HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.4 Analisis Regresi Linear Berganda .1 Koefisien Determinan (R2) .1 Koefisien Determinan (R2)
4.2.4.3 Uji Parsial/Uji Individu (Uji-t)
Untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak digunakan statistik T (uji-T). Jika thitung < ttabel, maka H0
diterima atau Ha ditolak, sedangkan jika thitung >ttabel, maka H0 ditolak
dan Ha diterima. Jika tingkat signifikansi di bawah 0,10 maka H0
ditolak dan Ha diterima. Pengujian uji T dilakukan dengan
menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS) versi 16,00 for windows. Hasil pengolahan dari uji T dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut ini:
Tabel 4.15 Uji T Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.970 .641 3.073 .003 IlmuPengetahuanatauKnowledge .728 .068 .771 10.762 .000 KepribadianatauSikap .182 .041 .282 4.409 .000 SkillatauKeterampilan -.111 .056 -.134 -1.993 .049 a. Dependent Variable: MotivasiMahasiswaUntukMenjadiYoungEntrepreneur
Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 16,00 (Agustus2012) Kriteria Pengambilan Keputusan yaitu:
H0 diterima, apabila thitung < ttabel pada α = 10%
Ha diterima, apabila thitung > ttabel pada α = 10% Representasi dari Coeffisients yaitu:
a.Variabel ilmu pengetahuan (knowledge) (X1) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi
young entrepreneur, hal ini terlihat dari nilai signifikan 0,000 < 0,10 dan nilai thitung (10,762) > ttabel (1,290). Artinya, jika ditingkatkan
variabel ilmu pengetahuan (knowledge) sebesar satu satuan maka motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur (Y) akan meningkat sebesar 0,728 satuan.
b.Variabel kepribadian atau sikap (X2) berpengaruh secara positif
dan signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur, hal ini terlihat dari nilai signifikan 0,000 < 0,10
dan nilai thitung (4,409) > ttabel (1,290). Artinya, jika ditingkatkan
variabel kepribadian atau sikap sebesar satu satuan maka motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur (Y) akan meningkat sebesar 0,182 satuan.
c.Variabel skill atau keterampilan (X3) berpengaruh secara negatif dan tidak signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi
young entrepreneur, hal ini terlihat dari nilai signifikan 0,049 < 0,10 dan nilai thitung (-1,193) < ttabel (1,290). Artinya jika ditingkatkan
variabel skill atau keterampilan sebesar satu satuan maka motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur (Y) tidak akan berkurang sebesar -0,111 satuan.
d.Konstanta sebesar 1,970 artinya walaupun variabel bebas bernilai nol maka motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur
tetap sebesar 1,970.
e.Berdasarkan hasil uji t maka rumus persamaan regresinya adalah: Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
Y = 1,970 + 0,728X1 + 0,182X2 + (-0,111)X3 + e 4.3 Pembahasan
Berdasarkan uji secara serempak/simultan (Uji F), hasil yang ditunjukkan bahwa variabel independen (ilmu pengetahuan (knowledge), kepribadian atau sikap, skill atau keterampilan) secara serempak adalah signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur. Hasil uji T (uji secara parsial), variabel ilmu pengetahuan, kepribadian atau sikap berpengaruh positif
dan signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur. Sedangkan variabel skill atau keterampilan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur.
Berdasarkan hasil uji di atas, untuk variabel ilmu pengetahuan dapat ditarik kesimpulan bahwa kesadaran mahasiswa akan pemahaman kewirausahaan sebagai ilmu pengetahuan merupakan hal yang dapat memotivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur. Hal ini didukung oleh Lupiyoadi (2007:39) yang menyimpulkan bahwa
seorang wirausaha yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang serta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha sebagai sarana untuk mencapai tujuan, pendidikan di sini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berfikir.
Berdasarkan variabel kepribadian atau sikap setelah pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa termotivasi untuk menjadi young entrepreneur karena memiliki kepribadian atau sikap menjadi entrepreneur. Menurut Sarasson (dalam Lupiyoadi, 2007:11),
sifat wirausaha adalah hasil proses belajar bila seorang individu dewasa sebelumnya yakin bahwa dia dapat dan mampu mengadopsi cara-cara tingkah laku baru, khususnya untuk mengubah kepribadiannya, maka kemungkinan keberhasilannya akan lebih besar. Dan teori ini membuktikan bahwa siapapun dapat menjadi seorang wirausaha kalau ia mau dan tekun.
Berdasarkan variabel skill atau keterampilan setelah pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua mahasiswa mempunyai skill atau keterampilan yang memadai sehingga termotivasi untuk menjadi young entrepreneur. Oleh sebab itu, mereka harus lebih banyak belajar untuk lebih
berkreasi dan berinovasi akan sesuatu hal. Hal ini dipererat oleh pernyataan dari Hendro (2011:31) bahwa kewirausahaan adalah penggabungan dua konsep penting dari pengetahuan dan pengalaman yang dirasakan serta dilakukan melalui jatuh bangun untuk menjadi terampil dan akhirnya menjadi sebuah keahlian dalam menjalankan roda bisnis.
Jika dibandingkan dengan peneliti terdahulu Angki Adi Tama dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Faktor-Faktor yang Memotivasi Mahasiswa Berkeinginan Menjadi Entrepreneur” bahwa variabel keberhasilan diri, toleransi akan resiko, kebebasan dalam bekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap keinginan mahasiswa untuk menjadi entrepreneur. Sedangkan dalam penelitian ini, variabel ilmu pengetahuan (knowledge) dan kepribadian atau sikap berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi young entreprenur, tetapi variabel skill atau keterampilan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian di atas bahwa mahasiswa sudah memahami mengenai kewirausahaan karena telah mempelajari materi perkuliahan sebelumnya. Tetapi tidak semua mahasiswa akan langsung termotivasi untuk menjadi young entrepreneur setelah memahami mengenai kewirausahaan. Beberapa variabel yang telah diuji seperti variabel ilmu pengetahuan (knowledge) dan kepribadian dan sikap berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur.
Dapat diartikan bahwa dengan modal ilmu pengetahuan mengenai kewirausahaan, mahasiswa akan percaya diri mengembangkan usahanya menuju menjadi young entrepreneur yang sukses. Kepribadian dan sikap yang tumbuh dalam jiwa mahasiswa dan merupakan karakteristik wirausaha akan memotivasi mahasiswa untuk menjadi young entrepreneur. Sedangkan memiliki skill atau keterampilan tidak menjamin mahasiswa termotivasi untuk menjadi young entrepreneur.
Berdasarkan penelitian ini, beberapa faktor yang menunjukkan bahwa skill
atau keterampilan tidak membuat mahasiswa termotivasi untuk menjadi young entrepreneur seperti mahasiswa tidak menghasilkan ide-ide cemerlang dan hasil kreasi yang unik. Pada masa sekarang ini, banyak inovasi dan kreasi baru yang dimunculkan oleh berbagai kawula muda terhadap barang hasil kerajinan tangan atau jenis lainnya, banyak saingan yang memunculkan ide-ide yang cemerlang. Tetapi dalam hal ini, mahasiswa program studi manajemen ekstensi fakultas ekonomi Universitas Sumatera Utara tidak selalu dapat mengeluarkan ide, prakarsa, dan hasil kreasi yang unik yang mengakibatkan mereka cenderung kalah bersaing dalam dunia usaha.