HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Parameter Abiotik
Tetty Rini Rebecca Siregar : Studi Keanekaragaman Makrozoobenthos Di Aliran Sungai Belawan Kecamatan Pancur Batu Dan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, 2010.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Aliran Sungai Belawan Kecamatan Pancur Batu dan Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, diperoleh rata-rata nilai faktor fisik-kimia perairan pada setiap Stasiun penelitian seperti Tabel 4.6 di bawah ini:
Tabel 4.6 Rata-rata Nilai Faktor Fisik-Kimia Perairan Yang Diperoleh Pada Setiap Stasiun Penelitian.
No. Parameter Fisik-Kimia Satuan Stasiun I Stasiun II Stasiun III Stasiun IV Stasiun V
1. Temperatur air oC 25,20 25,40 25,30 25,30 25,60
2. Penetrasi cahaya Cm 7,80 13,30 16,00 14,40 12,40 3. Intensitas cahaya Candela 545,80 505,60 541,80 530,50 502,60 4. Kecepatan arus m/det 0,38 0,36 0,35 0,43 0,45
5. pH air - 7,38 7,43 7,46 7,35 7,56 6. DO Mg/l 7,46 7,15 7,20 7,26 6,48 7. BOD5 Mg/l 0,96 1,27 1,68 1,13 1,95 8. Kejenuhan Oksigen % 92,21 88,70 89,21 89,96 80,59 9. COD Mg/l 9,58 8,30 12,13 10,85 11,49 10. K. O. Substrat % 0,66 0,04 6,07 2,07 4,28
Dari Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa temperatur air pada kelima Stasiun penelitian berkisar 25,20 °C-25,60 °C. Perbedaan temperatur air pada kelima Stasiun ini tidak terlalu jauh. Temperatur air tertinggi terdapat pada Stasiun V sebesar 25,60 °C dan terendah pada Stasiun I sebesar 25,20 °C. Perbedaan temperatur air pada setiap Stasiun penelitian karena kondisi cuaca saat pengukuran dilakukan, juga sebagai akibat dari perbedaan aktivitas pada masing-masing Stasiun. Effendi (2003) menjelaskan, perairan butuh waktu yang lebih lama untuk menaikkan dan menurunkan temperatur jika dibandingkan dengan daratan. Proses penyerapan cahaya berlangsung lebih intensif pada lapisan atas sehingga lapisan atas perairan memiliki temperatur yang lebih panas bila dibandingkan dengan lapisan bawah. Brehm & Meijering (1990) dalam Barus (2004) menjelaskan, pola temperatur ekosistem
Tetty Rini Rebecca Siregar : Studi Keanekaragaman Makrozoobenthos Di Aliran Sungai Belawan Kecamatan Pancur Batu Dan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, 2010.
perairan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara disekelilingnya, dan aktivitas manusia.
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa penetrasi cahaya pada kelima Stasiun penelitian berbeda. Penetrasi cahaya yang paling tinggi terdapat pada Stasiun III yakni 16,00 cm dan penetrasi cahaya terendah terdapat pada Stasiun I sebesar 7,80 cm. Sastrawijaya (1991) menjelaskan, cahaya matahari tidak dapat menembus dasar perairan jika konsentrasi bahan tersuspensi atau terlarut tinggi, akibatnya akan mempengaruhi proses fotosintesis di dalam sungai tersebut. Selain itu, kekeruhan air terjadi disebabkan adanya zat-zat koloid yaitu zat yang terapung serta zat yang terurai secara halus sekali, jasad-jasad renik, lumpur tanah liat, dan adanya zat-zat koloid yang tidak mengendap dengan segera (Mahadi, 1993). Pengaruh utama dari kekeruhan air adalah penurunan penetrasi cahaya secara mencolok, sehingga menurunkan aktivitas fotosintesis fitoplankton dan alga dan akan menurunkan aktivitas perairan (Koesbiono, 1979).
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa intensitas cahaya pada kelima Stasiun penelitian berbeda. Intensitas cahaya yang paling tinggi terdapat pada Stasiun I yakni 545,80 candela dan penetrasi cahaya terendah terdapat pada Stasiun V sebesar 502,60 candela. Perbedaan intensitas cahaya pada masing-masing Stasiun mungkin disebabkan perbedaan kedalaman lapisan air, vegetasi yang ada disekitar sungai, serta kekeruhan dari air tersebut. Barus (2004) menjelaskan, bagi organisme air, intensitas cahaya berfungsi sebagai alat orientasi yang mendukung kehidupan organisme dalam perairan tersebut.
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa kecepatan arus pada kelima Stasiun penelitian berbeda. Kecepatan arus yang paling tinggi terdapat pada Stasiun V yakni 0,45 m/det dan kecepatan arus terendah terdapat pada stasiun III sebesar 0,35 m/det. Perbedaan kecepatan arus pada suatu perairan disebabkan keadaan topografi sungai, kedalaman sungai, dan substrat yang terdapat di sungai. Odum (1994) menjelaskan, kecepatan arus air di sungai tergantung pada kemiringan, kekasaran substrat,
Tetty Rini Rebecca Siregar : Studi Keanekaragaman Makrozoobenthos Di Aliran Sungai Belawan Kecamatan Pancur Batu Dan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, 2010.
kedalaman dan lebar sungai. Kecepatan arus juga tergantung pada musim hujan atau kemarau. Semakin tinggi arus maka akan meningkatkan kandungan oksigen terlarut dan semakin tinggi arus air maka kandungan CO2 rendah (Asdak, 1995).
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa pH air pada kelima Stasiun penelitian berbeda. pH air yang paling tinggi terdapat pada Stasiun V yakni 7,56 dan pH air terendah terdapat pada Stasiun IV sebesar 7,35. Pada kelima Stasiun penelitian ini nilai pH air tidak memiliki fluktuasi yang besar, dan masih berkisar pada batas normal sekitar 7-8,5. Barus (2004) menjelaskan, setiap spesies memiliki kisaran toleransi yang berbeda terhadap pH. pH yang ideal bagi kehidupan organisme akuatik termasuk makrozoobenthos pada umumnya berkisar antara 7 sampai 8,5. Kondisi perairan yang sangat asam ataupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan gangguan metabolisme dan respirasi. pH yang sangat rendah akan menyebabkan mobilitas berbagai senyawa logam berat yang bersifat toksik semakin tinggi yang akan mengancam kelangsungan hidup organisme akuatik, dan pH yang tinggi akan menyebabkan keseimbangan antara amonium dan amoniak dalam air akan terganggu, dimana kenaikan pH di atas netral akan meningkatkan konsentrasi amoniak yang juga bersifat sangat toksik bagi organisme.
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa DO air pada kelima Stasiun penelitian berbeda. DO air yang paling tinggi terdapat pada Stasiun I yakni 7,46 mg/l dan DO air terendah terdapat pada Stasiun IV sebesar 6,48 mg/l. Secara keseluruhan nilai kandungan oksigen terlarut dilokasi penelitian masih dapat ditoleransi makrozoobentos. Sumber utama oksigen terlarut dalam air berasal dari adanya kontak antara permukaan air dengan udara dan juga dari proses fotosintesis. Air kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui aktivitas respirasi dari organisme akuatik. Kisaran toleransi makrozoobenthos terhadap oksigen terlarut berbeda-beda (Barus, 2004). Kandungan gas oksigen terurai dalam air mempunyai peranan dalam menentukan untuk kelangsungan hidup organisme akuatik dan untuk berlangsungnya proses reaksi kimia yang terjadi di dalam perairan (Asdak, 1995). Suhu mempunyai pengaruh besar terhadap kelarutan oksigen, jika temperatur naik
Tetty Rini Rebecca Siregar : Studi Keanekaragaman Makrozoobenthos Di Aliran Sungai Belawan Kecamatan Pancur Batu Dan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, 2010.
maka oksigen di dalam air akan menurun. Kehidupan organisme perairan dapat bertahan jika oksigen terlarut sebanyak 5 mg/l dan tergantung juga terhadap daya tahan organisme (Sastrawijaya, 1991).
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa BOD5 pada kelima Stasiun penelitian
berbeda. BOD5 yang paling tinggi terdapat pada Stasiun V yakni 1,95 mg/l dan BOD5
terendah terdapat pada Stasiun I sebesar 0,96 mg/l. Adanya perbedaan nilai BOD5 di
setiap Stasiun penelitian disebabkan oleh jumlah bahan organik yang berbeda pada masing-masing Stasiun, yang berhubungan dengan defisit oksigen karena oksigen tersebut digunakan oleh mikroorganisme dalam proses penguraian bahan organik sehingga mengakibatkan nilai BOD5 meningkat. Menurut Brower et al (1990), nilai
konsentrasi BOD menunjukkan suatu kualitas perairan yang masih tergolong baik apabila konsumsi oksigen selama periode lima hari berkisar sampai 5 mg/l oksigen. Sedangkan apabila konsumsi oksigen berkisar antara 10-20 mg/l oksigen maka akan menunjukkan tingkat pencemaran oleh materi organik yang tinggi. Kebutuhan oksigen biologi suatu badan air adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh organisme yang terdapat didalamnya untuk bernapas selama lima hari.
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa kejenuhan oksigen pada kelima Stasiun penelitian berbeda. Kejenuhan oksigen yang paling tinggi terdapat pada Stasiun I sebesar 92,21 % dan terendah terdapat pada Stasiun V sebesar 80,59 %. Barus (2004) menjelaskan, kehadiran senyawa organik akan menyebabkan terjadinya proses penguraian yang dilakukan oleh mikroorganisme dan berlangsung secara aerob. Oleh sebab itu jika di dalam suatu lingkungan perairan, jumlah kehadiran senyawa organik tinggi, maka mikroorganisme membutuhkan oksigen dalam jumlah yang lebih banyak dan hal ini akan mengakibatkan defisit oksigen bagi lingkungan perairan tersebut.
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa COD pada kelima Stasiun penelitian berbeda. COD yang paling tinggi terdapat pada Stasiun III yakni 12,13 mg/l dan COD terendah terdapat pada Stasiun II sebesar 8,30 mg/l. Perbedaan nilai COD yang didapat dari hasil penelitian mungkin disebabkan karena perbedaan aktivitas yang ada di setiap Stasiun penelitian. Wardhana (1995) menjelaskan, pada penentuan nilai
Tetty Rini Rebecca Siregar : Studi Keanekaragaman Makrozoobenthos Di Aliran Sungai Belawan Kecamatan Pancur Batu Dan Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang, 2010.
COD, jumlah oksigen yang diperlukan untuk reaksi oksidasi terhadap buangan organik sama dengan jumlah kalium bikromat. Makin banyak kalium bikromat yang dipakai untuk reaksi oksidasi, berarti semakin banyak pula oksigen yang dibutuhkan.
Pada Tabel di atas dapat dilihat bahwa kandungan organik substrat pada kelima Stasiun penelitian berbeda. Kandungan organik substrat yang paling tinggi terdapat pada Stasiun III yakni 6,07 % dan terendah terdapat pada Stasiun II sebesar 0,04 %. Secara keseluruhan nilai kandungan organik substrat yang didapatkan dari kelima Stasiun penelitian tergolong sangat rendah sampai dengan sangat tinggi. Djaenuddin et al (1994) menjelaskan, kriteria tinggi rendahnya kandungan organik substrat atau tanah berdasarkan persentase adalah sebagai berikut : < 1 % = sangat rendah; 1 % - 2 % = rendah; 2,01 % - 3 % = sedang; 3 % - 5 % = tinggi; >5,01 % = sangat tinggi.
Substrat dasar suatu perairan merupakan faktor yang penting bagi kehidupan hewan makrozoobenthos yaitu sebagai habitat hewan tersebut. Masing-masing spesies mempunyai kisaran toleransi yang berbeda-beda terhadap substrat dan kandungan bahan organik sustrat (Barnes & Mann, 1994). Dan dengan adanya perbedaan jenis substrat dasar juga menyebabkan perbedaan jenis makrozoobentos yang didapatkan pada masing-masing stasiun penelitian. Kehadiran spesies dalam suatu komunitas zoobentos didukung oleh kandungan organik yang tinggi, akan tetapi belum tentu menjamin kelimpahan zoobentos tersebut, karena tipe substrat ikut menentukan (Welch, 1952).