BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.2. Paradigma Penelitian
Paradigma merupakanbasic set of believe that guide action, seperangkat keyakinan yang menuntun tindakan, sehingga paradigma akan menentukan bagaimana cara pandang peneliti sebagai interpretive bricoleur (Guba, 1990). Oleh karena itu dalam penelitian pilihan paradigma menjadi hal yang penting. Penelitian sosiologi mengenal lima jenis aliran paradigma, yaitu positivisme, post- positivisme, kelompok teori kritis, konstruktivisme dan partisipatoris (Denzin & Lincoln, 2000). Dalam hal ini penelitian tentang marjinalisasi petani garam dan ekspansi ekonomi global dengan mengambil kasus di Kabupaten Rembang, cenderung akan menggunakan paradigma konstruktivisme.
Hal itu berkaitan dengan cakupan kajian yang meliputi dimensi historis dan struktural dari petani garam. Relasi-relasi sosial yang terbangun dalam rentang waktu panjang diantara kelompok sosial dalam komunitas petani garam merupakan suatu kondisi objektif dari realitas sosial yang berada dalam ranah subjektif individu maupun komunitas, bukannya realitas sosial yang terlepas dari kesadaran individu “an independent existence outside of the individual consciousness” (Denzin & Lincoln, 2000). Terlebih yang berkaitan dengan perlawanan petani garam terhadap tekanan-tekanan struktural yang diduga telah menimbulkan berbagai bentuk perlawanan yang merupakan manifestasi dari adanya upaya kaum marjinal untuk merebut kembali apa yang seharusnya diperoleh. Perlawanan merupakan perilaku sosial yang tidak lepas dari konteks
kehidupan sosialnya baik yang menyangkut relasi sosial, sistem nilai sosial, keyakinan, norma dan lain-lain. Dengan melakukan perlawanan itu petani garam dapat tetap survive ditengah-tengah tekanan struktural, meskipun dalam kondisi hidup yang subsisten. Selain itu dengan aksi perlawanan, juga terkandung harapan terjadi perubahan struktural di mana petani garam dapat lebih terbuka aksesnya pada sumberdaya ekonomi yang terkait dengan komoditi garam.
Penggunaan paradigma konstruktivisme dalam penelitian ini antara lain didasarkan pertimbangan, bahwa paradigma konstruktivis yang dalam prakteknya menurunkan metodologi konstruktivisme menjadi dasar bagi terbangunnya teori groundeddan ini tentu dapat menjadi alternatif dalam memberi sumbangan positif terhadap perkembangan penelitian sosiologi. Dalam hal ini rigor pendekatan grounded research selalu penelitian kualitatif untuk membangun frame work dalam eksplanatori dan ini juga sangat berbeda dengan positivisme yang lebih didominasi kuantitatif dengan orientasi verifikatif (Denzin & Lincoln, 2000).
Paradigma konstruktivisme berada dalam pengaruh kuat pemikiran Weber denganverstehen nya yang kemudian dikembangkan oleh teoritisi interpretif dan fenomenologi Husserl dan Schultz. Dalam hal ini tampak bertolak belakang dengan positivisme, konstruktivisme sebagaimana interpretif dan fenomenologi memiliki kecenderungan untuk menolak objektivitas. Objektivitas sebagaimana dianut positivisme sangat meyakini adanya fakta, realitas empiris yang objektif yang berada di luar dunia subjektif, sedangkan konstruktivisme lebih meyakini bahwa yang ada adalah pemaknaan tentang empiris di luar yang dikonstruk, empirical-constructed facts. Bahkan konstruktivisme lebih konsen bagaimana interaksi antar manusia membantu menciptakan realitas sosial. Konstruktivis percaya bahwa manusia tidak menemukan pengetahuan yang sedemikian banyak sebagaimana yang dikonstruksi atau dibuat (Marvasti, 2004).
Paradigma konstruktivisme secara umum mendasarkan padaframe work, bahwa; (1) Realitas sosial adalah bukan sebagai sesuatu yang objektif melainkan subjektif, (2) Realitas sosial merupakan variabel-variabel situasional dan kultural, (3) Dalam realitas sosial terdapat kesadaran ideologi, pemikiran maupun intelektual (Marvasti, 2004). Dengan demikian dalam kerangka kerja berfikir konstruktivisme mensyaratkan adanya sensitivitas peneliti dan juga partisipan dari
tineliti. Konstruktivisme lebih menitik beratkan pada persoalan bagaimana tineliti memahami dan memberikan makna pada pengalaman mereka sendiri dan peneliti melibatkan tineliti secara eksplisit dalam menganalisis realitas sosial. Menurut paradigma konstruktivisme, bahwa interpretasi subjektif bukan sebagai sumber terjadinya bias, tapi justru akan membantu peneliti memahami bagaimana orang, masyarakat ikut membangun realitas sosial. Selain itu konstruktivisme agak mengesampingkan hukum-hukum universal dari perilaku manusia dan lebih menekankan pada bagaimana makna dan konsekuensi praktis dari perilaku, sebagai satu objek yang antara satu situasi dengan situasi lain berbeda atau antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain berbeda.
Sementara itu mengingat pandangan konstruktivisme, bahwa realitas sosial itu bersumber dari interaksi antar manusia, antar subjek, maka makna yang dihasilkannya merupakan makna yang subjektif. Namun subjektivitas dalam konteks ini merupakan satu kebenaran. Menurut paradigma konstruktivisme manusia sebagai subjek yang bersifat subjektif, tidak mungkin dapat didekati dengan ilmu yang bersifat objektif sebagaimana yang dilakukan positivisme. Apabila memaksakan menggunakan ilmu objektif untuk dipakai mempelajari manusia sebagai objek, justru dapat dikatakan merupakan suatu bias yang mendasar atau kesalahan yang fatal.
Paradigma konstruktivisme sebagaimana pemikiran fenomenologi pada dasarnya berusaha untuk mengerti makna dari berbagai peristiwa dan interaksi sosial dalam situasinya yang khusus. Penelitian dengan model ini memiliki kecenderungan dimulai dengan tanpa pedoman kerangka teoritik. Artinya peneliti tidak menganggap bahwa dirinya mengetahui tentang makna dari berbagai hal dari orang-orang atau komunitas yang ditelitinya. Sikap yang demikian merupakan suatu usaha untuk menangkap segala kemungkinan dari apa yang sedang ditelitinya. Cara konstruktivisme sebagaimana fenomenologi menekankan berbagai aspek subjektif dari perilaku manusia dan hal ini dimaksudkan agar supaya dapat mengerti tentang bagaimana dan apa makna yang mereka bentuk dari berbagai peristiwa dalam kehidupan mereka sehari-hari (Geertz, 1973).
Kelemahan paradigma konstruktivisme antara lain masih terdapat batas yang jelas antara peneliti dan tineliti meskipun peneliti dalam menangkap dan
memahami realitas sosial lebih menekankan pada dimensi tineliti, tetapi kegiatan peneliti cenderung tidak memberi kontribusi yang mempengaruhi eksistensi tineliti. Selain itu konstruktivisme terutama dalam aspek metodologinya masih sangat ketat seperti hermeunetik, interpretif, fenomenologi, PRA dan sebagainya. Dengan demikian meskipun paradigma konstruktivisme dalam mengungkap dan memahami makna yang terkandung dalam dunia subjektif individu telah meletakkannya dalam dimensi emik dineliti, tetapi masih dalam konteks kepentingan peneliti belum secara langsung menyentuh ranah kepentingan tineliti. Berangkat dari adanya kesadaran akan kelemahan ini, maka penelitian ini juga bergerak pada derajat memberi makna bagi kepentingan tineliti utamanya dalam rangka membangun kesadaran kolektif (collective consciousness) atas kondisi marjinal yang terkonstruksi secara struktural. Dengan demikian penelitian ini tidak hanya sekedar memberi pemahaman tentang dominasi dan eksploitasi yang berujung pada marjinalisasi, tetapi juga diarahkan untuk ikut membantu menciptakan kesetaraan (equality) dan kemajuan (emansipasi) dalam kehidupan sosial masyarakat petani garam yang menjadi subyek penelitian.
Pada dasarnya pilihan penggunaan paradigma tersebut didasarkan pada tiga pertimbangan. Pertama, dari segi ontologi penelitian ini dilakukan tidak dalam rangka verifikasi suatu teori maupun hipotesis, tetapi untuk mendapatkan penjelasan tentang suatu realitas sosial tertentu yang terbentuk dalam suatu proses sepanjang waktu (process over time) tertentu, dalam konteks sosial tertentu dan hanya dapat ditangkap secara tidak lengkap atau terbatas (Denzin & Lincoln, 2000). Kedua, dari segi epistemologi realitas sosial pada hakekatnya tidak semata- mata sebagai suatu yang objektif, melainkan juga merupakan hasil intersubjektif diantara tineliti dan peneliti. Realitas sosial merupakan hasil kehendak manusia secara sadar yang tidak mungkin dipisahkan dari kekhususan hubungan antar manusianya yang terlibat, termasuk para peneliti yang mengambil bagian di dalamnya serta mentafsir realitas yang dihadapinya. Jadi dalam hal ini terjadi interaksi dan dialog antar dua subjek, yaitu subjek peneliti dan subjek tineliti. Ketiga, dari segi metodologi realitas sosial dapat diungkap dan dipahami dengan menggunakan metode kualitatif. Dalam hal ini paradigma konstruktivis yang dipilih juga menekankan pentingnya penggunaan metode kualitatif, karena realitas
sosial tidak semata-mata yang objektif, tetapi terdapat makna dibalik yang objektif itu dan untuk dapat mengungkap makna yang terkandung dalam realitas sosial itulah diperlukan metode kualitatif.