayaan atau harta kekayaan dari suatu instansi, organisasi, badan usaha atau individu perorangan.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 yang dimaksud
dengan Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas
beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
Pengertian mengenai Barang Milik Daerah berdasarkan Pasal 2 Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006, adalah sebagai berikut :
(1) Barang milik daerah meliputi :
a. Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD. b. Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.
b. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak. c. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang atau,
d. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Adapun pengertian Aset menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri dan
Keputusan Menteri Keuangan mempunyai pengertian yang sama yaitu semua
barang yang dibeli atau yang diperoleh atas beban APBN/APBD atau berasal dari
perolehan lainnya yang sah. Oleh sebab itu menyamakan persepsi , uraian Aset
adalah sebagai berikut :
(1) Semua barang inventaris yang dimiliki pemerintah daerah.
(2) semua barang hasil kegiatan proyek APBD/APBN/LOAN yang telah
diserahkan pada Pemerintah Daerah melalui dinas/instansi terkait.
(3) semua barang yang secara hukum dikuasai oleh pemerintah daerah seperti
cagar alam, cagar budaya, objek wisata, bahan tambang/galian C dan
sebagainya yang dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah yang
berkelanjutan dan yang memerlukan pengaturan pemerintah daerah yang
pemanfaatannya serta pemeliharaannya.
3. Manajemen Aset
Berbicara tentang manajemen aset secara umum, tidak terlepas dari
siklus pengelolaan barang yang dimulai dari perencanaannya sampai penghapusan
(1) Perencanaan (Planning) meliputi penentuan kebutuhan (requirement) dan penganggarannya (budgetting).
(2) pengadaan (Procurement) meliputi cara pelaksanaannya, standar barang dan harga atau penyusunan spesifikasi dan sebagainya.
(3) penyimpanan dan penyaluran (storage and distribution). (4) pengendalian (Controlling)
(5) Pemeliharaan (Maintainance). (6) Pengamanan (Safety).
(7) Pemanfaatan penggunaan (Utilities) (8) Penghapusan (Disposal)
(9) Inventarisasi (Invetarization)
Berdasarkan Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 4 ayat 2
menyatakan bahwa pengelolaan barang daerah meliputi :
(1) Perencanaan kebutuhan dan penganggaran (2) Pengadaan
(3) Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran (4) Penggunaan
(5) Penatausahaan (6) Pemanfaatan
(7) Pengamanan dan pemeliharaan (8) Penilaian
(9) Penghapusan (10) Pemindahtanganan
(11) Pembinaan, pengawasan dan pengendalian (12) Pembiayaan dan
(13) Tuntutan ganti rugi.
Tujuan Manajemen Aset kedepan diharapkan untuk menjamin
pengembangan kapasitas yang berkelanjutan dari pemerintahan daerah, maka
dituntut agar dapat mengembangkan atau mengoptimalkan pemanfaatan asset
daerah guna meningkatkan/mendongkrak Pendapatan Asli Daerah, yang akan
digunakan untuk membiayai kegiatan guna mencapai pemenuhan persyaratan
Sedangkan menurut D Siregar bahwa Manajemen Asset merupakan salah
satu profesi atau keahlian yang belum sepenuhnya berkembang dan popular
dilingkungan pemerintahan maupun di satuan kerja atau instansi. Manajemen Aset
terdiri dari 5 (lima) tahapan kerja yang salah satu sama lainnya saling terkait
yaitu:
a. Inventaris Aset b. Legal Audit c. Penilaian Aset d. Optimalisasi Aset
e. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) dalam pengawasan dan pengendalian aset.
4. Manajemen Aset Daerah
Dalam rangka mewujudkan tertib administrasi terhadap pengelolaan
barang daerah, perlu diatur pedoman kerjanya, untuk itu telah dikeluarkan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah, di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri ,
Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau perolehan lainnya yang sah.
Di dalam lampirannya dijelaskan tentang pengertian barang milik daerah
yaitu semua kekayaan daerah baik yang dibeli atau diperoleh atas Beban
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun yang berasal dari perolehan
lain yang sah, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak beserta
bagian-bagiannya ataupun yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai, dihitung,
diukur atau ditimbang termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan kecuali uang dan
Pengertian mengenai Barang Milik Daerah yang terbaru berdasarkan
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 3, adalah sebagai
berikut :
(1) Barang milik daerah meliputi :
a. barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD, dan b. barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.
(2) Barang sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi : a. barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis; b. barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak; (3) Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh ketentuan undang-undang, atau;
(4) Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;
Pengelolaan barang daerah adalah rangkaian kegiatan dan tindakan
terhadap barang daerah yang meliputi, perencanaan kebutuhan dan penganggaran,
pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan,
penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian,
penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan pengawasan dan pengendalian,
pembiayaan dan tuntutan ganti rugi ( Pasal 4 ayat 2 Permendagri Nomor 17
Tahun 2007 ). Pengelolaan barang milik daerah berdasarkan pada azas :
(1) Azas Fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang pengelolaan barang milik daerah yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna barang, pengelola barang dan Kepala Daerah sesuai fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing.
(3) Azas Transparansi, yaitu penyelenggaran pengelolaan barang milik daerah harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar.
(4) Azas Efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik daerah diarahkan agar barang daerah digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal.
(5) Azas Akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.
(6) Azas Kepastian Nilai, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik daerah serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah .
Seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, Aset/barang milik
daerah merupakan modal yang sangat mutlak yang harus dimiliki oleh
pemerintah daerah dalam upaya mendukung pelaksanaan kegiatan
pemerintahan, karena tanpa aset mustahil sebuah organisasi ataupun instansi
dapat berjalan dengan lancar.
Sedangkan kalau berpedoman kepada landasan yang terbaru yaitu
Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 4 ayat 2 menyatakan bahwa
pengelolaan barang daerah meliputi :
(1) Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran
Dalam perencanaan kebutuhan dan penganggaran barang daerah perlu
adanya pemahaman dari seluruh satuan kerja perangkat daerah terhadap
tahapan kegiatan pengelolaan barang milik daerah, sehingga koordinasi dan
Berkenaan dengan hal tersebut diatas, perlu dipahami mengenai
wewenang tugas dan fungsi sebagai berikut :
a. Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan barang milik daerah
mempunyai wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan
penerimaan dan pengeluaran barang milik daerah serta mempunyai
tanggung jawab untuk melaksanakan pembinaan dalam pengelolaan
barang milik daerah.
b. Kepala Daerah dalam rangka pelaksanaan, pembinaan dan pengelolaan
barang milik daerah dibantu oleh :
(a) Sekretaris Daerah selaku pengelola, sebagai koordinator dibantu oleh
asisten yang membidangi melakukan pembinaan pengelolaan barang
milik daerah, bertugas dan bertanggungjawab atas terselenggaranya
koordinasi dan sinkronisasi antara pembina, pengelola dan pengguna
barang/kuasa pengguna barang.
(b) Asisten yang membidangi dibantu oleh pembantu pengelola bertanggungjawab atas terlaksananya tertib pemenuhan standarisasi
sarana dan prasarana kerja Pemerintah Daerah, standarisasi harga dan
bertanggungjawab atas penyelenggaraan pengelolaan barang milik
daerah.
(c) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai pengguna bertugas dan
bertanggungjawab atas perencanaan kebutuhan, pengadaan,
penyimpanan,penggunaan, penatausahaan, pemeliharaan/perbaikan,
Dalam melakukan perencanaan kebutuhan barang dilaksanakan
berdasarkan pertimbangan yaitu :
a. Untuk mengisi kebutuhan barang pada masing-masing Unit/Satuan Kerja
sesuai besaran organisasi/jumlah pegawai dalam satu organisasi;
b. Adanya barang – barang yang rusak, dihapus, dijual, hilang, mati
atau sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga
memerlukan penggantian.
c. Adanya peruntukan barang yang didasarkan pada peruntukan standar
perorangan, jika terjadi mutasi bertambah personil sehingga
mempengaruhi kebutuhan barang.
d. Untuk menjaga tingkat persediaan barang milik daerah bagi setiap tahun
anggaran bersangkutan agar efisien dan efektif.
e. Pertimbangan teknologi.
(2) Pengadaan
Pengadaan barang daerah dilaksanakan oleh Panitia/Pejabat
Pengadaan barang dengan tujuan :
a. tertib administrasi pengadaan barang daerah;
b. tertib administrasi pengelolaan barang daerah;
c. pendayagunaan barang daerah secara maksimal sesuai dengan tujuan
pengadaan barang daerah;
Pengadaan barang daerah dapat dipenuhi dengan cara :
pengadaan/pemborongan pekerjaan, membuat sendiri / Swakelola, penerimaan
(hibah atau bantuan/sumbangan atau kewajiban pihak ketiga), tukar menukar
dan guna susun.
Administrasi pengadaan barang daerah yang dilaksanakan oleh
Panitia/Pejabat Pengadaan mencakup seluruh kegiatan pengadaan barang
daerah sesuai dengan daftar kebutuhan barang daerah. Adapun pengadaan
barang daerah melalui Panitia/Pejabat pengadaan, batasan dan cakupan
kegiatan pengadaan tersebut ditetapkan oleh Kepala Daerah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian Kepala Daerah
melimpahkan kewenangan kepada Kepala SKPD yang ditetapkan dengan
keputusan Kepala Daerah. Adapun kepala SKPD bertanggungjawab baik tertib
administrasi maupun kualitas barang serta melaporkan pelaksanaannya kepada
Kepala Daerah melalui pengelola.
Tata cara pelaksanaan pengadaan barang milik daerah :
a. Panitia pengadaan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah dengan
susunan keanggotaannya melibatkan unsur teknis terkait.
b. Panitia pengadaan menyelenggarakan tender/lelang dan mengambil
keputusan dalam suatu rapat yang dituangkan dalam Berita Acara Lelang
mengenai calon pemenang atas dasar harga terendah dikaitkan dengan
harga perkiraan sendiri (owner estimate ) yang dapat dipertanggungjawabkan untuk kualitas barang yang dibutuhkan.
Kepala Daerah dan/atau Sekretaris Daerah untuk menetapkan pemenang
lelang. Dalam berita acara lelang memuat antara lain ; Hari , tanggal dan
tempat pelaksanaan lelang, anggota Panitia yang hadir, rekanan yang
diundang ; rekanan yang hadir dan rekanan yang memenuhi syarat,
surat-surat penawaran yang masuk. Setelah ditetapkan calon pemenang lelang,
Kepala Daerah atau pengelola atau pengguna,menetapkan pemenang
lelang.
Pelaksanaan pengadaan/pekerjaan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a. membuat surat perjanjian yang ditandatangani oleh Kepala Daerah atau
pengelola /Kepala SKPD.
b. Sepanjang pengadaan/pekerjaan tidak dilakukan melalui lelang, maka
pelaksanaan pengadaan/ pekerjaan tidak dilakukan melalui lelang, maka
pelaksanaan pengadaan/pekerjaan dilakukan dengan Surat Perintah Kerja
yang ditandatangani oleh Kepala SKPD dan/atau pejabat pengadaan.
Dalam surat perintah pengadaan/pekerjaan tersebut, merupakan dasar
untuk penerimaan barang, harus dengan tegas memuat dan menyatakan
jumlah barang dan biaya maupun syarat-syarat lain yang diperlukan.
Penerimaan barang dilaksanakan oleh penyimpan barang .
(3) Penerimaan, Penyimpanan dan Penyaluran
Penerimaan barang milik daerah sebagai tindak lanjut dari hasil pengadaan
dan/atau dari pihak ketiga harus dilengkapi dengan dokumen
pengadaan dan berita acara. Penyimpanan, dan penyaluran barang
daerah baik melalui pengadaan maupun sumbangan/bantuan /hibah
merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka tertib administrasi
pengelolaan barang milik daerah.
Penerimaan dilakukan oleh penyimpan barang/pengurus barang, untuk itu
penerimaan barang oleh penyimpan barang/pengurus barang
dilaksanakan digudang penyimpanan. Pelaksanaan penerimaan
barang tersebut antara lain : dasar penerimaan barang ialah surat
perintah kerja/ surat perjanjian/kontrak pengadaan barang yan
ditandatangani oleh pejabat yang berwenang. Barang yang akan
diterima tersebut harus disertai dokumen yang jelas menyatakan
macam/jenis, banyak, harganya dan spesifikasi barang, baru diterima
apabila telah diteliti dan diperiksa oleh panitia pemeriksa barang,
sesuai dengan isi dokumen perjanjian tersebut. Apabila dalam
penelitian tersebut ternyata ada kekurangan atau syarat-syarat yang
belum terpenuhi, makan penerimaan barang dilakukan dengan
membuat tanda penerimaan sementara barang yang dengan tegas
memuat sebab-sebab daripada penerimaan sementara barang.
(4) Penggunaan
Penggunaan merupakan penegasan pemakaian barang milik derah yang
ditetapkan oleh kepala daerah kepada pengguna barang sesuai tugas
dan fungsii SKPD yang bersangkutan. Penetapan status penggunaan
barang milik daerah pada masing – masing SKPD dengan
a. Jumlah personil / pegawai pada SKPDP ;
b. Standar kebutuhan tanah dan / atau bangunan dan selain tanah dan /
atau bangunan untuk meyelenggarakan tugas pokok dan fungsi
SKPD
c. Beban tugas dan tanggung jawab SKPD; dan
d. Jumlah, jenis dan luas, dirinci dengan lengkap termasuk nilainya.
Status penggunaan barang milik daerah pada masing-masing SKPD
ditetapkan dalam rangka tertib pengelolaan barang milik daerah dan
kepastian hak, wewenang dan tanggung jawab kepala SKPD.
Tata cara penetapan status penggunaan.
a. penggunaan melaporkan barang milik daerah yang berbeda pada
SKPD yang bersangkutan kepada pengelola disertai usul penetapan
status penggunaan ;
b. setelah dilakukan penelitian atas kebenaran usulan SKPD pengelola
mengajukan usul kepada kepala daerah untuk ditetapkan status
penggunaanya.
c. penetapan status penggunaan barang milik daerah untuk melakukan
tugas dan fungsi SKPD dan /atau di operasikan oleh pihak lain dalam
rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas pook dan fungsi
SKPD yang bersangkutan
d. penetapan status penggunaan sebagaimana dimaksud pada huruf d,
e. atas penetapan status penggunaan sebagaimana, masing- masing
kepala SKPD melalui penyimpanan / pengurus barang daerah yang
ada pada pengguna masing- masing.
(5) Penatausahaan
Dalam penatausahaan barang milik daerah dilakukan 3 ( tiga ) kegiatan
yang meliputi kegiatan pembukuan inventirasasi dan pelaporan;
a. penggunaan / kuasa pengguna barang wajib melakukan pendaftaran
dan pencatatan barang milik daerah kedalam daftar kuasa pengguna
sesuai dengan penggolongan dan kodefikasi inventaris barang milik
daerah;
b. dokumen kepemilikan barang milik daerah beruapa tanah dan/ atau
bangunan disimpan oleh pengelola ; dan
c. dokumen kepemilikan selain tanah dan/ atau bangunan disimpan
oleh pengguna.
Inventarisasi merupakan kegiatan atau tindakan untuk melakukan
perhitungan, pengurus, penyelenggaraan, pengaturan pencatatan data
dan pelaporan barang milik daerah dalam unit pemakaian. Dari
kegiatan inventarisasi di susun buku inventarisasi yang menunjukan
semua kekayaan daerah yang bersifat kebendaan, baik yang bergerak
maupan yang tidak bergerak.
Buku inventarisasi tersebut memuat data meliputi lokasi, jenis / merk tipe,
Adanya buku inventarisasi yang lengkap, teratur dan berkelanjutan
mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting dalam rangka :
a. pengendalian, pemanfaatan, pengamanan, dan pengawasan setiap
barang;
b. untuk menggunakan memanfaatkan setiap barang secara maksimal
sesuai denagan tujuan dan fungsinya masing-masing ; dan
menunjang pelaksaan tugas pemerintah.
c. Barang inventarisasi adalah seluruh barang yang dimiliki oleh
pemerintah daerah yang penggunaannya lebih dari satu tahun dan
dicatat serta didaftar dalam buku inventarisasi.
(6) Pemanfaatan
Barang milik daerah berupa tanah / bangunan dan selain tanah / bangunan
yang telah diserahkan oleh pegguna kepada pegelola dapat
didayagunakan secara optimal sehingga tidak membebani anggaran
pendapatan dan belanja daearah khususnya biaya pemeliharaan dan
kemungkinan adanya penyerobotan dari pihak lain yang tidak
bertanggung jawab. Pemanfaatan barang milik daerah yang optimal
akan membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan
masyarakat dan manambah / meningkatkan daerah.
Pemanfaatan merupakan pendayagunaan barang milik daerah yang
digunakan sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD dalam bentuk
pimjam pakai, sewa, kerjasama pemanfaatan bangun guna , bangun
barang milik daerah berupa tanah dan / atau bangunan dilaksanakan
oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola.
a. pinjam pakai merupakan penyerahan penggunaan barang milik derah
kepada instansi pemerintah daerah, yang ditetapkan dengan surat
perjanjian untuk jangka waktu tertentu, tanpa menerima imbalan dan
setelah jangka waktu tersebut berakhir, barang milik daerah tersebut
diserahkan kembali kepada pemerintah daerah.
b. Pinjam pakai selain hal tersebut diatas, dapat diberikan kepada alat
peerlengkapan dewan perwakilan rakyat dearah dalam rangaka
menujang penyelenggaraan pemerintahan daerah.
c. Syarat- syarat pinjam pakai barang milik daerah adalah;
(a) barang milik dearah tersebut sementara waktu belum dimanfaatkan
oleh SKPD;
(b) barang milik daerah yang dipinjam pakaikan tersebut hanya boleh
digunakan oleh peminjam sesuai dengan peruntukannya;
(c) pinjam pakai tersebut tidak mengganggu kelancaran tugas pokok
instansi atau SKPD
(d) barang milik daerah yang dipinjampakaikan harus merupakan barang
yang tidak habis pakai;
(e) peminjam wajib memelihara dan menanggung biaya- biaya yang
diperlukan selama peminjaman;
(g) jangka waktu pinjam pakai maksimal selama 2 ( dua) tahun dan
apabila dapat diperlukan dapat diperpanjang kembali;
(h) pengambilan barang milik daerah yang dipinjam pakaikan dalam
keadaan baik dan lengkap;
d. Pinjam pakai barang milik dearah hanya dapat dilaksanakan antar
pemerintah.
e. Pinjam pakai barang milik daerah ditetapakan dengan surat
perjanjian dan penyerahan dituangkan dalam berita acara.
f. Surat perjanjian pinjam pakai dilaksanakan oleh pengelola setelah
mendapat persetujuan kepala daerah.
(7) Pengamanan dan Pemeliharaan
Pengamanan merupakan kegiatan / tindakan pengendalian dan
penertiban dalam upaya pengurusan barang milik daerah secara fisik,
administratif dan tindakan hukum.
Pengamanam sebagaimana tersebut diatas, dititik beratkan pada
penertiban / pengamanan secara fisik dan administratif, sehingga barang milik
daerah tersebut dapat dipergunakan / dimanfaatkan secara optimal serta
terhindar dari penyerobotan pengambil alihan atau klaim dari pihak lain.
Pengamanan dillakukan terhadap barang milik daerah berupa barang
inventaris dalm proses pemakaian dan barang persedian dalam gudang yang di
upayakan secara fisik, administratif dan tindakan hukum.
a. penilaian barang milik daerah di lakukan dalam rangka pengamanan dan
penyusunan neraca daerah ;
b. penilaian barang milik daerah berpedoman pada standar akutansi
pemerintah daerah ;
c. kegiatan penilaian barang milik daerah harus di dukung dengan data yang
akurat atas seluruh kepemilikan barang milik daerah yang tercatat dalam
daftar inventarisasi barang milik daerah;
d. penilaian barang milik daerah selain di pergunakan untuk
penyusunan neraca daerah, juga dapat di pergunakan dalam rangka
pencatatan, inventarisasi, pemanfaatan, pemindahantanganan dan
inventarisasi
(9) Penghapusan
Penghapusan barang milik daerah adalah tindakan penghapusan
barang pengguna /kuasa pengguna dan penghapusan dari daftar inventaris
barang milik daerah. Penghapusan tersebut di atas, dengan menerbitkan
keputusan kepala daerah tentang penghapusan barang milik daerah. Pada
prinsipnya semua barang milik daerah dapat dihapuskan, yakni :
a. penghapusan barang tidak bergerak berdasaran pertimbangan / alasan –
alasan sebagai berikut :
(a) rusak berat, terkena bencana alam /force majeure
(b) tidak dapat digunakan secara optimal
(c) terkena planologi kota
(e) penyatuan lokasi dalam rangka efisien dan memudahkan koordinasi
(f) pertimbangan dalam rangka pelaksanaan rencana strategis hankam.
b. penghapusan barang bergerak berdasarkan pertimbangan / alasan – alasan
sebagai berikut :
(a) pertimbangan teknis, antara lain :
1) secara fisik barang tidak di gunakan karena rusak dan tidak
ekonomis bila diperbaiki
2) secara teknis tidak dapat digunakan lagi akibat modernisasi.
3) Telah melampaui batas waktu kegunaannya/ kadaluarsa.
4) Karena pengguna mengalami perubahan dasar spesifikasi dan
sebagainya.
5) Selisi kurang dalam timbangan /ukuran disebabkan pengguna /susut
dalam penyimpanan /pengangkutan.
(b) penghapusan tersebut di atas di lakukan setelah mendapat persetujuan
kepala daerah dan penetapan oleh pengelola atas nama kepala daerah.
(c) Penghapusan barang daerah dengan tindak lanjut pemusnahan di lakukan
apabila barang dimaksud :
1) tidak dapat digunakan, tidak dapar dimanfaatkan dan tidak dapat di
pindahtangankan.
2) Alasan lain sesuai peraturan perundang – undang.
(10) Pemindahtanganan
Pemindahtanganan barang milik daerah adalah pengalihan
pemindahtanganan meliputi : Penjualan dan tukar menukar, hibah, dan
penyertaan modal.
Penjualan barang milik daerah dilakukan secara lelang melalui
Kantor Lelang Negara setempat, atau melalui Panitia Pelelangan Terbatas
untuk barang milik daerah yang bersifat khusus yang dibentuk dengan
Keputusan Kepala Daerah, dan hasil penjualan/pelelangan tersebut disetor
sepenuhnya ke Kas Daerah. Barang bergerak seperti mobil ambulance,
mobil pemadam kebakaran, mikro bus, derek, alat-alat berat, pesawat,
kendaraan diatas air dan jenis kendaraan untuk melayani kepentingan umum
serta barang inventaris lainnya, sedangkan barang yang tidak bergerak yaitu
tanah dan/atau bangunan. Hibah dilaksanakan untuk kepentingan sosial,
keagamaan, kemanusiaan, dan penyelenggaraan pemerintahan, sebagai
berikut :
a. Hibah untuk kepentingan sosial, keagamaan dan kemanusiaan misalnya
untuk kepentingan tempat ibadah, pendidikan, kesehatan dan sejenisnya.
b. Hibah untuk kepentingan penyelenggaran pemerintahan yaitu hibah
antar tingkat pemerintahan ( Pemerintah Pusat kepada Pemerintah
Daerah dan antar Pemerintah Daerah ).
Barang milik daerah yang dapat dihibahkan harus memenuhi syarat
sebagai berikut :
a. Bukan merupakan barang rahasia negara/daerah;
c. Tidak digunakan lagi dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi
dan penyelenggaraan pemerintahan negara/ daerah;
(11) Pembinaan , Pengawasan dan Pengendalian
Untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pengelolaan barang
milik daerah, secara berdayaguna dan berhasilguna, maka fungsi
pembinaan, pengawasan dan pengedalian sangat penting untuk menjamin
tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah.
Pembinaan merupakan usaha atau kegiatan melalui pemberian
pedoman, bimbingan, pelatihan dan supervisi. Pengendalian merupakan
usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang
dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Pengawasan merupakan usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai
kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan,
apakah dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.
(12) Pembiayaan
Administrasi pengelolaan barang milik daerah diperlukan untuk
keperluan pengelolaan barang daerah agar direncanakan dan diajukan setiap
tahun melalui APBD sesuai dengan ketentuan peraturan
perudang-undangan.
Dalam rangka pengamanan dan penyelamatan terhadap barang
milik daerah, perlu dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengatur
tentang sanksi terhadap pengelola, pembantu pengelola, pengguna/kuasa
pengguna, dan penyimpan dan/atau pengurus barang berupa Tuntutan Ganti
Rugi (TGR) yang karena perbuatannya merugikan daerah.
B. Penelitian yang Relevan
Sutaryo, (2003). Managemen Aset Daerah. Jurusan Akuntansi, Fakultas
Ekonomi, UNS Aset daerah merupakan sumberdaya penting bagi pemerintah
daerah sebagai penopang utama pendapatan asli daerah. oleh karena itu, penting
bagi pemerintah daerah untuk dapat mengelola aset secara memadai. Dalam
pengelolaan aset, pemerintah daerah harus menggunakan pertimbangan aspek
perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan
dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan atau penggunaan,
pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan,
pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi
agar aset daerah mampu memberika kontribusi optimal bagi pemerintah daerah
yang bersangkutan.
penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi. Keseluruhan kegiatan tersebut merupakan aspek-aspek penting yang terdapat dalam manajemen aset daerah. Dengan melakukan perencanaan kebutuhan aset, pemerintah daerah akan memperoleh gambaran dan pedoman terkait kebutuhan aset bagi pemerintah daerah.
Dengan perencanaan kebutuhan aset tersebut, pemerintah daerah dapat terhindarkan dari kepemilikan aset yang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan pada masyarakat. Selain faktor perencanaan kebutuhan aset, faktor pengamanan dan pemeliharaan aset juga harus menjadi pertimbangan pemerintah daerah. Dengan pengamanan dan pemeliharaan aset, pemerintah daerah dapat menjaga kepemilikan dan dapat menerima manfaat ekonomis aset dalam rangka usaha pemerintah daerah memberikan pelayanan pada masyarakat. Faktor yang tidak kalah penting dalam pengelolaan aset pemerintah daerah adalah sistem informasi data. Dengan sistem informasi data aset pemerintah daerah yang memadai, pemerintah data dapat lebih mudah dan cepat untuk memperoleh data terkait aset ketika dibutuhkan sewaktu-waktu. Dengan sistem informasi data, pemerintah daerah juga dapat menyusun laporan aset secara lebih handal sehingga dapat memberi informasi yang lebih handal pada pemakai informasi dalam laporan keuangan.
pengelolaan aset oleh pimpinan pemerintah daerah dapat memberi arahan bagi pelaksanaan pengelolaan aset pemerintah. Dengan adanya kebijakan dan strategi pengelolaan aset yang tepat oleh pimpinan pemerintah daetah akan dapat mengoptimalkan manfaat aset bagi pemerintah daerah.
Vita Novalia, (2008). Analisis efektivitas Inventarisasi Aset Daerah Pasca Pemekaran (Studi Kasus Pasca Pemekaran di Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan). MAP Universitas Diponegoro, Semarang
kepada Kota Lubuklinggau sesuai dengan Kepmendagri Nomor 42 Tahun 2001 tentang Pedom Pelaksanaan Penyerahan Barang dan Hutang Pada Daerah yang Baru Dibentuk, yaitu ada pasal 2 ayat (1) yang berbunyi: "Barang milik daerah atau yang dikuasai dan/atau yang dimanfaatkan oleh pemerintah Propinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota induk yang lokasinya berada dalam wilayah daerah yang baru dibentuk, wajib diserahkan dan menjadi milik daerah yang baru dibentuk. Masih kurangnya upaya penyelesaian yang lebih intens antara kedua belah pihak. Upaya penyelesain yang telah ditempuh, belum menyentuh lapisan bawah dan hanya berada pada tingkat yang hanya menuntut proses negosiasi terhadap masing-masing pihak yang berkepentingan walaupun sudah difasilitasi (mediasi) oleh pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
C. Kerangka Pikir
Pelaksanaan Pemeliharaan dan Pengamanan Aset Daerah Dinas
Pendapatan dan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Ogan Komering
Ilir mengacu pada Materi Bintek Sistem dan Prosedur Pengelolaan Aset Daerah
Tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten OKI yang dapat
Gambar 2.1.