2. Wacana tentang Partai Komunis Indonesia dalam Berita tantang Caleg Eks PKI
2.1. Partai Komunis Indonesia dalam Surat Kabar Kompas
Wacana tentang Partai Komunis Indonesia kembali mengemuka menjelang pemilu legislatif tahun 2004, ketika Mahkamah Konstitusi menganulir Undang-Undang pemilu yang melarang mantan anggota PKI untuk menjadi calon legislatif. Berbeda dengan saat Gus Dur mengusulkan pencabutan tap tentang komunisme, Kompas menurunkan jumlah berita relatif kecil dibandingkan dengan berita tentang usulan pencabutan Tap. Strategi wacana yang dikembangkan pun terlihat cukup menarik, Kompas melegitimasi PKI sebagai pihak yang menjadi korban, sedangkan wacana-wacana produk Orde Baru yang mendelegitimasi PKI menjadi wacana pinggiran, hanya disinggung sekilas dalam berita. Kompas juga
menyoal bangunan wacana tentang PKI dan komunisme yang dikembangkan oleh Orde Baru.
2.1.1. Tematik
Dalam berita tentang caleg eks PKI, ada dua tema utama yang diturunkan oleh Kompas, tentang perlakuan diskriminatif terhadap PKI dan mengenai peluang untuk meluruskan sejarah bangsa Indonesia, terutama menyangkut peristiwa yang terjadi pada tahun 1965. Tema diskriminasi disusun dari beberapa sub tema yang mendukung, misalnya tentang orang-orang PKI yang dikekang oleh berbagai peraturan dari tingkat pusat sampai daerah, dirampas haknya, PKI juga digambarkan sebagai pihak yang dimarjinalkan. Mengenai tema pelurusan sejarah, Kompas menjelaskan bahwa kampanye anti PKI yang dilakukan oleh rezim Orde Baru tidak lebih sebagai alat politik Soeharto untuk menyingkirkan lawan politiknya, termasuk para pendukung Soekarno. Kompas juga menjelaskan posisi ideologi komunis dengan menyatakan bahwa sebagai ideologi, komunisme telah bangkrut dan tidak punya daya tawar lagi sehingga tidak perlu ditakuti.
2.1.2. Skematik
Dari segi skematik, Kompas menyusun bagian berita -judul, lead dan
story- sedemikian rupa sehingga sejalan dengan tema utama yang ingin
disampaikan, yakni menggambarkan PKI secara legitimate. Dari judul yang digunakan, Kompas menyambut positif keputusan Mahkamah Konstitusi dan melihat implikasi positif keputusan itu bagi bangsa Indonesia. Hal itu bisa dilihat
dari tiga judul berita yang dipakai; “Putusan Mahkamah Konstitusi soal Eks PKI Terobosan buat Bangsa” (Kompas, 26-02-2004), Pascaputusan MK soal Eks Anggota PKI Perjalanan Masih Panjang” (Kompas, 01-03-2004) dan “Penghapusan Pasal Diskriminasi Beri Peluang Pelurusan Sejarah” (Kompas, 02-03-2004). Kompas menilai putusan MK sebagai terobosan bagi bangsa, terutama mengenai pihak-pihak yang selama ini diperlakukan secara diskriminatif, dengan adanya putusan tersebut, diharapkan perlakuan diskriminatif terhadap orang-orang PKI bisa dihilangkan. Namun dalam judul berita kedua Kompas menjelaskan, perjuangan untuk menghilangkan diskriminasi terhadap orang-orang PKI masih butuh waktu dan perjuangan lagi, sebab masih ada beberapa undang-undang yang melarang orang-orang PKI masuk dalam lembaga-lembaga pemerintah, termasuk pemilihan kepala daerah. Dalam berita ketiga Kompas menegaskan, selain menghapuskan diskriminasi, keputusan MK juga bisa menjadi peluang untuk meluruskan sejarah bangsa, terutama yang terjadi pada tahun 1965.
Judul berita di atas dijabarkan lagi dalam lead berita, tentunya Lead yang digunakan Kompas juga sejalan dengan tema utama. Idealnya, lead adalah sebuah ringkasan yang menggambarkan isi berita secara keseluruhan.
“Bisa diduga, putusan Mahkamah Konstitusi mengembalikan hak konstitusional eks anggota Partai Komunis Indonesia untuk menjadi calon anggota legislatif langsung mengundang reaksi pro kontra. Pemimpin Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menyatakan, putusan itu merupakan terobosan untuk menghilangkan diskriminasi. Masyarakat tak perlu khawatir atas bangkitnya komunisme yang tak populer dan tak punya daya tawar lagi.” (Kompas, 26-02-2004) “Banyak orang kaget dan terkejut ketika Mahkamah Konstitusi
mengeluarkan putusan berani mencabut larangan eks anggota Partai Komunis Indonesia dan organisasi terlarang lainnya untuk menjadi
calon anggota legislatif. Dalam satu kali putusan MK –yang usianya belum sampai satu tahun- menampilkan diri menjadi lembaga yang sangat determinan menentukan wajah politik Indonesia. MK mampu membuat terobosan atas sebuah masalah yang sudah beberapa tahun diperjuangkan secara politik dan tak kunjung selesai.” (Kompas, 01-03-2004)
Pada lead pertama, kita melihat Kompas seakan-akan memposisikan diri sebagai sebagai pihak netral, dengan menyatakan bahwa keputusan Mahkamah Konstitusi sebagai sesuatu yang pro-kontra, sebuah sikap yang lazim dilakukan Kompas ketika menghadapi suatu masalah yang berbau kontroversi. Namun dalam
lead tersebut Kompas hanya menampilkan berita yang setuju dengan keputusan
MK, yakni pendapat pimpinan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang menyatakan bahwa keputusan MK bisa menghapuskan diskriminasi terhadap orang-orang PKI. Dalam lead tersebut juga diungkapkan bahwa kita tidak perlu takut dengan kebangkitan kembali komunisme, sebab ideologi tersebut sudah tidak punya daya tawar lagi. Sedangkan pendapat pihak yang kontra dengan putusan MK sama sekali tidak dicantumkan dalam lead berita. Dengan hanya menampilkan pihak yang setuju dengan putusan MK, makna yang kemudian muncul adalah, secara implisit Kompas sebenarnya mendukung keputusan MK yang membolehkan eks anggota PKI menjadi calon legislatif dalam pemilu mendatang dan kita tidak perlu takut dengan ideologi komunis.
Pada lead kedua, Kompas tidak lagi berkutat pada pro-kontra mengenai keputusan MK, tapi lebih terfokus pada implikasi positif dari diperbolehkannya orang-orang eks PKI menjadi caleg. Keputusan MK dinilai bisa mengubah wajah politik Indonesia, sebagai titik tolak bagi proses komprehensif dalam mencapai rekonsiliasi atas suatu periode penting sejarah Indonesia. Orang-orang PKI atau
yang dituduh sebagai PKI, maupun pihak lain yang terlibat dalam konflik tahun 1965 diharapkan duduk bersama sebagai warga bangsa. Putusan MK juga dilihat sebagai titik terang dari usaha yang selama ini dilakukan untuk menghapuskan diskriminasi terhadap orang-orang PKI.
Pada lead lain, Kompas kembali menegaskan bahwa keputusan MK bisa mengubah nasib dan masa depan bangsa. Bahkan koran ini menyatakan bahwa keputusan MK bisa dijadikan momentum untuk membuka kembali sejarah penggulingan Presiden Soekarno, lihat kutipan berikut:
“Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang telah mencabut larangan bagi eks PKI sebagai calon legislatif adalah sebuah terobosan spektakuler yang dapat mengubah wajah dan nasib masa depan bangsa. Keputusan ini seharusnya dijadikan peluang bagi para pemimpin untuk meluruskan sejarah bangsa, terutama sejarah seputar penggulingan rezim Soekarno tahun 1965.” (Kompas, 02-03-2004)
Dalam lead di atas, Kompas menekankan perhatian pada peluang untuk meluruskan sejarah bangsa. Jika kita tengok kembali Peristiwa G30S, implikasi kejadian tersebut menyentuh beberapa kelompok, antara lain PKI, Presiden Soekarno, Soeharto dan Angkatan Darat. Mengenai peristiwa G30S, Kompas tidak lagi terpaku pada wacana dominan yang telah disebarkan oleh Orde Baru, yakni PKI sebagai aktor. Kompas justru melihat pada aspek kepemimpinan Bung Karno. Bung Karno diturunkan dari jabatan presiden RI karena -menurut wacana Orde Baru- diindikasikan terlibat, baik secara langsung maupun tak langsung dalam G30S. Pasca G30S, Kekuasaan Bung Karno perlahan-lahan digerogoti oleh cikal bakal Orde Baru, misalnya lewat Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dan ketetapan-ketetapan MPRS. Kompas melihat proses turunnya Bung Karno dan
naiknya Soeharto menggantikan Bung Karno masih terselubung misteri, karenanya masalah terebut perlu ditelusuri kembali.
Dalam uraian teks berita secara keseluruhan, Story atau isi berita Kompas secara dominan berisi sambutan positif terhadap keputusan MK soal caleg eks PKI, sedangkan komentar tentang kekhawatiran terhadap PKI dan komunisme hanya sedikit dibahas. Story atau isi berita biasanya terdiri dari dua bagian, peristiwa utama menjelaskan proses kejadian peristiwa dan latar pendukungnya serta komentar atau tanggapan terhadap peristiwa tersebut. Pada berita “Putusan Mahkamah Konstitusi soal Eks PKI Terobosan buat Bangsa” (Kompas, 26-02-2004), meskipun dalam lead berita dinyatakan bahwa putusan MK bersifat pro-kontra, secara keseluruhan teks berita tersebut cenderung positif. Peristiwa utama tentang putusan MK diuraikan dalam paragraf ketiga secara singkat, dan paragraf lainnya berisi komentar tentang putusan MK. Meskipun dalam lead berita Kompas menyatakan bahwa putusan MK menimbulkan pro-kontra, Kompas tidak bersungguh-sungguh melihatnya sebagai sesuatu yang kontroversial. Kompas melihatnya sebagai sesuatu yang positif, hal ini bisa dilihat dari judulnya yang menyambut putusan MK sebagai terobosan buat bangsa. Dari segi penyusunan teks berita juga memperlihatkan kecenderungan serupa, Kompas tidak menyusun berita secara dialogis atau saling menanggapi antara pendapat yang menerima dan menolak, sebagaimana dilakukan Kompas saat memberitakan usulan Gus Dur untuk mencabut Tap tentang komunisme. Dalam berita tentang putusan MK, Kompas menggunakan beberapa nara sumber, baik yang setuju maupun tidak dan menempatkan pendapat yang setuju dan tidak setuju secara terpisah. Dari dua
puluh lima paragraf secara keseluruhan, Kompas memaparkan pendapat pihak yang tidak setuju hanya dalam enam paragraf.
Pada paragraf pertama, Kompas mengutip pendapat ketua umum PBNU Hasyim Muzadi yang setuju jika orang-orang eks PKI menjadi caleg, dan tidak boleh ada warga negara yang diperlakukan secara diskriminatif. Pendapat tersebut didukung oleh Solahuddin Wahid dan ketua PP Muhammadiyah Syafii Ma’arif yang menyatakan bahwa semua warga negara, termasuk mantan tahanan politik, memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Mereka juga menghimbau agar tidak takut terhadap komunisme sebab komunisme sudah tidak punya daya tawar lagi, dan jika komunisme datang lagi, maka akan dihadapi secara baik dengan cara menghilangkan kondisi yang menyuburkan komunisme. Syafii menambahkan, semua pihak hendaknya berterus terang mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada masa itu, sehingga dendam dan konflik politik seperti yang terjadi pada masa lalu tidak terulang lagi. Pada paragraf berikutnya Kompas memuat pernyataan Wapres Hamzah Haz dan ketua umum DPP Golkar Akbar Tandjung, keduanya menyatakan bahwa sebenarnya tidak setuju dengan keputusan MK, namun karena sudah berupa keputusan final, keduanya menyatakan menerima putusan tersebut. Bahkan Akbar tandjung menyatakan, keputusan MK harus menjadi dasar dari penyusunan undang-undang berikutnya agar tidak lagi membatasi orang-orang eks PKI.
Sedangkan pihak yang tidak setuju dengan keputusan MK ditampilkan dalam teks berita dengan memberinya sub judul “Yang terkejut dan kecewa”, nara sumber yang dipakai adalah Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan
anggota DPR. Panglima TNI Jenderal Edriyatono Sutarto menyatakan terkejut dengan keputusan MK sebab pada masa lalu PKI telah berkali-kali melakukan penghianatan terhadap bangsa Indonesia. Ketua Komisi I DPR RI, Ibrahim Ambong juga menghawatirkan keputusan MK, sebab ideologi komunis memperbolehkan pertentangan kelas, jika hal itu diterapkan oleh orang-orang PKI di Indonesia, hal itu akan sangat berbahaya. Ketua Fraksi Partai Bulan Bintang (PBB) Hamdan Zoelva juga berpendapat serupa, keputusan MK dinilai tidak mengacu pada pengalaman sejarah dan akan menimbulkan gejolak baru dalam masyarakat.
Bagian akhir teks berita (edisi 26-02-2004) ini kembali menegaskan bahwa keputusan MK sebagai sesuatu yang layak disambut secara positif, Kompas menampilkannya dengan sub judul “Terobosan Spektakuler”. Nara sumber bagian ini antara lain anggota KPU Hamid Awaluddin yang menyatakan, keputusan MK merupakan terobosan spektakuler, bernilai komprehensif dan membawa implikasi positif sebab telah mengembalikan hak-hak politik warga negara berdasarkan prinsip kesamaan. Menurutnya, putusan MK bisa memutuskan mata rantai kesewenang-wenangan rezim otoriter, yang dengan gampang menuduh seseorang dengan label tidak bersih lingkungan. Dengan demikian, MK juga telah berusaha menghentikan terakumulasinya kebenaran sepihak oleh institusi tertentu. Aswi Marwan Adam, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga menyatakan bahwa sudah waktunya bagi kita untuk menyingkirkan diskriminasi terhadap bekas anggota PKI dan keluarganya.
Kompas memang menampilkan pihak-pihak yang tidak setuju dengan putusan MK dan menyatakan hal itu menimbulkan pro-kontra. Namun jika dilihat dari skema penyusunan berita secara keseluruhan, baik dari judul maupun lead berita, sebenarnya Kompas setuju dengan putusan MK yang mengakhiri diskriminasi terhadap orang-orang PKI. Apalagi jika dilihat dari sudut penempatan pendapat dan sumber berita, Kompas mengapit pendapat pihak-pihak yang tidak setuju dengan pendapat yang setuju dengan putusan MK, sehingga pernyataan pihak yang tidak setuju terlihat sebagai pendapat yang terkucilkan atau minoritas.
Strategi skematik yang hampir sama juga dipakai dalam berita lain, “Pasca putusan MK soal Eks Anggota PKI, Perjalanan Masih Panjang” (kompas, 01-03-2004). Kompas menyatakan bahwa putusan MK menimbulkan pro-kontra, namun pernyataan pihak yang tidak setuju hanya dinyatakan dalam satu paragraf, yakni pernyataan Hamdan Zoelva. Selebihnya, berita tersebut mengerucut pada satu tema, hendaknya putusan MK bisa menjadi “sapu jagat” yang menganulir aturan atau undang-undang lain yang masih mendiskriminasikan orang-orang PKI.
Pada berita lain, skema berita yang diturunkan juga menggambarkan dukungan putusan MK, dan berharap putusan tersebut bisa dijadikan peluang untuk meluruskan sejarah seputar penggulingan Presiden Soekarno tahun 1965. Bagian pertama teks berita berisi dua narasumber, yakni Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam dan anggota KPU Hamid Awaluddin. Asvi Warman menyatakan, masyarakat Indonesia tidak perlu takut dengan komuisme, sebab ideologi tersebut telah bangkrut, tidak ada lagi negara yang menggunakan ideologi komunis dan negara-negara komunis pun telah bubar berantakan. Sejarawan LIPI tersebut
menambahkan, kampanye anti PKI yang dilakukan oleh Orde Baru bukan karena alasan ideologis tapi untuk menyingkirkan pendukung Soekarno. Bagian kedua teks berita berisi pernyataan Amin Rais yang menerima putusan MK dan menganjurkan, putusan tersebut harus disosialisasikan agar bisa diterima semua lapisan masyarakat.
2.1.3. Semantik
Struktur semantik dalam analisis wacana berusaha menelisik makna yang ingin disampaikan dalam teks, antara lain melalui elemen Latar, Detil, Maksud, Praanggapan, Nominalisasi. Pada level ini, Kompas berusaha menggambarkan orang-orang PKI sebagai korban yang diperlakukan secara diskriminatif, dan ideologi komunis juga dilihat sebagai ideologi yang sudah tidak laku. Misalnya dari penggunaan elemen latar, Kompas menyatakan bahwa selama ini orang-orang eks PKI telah diperlakukan secara diskriminatif, dikekang dengan berbagai peraturan dari tingkat pusat sampai daerah, sebagaimana terlihat pada kutipan berikut:
“…. Keputusan MK tersebut telah mengembalikan peran negara secara proporsional, yang selama ini peran tersebut telah dimonopoli untuk memarjinalkan sekelompok warga negara.
…..
Sebelum ada putusan MK ini, para eks PKI dilarang dengan berbagai peraturan mulai dari tingkat pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.” (Kompas, 02-03-2004)
“Sebab, dari sejarah kita bisa melihat bahwa kampanye anti PKI ini adalah upaya untuk menyingkirkan kelompok-kelompok pendukung Soekarno.” (Kompas, 02-03-2004)
Untuk mendukung putusan MK soal caleg eks PKI, Kompas menggunakan latar berupa kondisi orang-orang eks PKI yang selama ini diperlakukan secara diskriminatif, perlakuan terhadap mereka dibedakan dari warna negara umumnya, dikekang dengan berbagai peraturan yang tidak adil. Ketidakadilan tersebut terlembagakan dari tingkat pusat sampai tingkat daerah, misalnya orang-orang PKI tidak boleh menjadi pegawai negeri, tidak bisa menjadi anggota polisi dan tentara serta perlakuan diskriminatif lainnya.
Ada satu hal menarik dalam pemberitaan Kompas terkait masalah PKI dan komunisme. Kompas melihat masalah komunisme yang terjadi pada masa lalu bukan sebagai konflik ideologi tapi sebagai konflik yang lebih bersifat politis. Kompas tidak hanyut dalam arus utama soal PKI yang hanya menyoroti bahaya laten maupun kekejaman PKI, koran ini justru melihat label-label yang diberikan Orde Baru kepada PKI sebagai bagian dari kampanye anti PKI yang dikobarkan oleh Orde Baru. Kampanye anti PKI yang dilakukan Orde Baru bukan karena alasan ideologis tapi semata untuk menyingkirkan kelompok pendukung Soekarno.
Kompas juga menyoroti perlakuan diskriminatif terhadap orang-orang PKI dalam detil yang cukup panjang, bahkan disertai tabel data tentang berbagai undang-undang yang mengekang partisipasi orang-orang PKI. Undang-undang yang menghalangi partisipasi orang-orang PKI dan masih berlaku sampai sekarang antara lain, orang-orang PKI tidak boleh mengikuti referendum, tidak boleh menjadi Mahkamah Agung, jaksa, hakim dalam peradilan umum maupun
tata usaha negara. Orang-orang PKI juga tidak bisa mencalonkan diri sebagai presiden dan wakil presiden.
Untuk menolak kekhawatiran atas kebangkitan kembali komunisme di Indonesia, Kompas menggunakan elemen Maksud, dengan menyampaikan secara eksplisit peristiwa atau fakta yang mendukung sikap media tersebut. Sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut:
“Masyarakat Indonesia tak perlu takut sebab sebagai sebuah ideologi, ideologi komunisme ini telah bangkrut .” (Kompas, 02-03-2004) “Kalau kita mau obyektif, Marxisme, Komunisme dan Leninisme tidak lagi punya daya tawar, terutama setelah Uni Soviet jatuh, Tembok Berlin runtuh, dan beberapa kejadian lain di Eropa Timur. ……
Sudah waktunya kita menyingkirkan diskriminasi terhadap bekas anggota PKI dan partai terlarang lain dan keluarganya.” (Kompas, 26-02-2004)
Dukungan Kompas terhadap putusan MK yang memperbolehkan eks anggota PKI menjadi caleg diwujudkan antara lain dengan menggambarkan kondisi ideologi komunis saat ini. Secara eksplisit Kompas mengimbau kepada rakyat Indonesia agar tidak perlu merasa takut terhadap komunisme, sebab ideologi yang berjaya pada era perang dingin tersebut saat ini telah hancur. Ketakutan secara berlebihan terhadap komunisme seharusnya tidak perlu terjadi, sebab jika dilihat secara obyektif, ideologi komunis sudah tidak punya daya tawar, tidak mampu menarik perhatian dan ditinggalkan oleh para pendukungnya. Bahkan di negara tempat kelahiran komunis dan negara-negara yang dahulu menganut komunisme pun saat ini sudah meninggalkan faham
Marxisme-Leninisme tersebut. Karena itu, kita tidak perlu takut ideologi tersebut akan berkembang kembali di Indonesia, sebab di tempat lain pun sudah tidak laku.
Pada bagian lain, sejalan dengan penggambaran tentang kehancuran ideologi komunis, dan untuk mendukung putusan MK, Kompas secara tegas menyatakan bahwa sudah seharusnya kita mengakhiri tindakan diskrimatif yang ditimpakan kepada orang-orang yang dituduh sebagai PKI maupun partai terlarang lain serta keluarganya.
Melalui elemen praanggapan, Kompas mengukuhkan kembali simpatinya terhadap orang-orang PKI. Elemen praanggapan biasanya dipakai untuk menolak suatu rencana atau usulan karena dikhawatirkan akan menimbulkan masalah jika usulan tersebut diujudkan. Namun dalam kutipan berikut, Kompas justru memakai strategi praanggapan untuk mendukung putusan MK soal caleg eks PKI.
“Mencabut larangan bagi eks PKI sebagai calon legislatif adalah sebuah terobosan spektakuler yang dapat mengubah wajah dan nasib masa depan bangsa.” (Kompas, 02-03-2004)
Kompas tidak melihat kehadiran kembali orang-orang komunis dalam pentas politik nasional sebagai bahaya. Malah sebaliknya, kemunculan kembali orang-orang yang selama ini diperlakukan secara diskriminatif dinilai akan mengubah wajah politik dan masa depan bangsa Indonesia. Bagi Kompas, perbaikan kondisi bangsa tidak hanya dilakukan dengan memperbaiki sektor ekonomi semata, rekonsiliasi antar elemen bangsa, antara lain diwujudkan dengan kehadiran kembali orang-orang eks komunis dalam panggung politik Indonesia, juga dinilai akan turut memperbaiki kondisi bangsa ini ke depan.
2.1.4. Sintaktis
Pada level sintaktis, makna yang muncul dari bentuk atau susunan kalimat yang dipilih oleh Kompas menunjukkan pembelaan terhadap orang-orang PKI. Seperti terlihat dari bentuk kalimat yang dipakai, kompas menjelaskan peran Soeharto dalam kampanye anti PKI yang terjadi selama ini.
“….. Soeharto menggunakan kampanye anti-PKI ini bukan karena alasan ideologis, tetapi semata-mata hanya untuk melenyapkan kekuatan-kekuatan yang mendukung Soekarno.” (Kompas, 02-03-2004)
Elemen bentuk kalimat melihat bagaimana susunan bagian-bagian kalimat seperti Subyek-Predikat-Obyek dalam kalimat atau frase, dan susunan tersebut menunjukkan siapa atau apa yang ditonjolkan. Pada kutipan di atas, susunan yang dipakai adalah kalimat aktif, “Soeharto” diletakkan sebagai subyek, predikatnya adalah “melenyapkan”, pihak yang dijadikan sebagai obyek adalah “kekuatan-kekuatan yang mendukung Soekarno” dan Soeharto diberi keterangan tambahan “kampanye anti PKI bukan karena alasan ideologis”. Dari susunan kalimat di atas, ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji.
Pertama, sikap anti PKI yang tumbuh dalam masyarakat kita selama ini
bukan sebagai sesuatu yang apa adanya atau memang seharusnya demikian, kebencian itu tumbuh karena ada upaya secara sengaja dari pihak tertentu untuk menanamkan kebencian dalam masyarakat dan dengan tujuan tertentu pula.
Kedua, Soeharto diposisikan sebagai subyek dan ditempatkan pada awal kalimat.
Dengan menempatkannya di awal, yang ditonjolkan dalam kampanye anti PKI adalah figur Soeharto, sebagai tokoh utama yang berkepentingan dalam masalah
tersebut. Ketiga, yang menjadi korban atau obyek dari tindakan Soeharto adalah para pendukung Soekarno. Saat berkuasa, Soekarno didukung oleh beberapa kekuatan seperti militer, PKI dan kelompok lainnya. Jika Soeharto menggunakan kampanye anti PKI untuk menyingkirkan pendukung Soekarno, maka yang disingkirkan oleh Soeharto bukan hanya PKI tapi juga kelompok lain, sebab kekuatan-kekuatan yang mendukung Seokarno bukan hanya orang-orang PKI. Jika ditelusuri lagi, beberapa atau sebagian dari orang-orang yang dipenjara dan didiskriminasikan oleh Orde Baru ternyata bukan anggota maupun simpatisan PKI. Label PKI juga diberikan kepada orang-oarang yang dianggap kritis terhadap penguasa Orde Baru. Dengan demikian, kampanye anti PKI yang terjadi selama ini memang bukan karena alasan ideologis atau perbedaan paham, tapi semata