• Tidak ada hasil yang ditemukan

Parameter Genetik Karakter Agronomi Tanaman Kedelai Genotipe Mutan (M 7 )

3.4. Analisis Data

4.1.3. Parameter Genetik Karakter Agronomi Tanaman Kedelai Genotipe Mutan (M 7 )

Keragaman yang diharapkan pada populasi tanaman kedelai genotipe mutan (M7) yang diuji adalah keragaman yang disebakan oleh ragam genetik.

Ragam genetik merupakan ragam yang diwariskan dari tetua terhadap turunannya.

Ragam genetik dapat menunjukan besar atau kecilnya nilai heritabilitas yang dimiliki suatu karakter. Semakin tinggi nilai heritabilitas berarti keragaan suatu karakter yang diamati sebagian besar dipengaruhi oleh ragam genetik (Falconer dan Mackay, 2006). Luas atau sempitnya keragaman genetik suatu karakter ditentukan berdasarkan ragam genetik dan standar deviasi ragam genetik. Menurut Haq et al. (2008) keragaman genetik yang tergolong luas mengindikasikan bahwa karakter tersebut memiliki keragaman genetik yang tinggi sehingga karakter tersebut sangat potensial sebagai karakter seleksi.

Berdasarkan hasil penelitian di lahan optimum menunjukkan bahwa Genotipe M100A25(2/7), M100A25(3/7), M100A25(5/3), memiliki nilai heritabilitas, KKG dan KKF tinggi pada karakter umur panen, jumlah biji.

Genotipe M100A25(3/4), M200A11(32/3), M200A12(6/5), memiliki nilai

72

heritabilitas, KKG dan KKF tinggi pada karakter umur panen, jumlah biji, bobot biji per tanaman dan bobot 100 biji. Genotipe M100A6(31/1), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A8(33/8), M300A8(35/7) memiliki nilai heritabilitas, KKG dan KKF tinggi pada karakter umur panen, tinggi tanaman, jumlah cabang produktif, bobot biji per tanaman dan bobot 100 biji. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.9

73 Tabel 4.9. Parameter Genetik Tanaman di Lahan Optimum

Genotipe Karakteristik Rataan

Genotipe σ2p σ2g σ2e h2 KKG KKF

M100A25(2/7) Umur Berbunga 37 14,35 0,44 50,85 0,03 (R) 1,82 (R) 10,38 (S) Umur Panen 90 794,39 784,42 890,69 0,99 (T) 29,08 (T) 29,27 (T) Tinggi Tanaman 65,5 42,54 2,27 104,74 0,05 (R) 2,42 (R) 10,49 (S)

Jumlah Cabang 4,36 0,17 0,05 3,9 0,28 (S) 5,77 (S) 10,96 (S)

Jumlah Polong 60 52,27 8,58 120 0,16 (R) 4,32 (R) 10,67 (S)

Jumlah Biji 160 3427,66 3377,13 3635,86 0,99 (T) 27,91 (T) 28,12 (T)

Bobot Biji 16,5 25,63 5,12 30,75 0,20 (R) 12,76 (S) 28,60 (T)

Bobot 100 Biji 16,3 2,39 0,03 17,75 0,01 (R) 1,16 (R) 10,07 (S) M100A25(3/4) Umur Berbunga 35,5 13,81 0,34 50,87 0,02 (R) 1,57 (R) 10,03 (S)

Umur Panen 85 800,54 790,47 896,6 0,99 (T) 29,27 (T) 29,45 (T)

Tinggi Tanaman 65,5 40,27 4,47 101,33 0,11 (R) 3,46 (R) 10,39 (S)

Jumlah Cabang 4,43 0,11 0,03 3,21 0,29 (S) 5,70 (S) 10,63 (S)

Jumlah Polong 62 45,23 8,86 107,84 0,20 (R) 4,75 (R) 10,74 (S)

Jumlah Biji 166 1824,52 1794,29 1980,05 0,98 (T) 27,23 (T) 27,46 (T)

Bobot Biji 18 24,11 23,78 41,27 0,99 (T) 28,42 (T) 28,61 (T)

Bobot 100 Biji 16,4 18,91 18,67 34,31 0,99 (T) 28,06 (T) 28,24 (T) M100A25(3/7) Umur Berbunga 35,5 14,05 0,16 51,21 0,01(R) 1,09 (R) 10,09 (S) Umur Panen 85 797,31 787,29 894,77 0,99 (T) 28,79 (T) 28,97 (T)

Tinggi Tanaman 60 39,31 3,82 99,57 0,10 (R) 3,25 (R) 10,40 (S)

Jumlah Cabang 4,53 0,2 0,04 4,3 0,19 (R) 4,70 (R) 10,90 (S)

Jumlah Polong 68 52,83 7,62 120,95 0,14 (R) 4,05 (R) 10,67 (S)

74

Jumlah Biji 210 3521,15 3470 3731,41 0,99 (T) 28,02 (T) 28,22 (T)

Bobot Biji 18,2 25,57 3,83 29,4 0,15 (R) 11,08 (S) 28,62 (T)

Bobot 100 Biji 16,4 2,88 0,04 19,29 0,02 (R) 1,28 (R) 10,34 (S) M100A25(5/3) Umur Berbunga 36 13,76 0,22 50,66 0,02 (R) 1,27 (R) 10,05 (S) Umur Panen 90 804,88 794,73 902,78 0,99 (T) 28,80 (T) 28,98 (T) Tinggi Tanaman 65 49,16 4,13 114,02 0,08 (R) 3,13 (R) 10,81 (S)

Jumlah Cabang 4,15 0,24 0,02 4,77 0,09 (R) 3,26 (R) 10,81 (S)

Jumlah Polong 64 46,47 2,94 111,34 0,06 (R) 2,64 (R) 10,51 (S)

Jumlah Biji 160 3399,17 3351,62 3603,8 0,99 (T) 28,29 (T) 28,49 (T)

Bobot Biji 17,2 25,78 3,86 29,64 0,15 (R) 11,07 (S) 28,61 (T)

Bobot 100 Biji 15,5 2,73 0,03 18,83 0,01 (R) 1,07 (R) 10,26 (S) M100A6(31/1) Umur Berbunga 36 13,96 0,47 51,16 0,03 (R) 1,84 (R) 10,04 (S) Umur Panen 90 796,24 786,24 893,74 0,99 (T) 28,76 (T) 28,94 (T) Tinggi Tanaman 65 270,59 267,11 328,49 0,99 (T) 28,23 (T) 28,41 (T)

Jumlah Cabang 4,36 1,53 1,51 5,89 0,99 (T) 28,19 (T) 28,39 (T)

Jumlah Polong 61 40,06 3,05 100,01 0,08 (R) 2,92 (R) 10,56 (S)

Jumlah Biji 165 305,3 24,43 465,93 0,08 (R) 3,08 (R) 10,88 (S)

Bobot Biji 17,5 23,2 22,89 40,01 0,99 (T) 28,46 (T) 28,65 (T)

Bobot 100 Biji 15,4 18,99 18,75 34,39 0,99 (T) 28,11 (T) 28,29 (T) M200A11(32/3) Umur Berbunga 36 13,56 0,51 50,39 0,04 (R) 1,94 (R) 10,00 (S)

Umur Panen 90 803,8 793,66 901,66 0,99 (T) 28,79 (T) 28,97 (T)

Tinggi Tanaman 65,5 39,33 5,25 95,69 0,13 (R) 4,06 (R) 11,13 (S)

Jumlah Cabang 3,63 0,14 0,02 3,77 0,16 (R) 4,07 (R) 10,23 (S)

Jumlah Polong 66 60,63 4,08 125,5 0,07 (R) 3,11 (R) 12,00 (S)

75

Jumlah Biji 190 2350,13 2316,21 2540,53 0,99 (T) 25,28 (T) 25,46 (T)

Bobot Biji 18,5 27,26 26,88 44,26 0,99 (T) 30,50 (T) 30,71(T)

Bobot 100 Biji 16,4 17,47 17,26 32,87 0,99 (T) 26,97 (T) 27,14 (T) M200A12(6/5) Umur Berbunga 35,5 13,51 0,28 51,21 0,02 (R) 1,41 (R) 9,75 (R)

Umur Panen 85 803,8 793,66 901,66 0,99 (T) 28,79 (T) 28,97 (T)

Tinggi Tanaman 61 32,08 2,05 90,48 0,06 (R) 2,45 (R) 9,70 (R)

Jumlah Cabang 4,4 0,15 0,03 3,79 0,17 (R) 4,45 (R) 10,80 (S)

Jumlah Polong 72 49,48 11,14 116,18 0,23 (R) 5,00 (R) 10,55 (S) Jumlah Biji 204 2730,08 2685,82 2880,58 0,98 (T) 34,44 (T) 34,72 (T)

Bobot Biji 18 23,65 23,33 41,16 0,99 (T) 27,58 (T) 27,77 (T)

Bobot 100 Biji 16,6 19,48 19,23 34,8 0,99 (T) 28,62 (T) 28,81 (T)

M200A17(13/6) Umur Berbunga 37 13,52 0,6 50,32 0,04 (R) 2,10 (R) 9,99 (R)

Umur Panen 90 782,49 772,63 879,09 0,99 (T) 28,77 (T) 28,96 (T) Tinggi Tanaman 65,5 253,5 250,46 309,14 0,99 (T) 28,45 (T) 28,62 (T)

Jumlah Cabang 3,63 1,51 1,49 5,91 0,99 (T) 27,74 (T) 27,95 (T)

Jumlah Polong 60,5 33,63 6,32 89,29 0,19 (R) 4,52 (R) 10,42 (S) Jumlah Biji 155 311,55 34,24 473,51 0,11 (R) 3,61 (R) 10,90 (S)

Bobot Biji 18,3 26,24 25,88 44,16 0,99 (T) 28,39 (T) 28,59 (T)

Bobot 100 Biji 16,53 16,51 16,29 32,04 0,99 (T) 25,99 (T) 26,17 (T) M200A17(18/5) Umur Berbunga 37 13,81 0,29 50,87 0,02 (R) 1,44 (R) 10,03 (S)

Umur Panen 90 787,8 777,95 885,7 0,99 (T) 28,49 (T) 28,67 (T)

Tinggi Tanaman 65,6 294,86 290,97 355,12 0,99 (T) 28,31 (T) 28,50 (T)

Jumlah Cabang 4,43 1,38 1,36 5,62 0,98 (T) 27,56 (T) 27,78 (T)

Jumlah Polong 58 35,85 5,97 92,96 0,17 (R) 4,28 (R) 10,48 (S)

76

Jumlah Biji 155 286,61 35,42 442,21 0,12 (R) 3,82 (R) 10,88 (S)

Bobot Biji 17,4 24,87 24,53 42,31 0,99 (T) 28,41 (T) 28,61 (T)

Bobot 100 Biji 15,5 17,95 17,73 33,76 0,99 (T) 26,63 (T) 26,80 (T) M300A6(33/8) Umur Berbunga 37,5 13,46 0,76 50,19 0,06 (R) 2,37 (R) 9,99 (R)

Umur Panen 95 800,54 790,47 898,14 0,99 (T) 28,81 (T) 28,99 (T) Tinggi Tanaman 65 287,85 284,1 347,38 0,99 (T) 28,31 (T) 28,50 (T)

Jumlah Cabang 3,35 1,49 1,47 5,85 0,99 (T) 27,78 (T) 27,99 (T)

Jumlah Polong 57,25 35,62 2,68 92,84 0,08 (R) 2,86 (R) 10,43 (S)

Jumlah Biji 151 180,71 22,39 317,94 0,12 (R) 3,45 (R) 9,80 (R)

Bobot Biji 16 22,82 22,52 39,53 0,99 (T) 28,40 (T) 28,59 (T)

Bobot 100 Biji 15 17,82 17,6 33,58 0,99 (T) 26,62 (T) 26,78 (T) M300A8(35/7) Umur Berbunga 37,5 13,67 0,72 50,61 0,05 (R) 2,29 (R) 10,01 (S) Umur Panen 95 797,31 787,29 894,77 0,99 (T) 28,79 (T) 28,97 (T) Tinggi Tanaman 65 274,6 271 333,06 0,99 (T) 28,16 (T) 28,35 (T)

Jumlah Cabang 3,46 1,22 1,2 5,18 0,98 (T) 27,63 (T) 27,84 (T)

Jumlah Polong 57 36,75 4,28 94,58 0,12 (R) 3,58 (R) 10,48 (S)

Jumlah Biji 154 2274,29 2270,27 2433,79 0,99 (T) 29,87 (T) 29,90 (T)

Bobot Biji 16 19,7 19,44 35,29 0,99 (T) 28,28 (T) 28,46 (T)

Bobot 100 Biji 15 18,34 18,1 33,74 0,99 (T) 27,63 (T) 27,80 (T) Keterangan:(T):Tinggi,(S):Sedang,(R):Rendah

77

Berdasarkan hasil penelitian di lahan tercekam penyakit busuk pangkal batang menunjukkan bahwa Genotipe M100A25(2/7), M100A25(3/7) memiliki nilai heritabilitas, KKG dan KKF tinggi pada karakter umur panen, jumlah biji.Genotipe M100A25(3/4), M200A12(6/5) memiliki nilai heritabilitas, KKG dan KKF tinggi pada karakter umur panen, jumlah biji, bobot biji per tanaman dan bobot 100 biji.Genotipe M100A25(5/3) memiliki nilai heritabilitas, KKG dan KKF tinggi pada karakter umur panen, jumlah polong per tanaman, bobot biji per tanaman dan bobot 100 biji. Genotipe M100A6(31/1), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8), M300A8(35/7) memiliki nilai heritabilitas, KKG dan KKF tinggi pada karakter umur panen, tinggi tanaman, jumlah cabang produktif, bobot biji per tanaman dan bobot 100 biji.Genotipe M200A11(32/3) memiliki nilai heritabilitas, KKG dan KKF tinggi pada karakter umur panen, bobot biji per tanaman dan bobot 100 biji.Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.10

78

Tabel 4.10. Parameter Genetik Tanaman di Lahan Tercekam Penyakit Busuk Pangkal Batang Genotipe Karakteristik Rataan

Genotipe σ2p σ2g σ2e h2 KKG KKF

M100A25(2/7) Umur Berbunga 36 13,74 0,53 14,26 0,04 (R) 1,96 (R) 10,02 (S) Umur Panen 85 802,71 792,59 1595,3 0,99 (T) 28,87 (T) 29,06 (T) Tinggi Tanaman 55,5 28,2 8,6 36,8 0,30 (S) 5,51 (S) 9,98 (R) Jumlah Cabang 3,16 0,12 0,04 0,16 0,35 (S) 6,44 (S) 10,84 (S) Jumlah Polong 58 38,76 8,49 47,24 0,22 (R) 4,97 (R) 10,61 (S) Jumlah Biji 150 1812,66 1786,48 3599,14 0,99 (T) 28,20 (T) 28,40 (T)

Bobot Biji 15,5 25,54 5,1 30,64 0,20 (R) 12,78 (S) 28,60 (T)

Bobot 100 Biji 14,5 2,11 0,07 2,17 0,03 (R) 1,77 (R) 10,01 (S) M100A25(3/4) Umur Berbunga 34 13,19 0,46 13,65 0,03 (R) 1,81 (R) 9,68 (R)

Umur Panen 80 807,07 796,87 1603,94 0,99 (T) 29,08 (T) 29,27 (T) Tinggi Tanaman 60 39,33 5,25 44,58 0,13 (R) 3,79 (R) 10,37 (S)

Jumlah Cabang 3,1 0,14 0,02 0,16 0,16 (R) 4,27 (R) 10,74 (S)

Jumlah Polong 58 37,89 8,59 46,47 0,23 (R) 5,05 (S) 10,61 (S) Jumlah Biji 155 2199,24 2166,67 4365,91 0,99 (T) 28,01 (T) 28,22 (T) Bobot Biji 17,2 27,03 26,65 53,68 0,99 (T) 28,35 (T) 28,55 (T) Bobot 100 Biji 15 17,35 17,14 34,49 0,99 (T) 28,37 (T) 28,55 (T)

M100A25(3/7) Umur Berbunga 34 12,46 0,54 13 0,04 (R) 1,95 (R) 9,39 (R)

Umur Panen 80 804,26 794,11 1598,37 0,99 (T) 28,61 (T) 28,79 (T) Tinggi Tanaman 50 32,07 4,65 36,72 0,14 (R) 3,84 (R) 10,08 (S) Jumlah Cabang 3,36 0,13 0,02 0,15 0,16 (R) 4,24 (R) 10,69 (S)

79

Jumlah Polong 65 36,58 10,27 46,86 0,28 (S) 5,63 (S) 10,62 (S) Jumlah Biji 168 2229,94 2196,15 4426,09 0,98 (T) 27,84 (T) 28,05 (T) Bobot Biji 17,8 25,21 5,04 30.25 0,20 (R) 12,79 (S) 28,61 (T) Bobot 100 Biji 15,5 2,81 0,09 2,9 0,03 (R) 2,01 (R) 11,12 (S) M100A25(5/3) Umur Berbunga 35 12,82 0,39 13,21 0,03 (R) 1,67 (R) 9,57 (R)

Umur Panen 85 801 790,92 1591,92 0,99 (T) 28,84 (T) 29,03 (T) Tinggi Tanaman 55,5 38,46 6,63 45,09 0,17 (R) 4,30 (R) 10,37 (S) Jumlah Cabang 3,47 0,14 0,02 0,16 0,16 (R) 4,26 (R) 10,72 (S) Jumlah Polong 55 560,1 551,98 1112,07 0,99 (T) 28,10 (T) 28,31 (T) Jumlah Biji 145 2240,67 336,1 2576,77 0,15 (R) 10,96 (S) 28,31(T)

Bobot Biji 16 26,66 26,28 52,94 0,99 (T) 28,34 (T) 28,54 (T)

Bobot 100 Biji 15 22,42 22,12 44,54 0,99 (T) 30,23 (T) 30,43 (T) M100A6(31/1) Umur Berbunga 34 13,96 0,47 14,43 0,03 (R) 1,84 (R) 10,04 (S) Umur Panen 80 801,63 791,53 1593,15 0,99 (T) 28,80 (T) 28,98 (T) Tinggi Tanaman 50 270,59 267,11 537,7 0,99 (T) 28,23 (T) 28,41 (T) Jumlah Cabang 3,43 0,93 0,92 1,85 0,99 (T) 27,90 (T) 28,10 (T) Jumlah Polong 55 32,01 4,25 36,26 0,13 (R) 3,76 (R) 10,32 (S) Jumlah Biji 140 300,42 19,23 319,66 0,06 (R) 2,75 (R) 10,87 (S)

Bobot Biji 17 25,79 25,44 51,23 0,99 (T) 28,41 (T) 28,61 (T)

Bobot 100 Biji 15,5 18,99 18,75 37,73 0,99 (T) 28,47 (T) 28,65 (T) M200A11(32/3) Umur Berbunga 35 13,56 0,51 14,06 0,04 (R) 1,90 (R) 9,82 (R)

Umur Panen 85 803,8 793,66 1597,46 0,99 (T) 28,89 (T) 29,08 (T) Tinggi Tanaman 56,3 39,33 5,25 44,58 0,13 (R) 3,79 (R) 10,37 (S) Jumlah Cabang 3,46 0,14 0,02 0,16 0,16 (R) 4,27 (R) 10,74 (S)

80

Jumlah Polong 64 60,63 4,08 64,71 0,07 (R) 2,81 (R) 10,84 (S) Jumlah Biji 166 2350,13 423,02 2773,15 0,18(R) 11,44 (S) 26,96 (T)

Bobot Biji 17 27,26 26,88 54,14 0,99 (T) 28,35 (T) 28,55 (T)

Bobot 100 Biji 14,5 17,47 17,26 34,73 0,99 (T) 28,37 (T) 28,55 (T) M200A12(6/5) Umur Berbunga 34 13,51 0,28 13,79 0,02 (R) 1,41 (R) 9,78 (R)

Umur Panen 80 803,8 793,66 1597,46 0,99 (T) 28,79 (T) 28,97 (T) Tinggi Tanaman 50 32,08 2,05 34,13 0,06 (R) 2,54 (R) 10,04 (S) Jumlah Cabang 3,53 0,15 0,03 0,18 0,17 (R) 4,58 (R) 11,11 (S) Jumlah Polong 65 49,48 11,14 60,62 0,23 (R) 5,16 (S) 10,87 (S) Jumlah Biji 167 2730,08 2685,82 5415,9 0,98 (T) 34,73 (T) 35,01 (T) Bobot Biji 17,5 23,65 23,33 46,98 0,99 (T) 27,68 (T) 27,87 (T) Bobot 100 Biji 15,5 19,48 19,23 38,71 0,99 (T) 29,10 (T) 29,29 (T) M200A17(13/6) Umur Berbunga 35 13,52 0,6 14,12 0,04 (R) 2,06 (R) 9,81 (R)

Umur Panen 85 802,71 792,59 1595,3 0,99 (T) 29,08 (T) 29,27 (T) Tinggi Tanaman 55,6 253,5 250,46 503,97 0,99 (T) 28,45 (T) 28,62 (T) Jumlah Cabang 3,2 0,46 0,45 0,91 0,99 (T) 25,13 (T) 25,28 (T) Jumlah Polong 55 49,94 6,32 56,26 0,13 (R) 3,84 (R) 10,79 (S) Jumlah Biji 130 334,78 56,89 391,67 0,17 (R) 4,52 (R) 10,96 (S)

Bobot Biji 17 26,24 25,88 52,12 0,99 (T) 28,39 (T) 28,59 (T)

Bobot 100 Biji 15 18,69 18,46 37,15 0,99 (T) 28,43 (T) 28,61 (T) M200A17(18/5) Umur Berbunga 35 13,48 0,31 13,78 0,02 (R) 1,49 (R) 9,84 (R)

Umur Panen 85 805,98 795,8 1601,77 0,99 (T) 29,08 (T) 29,27 (T) Tinggi Tanaman 60,2 466,41 459,71 926,12 0,99 (T) 28,31(T) 28,52 (T) Jumlah Cabang 4,23 1,54 1,51 3,05 0,99 (T) 27,75 (T) 27,95 (T)

81

Jumlah Polong 50 37,13 4,22 41,36 0,11 (R) 3,54 (R) 10,49 (S)

Jumlah Biji 130 187,56 21,44 209 0,11 (R) 3,58 (R) 10,60 (S)

Bobot Biji 16 19,54 19,29 38,82 0,99 (T) 27,88 (T) 28,06 (T)

Bobot 100 Biji 15 18,52 18,28 36,8 0,99 (T) 28,37 (T) 28,55 (T) M300A6(33/8) Umur Berbunga 35 13,53 0,78 14,32 0,06 (R) 2,38 (R) 9,89 (R)

Umur Panen 90 802,71 792,59 1595,3 0,99 (T) 28,79 (T) 28,97 (T) Tinggi Tanaman 60 269,47 265,94 535,41 0,99 (T) 28,12 (T) 28,30 (T) Jumlah Cabang 3,56 0,99 0,97 1,96 0,99 (T) 27,92 (T) 28,13 (T) Jumlah Polong 50 35,72 3,27 38,99 0,09 (R) 3,16 (R) 10,44 (S) Jumlah Biji 125 271,11 29,39 300,5 0,11 (R) 3,57 (R) 10,85 (S)

Bobot Biji 15 27,03 26,65 53,68 0,99 (T) 30,00 (T) 30,21 (T)

Bobot 100 Biji 14,5 17,35 17,14 34,49 0,99 (T) 28,37 (T) 28,55 (T) M300A8(35/7) Umur Berbunga 35 13,67 0,62 14,29 0,05 (R) 2,14 (R) 9,99 (R)

Umur Panen 90 801,63 791,53 1593,15 0,99 (T) 28,80 (T) 28,98 (T) Tinggi Tanaman 60 274,6 271 545,6 0,99 (T) 28,16 (T) 28,35 (T) Jumlah Cabang 3,96 1,58 1,56 3,13 0,99 (T) 28,14 (T) 28,34 (T)

Jumlah Polong 50 33,6 4,77 38,37 0,14 (R) 3,92 (R) 10,39 (S)

Jumlah Biji 120 231,75 50,83 282,59 0,22 (R) 5,08 (S) 10,85 (S)

Bobot Biji 15 21,85 21,56 43,41 0,99 (T) 28,41 (T) 28,60 (T)

Bobot 100 Biji 14,5 18,28 18,05 36,33 0,99 (T) 28,53 (T) 28,71 (T) Keterangan:(T):Tinggi,(S):Sedang,(R):Rendah

80

Masa inkubasi penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kedelai setelah diinokulasikan A. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 4.11.,

Tabel 4.11. Periode inkubasi penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kedelai Genotipe Periode Inkubasi (HSI) kedelai berbeda-beda, varietas Anjasmoro dan Agromulyo, genotipe M100A25(2/7), M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A6(33/8), M300A8(35/7) menunjukkan masa inkubasi tercepat yaitu pada hari ke-5 setelah inokulasi, sedangkan genotipe M200A12(6/5), M100A25(3/7) merupakan masa inkubasi lebih lambat yaitu pada hari ke 12 setelah inokulasi.

Kejadian penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kedelai setelah diinokulasikan A. rolfsii dapat dilihat pada Tabel 4.12. Pengamatan kejadian penyakit dilakukan pada 7, 10, 13, 16, 19, 22, 25 dan 28 hari setelah inokulasi (HSI). Pengamatan kejadian penyakit dilakukan terhadap bercak coklat pada pangkal batang / sklerotia jamur A. rolfsii yang merupakan gejala penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kedelai.

81

Tabel 4.12. Kejadian penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kedelai

Genotipe Kejadian Penyakit (%) genotipe dan varietas kedelai yang sudah terinfeksi yaitu genotipe M100A25(2/7), M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A6(33/8), M300A8(35/7), varietas Anjasmoro dan varietas Agromulyo. Keadaan tersebut terjadi karena memasuki musim hujan dengan curah hujan yang rendah sekitar 157-312 mm per bulan dan

kelembaban udara 79-86%, sehingga mendukung pertumbuhan sklerotia jamur A. rolfsii. Persentase kejadian penyakit yang tertinggi pada genotipe

M300A6(33/8), M300A8(35/7) sebesar 83,33% dan varietas Anjasmoro sebesar 93,33%. Persentase keajadian penyakit yang terendah terdapat pada genotipe M100A25(3/7) dan M200A12(6/5) sebesar 25,57%. Pada pengamatan 13 HSI semua genotipe dan varietas kedelai sudah terinfeksi penyakit busuk pangkal batang.

82

Persentase kejadian penyakit busuk pangkal batang semakin lama semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh semakin tinggi tanaman dan semakin rapat daun-daun tanaman kedelai, seiring dengan usia tanaman. Tanaman semakin rapat menunjukkan jarak antar tanaman yang semakin dekat, sehingga iklim mikro akan mendukung perkembangan penyakit pada tanaman kedelai. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah suhu, kelembapan dan curah hujan. Suhu optimum untuk terjadinya penetrasi sklerotia jamur pada pangkal batang tanaman kedelai adalah pada suhu 17-24° C selama 4 jam dengan kelembaban sekitar 80-90%

(Firman dan Martin, 2008). Pada pengamatan 13 HSI semua genotipe dan varietas sudah terinfeksi penyakit busuk pangkal batang, menandakan bahwa kelembapan dan suhu mendukung untuk terjadinya infeksi pada tanaman kedelai.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara batang terinfeksi penyakit busuk pangkal batang dengan batang sehat. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.1.

(a) (b) Keterangan: (a) Batang tanaman terserang penyakit (b) Batang tanaman sehat

Gambar 4.1. Batang tanaman kedelai terserang penyakit busuk pangkal batang Athelia rolfsii Curzi dan batang tanaman kedelai sehat

Hasil analisis ragam memperlihatkan bahwa terdapat pengaruh nyata antara varietas Anjasmoro, Agromulyo dan Kipas Putih dengan genotip putative

83

mutan yang diuji. Hasil uji lanjut intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang disajikan pada Tabel 4.13.,

Tabel 4.13. Intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang

Genotipe 7 HSI 10 HSI 13 HSI 16 HSI 19 HIS 22 HSI 25 HSI 28 HSI

Angka pada kolom yang diikuti dengan huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji DMRT taraf 5%

Pada Tabel 4.13 memperlihatkan bahwa intensitas penyakit pada pengamatan ke-1 (7 HSI) menunjukkan genotipe tidak berbeda nyata dengan varietas pembanding. Intensitas penyakit tertinggi pada varietas Anjasmoro yaitu 1,3%. Istensitas penyakit pada pengamatan ke-2 (10 HSI) menunjukkan genotipe M100A25(5/3), M200A12(6/5), M100A25(3/7), M100A25(3/4), M200A11(32/3), M100A6(31/1) tidak berbeda nyata dengan genotipe M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A8(35/7), M300A6(33/8), varietas Kipas Putih dan varietas Agromulyo tetapi berbeda nyata dengan genotipe M100A25(2/7) dan varietas Anjasmoro dengan instensitas penyakit tertinggi pada varietas Anjasmoro dan M100A25(2/7) sebesar 2,7%.

84

Istensitas penyakit pada pengamatan ke-3 (13 HSI) menunjukkan genotipe M100A25(5/3), M200A12(6/5), M100A25(3/7), M100A25(3/4), M200A11(32/3), M100A6(31/1) tidak berbeda nyata dengan genotipe M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A8(35/7), varietas Kipas Putih tetapi berbeda nyata dengan varietas Anjasmoro, varietas Agromulyo dan genotipe M300A6(33/8), M100A25(2/7) dengan instensitas penyakit tertinggi pada varietas Anjasmoro sebesar 5,3% dan terendah pada genotipe M200A12(6/5) dan M100A25(3/7) sebesar 0,7%.

Istensitas penyakit pada pengamatan ke-4 (16 HSI) menunjukkan genotipe M200A12(6/5), M100A25(3/7) tidak berbeda nyata dengan genotipe M100A25(3/4), M200A11(32/3) tetapi berbeda nyata dengan genotipe M100A25(5/3), M100A25(2/7), M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A6(33/8), M300A8(35/7), M100A6(31/1), varietas Anjasmoro, varietas Agromulyo dan varietas Kipas Putih dengan intensitas penyakit tertinggi pada varietas Anjasmoro sebesar 10,7% dan terendah pada M200A12(6/5) dan M100A25(3/7) sebesar 1,3%.

Intensitas penyakit pada pengamatan ke-5 (19 HSI) menunjukkan genotipe M200A12(6/5), M100A25(3/7), M100A25(3/4), M200A11(32/3) tidak berbeda nyata dengan genotipe M100A6(31/1) tetapi berbeda nyata dengan genotipe M100A25(5/3), M100A25(2/7), M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A6(33/8), M300A8(35/7), varietas Anjasmoro, varietas Agromulyo dan varietas Kipas Putih dengan intensitas penyakit tertinggi pada varietas Anjasmoro sebesar18,7% dan terendah pada M200A12(6/5), M100A25(3/7) sebesar 3,3%.

85

Istensitas penyakit pada pengamatan ke-6 (22 HSI) menunjukkan genotipe M200A12(6/5), M100A25(3/7) berbeda nyata dengan M100A25(3/4), M200A11(32/3), M100A6(31/1), M100A25(5/3), M100A25(2/7), M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A6(33/8), M300A8(35/7), varietas Anjasmoro, varietas Agromulyo dan varietas Kipas Putih dengan intensitas penyakit tertinggi pada varietas Anjasmoro sebesar 24,7% dan terendah pada genotipe M100A25(3/7)sebesar 4,7%.

Intensitas penyakit pada pengamatan ke-7 (25 HSI) menunjukkan genotipe M100A25(3/7) berbeda nyata dengan genotipe M200A12(6/5), M100A25(3/4), M200A11(32/3), M100A6(31/1), M100A25(5/3), M100A25(2/7), M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A6(33/8), M300A8(35/7), varietas Anjasmoro,varietas Agromulyo dan varietas Kipas Putih dengan intensitas penyakit tertinggi pada varietas Anjasmoro sebesar 30,7% dan terendah pada genotipe M100A25(3/7) sebesar 7,3%.

Intensitas penyakit pada pengamatan ke-8 (28 HSI) menunjukkan genotipe M100A25(3/7) berbeda nyata dengan M200A12(6/5), M100A25(3/4), M200A11(32/3), M100A6(31/1), M100A25(5/3), M100A25(2/7), M200A17(18/5), M200A17(13/6), M300A6(33/8), M300A8(35/7), varietas Anjasmoro, varietas Agromulyo dan varietas Kipas Putih dengan intensitas penyakit tertinggi pada varietas Anjasmoro sebesar 56% dan terendah pada genotipe M100A25(3/7) sebesar 9,3%.

Berdasarkan data hasil penelitian intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang genotipe M200A12(6/5) sebesar 12,7%, M100A25(3/7) sebesar 9,3%, M100A25(3/4) sebesar 14,7%, M200A11(32/3) sebesar 13,3% dan

86

M100A6(31/1) sebesar 16,7% tergolong kriteria rusak ringan. Data hasil penelitian intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang genotipe M100A25(5/3) sebesar 29,3%, M100A25(2/7) sebesar 40%, M200A17(18/5) sebesar 38%, M200A17(13/6) sebesar 28,7%, M300A6(33/8) sebesar 40%, M300A8(35/7) sebesar 38% dan varietas Kipas Putih sebesar % tergolong kriteria rusak sedang. Data hasil penelitian intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang varietas Anjasmoro sebesar 56% dan Agromulyo sebesar 51,7% tergolong rusak berat.

Indeks sensitivitas digunakan untuk mengukur tingkat ketahanan suatu genotipe tanaman kedelai generasi mutan (M7) yang diuji terhadap cekaman penyakit busuk pangkal batang. Indeks sensitivitas diukur terhadap variabel bobot biji per tanaman dengan mengikuti persamaan Fischer dan Maurer (2006).

Pemilihan varietas tahan berdasarkan nilai indeks sensitivitas cekaman penyakit busuk pangkal batang dilihat pada Tabel 4.14.,

Tabel 4.14. Indeks sensitivitas beberapa genotipe M7 tanaman kedelai

Genotipe Yo Ys ϪY IS Kriteria

Keterangan : Yo = hasil pada kondisi optimum, Ys = hasil pada kondisi cekaman

penyakit busuk pangkal batang, T= Tahan jika nilai S<0,5, AT = Agak tahan jika 0,5<S<1, P = Peka jika S>1

87

Berdasarkan Tabel 4.14 perhitungan nilai IS pada karakter bobot biji per tanaman genotipe M100A25(3/7) dan M200A12(6/5) mempunyai nilai IS < 0,5 yang memiliki karater tahan terhadap cekaman penyakit busuk pangkal batang, sedangkan genotipe M100A25(5/3), M100A25(3/4), M200A11(32/3), M100A6(31/1) memiliki nilai 0,5<IS<1 yang memiliki karater agak tahan terhadap cekaman penyakit busuk pangkal batang. Sedangkan genotipe M100A25(2/7), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8) dan M300A8(35/7) memiliki nilai IS > 1 yang memiliki karater peka terhadap cekaman penyakit busuk pangkal batang. Pengukuran ketahanan tanaman terhadap cekaman penyakit busuk pangkal batang dihitung berdasarkan nilai indeks sensitivitas cekaman penyakit busuk pangkal batang (IS) dengan melihat produktivitas kehilangan hasil berdasarkan karakter bobot biji per tanaman.

4.2. Pembahasan

Penentuan keberhasilan uji daya hasil kacang kedelai dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan genetik. Faktor keturunan (genetik) tidak akan memperlihatkan sifat yang ada pada keturunannya kecuali dengan adanya kondisi lingkungan yang sesuai. Dari hasil pengamatan didapatkan dari 11 genotipe harapan dan 3 varietas kontrol yang diuji memiliki hasil yang beragam.

Hal ini disebabkan penampilan karakter tanaman pada masing-masing genotipe maupun varietas yang diuji dikendalikan oleh adanya peran gen yang terkandung di dalam tanaman itu sendiri (Nasir, 2001). Berdasarkan data hasil penelitian pada lahan optimal, diketahui bahwa genotipe-genotipe yang diuji memiliki umur berbunga yang beragam. Rata-rata genotipe yang diuji memiliki umur berbunga yang lebih lama dari varietas kontrol. Hal ini terlihat pada umur

88

berbunga tercepat terdapat pada genotipe M100A25(3/4), M100A25(3/7) dan M200A12(6/5) yaitu 35,5 hst dan umur berbunga terlama terdapat pada genotipe M300A6(33/8) dan M300A8(35/7) yaitu 37,5 hst sedangkan tetua Anjasmoro memiliki rata-rata umur berbunga 36 hst. Pada lahan inokulasi penyakit diketahui bahwa genotipe-genotipe yang diuji memiliki umur berbunga yang beragam.

Rata-rata genotipe yang diuji memiliki umur berbunga yang lebih lama dari tetua Anjasmoro. Hal ini terlihat pada umur berbunga tercepat terdapat pada genotipe M100A25(3/4), M100A25(3/7) dan M200A12(6/5) yaitu 34 hst dan umur berbunga terlama terdapat pada genotipe M100A25(2/7) yaitu 36 hst sedangkan tetua Anjasmoro memiliki rata-rata umur berbunga 34,5 hst. Hal ini menunjukkan bahwa genotipe harapan mempunyai umur berbunga lebih lama daripada varietas kontrol tetapi ada tiga genotipe yang mempunyai umur berbunga lebih cepat dibandingkan tetua Anjasmoro yaitu genotipe M100A25(3/4), M100A25(3/7) dan M200A12(6/5). Terjadinya variasi ini disebabkan oleh faktor genetik dari masing-masing genotipe harapan yang diuji, sehingga umur panen pun bervariasi (Agung dan Rahayu, 2004). Semakin cepat tanaman mulai berbunga maka diharapkan umur panen dan hasil produksi yang akan didapatkan juga semakin cepat.

Pada pengamatan umur panen genotipe harapan yang mempunyai umur panen tercepat pada lahan optimal terjadi pada genotipe M100A25(3/4), M100A25(3/7) dan M200A12(6/5) selama 85 hari dan umur panen terlama terjadi pada genotipe M300A6(33/8) dan M300A8(35/7) selama 95 hari sedangkan tetua Anjasmoro umur panen selama 90 hari.Pada pengamatan umur panen genotipe harapan yang mempunyai umur panen tercepat pada lahan inokulasi penyakit terjadi pada genotipe M100A25(3/4), M100A25(3/7) dan M200A12(6/5) sebesar

89

80 hari dan umur panen terlama terjadi pada genotipe M300A6(33/8) dan M300A8(35/7) sebesar 90 hari sedangkan tetua Anjasmoro umur panen selama 85 hari. Terjadinya variasi pada umur berbunga pada genotipe uji mengakibatkan pula terjadinya variasi umur panen. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor genetik maupun lingkungan tumbuh. Bahar dan Zein (2003) memaparkan bahwa umur berbunga dan umur panen dipengaruhi oleh perbedaan suhu dan keadaan lingkungan, pada tanaman yang mengalami stress karena lingkungan yang tercekam maka tanaman akan mempercepat siklus hidupnya untuk dapat bertahan hidup dengan mempercepat umur berbunga sehingga mempengaruhi percepatan umur panen pada tanaman.

Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan optimal, diketahui genotipe-genotipe tinggi tanaman tertinggi pada genotipe-genotipe M100A25(2/7), M100A25(3/4), M200A11(32/3), M200A17(13/6) dan M200A17(18/5) sebesar 65,5 cm dan tinggi tanaman terendah pada genotipe M100A25(3/7) sebesar 60 cm, sedangkan pada tetua Anjasmoro tinggi tanaman sebesar 65 cm. Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan inokulasi penyakit, diketahui genotipe-genotipe uji tinggi tanaman tertinggi pada genotipe M200A17(18/5) sebesar 60,2 cm dan tinggi tanaman terendah pada genotipe M100A25(3/7) sebesar 50 cm, sedangkan pada tetua Anjasmoro tinggi tanaman sebesar 55,5 cm.

Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan optimal, diketahui genotipe-genotipe jumlah cabang tanaman tertinggi pada genotipe-genotipe M100A25(3/7) sebesar 4,53 cabang dan jumlah cabang tanaman terendah pada genotipe M300A6(33/8) sebanyak 3,35 cabang, sedangkan pada tetua Anjasmoro jumlah cabang tanaman sebanyak 3,5 cabang. Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan inokulasi

90

penyakit, diketahui genotipe-genotipe uji jumlah cabang tanaman tertinggi pada genotipe M200A17(18/5) sebanyak 4,23 cabang dan jumlah cabang tanaman terendah pada genotipe M200A25(2/7) dan M200A25(3/4) sebanyak 3,1 cabang, sedangkan pada tetua Anjasmoro jumlah cabang tanaman sebanyak 3 cabang.

Polong adalah bagian utama kacang kedelai yang biasa dikonsumsi.

Jumlah polong pertanaman sangat dipengaruhi oleh banyaknya jumlah bunga.

Semakin banyak bunga yang terbentuk maka akan mempengaruhi banyak polong yang terbentuk. Hasil penelitian pada lahan optimal menunjukkan bahwa untuk karakter jumlah polong pertanaman menghasilkan jumlah polong yang beragam antara genotipe yang diuji dengan varietas kontrol. Pada genotipe harapan nilai rata-rata jumlah polong tertinggi sebesar 72 polong per tanaman terdapat pada genotipe M200A12(6/5) dan nilai rata-rata jumlah polong terendah sebesar 57 polong per tanaman terdapat pada genotipe M300A8(35/7), sedangkan tetua Anjasmoro memiliki nilai rata-rata jumlah polog sebesar 60 polong per tanaman.

Hasil penelitian pada lahan inokulasi penyakit menunjukkan bahwa untuk karakter jumlah polong pertanaman menghasilkan jumlah polong yang beragam antara genotipe yang diuji dengan varietas kontrol. Pada genotipe harapan nilai rata-rata jumlah polong tertinggi sebesar 65 polong per tanaman terdapat pada genotipe M100A25(3/7) dan M200A12(6/5) dan nilai rata-rata jumlah polong terendah sebesar 50 polong per tanaman terdapat pada genotipe M200A17(18/5), M300A6(33/8) dan M300A8(35/7), sedangkan tetua Anjasmoro memiliki nilai rata-rata jumlah polong sebesar 55 polong per tanaman.

Pengamatan jumlah biji per tanaman diperoleh dari panen polong kering.

Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan optimal, diketahui genotipe-genotipe

91

jumlah biji per tanaman tertinggi pada genotipe M100A25(3/7) sebanyak 210 biji dan jumlah biji per tanaman terendah pada genotipe M300A6(33/8) sebanyak 151 biji, sedangkan pada tetua Anjasmoro l jumlah biji per tanaman sebanyak 155 biji.

Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan inokulasi penyakit, diketahui genotipe-genotipe uji jumlah biji per tanaman tertinggi pada genotipe-genotipe M100A25(3/7) sebanyak 168 bij dan jumlah biji per tanaman terendah pada genotipe M300A8(35/7) sebanyak 120 biji, sedangkan pada tetua Anjasmoro jumlah biji per tanaman sebanyak 130 biji. Hal ini disebabkan oleh letak biji, ukuran biji maupun jumlah biji yang dapat dihasilkan oleh polong. Semakin rapat posisi antar biji di dalam polong maka semakin banyak jumlah biji kering yang terdapat dalam polong tersebut. Jika ukuran polong relatif panjang sedangkan biji yang dihasilkan sedikit, maka jumlah biji juga akan menurun hal ini bisa dikarenakan adanya polong yang tidak menghasilkan biji (polong hampa).

Pengamatan bobot biji pertanaman diperoleh dari panen polong kering.

Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan optimal, diketahui genotipe-genotipe bobot biji per tanaman tertinggi pada genotipe M200A11(32/3) seberat 18,5 gr dan bobot biji per tanaman terendah pada genotipe M300A8(35/7) dan M300A6(33/8) seberat 16 gr, sedangkan pada tetua Anjasmoro bobot biji per tanaman seberat 16,5 gr. Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan inokulasi penyakit, diketahui genotipe-genotipe uji bobot biji per tanaman tertinggi pada genotipe M100A25(3/7) seberat 17,8 gr dan bobot biji per tanaman terendah pada genotipe M300A8(35/7) dan M300A6(33/8) seberat 15 gr, sedangkan pada tetua Anjasmoro bobot biji per tanaman seberat 15,5 gr. Bila hasil yang dicapai

92

dibandingkan dengan varietas kontrol maka genotipe uji mempunyai bobot biji per tanaman yang lebih tinggi.

Pengamatan bobot 100 biji pertanaman diperoleh dari panen polong kering. Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan optimal, diketahui genotipe-genotipe bobot 100 biji per tanaman tertinggi pada genotipe-genotipe M200A12(6/5) seberat 16,6 gr dan bobot 100 biji per tanaman terendah pada genotipe M300A8(35/7) dan M300A6(33/8) seberat 15 gr, sedangkan pada tetua Anjasmoro bobot 100 biji per tanaman seberat 15,5 gr. Berdasarkan hasil penelitian ini pada lahan inokulasi penyakit, diketahui genotipe-genotipe uji bobot 100 biji per tanaman tertinggi pada genotipe M100A25(3/7), M100A6(31/1) dan M200A12(6/5) seberat 15,5 gr dan bobot biji per tanaman terendah pada genotipe M300A8(35/7) dan M300A6(33/8) seberat 14,5gr, sedangkan pada tetua Anjasmoro bobot biji per tanaman seberat 15 gr. Bila hasil yang dicapai dibandingkan dengan varietas kontrol maka genotipe uji mempunyai bobot biji per tanaman yang lebih tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian pada lahan optimum yang dilakukan diperoleh hasil bahwa nilai heritabilitas tinggi pada karakter umur panen terdapat pada keseluruhan genotipe uji, jumlah biji per tanaman terdapat pada genotipe M100A25(2/7), M100A25(3/4), M100A25(3/7), M100A25(5/3), M200A11(32/3), M200A12(6/5), M300A8(35/7). Nilai heritabilitas tinggi pada karakter bobot biji per tanaman, bobot 100 biji terdapat pada genotipe M100A25(3/4), M100A6(31/1), M200A11(32/3), M200A12(6/5), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8), M300A8(35/7), Nilai heritabilitas tinggi pada karakter tinggi tanaman dan jumlah cabang produktif terdapat pada genotipe

93

M100A6(31/1), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8). Sedangkan hasil penelitian pada lahan inokulasi penyakit yang dilakukan diperoleh hasil bahwa nilai heritabilitas tinggi pada karakter umur panen terdapat pada keseluruhan genotipe uji, jumlah biji per tanaman terdapat pada genotipe M100A25(2/7), M100A25(3/4), M100A25(3/7), M200A11(32/3), M200A12(6/5).

Nilai heritabilitas tinggi pada karakter bobot biji per tanaman, bobot 100 biji terdapat pada genotipe M100A25(3/4), M100A25(5/3), M100A6(31/1), M200A11(32/3), M200A12(6/5), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8), M300A8(35/7) Nilai heritabilitas tinggi pada karakter tinggi tanaman dan jumlah cabang produktif terdapat pada genotipe M100A6(31/1), M200A17(13/6), M300A6(33/8), M300A8(35/7). Pendugaan nilai heritabilitas penting dilakukan. Nilai heritabilitas tinggi menunjukkan tingkat hubungan fenotip dan genotip yang tinggi. Hal ini juga menunjukkan bahwa suatu karakter lebih dipengaruhi oleh faktor genetik daripada faktor lingkungan. Hal ini sesuai dengan Aryana (2010) yang menyatakan bahwa pada karakter yang memiliki heritabilitas tinggi seleksi akan berlangsung efektif dan dapat dilakukan karena pengaruh lingkungan kecil, hal ini dikarenakan faktor genetik lebih dominan dalam penampilan genetik tanaman, sehingga sangat menentukan efesiensi seleksi Pada 6 karakter yang menunjukkan nilai heritabilitas dalam kategori tinggi berarti pada karakter tersebut lebih dipengaruhi oleh ragam genetik dibandingkan dengan ragam lingkungan hal ini menunjukkan bahwa pengaruh faktor genetik lebih besar terhadap penampilan fenotipik dibandingkan dengan pengaruh lingkungan. Nilai heritabilitas yang tinggi berperan dalam meningkatkan efektifitas seleksi (Mangi et al, 2010).

94

Karakter kuantitatif yang diamati pada 6 karakter memiliki heritabilitas tinggi, hal ini menunjukkan bahwa karakter-karakter tersebut akan stabil diwariskan pada generasi selanjutnya. Menurut Udensi et al (2012) menyatakan bahwa karakter yang memiliki heritabilitas arti luas tinggi diduga memiliki nilai pemuliaan (breeding value) tinggi yang dipengaruhi oleh adanya gen aditif.

Dengan demikian dapat dilakukan seleksi terhadap genotipe pada 6 karakter tersebut. Keragaman genetik pada masing-masing karakter komponen hasil tanaman kedelai dapat dibandingkan dengan koefesien keragaman genetik (KKG).

Berdasarkan hasil penelitian pada lahan optimum yang dilakukan diperoleh hasil bahwa nilai KKG tinggi pada karakter umur panen terdapat pada keseluruhan genotipe uji, jumlah biji per tanaman terdapat pada genotipe M100A25(2/7), M100A25(3/4), M100A25(3/7), M100A25(5/3), M200A11(32/3), M200A12(6/5), M300A8(35/7). Nilai KKG tinggi pada karakter bobot biji per tanaman, bobot 100 biji terdapat pada genotipe M100A25(3/4), M100A6(31/1), M200A11(32/3), M200A12(6/5), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8), M300A8(35/7), Nilai KKG tinggi pada karakter tinggi tanaman dan jumlah cabang produktif terdapat pada genotipe M100A6(31/1), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8). Sedangkan hasil penelitian pada lahan inokulasi penyakit yang dilakukan diperoleh hasil bahwa nilai KKG tinggi pada karakter umur panen terdapat pada keseluruhan genotipe uji, jumlah

Berdasarkan hasil penelitian pada lahan optimum yang dilakukan diperoleh hasil bahwa nilai KKG tinggi pada karakter umur panen terdapat pada keseluruhan genotipe uji, jumlah biji per tanaman terdapat pada genotipe M100A25(2/7), M100A25(3/4), M100A25(3/7), M100A25(5/3), M200A11(32/3), M200A12(6/5), M300A8(35/7). Nilai KKG tinggi pada karakter bobot biji per tanaman, bobot 100 biji terdapat pada genotipe M100A25(3/4), M100A6(31/1), M200A11(32/3), M200A12(6/5), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8), M300A8(35/7), Nilai KKG tinggi pada karakter tinggi tanaman dan jumlah cabang produktif terdapat pada genotipe M100A6(31/1), M200A17(13/6), M200A17(18/5), M300A6(33/8). Sedangkan hasil penelitian pada lahan inokulasi penyakit yang dilakukan diperoleh hasil bahwa nilai KKG tinggi pada karakter umur panen terdapat pada keseluruhan genotipe uji, jumlah