BAB IV ANALISIS HASIL SIMULASI
4.1 ANALISIS KINERJA SISTEM MENGGUNAKAN KONFIGURASI
4.1.3 Parameter Power Receiver
Power receiver pada simulasi sistem komunikasi serat optik digunakan untuk mengukur daya pada sistem. Power receiver memiliki standar nilai minimum -40 dBm dengan nilai maksimum +2 dBm. Berikut merupakan hasil nilai Power receiver dengan frequency 100 GHz pada konfigurasi Repeaterless.
0.00E+00 5.00E-07 1.00E-06 1.50E-06 2.00E-06 2.50E-06 3.00E-06
Daya 0 dBm Daya 2 dBm Daya 4 dBm Daya 6 dBm Daya 8 dBm
Nilai Daya BER 100 GHz Repeaterless
43
Tabel 4.3 Hasil Power receiver 100 GHz Repeaterless
No. Kanal Daya (dBm)
Tabel 4.3 merupakan tabel hasil simulasi pemodelan dari parameter Power receiver menggunakan 10 kanal dengan 5 variasi daya pada daya 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm. Hasil nilai Power receiver yang terdapat pada tabel diatas memenuhi standar seperti yang sudah diuraikan sebelumnya. Nilai Power receiver tertinggi pada daya 0 dBm kanal 195.2 THz, daya 2 dBm kanal 195.2 THz, daya 4 dBm kanal 195.2 THz, daya 6 dBm kanal 195.2 THz, dan daya 8 dBm kanal 195.2 THz. Nilai parameter Power receiver terbaik pada daya 8 dBm kanal 195.2 THz bernilai -16.992 dBm, sedangkan nilai yang diperoleh dari parameter Power receiver terburuk pada daya 0 dBm kanal 195.6 THz yang bernilai -26.899 dBm.
Berdasarkan tabel 4.3 perubahan daya pada tiap kanal dapat mempengaruhi nilai dari parameter Power receiver yang didapatkan. Pada tabel diatas, semakin besar daya maka nilai Power receiver yang diperoleh semakin baik.
Gambar 4.3 Grafik Nilai Power receiver 100 GHz Repeaterless -30
Nilai Daya Power Receiver 100 GHz
Repeaterless
44
Pada gambar 4.3 merupakan grafik rata – rata nilai power receiver yang diperoleh berdasarkan tabel 4.3 yang mana hasil terbaik didapatkan pada daya 8 dBm sebesar -17.824 dBm. Dari gambar grafik diatas, semakin besar daya yang digunakan maka rata – rata nilai yang diperoleh semakin baik dengan kenaikan performansi secara signifikan untuk setiap dayanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rata – rata power receiver pada daya 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm memperoleh hasil yang sesuai dengan standar yang ditentukan.
Signal to Noise Ratio (SNR) digunakan sebagai perbandingan (ratio) kekuatan antara sinyal dengan noise. Berikut merupakan hasil yang diperoleh dari simulasi pemodelan sistem menggunakan konfigurasi Repeaterless dengan frequency 100 GHz.
Tabel 4.4 Hasil Signal to Noise Ratio (SNR) 100 GHz Repeaterless
No. Kanal Daya (dBm) (SNR) dari simulasi sistem menggunakan 5 variasi daya antara lain 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm untuk 10 kanal. Berdasarkan tabel diatas, hasil terbaik diperoleh pada daya 0 dBm kanal 195 THz, daya 2 dBm kanal 195 THz, daya 4 dBm kanal 195 THz, daya 6 dBm kanal 195 THz, dan daya 8 dBm kanal 195 THz. Hasil nilai SNR tertinggi yaitu pada daya 8 dBm kanal 195 THz dengan hasil yang didapatkan sebesar 33.005 dB, sedangkan nilai terendah didapatkan pada daya 0 dBm kanal 195.6 THz yang bernilai 5.414 dB. Perubahan daya pada SNR dapat mempengaruhi hasil yang diperoleh. Semakin besar nilai SNR maka kualitas performansi jaringan yang diterima semakin baik dan meningkat.
45
Gambar 4.4 Grafik Nilai Signal to Noise Ratio (SNR) 100 GHz Repeaterless Gambar diatas merupakan grafik rata – rata nilai yang diperoleh parameter SNR dengan hasil terbaik yaitu pada daya 8 dBm dengan rata – rata sebesar 27.794 dB. Seperti uraian sebelumnya bahwa semakin besar variasi daya yang digunakan maka nilai yang didapatkan semakin baik. Sehingga rata – rata nilai SNR pada gambar 4.4 berdasarkan tabel 4.4 memperoleh hasil yang sesuai dengan standar yang ditentukan.
4.2 ANALISIS KINERJA SISTEM MENGGUNAKAN KONFIGURASI REPEATERED
Analisis hasil simulasi pemodelan sistem link Jawa (Rungkut) – Bali (Kaliasem) yang berjarak 442.02 km yang dilakukan menggunakan software optisystem 7.0 dengan konfigurasi Repeatered. Simulasi pemodelan sistem ini menggunakan penguat EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier) dan SOA (Semiconductor Optical Amplifier). Parameter yang digunakan pada penelitian ini antara lain Q-Factor, BER (Bit Error Rate), Power Receiver, dan SNR (Signal to Noise Ratio) dengan frequency 100 GHz. Berdasarkan parameter tersebut, maka dapat diketahui hasil dari pengukuran sebagai berikut :
4.2.1 Parameter Q-Factor
Berikut merupakan nilai parameter Q-Factor yang diperoleh dari simulasi pemodelan sistem menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA - SOA dengan frequency 100 GHz. Pada simulasi ini, channel spacing yang digunakan sebanyak 10 kanal serta menggunakan 5 variasi daya yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm.
Berdasarkan simulasi, berikut tabel hasil Q-Factor yang didapatkan dengan menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA - SOA.
Nilai Daya SNR 100 GHz Repeaterless
46
Tabel 4.5 Hasil Q-Factor 100 GHz Repeatered EDFA – SOA
No. Kanal Daya (dBm)
Hasil terbaik yang diperoleh berdasarkan tabel 4.5 pada daya 0 dBm kanal 194.8 THz, 2 dBm kanal 194.8 THz, 4 dBm kanal 194.8 THz, 6 dBm kanal 194.8 THz, dan 8 dBm kanal 194.8 THz. Nilai parameter Q-Factor tertinggi yaitu pada daya 4 dBm kanal 194.8 dengan hasil yang didapatkan sebesar 15.928. Hasil terendah yaitu pada daya 0 dBm kanal 195.4 THz yang bernilai 4.906. Dari keseluruhan kanal untuk kelima daya yang digunakan, nilai tertinggi diperoleh pada daya 0, 2, dan 4 dBm serta terjadi penurunan nilai pada daya 6 dBm dan 8 dBm kanal 194.8 dBm. Pada tabel 4.5 diketahui nilai Q-Factor terendah diantara seluruh kanal diatas terdapat pada kanal 195.4 THz di seluruh variasi dayanya.
Maka untuk konfigurasi Repeatered EDFA – SOA hasil terendah yang didapatkan belum memenuhi standar Q-Factor untuk sistem komunikasi optik yaitu 6. Oleh karena itu setiap kanal tidak dapat menerima data dengan baik. Hal tersebut dapat terjadi karena jarak panjang kabel yang jauh sehingga kualitas transmisinya berkurang.
Gambar 4.5 Grafik Nilai Q-Factor 100 GHz Repeatered EDFA – SOA 8.5
Nilai Daya Q-Factor 100 GHz Repeatered EDFA -
SOA
47
Berdasarkan grafik tersebut hasil terbaik dari rata – rata nilai yang didapatkan yaitu pada daya 4 dBm dimana pada daya 0, 2, dan 4 dBm mengalami kenaikan nilai serta terjadi penurunan nilai Q-Factor pada daya 6 dBm dan 8 dBm.
Keseluruhan rata – rata yang diperoleh pada gambar 4.5 berdasarkan tabel 4.5 dari kanal dan daya yang digunakan semua sesuai dengan standar seperti yang telah diuraikan.
Tabel 4.6 merupakan hasil parameter Q-Factor dengan frequency 100 GHz pada konfigurasi Repeatered EDFA untuk 10 kanal. Simulasi sistem yang dilakukan pada tabel 4.6 menggunakan 5 variasi daya yaitu daya 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm. Berbeda dengan tabel 4.5 simulasi sistem yang dilakukan menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA – SOA, sedangkan tabel 4.6 berikut ini menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA.
Tabel 4.6 Hasil Q-Factor 100 GHz Repeatered EDFA
No. Kanal Daya (dBm)
Hasil terbaik yang didapatkan pada daya 0 dBm kanal 195.3 THz, daya 2 dBm kanal 195.3 THz, daya 4 dBm kanal 195.3 THz, daya 6 dBm kanal 195 THz, dan daya 8 dBm kanal 195.2 THz. Simulasi sistem diatas menunjukkan nilai tertinggi yang didapatkan pada daya 0 dBm kanal 195.3 THz bernilai 13.342, sedangkan nilai terendah yang diperoleh pada daya 8 dBm kanal 195.4 THz bernilai 3.275. berdasarkan kanal paada tabel diatas nilai terbaik diperoleh pada kanal 195.3 THz pada daya 0, 2, 4, dan 6 dBm sedangkan pada daya 8 dBm pada kanal yang sama, memperoleh hasil yang tidak sesuai dengan standar. Hal ini dikarenakan jarak panjang kabel yang jauh dengan gain yang rendah sehingga
48
kualitas transmisinya berkurang. Maka dari itu setiap kanal tidak dapat mengirimkan data sampai ke penerima dengan baik. Berdasarkan simulasi sistem pada tabel 4.6 dapat diketahui bahwa semakin besar variasi daya yang digunakan maka nilai yang didapatkan semakin kecil. Sehingga untuk konfigurasi ini belum memenuhi standar Q-Factor yaitu 6 pada daya 6 dBm untuk 4 kanal terakhir dan daya 8 dBm pada seluruh kanalnya.
Gambar 4.6 Grafik Nilai Q-Factor 100 GHz Repeatered EDFA
Grafik diatas merupakan rata - rata hasil simulasi pemodelan sistem konfigurasi Repeatered EDFA. Berdasarkan grafik diatas, dapat diketahui rata – rata pemodelan sistem tertinggi pada parameter Q-Factor terletak pada daya 2 dBm yang bernilai 10.809. Dari grafik diatas, terdapat Q-Factor dengan penurunan hasil rata – rata secara signifikan pada daya 4, 6, dan 8 dBm.
Berdasarkan rata – rata yang diperoleh pada daya 0, 2, 4 dBm memenuhi standar yang telah ditentukan sedangkan pada daya 6 dBm dan 8 dBm belum memenuhi standar Q-Factor yaitu 6. Penurunan hasil rata - rata dikarenakan jarak transsmisi yang cukup panjang dengan gain yang rendah sehingga kualitas sinyal yang dihasilkan semakin menurun.
4.2.2 Parameter Bit Error Rate (BER)
Berikut ini merupakan tabel dari parameter Bit Error Rate (BER) menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA – SOA dengan frequency 100 GHz.
Pada pemodelan sistem ini menggunakan 5 variasi daya antara lain daya 0, 2, 4, 6, dan 8 dbm untuk 10 kanal.
0 2 4 6 8 10 12
Daya 0 dBm Daya 2 dBm Daya 4 dBm Daya 6 dBm Daya 8 dBm
Nilai Daya Q-Factor 100 GHz Repeatered EDFA
49
Tabel 4.7 Hasil Bit Error Rate (BER) 100 GHz Repeatered EDFA – SOA
No. Kanal Daya (dBm)
0 2 4 6 8
1 194.8 THz 4.73 x 10-052 1.07 x 10-056 1.95 x 10-057 3.97 x 10-050 1.07 x 10-038 2 194.9 THz 2.12 x 10-014 2.07 x 10-015 9.73 x 10-016 1.47 x 10-015 1.29 x 10-014 3 195 THz 1.27 x 10-023 4.54 x 10-027 1.07 x 10-029 4.37 x 10-029 1.21 x 10-025 4 195.1 THz 3.77 x 10-018 1.70 x 10-019 1.71 x 10-019 7.24 x 10-019 1.71 x 10-016 5 195.2 THz 1.33 x 10-037 1.84 x 10-044 1.81 x 10-044 2.08 x 10-040 5.74 x 10-032 6 195.3 THz 3.26 x 10-035 9.37 x 10-041 1 x 10-043 9.47 x 10-041 1.49 x 10-035 7 195.4 THz 3.19 x 10-007 4.91 x 10-008 1.92 x 10-008 1.12 x 10-008 2.25 x 10-008 8 195.5 THz 1.19 x 10-013 9.22 x 10-015 6.78 x 10-015 5.32 x 10-015 7.12 x 10-014 9 195.6 THz 1.71 x 10-018 1.39 x 10-020 9.97 x 10-021 6.91 x 10-020 1.87 x 10-017 10 195.7 THz 1.05 x 10-018 1.85 x 10-020 2.98 x 10-021 2.25 x 10-020 1.74 x 10-017 Rata-rata 3.19 x 10-008 4.91 x 10-009 1.92 x 10-009 1.12 x 10-009 2.25 x 10-009
Tabel diatas memperoleh nilai terbaik pada daya 0 dBm kanal 194.8 THz, daya 2 dBm kanal 194.8 THz, daya 4 dBm kanal 194.8 THz, daya 6 dBm kanal 194.8 THz, dan daya 8 dBm kanal 194.8 THz. Perubahan daya pada simulasi pemodelan sistem tersebut dapat mempengaruhi hasil kinerjanya. Hasil simulasi pemodelan sistem pada tabel 4.7 yang menggunakan parameter Bit Error Rate (BER) dengan konfigurasi Repeatered EDFA – SOA tersebut, memperoleh nilai BER tertinggi yaitu pada daya 4 dBm kanal 194.8 THz yang bernilai 1.95 x 10-057. Sedangkan nilai BER terendah pada daya 0 dBm kanal 195.4 THz dengan nilai yang diperoleh sebesar 3.19 x 10-007. Pada kanal 195.4 THz untuk semua dayanya memperoleh hasil BER diatas standar yang ditentukan. Pada daya dari tiap kanal mendapatkan hasil simulasi pemodelan dengan nilai yang bervariasi. Penyebab nilai BER kurang dari standar yang ditentukan itu dikarenakan perbandingan antara daya dengan sinyal yang kecil sehingga informasi yang diterima kurang baik.
50
Gambar 4.7 Grafik Nilai Bit Error Rate (BER) 100 GHz Repeatered EDFA – SOA
Perubahan grafik nilai rata – rata dari hasil simulasi pemodelan sistem parameter Bit Error Rate (BER) dengan frequency 100 GHz yang menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA – SOA untuk 10 kanal, memperoleh hasil yang berbeda pada masing – masing daya. Berdasarkan gambar 4.7 grafik rata – rata simulasi pemodelan sistem diatas, diperoleh nilai BER terbaik yaitu pada daya 2 dBm dengan nilai yang diperoleh sebesar 4.91 x 10-009. Semakin besar nilai BER maka semakin baik hasil yang didapatkan.apabila hasil yang diperoleh mendekati standar minimum atau diatas 1 x 10-9 maka performansi tersebut dapat dikatakan buruk, dan pada konfigurasi ini, nilai rata - rata performansi yang diperoleh sudah memenuhi standar pada daya 2, 4, 6, dan 8 dBm. Sedangkan hasil performansi yang belum sesuai dengan standar yaitu pada daya 0 dBm. Maka dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab nilai BER lebih besar dari standar yang ditentukan serta penyebab performansinya dikatakan buruk, karena perbandingan daya dan sinyalnya kecil sehingga memicu tingkat kesalahan yang besar.
Pada tabel 4.7 pemodelan sistem yang dilakukan yaitu dengan menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA – SOA, sedangkan pada tabel di bawah ini merupakan hasil pemodelan sistem dari konfigurasi Repeatered EDFA.
Konfigurasi pemodelan sistem berikut ini menggunakan frequency 100 GHz dengan 5 variasi daya yang digunakan pada 10 kanal.
0.00E+00 5.00E-09 1.00E-08 1.50E-08 2.00E-08 2.50E-08 3.00E-08 3.50E-08
Daya 0 dBm Daya 2 dBm Daya 4 dBm Daya 6 dBm Daya 8 dBm
Nilai Daya BER 100 GHz Repeatered EDFA -
SOA
51
Tabel 4.8 Hasil Bit Error Rate (BER) 100 GHz Repeatered EDFA
No. Kanal
Daya (dBm)
0 2 4 6 8
1 194.8 THz 1.13 x 10-027 1.64 x 10-031 6.40 x 10-019 1.46 x 10-010 1.02 x 10-004 2 194.9 THz 3.38 x 10-027 4.33 x 10-030 5.28 x 10-021 5.21 x 10-011 1.03 x 10-004 3 195 THz 2.42 x 10-030 5.12 x 10-038 2.15 x 10-021 1.51 x 10-011 7.63 x 10-005 4 195.1 THz 4.13 x 10-038 4.50 x 10-035 9.97 x 10-023 1.11 x 10-010 7.99 x 10-005 5 195.2 THz 1.34 x 10-034 9.20 x 10-030 5.39 x 10-021 9.69 x 10-011 6.96 x 10-005 6 195.3 THz 5.93 x 10-041 4.31 x 10-038 2.29 x 10-023 1.92 x 10-010 1.38 x 10-004 7 195.4 THz 4.73 x 10-017 8.98 x 10-020 3.97 x 10-014 2.56 x 10-008 4.04 x 10-004 8 195.5 THz 1.71 x 10-020 1.44 x 10-019 2.49 x 10-014 2.51 x 10-008 3.15 x 10-004 9 195.6 THz 1.11 x 10-020 5.54 x 10-022 1.81 x 10-015 1.70 x 10-008 2.55 x 10-004 10 195.7 THz 1.67 x 10-017 1.18 x 10-017 2.62 x 10-014 3.82 x 10-008 1.67 x 10-004 Rata-rata 6.40 x 10-018 1.20 x 10-018 9.26 x 10-015 1.07 x 10-008 7.52 x 10-005
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui 5 variasi daya yang digunakan antara lain daya 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm. Hasil dari parameter Bit Error Rate (BER) yang menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA hasil terbaik pada daya 0 dBm kanal 195.3 THz, daya 2 dBm kanal 195 THz, daya 4 dBm kanal 195.1 THz, daya 6 dBm kanal 195.2 THz, dan daya 8 dBm kanal 195.1 THz. Perbedaan variasi daya yang digunakan pada simulasi pemodelan sistem ini, maka akan mempengaruhi perbedaan hasil BER yang didapatkan. Hasil BER tertinggi yaitu pada daya 0 dBm kanal 195.3 THz yang bernilai 5.93 x 10-041, sedangkan hasil BER terendah berada pada daya 8 dBm kanal 194.8 THz dengan nilai BER yang diperoleh sebesar 1.02 x 10-004. Pada daya dari tiap kanal mendapatkan hasil simulasi pemodelan dengan nilai yang bervariasi. Penyebab nilai BER yang kecil dikarenakan perbandingan antara daya dengan sinyal yang kecil sehingga informasi yang diterima kurang baik. Sehingga hasil rata – rata BER pada daya 0, 2, dan 4 dBm sesuai dengan standar. Sedangkan daya 6 dBm dan 8 dBm belum memenuhi standar untuk masing – masing kanal dan daya.
52
Gambar 4.8 Grafik Nilai Bit Error Rate (BER) 100 GHz Repeatered EDFA Gambar diatas merupakan grafik rata – rata yang diperoleh dari konfigurasi Repeatered EDFA dengan frequency 100 GHz. Simulasi pemodelan sistem ini menggunakan 10 kanal dengan 5 variasi daya yang berbeda. Hasil dari rata – rata yang didapatkan berbeda untuk masing - masing daya, maka berdasarkan pada gambar 4.8 diperoleh hasil rata – rata BER tertinggi yaitu pada daya 0 dBm yang bernilai 6.40 x 10-018. Nilai yang diperoleh tersebut sesuai dengan standar minimum BER yaitu 1 x 10-9. Sedangkan pada daya 6 dBm dan 8 dBm nilai BER yang diperoleh diatas standar yang ditentukan, sehingga dikatakan belum memenuhi standar. Penurunan kualitas perormansi pada daya 6 dBm dan 8 dBm dikarenakan perbandingan daya dan sinyalnya kecil sehingga memicu tingkat kesalahan yang besar.
4.2.3 Parameter Power Receiver
Tabel dibawah ini merupakan tabel dari parameter Power receiver yang menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA – SOA dengan frequency 100 GHz.
Pada pemodelan sistem ini menggunakan 5 variasi daya antara lain daya 0, 2, 4, 6, dan 8 dbm untuk 10 kanal.
Tabel 4.9 Hasil Power receiver 100 GHz Repeatered EDFA - SOA
No. Kanal Daya (dBm)
Nilai Daya BER 100 GHz Repeatered EDFA
53
Tabel 4.9 merupakan nilai yang didapatkan dari simulasi pemodelan sistem pada konfigurasi Repeatered EDFA – SOA dengan frequency 100 GHz.
Variasi daya yang digunakan pada simulasi pemodelan sistem ini mempengaruhi hasil yang diperoleh pada masing – masing daya. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui nilai daya pada parameter Power receiver terbaik pada daya 0 dBm kanal 195.2 THz, daya 2 dBm kanal 195.2 THz, daya 4 dBm kanal 195.2 THz, daya 6 dBm kanal 195.2 THz, dan daya 8 dBm kanal 195.2 THz. Nilai tertinggi dari simulasi pemodelan sistem ini yaitu pada daya 8 dBm kanal 195.2 THz dengan nilai yang diperoleh sebesar -12.138 dBm, sedangkan nilai terendah dari parameter Power receiver pada konfigurasi Repeatered EDFA – SOA berada pada daya 0 dBm kanal 195.6 THz yang bernilai -21.899 dBm. Penggunaan daya yang bervariasi mempengaruhi nilai yang didapatkan pada parameter Power Receiver.
Berdasarkan hasil simulasi pemodelan sistem pada tabel 4.9, dapat diketahui bahwa semakin besar variasi daya yang digunakan maka nilai yang didapatkan semakin baik.
Gambar 4.9 Grafik Nilai Power receiver 100 GHz Repeatered EDFA – SOA -25
Nilai Daya Power Receiver 100 GHz Repeatered
EDFA - SOA
54
Gambar 4.9 merupakan grafik hasil rata – rata nilai tertinggi diperoleh pada daya 8 dBm dengan hasil rata – rata sebesar -12.954 dBm. Standar parameter Power receiver bernilai minimum -40 dBm dan nilai maksimum +2 dBm.
Sehingga pada konfigurasi ini, dari kelima rata – rata daya yang digunakan nilai yang diperoleh memenuhi standar yang ditentukan.
Berbeda dengan tabel 4.9 yang merupakan hasil nilai Power receiver dengan menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA SOA, tabel 4.10 merupakan hasil nilai dari parameter Power receiver menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA. Frequency yang digunakan yaitu 100 GHz dengan variasi daya yang berbeda antara lain 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm. Selain itu, simulasi sistem yang dilakukan pada tabel berikut bekerja pada 10 kanal.
Tabel 4.10 Hasil Power receiver 100 GHz Repeatered EDFA
No. Kanal Daya (dBm)
Berdasarkan uraian sebelumnya, tabel diatas merupakan hasil nilai Power receiver dengan menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA. Hasil terbaik yang diperoleh pada daya 0 dBm kanal 195.2 THz, daya 2 dBm kanal 195.1 THz, daya 4 dBm kanal 195.1 THz, daya 6 dBm kanal 195.2 THz, dan daya 8 dBm kanal 195.1 THz. Perbedaan variasi daya dan kanal yang digunakan dapat mempengaruhi perbedaan hasil nilai yang didapatkan, dari tabel 4.10 dapat diketahui hasil terbaik yaitu pada daya 8 dBm kanal 195.1 THz sebesar -13.214 dBm. Selain itu, hasil terburuk pada daya pada daya 0 dBm kanal 195.6 THz sebesar -22.517 dBm. Pada parameter Power Receiver, semakin kecil hasil yang di dapatkan maka semakin baik. Hasil yang didapatkan dari parameter Power
55
receiver pada tabel 4.10 memenuhi standar untuk masing – masing kanal dan tiap variasi dayanya yaitu minimal -40 dBm dan maksimal +2 dBm. Pada daya 0 dBm nilai yang diperoleh merupakan hasil terendah, sedangkan pada daya 8 dBm memperoleh hasil terbaik. Sehingga semakin bertambahnya daya yang digunakan maka akan semakin baik hasil yang didapatkan. Oleh karena itu konfigurasi ini memenuhi standar yang telah ditentukan.
Gambar 4.10 Grafik Nilai Power receiver 100 GHz Repeatered EDFA Grafik nilai rata – rata parameter Power receiver dengan konfigurasi Repeatered EDFA diatas menggunakan variasi daya yang berbeda. Grafik nilai parameter Power receiver pada gambar 4.10 mendapatkan rata –rata dengan hasil terbaik yaitu pada daya 8 dBm yang bernilai -13.883 dBm. Seperti uraian sebelumnya, semakin kecil hasil yang didapatkan maka akan semakin baik. Selain itu peningkatan daya dapat mempengaruhi hasil nilai yang diperoleh pada simulasi sistem. Maka dapat disimpulkan bahwa nilai rata – rata pada tabel 4.10 dan gambar 4.10 memenuhi standar yang sudah ditentukan.
4.2.4 Signal to Noise Ratio (SNR)
Signal to Noise Ratio (SNR) digunakan sebagai perbandingan (ratio) kekuatan antara sinyal dengan noise. Berikut merupakan hasil nilai parameter Signal to Noise Ratio (SNR) yang diperoleh dari simulasi pemodelan sistem menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA – SOA dengan frequency 100 GHz
-25 -20 -15 -10 -5 0
Daya 0 dBm Daya 2 dBm Daya 4 dBm Daya 6 dBm Daya 8 dBm
Nilai Daya Power Receiver 100 GHz Repeatered
EDFA
56
serta variasi daya yang digunakan yaitu 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm dengan 10 kanal yang berbeda.
Tabel 4.11 Hasil Signal to Noise Ratio (SNR) 100 GHz Repeatered EDFA – SOA mempengaruhi perbedaan hasil yang didapatkan oleh parameter Signal to Noise Ratio (SNR). Berdasarkan 5 variasi daya serta 10 kanal yang berbeda, diperoleh hasil terbaik untuk daya 0 dBm kanal 195 THz, daya 2 dBm kanal 195 THz, daya 4 dBm kanal 194.8 THz, daya 6 dBm kanal 195 THz, dan daya 8 dBm kanal 195 THz, dari hasil nilai parameter Signal to Noise Ratio (SNR) diatas, variasi daya yang digunakan dapat mempengaruhi hasil yang didapatkan. Diketahui hasil SNR terbaik konfigurasi Repeatered EDFA - SOA yaitu pada daya 8 dBm kanal 195 THz sebesar 42.705 dB, sedangkan hasil terburuk pada daya 0 dBm kanal 195.6 THz sebesar 15.383 dB. Pada daya dari tiap kanal mendapatkan hasil simulasi pemodelan dengan nilai yang bervariasi. Berdasarkan tabel 4.11 pada daya 0 dBm kanal 195.4 THz sampai 195.7 THz dan pada daya 2 dBm kanal 195.5 THz sampai dengan 195.7 THz belum memenuhi standar yang berlaku. Semakin meningkat nilai SNR yang dihasilkan maka kecepatan error akan berkurang, dan semakin menurun nilai SNR yang dihasilkan maka kecepatan error akan bertambah serta kualitas jaringan yang didapatkan akan menurun. Sehingga pada tabel 4.11 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar daya maka hasil
57
performansi akan semakin baik, semakin kecil daya yang digunakan maka hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan standar SNR yaitu minimum 21.5 dB.
Gambar 4.11 Grafik Nilai Signal to Noise Ratio (SNR) 100 GHz Repeatered EDFA – SOA
Gambar diatas merupakan grafik nilai rata – rata parameter Signal to Noise Ratio (SNR) dengan konfigurasi Repeatered EDFA - SOA serta menggunakan 5 variasi daya yang berbeda untuk 10 kanal. Nilai parameter Signal to Noise Ratio (SNR) pada gambar 4.11 mendapatkan hasil terbaik yaitu pada daya 8 dBm dengan rata – rata sebesar 37.246 dB. Dari hasil rata – rata yang diperoleh memenuhi standar untuk seluruh variasi daya yang digunakan. Semakin bertambah daya yang digunakan maka hasil yang diperoleh semakin baik. Maka dapat disimpulkan bahwa rata – rata nilai yang terdapat pada tabel 4.11 dan gambar 4.11 memenuhi standar SNR yang telah ditentukan.
Selain konfigurasi Repeatered EDFA – SOA, dibawah ini merupakan tabel parameter Signal to Noise Ratio (SNR) menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA dengan frequency 100 GHz serta variasi daya yang berbeda untuk 10 kanal.
Variasi daya yang digunakan pada tabel 4.12 antara lain 0, 2, 4, 6, dan 8 dBm.
Berikut merupakan hasil nilai pemodelan sistem dengan menggunakan konfigurasi Repeatered EDFA.
0 5 10 15 20 25 30 35 40
Daya 0 dBm Daya 2 dBm Daya 4 dBm Daya 6 dBm Daya 8 dBm
Nilai Daya SNR 100 GHz Repeatered EDFA
- SOA
58
Tabel 4.12 Hasil Signal to Noise Ratio (SNR) 100 GHz Repeatered EDFA
No. Kanal Daya (dBm) perubahan daya dapat mempengaruhi hasil yang di dapatkan. Semakin besar hasil yang di dapatkan maka akan semakin baik. Pada tabel 4.12 daya 0 dBm dan 2 dBm kanal 194.9 THz, 195.1 THz, 195.5 THz, 195.6 THz, dan 195.7 THz belum memenuhi standar yang telah ditentukan yaitu hasil SNR yang diperoleh lebih dari 21.5 dB. Pada daya 4 dBm kanal 195.5 THz dan 195.6 THz serta daya 6 dBm kanal 195.5 THz dan 195.6 THz belum memenuhi standar yang telah ditentukan.
Semakin meningkat nilai SNR yang dihasilkan maka kecepatan error akan berkurang, dan semakin menurun nilai SNR yang dihasilkan maka kecepatan error akan bertambah serta kualitas jaringan yang didapatkan akan menurun.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin besar dayanya maka hasil performansi akan semakin baik, semakin kecil daya yang digunakan maka hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan standar SNR yaitu minimum 21.5 dB yang berarti performansinya menjadi buruk.
59
Gambar 4.12 Grafik Nilai Signal to Noise Ratio (SNR) 100 GHz Repeatered EDFA
Grafik nilai rata – rata parameter Signal to Noise Ratio (SNR) dengan konfigurasi Repeatered EDFA - SOA serta menggunakan 5 variasi daya yang berbeda untuk 10 kanal yang terdapat pada gambar 4.12 mendapatkan hasil terbaik yaitu pada daya 8 dBm dengan rata – rata sebesar 32.081 dB. Rata – rata yang diperoleh pada daya 2, 4, 6, dan 8 dBm dapat dikatakan memenuhi standar
Grafik nilai rata – rata parameter Signal to Noise Ratio (SNR) dengan konfigurasi Repeatered EDFA - SOA serta menggunakan 5 variasi daya yang berbeda untuk 10 kanal yang terdapat pada gambar 4.12 mendapatkan hasil terbaik yaitu pada daya 8 dBm dengan rata – rata sebesar 32.081 dB. Rata – rata yang diperoleh pada daya 2, 4, 6, dan 8 dBm dapat dikatakan memenuhi standar