• Tidak ada hasil yang ditemukan

Partisipasi Masyarakat dan Transparansi Pemerintah Daerah

DI SULAWESI SELATAN DALAM PERSPEKTIF KELOMPOK PEREMPUAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian yang dilakukan

4. Partisipasi Masyarakat dan Transparansi Pemerintah Daerah

(X4)

Partisipasi masyarakat dan transparansi pemerintah daerah terdiri dari tiga indikator yang menyangkut semakin transparannya proses pembahasan alokasi anggaran kesehatan dalam APBD (X4.1), masyarakat semakin terampil dan berani untuk berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan (X4.2), dan masyarakat semakin berani melakukan pengaduan pelayanan kesehatan yang tidak sesuai (X4.3). Berdasarkan hasil penilaian, kelompok perempuan dalam penelitian menilai partisipasi

masyarakat dan transparansi

pemerintah daerah dalam dua kategori; baik, dan buruk. Dengan rentang nilai 2.6 - 3.3, 15 kabupaten/ kota dianggap berkinerja cukup baik. Delapan kabupaten/ kota lainnya dianggap berkinerja buruk. Sayangnya, dari 15 daerah yang dinilai baik terdapat 10 kabupaten/ kota yang memiliki nilai rata-rata di bawah 3.0 yang mengindikasikan kinerja daerah tersebut rawan untuk turun ke arah yang buruk. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa dari 23 kabupaten/ kota di Sulsel yang diteliti, partisipasi masyarakat dan transparansi pemerintah daerah di 18 daerah cenderung bahkan sebagian diantaranya telah berkinerja buruk.

Masyarakat yang semakin berani menyuarakan suaranya membuat pemerintah daerah dituntut untuk

kembali ke esensinya sebagai pelayan masyarakat. Hal ini membuat pelayanan publik mulai dari tahap perencanaan hingga monitoring dan evaluasi sedapat mungkin melibatkan rakyat. Sayangnya dalam proses pembangunan, sudah bukan hal yang baru lagi jika selama ini salah satu faktor penghambat pelaksanaan pembangunan adalah anggaran. Proses anggaran di daerah selama ini belum sepenuhnya diletakkan pada pencapaian kepentingan daerah. Di daerah Bulukumba, misalnya, sempat terjadi penurunan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Sultan Daeng Radja akibat kurangnya anggaran operasional rumah sakit, bahkan anggaran kesehatan gratis nyaris habis. Lebih jauh lagi, akibat uang jasa pelayanan yang belum dibayarkan sejak 2009 ratusan tenaga medis di rumah sakit daerah ini menolak memberikan pelayanan kepada pasien (http://makassar.tribunnews.com, 1 April 2011).

Perempuan Gowa memberikan penilaian tertinggi atas transparansi anggaran kesehatan daerah. Perda Nomor 3 Tahun 2004 tentang Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan telah mengatur kewajiban pemerintah daerah untuk menyebarluaskan informasi pada setiap proses perumusan dan hasil kebijakan, yang salah satunya adalah informasi APBD mulai dari hasil pembahasan, proses penganggaran sampai penetapan. Tidak dapat disangkal meski publik sebagai penerima dampak langsung dalam pembangunan, namun dalam praktiknya publik masih kesulitan mengakses dokumen pemerintahan. Meski demikian dalam kasus lain, keberadaan Perda tersebut tetap membawa dampak positif terutama

Kinerja Pelayanan Kesehatan PemDa Di Sulawesi Selatan Dalam Perspektif Kelompok Perempuan

42|Bunga Rampai Administrasi Publik: Perwujudan GG Melalui Inovasi Pelayanan Publik

dalam peningkatan jumlah partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan melalui forum warga (Kopel Sulawesi, 2009).

Terwujudnya anggaran kesehatan sebagaimana yang diamanatkan dalam UU Kesehatan tahun 2009 memang bukan hal mudah. Menyisihkan 10 persen anggaran APBD yang diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik, tidak termasuk gaji, membuat pemerintah mau tidak mau harus membuat peta prioritas urusan wajib dan urusan pilihan pemerintah, termasuk didalamnya persentase minimal anggaran. Tidak ada jalan lain kecuali pembenahan anggaran pembiayaan langsung dan tidak langsung melalui efisiensi. Yang paling terpuruk jika layanan kesehatan memburuk adalah kaum miskin, kelompok lanjut usia, dan anak terlantar.

Hal yang patut dikritisi sebenarnya adalah kerjasama antara petugas dan keluarga pasien terkait program kesehatan gratis. Sebagai contoh, salah satu ibu yang anaknya menjalani perawatan rawat inap di rumah sakit propinsi akibat kecelakaan mengaku diberikan tagihan sekira dari dua juta rupiah untuk biaya perawatan dan obat-obatan. Setelah ditelusuri ternyata petugas tidak memberitahukan si ibu untuk mengurus

surat rujukan ke puskesmas karena sang anak sebelumnya langsung dilarikan ke rumah sakit. Si ibu itupun kurang paham dengan prosedur yang berlaku. Untunglah petugas memberikan waktu bagi keluarga pasien sehingga pada akhirnya mereka mampu keluar dari rumah sakit tanpa mengeluarkan sepeser rupiah pun.

Muara akhir tujuan pemerintah

adalah kesejahteraan rakyat sehingga jika hal tersebut belum tercapai maka pemerintah belum dapat dikatakan berhasil. Hal ini tidak terlepas dari peran sentralnya dalam memberi pelayanan sosial kepada rakyat yang terdiri atas lima hal; kesehatan, pendidikan, perumahan, jaminan sosial, dan pekerjaan sosial. Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik ditindaklanjuti daerah dengan beragam cara. Melalui undang-undang ini rakyat dirangsang untuk ikut serta berpartisipasi dalam meninjau pelayanan publik yang diberikan pemerintah daerah. Kabupaten Gowa, misalnya, di sektor kesehatan, bupati merangkul LSM sektor kesehatan untuk memantau lebih jauh dampak pelaksanaan program dan kegiatan bagi masyarakat. Masyarakat pun dilatih untuk terampil dan berani berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan. Perempuan Gowa dalam penelitian ini bahkan memberikan penilaian tertinggi atas indikator partisipasi masyarakat. Hal ini tidak berlebihan mengingat peran serta LSM di kabupaten ini sudah lama dan tersebar di berbagai sektor. Faktor lainnya adalah sejak tahun 2004 Gowa telah memiliki Perda yang

mengatur transparansi penyelenggaraan pemerintahan.

Kepulauan Selayar, Sinjai, Takalar, Pangkep, dan beberapa kabupaten/ kota lainnya mengambil langkah berbeda. Melalui “Metode Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dengan Partisipasi Masyarakat”, harapan dan keluhan masyarakat di sektor kesehatan didengar dan dirangkum dalam pengelolaan dan survey pengaduan masyarakat. Pengaduan tersebut kemudian dianalisis masalah penyebab pengaduan dan rencana tindak nyata

Bunga Rampai Administrasi Publik: Perwujudan GG Melalui Inovasi Pelayanan Publik |43 melalui maklumat pelayanan, yang

selanjutnya akan dipantau dan dievaluasi.

Pemerintah Kabupaten Sinjai sejak tahun 2004, melalui Perda Nomor 3 tentang Jaminan Kesehatan Daerah, telah berhasil merangkul masyarakat di bawah payung Jamkesda. Hanya dengan Rp10.000,- per bulan per kepala keluarga, masyarakat telah mendapatkan haknya menerima pelayanan kesehatan baik rawat jalan maupun rawat inap. Bahkan dokter keluarga dan bidan delima pun dirangkul pemerintah daerah untuk memberikan kemudahan masyarakat mendapatkan layanan. Bagi masyarakat miskin, pemerintah daerah memberikan subsidi dan menggratiskannya.

Luwu Timur sendiri sejak 2008 lalu membentuk Unit Khusus Pengaduan Masyarakat. Melalui

0811429133 dan www.luwutimurkab.go.id, masyarakat

dapat menyampaikan pengaduan, termasuk pengaduan kesehatan. Sms yang diterima secara otomatis akan mengirimkan balasan berbunyi:”pesan anda tekah saya terima. Terima kasih atas nasehat, kritik & informasinya. Bupati Luwu Timur H. ANDI M.”

Secara teori, perilaku yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sinjai adalah perilaku mengkritisi birokrasi Weberian yang dianggap tidak mampu membangun empati terhadap kelompok marginal dan minoritas sekaligus pengingkaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sebagaimana dikemukakan Dwiyanto (2015: 14) bahwa tentu tidak adil apabila memperlakukan di miskin secara sama dengan si kaya karena akses mereka terhadap sumber daya yang diperlukan untuk berhubungan dengan birokrasi,

seperti informasi, pengalaman, dan uang juga berbeda. Memberikan perlakukan yang sama kepada semua pengguna layanan birokrasi dapat diartikan sebagai tindakan yang tidak empatik terhadap kelompok masyarakat terbelakang dan marginal.

PENUTUP

Hasil penelitian terkait layanan kesehatan Sulawesi Selatan berdasarkan perspektif perempuan di 23 kabupaten/ kota di Sulawesi Selatan yang diteliti menghasilkan kesimpulan bahwa secara keseluruhan nilai rata-rata untuk keempat variabel layanan kesehatan meski dianggap baik oleh kelompok perempuan, namun sebenarnya sangat rawan berbalik menjadi buruk karena tipisnya selisih nilai antara keduanya. Dari 23 kabupaten/ kota di Sulsel yang diteliti terlihat bahwa: (1) 2 kota dan 5 kabupaten yang belum, bahkan masih kurang efisien dalam pemberian pelayanan, (2) kinerja layanan kesehatan dalam hal kesesuaian kebijakan dan program kesehatan pada 15 kabupaten/ kota cenderung bahkan sebagian diantaranya telah berkinerja buruk, (3) kesetaraan pelayanan di 12 kabupaten/ kota belum menunjukkan kinerja pelayanan yang baik, (4) partisipasi masyarakat dan transparansi pemerintah daerah di 18 daerah cenderung bahkan sebagian diantaranya telah berkinerja buruk.

Masih banyak hal yang perlu dibenahi terkait pelayanan kesehatan yang dijanjikan dan diberikan pemerintah daerah di Provinsi Sulawesi Selatan, seperti belum transparannya proses pembahasan alokasi anggaran kesehatan (APBD), transparansi pelayanan, dan belum adanya upaya

Kinerja Pelayanan Kesehatan PemDa Di Sulawesi Selatan Dalam Perspektif Kelompok Perempuan

44|Bunga Rampai Administrasi Publik: Perwujudan GG Melalui Inovasi Pelayanan Publik

dan komitmen kuat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Dalam hal ini masyarakat belum diberdayakan untuk saling bermitra dalam pelayanan kesehatan.

Peningkatan kualitas pelayanan tidak dapat dipisahkan dari partisipasi masyarakat. Aparatur yang berkualitas, masyarakat yang mendukung, dan sistem yang melindungi, menjadi tiga dari serangkaian key factors untuk mewujudkan layanan kesehatan yang

mumpuni. Partisipasi masyarakat

bahkan diakui dalam undang-undang akan mampu membantu mempercepat derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Jadi, pemerintah daerah sebaiknya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui hal-hal yang terkait dengan

perencanaan, pelaksanaan pembangunan, monitoring, serta

evaluasi layanan kesehatan. Termasuk didalamnya adanya transparansi proses pembahasan alokasi anggaran kesehatan. Selain itu pemerintah daerah harus dapat bersifat terbuka dengan menyampaikan hak-hak pasien.