BAB II DASAR TEORI
2.3 SISTEM KOMUNIKASI KABEL LAUT (SKKL)
2.3.6 Submarine Cable
Kabel bawah laut optik adalah kabel serat optik bawah laut yang dirancang agar cocok untuk dangkal dan dalam penggunaan air, yang diperlukan untuk memastikan perlindungan serat optik terhadap tekanan air, air memanjang propagasi, agresi kimia dan efek kontaminasi hidrogen sepanjang umur desain kabel. Kabel bawah laut diuji secara ekstensif untuk menunjukkan bahwa ia dapat dipasang dan diperbaiki in situ, bahkan dalam kondisi terburuk [4].
Kabel bawah laut harus dirancang sedemikian rupa untuk menjamin ketahanan desain sistem, dengan mempertimbangkan efek kumulatif dari beban yang diterapkan pada kabel selama peletakan, pemulihan dan perbaikan, serta permanen memuat atau perpanjangan yang diterapkan pada kabel yang dipasang [4]. Berdasarkan ITU-T G.972 terdapat berbagai jenis kabel yang dilindungi.
1. Light Weight Cable (LW)
Light Weight Cable (LW) merupakan kabel laut yang memiliki lapisan pelindung paling sedikit (dibandingkan kabel laut lainnya), dikarenakan kabel jenis LW ini diperuntukan digunakan untuk kedalaman 3.000 meter sampai dengan 8.000 meter [1]. Gambar 2.9 berikut merupakan kabel laut jenis Light Weight Cable (LW).
Gambar 2.9 Light Weight Cable (LW) [1]
17 2. Light Weight Protected Cable (LWP)
Kabel ini lebih tebal jika dibandingkan dengan LW, karena kabel ini dirancang untuk tahan terhadap gigitan ikan serta abrasi, kabel ini diperuntukan digunakan untuk kedalaman 500 meter sampai dengan 3.000 meter [1]. Untuk kabel jenis Light Weight Protected Cable (LWP) dapat dilihat pada gambar 2.10.
Gambar 2.10 Light Weight Protected Cable (LWP) [1]
3. Single Armored Cable (SA)
Dibandingkan dengan kabel LWP, kabel ini memiliki bagian (lapisan) pelindung dibagian luar yang terbuat dari baja, yang mana berfungsi untuk melindungi kabel dari gesekan yang disebabkan oleh arus laut dengan karang yang berada dipermukaan laut, kabel ini diperuntukan digunakan untuk kedalaman 200 meter sampai dengan 500 meter [1]. Gambar 2.11 merupakan jenis kabel Single Armored Cable (SA).
Gambar 2.11 Single Armored Cable (SA) [1]
4. Double Armored Cable (DA)
Dibandingkan jenis kabel laut seperti LW, LWP, SA, kabel DA ini merupakan kabel yang paling tebal, karena memiliki dua lapisan baja pada bagian luarnya, yang mana berfungsi untuk melindungi kabel dari jangkar kapal, serta aktifitas tepi pantai yang dapat menyebabkan kerusakan terhadap kabel, kabel ini diperuntukan digunakan digunakan sampai dengan kedalaman 200 meter, atau jarak maksimal dari landing station sejaih 20 Km [1]. Kabel dengan jenis Double Armored Cable (DA) dapat dilihat pada gambar 2.12 berikut ini.
Gambar 2.12 Double Armored Cable (DA) [1]
18 2.4 REPEATER
Repeater berfungsi untuk mengurangi dampak loss, sehingga pada sisi detektor sinyal masih dapat dideteksi dengan baik. Repeater ini melakukan proses penguatan sinyal optik tanpa terlebih dahulu melakukan proses konversi sinyal tersebut ke sinyal elektrik. Pada SKKL, tidak semua rancangan membutuhkan repeater. Beberapa jaringan membutuhkan repeater sehingga disebut jaringan Repeatered dan terdapat pula jaringan yang tidak membutuhkan repeater atau disebut jaringan repeaterless [14].
Repeater dapat berupa repeater elektronik atau repeater optic (amplifier).
Repeater elektronik mempunyai kelemahan karena sinyal pertama-tama mengalami konversi dari sinyal optik ke sinyal elektrik, kemudian diperkuat secara elektronik dan sesudah itu dikoversi kembali dari sinyal elektrik ke sinyal optik, akibatnya akan terjadi degradasi kualitas pada sinyal keluaran. Untuk mengatasi hal ini, banyak usaha yang telah dilakukan, sehingga diperoleh suatu repeater yang serba optik, dalam artian sinyal optik yang akan masuk ke dalam penguat (amplifier) tidak dirubah terlebih dahulu ke sinyal elektrik, melainkan langsung dikuatkan oleh amplifier [1].
Gambar 2.13 Electrical Amplifier [1]
Pada gambar 2.13 diatas merupakan gambar Electrical Amplifier. Dalam optical amplifier tidak ada konversi sinyal yang terjadi baik dari sinyal optik ke sinyal elektrik maupun sebaliknya, sehingga degradasi sinyal akibat konversi dan penguatan secara electrical dalam repeater tidak mungkin ada [1].
Gambar 2.14 Optical Amplifier [1]
19 2.4.1 Erbium Doped Fiber Amplifier
Erbium Doped Fiber Amplifier (EDFA) yaitu material yang umum digunakan untuk aplikasi telekomunikasi long haul, dimana EDFA merupakan serat silika yang didoping dengan erbium. Untuk memberikan fasilitas layanan jaringan dengan kecepatan tinggi, maka diperlukan bandwidth dalam jumlah besar, sehingga EDFA digunakan secara ekstensif dalam teknologi WDM – DWDM dengan meningkatkan kapasitas jaringan optik dan bekerja secara efektif dengan kecepatan tinggi. Daerah operasi EDFA secara umum yaitu 1530 – 1565 nm. EDFA merupakan serat singlemode optic yang dimana inti (core) dikotori oleh atom erbium sehingga dapat memberikan penguatan terhadap sinyal yang melewatinya[3].
2.4.2 Semiconductor Optical Amplifier
Semiconductor Optical Amplifier (SOA) merupakan penguat optik yang memanfaatkan rongga atau ruangan cavity untuk penguatan cahaya. Prinsip kerja SOA yaitu arus elektrik dialirkan ke daerah aktif (semiconductor Cavity) untuk merangsang elektron. Ketika cahaya foton lemah masuk ke daerah aktif akan menyebabkan elektron ini kehilangan energinya. Sehingga cahaya lemah yang masuk dikuatkan. Bagian sisi dari daerah aktif merupakan bahan anti refleksi bertujuan agar tidak ada sinyal refleksi dari dalam semikonduktor sendiri. Inilah yang menjadi dasar membedakan dari laser semikonduktor.
Semiconductor Optical Amplifier (SOA) dapat digunakan pada transmisi satu arah maupun dua arah. Semiconductor Optical Amplifier didasarkan pada teknologi yang sama dengan dioda laser. SOA dapat beroperasi pada panjang gelombang 1280 nm sampai dengan 1650 nm [17].
2.4.3 Hybrid Optical Amplifier
Terdapat satu metode untuk pemanfaatan optimal dari bandwidth serat yang tersedia yaitu dengan cara menggunakan berbagai kombinasi dari penguat optik dalam rentang panjang gelombang yang berbeda. Penguat optik (optical amplifier) menawarkan lebih banyak keuntungan dibanding regenerator elektronik, termasuk data rate sistem dapat diubah sesuai dengan kebutuhan, dimungkinkan untuk mengirimkan dalam banyak saluran (multiple channles), dan
20
tidak perlu memodifikasi in-line transmission link atau komponen lainnya untuk mendapatkan keuntungan tersebut. Penguat hybrid digunakan untuk mengoptimalkan peningkatan gain-bandwidth dari sistem berbasis WDM, untuk mengurangi kerugian karena induksi non linieritas dan untuk mencegah penggunaan biaya tinggi yang dibutuhkan untuk memperbaiki gain flatness.
Meningkatkan Gain-Bandwidth penguat optik adalah cara yang paling efektif untuk pemanfaatan optimal bandwidth serat secara efisien dalam peningkatan jumlah saluran berbasis WDM [2].
2.4.4 Repeatered
Repeatered merupakan jaringan membutuhkan repeater [14]. Konfigurasi dari penggunaan kategori Repeatered pada komunikasi link karena jarak yang cukup jauh maka dibutuhkan penguat dalam setiap penempatan, booster, in-line, dan pre-amplifier. Penggunaan power feeding equipment diperlukan pada Repeatered, karena penempatan in-line membutuhkan catuan [13]. Gambar 2.15 berikut merupakan gambar konfigurasi Repeatered.
Gambar 2.15 Repaetered [1]
2.4.5 Repeaterless
Repeaterless jaringan yang tidak membutuhkan repeater [14]. Pada repeaterless penggunaan penguat hanya pada booster atau pre-amplifier karena jarak link optik yang dekat. Penggunaan power feeding equipment tidak perlu pada repeaterless [13]. Gambar konfigurasi Repeaterless ditunjukkan pada gambar 2.16 sebagai berikut.
Gambar 2.16 Repeaterless [1]
21
2.5 DENSE WAVELENGTH DIVISION MULTIPLEXING
Teknologi DWDM merupakan suatu pengembangan dari jaringan sebelumnya yang telah ada yaitu Wavelength Division Multiplexing (WDM).
WDM merupakan suatu teknologi yang dapat menggabungkan sejumlah panjang gelombang pembawa informasi independen melalui suatu serat yang sama. Secara historis, istilah DWDM pada umumnya mengacu pada pemisahan panjang gelombang dengan nilai spacing yang kecil seperti yang dinyatakan pada ITU-T G.692.
Sistem DWDM memiliki jarak antar kanal yang cukup rapat. Jarak antar kanal atau spacing dibutuhkan untuk menghindari terjadinya interferensi antar kanal yang digunakan agar tidak mempengaruhi performansi kinerja sistem DWDM. Pada umumnya nilai spacing antara satu kanal dengan kanal yang lain berkisar antara 50 - 200 GHz (0.4 - 1.6 nm). Pada saat ini sedang dikembangkan untuk spacing yang lebih rapat yaitu sebesar 25 dan 12.5 GHz atau yang setara dengan 0.2 dan 0.1 nm (yang disebut sebagai Ultra-DWDM). Pada implementasi sistem DWDM jarak jauh (long haul), memungkinkan penggunaan amplifier (penguat) untuk mencegah penurunan level daya sinyal optik yang dikirimkan.
Oleh karena itu komponen optical amplifier yang digunakan untuk aplikasi jarak jauh harus memenuhi persyaratan performansi tinggi seperti, optical amplifier harus beroperasi pada pita spektral lebar dan memiliki laser pompa berdaya tinggi untuk memperkuat sejumlah besar saluran yang digunakan[3].
2.6 PARAMETER UKUR YANG DIUJI 2.6.1 Bit Error Rate
Bit Error Rate (BER) merupakan salah satu parameter yang paling umum dalam sebuah jaringan digital. Bit Error Rate (BER) merupakan rasio perbandingan bit error dengan bit yang dikirimkan keseluruhan. Sedangkan, BER tes adalah pengujian yang bertujuan menguji seberapa banyak kesalahan pembacaan yang diterima setiap detiknya. Sistem komunikasi optik menggunakan nilai BER untuk menentukan persyaratan performansi untuk aplikasi link transmisi tertentu. BER dilakukan untuk mengujikan seberapa besar perbandingan antara bit yang error dengan bit yang berhasil dikirimkan. Nilai BER tergantung
22
pada waktu pengukuran dan faktor penyebab terjadinya error. Batas toleransi nilai BER yang umum digunakan untuk kualitas sistem komunikasi digital yaitu tidak melebihi 10-9 [3] rekomendasi ITU-T G.976 [1].
Berdasarkan persamaan 2.1 dapat diketahui keterangan dari BER yang merupakan Bit Error Rate dan Q yaitu faktor kualitas.
2.6.2 Q-Factor
Q Factor adalah faktor kualitas yang akan menentukan bagus atau tidaknya kualitas suatu link berbasis DWDM. Dalam sistem komunikasi serat optik khususnya DWDM, minimal ukuran Q Factor yang bagus adalah 6[2].
2 merupakan parameter yang harus diperhatikan. SNR digunakan untuk menunjukkan seberapa banyak noise mengganggu sinyal yang ditransmisikan.
Dengan kata lain, SNR membandingkan daya sinyal yang diinginkan terhadap background noise [18]. Nilai SNR dapat dihitung menggunakan persamaan 2.3 [1]. APD (Watt), R adalah responsivitas detektor (A/W), M adalah penguatan detektor, q adalah muatan elektron (1,69x10-19 C), F(M) adalah noise figure, Be adalah
23
receiver electrical bandwidth (Hz), KB adalah konstanta boltzman (1,38x10-23 J/K), T adalah suhu (K), serta RL adalah hambatan dalam (Ohm) [1].
2.6.4 Power Link Budget
Power Link Budget (PLB) merupakan total redaman yang diizinkan dari suatu jaringan fiber optik mulai dari sinyal dikirimkan (TX) sampai dengan sinyal diterima (RX), dimana parameter yang diperhatikan ialah redaman kabel (attenuation), penguatan amplifier, serta redaman pada branching unit. Hal ini dibutuhkan agar daya yang disalurkan tidak melebihi ambang batas yang dibutuhkan. Power Link Budget dapat dihitung menggunakan Persamaan 2.4 [1].
2 1
. U U
L
Tot
f
f
(2.4)Untuk mengitung nilai daya yang diterima pada photodetector, dapat menggunakan Persamaan 2.5
Tot tx
rx
P
P
(2.5)Berdasarkan persamaan 2.4 dan 2.5 dapat diketahui Totadalah redaman total sistem (dB), L adalah panjang kabel fiber optik, f fadalah attenuation atau redaman kabel fiber optik (dB/Km), U1 adalah redaman pada branching unit-1, U2 adalah redaman pada branching unit-2, P adalah daya terima atau rx sensitivitas penerima (dBm), dan P adalah daya kirim (dBm) [1]. tx
24
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 ALUR PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan yang mengacu pada flowchart seperti yang diuraikan berdasarkan Gambar 3.1.
Gambar 3.1 Flowchart Perancangan Kerja
Flowchart perancangan kerja pada gambar 3.1 merupakan tahapan-tahapan yang akan dilakukan penulis. Langkah pertama yaitu menentukan titik lokasi atau landing station, dalam kasus ini titik lokasi atau landing station (LS) yang digunakan ialah Jawa (Rungkut) dan Bali (Kali Asem). Pemilihan kota-kota tersebut karena merupakan jaringan dari Indonesia Global Gateaway. Selanjutnya melakukan pemetaan dengan tujuan untuk mengetahui jarak antar kota ataupun antar landing station. Pada penelitian ini, penulis menggunakan data dari Telkom
Tidak
Ya
Menentukan titik lokasi atau Landing Station dan melakukan pemetaan pada LS.
Menentukan konfigurasi amplifier dan menentukan parameter sesuai standar acuan ITU T.
Melakukan simulasi jaringan.
Mulai
Analisis parameter Q-Factor, BER, Power Receiver, dan SNR
Melakukan optimasi jaringan.
Selesai
Analisis terhadap amplifier yang digunakan.
25
Indonesia. Selanjutnya melakukan perancangan sistem dengan menggunakan software OptiSystem dan Matlab. Dalam simulasi ini menggunakan parameter yang sesuai dengan standar acuan ITU-T pada Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL). Perancangan yang dilakukan dengan menggunakan konfigurasi Repeatered yang menggunakan booster amplifier, in-line amplifier, dan pre-amplifier. Sedangkan pada konfigurasi repeaterless hanya menggunakan booster amplifier dan pre-amplifier. Perbedaan dari konfigurasi Repeatered dan repeaterless yaitu pada letak penempatan amplifier. Langkah selanjutnya yaitu memastikan agar parameter tidak melebihi standar yang telah ditentukan, yaitu untuk nilai minimum Bit Error Rate (BER) bernilai 1x10-9, nilai minimum Q-Factor bernilai 6, dan nilai Power receiver bernilai minimum -40 dBm dengan nilai maksimumnya +2 dBm serta SNR. Setelah pengambilan data dan analisis selesai, maka ditarik kesimpulan yang menjadi langkah terakhir dalam penulisan.
Gambar 3.2 Flowchart Proses Penelitian
Tidak
Ya Mulai Studi Literatur
Penentuan dan pemetaan Landing Station Penentuan parameter sistem
Simulasi dengan konfigurasi Repeaterless
Nilai Q-Factor, BER, Power Receiver, dan
SNR
Simulasi dengan konfigurasi Parallel in-line
Simulasi dengan konfigurasi Repeatered
Analisis kesimpulan hasil simulasi Selesai
26
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis tinjauan pustaka untuk menentukan konsep dasar permasalahan dari penelitian sebelumnya dan tinjauan pustaka digunakan sebagai acuan penelitian. Perumusan masalah dilakukan setelah mendapatkan inti dari kajian pustaka. Penentuan landing station (LS) digunakan untuk menentukan titik lokasi atau landing station. Titik lokasi atau landing station (LS) yang digunakan pada penelitian ini ialah Jawa (Rungkut) dan Bali (Kali Asem). Pada penelitian ini menggunakan parameter sistem yang digunakan untuk memperoleh hasil penelitian agar sesuai dengan standar yang ditentukan. Setelah menentukan parameter sistem, selanjutnnya melakukan konfigurasi Repeatered yang menggunakan booster amplifier, in-line amplifier, dan pre-amplifier. Pada konfigurasi repeaterless hanya menggunakan booster amplifier dan pre-amplifier. Sedangkan pada konfigurasi parallel in-line menggunakan amplifier yang disusun secara paralel yang diletakkan sebagai booster amplifier, in-line amplifier, dan pre-amplifier. Simulasi dengan menggunakan tiga konfigurasi yang berbeda harus memenuhi standar yang ditentukan yaitu nilai minimum BER yaitu 1x10-9. Setelah mendapatkan nilai BER sesuai dengan standar yang ditentukan maka dapat ditarik kesimpulan penelitian sebagai hasil akhir dari penelitian yang dilakukan.
27
Pada gambar 3.3 menunjukkan konfigurasi Repeaterless yang merupakan konfigurasi tanpa penguat. Pada konfigurasi repeaterless memiliki 3 blok. Blok pengirim terdiri dari signal in atau sinyal masukan dan multiplexer. Blok media transmisi yang terdiri dari serat optik Single Mode serta blok penerima yang terdiri dari demultiplexer, photodetector dan signal out atau sinyal keluaran. Daya yang dikirimkan oleh transmitter akan dikirimkan secara langsung tanpa adanya penguatan.
3.2.2 Konfigurasi Repeatered EDFA - SOA
Gambar 3.4 Konfigurasi Repeatered EDFA - SOA
Pada gambar 3.4 menunjukkan konfigurasi Repeatered EDFA - SOA.
Pada konfigurasi Repeatered memiliki 4 blok. Blok pengirim terdiri dari signal in atau sinyal masukan dan multiplexer. Blok penguat yang terdiri dari penguat optik EDFA (Erbium-doped Fiber Amplifier) dan SOA (Semiconductor Optical Amplifier). Blok media transmisi yang terdiri dari Single Mode Fiber serta blok penerima yang terdiri dari demultiplexer, photodetector dan signal out atau sinyal keluaran. Berdasarkan gambar diatas, dapat diketahui bahwa daya yang dikirimkan oleh transmitter akan dikuatkan sebelum sampai di penerima.
Blok Penerima (Receiver)
28 3.2.3 Konfigurasi Repeatered EDFA
.
Gambar 3.5 Konfigurasi Repeatered EDFA
Pada gambar 3.5 menunjukkan konfigurasi Repeatered EDFA yang merupakan konfigurasi dengan penguat EDFA. Pada konfigurasi Repeatered memiliki 4 blok. Blok pengirim terdiri dari signal in atau sinyal masukan dan multiplexer. Blok penguat yang terdiri dari penguat optik EDFA (Erbium-doped Fiber Amplifier). Blok media transmisi yang terdiri dari Single Mode Fiber serta blok penerima yang terdiri dari demultiplexer, photodetector dan signal out atau sinyal keluaran. Berdasarkan gambar diatas, dapat diketahui bahwa daya yang dikirimkan oleh transmitter akan dikuatkan sebelum sampai di penerima. Hal ini yang membedakan antara konfigurasi repeaterless dengan konfigurasi Repeatered yaitu pada konfigurasi repeaterless tidak terdapat penguat optik seperti EDFA maupun SOA. Sedangkan pada konfigurasi Repeatered terdapat penguatan optik.
\
EDFA SIGNAL OUT DEMULTIPLEXER
PHOTODE TECTOR
EDFA EDFA
29 3.2.4 Konfigurasi SOA Parallel in-line
Gambar 3.6 Konfigurasi SOA Parallel in-line
Pada gambar 3.6 menunjukkan konfigurasi SOA (Semiconductor Optical Amplifier) yang disusun secara parallel in-line pada sebuah sistem. Konfigurasi tersebut terdiri dari bagian pengirim seperti sinyal masukan dan multiplexer.
Selain itu terdapat penguat optik terdiri dari SOA, divider, EDFA dan combiner yang disusun secara parallel in-line. Konfigurasi tersebut bertujuan untuk mengetahui karakteristik penguat SOA dan EDFA kemudian memanfaatkan keuntungan dan menghilangkan kerugian yang dimiliki masing-masing penguat.
3.3 MODEL PERANCANGAN SISTEM KOMUNIKASI KABEL LAUT (SKKL)
Perancangan sistem pada penelitian ini berdasarkan analisis. Secara umum pada simulasi Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) pada penelitian ini menggunakan 10 kanal transmitter yang akan disalurkan ke beberapa landing station. Berdasarkan pada Tabel 3.1 dapat diketahui untuk parameter dari perangkat transmitter, perangkat transmisi serta perangkat receiver dalam penulisan penulisan ini.
3.4 PARAMETER TRANSMISI
Berikut merupakan parameter transmisi atau parameter pengirim yang digunakan pada simulasi pemodelan sistem penelitian ini.
Blok Penerima (Receiver)
30
Tabel 3.1 Parameter Pengirim (Transmitter)
No Parameter Nilai
Pada tabel 3.1 dapat diketahui parameter-parameter yang digunakan pada pengirim (transmitter) sesuai dengan spesifikasi kontrak dari Indonesia Global Gateaway (IGG).
Tabel 3.2 Alokasi Frequency 100 Ghz
No. Frequency (100 THz) RKT - KLM (10 wl)
Pada tabel 3.2 diatas merupakan parameter pengirim (transmitter) dengan frequency 100 Ghz dan kode untuk jaringan yang menghubungkan antara Rungkut (Jawa) dan Kaliasem (Bali) dengan alokasi frequency sebanyak 10 wl.
3.5 PARAMETER MEDIA TRANSMISI
Berdasarkan pada Tabel 3.3 yang mengacu pada ITU-T.G.654.D. Tabel 3.3 parameter transmisi yang berlaku pada submarine cable system tidak jauh berbeda dengan parameter pada jaringan terrestrial pada umumnya, seperti kabel yang digunakan pada jaringan terrestrial dan pada jaringan submarine cable hampir sama, hanya saja pada jaringan submarine cable menggunakan kabel dengan lapisan yang lebih tebal dibandingkan dengan jaringan terrestrial, hal ini dilakukan untuk melindungi inti kabel (core) agar tidak rentan putus.
31
Tabel 3.3 ITU-T.G.654.D
Attribute Detail Value
Attenuation Coefficient Wavelength 1550 nm
1550 nm 0.16 dB/Km
Typical Chromatic Dispersion Parameters
D1550 16 ps/nm.km
S1550 0.075 ps/nm.km
Dispersi menyebabkan terjadinya pelebaran pulsa dan pelebaran panjang gelombang, penumpukan panjang gelombang menjadi satu gelombang, hal ini disebabkan karena perbedaan waktu sampai antara panjang gelombang yang satu dengan panjang gelombang lainnya. Selain factor disperse, factor atau parameter lainnya yang berpengaruh pada kualitas pengirim atau pada proses penstransmisian ialah redaman kabel per kilo-meter atau lebih dikenal dengan istilah attenuation (dB/Km), yang artinya setiap satu kilometer terdapat redaman atau penurunan daya optik sebesar“x”dB.
3.6 KONFIGURASI PENELITIAN
Gambar 3.7 Peta Link Jawa-Bali [19]
Pada penelitian ini mengambil jalur yang menghubungkan Jawa (Rungkut) dan Bali (Kali Asem) dimana untuk menghubungkan jalur tersebut dengan menggunakan sistem komunikasi kabel laut (SKKL). Agar penghubungan jalur tidak terlalu banyak redaman dikarenakan jarak yang jauh, maka memerlukan
32
amplifier untuk memperkuat. Konfigurasi repeater yang digunakan yaitu Repeatered dan repeaterless. Pada konfigurasi Repeatered menggunakan booster amplifier, in-line amplifier, dan pre-amplifier. Sedangkan pada konfigurasi repeaterless menggunakan booster amplifier dan pre-amplifier. Pada penelitian ini penguat akan disusun dengan menggunakan konfigurasi parallel in-line.
Parameter yang harus di perhatikan antara lain jarak antar penguat (repeater), power input pada repeater, power output pada repeater dan optical power.
Sedangkan untuk parameter-parameter output yang harus di perhatikan ialah Q-factor, Bit Error Rate (BER), Power Receiver, dan Signal to Noise Ratio (SNR).
Tabel 3.4 Panjang Kabel Branching Unit (BU)
No. Connection
Pada Tabel 3.4 menjelaskan mengenai panjang kabel branching unit (BU) yang digunakan berdasarkan koneksi antar link Jawa (Rungkut) – Bali (Kali Asem). Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui panjang Double Armoured (DA) cable 0.00 km, Single Armoured (SA) cable 442.04 km, Light Weight Protected (LWP) cable 0.00 km, dan Light Weight (LW) 0.00 km. Rincian panjang kabel berdasarkan Tabel 3.4 total panjang kabel yang digunakan yaitu 442.04 km.
3.7 SKENARIO PENGAMBILAN DATA
Tabel 3.5 Skenario Pengambilan Data
No. Pengambilan Data Keterangan
1 Daya 0 dBm, 2 dBm, 4 dBm, 6 dBm, dan 8 dBm
2 Simulasi Konfigurasi Repeaterless, Repeater-ed, dan Parallel in-line
3 Parameter Q-Factor, BER (Bit Error Rate), Power Receiver, SNR (Signal to Noise Ratio)
4 Rentang Frequency 100 GHz
Skenario pengambilan data yang terdapat pada Tabel 3.5 dengan menggunakan daya 0 dBm, 2 dBm, 4 dBm, 6 dBm, dan 8 dBm. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan konfigurasi Repeaterless, Repeater-ed, dan Parallel in-line dengan rentang frequency 100 GHz. Parameter yang digunakan
33
untuk menentukan nilai dari Q-Factor, BER (Bit Error Rate), Power Receiver, SNR (Signal to Noise Ratio).
3.8 MODEL PERANCANGAN DARI PENELITIAN 3.8.1 Blok Pengirim (Transmitter)
Blok pengirim (Trannsmitter) yang terdiri dari Pseuso Random Bit Sequence Generator, NRZ Pulse Generator, Mach-Zehnder Modulator, CW Laser dan WDM Mux. Pulse Bit Sequence Generator merupakan representasi sinyal biner yang digunakan. Pada simulasi ini Bit Sequence Generator yang digunakan yaitu Pseuso Random Bit Sequence Generator yang berfungsi sebagai sinyal acak dan memiliki pola tertentu. NRZ Pulse Generator merupakan jenis Optical Pulse Generator (OPG) yang digunakan untuk menghasilkan bit – bit yang berbentuk domain elektrik untuk diubah ke bentuk pulsa dalam domain optik. Mach-Zehnder Modulator (MZM) merupakam suatu modulator eksternal yang menggunakan efek elektro-optik. CW Laser (Continuous-Wave Laser) merupakan optical source yang digunakan sebagai sumber cahaya pada sistem komunikasi optik yang berfungsi sebagai pembawa (carrier). WDM Mux digunakan untuk menggabungkan beberapa panjang gelombang sinyal menjadi satu serat untuk transmisi. WDM Multiplexer 10 : 1 digunakan untuk menggabungkan 10 sinyal optik agar dapat ditransmisikan melewati sebuah serat optik tunggal.
Pada blok transmitter terdapat beberapa konfigurasi antara lain konfigurasi bit rate, frequency, dan power. Kanal yang digunakan pada blok pengirim (transmitter) sebanyak 10 wavelength untuk masing - masing frequency. Pada frequency 100 GHz sebanyak 10 wavelength. Alokasi frequency 100 GHz terdapat pada tabel 3.2. Pada gambar 3.8 merupakan bagian simulasi blok pengirim (transmitter) dengan frequency 100 GHz.
34
Gambar 3.8 Blok Pengirim (Transmitter) 100 GHz 3.8.2 Blok Transmisi
Perangkat yang terdapat pada blok transmisi antara lain SMF (Single Mode
Perangkat yang terdapat pada blok transmisi antara lain SMF (Single Mode