• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab II Tesis Teori Asas Manajemen

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "bab II Tesis Teori Asas Manajemen"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Manajemen

Manajemen Aset Milik Daerah diperlukan untuk pengelolaan

barang-barang milik daerah. Manajemen aset merupakan pengetahuan tersendiri dalam

mengelola aset Milik Daerah guna menjamin pengembangan kapasitas yang

berkelanjutan. Pengelolaan aset daerah merupakan kegiatan atau tindakan

pengendalian dan penertiban dalam upaya pengurusan barang milik daerah secara

fisik, administratif, dan tindakan hukum.

Dari segi bahasa management berasal dari kata manage (to manage) yang berarti “to conduct or to carry on, to direct”, dalam Kamus Inggeris Indonesia kata Manage diartikan “Mengurus, mengatur, melaksanakan,

mengelola”, Oxford Advanced Learner’s Dictionary mengartikan Manage sebagai “to succed in doing something especially something difficult….. Management the act of running and controlling business or similar organization”.Sementara itu dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Manajemen diartikan sebagai “Prose penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai

sasaran”. Adapun dari segi Istilah telah banyak para ahli telah memberikan

pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda. Berikut ini

dikemukakan beberapa pengertian manajemen guna memperoleh pemahaman

(2)

(1) Manajemen itu adalah pengendalian dan pemanfaatan daripada semua

faktor dan sumberdaya, yang menurut suatu perencanaan (planning) , diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan suatu prapta atau tujuan

kerja yang tertentu, Prajudi Atmosudirdjo (1982 : 124)

(2) Management is the use of people and other resources to accomplish objective, Louis E. Boone, David L Kurtz (1984 : 4).

(3) Management - the function of getting things done through people, Harold Koontz.,Cyril O’Donnel (1986 : 3)

(4) Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari

tindsakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, menggerakan, dan

pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai

sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia

serta sumber-sumber lain, George R. Terry (1986 : 4)

(5) Manajemen dapat didefinisikan sebagai ‘kemampuan atau ketrampilan

untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui

kegiatan-kegiatan orang lain’. Dengan demikian dapat pula dikatakan

bahwa manajemen merupakan alat pelaksana utama administrasi, Sondang

P. Siagian (1997 : 5)

(6) The most comporehensive definition views management as an integrating process by which authorized individual create, maintain, and operate an organization in the selekjtion an accomplishment of it’s aims, Lester Robert Bittel (Ed) (1978 : 640).

Dengan memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa

perbedaan formulasi hanya dikarenakan titik tekan yang berbeda namun prinsip

dasarnya sama, yakni bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam

(3)

ada, sementara itu definisi nomor empat yang dikemukakan oleh G.R Terry

menambahkan dengan proses kegiatannya, sedangkan definisi nomor lima dari

Sondang P Siagian menambah penegasan tentang posisi manajemen hubungannya

dengan administrasi.

Terlepas dari perbedaan tersebut, terdapat beberapa prinsip yang

nampaknya menjadi benang merah tentang pengertian manajemen yakni: (1)

Manajemen merupakan suatu kegiatan, (2) Manajemen menggunakan atau

memanfaatkan pihak-pihak lain, dan (3) Kegiatan manajemen diarahkan untuk

mencapai suatu tujuan tertentu

Setelah melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa setiap

organisasi termasuk organisasi pendidikan seperti Sekolah akan sangat

memerlukan manajemen karena sesuai dengan pengertiannya, organisasi

merupakan kumpulan orang-orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan

bersama, hal tersebut sejalan dengan pengertian organisasi yang dikemukakan

oleh James D. Mooney dalam bukunya The Principles of Organization bahwa “Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose”, Sutarto (1980 : 22). Kerjasama akan berjalan dengan baik apabila ditata dan dikelola dengan tepat, untuk itu pengelolaannya mesti berjalan

secara sistematis melalui tahapan-tahapan dengan diawali oleh suatu rencana

sampai tahapan berikutnya dengan menunjukan suatu keterpaduan dalam

prosesnya, dengan mengingat hal itu, maka makna pentingnya manajemen

(4)

membantu proses tersebut.Adapun fungsi-fungsi manajemen sebagaimana

dikemukakan oleh para ahli adalah sebagai berikut. H. Siagian (1977 : 79)

(1) Menurut G.R Terry

a. Planning (Perencanaan) b. Organizing (Pengorganisasian) c. Actuating (Pelaksanaan) d. Controlling (Pengawasan) (2) Menurut Henri Fayol

a. Planning (Perencanaan) b. Organizing (Penorganisasian) c. Commanding (Pengaturan) d. Coordinating (Pengkoordinasian) e. Controlling (Pengawasan)

(3) Menurut Harold Koontz dan Cyril O’Donnel a. Planning (Perencanaan)

b. Organizing (pengoganisasian) c. Staffing (Penentuan Staf) d. Directing (Pengarahan) e. Controlling (pengawasan) (4) Menurut L Gullick

a. Planning (Perencanaan) b. Organizing (pengorganisasian) c. Staffing (penentuan Staf) d. Directing (Pengarahan)

e. Coordinating (Pengkoordinasian) f. Reporting (Pelaporan)

g. Budgeting (Penganggaran)

Dengan melihat fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan oleh

empat orang ahli tersebut meskipun secara keseluruhan tidak sama persis namun

terdapat beberapa fungsi yang sama. Dalam hal ini Planning dan Organizing terdapat dalam setiap pendapat tersebut. Staffing dan Directing terdapat dalam pendapat Harold Koontz dan L. Gulick.

(5)

termasuk ke dalam fungsi manajemen menurut pendapat G.R. Terry, Henry Fayol

dan Harold Koontz, sedangkan Reporting dan Budgeting hanya terdapat pada fungsi manajemen menurut L. Gulick, namun demkian secara umum terdapat

kecenderungan pemikiran dan arah yang sama dalam melihat fungsi-fungsi

manajemen. Sementara itu Sondang P. Siagian setelah membagi fungsi-fungsi

manajemen ke dalam fungsi organik dan fungsi tambahan, dan membandingkan

berbagai pendapat para akhli akhirnya menyimpulkan bahwa fungsi manajemen

adalah terdiri dari: Sondang P. Siagian (1997 : 107)

(1) Perencanaan (Planning) (2) Pengorganiasian (Organizing) (3) Pemberian motivasi (motivating) (4) Pengawasan (Controlling) (5) Penilaian (Evaluating)

Sementara itu C. Turney (et.al) menyebutkan bahwa terdapat lima fungsi

manajemen (manager role) “……. planning, communicating, organizing, notivating, and controlling”, C. Turney et al, (1992 : 99). Lebih lanjut dikatakan bahwa kelima fungsi (peran) tersebut tidak bersifat terpisah-pisah, dalam

prtakteknya bersifat saling terkait bahkan terkadang tumpang tindih pada saat

manajer menjalankan pekerjaannya.

Pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam kenyataan akan merupakan

suatu proses yang mencakup tahapan-tahapan tertentu, sehingga pelaksanaan

fungsi-fungsi tersebut belum menjamin suatu keberhasilan bila tahapan-tahapan

tidak dijalankan dengan baik, untuk itu berikut ini akan dikemukakan

(6)

mengacu pada fungsi-fungsi manajemen dari G.R Terry yang terdiri Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling.

(1) Perencanaan (Planning)

Perencanaan merupakan fungsi manajemen yang pertama, arti dari

perencanaan menurut Louis E Boone dan David L. Kurtz “Planning may be defined as the proicess by which manager set objective, asses the future, and develop course of action designed to accomplish these objective” Louis E. Boone, David L Kurtz. (1984 : 101). Dari pengertian ini nampak bahwa dalam

proses perencanaan tercakup penentuan tujuan yang layak serta bagaimana

tujuan itu dicapai, secara lebih rinci proses perencanaan terdiri dari tiga tahapan

yaitu: (1) setting organizational objective, (2) Developing planning premises, (3) Developing methods to control the operation of the plan”. Penentuan tujuan merupakan syarat mutlak dalam sebuah rencana, dan karena tujuan itu

merupakan sesuatu yang harus dicapai maka diperlukan penentuan cara

mencapainya sesudah memahami tentang kondisi lingkungan dimana organisasi

itu berada. Menurut C Turney dan D. Smith dalam tulisannya yang berjudul

Planning Role” menyatakan bahwa dalam melaksanakan perencanaan, harus melaksanakan hal-hal sebagai berikut yakni: (1) Visioining and formulating mission, (2) Making policy and setting goal, (3) Designing porogrammes, (4) Determining and allocating of resources, (5) Modifying policy and plan, C. Turney et al, (1992 : 131).

Dengan melihat tugas langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan

(7)

artinya langkah atau tugas kedua baru dilaksanakan bila yang pertama sudah

dilakukan demikian juga seterusnya. Penetapan Visi dan misi harus dilakukan

sebelum menentukan kebijakan dan penentuan tujuan kemudian diikuti dengan

pembuatan program sesudah itu baru menentukan pengalokasian sumber daya,

akhirnya dilakukan evaluasi yang kemudian dilakukan modifikasi kebijakan dan

rencana jika dianggap perlu.

(2) Pengorganisasian (Organizing).

Perencanaan yang sudah dibuat pada dasarnya untuk dilaksanakan, dan

untuk itu diperlukan pengaturan hubungan-hubungan diantara berbagai

sumberdaya yang ada, dalam konteks ini langkah pengorganisasian mutlak

diperlukan. Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan

hubungan-hubungan kelakuan yang efektif antara orang-orang, hingga mereka dapat

bekerja sama secara efiusien dan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam

hal melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu guna

mencapai tujuan atau sasaran tertentu”, George R. Terry, (1986 : 233)

Sementara itu Louis E. Boone menefinisikan Pengorganisasian “……as the act of planning and implementing organization structure. It is the process of arranging people and physical resources to carry out plans and accopmplish organizational objective”, George R. Terry, (1986 : 233)

Dari pengertian pengorganisasian seperti di atas jelas bahwa

pengorganisasian merupakan penentuan siapa pihak-pihak yang akan diberi

tugas untuk melaksanakan rencana yang sudah disusun serta bagaimana

(8)

pengorganisasian adalah: (1) developing and modifying organizational structure, (2) orienting participant and establishing high expectations, (3) Assigning Task and, where approriate in delegating authority, (4) coordinating and sustaining contribution, C. Turney et al, (1992 : 200).

Langkah pertama menyangkut pembentukan departemen-departemen,

penentuan saluran komunikasi serta kebijakan yang dapat meningkatkan

efektifitas pelaksanaan kegiatan organisasi, langkah kedua menyangkut upaya

mengajak seluruh komponen dalam organisasi untuk menyadari tentang misi

organisasi, sesudah itu memberikan tugas pada orang yang mampu dan akhirnya

melakukan koordinasi.

(3) Pelaksanaaan (Actuating).

Menurut G.R Terry, Actuating merupakan usaha menggerakan anggota-anggota kelompok demikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha

untuk mencapai sasaran perusahaan yang bersangkutan dan sasaran-sasaran

anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu ingin

mencapai sasaran-sasaran tersebut, George R. Terry, (1986 : 313)

Definisi di atas menunjukan bahwa penggerakan atau pelaksanaan

merupakan fungsi manajemen yang sangat penting sebab dengan fungsi ini

maka rencana dapat terlaksana dalam kenyataan, namun demikian diperlukan

pembinaan dan pemberian motivasi agar seluruh komponen dalam organisasi

dapat menjadikan proses pencapaian tujuan organisasi sebagai suatu bagian

(9)

dapat berjalan lancar tanpa ada konflik orientasi dalam pencapaian tujuan

tersebut.

(4) Pengawasan (Controlling).

Pengawasan merupakan fungsi manajemen terakhir yang tidak kalah

pentingnya dalam suatu organisasi. Menurut C. Turney pengawasan atau

Controlling adalah “…….the activities used by manager to ensure that activities of an organization are consistent with plan and organizational objectives are achieved”, C. Turney et al, (1992 : 240).

Sementara itu Louis E Boone mendefinisikan pengawasan sebagai “...the process by which manager determine whether organizational objectives are achieved and whether actual operation are consistent with plans”, Louis E. Boone, David L Kurtz (1984 : 412).

Dari pengertian tersebut pengawasan merupakan langkah pengendalian

agar pelaksanaan dapat sesuai dengan apa yang direncanakan serta untuk

memastikan apakah tujuan organisasi tercapai, karena rencana merupakan

patokan atau kriteria penting agar pengawasan dapat terlaksana dengan efektif,

adapun langkah-langkah dalam pengawasan adalah: (1) Establishing standard of performance, (2) Influencing the performance of Staff, (3) Monitoring and evaluating progress, (4) initiating correrctive action where performance below standard, C. Turney et al, (1992 : 248)

Untuk membandingkan antara hasil aktual dengan rencana diperlukan

suatu standar tertentu hal itu agar pengawasan dapat dilakukan secara obyektif,

(10)

disamping itu pengawasan juga perlu dibarengi oleh tindakan koreksi jika

dipandang perlu dan apabila terjadi penyimpangan yang akan berdampak pada

terganggunya proses pencapaian tujuan organisasi.

2. Pengertian Aset

Pengertian aset secara umum adalah barang (thing) atau sesuatu barang (anything) yang mempunyai:

(1) Nilai Ekonomi ( Economic value) (2) Nilai Komersial ( Commercial value )

(3) Nilai Tukar ( Exchange value ) yang dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha ataupun individu (perorangan ).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 70:2005), Aset merupakan:

sesuatu yang mempunyai nilai tukar, modal kekayaan. Asset (Aset) adalah barang, yang dalam pengertian hukum disebut benda, yang terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak, baik yang berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible), yang tercakup dalam aktifa/kekayaan atau harta kekayaan dari suatu instansi, organisasi, badan usaha atau individu perorangan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 yang dimaksud

dengan Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas

beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

Pengertian mengenai Barang Milik Daerah berdasarkan Pasal 2 Peraturan

Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006, adalah sebagai berikut :

(1) Barang milik daerah meliputi :

a. Barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD. b. Barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.

(11)

b. Barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak. c. Barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang atau,

d. Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Adapun pengertian Aset menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri dan

Keputusan Menteri Keuangan mempunyai pengertian yang sama yaitu semua

barang yang dibeli atau yang diperoleh atas beban APBN/APBD atau berasal dari

perolehan lainnya yang sah. Oleh sebab itu menyamakan persepsi , uraian Aset

adalah sebagai berikut :

(1) Semua barang inventaris yang dimiliki pemerintah daerah.

(2) semua barang hasil kegiatan proyek APBD/APBN/LOAN yang telah

diserahkan pada Pemerintah Daerah melalui dinas/instansi terkait.

(3) semua barang yang secara hukum dikuasai oleh pemerintah daerah seperti

cagar alam, cagar budaya, objek wisata, bahan tambang/galian C dan

sebagainya yang dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah yang

berkelanjutan dan yang memerlukan pengaturan pemerintah daerah yang

pemanfaatannya serta pemeliharaannya.

3. Manajemen Aset

Berbicara tentang manajemen aset secara umum, tidak terlepas dari

siklus pengelolaan barang yang dimulai dari perencanaannya sampai penghapusan

(12)

(1) Perencanaan (Planning) meliputi penentuan kebutuhan (requirement) dan penganggarannya (budgetting).

(2) pengadaan (Procurement) meliputi cara pelaksanaannya, standar barang dan harga atau penyusunan spesifikasi dan sebagainya.

(3) penyimpanan dan penyaluran (storage and distribution). (4) pengendalian (Controlling)

(5) Pemeliharaan (Maintainance). (6) Pengamanan (Safety).

(7) Pemanfaatan penggunaan (Utilities) (8) Penghapusan (Disposal)

(9) Inventarisasi (Invetarization)

Berdasarkan Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 4 ayat 2

menyatakan bahwa pengelolaan barang daerah meliputi :

(1) Perencanaan kebutuhan dan penganggaran (2) Pengadaan

(3) Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran (4) Penggunaan

(5) Penatausahaan (6) Pemanfaatan

(7) Pengamanan dan pemeliharaan (8) Penilaian

(9) Penghapusan (10) Pemindahtanganan

(11) Pembinaan, pengawasan dan pengendalian (12) Pembiayaan dan

(13) Tuntutan ganti rugi.

Tujuan Manajemen Aset kedepan diharapkan untuk menjamin

pengembangan kapasitas yang berkelanjutan dari pemerintahan daerah, maka

dituntut agar dapat mengembangkan atau mengoptimalkan pemanfaatan asset

daerah guna meningkatkan/mendongkrak Pendapatan Asli Daerah, yang akan

digunakan untuk membiayai kegiatan guna mencapai pemenuhan persyaratan

(13)

Sedangkan menurut D Siregar bahwa Manajemen Asset merupakan salah

satu profesi atau keahlian yang belum sepenuhnya berkembang dan popular

dilingkungan pemerintahan maupun di satuan kerja atau instansi. Manajemen Aset

terdiri dari 5 (lima) tahapan kerja yang salah satu sama lainnya saling terkait

yaitu:

a. Inventaris Aset b. Legal Audit c. Penilaian Aset d. Optimalisasi Aset

e. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) dalam pengawasan dan pengendalian aset.

4. Manajemen Aset Daerah

Dalam rangka mewujudkan tertib administrasi terhadap pengelolaan

barang daerah, perlu diatur pedoman kerjanya, untuk itu telah dikeluarkan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis

Pengelolaan Barang Milik Daerah, di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri ,

Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau perolehan lainnya yang sah.

Di dalam lampirannya dijelaskan tentang pengertian barang milik daerah

yaitu semua kekayaan daerah baik yang dibeli atau diperoleh atas Beban

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun yang berasal dari perolehan

lain yang sah, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak beserta

bagian-bagiannya ataupun yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai, dihitung,

diukur atau ditimbang termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan kecuali uang dan

(14)

Pengertian mengenai Barang Milik Daerah yang terbaru berdasarkan

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 3, adalah sebagai

berikut :

(1) Barang milik daerah meliputi :

a. barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD, dan b. barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.

(2) Barang sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi : a. barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis; b. barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak; (3) Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah

memperoleh ketentuan undang-undang, atau;

(4) Barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;

Pengelolaan barang daerah adalah rangkaian kegiatan dan tindakan

terhadap barang daerah yang meliputi, perencanaan kebutuhan dan penganggaran,

pengadaan, penerimaan, penyimpanan dan penyaluran, penggunaan,

penatausahaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian,

penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan pengawasan dan pengendalian,

pembiayaan dan tuntutan ganti rugi ( Pasal 4 ayat 2 Permendagri Nomor 17

Tahun 2007 ). Pengelolaan barang milik daerah berdasarkan pada azas :

(1) Azas Fungsional, yaitu pengambilan keputusan dan pemecahan masalah di bidang pengelolaan barang milik daerah yang dilaksanakan oleh kuasa pengguna barang, pengguna barang, pengelola barang dan Kepala Daerah sesuai fungsi, wewenang dan tanggung jawab masing-masing.

(15)

(3) Azas Transparansi, yaitu penyelenggaran pengelolaan barang milik daerah harus transparan terhadap hak masyarakat dalam memperoleh informasi yang benar.

(4) Azas Efisiensi, yaitu pengelolaan barang milik daerah diarahkan agar barang daerah digunakan sesuai batasan-batasan standar kebutuhan yang diperlukan dalam rangka menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pemerintahan secara optimal.

(5) Azas Akuntabilitas, yaitu setiap kegiatan pengelolaan barang milik daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat.

(6) Azas Kepastian Nilai, yaitu pengelolaan barang milik daerah harus didukung oleh adanya ketepatan jumlah dan nilai barang dalam rangka optimalisasi pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik daerah serta penyusunan neraca Pemerintah Daerah .

Seperti yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya, Aset/barang milik

daerah merupakan modal yang sangat mutlak yang harus dimiliki oleh

pemerintah daerah dalam upaya mendukung pelaksanaan kegiatan

pemerintahan, karena tanpa aset mustahil sebuah organisasi ataupun instansi

dapat berjalan dengan lancar.

Sedangkan kalau berpedoman kepada landasan yang terbaru yaitu

Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 Pasal 4 ayat 2 menyatakan bahwa

pengelolaan barang daerah meliputi :

(1) Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran

Dalam perencanaan kebutuhan dan penganggaran barang daerah perlu

adanya pemahaman dari seluruh satuan kerja perangkat daerah terhadap

tahapan kegiatan pengelolaan barang milik daerah, sehingga koordinasi dan

(16)

Berkenaan dengan hal tersebut diatas, perlu dipahami mengenai

wewenang tugas dan fungsi sebagai berikut :

a. Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan barang milik daerah

mempunyai wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan

penerimaan dan pengeluaran barang milik daerah serta mempunyai

tanggung jawab untuk melaksanakan pembinaan dalam pengelolaan

barang milik daerah.

b. Kepala Daerah dalam rangka pelaksanaan, pembinaan dan pengelolaan

barang milik daerah dibantu oleh :

(a) Sekretaris Daerah selaku pengelola, sebagai koordinator dibantu oleh

asisten yang membidangi melakukan pembinaan pengelolaan barang

milik daerah, bertugas dan bertanggungjawab atas terselenggaranya

koordinasi dan sinkronisasi antara pembina, pengelola dan pengguna

barang/kuasa pengguna barang.

(b) Asisten yang membidangi dibantu oleh pembantu pengelola bertanggungjawab atas terlaksananya tertib pemenuhan standarisasi

sarana dan prasarana kerja Pemerintah Daerah, standarisasi harga dan

bertanggungjawab atas penyelenggaraan pengelolaan barang milik

daerah.

(c) Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai pengguna bertugas dan

bertanggungjawab atas perencanaan kebutuhan, pengadaan,

penyimpanan,penggunaan, penatausahaan, pemeliharaan/perbaikan,

(17)

Dalam melakukan perencanaan kebutuhan barang dilaksanakan

berdasarkan pertimbangan yaitu :

a. Untuk mengisi kebutuhan barang pada masing-masing Unit/Satuan Kerja

sesuai besaran organisasi/jumlah pegawai dalam satu organisasi;

b. Adanya barang – barang yang rusak, dihapus, dijual, hilang, mati

atau sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga

memerlukan penggantian.

c. Adanya peruntukan barang yang didasarkan pada peruntukan standar

perorangan, jika terjadi mutasi bertambah personil sehingga

mempengaruhi kebutuhan barang.

d. Untuk menjaga tingkat persediaan barang milik daerah bagi setiap tahun

anggaran bersangkutan agar efisien dan efektif.

e. Pertimbangan teknologi.

(2) Pengadaan

Pengadaan barang daerah dilaksanakan oleh Panitia/Pejabat

Pengadaan barang dengan tujuan :

a. tertib administrasi pengadaan barang daerah;

b. tertib administrasi pengelolaan barang daerah;

c. pendayagunaan barang daerah secara maksimal sesuai dengan tujuan

pengadaan barang daerah;

(18)

Pengadaan barang daerah dapat dipenuhi dengan cara :

pengadaan/pemborongan pekerjaan, membuat sendiri / Swakelola, penerimaan

(hibah atau bantuan/sumbangan atau kewajiban pihak ketiga), tukar menukar

dan guna susun.

Administrasi pengadaan barang daerah yang dilaksanakan oleh

Panitia/Pejabat Pengadaan mencakup seluruh kegiatan pengadaan barang

daerah sesuai dengan daftar kebutuhan barang daerah. Adapun pengadaan

barang daerah melalui Panitia/Pejabat pengadaan, batasan dan cakupan

kegiatan pengadaan tersebut ditetapkan oleh Kepala Daerah sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian Kepala Daerah

melimpahkan kewenangan kepada Kepala SKPD yang ditetapkan dengan

keputusan Kepala Daerah. Adapun kepala SKPD bertanggungjawab baik tertib

administrasi maupun kualitas barang serta melaporkan pelaksanaannya kepada

Kepala Daerah melalui pengelola.

Tata cara pelaksanaan pengadaan barang milik daerah :

a. Panitia pengadaan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah dengan

susunan keanggotaannya melibatkan unsur teknis terkait.

b. Panitia pengadaan menyelenggarakan tender/lelang dan mengambil

keputusan dalam suatu rapat yang dituangkan dalam Berita Acara Lelang

mengenai calon pemenang atas dasar harga terendah dikaitkan dengan

harga perkiraan sendiri (owner estimate ) yang dapat dipertanggungjawabkan untuk kualitas barang yang dibutuhkan.

(19)

Kepala Daerah dan/atau Sekretaris Daerah untuk menetapkan pemenang

lelang. Dalam berita acara lelang memuat antara lain ; Hari , tanggal dan

tempat pelaksanaan lelang, anggota Panitia yang hadir, rekanan yang

diundang ; rekanan yang hadir dan rekanan yang memenuhi syarat,

surat-surat penawaran yang masuk. Setelah ditetapkan calon pemenang lelang,

Kepala Daerah atau pengelola atau pengguna,menetapkan pemenang

lelang.

Pelaksanaan pengadaan/pekerjaan dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. membuat surat perjanjian yang ditandatangani oleh Kepala Daerah atau

pengelola /Kepala SKPD.

b. Sepanjang pengadaan/pekerjaan tidak dilakukan melalui lelang, maka

pelaksanaan pengadaan/ pekerjaan tidak dilakukan melalui lelang, maka

pelaksanaan pengadaan/pekerjaan dilakukan dengan Surat Perintah Kerja

yang ditandatangani oleh Kepala SKPD dan/atau pejabat pengadaan.

Dalam surat perintah pengadaan/pekerjaan tersebut, merupakan dasar

untuk penerimaan barang, harus dengan tegas memuat dan menyatakan

jumlah barang dan biaya maupun syarat-syarat lain yang diperlukan.

Penerimaan barang dilaksanakan oleh penyimpan barang .

(3) Penerimaan, Penyimpanan dan Penyaluran

Penerimaan barang milik daerah sebagai tindak lanjut dari hasil pengadaan

dan/atau dari pihak ketiga harus dilengkapi dengan dokumen

pengadaan dan berita acara. Penyimpanan, dan penyaluran barang

(20)

daerah baik melalui pengadaan maupun sumbangan/bantuan /hibah

merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka tertib administrasi

pengelolaan barang milik daerah.

Penerimaan dilakukan oleh penyimpan barang/pengurus barang, untuk itu

penerimaan barang oleh penyimpan barang/pengurus barang

dilaksanakan digudang penyimpanan. Pelaksanaan penerimaan

barang tersebut antara lain : dasar penerimaan barang ialah surat

perintah kerja/ surat perjanjian/kontrak pengadaan barang yan

ditandatangani oleh pejabat yang berwenang. Barang yang akan

diterima tersebut harus disertai dokumen yang jelas menyatakan

macam/jenis, banyak, harganya dan spesifikasi barang, baru diterima

apabila telah diteliti dan diperiksa oleh panitia pemeriksa barang,

sesuai dengan isi dokumen perjanjian tersebut. Apabila dalam

penelitian tersebut ternyata ada kekurangan atau syarat-syarat yang

belum terpenuhi, makan penerimaan barang dilakukan dengan

membuat tanda penerimaan sementara barang yang dengan tegas

memuat sebab-sebab daripada penerimaan sementara barang.

(4) Penggunaan

Penggunaan merupakan penegasan pemakaian barang milik derah yang

ditetapkan oleh kepala daerah kepada pengguna barang sesuai tugas

dan fungsii SKPD yang bersangkutan. Penetapan status penggunaan

barang milik daerah pada masing – masing SKPD dengan

(21)

a. Jumlah personil / pegawai pada SKPDP ;

b. Standar kebutuhan tanah dan / atau bangunan dan selain tanah dan /

atau bangunan untuk meyelenggarakan tugas pokok dan fungsi

SKPD

c. Beban tugas dan tanggung jawab SKPD; dan

d. Jumlah, jenis dan luas, dirinci dengan lengkap termasuk nilainya.

Status penggunaan barang milik daerah pada masing-masing SKPD

ditetapkan dalam rangka tertib pengelolaan barang milik daerah dan

kepastian hak, wewenang dan tanggung jawab kepala SKPD.

Tata cara penetapan status penggunaan.

a. penggunaan melaporkan barang milik daerah yang berbeda pada

SKPD yang bersangkutan kepada pengelola disertai usul penetapan

status penggunaan ;

b. setelah dilakukan penelitian atas kebenaran usulan SKPD pengelola

mengajukan usul kepada kepala daerah untuk ditetapkan status

penggunaanya.

c. penetapan status penggunaan barang milik daerah untuk melakukan

tugas dan fungsi SKPD dan /atau di operasikan oleh pihak lain dalam

rangka menjalankan pelayanan umum sesuai tugas pook dan fungsi

SKPD yang bersangkutan

d. penetapan status penggunaan sebagaimana dimaksud pada huruf d,

(22)

e. atas penetapan status penggunaan sebagaimana, masing- masing

kepala SKPD melalui penyimpanan / pengurus barang daerah yang

ada pada pengguna masing- masing.

(5) Penatausahaan

Dalam penatausahaan barang milik daerah dilakukan 3 ( tiga ) kegiatan

yang meliputi kegiatan pembukuan inventirasasi dan pelaporan;

a. penggunaan / kuasa pengguna barang wajib melakukan pendaftaran

dan pencatatan barang milik daerah kedalam daftar kuasa pengguna

sesuai dengan penggolongan dan kodefikasi inventaris barang milik

daerah;

b. dokumen kepemilikan barang milik daerah beruapa tanah dan/ atau

bangunan disimpan oleh pengelola ; dan

c. dokumen kepemilikan selain tanah dan/ atau bangunan disimpan

oleh pengguna.

Inventarisasi merupakan kegiatan atau tindakan untuk melakukan

perhitungan, pengurus, penyelenggaraan, pengaturan pencatatan data

dan pelaporan barang milik daerah dalam unit pemakaian. Dari

kegiatan inventarisasi di susun buku inventarisasi yang menunjukan

semua kekayaan daerah yang bersifat kebendaan, baik yang bergerak

maupan yang tidak bergerak.

Buku inventarisasi tersebut memuat data meliputi lokasi, jenis / merk tipe,

(23)

Adanya buku inventarisasi yang lengkap, teratur dan berkelanjutan

mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting dalam rangka :

a. pengendalian, pemanfaatan, pengamanan, dan pengawasan setiap

barang;

b. untuk menggunakan memanfaatkan setiap barang secara maksimal

sesuai denagan tujuan dan fungsinya masing-masing ; dan

menunjang pelaksaan tugas pemerintah.

c. Barang inventarisasi adalah seluruh barang yang dimiliki oleh

pemerintah daerah yang penggunaannya lebih dari satu tahun dan

dicatat serta didaftar dalam buku inventarisasi.

(6) Pemanfaatan

Barang milik daerah berupa tanah / bangunan dan selain tanah / bangunan

yang telah diserahkan oleh pegguna kepada pegelola dapat

didayagunakan secara optimal sehingga tidak membebani anggaran

pendapatan dan belanja daearah khususnya biaya pemeliharaan dan

kemungkinan adanya penyerobotan dari pihak lain yang tidak

bertanggung jawab. Pemanfaatan barang milik daerah yang optimal

akan membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan

masyarakat dan manambah / meningkatkan daerah.

Pemanfaatan merupakan pendayagunaan barang milik daerah yang

digunakan sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD dalam bentuk

pimjam pakai, sewa, kerjasama pemanfaatan bangun guna , bangun

(24)

barang milik daerah berupa tanah dan / atau bangunan dilaksanakan

oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola.

a. pinjam pakai merupakan penyerahan penggunaan barang milik derah

kepada instansi pemerintah daerah, yang ditetapkan dengan surat

perjanjian untuk jangka waktu tertentu, tanpa menerima imbalan dan

setelah jangka waktu tersebut berakhir, barang milik daerah tersebut

diserahkan kembali kepada pemerintah daerah.

b. Pinjam pakai selain hal tersebut diatas, dapat diberikan kepada alat

peerlengkapan dewan perwakilan rakyat dearah dalam rangaka

menujang penyelenggaraan pemerintahan daerah.

c. Syarat- syarat pinjam pakai barang milik daerah adalah;

(a) barang milik dearah tersebut sementara waktu belum dimanfaatkan

oleh SKPD;

(b) barang milik daerah yang dipinjam pakaikan tersebut hanya boleh

digunakan oleh peminjam sesuai dengan peruntukannya;

(c) pinjam pakai tersebut tidak mengganggu kelancaran tugas pokok

instansi atau SKPD

(d) barang milik daerah yang dipinjampakaikan harus merupakan barang

yang tidak habis pakai;

(e) peminjam wajib memelihara dan menanggung biaya- biaya yang

diperlukan selama peminjaman;

(25)

(g) jangka waktu pinjam pakai maksimal selama 2 ( dua) tahun dan

apabila dapat diperlukan dapat diperpanjang kembali;

(h) pengambilan barang milik daerah yang dipinjam pakaikan dalam

keadaan baik dan lengkap;

d. Pinjam pakai barang milik dearah hanya dapat dilaksanakan antar

pemerintah.

e. Pinjam pakai barang milik daerah ditetapakan dengan surat

perjanjian dan penyerahan dituangkan dalam berita acara.

f. Surat perjanjian pinjam pakai dilaksanakan oleh pengelola setelah

mendapat persetujuan kepala daerah.

(7) Pengamanan dan Pemeliharaan

Pengamanan merupakan kegiatan / tindakan pengendalian dan

penertiban dalam upaya pengurusan barang milik daerah secara fisik,

administratif dan tindakan hukum.

Pengamanam sebagaimana tersebut diatas, dititik beratkan pada

penertiban / pengamanan secara fisik dan administratif, sehingga barang milik

daerah tersebut dapat dipergunakan / dimanfaatkan secara optimal serta

terhindar dari penyerobotan pengambil alihan atau klaim dari pihak lain.

Pengamanan dillakukan terhadap barang milik daerah berupa barang

inventaris dalm proses pemakaian dan barang persedian dalam gudang yang di

upayakan secara fisik, administratif dan tindakan hukum.

(26)

a. penilaian barang milik daerah di lakukan dalam rangka pengamanan dan

penyusunan neraca daerah ;

b. penilaian barang milik daerah berpedoman pada standar akutansi

pemerintah daerah ;

c. kegiatan penilaian barang milik daerah harus di dukung dengan data yang

akurat atas seluruh kepemilikan barang milik daerah yang tercatat dalam

daftar inventarisasi barang milik daerah;

d. penilaian barang milik daerah selain di pergunakan untuk

penyusunan neraca daerah, juga dapat di pergunakan dalam rangka

pencatatan, inventarisasi, pemanfaatan, pemindahantanganan dan

inventarisasi

(9) Penghapusan

Penghapusan barang milik daerah adalah tindakan penghapusan

barang pengguna /kuasa pengguna dan penghapusan dari daftar inventaris

barang milik daerah. Penghapusan tersebut di atas, dengan menerbitkan

keputusan kepala daerah tentang penghapusan barang milik daerah. Pada

prinsipnya semua barang milik daerah dapat dihapuskan, yakni :

a. penghapusan barang tidak bergerak berdasaran pertimbangan / alasan –

alasan sebagai berikut :

(a) rusak berat, terkena bencana alam /force majeure

(b) tidak dapat digunakan secara optimal

(c) terkena planologi kota

(27)

(e) penyatuan lokasi dalam rangka efisien dan memudahkan koordinasi

(f) pertimbangan dalam rangka pelaksanaan rencana strategis hankam.

b. penghapusan barang bergerak berdasarkan pertimbangan / alasan – alasan

sebagai berikut :

(a) pertimbangan teknis, antara lain :

1) secara fisik barang tidak di gunakan karena rusak dan tidak

ekonomis bila diperbaiki

2) secara teknis tidak dapat digunakan lagi akibat modernisasi.

3) Telah melampaui batas waktu kegunaannya/ kadaluarsa.

4) Karena pengguna mengalami perubahan dasar spesifikasi dan

sebagainya.

5) Selisi kurang dalam timbangan /ukuran disebabkan pengguna /susut

dalam penyimpanan /pengangkutan.

(b) penghapusan tersebut di atas di lakukan setelah mendapat persetujuan

kepala daerah dan penetapan oleh pengelola atas nama kepala daerah.

(c) Penghapusan barang daerah dengan tindak lanjut pemusnahan di lakukan

apabila barang dimaksud :

1) tidak dapat digunakan, tidak dapar dimanfaatkan dan tidak dapat di

pindahtangankan.

2) Alasan lain sesuai peraturan perundang – undang.

(10) Pemindahtanganan

Pemindahtanganan barang milik daerah adalah pengalihan

(28)

pemindahtanganan meliputi : Penjualan dan tukar menukar, hibah, dan

penyertaan modal.

Penjualan barang milik daerah dilakukan secara lelang melalui

Kantor Lelang Negara setempat, atau melalui Panitia Pelelangan Terbatas

untuk barang milik daerah yang bersifat khusus yang dibentuk dengan

Keputusan Kepala Daerah, dan hasil penjualan/pelelangan tersebut disetor

sepenuhnya ke Kas Daerah. Barang bergerak seperti mobil ambulance,

mobil pemadam kebakaran, mikro bus, derek, alat-alat berat, pesawat,

kendaraan diatas air dan jenis kendaraan untuk melayani kepentingan umum

serta barang inventaris lainnya, sedangkan barang yang tidak bergerak yaitu

tanah dan/atau bangunan. Hibah dilaksanakan untuk kepentingan sosial,

keagamaan, kemanusiaan, dan penyelenggaraan pemerintahan, sebagai

berikut :

a. Hibah untuk kepentingan sosial, keagamaan dan kemanusiaan misalnya

untuk kepentingan tempat ibadah, pendidikan, kesehatan dan sejenisnya.

b. Hibah untuk kepentingan penyelenggaran pemerintahan yaitu hibah

antar tingkat pemerintahan ( Pemerintah Pusat kepada Pemerintah

Daerah dan antar Pemerintah Daerah ).

Barang milik daerah yang dapat dihibahkan harus memenuhi syarat

sebagai berikut :

a. Bukan merupakan barang rahasia negara/daerah;

(29)

c. Tidak digunakan lagi dalam penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi

dan penyelenggaraan pemerintahan negara/ daerah;

(11) Pembinaan , Pengawasan dan Pengendalian

Untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pengelolaan barang

milik daerah, secara berdayaguna dan berhasilguna, maka fungsi

pembinaan, pengawasan dan pengedalian sangat penting untuk menjamin

tertib administrasi pengelolaan barang milik daerah.

Pembinaan merupakan usaha atau kegiatan melalui pemberian

pedoman, bimbingan, pelatihan dan supervisi. Pengendalian merupakan

usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang

dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Pengawasan merupakan usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai

kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan,

apakah dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.

(12) Pembiayaan

Administrasi pengelolaan barang milik daerah diperlukan untuk

keperluan pengelolaan barang daerah agar direncanakan dan diajukan setiap

tahun melalui APBD sesuai dengan ketentuan peraturan

perudang-undangan.

(30)

Dalam rangka pengamanan dan penyelamatan terhadap barang

milik daerah, perlu dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengatur

tentang sanksi terhadap pengelola, pembantu pengelola, pengguna/kuasa

pengguna, dan penyimpan dan/atau pengurus barang berupa Tuntutan Ganti

Rugi (TGR) yang karena perbuatannya merugikan daerah.

B. Penelitian yang Relevan

Sutaryo, (2003). Managemen Aset Daerah. Jurusan Akuntansi, Fakultas

Ekonomi, UNS Aset daerah merupakan sumberdaya penting bagi pemerintah

daerah sebagai penopang utama pendapatan asli daerah. oleh karena itu, penting

bagi pemerintah daerah untuk dapat mengelola aset secara memadai. Dalam

pengelolaan aset, pemerintah daerah harus menggunakan pertimbangan aspek

perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan

dan penyaluran, penggunaan, penatausahaan, pemanfaatan atau penggunaan,

pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan,

pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi

agar aset daerah mampu memberika kontribusi optimal bagi pemerintah daerah

yang bersangkutan.

(31)

penghapusan, pemindahtanganan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian, pembiayaan dan tuntutan ganti rugi. Keseluruhan kegiatan tersebut merupakan aspek-aspek penting yang terdapat dalam manajemen aset daerah. Dengan melakukan perencanaan kebutuhan aset, pemerintah daerah akan memperoleh gambaran dan pedoman terkait kebutuhan aset bagi pemerintah daerah.

Dengan perencanaan kebutuhan aset tersebut, pemerintah daerah dapat terhindarkan dari kepemilikan aset yang sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat menjaga dan meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan pada masyarakat. Selain faktor perencanaan kebutuhan aset, faktor pengamanan dan pemeliharaan aset juga harus menjadi pertimbangan pemerintah daerah. Dengan pengamanan dan pemeliharaan aset, pemerintah daerah dapat menjaga kepemilikan dan dapat menerima manfaat ekonomis aset dalam rangka usaha pemerintah daerah memberikan pelayanan pada masyarakat. Faktor yang tidak kalah penting dalam pengelolaan aset pemerintah daerah adalah sistem informasi data. Dengan sistem informasi data aset pemerintah daerah yang memadai, pemerintah data dapat lebih mudah dan cepat untuk memperoleh data terkait aset ketika dibutuhkan sewaktu-waktu. Dengan sistem informasi data, pemerintah daerah juga dapat menyusun laporan aset secara lebih handal sehingga dapat memberi informasi yang lebih handal pada pemakai informasi dalam laporan keuangan.

(32)

pengelolaan aset oleh pimpinan pemerintah daerah dapat memberi arahan bagi pelaksanaan pengelolaan aset pemerintah. Dengan adanya kebijakan dan strategi pengelolaan aset yang tepat oleh pimpinan pemerintah daetah akan dapat mengoptimalkan manfaat aset bagi pemerintah daerah.

Vita Novalia, (2008). Analisis efektivitas Inventarisasi Aset Daerah Pasca Pemekaran (Studi Kasus Pasca Pemekaran di Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan). MAP Universitas Diponegoro, Semarang

(33)

kepada Kota Lubuklinggau sesuai dengan Kepmendagri Nomor 42 Tahun 2001 tentang Pedom Pelaksanaan Penyerahan Barang dan Hutang Pada Daerah yang Baru Dibentuk, yaitu ada pasal 2 ayat (1) yang berbunyi: "Barang milik daerah atau yang dikuasai dan/atau yang dimanfaatkan oleh pemerintah Propinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota induk yang lokasinya berada dalam wilayah daerah yang baru dibentuk, wajib diserahkan dan menjadi milik daerah yang baru dibentuk. Masih kurangnya upaya penyelesaian yang lebih intens antara kedua belah pihak. Upaya penyelesain yang telah ditempuh, belum menyentuh lapisan bawah dan hanya berada pada tingkat yang hanya menuntut proses negosiasi terhadap masing-masing pihak yang berkepentingan walaupun sudah difasilitasi (mediasi) oleh pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

C. Kerangka Pikir

Pelaksanaan Pemeliharaan dan Pengamanan Aset Daerah Dinas

Pendapatan dan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Ogan Komering

Ilir mengacu pada Materi Bintek Sistem dan Prosedur Pengelolaan Aset Daerah

Tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten OKI yang dapat

(34)

Gambar 2.1.

Referensi

Dokumen terkait

Pada indikator evaluating subjek sudah bisa memeriksa kembali jawaban yang sudah dikerjakan dan memberikan kesimpulan, (2) proses metakognisisiswa FI dalam pemecahan

men!ai,atan#ulitn)amen5aripeerjaandima#a#earan!ini4Ban)a#eali5alonpeerja )an!  ,erein!inanuntu,eerja

Kebutuhan air untuk sektor non pertanian ditentukan berdasarkan kebutuhan air untuk keperluan domestik, industri, perhotelan dan peternakan, sedangkan hasil amannya dihitung

Diantara banyak jenis jamur, yang sedang mempunyai prospek baik adalah jenis Jamur Tiram Putih ( Pleuratus Ostreatus sp ) yang disebut juga Jamur Kayu, karena

Perbedaan penelitian –penelitian tersebut dengan penelitian yang sekarang, selain perbedaan waktu, lokasi dan sumber data yang digunakan adalah : penelitian

Selama berhubungan seksual jumlah semen yang diejakulasikan rata-rata adalah 3.5 ml dan tiap 1 ml semen mengandung 120 juta spermatozoon.Jumlah ini diperlukan mengingat

Desain penelitian yang dijadikan kerangka acuan dalam melakukan penelitian ini adalah two group pretest-posttest design.. Metode penelitian yang digunakan adalah

Bahan-bahan yang akan dipasang harus sesuai dengan gambar perancangan atau bila belum ditentukan harus lebih dahulu dibuat gambar shop drawing