HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Parameter Fisik dan Kimia Perairan Telaga Bromo
Rata-rata hasil pengukuran terhadap parameter fisik dan kimia perairan yang telah dilakukan setiap pengambilan sampel pada bulan Januari 2016–Maret 2016 di Telaga Bromo dapat dilihat di Tabel 1.
Tabel 1. Nilai Parameter Fisik dan Kimia Perairan Telaga Bromo
Parameter Stasiun I Stasiun II Stasiun III Stasiun IV Kisaran Rerata Kisaran Rerata Kisaran Rerata Kisaran Rerata Intensitas Cahaya (Lux) 8.200 - 111.100 26.400 11.200 - 109.800 22.300 9600 - 81.800 16.600 9.700 - 83.600 22.200 Kekeruhan (mg/L) 60 - 493 158,6 32 - 80 62,4 11 - 80 62,2 13 - 70 54,6 Kedalaman (meter) 0,6 - 1,1 0,8 1,3 - 2,3 1,71 0,7 - 1,2 0,9 0,5 - 0,8 0,65 Suhu (0C) 29,1 - 47,2 34,3 29,3 - 40,1 32,6 28,8 - 35,2 31,24 29,3 - 45,4 34,5 pH 7,6 - 10 8,48 7,3 - 8,5 7,94 6,5 - 9,3 7,92 6,2 - 8,5 7,32 DO (mg/L) 3,03 - 8,94 4.99 3,90 - 8,90 4,27 4,12 - 7,73 4,237 0,53 - 8,65 3,06 COD (mg/L) 94,62- 380,16 235,913 93,18 - 380,16 222,813 75,26 - 316,80 164,66 82,43 - 506,88 264,383 BOD (mg/L) 9,59 - 19,06 13,01 2,34 - 41,13 20,07 1,58 - 47,15 19,697 1,42 - 44,91 23,687 Fosfat (mg/L) 0,012 - 0,444 0,2643 0,138 - 0,276 0,2023 0,127- 0,689 0,4417 0,076 - 1,012 0,5313 Nitrat (mg/L) 0,348 - 0,967 0,6923 0,437 - 0,987 0,7523 0,433 - 1,196 0,822 0,426 - 1,728 1,173 Sulfat (mg/L) 20,009 - 85,149 55,5793 19,316 - 102,212 65,0587 16,789 - 71,875 29,5547 13,754 - 105,528 65,145 Kalsium (mg/L) 8,00 - 15,84 11,147 10,30 - 12,00 10,9 7,42 - 10,40 8,873 14,40 - 15,84 15,147
Sumber: Analisis Data Primer Keterangan :
Stasiun I = bagian tepi telaga (tempat mencuci dan mandi) Stasiun II = bagian tengah telaga
Stasiun III = bagian teduhan Stasiun IV = bagian tanpa teduhan
Kualitas air merupakan subyek yang sangat kompleks dan dicerminkan dari jenis pengukuran dan indikator air yang digunakan. Pengukuran akan lebih akurat jika dilakukan di tempat karena air berada dalam kondisi yang ekuilibrium dengan lingkungannya. Pengukuran di tempat umumnya akan mendapatkan data mendasar seperti temperatur, pH, kekeruhan dan sebagainya. Untuk pengukuran yang lebih kompleks membutuhkan sampel air yang kemudian dijaga kondisinya, dipindahkan dan dianalisis di laboratorium. Pengukuran ini memiliki kendala seperti karakteristik air pada sampel mungkin tidak sama dengan sumbernya karena terjadi perubahan secara kimiawi dan biologis seiring waktu. Bahkan kualitas air dapat bervariasi antara siang dan malam akibat pengaruh organisme air. Air sampel akan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yaitu botol atau kemasan yang digunakan untuk pengambilan sampel. Sehingga bahan yang digunakan untuk pengambilan sampel harus bersifat inert atau memiliki tingkat reaktivitas yang minimum sehingga tidak mempengaruhi kualitas air yang diuji. Ruang udara yang berada di dalam kemasan sampel dapat mempengaruhi karena ada resiko udara larut dalam sampel air. Selain itu, cahaya matahari juga mempengaruhi organisme dalam sampel seperti fitoplankton untuk melakukan fotosintesis sehingga mengubah kondisi kimiawi sampel air. Menjaga kualitas sampel dapat dilakukan dengan mendinginkan sampel sehingga mengurangi laju reaksi kimia dan perubahan fase.
1. Intensitas Cahaya
Dari hasil penelitian diketahui bahwa intensitas cahaya tertinggi terdapat di stasiun I (bagian tepi telaga) yaitu 26.400 lux yang disebabkan karena sedikitnya vegetasi di sekitar tepi telaga dan pengukuran dilakukan pada siang hari meski dalam keadaan mendung atau hujan. Walaupun stasiun IV merupakan stasiun yang tidak memiliki naungan vegetasi, stasiun IV memiliki banyak vegetasi di sekitarnya dan pengukurannya dilakukan paling akhir sehingga cahaya matahari mulai berkurang. Nilai intensitas cahaya terendah terdapat di stasiun III yaitu 16.600 lux karena adanya naungan vegetasi. Kisaran intensitas cahaya 16.600-26.400 lux tergolong rendah sehingga fitoplankton tidak dapat berfotosintesis secara optimum. Hal ini didukung dengan pernyataan Susanti (2001) bahwa kisaran intensitas cahaya yang membuat fitoplankton berfotosintesis secara optimum berkisar antara 48.500-120.000 lux. Rendahnya intensitas cahaya tersebut karena saat pengambilan sampel sedang mendung atau hujan.
Intensitas cahaya dan kekeruhan merupakan parameter yang saling berkaitan, parameter-parameter ini merupakan indikator produktivitas perairan sehubungan dengan proses fotosintesis dan proses respirasi biota perairan terutama plankton. Kekeruhan yang tinggi menyebabkan rendahnya intensitas cahaya yang masuk ke dalam perairan sehingga proses fotosintesis fitoplankton terhambat dan pertumbuhan fitoplankton tidak optimal.
2. Kekeruhan
Nilai kekeruhan perairan di Telaga Bromo berkisar antara 54,6 – 158,6 mg/L (Tabel 1). Tingginya nilai kekeruhan pada stasiun I diduga akibat banyaknya sampah di bagian tepi telaga terutama sampah plastik detergen. Selain itu, tingginya nilai kekeruhan tersebut disebabkan oleh air limpasan dari daratan. Sedangkan rendahnya nilai kekeruhan di stasiun IV disebabkan karena efek dari air limpasan tidak terlalu tinggi.
Nilai kekeruhan yang masih dapat ditolerir oleh organisme perairan yaitu < 30 mg/l. Nilai kekeruhan yang tinggi dapat menyebabkan berkurangnya penetrasi cahaya ke dalam perairan sehingga menghambat laju fotosintesis fitoplankton. Fotosintesis yang terhambat akan mengakibatkan pertumbuhan fitoplankton tidak optimal dan berkurangnya oksigen dalam air. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Floder (2002: 395- 396).
3. Kedalaman
Setelah dirata-rata dari kelima pengambilan, kedalaman Telaga Bromo berkisar antara 0,65-1,71 meter (Tabel 1). Dari pengambilan pertama sampai pengambilan ke empat, hanya stasiun II yang berkedalaman di atas 1 meter. Pada pengambilan terakhir, hanya stasiun IV yang berkedalaman di bawah 1 meter. Bertambahnya volume air telaga dikarenakan oleh air hujan yang turun selama bulan Januari-Maret 2016.
Kedalaman perairan berperan penting terhadap kehidupan biota pada ekosistem tersebut. Semakin dalam perairan maka terdapat zona yang
masing-masing memiliki kekhasan tertentu, seperti suhu, kelarutan gas-gas dalam air, kecepatan arus, penetrasi cahaya matahari dan tekanan hidrostatik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Satino (2010: 13) yang mengatakan bahwa perubahan faktor - faktor fisik dan kimiawi perairan akibat perubahan kedalaman akan menyebabkan respon yang berbeda biota di dalamnya. Fitoplankton banyak dijumpai pada kedalaman tidak lebih dari satu meter pada perairan umum (sungai, danau, telaga dan waduk) karena pada kedalaman satu meter merupakan daerah transparansi matahari yang merupakan daerah fitoplankton dapat menyerap cahaya tampak dari matahari secara optimal.
4. Suhu
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa suhu perairan berkisar antara 31,24-34,5 0C (Tabel 1), dengan suhu tertinggi pada stasiun IV dan terendah pada stasiun III. Tingginya suhu pada stasiun IV disebabkan karena tidak adanya naungan vegetasi sehingga badan air terkena cahaya matahari secara langsung. Rendahnya suhu di stasiun III karena adanya naungan vegetasi sehingga penetrasi cahaya matahari ke perairan akan terhalang dan akibatnya suhu perairan tidak meningkat secara cepat.
Variasi suhu yang terukur selama pengamatan sangat dipengaruhi oleh suhu udara di atasnya dan perbedaan intensitas cahaya matahari saat pengukuran. Suhu secara langsung berpengaruh dalam mengontrol laju berbagai proses metabolisme dalam sel mikroalga. Laju proses metabolisme akan meningkat seiring dengan kenaikan suhu.
Kisaran suhu antara 31,24-34,5 0C tergolong dalam kisaran suhu yang masih dapat ditolerir plankton. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Wibisono (2005) yang mengatakan bahwa suhu yang dapat ditolerir oleh organisme berkisar antara 20-300C, suhu yang sesuai dengan perkembangan fitoplankton berkisar antara 25-300C, suhu yang optimal untuk pertumbuhan zooplankton antara 15-350C.
5. Derajat Keasaman (pH)
Berdasarkan pengukuran nilai pH di Telaga Bromo, diperoleh kisaran pH antara 7,32-8,48 (Tabel 1). Nilai pH terendah terdapat di stasiun IV sedangkan nilai pH tertinggi terdapat di stasiun I. Tinggi atau rendahnya pH perairan terkait dengan aktivitas organisme dekomposer dalam penguraian materi organik baik di dasar perairan maupun di kolom air. Tingginya nilai pH di stasiun I disebabkan oleh banyaknya materi organik yang diuraikan. Materi organik tersebut berasal dari air limpasan yang banyak mengandung sampah dan nutrisi yang terlihat dari nilai kekeruhan di stasiun I. Sedangkan stasiun IV memiliki nilai pH terendah karena materi organik dari air limpasan yang perlu diuraikan sedikit.
Meskipun nilai pH di stasiun I merupakan nilai pH tertinggi, nilai tersebut masih dapat ditolerir oleh plankton. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari Effendi (2003) dalam Anjar Asmara (2005:38) yang mengatakan bahwa nilai pH yang ideal untuk kehidupan organisme akuatik pada umumnya berkisar antara 7-8,5.
6. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)
Dari hasil pengukuran yang dilakukan diperoleh nilai oksigen terlarut berkisar antara 3,06-4,99 mg/L (Tabel 1). Tinggi rendahnya kadar oksigen terlarut berkaitan dengan kekeruhan air dan aktivitas mikroorganisme untuk menguraikan zat organik menjadi zat anorganik yang menggunakan oksigen terlarut. Seharusnya nilai DO terendah terdapat di stasiun I yang merupakan tempat mencuci dan mandi sehingga aktivitas organisme dekomposernya tinggi. Namun, nilai DO terendah justru terdapat di stasiun IV. Hal tersebut disebabkan oleh arah aliran air di telaga. Karena perbedaan kedalaman telaga maka perairan di stasiun I akan mengalir ke stasiun IV sehingga aktivitas organisme dekomposer banyak terjadi di stasiun IV.
Kisaran DO yang diperoleh masih dapat ditolerir oleh organisme perairan yang ada di telaga. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Suharsono (1990) dalam Lisanty (2000) yang mengatakan bahwa kadar oksigen terlarut minimum yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan organisme akuatik secara normal adalah 2 mg/l dengan catatan di dalam perairan tidak terdapat persenyawaan beracun dan kadar oksigen terlarut yang optimal untuk pertumbuhan organisme akuatik adalah 5 mg/l.
7. COD (Chemical Oxygen Demand)
Dari hasil pengukuran yang dilakukan diperoleh nilai COD (Chemical Oxygen Demand) tertinggi pada stasiun IV yaitu 264,383 mg/L dan terendah pada stasiun III yaitu 164,66 mg/L. Hanya pada stasiun III
yang memiliki nilai COD di bawah 200 mg/L (Tabel 1). Tingginya nilai COD menunjukkan bahwa perairan mengandung banyak senyawa organik dan anorganik yang harus diuraikan secara kimia karena tidak dapat diuraikan secara biologis saja. Pengukuran COD dilakukan untuk mengetahui tingkat penguraian produk-produk kimiawi seperti senyawa minyak dan buangan kimia lainnya yang sangat sulit atau bahkan tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme. Kadar COD tertinggi seharusnya terdapat di stasiun I karena stasiun I merupakan tempat untuk mencuci dan mandi sehingga terdapat banyak buangan kimia dari sabun dan detergen. Namun, kadar COD tertinggi terdapat di stasiun IV. Hal tersebut disebabkan oleh arah aliran air di telaga. Karena perbedaan kedalaman telaga maka perairan di stasiun I akan mengalir ke stasiun IV sehingga limbah air sabun dan detergen banyak terdapat di stasiun IV.
Nilai COD yang terlalu tinggi tidak baik untuk kehidupan plankton karena akan banyak oksigen yang digunakan dalam menguraikan bahan organik tersebut. Nilai COD yang terukur di tiap stasiun menunjukkan nilai yang cukup tinggi sehingga Telaga Bromo tergolong perairan tercemar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendi (2003) dalam Anjar Asmara (2005:42) yang mengatakan bahwa nilai COD di perairan tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l sedangkan perairan tercemar lebih dari 200 mg/l.
8. BOD (Biological Oxygen Demand)
Dari hasil pengukuran yang dilakukan diperoleh nilai BOD (Biological Oxygen Demand) tertinggi terdapat di stasiun IV yaitu 23,687 mg/L dan terendah terdapat di stasiun I yaitu 13,01 mg/L. Tinggi atau rendahnya nilai BOD menunjukkan banyak tidaknya kandungan senyawa organik dan anorganik dalam badan perairan yang membutuhkan oksigen untuk menguraikannya.
BOD menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk menguraikan atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jika konsumsi oksigen tinggi, yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut dalam air, maka berarti kandungan bahan buangan yang membutuhkan oksigen tinggi. Bahan- bahan buangan yang memerlukan oksigen terutama terdiri dari bahan- bahan organik dan mungkin beberapa bahan anorganik. Polutan semacam ini berasal dari berbagai sumber seperti kotoran hewan maupun manusia, tanaman-tanaman yang mati atau sampah organik, bahan-bahan buangan dari industri dan sebagainya. Air yang telah tercemar oleh bahan buangan yang bersifat antiseptik atau racun seperti detergen, jumlah mikroorganismenya juga relatif sedikit. Seharusnya stasiun I memiliki nilai BOD tertinggi karena banyak terdapat air sabun dari mencuci maupun mandi. Namun, kadar BOD tertinggi terdapat di stasiun IV. Hal tersebut disebabkan oleh arah aliran air di telaga. Karena perbedaan
kedalaman telaga maka perairan di stasiun I akan mengalir ke stasiun IV sehingga limbah air sabun dan detergen banyak terdapat di stasiun IV.
Perairan di Telaga Bromo tergolong perairan yang tercemar berat berdasarkan kadar BOD yang terukur. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Brower (1990:52) yang menyatakan bahwa kadar BOD < 3,0 mg/l termasuk perairan tidak tercemar, kadar BOD 3,0-4,9 mg/l termasuk perairan tercemar ringan, kadar BOD 5,0-15 mg/l termasuk perairan tercemar sedang dan kadar BOD >15 mg/l termasuk perairan tercemar berat.
9. Fosfat
Hasil pengukuran menunjukkan kadar fosfat berkisar antara 0,2023-0,5313 mg/L (Tabel 1). Kadar fosfat tertinggi terletak di stasiun IV sedangkan kadar fosfat terendah terletak di stasiun II. Tingginya kandungan fosfat pada stasiun IV dapat diakibatkan oleh pupuk organik yang terbawa oleh air limpasan karena stasiun IV dekat dengan area persawahan.
Kadar fosfat yang terukur termasuk dalam kisaran yang cukup untuk mendukung kehidupan plankton. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar, Misran Hasudungan (2010: 52) yang mengatakan bahwa untuk pertumbuhan plankton yang optimal, diperlukan konsentrasi fosfat pada kisaran 0,27-5,51 mg/l dan akan menjadi faktor pembatas apabila kurang dari 0,02 mg/l.
10. Nitrat
Hasil pengukuran menunjukkan kadar nitrat berkisar antara 0,6923-1,173 mg/L (Tabel 1). Kadar nitrat tertinggi terletak di stasiun IV sedangkan kadar nitrat terendah terletak di stasiun I. Rendahnya kandungan nitrat disebabkan karena limbah domestik dalam perairan lebih banyak mengandung senyawa anorganik dibanding senyawa organik. Banyaknya senyawa anorganik dapat dilihat dari nilai COD yang tinggi sedangkan nilai BOD rendah seperti yang terjadi pada stasiun I.
Kandungan nitrat yang tinggi berpengaruh pada kepadatan fitoplankton dari divisi Cyanophyta yang memiliki kepadatan tertinggi di stasiun IV. Fitoplankton dari divisi Cyanophyta mampu memfiksasi nitrogen secara langsung tanpa bantuan dari organisme lainnya.
Tingginya kandungan nitrat di stasiun IV dapat dikarenakan banyaknya masukan materi organik dari daerah pertanian di sekitar telaga berupa pupuk organik yang masuk ke dalam telaga sebagai dampak dari peristiwa air limpasan.
Pada penelitian ini, rasio N:P < 16:1 sehingga unsur N yang membatasi pertumbuhan fitoplankton. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Sakka, dkk (1999:149) yang mengatakan bahwa pertumbuhan fitoplankton akan berlangsung optimal apabila rasio unsur N:P sebesar 16:1. Ketika rasio N:P < 16:1, maka unsur N merupakan unsur yang membatasi pertumbuhan fitoplankton sedangkan ketika rasio N:P > 16:1 maka unsur P membatasi pertumbuhan fitoplankton.
11. Sulfat
Hasil pengukuran menunjukkan kadar sulfat berkisar antara 29,5547-65,145 mg/L (Tabel 1). Kadar sulfat tertinggi terletak di stasiun IV sedangkan kadar sulfat terendah terletak di stasiun III. Tingginya kadar sulfat disebabkan limbah detergen yang menggunakan sulfat sebagai bahan tambahan yang tidak memiliki kemampuan meningkatkan daya cuci sehingga menambah kuantitas penggunaan contohnya senyawa Na2SO4 sehingga limbah detergen menghasilkan sulfat. Karena perbedaan kedalaman telaga maka perairan di stasiun I akan mengalir ke stasiun IV sehingga limbah detergen yang menghasilkan sulfat banyak terdapat di stasiun IV
Kadar sulfat di Telaga Bromo masih tergolong normal sesuai dengan pendapat Effendi (2003) dalam Arniati Labanni’ (2013: 4) yang mengatakan bahwa kadar sulfat pada perairan tawar alami berkisar antara 2-80 mg/liter.
12. Kalsium
Hasil pengukuran menunjukkan kadar kalsium berkisar antara 8,873-15,147 mg/L (Tabel 1). Kadar kalsium tertinggi terletak di stasiun IV sedangkan kadar kalsium terendah terletak di stasiun III. Dari keempat stasiun, hanya stasiun III yang memiliki kadar kalsium di bawah 10 ppm. Semakin tinggi kadar kalsium, maka jumlah jenis plankton akan semakin banyak. Kadar kalsium di Telaga Bromo menunjukkan bahwa perairan telaga tergolong baik. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Tyas, Permata
(2009:14) yang menyatakan bahwa jumlah kalsium dalam air menunjukkan bagus atau tidaknya sumber air tersebut. Jika kalsium <10 ppm tergolong kurang baik, 10-25 ppm tergolong baik dan bila > 25 ppm tergolong sangat baik. Kadar kalsium yang tinggi di perairan relatif tidak berbahaya. Sumber utama kalsium di perairan adalah batuan dan tanah. Banyaknya Microcystis di Telaga Bromo sesuai dengan pendapat Tyas, Permata (2009: 15) yang mengatakan bahwa Microcystis merupakan marga yang dapat hidup di perairan kaya kalsium.