• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI SULAWESI SELATAN DALAM PERSPEKTIF KELOMPOK PEREMPUAN

PENGERTIAN ASET DAERAH, PERUSAHAAN DAERAH DAN

PENDAPATAN DAERAH

Aset Daerah

Menurut Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa msa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.

Kekayaan daerah dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis (Mardiasmo: 2002) yaitu: (1) Kekayaan yang sudah ada (eksis) sejak adanya daerah tersebut. Kekayaan jenis ini meliputi seluruh kekayaan alam dan geografis kewilayahannya. Contohnya adalah tanah, hutan, tambang, gunung, danau, pantai dan laut; (2) Kekayaan yang akan dimiliki baik yang berasal dari aktivitas pemerintah daerah yang didanai APBD serta kegiatan

Bunga Rampai Administrasi Publik: Perwujudan GG Melalui Inovasi Pelayanan Publik |51 perekonomian daerah lainnya.

Contohnya adalah jalan, jembatan, kendaraan, dan barang modal lainnya.

Aset daerah merupakan kekayaan daerah yang pada hakikatnya terdiri dari aset bergerak dan tidak begerak. Sebagai contoh aset bergerak, yakni kendaraan dinas, dokumen-dokumen dan lain sebagainya. Sedangkan aset tak bergerak atau tetap yakni lahan, bangunan, dan lain sebagainya. Dalam aspek yang lain, aset pemerintah ini dapat berperan sebagai jaminan pembangunan di daerah.

Penyusunan dokumen aset bertujuan untuk melakukan pengamanan aset dari aspek administrasi daerah. Sementara, pengamanan aset bertujuan untuk menjaga aset daerah tidak berpindah tangan secara ilegal serta memudahkan pihak pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan lebih lanjut. Pengelolaan aset bertujuan agar aset daerah dapat memberi manfaat, khususnya dari segi pendapatan daerah. Sebagai contoh, penyewaan toko dan pasar milik daerah. Pengamanan aset mutlak dilakukan dengan melengkapi aset dimaksud dengan dokumen legal. Di samping itu, aset daerah merupakan kekayaan yang dapat berperan sebagai jaminan pembangunan daerah.

Aset secara sederhana dapat didefinisikan sebagai “sesuatu” yang bernilai, yang dimiliki oleh seseorang atau badan usaha atau instansi. Definisi aset juga dapat dijumpai dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, dimana disebutkan bahwa aset adalah sumber daya ekonomi yang dapat diukur dengan satuan uang, dikuasai oleh pemerintah

sebagai akibat dari peristiwa masa lalu, dan diharapkan dapat memberikan manfaat di masa depan, baik manfaat untuk pemerintah sendiri maupun manfaat untuk masyarakat luas.

Aset berasal dari bahasa Inggris yang berarti barang atau sesuatu barang yang mempunyai nilai ekonomi (economic value), nilai komersial (commercial value) atau nilai tukar (exchange value), dimana nilai tukar dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha ataupun individu (perorangan). Aset (Asset) adalah barang, yang dalam pengertian hukum disebut benda, yang terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak, baik yang berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (Intangible), yang tercakup dalam aktiva/ kekayaan atau harta kekayaan dari suatu instansi, organisasi, badan usaha atau individu perorangan. Selain itu pengertian Aset dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahun 2007 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007, dimana aset mempunyai pengertian yang sama yaitu semua barang yang dibeli atau yang diperoleh atas beban APBD atau APBN atau yang berasal dari perolehan lainnya yang sah.

Perusahaan Daerah

Perusahaan daerah adalah perusahaan yang saham-sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah. Tujuan didirikannya PD adalah untuk mendapatkan keuntungan yang dapat dipakai untuk pembangunan daerah Kekayaan negara/ daerah dipisahkan dari kekayaan PD untuk menghindari praktek yang tidak efisien. Undang-Undang No.5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah memberikan pengertian tentang yang dimaksud dengan Perusahaan Daerah adalah

Peningkatan Pendapatan Daerah Surakarta Melalui Pembentukan PD Pedaringan

52| Bunga Rampai Administrasi Publik: Perwujudan GG Melalui Inovasi Pelayanan Publik

semua perusahaan yang didirikan berdasarkan undang-undang ini yang seluruh atau sebagian modalnya merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan, kecuali jika ditentukan lain dengan atau berdasarkan undang-undang.

Sedangkan menurut Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang dimaksud dengan Perusahaan Daerah “adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian modalnya diimiliki oleh Pemerintah Daerah”.

Menurut Elita Dewi (2002:4) mengenai perusahaan daerah adalah sebagai berikut :

a. Perusahaan Daerah adalah kesatuan produksi yang bersifat: Memberi

jasa, Menyelenggarakan

pemanfaatan umum, Memupuk pendapatan

b. Tujuan perusahaan daerah untuk turut serta melaksanakan pembangunan daerah khususnya dan pembangunan kebutuhan rakyat

dengan menggutamakan

industrialisasi dan ketentraman serta ketenangan kerja menuju masyarakat yang adil dan makmur. c. Perusahaan daerah bergerak dalam

lapangan yang sesuai dengan urusan

rumah tangganya menurut

perundang-undangan yang

mengatur pokok-pokok

pemerintahan daerah.

d. Cabang-cabang produksi yang penting bagi daerah dan mengusai hajat hidup orang banyak di daerah, yang modal untuk seluruhnya merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Ciri-ciri perusahaan daerah menurut Muh Bakat, dkk. (1989) adalah:

a. Didirikan dengan suatu peraturan daerah;

b. Modal seluruhnya atau sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan, kecuali bila ada ketentuan lain berdasarkan undang-undang;

c. Tujuan usaha adalah mencari laba untuk dana pembangunan daerah; d. Dipimpin oleh suatu direksi yang

diatur dalam peraturan

pendiriannya;

e. Ada dewan perusahaan daerah yang tugas dan wewenangnya diatur dalam peraturan pemerintah; f. Kekuasaan tertinggi bukan pada

rapat pemegang saham tetapi dalam beberapa hal pada kepala daerah;

Badan usaha milik negara yang dikelola oleh pemerintah daerah disebut badan usaha milik daerah (BUMD). Perusahaan daerah adalah perusahaan yang didirikan oleh pemerintah daerah yang modalnya sebagian besar / seluruhnya adalah milik pemerintah daerah. Tujuan pendirian perusahaan daerah untuk pengembangan dan pembangunan potensi ekonomi di daerah yang bersangkutan. Contoh perusahaan daerah antara lain: perusahaan air minum (PDAM) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD). Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD ) memiliki kedudukan sangat penting dan strategis dalam menunjang pelaksanaan otonomi. Oleh karena itu, BUMD perlu dioptimalkan pengelolaannya agar benar-benar menjadi kekuatan ekonomi yang handal sehingga dapat berperan aktif, baik dalam menjalankan fungsi dan tugasnya maupun sebagai kekuatan perekonomian daerah. Laba dari BUMD diharapkan memberikan kontribusi yang besar terhadap

Bunga Rampai Administrasi Publik: Perwujudan GG Melalui Inovasi Pelayanan Publik |53 Pendapatan Asli Daerah. Otonomi

daerah memberikan konsekuensi yang cukup besar bagi peran Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD ) dalam menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sesungguhnya usaha dan kegiatan ekonomi daerah yang bersumber dari BUMD telah berjalan sejak lama sebelum UU tentang otonomi daerah disahkan. Untuk mencapai sasaran tujuan BUMD sebagai salah satu sarana PAD, perlu adanya upaya optimalisasi BUMD yaitu dengan adanya peningkatan profesionalisasi baik dart segi manajemen. Sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana yang memadai sehingga memiliki kedudukan yang sejajar dengan kekuatan sektor perekonomian lainnya.

Dasar hukum pembentukan BUMD adalah berdasarkan UU No 5 tahun 1962 tetang perusahaan daerah. UU ini kemudian diperkuat oleh UU No 5 tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan daerah (Nota Keuangan RAPBN, 1997/1998).

Ciri-ciri BUMD adalah sebagai berikut:

a. Pemerintah memegang hak atas segala kekayaan dan usaha;

b. Pemerintah berkedudukan sebagai pemegang saham dalam pemodalan perusahaan;

c. Pemerintah memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menetapkan kebijakan perusahaan;

d. Pengawasan dilakukan alat pelengkap negara yang berwenang; e. Melayani kepentingan umum, selain

mencari keuntungan;

f. Sebagai stabillisator perekonomian dalam rangka menyejahterakan rakyat;

g. Sebagai sumber pemasukan negara;

h. Seluruh atau sebagian besar modalnya milik negara;

i. Modalnya dapat berupa saham atau obligasi bagi perusahaan yang go publik;

j. Dapat menghimpun dana dari pihak lain, baik berupa bank maupun nonbank;

k. Direksi bertanggung jawab penuh atas BUMN, dan mewakili BUMN di pengadilan.

Adapun tujuan Pendirian BUMD: (1) Memberikan sumbangsih pada perekonomian daerah dan penerimaan kas daerah; (2) Mengejar dan mencari keuntungan; (3) Pemenuhan hajat hidup orang banyak; (4) Perintis kegiatan-kegiatan usaha; (5) Memberikan bantuan dan perlindungan pada usaha kecil dan lemah; (6) Melaksanakan pembangunan daerah melalui pelayanan jasa kepada masyarakat; dan (7) Penyelenggara kemanfaatan umum, dan peningkatan penghasilan pemerintah daerah. Selanjutnya berdasarkan kategori sasarannya secara lebih detail, BUMD dibedakan menjadi dua yaitu sebagai perusahaan daerah untuk melayani kepentingan umum yang bergerak di bidang jasa dan bidang usaha. Tetapi, jelas dari kedua sasaran tersebut tujuan pendirian BUMD adalah untuk meningkatkan PAD.

Pendapatan Daerah

Pendapatan daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode anggaran tertentu (UU. No 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah), pendapatan daerah berasal dari penerimaan dari dana perimbangan pusat dan daerah, juga yang berasal daerah itu sendiri yaitu

Peningkatan Pendapatan Daerah Surakarta Melalui Pembentukan PD Pedaringan

54| Bunga Rampai Administrasi Publik: Perwujudan GG Melalui Inovasi Pelayanan Publik

pendapatan asli daerah serta lain-lain pendapatan yang sah.

Perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah adalah

sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan bertanggung jawab dalam rangka

pendanaan penyelenggaraan desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi,

dan kebutuhan daerah serta besaran penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. (UU.No 32 Tahun 2004).

Pengertian pendapatan asli daerah menurut Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 yaitu sumber keuangan daerah yang digali dari wilayah daerah yang bersangkutan yang terdiri dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Menurut Nurcholis (2007), pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang diperopleh daerah dari penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, laba perusahaan daerah, dan lain-lain yang sah.

Dari beberapa pendapat di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendapatan asli daerah adalah semua penerimaan keuangan suatu daerah, dimana penerimaan keuangan itu bersumber dari potensi-potensi yang ada di daerah tersebut misalnya pajak daerah, retribusi daerah dan lain-lain, serta penerimaan keuangan tersebut diatur oleh peraturan daerah. Adapun sumber-sumber pendapatan asli daerah menurut Undang-Undang RI No.32 Tahun 2004 yaitu :

a. Pendapatan asli daerah (PAD) yang terdiri dari :

1) Hasil pajak daerah yaitu Pungutan daerah menurut peraturan yang ditetapkan oleh daerah untuk pembiayaan rumah tangganya sebagai badan hukum publik. Pajak daerah sebagai pungutan yang dilakukan pemerintah daerah yang hasilnya digunakan untu pengeluaran umum yang balas jasanya tidak langsung diberikan sedang pelaksanannya bisa dapat dipaksakan.

2) Hasil retribusi daerah yaitu pungutan yang telah secara sah menjadi pungutan daerah sebagai pembayaran pemakaian atau karena memperoleh jasa atau karena memperoleh jasa pekerjaan, usaha atau milik

pemerintah daerah bersangkutan. Retribusi daerah

mempunyai sifat-sifat yaitu pelaksanaannya bersifat ekonomis, ada imbalan langsung

walau harus memenuhi persyaratan-persyaratan formil dan materiil, tetapi ada alternatif

untuk mau tidak membayar, merupakan pungutan

yang sifatnya budgetetair-nya tidak menonjol, dalam hal-hal tertentu retribusi daerah adalah pengembalian biaya yang telah dikeluarkan oleh pemerintah daerah untuk memenuhi permintaan anggota masyarakat. 3) Hasil perusahaan milik daerah dan

hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Hasil perusahaan milik daerah merupakan pendapatan daerah dari keuntungan bersih perusahaan daerah yang berupa dana pembangunan daerah dan bagian untuk anggaran belanja

Bunga Rampai Administrasi Publik: Perwujudan GG Melalui Inovasi Pelayanan Publik |55 daerah yang disetor ke kas

daerah, baik perusahaan daerah yang dipisahkan, sesuai dengan motif pendirian dan pengelolaan, maka sifat perusahaan dareah adalah suatu kesatuan produksi yang bersifat menambah pendapatan daerah, memberi

jasa, menyelenggarakan kemamfaatan umum, dan memperkembangkan

perekonomian daerah.

4) Lain-lain pendapatan daerah yang sah ialah pendapatan-pendapatan yang tidak termasuk dalam jenis-jenis pajak daerah, retribusi daerah, pendapatan dinas-dinas. Lain-lain usaha daerah yang sah mempunyai sifat yang pembuka bagi pemerintah daerah untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan baik berupa materi dalam kegitan tersebut bertujuan untuk menunjang, melapangkan, atau

memantapkan suatu kebijakan daerah disuatu bidang tertentu. b. Dana perimbangan diperoleh

melalui bagian pendapatan daerah dari penerimaan pajak bumi dan bangunan baik dari pedesaan, perkotaan, pertambangan sumber daya alam dan serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan. Dana perimbangan terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus.

c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah adalah pendapatan daerah dari sumber lain misalnya sumbangan

pihak ketiga kepada daerah yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Lain-lain pendapatan daerah yang sah ialah pendapatan-pendapatan yang tidak termasuk dalam jenis-jenis pajak daerah, retribusi daerah, pendapatan dinas-dinas. Lain-lain usaha daerah yang sah mempunyai sifat yang pembuka bagi pemerintah daerah untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan baik berupa materi dalam kegitan tersebut bertujuan

untuk menunjang, melapangkan, atau memantapkan

suatu kebijakan daerah disuatu bidang tertentu.