BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Landasan Teori
2.1.2. Partisipasi Manajer Dalam Proses Penyusunan Anggaran
Partisipasi adalah suatu proses pengambilan keputusan bersama oleh dua pihak atau lebih yang mempunyai dampak masa depan bagi pembuat dan penerima keputusan tersebut. Partisipasi dalam penyusunan anggaran berarti keikutsertaan para manajer operasional (operating managers) dalam memutuskan bersama dengan komite anggaran.
Mengenai rangkaian kegiatan dimasa yang akan datang tentang yang akan ditempuh oleh para menajer operasional tersebut dalam pencapaian sasaran anggaran, sebab para manajer tersebut ditugasi untuk mengupayakan agar tugas-tugas khusus dilaksanakan secara berhasil dan bertanggungjawab terhadap tindakan-tindakan pihak bawahan mereka. Sukses atau kegagalan para bawahan merupakan suatu refleksi langsung tentang keberhasilan atau kegagalan manajer yang bersangkutan dalam melakukan tugas dan tanggungjawab yang di embannya (Winardi, 2004:5). Inilah salah satu faktor penting melibatkan para manajer dalam penyusunan anggaran perusahaan. Disamping itu tingkat partisipasi para manajer tersebut dalam penyusunan anggaran akan mendorong moral kerja yang tinggi dan inisiatif serta kegairahan para manajer itu sendiri.
Moral kerja yang tinggi merupakan kepuasan seseorang terhadap pekerjaanya dan dengan rekan kerjanya. Moral kerja ditentukan oleh seberapa besar seseorang
mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari organisasi tersebut dan sejauhmana ia dilibatkan dalam proses penyusunan rencana serta pengambilan keputusan bagi perusahaan. Partisipasi ini dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan, yang seluruhnya dapat disebutkan sebagai partisipasi dalam memecahkan masalah. Kemampuan mewujudkan dan membina partisipasi dalam memecahkan masalah itu, akan bermuara pada perkembangan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan setiap tugas secara operasional (Nawawi dan Martini,2004:171).
Pada umumnya semakin besar keterlibatan para manajer maupun bawahan dalam merumuskan sesuatu hal yang dapat menghasilkan keputusan dalam perusahaan, maka sangat tinggi rasa tanggung jawab mereka untuk menyukseskan kesepakatan atau keputusan tersebut terlaksana dengan baik. Partisipasi ini juga sangat mudah diterima oleh semua khalayak karena mengandung azas musyawarah dan mufakat, sehingga terdapat kegairahan untuk terus berjalan dalam melaksanakan hal-hal yang telah disepakati bersama baik tanpa pemimpinnya ada atau tidak disamping mereka (Effendy, 1998:185). Melibatkan para manajer dan karyawan dalam sistem perencanaan berarti menghargai kebutuhan untuk sebuah lingkungan kerja yang nyaman dan ramah, yang mendukung terlaksananya komunikasi yang baik, karena imbalan terpenting bagi karyawan akan datang dari kepuasan mereka bahwa anggaran mereka akan dihargai dan diterapkan dalam perusahaannya (Corrado,2004:68). Begitu pula halnya dalam proses penyusunan anggaran, apabila para manajer dan bawahan dapat ikut berpartisipasi untuk merumuskannya, maka kemungkinan besar hasil yang akan diperoleh dari realisasi anggaran dimaksud jauh
lebih baik oleh karena telah adanya tanggung jawab moril dari para manajer dan bawahan yang terlibat didalamnya. Bagaimanapun anggaran hanya efektif jika mendapat dukungan dari semua pihak baik atasan maupun bawahan. Konsep anggaran ini melibatkan semua orang terlebih-lebih bawahan. Oleh sebab itu tanpa dukungan dari bawahan maka anggaran ini tidak akan berjalan dengan baik. Untuk mengusahakan supaya anggaran ini mendapat dukungan dari bawahan maka bisa ditempuh melalui cara penyusunan secara demokratis atau bottom up (Harahap,2001:118). Apabila ditinjau dari siapa yang membuat anggaran tersebut, maka penyusunan anggaran dimaksud dapat dilakukan dengan cara : otoriter (top- down), demokrasi (buttom-up) dan campuran. Penggunaan cara demokrasi inilah yang dimaksud dengan penyusunan anggaran partisipatif, karena disusun berdasarkan hasil keputusan bawahan.
Selain berbagai alasan-alasan penting di atas tentang partisipasi para manajer dan bawahan dalam pengambilan keputusan-keputusan penting bagi perusahaan khususnya dalam penyusunan anggaran, bagi top manajemen akan lebih mudah untuk mensosialisasikan berbagai kebijakan yang telah diputuskan sampai ke level paling bawah oleh karena para manajer dan penyelia dapat membangun informasi kerja yang relevan dalam bentuk komunikasi yang baik kepada bawahan mereka, dan juga dengan para manajer lain dalam perusahaan. Hal yang tak kalah penting lagi bahwa para manajer tersebut dapat melakukan atau mengunakan persuasi dan kompromis untuk mempromosikan tujuan-tujuan organisasi (Winardi,2004:8), inilah hal utama yang membedakan anggaran partisipatif dengan non-partisipatif, yakni terletak pada
keterlibatan para manajer dan bawahan dari hampir semua level dalam penyusunan dan merumuskan anggaran perusahan.
Kenis (1979:309) mendefinisikan partisipasi sebagai luasnya manajer terlibat dalam penyiapan anggaran dan besarnya pengaruh manajer terhadap budget goals unit organisasi yang menjadi tanggungjawabnya. Definisi yang lebih rinci mengenai partisipasi diberikan oleh Brownell (1982:124,153) yaitu ; suatu proses yang individu-individu didalamnya terlibat dan mempunyai pengaruh atas penyusunan target anggaran, yang kinerja akan dievaluasi, dan mungkin dihargai atas dasar pencapaian target anggaran mereka. Tingkat keterlibatan dan pengaruh bawahan dalam proses penyusunan anggaran merupakan faktor utama yang membedakan anggaran partisipatif dan non-partisipatif. Partisipasi ini memungkinkan manajer (sebagai bawahan) untuk melakukan negosiasi dengan atasan mengenai target anggaran yang menurut mereka dapat dicapai (Brownell & Marconi,1986:241).
Penerapan partisipasi dalam penyusunan anggaran memberikan banyak manfaat antara lain (Siegel & Marconi,1989:139) :
1.Partisipasi (orang terlibat dalam proses penyusunan anggaran) menjadi ego- involved tidak hanya task-involved dalam kerja mereka.
2.Partisipasi akan menaikkan rasa bersama dalam kelompok, yang akibatnya akan menaikkan kerja sama anggota kelompok dalam penerapan sasaran.
3.Partisipasi dapat mengurangi rasa tertekan akibat adanya anggaran.
4.Partisipasi dapat mengurangi rasa ketidaksamaan di dalam alokasi sumber daya di antara bagian-bagian organisasi.
Meskipun partisipasi mempunyai banyak manfaat, bukan berarti partisipasi tidak memiliki keterbatasan dan masalah yang berkaitan dengan partisipasi. Becker & Green menemukan bahwa jika partisipasi tidak diterapkan secara benar, partisipasi
dapat merusak motivasi dan menurunkan kemampuan untuk mencapai sasaran organisasi (Siegel & Marconi,1989:138).
Karena lebih banyak manfaat dibanding kelemahan partisipasi tersebut, dalam hubungannya dengan pengendalian profesional, juga diterapkan konsep tersebut. Namun adanya interaksi para profesional dalam proses penyusunan anggaran bisa menimbulkan konflik sebagimana yang dikemukakan Comerford & Abernethy(1999:93,110). Hal ini disebabkan para profesional cenderung mempunyai komitmen rendah pada nilai manajerial sehingga melibatkan mereka secara langsung dengan pengendalian keuangan seperti dalam pengganggaran akan menimbulkan konflik peran. Konflik peran tersebut timbul sebagai akibat timbulnya pertentangan dalam proses pengganggaran. Karena individu tersebut rendah orientasi manajerialnya, ia bisa menyusun anggaran semata-mata untuk memenuhi kepentingan profesinnya dan bukan kepentingan organisasi