• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedawung tersebar di seluruh Indonesia baik di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Taman Nasional Meru Betiri merupakan habitat alami bagi kedawung (Kosasih et al. 2012). Kedawung yang ada di Taman Nasional Meru Betiri paling banyak ditemukan pada ketinggian 0-500 m dpl dan kelas kemiringan 41-60% (Zuhud 2007). Kulit dan biji kedawung merupakan bagian pohon kedawung yang dimanfaatkan. Kulit kedawung dimanfaatkan untuk mengobati penyakit kulit (kudis), sedangkan bijinya digunakan untuk mengobati penyakit perut (anti diare) dan karminatif (Heyne 1987). Biji muda kedawung oleh masyarakat Jawa Barat dikonsumsi sebagai pengganti petai, namun rasanya pahit dan bau. Masyarakat yang ada di sekitar KPH Bayuwangi Utara diketahui memanfaatkan biji kedawung (Birgantoro dan Nurrochmat 2007). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih mengambil biji kedawung dari alam. Apabila hal ini berlangsung terus tanpa adanya langkah budidaya, maka lama kelamaan kedawung akan langka dan terancam punah (Siswoyo et al. 1993). Status kelangkaan

Kedawung masuk dalam 200 tumbuhan langka Indonesia (LIPI 2001). Sejarah penanaman

Spesies ini awalnya ditanam oleh Menteri Kehutanan, Bapak Djamaluddin S pada tahun 1994. Penanaman dilakukan ketika HAPKA. Bibit kedawung berasal dari Taman Nasional Meru Betiri. Awalnya, kedawung ditanam di depan Arboretum Fahutan, depan Gedung Utama (GU), namun dipindahkan ke samping sekretariat Hutan Pendidikan Gunung Walat atau di belakang Ruang Sidang Sylva.

Lokasi dan koordinat tempat tumbuh

Kedawung dapat dijumpai di Kampus IPB Darmaga, tepatnya di kompleks Fakultas Kehutanan, di sebelah sekretariat Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) dengan koordinat 06.55736̊ LS dan 106.72886̊ BT.

(a) (b)

25 17. Pericopsis mooniana Thwaites.

Deskripsi singkat

Pohon ini penyebarannya cukup luas, meliputi Sri Lanka, Semenanjung Malaysia, Filipina, New Guinea, dan Indonesia. Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi, dan Maluku merupakan daerah peneyebaran kayu kuku di Indonesia. Habitat tumbuh kayu kuku yaitu di sepanjang sungai pada ketinggian 200-350 m dpl dengan curah hujan 750-2000 mm/tahun.Tumbuhan ini tumbuh pada tanah regosol, podsolik merah, dan aluvial (Daris et al. 2004).

Batang merupakan bagian yang dimanfaatkan dari kayu kuku. Selain itu, kayu pohon ini termasuk kayu mewah dan banyak dipergunakan untuk bahan dekoratif pengganti kayu jati. Ancaman terbesar terhadap kayu kuku ialah penebangan yang berlebihan untuk memenuhi permintaan pasar. Ancaman lainnya yaitu lambatnya regenerasi kayu kuku (UNEP-WCMC 2014). Ishiguri et

al. (2011) serta Lillesoe dan Jafarsidak (1996) diacu dalam Kjaer et al. (2001)

menyarankan untuk melakukan penanaman guna menghindari kepunahan dan erosi genetik spesies ini.

Status kelangkaan

Kayu kuku masuk kategori vulnerable (IUCN 2014) dan 200 spesies tumbuhan langka Indonesia (LIPI 2001).

Sejarah penanaman

Sejarah penanaman yang meliputi tahun ditanam, orang yang menanam, dan asal bibit tidak diketahui.

Lokasi dan koordinat tempat tumbuh

Kayu kuku ditemukan di kompleks Fakultas Kehutanan, yaitu di belakang bangunan Rearing of Termites Unit DHH, belakang Gedung Utama, dan Laboratorium Konservasi Eksitu Tumbuhan Obat Hutan Tropika DKSHE. Koordinatnya berturut-turut 06.55686̊ LS dan 106.72919̊ BT, 06.55734̊ LS dan 106.72887̊ BT, serta 06.55668̊ LS dan 106.72869̊ BT.

(a) (b)

26

18. Rauvolfia serpentina Benth. ex Kurz. Deskripsi singkat

Pule pandak masuk dalam suku kamboja-kambojaan (Apocynaceae), sama dengan pulai. Tumbuhan ini biasa ditemukan di pekarangan rumah sebagai tanaman hias (Dalimartha 2004). Penyebaran pule pandak meliputi India, Myanmar, Thailand, dan Indonesia (Sulandjari 2008). Pule pandak banyak ditemukan di kawasan hutan jati yang gersang seperti di Kab. Grobogan, Blora dan Banjarnegara (Departemen Pertanian 2013). Tumbuhan ini tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m dpl pada spesies tanah regosol, mediteran, dan litosol serta menyukai naungan di bawah 25% (Sarin 1982; Tyler et al. 1988 diacu dalam Sulandjari 2008).

Pule pandak dimanfaatkan sebagai obat untuk penyakit tekanan darah tinggi, hiperaktif saraf simpatis, bisul, kudis, biduran penawar bisa ular, dan gigitan serangga (Departemen Pertanian 2013). Melihat potensi pule pandak yang cukup besar, masyarakat mulai memanfaatkan pule pandak secara besar-besaran. Data menunjukkan bahwa bahwa penggunaan simplisia dalam negeri pada tahun 2000 sebesar 6898 kg dan cenderung mengalami kenaikan sebesar 25.89% tiap tahunnya (Yahya 2001). Propagasi pule pandak juga sulit dilakukan kerena rendahnya biji yang viable. Akibatnya populasinya di alam semakin turun (Dey dan De 2011).

Status kelangkaan

Pule pandak masuk dalam kategori tumbuhan langka Indonesia (LIPI 2001) dan App.II CITES.

Sejarah penanaman

Bibit pule pandak dibawa oleh tim peneliti Laboratorium Konservasi Tumbuhan DKSHE dari Taman Nasional Meru Betiri. Selain itu bibit pule pandak juga dibawa oleh Basori dari Hutan Jati Randublatung pada tahun 1993.

Lokasi dan koordinat tempat tumbuh

Pule pandak ditemukan di kompleks Fakultas Kehutanan tepatnya di Laboratorium Konservasi Eksitu Tumbuhan Obat Hutan Tropika dengan koordinat 06.55675̊ LS dan 106.72864̊ BT.

27 19. Santalum album L.

Deskripsi singkat

Tanaman cendana (Santalum album L.) merupakan jenis dari famili Santalaceae. Cendana adalah tanaman kehutanan yang sangat istimewa karena nilai ekonomi dan guna kayunya yang sangat tinggi dengan diperjualbelikan dalam satuan kilogram. Kayu yang berbau wangi ini digunakan sebagai bahan baku ukiran, berbagai barang kerajinan. Kayu yang disuling menghasilkan minyak atsiri dan dapat digunakan sebagai bahan kosmetik dan obat. Minyak ini telah diperdagangkan secara mancanegara maupun di Indonesia sejak abad ke-10. Namun, dewasa ini populasi tanaman semakin menurundan kayunya semakin langka dalam perdagangan (Prasetyaningtyas 2004).

Cendana dapat ditemukan mulai dari India sampai Polinesia (Prasetyaningtyas 2004), sedangkan di Indonesia dapat ditemukan terutama di Nusa tenggara Timur, Sulawesi Tengah, dan Maluku. Cendana dapat tumbuh pada lahan kurus yang berbatu-batu, bertekstur lempung dan pH tanah netral, alkalis. Cendana dapat tumbuh pada ketinggian 0-1800 m dpl dengan curah hujan 600-2000 mm/tahun (Prasetyaningtyas 2004).

Status kelangkaan

Cendana masuk dalam kategori vulnerable (IUCN 2014). Sejarah penanaman

Cendana yang ada di depan Balairung Fakultas Kehutanan ditanam oleh Bapak Endang Husaeni. Namun tidak diketahui tahun penanaman dan asal bibitnya.

Lokasi dan koordinat tempat tumbuh

Cendana dapat ditemukan di depan Balairung Fakultas Kehutanan dengan koordinat 06.55796̊ LS dan 106.72855̊ BT serta 06.55794̊ LS dan 106.72864̊ BT.

28

20. Scorodocarpus borneensis Becc.

Dokumen terkait