• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARAMETER

pH Suhu DO

24 0 7,11 27 7,40 1 7,56 26,7 7,20 2 7,76 26,3 7,04 3 7,65 26,3 7,20 4 6,98 27 6,85 5 6,80 26 6,35 48 0 7,27 27 6,32 1 7,27 27 6,20 2 6,80 26,7 5,43 3 6,85 26,3 5,20 4 6,75 26 4,95 5 6,70 27,3 4,50 72 0 7,34 26,7 6,34 1 7,08 26,7 5,75 2 7,10 27 5,22 3 6,82 26 5,08 4 6,85 26 4,75 5 6,85 27 4,12 96 0 7,42 27 6,37 1 7,10 26,7 5,85 2 7,60 26,7 5,43 3 6,87 27 4,65 4 6,87 26,3 4,33 5 6,85 26 3,95

Sumber : Hasil Analisa di Laboratorium riset Jurusan Teknik Lingkungan

Data yang digunakan di atas adalah nilai rata – rata yang diambil pada tiga replikasi percobaan yang dilakukan di laboratorium riset, dalam penelitian kali ini

34

dilakukan dengan tiga replikasi dimana replikas A, replikasi B, replikasi C. Dan setelah itu diambil sebuah rata-rata.

4.3.3 Pengamatan Secar a Visual Kondisi Ikan Setela h Ter kena Toksikan Dari hasil penelitian dapat dilihat langsung kondisi dari biota uji yang dalam hal ini biota uji yang dimaksud adalah ikan Nila, dimana ikan nila termasuk golongan ikan yang mudah mati jika terjadi perubahan kondisi pada air yang di tempat hidup, begitu halnya dengan kondisi ikan Nila ini pada saat dilakukan penelitian, karena secara otomatis ikan berada pada kondisi tertentu dimana ada beberapa kondisi air yang nantinya akan dibuat hidup ikan, dengan itu kita dapat membandingkan bagaimana kondisi ikan pada waktu belum terkena limbah.

Dibawah ini adalah gambar ikan nila yang sudah mati pada kondisi – kondisi tertentu dan ikan Nila yang terdapat pada Gambar 4.5 dan 4.6 sebagai berikut :

Gambar 4.5 Foto kondisi ikan mati pada uji toksisitas dengan konsentrasi 5% pada 96 jam (hari ke 4)

Dengan adanya bukti mengenai kematian dari hasil penelitian, maka kita bisa mengamati secara visual langsung, dengan apa yang terlihat di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa :

1. Perbedaan sangat jelas terlihat antara kondisi fisik dari ikan yang belum terkena limbah dengan ikan yang sudah terkena limbah

2. Pada ikan yang mati pada konsentrasi 5% pada 96 jam bisa dilihat bahwa kondisi fisik dari ikan adalah sisik rusak, tubuh berwarna hitam, dan sirip-sirip dari ikan rusak, jelasnya bisa dilihat di atas.

4.4 Per hitungan LC50

Menurut Peltier (1978) ada tiga macam cara yang digunakan untuk menghitung LC50 yang pertama adalah Metode Kalkulasi Grafik (Straight-line Graphical Interpolation), yang kedua adalah Metode rata-rata sudut bergerak (Moving Everage Interpolation), dan yang ketiga adalah Metode Lithfield – Wilcoxon (Lithfield-Wiloxon Abbreviated Method). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Kalkulasi Grafik.

36

Kita dapat menghitung Lethal Concentration 50 (LC50) dengan memasukkan data – data kematian biota uji pada suatu grafik semi logaritmik, seperti di bawah ini adalah data kematian biota uji pada Tabel 4.6 sebagai berikut: KONSENTRASI TOKSIKAN (% ) MORTABILITAS BIOTA (% ) 0 0 1 20 2 30 3 70 4 90 5 100

Sumber : Hasil analisa di laboratorium Riset Jurusan teknik Lingkungan

Data yang diatas adalah data kematian biota uji yang diambil berdasarkan rata – rata kematian biota uji selama penelitian Uji Toksisitas akut, dengan cara mengambil rata – rata kematian maka kita telah mendapatkan nilai diatas.

Dengan adanya data di atas maka perhitungan LC50 dapat dilakukan, di bawah ini adalah tabel semi logaritmik untuk mencari LC50 pada Gambar 4.6 sebagai berikut :

Prosentase Konsentrasi Toksikan

LC50 = 2,4%

Keterangan : Nilai LC50

38

1. Menyiapkan kertas semi logaritma

2. Masukkan nilai y = mortabilitas biota (%), karena mencari nilai LC50

maka yang dimasukkan mortabilitas biota 30% dan 70%

3. Masukkan nilai x = konsentrasi toksikan (%), yang digunakan dimasukkan konsentrasi 2% dan 3%.

4. Nilai x dan y dihubungkan, mortabilitas biota 30% dihubungkan dengan konsentrasi toksikan 2% sedangkan mortabilitas 70% dihubungkan dengan konsentrasi 3%.

5. Untuk mencari kematian 50% maka ditarik nilai y sebesar 50% maka akan didapatkan nilai x (konsentrasi toksikan) yaitu 2,4%.

Dari gambar di atas dapat diketahui nilai prosentasi konsentrasi toksikan LC50 yaitu 2,4% . Dalam perhitungan LC50 cara metode kalkulasi grafik ini adalah yang paling mudah, karena metode ini memberikan gambaran secara cepat distribusi data konsentrasi efek (Mangkoediharjo, 1999)

4.5 Pembahasan

Dalam penelitian ini digunakan diffuser, keadaan ini berbeda dengan keadaaan di lapangan yang sebenarnya. Diffuser dalam penelitian ini digunakan untuk menambah kadar oksigen, sehingga jika ada ikan yang mati bukan karena kekurangan oksigen melainkan karena toksikan yang diberikan.

Sebelum penelitian dilakukan, terlebih dahulu dilakukan analisa pendahuluan yaitu analisa air pengencer. Air pengencer yang digunakan adalah air kali. Air kali ini ini dipakai karena sebagai tempat pembuangan atau effluent dari

industri limbah laundry. Dan juga merupakan kriteria dari air pengencer menurut mangkoediharjo, 1999. Parameter yang dianalisa pH, suhu, DO, TSS dan MBAS (detergent). Analisa pendahuluan selanjutnya yaitu analisa terhadap limbah laundry. Parameter yang dianalisa pH, suhu, DO, TSS dan MBAS (detergent).

Tahap selanjutnya adalah tahap aklimatisasi, tahap aklimatisasi dilakukan dengan tujuan agar ikan uji dapat beradaptasi dengan air pengencer yang digunakan, sehingga kematian ikan yang terjadi selama pengujian bukan disebabkan ketidakmampuan ikan dalam beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Aklimatisai dilakukan selama 7 hari, selama tahap ini pengukuran ph, suhu dan DO dilakukan setiap hari. Ikan nila yang digunakan ikan nila yang berukuran 3 – 4 cm.

Untuk pencarian LC50 dilakukan 2 tahap yaitu yang pertama uji pencarian kisaran (Range Finding Test), dalam pencarian kisaran ini dilakukan 3 kali pencarian. Pencarian kisaran 1 dengan konsentrasi limbah laundry 0%(sebagai kontrol), 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% . Pada kisaran 1 tersebut kematian ikan 100% terjadi dalam waktu 24 jam, karena yang diinginkan kematian ikan 100% dalam waktu 4 hari (96 jam) maka dilakukan kembali pencarian kisaran ke 2 dengan konsentrasi yang lebih kecil yaitu konsentrasi limbah laundry 0% (sebagai kontrol), 6%, 8%, 10%, 12% dan 14%. Karena kematian ikan 100% dalam waktu 2 hari (48 jam) maka dilakukan kembali pencarian kisaran ke 3 dengan konsentrasi limbah laundry 0% (sebagai kontrol), 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%. Dalam pencarian kisaran ke 3 ini kematian ikan terjadi dalam waktu 4 hari (96

40

jam) maka konsentrasi ini yang akan digunakan untuk uji selanjutnya yaitu uji toksisitas akut (Acute Toxicity Test)

Tahapan selanjutnya adalah uji toksisitas akut (Acute Toxicity Test), pada tahap ini digunakan konsentrasi limbah laundry 0% (sebagai kontrol), 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%. Tahap uji toksisitas ini dilakukan selama 4 hari (96 jam), setiap harinya dianalisa pH, suhu dan DO. Untuk mencari nilai LC50 menggunakan metode kalkulasi grafik, karena metode ini memberikan gambaran secara cepat (Mangkoediharjo, 1999) didapatkan nilai LC50 sebesar 2,4%.

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Dengan menggunakan Metode kalkulasi Grafik, tingkat toksisitas limbah laundry yang menyebabkan LC50 adalah sebesar 2,4%.

2. Toksisitas akut limbah laundry dapat menyebabkan gangguan fisik biota uji (ikan nila) antara lain : a. Sirip dan ekor ikan rapuh ; b. Kulit ikan menjadi berwarna kuning

5.2 Sar an

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kondisi fisik biota uji bukan hanya fisik luar, melainkan kondisi organ tubuh dari ikan nila setelah terkena limbah laundry misalnya kerusakan insang.

Dokumen terkait